Serial Pendidikan dan Kehidupan di Jepang: Cara Guru Jepang Mengoptimalkan Papan Tulis dalam Proses Argumentasi di Kelas

Oleh Yanti Herlanti

Tulisan ini telah dimuat di Tabloid Aksara No 109 September 2016

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan pemanfaatan papan tulis oleh guru di Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Media pembelajaran apa yang paling banyak digunakan oleh guru SD di kelas? Papan tulis! Ya, papan tulis merupakan media pembelajaran utama di kelas.

Papan tulis merupakan salah satu penemuan revolusioner dalam dunia. Dahulu papan tulis digunakan para pelajar Babilionia dan Sumeria kuno serta juga ditemukan di India berbentuk batu sabak. Abad ke-18 di Eropa batu sabak digantikan dengan papan, karena lebih murah dari kertas dan tinta. Walaupun terjadi perdebatan siapa yang punya ide papan tulis pertama, namun diketahui tahun 1801 James Pillans seorang kepala sekolah dan guru geografi dari Old High School in Edinburgh, Scotland pertama kali menggunakan papan tulis besar yang digantungkan di dinding yang kemudian secara massif pada tahun 1960-an digunakan sebagai standar yang harus ada di setiap kelas.

Bagaimana sebagaian besar guru di Indonesia memanfaatkan papan tulis?

Ada beberapa tindakan guru dalam memanfaatkan diantaranya adalah:

Tipe pertama, Guru menuliskan hari dan tanggal lalu menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis. Selanjutnya guru memanfaatkan media presentasi seperti LCD proyektor atau mengintruksikan siswa membuka buku/LKS dan sama-sama membaca dan mengerjakan LKS. Papan tulis pun bersih tak terlihat tulisan apapun.

Tipe kedua, Guru menuliskan atau meminta siswa menuliskan setiap kata dari materi dari buku atau ringkasan materi ataupun contoh soal yang sudah dibuat guru di papan tulis. Peserta didik diminta menulis kembali seperti yang tertera di papan tulis di buku tulis masing-masing. Setelah papan tulis penuh, guru menjelaskan maksud dari yang ditulis, kemudian setelah selesai menjelaskan dan tak ada pertanyaan, tulisan dihapus untuk diganti tulisan lanjutan. Seterusnya seperti itu. Walhasil papan tulis pun penuh dengan tulisan.

Tipe ketiga, Guru menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis. Lalu menjelaskan materi melalui berbagai media, dan setiap point penting dari penjelasannya dituliskan dipapan tulis. Walhasil kita akan melihat resume pada papan tulis berupa point-point penting pembelajaran hari itu.

Seperti halnya di Indonesia, pakar pendidikan di Jepang pun menyadari peran vital dari papan tulis. Lalu bagaimana guru di Jepang memanfaatkan papan tulis?

Di Jepang satu jam pelajaran setara 50 menit. Setiap guru mata pelajaran akan menyampaikan materi di kelas selama 50 menit yang meliputi pembukaan sampai penutupan. Apa saja yang disampaikan oleh guru selama 50 menit tersebut dapat dilihat di papan tulis. Papan tulis dimanfaatkan secara optimal sebagai media pembelajaran. Gambar 1 memperlihatkan sekitar pukul 13.50 guru menempelkan selembar kertas berisi sebuah pertanyaan di papan tulis. “Ada peristiwa apa di Hokaido setiap hari selasa ke-4 pada bulan oktober?” Beberapa siswa menjawab dan guru menuliskan jawaban siswa menggunakan kapur tulis. Selama kurang lebih lima menit, siswa diminta menebak jawaban pertanyaan tersebut.

Gambar 1.

Gambar 1. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan pertanyaan di papan tulis dan menuliskan jawaban dari siswanya [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].

Gambar 2 memperlihatkan guru menggunakan kapur berwarna putih untuk menuliskan jawaban siswa. Penggunaan warna kapur merah digunakan untuk menandai kata-kata kunci yang mengarah pada jawaban. Guru menandai dengan kapur merah bahwa jawaban yang benar terkait dengan “rusa” dan “makan”. Anak menebak bahwa “Selasa ke-4 bulan Oktober sebagai hari dimana masyarakat Hokaido dilarang makan rusa!” namun jawabanya salah ternyata sebaliknya yaitu “Hari bebas makan daging rusa sepuasnya. Guru pun menuliskan dengan menggunakan kapur warna kuning sebagai jawaban yang tepat. Lalu guru menempelkan selembar kertas lagi bergambar kesukaan anak-anak terhadap daging rusa. Guru menggambarkan dari muka tersenyum sampai cemberut untuk meunjukkan kesukaan sampai ketidaksukaan terhadap daging rusa.

 

gambar 2

Gambar 2. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan jawaban para siswa, kapur berwarna digunakan untuk menandai kata-kata kunci yang mengarah pada jawaban dan jawaban terhadap jawaban [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].  

            Gambar 3 menunjukkan guru menuliskan alasan peserta didik mengapa tidak suka dan suka terhadap daging rusa. Alasan bermacam-macam misalnya tak tega karena lucu, nanti rusanya habis, dan lainnya. Lalu guru membawa daging rusa yang dibelinya di Hokaido. Peserta didik diminta mencobanya, parameter kesukaan pun ditempelkan kembali untuk menjaring perubahan kesukaan setelah peserta didik mencicipi daging rusa. Tampak di papan tulis terjadi perubahan, peserta didik yang sangat menyukai daging rusa bertambah dari 7 menjadi 21.

 

gambar 3

Gambar 3. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan jumlah siswa yang menyukai sampai yang tidak menyukai daging rusa dan menuliskan alasan peserta didik mengapa menyukai dan tidak menyukai [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].

 

Gambar 4 memperlihatkan guru menggali mengapa ada perubahan persepsi? Siswa mengemukakan alasannya, dan guru menuliskan alasan di papan tulis. Alasan peserta didik yang berubah dari tidak suka menjadi suka karena ternyata setelah dicicipi daging rusanya enak. Ada juga yang bertahan tidak menyukainya karena alasan rusa bisa habis padahal harusnya dilindungi. Lalu guru menempelkan grafik yang dibuat sendiri dari kertas karton. Grafik kerusakan lahan pertanian di Hokaido dari tahun ke tahun.

gambar 4

Gambar 4. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan alasan perubahan pendapat siswa dan menempelkan grafik kerusakan lahan pertanian di Hokaido [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Gambar 5 menunjukkan guru menempelkan satu grafik lagi yaitu pertumbuhan rusa di Hokaido dari tahun ke tahun. Siswa memikirkan hubungan antara grafik kerusakan lahan pertanian dari tahun ke tahun dan pertumbuhan rusa pada tahun yang sama di Hokaido. Dari dua grafik ini guru meminta para siswa memikirkan alasan mengapa Hokaido masyarakat beramai-ramai memakan daging rusa tiap selasa keempat bulan Oktober.

gambar 5

Gambar 5. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan grafik kedua yaitu pertumbuhan rusa di Hokaido [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Gambar 6 menunjukkan kegiatan inti berlangsung selama 40 menit. Kita bisa melihat rangkaian kegiatan selama 40 menit di papan tulis dari kanan ke kiri. Apa yang dibelajarkan guru dan bagaimana proses argumentasi yang terjadi di kelas terlihat di papan tulis.

gambar 6

Gambar 6. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan kesimpulan dan pada pukul 14.30 kegiatan inti pembelajaran berakhir. Seluruh pembelajaran yang dilakukan terlihat di papan tulis [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Tidak hanya Guru Hasimoto, hampir semua guru di Toyama Jepang mempunyai pola yang sama. Sebuah topik pembelajaran yang diberikan guru selama satu jam pelajaran di kelas dapat dilihat pada papan tulis. Gambar 6 memperlihatkan selembar pertanyaan yang diberika guru dan proses argumentasi yang terjadi selama pembelajaran di kelas. Warna kuning yang ditempelkan adalah nama peserta didik yang memberikan pendapat. Garis panah menunjukkan kaitan antara pendapat siswa yang satu dengan yang lain.

diskus

Gambar 7. Papan Tulis di sebuah kelas SD Jinzu Midori Jepang memuat apa yang telah dibelajaran selama satu jam pembelajaran [Foto Dokumen Penulis].

Guru Jepang telah memanfaatkan papan tulis sebagai media pembelajaran secara optimal. Selepas pembelajaran papan tulis dapat dipotret, dijadikan sebagai bahan refleksi. Bagaimana Guru Indonesia? Mari kita mulai mengoptimalkan papan tulis sebagai media pembelajaran di kelas! #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus! [YH].

Tur Kieu 

Turkey dieja pakai bahasa sunda mah jadi Tur Kieu artinya katanya begini atau beginilah ceritanya…. Kira2 tanah sunda pernah berkenalan dengan Tur Kieu gak ya? Tak ada manuskrip dari pajajaran atau galuh yang menunjukkan kerjasama tersebut.  Boleh jadi karena kerajaan sunda lebih dulu tenggelam sebelum turki utsmani berdiri.  Namun kedekatan nusantara dan turki besar sekali, ketika perang Aceh Turki bantu Indonesia. Wali Songo pun datang menyebarkan islam nusantara karena perintah khilafah ustmaniyah di Turki.

Tur Kieu benteng terakhir kekhilafahan islam, setelah sekulerisasi Otomatis 1/3 bagian dunia yg berada pada satu daulah islamiyah bubar.  3 maret 1924 khilafah Ottmaniah yang dibangun oleh Rasulullah saw di Madinah hancur….. “Kemal Attarturk tokoh sejarah yg menghancurkannya”.   Pembubaran yg nyaris tanpa perlawanan berarti, jika kita hidup diera 1980-1990  terjadi seperti itu pada UNI SOVIET,  tanpa perlawanan “Glasnot dan prestorika” telah menceraiberaikan unisoviet menjadi negara2 kecil yg merdeka.  Now, tinggal China yg masih menjadi negara raksasa.  

Kini kisah baru dimulai di Turki.  Erdogan sebagai presiden Turki adalah bagian dari organisasi transnasional IKHWANUL MUSLIMIN/IM. Sebagaimana kita tahu organisasi ini menyebar ke seluruh negara dengan menyandang nama partai keadilan… atau nama IM sendiri.  Goal akhir dari IM adalah berdirinya kembali khilafah islamiyah.  Sebenarnya bukan hanya IM tapi Hizbut Tahrir pun punya maksud yg sama.  Bedanya IM melebur jadi partai peserta pemilu. Sedangkan HT memilih bergerak di luar sistem.

IM/di Indonesia PKS, akan senantiasa berusaha meraih pimpinan tertinggi pengendali negara yaitu presiden.   Sudah itu bgmn?

Nah, drama Turki menjadi tontonan kita bagaimana pola gerakkan IM.  Sangat disadari bahwa stabil memerintah bukanlah hal mudah.  Mursi lengser dan menjadi partai terlarang di Mesir setelah sebelumnya dialami PAS di Aljazair dan Malaysia.  Kemudahan mereka lengser karena dukungan rakyat yg kurang.  Dukungan rakyat kurang, karena citra sang pemimpin tdk terbangun di mata publik.  Alih2 membela sang pemimpin, malahan rakyat jadi benci.  Tampaknya Erdogan cerdas belajar dari pengalaman.  So, menampilkan citra sbg presiden yg santun, care, dicintai rakyat itu yg diperlukan.  Bagaimana menguji loyalitas rakyat? Awalnya sih saya gak percaya kudeta Turki sebuah “test water” tapi membaca perkembangan akhir2 ini Turki melarang gerakan Tasawuf “Fettulah Gulen” yg penuh damai, saya jadi pikir ulang. Kita semua tahu gerakan seperti ini non politik, berhikmat pada dunia pendidikan dan sosial.  Sebagai catatan sebelum kudeta pun berkali-kali Erdogan menyerukan larangan terhadap Fettulah Gullen/FG. Dan ketika kudeta terjadi tertuduh pun kembali disematkan pada FG.   Test water berhasil, walaupun harus mengorbankan rakyat, tapi Erdogan tahu posisinya dicintai rakyat dan didukung rakyat.  Mungkin sekarang tinggal merealisasikan agenda2 IM lainnya….

Tur kieu….. Akankah berimbas ke Indonesia?

Ada 8 juta aktifis dan simpatisan PKS di Indonesia.  8 juta itu yg sudah 17 tahun dari catatan prmilu 2014.  Lalu hitung saja berapa jumlah SD-SMA ISLAM TERPADU di Indonesia, hitung jumlah murid dan ortunya,  ini belum termasuk pesantren Tahfidz dan Sekolah Berasrama, lembaga dakwah kampus di kampus PTN termasuk PTAIN seperti di UIN yg mahasiswanya tak bisa milih krn KOS dan KTP.  So…….????? 

Ya….dikembalikan lagi pada kita semua, mau hidup Indonesianya bgmn? 

#justThink better than nothing. 

Mau masuk SMA, apa yang harus dilihat?

SMA masa penentuan untuk memilih tingkat pendidikan lanjut terutama bagi mereka yang punya hasrat bersekolah tinggi mengisi jalur-jalur profesional sejak dini.  Bagi mereka yang mau mengisi jalur teknisi, pilihannya adalah sekolah teknik dan melanjutkan ke D3.  Untuk masuk PTN jalur yang disediakan adalah SNMPTN, SBMPTN, dan ujian mandiri.  Dengan penghapusan ranking pada sistem pendidikan nasional kita, jalur undangan atau SNMPTN tidak hanya diperuntukkan bagi anak ranking 1-3 seperti era 90-an zaman saya sekolah dengan istilah PMDK atau USMI yang hanya menyasar anak2 rangking di sekolah.  Jalur SNMPTN membuka peluang bagi semua anak negeri, seleksi berdasarkan rapor.

Rapor tentu saja sifatnya individual, SNMPTN mempertimbangkan pula kredibilitas sekolah.  Kredibilitas sekolah dilihat dari mana oleh PTN? Salah satunya dari IIUN atau Index Integrasi Ujian Nasional.  IIUN dikeluarkan secara resmi oleh kemendikbud sehingga publik bisa memanfaatkan.

Kita orang tua juga memanfaatkan untuk kepentingan memilih sekolah bagi anak-anak kita.  Kuota SNMPTN bagi perguruan tinggi sangat tergantung pada IIUN.  Sekolah dengan IIUN baik memiliki peluang yang tinggi untuk diterima di PTN. Sekolah mana saja itu?

Karena saya tinggal di Bogor dan berasal dari Bandung, berikut ini saya bagikan hasil koleksi saya terkait IIUN bagi orang tua di Bandung dan Bogor.  Bagi kota lain bisa mengakses web kemendikbud terkait pemanfaatan UN oleh publik.

Nilai IIUN SMAN di Kota Bandung.  Angka dalam kurung menunjukkan ranking. Sebagai catatan SMA dengan nilai IIUN > 80 dinyatakan sebagai sekolah yang memiliki integritas.

  1. SMAN 1 : 79 [13]
  2. SMAN 2: 82[6]
  3. SMAN 3: 92 [1]
  4. SMAN 4: 85 [3]
  5. SMAN 5: 88 [2]
  6. SMAN 6: 79 [13]
  7. SMAN 7: 78 [22]
  8. SMAN 8: 83 [4]
  9. SMAN 9: 83 [4]
  10. SMAN 10: 77 [23]
  11. SMAN 11: 80 [11]
  12. SMAN 12: 81 [8]
  13. SMAN 13: 82 [6]
  14. SMAN 14: 81 [8]
  15. SMAN 15: 79 [13]
  16. SMAN 16: 76 [24]
  17. SMAN 17: 77 [23]
  18. SMAN 18: 50 [26]
  19. SMAN 19: 79 [13]
  20. SMAN 20: 79 [13]
  21. SMAN 21: 47 [27]
  22. SMAN 22: 76 [20]
  23. SMAN 23: 80 [11]
  24. SMAN 24: 81 [8]
  25. SMAN 25: 79 [13]
  26. SMAN 26: 79 [13]
  27. SMAN 27: 60 [25]

IIUN SMAN Kota Bogor

1. SMAN 1 = 90 (1)
2. SMAN 2 = 87 (3)
3. SMAN 3 = 90 (1)
4, SMAN 4 = 84 (5)
5. SMAN 5 = 85 (4)
6. SMAN 6 = 82 (8)
7. SMAN 7 = 84 (5)
8. SMAN 8 = 80 (10)
9. SMAN 9 = 81 (9)
10. SMAN 10 = 83 (7)

Bagi orang tua, selama memilih sekolah bagi putra putri anda!

#Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus!

banner_blog

Social Empowerment

Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus!

Ini adalah motto kami di IEPF, sebuah NGO yang konsen dengan pendidikan dan pendidikan lingkungan di Indonesia.

Mengapa “Yuk!”? Yuk, berarti mengajak.  Meminta semua orang berpartisipasi dan berperan serta.

Mengapa “Kita”? Kita artinya kamu dan aku, kita berarti bersama-sama, tidak bisa sendirian.  Kita mengandung arti kolaboratif, kooperatif, dan bersifat kolegial atau setara. Kita bermakna ‘gotong royong’

Mengapa Bagus? Apakah Indonesia tidak Bagus hari ini?  Bagus adalah kata sifat merujuk pada benda bukan pada orang.  Kalau merujuk pada orang menggunakan kata “baik”.  Dulu jaman Pak Tino Sidin, kalau kita kirim gambar sama beliau selalu saja gambar apapun diberi saran, namun akhirnya dipuji “Bagus!”  [Ah tua banget ya, zaman Pak Tino Sidin, alm].  Yang dipuji Pak Tino adalah gambar atau barang atau benda.  Indonesia Bagus artinya bagaimana membuat obyek2 yang ada di Indonesia ini tertata baik, rapi, dan enak dipandang mata!

Jadi secara keseluruhan YUK, Kita Buat Indonesia Bagus adalah ajak agar berpartisipasi secara gotong royong menata Indonesia agar enak dipandang mata.  Untuk membuat keadaan ini, beberapa waktu lalu saya memfoto beberapa kondisi di Indonesia dan mengunggahnya di media sosial dengan harapan banyak yang sadar, kemudian melakukan aksi membuat Indonesia lebih baik.

Salah satu bentuk yang kita lakukan untuk kampanye ini adalah memotret fenomena keseharian dan mengajak berpikir. Kampaye dilakukan di media sosial. Contoh kampanye kita seperti foto di bawah ini?

Mungkin karena tampang kampanye di atas terlalu serius jarang yang mau membagikan kiriman ini.  Jika dibuat gaya MEME bagaimana ya reaksi orang-orang? Mau tidak membagikan foto-foto seperti di bawah ini?

Harapannya mengunggah foto-foto seperti ini pertama membuat orang sadar akan ketidaktepatannya memperlakukan lingkungan di sekitarnya. Kedua menggugah orang untuk membagikan foto-foto ini sehingga menjadi viral dan mengubah masyarakat kita dalam memperlakukan lingkungan.  Sayangnya harapan kedua belum membuahkan hasil, rata-rata yang menjadi viral ditonton dan dishare ribuan bahkan jutaan orang bukanlah sesuatu yang bersifat #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus!”

Jadi? Walau sedikit banget yang membagikan kampanye YUK, KITA BUAT INDONESIA BAGUS.  Walau sedikit orang yang tergerak untuk membuat aksi serupa. Tak apa-apa, kampanye akan terus berlanjut, walau tidak membagikan, cukuplah baginya untuk memperlakukan lingkungan sekitar dengan baik sehingga tercipta Indonesia Bagus.

Ide Kendaraan Pedesaan Masa Depan: “Sepeda Aruna” untuk Murid SD

banner_blog.jpg

Saya cukup terkejut melihat viral berita JPNN.com  di media sosial.  Beritanya tentang anak-anak di sebuah Sekolah Dasar di Trenggalek, “Anak-anak SD naik sepeda motor ke sekolah.”

Jarak dari rumah ke sekolah katanya rata-rata dua kilo meter, namun jalannya berbukit, dan mereka pun ingin cepat sampai di sekolah.    Sekolah dan aparat desa setempat telah berulang-ulang kali melarang hal ini, namun mereka tak kuasa karena para orang tua tak dapat mengantarkan anaknya, orang tua  sibuk bekerja di hutan dan ladang.  Terpaksa dibiarkanlah anak-anak kelas IV – VI SD mengendarai sepeda motor.

Selain peraturan SIM, kendaraan bermotor pun didesain bagi mereka yang telah berusia 17 tahun, bukan  untuk anak usia 9-11 tahun.  Sehingga anak-anak akan sulit mengendalikan motor tersebut baik dari sisi tinggi maupun bobot kendaraan.  Pada tontonan berita pun tampak anak-anak usia 9-10 tahun kesulitan mengendalikan motor tersebut.

Apakah kita akan membiarkan ini semua?

Peristiwa di Trenggalek ini bukan hanya fenomena di daerah itu saja, boleh jadi menjadi fenomena di kota lain.  Termasuk di Kota saya Bogor yang termasuk perkotaan.  Anak-anak SMP yang tidak disediakan jemputan sekolah lagi, akhirnya diijinkan orang tua untuk membawa motor.  Kontur jalan di beberapa desa dan kota berbukit-bukit, jika naik sepeda biasa akan sangat melelahkan bagi si anak.  Kontur jalan di desa tambah lagi tantangan, yaitu sebagian jalan berbatu dan bertanah liat.  Jika dipaksakan membawa sepeda, tentu sepeda akan jadi beban panggul bagi si anak.  Melelahkan bukan? Jika datang ke sekolah dia akan kelelahan, maka bagaimana anak bisa belajar dengan baik?

Desain kendaraan buat sekolah anak pedesaan Indonesia!

Dengan pertimbangan sebagian besar pedesaan di Indonesia terutama pulau Sumatera dan Jawa sebagai berikut:

  1. Kontur berbukit-bukit
  2. Jalanan berbatu atau sekedar tanah liat
  3. Jarak tempuh ke sekolah 2 – 10 km
  4. Anak bersekolah dengan adik atau kakaknya
  5. Indonesia negara tropis punya musim panas sepanjang tahun

Berdasarkan pertimbangan itu, maka desain kendaraan bagi anak pedesaan di Indonesia haruslah memenuhi aspek sebagai berikut:

  1. Mengatasi kontur berbukit-bukit, sepeda harus dilengkapi mesin, bukan sekedar kayuh, karena butuh bantuan dorongan tenaga ketika posisi menanjak.
  2. Dengan jalan berbatu dan tanah liat, maka ban yang digunakan harus dapat menghindari slip.  Ban harus memiliki tonjolan-tonjolan gerigi yang tajam dan kuat.
  3. Jiwa masyarakat Indonesia yang komunal dan gotong royong, maka kendaraan harus memiliki boncengan.
  4. Kendaraan bertenaga surya lebih cocok karena banyak pedesaan di Indonesia mempunyai sumber listrik yang terbatas.

Desain yang mempertimbangkan keempat hal itu kita namakan  “Sepeda Aruna.  Aruna berasal dari bahasa sansekerta yang berarti  fajar, sehingga bisa disebut juga sepeda fajar.  Fajar kata lain dari matahari atau surya, matahari yang terbit pada pagi hari. Sepeda digunakan oleh anak-anak SD ketika fajar mulai menyising untuk pergi ke sekolah.  Jadi nama Sepeda Aruna cocok digunakan.    Gambar di bawah ini dapat menjadi inspirasi  untuk mengembangkan “Sepeda Aruna” lebih lanjut.

daymak-beast-the-solar-powered-off-road-scooter-photo-gallery-81988-7

Sepeda Aruna dikembangkan dari prototife sepeda yang sudah ada.  Ban kendaraan sudah sesuai untuk kontur jalan tanah liat di banyak pedasaan Indonesia.  Selain gowes, penggunaan tenaga surya tenaga penggerak. Tiga aspek dari empat aspek ideal sudah dimiliki kendaraan ini, tinggal ditambahkan boncengan yang nyaman di belakang pengemudi.  Dan tidak lupa cat warna yang digunakan adalah MERAH, karena fajar berwarna merah.  Sekarang tinggal pengaturan ketinggian sesuai poster dan bobot tubuh anak-anak Indonesia. Sumber gambar: http://autoevolution.com

Untuk rancangan teknis terkait ebike tenaga surya, Mual Alim mengunggah sebuat artikel terkait pengembangannya.  Pada artikel tersebut tersedia acuan pembuatan dan  kalkulasi lainnya.  Kita bisa menbacanya di sini –> KLIK.

Nah, alangkah indahnya kalau anak-anak desa mulai dari kelas 4 SD di pedesaan Indonesia yang jarak tempuh ke sekolah lebih dari 3 kilometer kontur daerah berbukit-bukit dipinjami sepeda model seperti ini.  Anak bisa membonceng adik kelasnya di kelas 1-3.  Kendaraan seperti ini juga bisa digunakan oleh anak-anak SMP dan SMA yang belum pantas punya SIM.

Untuk anak-anak dengan jarak tempuh ke sekolah kurang dari 3 km lebih baik disarankan untuk berjalan kaki.  Sekolah perlu mengiatkan kembali kesadaran  berjalan kaki ke sekolah.

#InspirasiIndonesia #IMAJINESIA #TMMINspirasi

 

 

 

Minggu pertama sekolah #Dino02

Minggu ini rasanya jadi cupu, seragam SMP tapi bersekolah di SMA.  Untung di kotaku seragam SMP menggunakan celana panjang.  Bayangkan jika seragam SMP pakai celana pendek? Anak2 bercelana monyet bertebaran di antero gedung SMA.  Konon bapak2 kita dulu SMP masih pakai celana monyet.  Duh….pastinya gak bisa naksir kakak kelas.

Sia2 sudah mencukur habis rambut, karena ternyata MOS dihapuskan diganti PLS.  Tak ada lagi kakak kelas yang menyuruh bawa balon gas tujuh warna, tak ada lagi anak perempuan pakai tujuh kucir, bahkan tak ada lagi papan nama yang digantungkan menenggelamkan tubuh kita, satu lagi tak ada lagi kumpul-kumpul pensil 2B dengan dalih buat amal padahal buat dipakai atau dijual ulang para panitia MOS.  Yahhhh PLS telah membabat habis jentik2 korupsi dan membabat bully.   Syukurlah….

PLS membuat kakak kelas kerja keras, DEMO EKSKUL menjadikan mereka berlatih keras menampilkan produk dan karya ekskul.  Kasihan jugamereka dulu ketika kelas 1 mereka dikerjain, sekalang kelas dua mereka juga yang bekerja. Kita hanya nonton saja….  Ehmm semua ekskul yang ditawarkan rata2 membutuhkan biaya…. Mencari ekskul yang gratis bahkan bisa menhghasilkan duit apa ya? Saking susahnya akhirnya saya putuskan ekskul Rohis saja, modalnya cuma datang ke mesjid. Ya, mudah2an aja masuk ke ekskul ini bisa mengusir setan yang bersemayam di tubuh ini dan kali aja ini jalan tol masuk surga.  

Hari pertama sekolah… #Dino01 #OtherView

Ini adalah hari pertama Dino sekolah….SMA!!! Tas belel dari karung terigu yg diselendangkan sekenanya, sepatu putih yg sengaja dicat hitam di beberapa bagian tampak sobekan-sobekan kecil.   Rambut yg dicukur hampir habis.  Tak seperti anak lain yg diantar orang tua di hari masuk sekolah.  Dino harus mengayuh sepedanya sendiri.

Hari sebelumnya, waktu daftar ulang, ibunya sempat mengantarkan Dino.  Berkenalan dengan kepala sekolah, dan menjelajahi sekolah.  “Ini sekolah para juara.  Sebagian besar alumninya masuk ITB dan beasiswa ke luar negeri” begitu Pak Kepsek membanggakan sekolahnya.  Baliho besar dipasang di lapangan berisi nama anak yg tahun ini diterima di PTN.  Besarnya baliho menunjukkan bejibunnya siswa SMAN ini yg lolos SNMPTN dan SBMPTN.   Letak sekolah ini agak jauh dari rumah, namun nilai ujian nasional yang memaksa Dino untuk masuk sekolah ini.  “Kamu akan jadi lebih baik jika memilih SMAN ini” begitulah wali kelas memotivasi.

Hari daftar ulang..selain berkeliling sekolah, ibunya diunadang rapat orang tua…

“Din, tadi rapat orang tua…kok SPP-nya besar sekali. 500.000 per bulan, padahal ini sekolah Negeri.  Ibu pikir gratis” keluh ibunya.  Entah apa yang dibicarakan para orang tua di aula.  Dino hanya bisa mengamati ibunya terdiam dan terduduk.  Dan setelah keluar dari ruangan itu, ibu mengabarkan jumlah SPP perbulan yang harus mereka bayar.  “Mahal sekali ya Bu, jadi Dino bagaimana, bisa kita minta keringanan Bu?”   “Bisa, kalau ada surat keterangan tidak mampu dari pak lurah.  Dengan kondisi rumah yang kita miliki, apakah orang akan percaya kita miskin?  Ah, sudahlah Din,  kamu sekolah saja yang rajin, biar ibu pikirkan nanti!”

Hari pertama masuk sekolah….

“Kata Pak Menteri ibu harus ngantar kamu dihari pertama sekolah ya Din?”  “Iya bu, di sosial media Dino baca begitu. Tapi waktu daftar ulang ibu sudah ke sekolah, Gak usah kali Bu!” “Iya, ya Din…jahitan ibu banyak, ibu harus menyelesaikannya!” “Iya bu santai aja! Lagian Dino naik sepeda ke sekolah”   “Ibu gak enak Din, kok kayaknya gak ikut aturan menteri gitu!”  “Ah, sudahlah bu santai aja… Lagian  Ongkos naik angkutan umum kita berdua lumayan loh bu.  40.000 pulang pergi.  Kalau naik kereta bisa irit 14.000 pp, tapi jalan dari stasiun ke sekolah jauh loh bu 4 km.  Lebih baik uang segitu ditabung buat SPP, nah biar Dino naik sepeda saja.  Cukup do’a dari ibu saja yang menemani Dino.

500.000 per bulan?? Dengan apa nanti akan dibayar? Setelah Ayahnya membelikan rumah baru, kemudian meninggalkan keluarga begitu saja, maka ibu banting tulang bekerja. Kebeli beras, sayur, tempe, dan tahu aja udah nikmat.   Dulu waktu SMPN semuanya gratis, tak ada biaya apapun.  Tapi SMAN?? Huh…SPP SMA swasta di dekat rumah lebih murah, kalau gak salah hanya 75.000 per bulan.  Mengapa sekolah negeri milik pemerintah lebih mahal? Masuk SMAN itu susah sekali, kalau tidak rerata 9 untuk ujian nasional tentu tidak bisa masuk.  Sementara sekolah swasta dekat rumahnya tak menentukan passing grade. Kenapa orang pintar harus membayar lebih besar? Sepertinya sekolah ini sedang menghukum orang2 pintar.  Kepala gundul Dino tak paham dengan hal ini.  

Sebagian teman2 diantar orang tua, rupanya seruan Pak Menteri disambut gembira masyarakat. Pemandangan orang tua mengantarkan anak tak membuat hati Dino Ciut.  Baginya DOA IBU tersimpan selalu di hati.  Yg buat Dino sedih hari itu adalah  Sulit untuk menempatkan sepeda butut Dino. Lapangan lebih banyak dipenuhi motor. Sedikit ragu, ia menempatkannya di samping pos satpam. 

 Senyum bangga Dino terpancar, ini sekolah para juara.   Sejenak senyum berganti dengan kerutan….mungkin keinginanku terlalu besar, 500.000 per bulan akan menjadi beban ibu.

—-

Sabtu bersama Bapak 


Walau disajikan buat film lebaran tapi Baru sempet nonton, maklum saya lebaran di kampung gak ada bioskop.  Dan kesannya “Filmnya lebih seru dan asyik!!”

Jika ada orang yg kecewa, “Kok, filmnya gak seperti novelnya?” Nah, baru kali ini saya menikmati nonton film setelah baca novelnya.  Kalau gak percaya silahkan aja buktikan sendiri😝.

Ok, dari baca novelnya saya suka ide ceritanya.  “Menghadirkan sosok Ayah dalam mendidik anak”.  Walau sosok ayah telah tiada, tapi petuahnya hadir sepanjang masa, sampai akhir masa melepaskan ke-jomblo-an anaknya.  Sungguh Brilliant ide ceritanya, dan jempol buat Adhit.  Dalam pendidikan keayahbundaan kita semua mafhum bagaimana kehadiran sosok ayah dan ibu tak bisa terganti dengan apapun.  Kondisi single parent akan membuat pincang kepribadian anak.  Nah, ide mem-video-kan petuah2 ayah, diputer tiap sabtu, ini bener2 ide cemerlang.  

Selain alur utama dan ide utama “menghadirkan sosok ayah”, masih ada dua cerita lagi.  Pertama, konflik rumah tangga antara Satya-Risa yang bikin merengut. Kedua,  usaha Cakra mengakhiri ke-jomblo-annya yang bikin ketawa. Menonton film ini kita dihadiahi banyak QUOTE yg membuat kita berfikir keabsahan logika umum selama ini.  Misalnya umumnya menikah itu tujuannya saling melengkapi, pasangan satu menyempurnakan pasangan lainnya. Lewat dialog Cakra pada Ayu justeru “sebelum menikah haruslah mematutkan diri, menyempurnakan diri apakah layak menjadi imam bagi pasangannya?”   

Bagi yang belum nonton, ada baiknya menyiapkan catatan, karena akan banyak quote di film ini, hehehe. Mungkin filmnya jadi terkesan menggurui ya? Namun kesan itu akan pupus dengan kenikmatan akting Cakra, Wati, Firman yang sungguh kocak. Juga kematangan akting Acha dan Ira Wibowo. 

….dari ide cerita juga rangkaian cerita walau tidak didedikasikan sebagai film religi atau film berlabel islami, ini film lebih islami daripada film yang  berlabel islami namun alurnya seputar percintaan segitiga.  Memang cocok banget film ini disajikan di moment lebaran.

Oh ya hal yang menarik dari film ini adalah ….membiarkan gambar yang berbicara.  Tidak ada satupun tokoh yang mengungkapkan apa penyebab kematian ayah Satya-Cakra, tapi dari surat yang diterima kita tahu bahwa apa penyebab kematian ayah mereka.  Lalu tidak perlu mengungkap dengan banyak kata “alasan religius” kenapa Cakra ngebet sama Ayu…cukup dengan menggambarkan dengan sepasang sepatu terongook di rak sepatu Mushola kantor.  

Satu lagi yg bikin jempol…. Setting 1990-an sangat diperhatikan pada film ini.   film tidak abai sama setting perangkat dan teknologi yg melatari tahun kronologis.  Detail penggunaan dari kaset ke flashdisk bukan sekedar perangkat tapi jadi makna sebagai sebuah film bergaya flashback.

Penasarankan? Kalau gitu silahkan menonton!

Zakat oh zakat

Penghasilan 10 juta, gak zakat? Kamu dipertanyakan ke-muslim-annya.  Begitulah kira-kira iklan suatu lembaga zakat.  

Saya bukan orang yang kompeten terkait hukum, tapi saya cuma memaparkan dari hal yang menjadi keyakinan saya saja.  Dari sebuah proses belajar yang sampai sekarang masih saya tabbani.

Entahlah kadang risih kalau ada yang bilang “Kita aja bayar pajak penghasilan 5-15% tergantung pangkat/golongan untuk setiap gaji dan honor yang kita dapatkan, tetapi kita tak keluarkan zakatnya?”  Lalu ada lagi analogi “Petani aja mengeluarkan zakat dari hasil pertanian, itu petani loh! Masa kita profesional gak keluarkan zakat!”

Dan semua analogi itu menghasilkan hukum terkait Zakat.   Dari semua analogi itu dicarilah dalil yang memandankan  analogi.  Hemmm!!! Saya pun merenung!

Saya mungkin disebut kolot karena berpegang teguh pada kaidah syari’ ibadah sesuatu yang tauqify.  Nah, zakat adalah salah satu ibadah, salah satu rukun islam.  Dalam ibadah kita tak boleh menambah-nambah, nambah-nambah dalam ibadah disebut bid’ah. Urusan ibadah adalah urusan Tauqify [begitu adanya] dan tidak ada ilat [qiyas atau analogi] dalam urusan ibadah.   Jadi begitu adanya dari Rosulullah saw, begitu kita harus patuhi.  Dalam aspek ibadah ya harus apa adanya.

Ok, ringkasnya zakat saja, dalilnya bisa ditelusuri dari At Taubah dan surat lainnya, Af’al dan pelaksanaannya bisa ditelusuri dari hadits2 terkait.

  1. Zakat Fitrah dalam syariat jelas HARUS dalam bentuk Tho’am/makanan pokok 3,5 liter/2,7 kg.  Zakat fitrah diterima oleh orang Fakir & miskin.
  2. Zakat maal: terkait pada hasil perniagaan (1), pertanian(2), pertambangan(3), hasil laut(3), hasil ternak(4), harta temuan(6), emas dan perak – untuk emas/perak termasuk didalamnya Tabungan/deposito/reksadana karena Ideologi Kapitalis telah menukar emas/perak-dirham/dinar menjadi MATA UANG KERTAS dan kertas2 berharga lainnya (7).  Zakat Maal diterima oleh 8 asnab: fakir, miskin, Gharimin, Mualaf, Hamba Sahaya, Fisabilillah, Ibnu Sabil.

Lalu, bagaimana kemudian zakat fitrah yang secara jelas dari ayat dan af’al Rosululloh selalu dalam bentuk makanan kemudian kita ganti dengan uang, hanya karena alasan PRAKTIS???   Jika zakat fitrah itu ibadah yang setara dengan sholat, maka boleh dong dengan alasan yang sama untuk ke praktisan SHOLAT yang bacaan bahasa arab itu saya ganti ke bahasa sunda? Boleh dong SHOLAT MAGRIB yang waktunya pendek dituker aja bukan sholat tapi cukup do’a dan dzikir? Bisakah kita mengubah2 sholat seperti itu?  Tentu saja tak bisa dan tak boleh! Kita bisa2 disebut sesat jika begitu.  Lalu kenapa kita melakukannya pada ZAKAT??? Disinilah saya gagal paham, pada sebagian orang yang membolehkan mengganti beras dengan uang.  Bahkan PNS di Propinsi JB langsung main potong gaji untuk pembayaran “zakat fitrah”, berhubung sudah tidak ada lagi jatah beras.

Begitu juga dengan zakat mal.  Tiba2 muncul zakat ke 8, yaitu zakat profesi.  Apakah pada zaman Rasulullah saw dan para shahabat tidak ada penjual jasa? Nah, tidak mungkin tidak ada bukan? Ada orang-orang yang bekerja sebagai assisten atau ajir dari mustajir, mereka menjual jasa, majikan membayar jasa mereka.  Entah itu penulis transaksi, marketing, sales, atau hanya bagian logistik.  Lalu apakah Rasulullah dan khalifah sesudahnya memunggut zakat dari mereka??? Jadi zakat profesi itu bagaimana? Jangan2 itu hanya nambah-nambahin aja.

—Fenomena kebabblasan: “Zakat telah berubah dari orientasi ibadah menjadi orientasi “mengeruk harta umat” —-

Agak ngeri sebenarnya, karena Zaman Abu Bakar orang-orang yang tidak mau bayar zakat diperangi. Nah, ingat konsekuensi perang adalah bunuh membunuh.  Lalu seandainya ada zakat profesi, maka orang yang tidak bayar zakat itu harus diperangi juga? dibunuh? ditumpas? dihabisi? Ngeri bukan?

Atau fenomena zakat profesi itu sebenarnya hanyalah fenomena “Keirian saja kaum islamis terhadap kaum sekularis”?  Kaum sekularis dapat membangun infrastruktur dan kesejahteraaan rakyat melalui pajak.  Sebetulnya islampun bisa membangun kesejahteraan umat melalui zakat. Maka berdirilah lembaga-lembaga zakat independent untuk mengumpulkan zakat dari para mustahik.  Kalau yang dikumpulkan hanya terfokus pada tujuh hal saja disertai dengan syarat-syarat zakat lainnya yaitu nisab, ulang tahun, dll tentu saja secara kuantitas sangat kecil sekali.  Maka berfikirlah….berijtihad….sampai bertemu dengan potensi zakat profesi dengan mengqiyaskan pada pajak penghasilan [Sebagai orang awam saya malahan jadi bertanya lagi, MEMANG BOLEH YA BERIJTIHAD DALAM HAL IBADAH? BUKANNYA HASIL IJTIHAD DALAM IBADAH AKAN MENGHASILKAN TAMBAHAN ATAU IBADAH BARU.  DAN SEGALA HAL TERKAIT TAMBAHAN DALAM IBADAH ITU BID’AH?].

Jadi, orientasi zakat diubah dari ibadah menjadi benefit sosial dan pembangunan manusia

Acapkali zakat untuk 8 asnab pun bermetamorfosis menjadi program.  Beberapa lembaga zakat memang sudah berubah menjadi MINI GOVERMENT.  Tugas-tugas pemerintah dalam kesejahteraan rakyat, penyediaan layanan kesehatan dan pendidikan, kewirausahaan, dll.

__

Paparan di atas  bukan berarti kita gak boleh sedekah 2,5% dari penghasilan kita loh!

Alangkah lebih baik kita punya alokasi khusus untuk sedekah dari penghasilan kita.  Dari setiap kita mendapatkan honor/gaji kita bersihkan harta kita.  2.5% itu sangat kecil sekali sebenarnya, karena apa? Ingat yang akan menjadi tabungan kita di akherat adalah setiap harta yang kita sedekahkan.  Bukan setiap harta yang kita belikan pakaian, sepatu, tas, dll barang habis pakai yang akan jadi usang dan terbuang.  Jadi seyogyanya sebagai seorang muslim bertakwa memprioritaskan sedekah ini.  Dany seyogyanya kebahagian bagi seorang muslim adalah ketika bisa memudahkan urusan orang lain, membuat orang lain bahagia dengan bantuan kita, walaupun kita hanya bisa bantu sedikit dari harta yang kita punya.

Hanya saja sedekah berbeda dengan zakat.  Orang yang tidak bersedekah tidak akan kena hukum apapun, hanya kena cap sebagai ORANG KIKIR atau MEDIT di dunia, dan miskin amalan di akherat.  Namun kalau orang tak ber-zakat tentu saja hukum islam keras padanya di dunia dan pedih siksanya di akherat.

Lalu terkait dengan sedekah.  Apakah sedekah itu mau di sebuah lembaga pengumpul sedekah atau ke komunitas atau orangnya langsung, semuanya tentu akan bermanfaat. Bagi lembaga yang mengelola sedekah, karena ini sedekah bukan zakat [ingat bahwa zakat harus 8 asnab) maka sah-sah saja kalau lembaga itu kemudian mengelola harta yang disedekahkan menjadi program-program bagi kesejahteraan umat.

___

So???  I just write what i think…although it’s nothing.

 

 

Dating or Nothing?

Waktu kuliah Ilmu Kesejahteraan Keluarga (IKK) di kelas terjadi  perdebatan.  Begini ceritanya….

1/3 isi kelas saya adalah mahasiswa yg telah mengalami ‘brainstroming’ dg ide2 gerakan islam yg memdang bahwa “dating” adalah perkara haram dan mendekati zina.  Ketka dosen psikologi kami  membuka perkuliahan tentang tahap hubungan berkeluarga dan salah satu tahap tersebut. DATING, sontak aja hujaman pertanyaan tertuju.

Nah, sebagian besar teman2 saya melalui pernikahan yg menurut saya luar biasa sholeh…Dijodohkan oleh para murobinya atau senior pengajian.  Siap nikah? Minta cariin jodoh!  Ikhwan dan akhwat yg siap nikah kemudian bersatu.   Bahkan ada gosip saking tsiqoh-nya, ikhwan2 tersebut memilih para akhwat dg membalik foto dan memilih secara acak dari akhwat yg siap.  LUAR BIASA BUKAN?  Untuk model ini Without dating cenderung gambling…

Bgmn tingkat keberhasilan perkawinan model begini? Kalau yg akhirnya jadi jodoh adalah teman2 kampus….dan ternyata pernah bersama2 mengerjakan tugas atau berorganisasi yang artinya pernah saling kenal satu sama lain, maka keberhasilan rumah tangga bisa dikatakan cukup berhasil.  Pernah juga model jodoh2an ini dilakukan dan ternyata yg dijohkan teman satu SMA, teman rohis bareng ketika SMA, artinya sebelumnya mereka kenal juga.  Ada kenal sebelumnya, ada kecocokan maka rumah tangga mereka cukup berhasil.

Hanya saja model ini jodoh2an kayak gini menurut saya ‘gambling’.   Mari bicara setelah 7, 13, dari pernikahan tersebut.  Jrennngggggg

“Umi, saya mau nikah lagi?”   “what? Sama siapa Abi?”  “Sama ukhti yg pernah mengisi hidup Abi, jaman jahiliyah dulu.  Sekarang dia sudah janda, suaminya sudah meninggal, Abi mau melamarnya!”  — Korban CLBK.

“Umi, Abi ijin nikah sama perempuan cantik dari  Honggaria.  Entahlah,  rasanya abi merasa jatuh cinta.  Sebelumnya abi belum pernah merasakan hal seperti ini”.     Umi pingsan.   —– Korban perasaan cinta.

“Umi, ijinkan Abi menikah lagi dg wanita lain?” “Loh, memang kurang Umi apa Abi?” “Banyak Umi, umi sebenarnya bukan tipe abi.  Abi suka perempuan yg putih, manja, langsing, dan modis.  Bukan yg hitam, gemuk, dan  mandiri seperti umi.  Abi sudah menemukan perempuan idaman Abi sejak lama.  Dia teman sekantor Abi”.   Umi banting pintu.   — Korban angan2.

“Umii…harus mengizinkan Abi menikah lagi pokoknya titik!”  “Abi gak rasional!”  “Umi, abi juga dulu gak rasional menikahi umi.  Dikasih foto umi, lalu diminta lamar Umi.  Abi waktu itu masih culun, nerima aja apa kata murobi.  Sekarang Abi udah dewasa.  Abi merasa untuk mendapatkan akhwat yg satu ini gak mudah bagi Abi.  Abi suka style-nya, ini perempuan tipe abi.  Tomboy, mandiri, enak diajak ngobrol apapun tentang hidup ini.  Coba Umi pikirkan, obrolan kita sehari2 apa? Cabe naek, anak sekolah…..umi juga gak nyambung kalau Abi bicara hobby Abi naik gunung.   Sekarng umi pilih ijinkan poligami atau abi ceraikan.   Perkawinan kita adalah kesalahan.  Abi dari dulu sebetulnya pengennya nikah sama akhwat yg punya hobby sama naik gunung” 

Menikah….bukan bicara hari ini tapi bicara masa depan, bicara tentang 7, 13, 25, bahkan 50 tahun ke depan.  Inilah sebabnya Rasulullah membolehkan wanita menolak lamaran seorang pria, dan senantiasa meminta para pria untuk mengenal secara fisik wanita yang akan dilamarnya, bahkan Rasulullah pun membolehkan mengutus perempuan saudara si lelaki untuk melihat wanita yg akan dilamar.   Semua itu dilakukan agar dari dua org yang menikah tersebut punya ‘magnet’ yg saling tarik menarik.  

Dating – bukan berarti melakukan banyak hal berdua seperti suami isteri saja.  Dating berarti saling kenal dan cocok,biarlah pada saat sekarang berjalan sebagai mana hubungan antar teman yg wajar menurut syara-saling bantu dlm kebaikan-, tapi jika ada kecocokan, maka suatu saat bisa datang untuk melamar.   Belum ada survei sih, tapi dlm kehidupan yg saya lihat sampai detik ini….mereka yg memulai hubungan dengan teman2 SMA atau kuliah lebih bisa mempertahankan RT MONOGAMI dibandingkan dg mereka yg dijodohkan dg org2 yg tidak dikenal. Walaupun perjodohan itu mengatasnamakan syariat islam.

Dating or nothing at all….. Itu pilihan.  Hal terpenting adalah mencari titik temu yg bisa menyatukan dlm kebersamaan berkeluarga itu paling utama.