Cerita Moral 02 #光学校

#Tebarkan Kebaikan#

Kelas yang baru, teman yang baru.  Beberapa teman sekelas Budi adalah teman lama, tetapi banyak juga teman baru. Salah satu teman baru Budi bernama Dimas. Dimas berasal dari kelas Cut Nya Dhien, sedangkan Budi berasal dari Kelas Ngurahrai.  Kini mereka sama-sama berada di kelas Patimura.

Guru  memotong cerita di sini.  Di sekolah Dimas dan Budi, kelas menggunakan nama pahlawan nasional.  Tanyakan pada peserta didik, siapa itu Cut Nyak Dhien, I Gusti Ngurahrai, dan Patimura? Ceritakan pula sedikit kisah mereka pada peserta didik.

Dimas bertubuh gempal.  Pipinya gendut kemerahan seperti buah tomat.  Ada sekelompok anak yang memanggil Dimas dengan julukan “Si Muka Babi”.  Sekelompok anak lainnya di kelas memanggilnya dengan “Kingkong”.

Guru mememotong cerita di sini.  Tanyakan pada peserta didik bagaimana perasaan mereka jika menjadi Dimas?

Budi tetap memanggil Dimas dengan Dimas.  Budi tidak mau ikut-ikutan memanggil dengan nama julukan yang tidak baik.

Guru memotong cerita di sini.  Tanyakan pada peserta didik, bagaimana perasaan mereka terhadap sikap Budi?

“Dimas, aku mau tanya sesuatu!” kata Budi pada Dimas suatu hari.  “Tanya apa Sobat?” Jawab Dimas.

“Gini, kamu senantiasa dipanggil dengan julukan-julukan yang kurang baik.  Perasaan kamu bagaimana?” Tanya Budi.

“Aku sebetulnya sedih, mereka menjulukiku dengan nama-nama bintang.  Tapi kalau aku marah sama mereka nanti aku tak punya teman. Jadi aku memilih membiarkan mereka seperti itu” jawab Dimas.

Guru memotong di sini.  Tanyakan pada peserta didik, “Bagaimana sikap Dimas? Tanyakan juga bagaimana mereka jika teman-teman menjulukinya dengan julukan yang tidak disukai?”

Budi berpikir keras, “Apa yang bisa dia bantu untuk menolong Dimas?”  Budi ingin teman-temannya tidak memberikan julukan-julukan yang jelek pada Dimas.

Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada peserta didik, “Ide apa yang mereka pikirkan jika posisi mereka seperti Budi ingin menolong Dimas dan menyadarkan teman-temannya”

Siang itu Budi berkata pada Dimas.  Dimas aku ingin membuat teman-teman kita tidak mengejek kamu lagi.  Besok aku punya sebuah rencana, tapi maaf berdasarkan rencana aku, aku akan menyebutmu “muka babi”,  maafkan aku besok ya!

“Tidak apa-apa Sobat! Jika nanti rencanamu berjalan baik, apakah kamu yakin aku tidak akan diejek oleh mereka lagi?” Kata Dimas.

“Semoga, tidak!” Kata Budi

Esok harinya, Budi membicarakan permasalahan teman-temannya terhadap Dimas pada ibu guru.  Budi pun meminta izin kepada ibu guru untuk melaksanakan rencana yang telah dibuatnya.  Ibu guru menyetujui rencana Budi.

Setelah jam istirat makan, bu guru berkata, “Anak-anak, hari ini ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Budi.  Budi silahkan ke depan!”

Budi maju ke depan.  Teman-teman, bagaimana kalau kita membuat julukan-julukan paling jelek untuk kita masing-masing! Aku tulis ya!  1.  Dimas, julukannya apa ya? Dengan keras Rangga berkata, “Dimas si Muka Babi!”  Teman-teman yang lainnya tertawa terbahak-bahak.  Budi melanjutkan, “Baik aku tulis ya, 1. Dimas – Si Muka Babi.  Terus kalau kamu Rangga apa julukan bagimu?”  Rangga menjawab cepat dan percaya diri, “Aku ya Rangga Si Ganteng!”  Budi berkata, “Tidak bisa harus julukan yang jelek dong!”  Affan berkata, “Bagaimana kalau Rangga Si Kunyuk!”  “Loh, kok aku disebut Kunyuk, Kunyuk itu kan artinya Monyet.  Memang aku kayak Monyet ya?” tanya Rangga.  “Sudah, kita terima aja deh julukannya. 2. Rangga – Si Monyet”  kata Budi sambil menuliskan di papan tulis.  “Kalau Affan apa julukannya?”  Tanya Budi.  “Bagaimana kalau Si Muka Badak!” soalnya Affan orangnya gak tahu diri! Kata seseorang.   Begitulah seterusnya satu kelas mempunyai julukan-julukan yang jelek.  Budi pun berkata, “Mulai besok kita panggil teman-teman kita ini dengan julukan-julukan jelek ini, apa kalian setuju?”

Tiwi mengacungkan tangan tanda sambil berkata, “Budi sebentar aku keberatan dipanggil Nini Genderewo setiap hari.  Kata ibuku dalam nama ada sebuah do’a.  Namaku Kusuma Pertiwi artinya Bunga Bangsa, ibuku berharap aku menjadi orang yang bisa mengharumkan negeriku.  Kalau namaku ganti jadi Nini Genderewo apa artinya? Aku nenek-nenek setan dong! Aku gak suka.  Nama itu seram lagi!”

Budi pun bertanya, “Adakah yang suka dipanggil dengan nama-nama jelek? Sebentar ya! Ini kok banyak nama setan ya, sukakah Tini dipanggil kuntilanak? Maukah Damar dipanggil dengan sebutan Tuyul?”  Semua teman-temannya menggelengkan kepala.  Nah, begitu juga dengan Dimas, dia tidak suka dipanggil dengan panggilan Si Muka Babi atau Kingkong.    Mulai hari ini kita  memanggil teman kita dengan nama yang baik, nama yang mereka senangi, nama yang diberikan orang tuanya.  Bagaimana teman-teman? Janji ya!

Janji!!! Suara teman-teman sekelas berkumandang.

Ibu guru tersenyum dan berkata pada Budi, “Bagus, Budi! Terima kasih ya!”

Guru meminta siswa menuliskan pesan moral dari cerita moral yang dibacakannya dalam beberapa kalimat.

 

 

 

 

Serial Keluarga Kemiri: PERPU

part one

Enok: Bah, lagi rame PERPU ORMAS di Medsos.

Tole: PERPU sebagai bentuk pemerintah kalah argumen. Pemerintah otoriter eta teh!

Abah : Hemmm, itu karena Tole memandang dari sisi korban. Ari ceuk Abah mah. Ini Abah pakai kacamata pemimpin yg udah disumpah buat jaga pancasila dan NKRI. PERPU itu upaya pemerintah menjaga ideologi bangsa. Jika pemerintah masa bodoh dengan ormas, dan membiarkankan missleading dari kerangka kebangsaan, maka artinya NEGARA ABSEN DALAM MENJAGA IDEOLOGI.

Enok: negara kudu ya Bah, hadir dalam menjaga ideologi bangsa?

Abah: kudu atuh Nok, mun henteu “apa yg akan mendasari persatuan dan kesatuan Indonesia?” Kesamaan Agama? Tidak. Kesamaan suku? Tidak. Yg menjaga kesatuan dari sabang sampai merouke ya ideologi bangsa. Negara haruslah hadir menjaganya.

Enok: Tah, Kang Tole regeupkeun!

Tole : Gandenglah Nok!

Emak: Geus! Udah tong ribut wae adi jeung lanceuk teh, tah kulub sampeu panas keneh.

Abah: Tah! Alhamdulillah masih manggih Kulub sampeu, lain kulub batu.

———-

Part two

Tole : Bener represif, dzlim, otoriter pemerintah sekarang.

Emak: Eh, eta maca koran kukulutus kitu.

Enok: Masih terkait PERPU Kang Tole? Kan udah Abah Jelaskan.  PERPU itu wujud kehadiran pemerintah dalam menjaga ideologi negara.

Tole: Nih, telegram juga udah diblokir!

Emak: Lain diblokir meureunan tapi dinonaktifkan sama pemerintah.  Ya, wajar we atuh, da jaman kiwari saha nu rek make telegram deui? Geus aya email, SMS, jeung handphone.  Mun aya kabar penting teu kudu pake telegram deui.

Abah: Lain telegram kantor pos mak. Ieu mah telegram orang rusia.  Yeuh, Le! Coba kamu pikirkan, “andaikan kita hidup dalam kekhilafahan islamiyah, memerintah berdasarkan syariat islam.  Lalu ada sekelompok orang membuat organisasi menggunakan azas demokrasi liberalisme.  Kira-kira Sang Kholifah akan membiarkan? Lalu ada berbagai aplikasi yang digunakan orang2 untuk menyebarkan isu-isu dan menggalang kekuatan untuk melakukan revolusi atau bughot terhadap sistem khilafah, apakah kholifah akan membiarkannya? Apakah Kholifah akan membiarkan sistem khilafah runtuh?” Sok tah, kamu yang suka ngaji jawab!

Tole: Gak tahu sih Bah.  Yg jelas mah, ya Kholifah akan melakukan segala cara agar sistem khilafah tetap eksis.

Abah: Nah, kan.  Abah mah yakin, Kholifah akan melakukan pelarangan terhadap organisasi demokrasi-liberalisme, bahkan akan menangkap anggota organisasi itu jika tetap bandel, pun blokir terhadap media2 baik cetak, elektronik, atau sosial yang dapat mengurangi keloyalan masyarakat terhadap sistem khilafah.

Enok: jadi maksudna gimana Bah, enok gak ngerti!

Abah: Pemimpin punya tugas menjaga ideologi negara.  Kalau pemimpin mengeluarkan PERPU atau blokir situs atau media sosial, ya jangan dianggap sebagai dzalim-represif dll.  Itu karena mereka sedang menjalankan tugas sebagai pemimpin.  Kalau gak setuju dg tindakan pemerintah, bisa ajukan ke MAHKAMAH KONSTITUSI, jangan sampai provokasi orang ngajak duma demo demi membela kelompoknya.

Enok: Oh gitu, tuh Kang Tole! Tong demo wae, sono bikin banding ke Mahkamah Kontitusi.

Menggoyang rakyat, lalu menggoyang TNI

Saya warga negara bisa,

Tapi saya punya pengalaman hidup yang lumayan kompleks.  Ayah saya sebagai TNI yang ditugaskan menjalankan fungsi dwi fungsi ABRI dalam level tatanan pemerintahan terendah di Masyarakat.  Sejak kecil saya terbiasa melihat ayah saya meng”handle” para begundal dan preman, pun termasuk kerjasama dengan beberapa ulama NU dan PERSIS di wilayah untuk membina masyarakat di daerahnya.  Maka jangan heran jika, kriminalisasi yang asalnya sangat parah kemudian bisa berkurang, pun pengajian-pengajian menjadi subur dan tambah subur ketika seorang Kyai NU terkenal datang ke kampung.

Lalu saya masuk ke IPB berkenalan dg berbagai gerakan transnasional dari mulai ingin mendirikan kampung islam, negara islam di Indonesia sampai mendirikan khilafah.  Siapapun anak IPB langsung atau tak langsung pernah berhubungan dg gerakan transnasional.  Pada saat di gerakan ini kemudian saya mengenal “Talbun Nasroh” meminta pertolongan, salah satunya minta pertolongan pada ABRI.  Saya pernah duskusi dg alm. Bpk terkait hal ini, lalu bapak bilang, “awas bahaya, ngaji politik! ABRI punya mekanisme, tergantung pimpinan, tapi ABRI pernah punya riwayat kelam, ketika jaman PKI, TNI AU dianggap mem-back up PKI, TNI AD vs TNI AU diadu domba” 

Gerakan transnasional ada dua jenis, jenis pertama justeru menjauhi ABRI.  Loe anak ABRI, loe gak akan punya tempat di pengajian ini, tujuan mereka adalah mendirikan NII, dengan cara apapun dengan masuk menjadi partai resmi atau lewat jalur tarbiyah, tapi mereka tetap satu dalam hal “anti ABRI dan POLRI”.   Jenis kedua, justeru memanfaatkan anak dan keluarga ABRI/POLRI untuk melindungi gerakan mereka.  

Bagaimana cara mendekati ABRI/polri? Jika kontak secara langsung, yaitu gerakkan ini membuka dialog pada ABRI aktif, menyentuh perasaan kemuslimannya, selanjutnya mereka memasukkan isme2 gerakkan, sampai akhirnya anggota ABRI terutama para perwiranya menyetujui gerakkan mereka, dan berada dipihak mereka.  Ketika gesekkan antara gerakkan tersebut dengan pemerintah sah, maka mereka bisa berlindung pada para perwira ABRI/POLRI yg berada pada pihak mereka.

Namun, mendekati ABRI/POLRI tentu tak mudah.  Mengapa? ABRI/POLRI mempunyai tujuan yg jelas, mempertahankan NKRI, dan aktifitas gerakkan transnasional yg akan menyusup pada mereka, saya pikir dengan sejarah ABRI yang panjang mereka cukup waspada.  Sehingga mendekati dan menyusup serta minta tolong pada ABRI, bukan hal mudah.  Betul, gerakkan transnasional berhasil mendekati pensiunan ABRI/POLRI, namun para pensiunan ABRI/POLRI bila sudah tidak aktif, senjata dilucuti dan jaringan komunikasi dengan yg masih aktif pun terputus.  Jaringan komunikasi hanya terjadi dikalangan pensiunan saja.  Jadi, tidak banyak bantuan bisa diberikan pada gerakan transnasional ini.

Apakah gerakkan transnasional akan berhenti berusaha untuk melakukan tholabun nusroh? Jika pertolongan ini tidak bisa diraih, maka upaya berikutnya adalah melemahkan ABRI dan POLRI.  Lihatlah Panglima ABRI dan Kapolri dijadikan sasaran.  Pak Gatot Nurmantyo vs Jokowi, pada saat 212 muncul simpati luar biasa dari beberapa kalangan gerakkan pada Panglima ABRI, sampai kopiah putihnya dielu-elukan.  Harapannya apa? Panglima menjadi simpati dengan perjuangan mereka, siap menjadi pembela mereka melawan POLRI dan Presiden jika diperlukan. Lihatlah berbagai posting dilakukan untuk mencitrakan Panglima ABRI pada satu sisi tapi membunuh karakter Kapolri dan Presiden pada sisi lain.  Tujuannya? Sudah jelas agar mereka mendapatkan simpati dari ABRI,  ketika Kapolri dan Presiden memberangus mereka, mereka bisa pada ABRI, karena selama ini mereka baik pada ABRI.

Menggoyang ABRI adalah targetan selanjutnya setelah berhasil mengoyang rakyat.  Rakyat pro pada demo2 yg mereka inisiasi, nurut pada seruan untuk boikot produk atau boikot ikut dalam kegiatan keagamaan di istiqlal atau boikot nonton salah satu stasiun teve.  Kita sebagai rakyat biasa, yg bisa membaca fenomena yg terjadi, harapan saya cuma satu ABRI-POLRI-jajaran Kepresidenan tetap kompak dalam menata NKRI.  Revolusi hijau ataupun hitam dengan jalan kudeta, tentu menjadi agenda dari gerakkan transnasional.  Kami rakyatlah yang akan menjadi korban dari revolusi tersebut.  ABRI-POLRI-Presiden yg punya kebijakkan untuk meminimalisir efek dari revolusi atau bahkan menekan laju revolusi hitam.

Kita sebagai rakyat biasa dan wanita patut diingat, bila revolusi hijau atau hitam diberi ruang di indonesia, kemudian gerakkan tradnsnasional itu berhasil menduduki kekuasaan di Indonesia.  Hal paling buruk bisa terjafi pada para wanita adalah, “Siapkah kita, sebagai wanita dikurung di rumah? Tidak berhak keluar rumah kecuali dikawal mahrom? Bayangkan tak ada lagi wanita dengan bebas dan aman berjalan mengendarai motor ke kampus, ke pasar dan ke tempat kerja? Lalu memesan taksi online atau taksi jalanan untuk pergi ke mall sendirian?  Lelaki! Ya, lelaki dipandang sebagai srigala yang punya potensi memerkosa dan melecehkan para wanita, dan wanita adalah domba yang siap dterkam para srigala, sehingga domba harus selalu dikawal pengembala agar aman.  Begitulah pandangan terhadap wanita dan lelaki oleh gerakkan ini, lelaki dianggap srigala dan wanita adalah sekumpulan domba.  Siapkah kita para wanita? Mana yg lebih disukai? Kehidupan muslim dan muslimah Nusantara saat ini? Atau kehidupan muslim dan muslimah seperti pandangan gerakkan transnasional yg ingin membudaykan hubungan SRIGALA-Domba?” So, let’s think it!

Afternoon 2050

#KEDAI KOPI#

16.15 empat sekawan sudah menenteng kopi mereka.

Wiro : Kalian tahu, isu boikot kopi di kedai kita?

Bagas: Selama mereka ribut di medsos dan tidak nempel tulisan di pintu kedai ini, selama itu kita masih berkopi ria di sini.

Pipit:  Mungkin, Pit egois enggak ya, kalau Pit bilang, anjing mengonggong kafilah berlalu?

Maman : Enggak sih Pit, palingan kamu dicap kafir karena dukung LGBT.

Pipit : Ah, bodo deh, dibilang kafir sama manusia, yang penting Alloh swt gak cap Pit kafir.

Bagas: Pit, lu LGBT gitu?

Pipit : Sebarangan kamu Gas, gue normal!

Bagas : Oh i see, kalau LGBT itu berarti abnormal atau paranormal ya?

Pipit : Terserah apa kata Bagas aja, deh! Yang jelas mah, kucing jantan di rumah gue doyan betina, belum ada cerita kucing gue suka sejenis.

Bagas : Pit, kita lagi ngomongin LGBT bukan kucing, euy!

Wiro : LGBT itu kisahnya setua manusia.  LGBT pertama ya zaman nabi Luth.  Nabi keempat.   Umat samawi sepakat menolak pola hidup ini.  Pola hidup LGBT mendapat tempat di era liberlisme, saat orang benci agama dan memilih jadi atheis atau agnostik.

Maman : kita umat beragama yg terkadang membuat agama jadi tak menarik.  Agama dianggap biang Terorisme dan perang.  Dan seringkali org beragama merasa paling suci paling bener sendiri menapikan aturan komunitas.  Mereka sering kali egois, jika ada sesuatu yang gak sesuai kehendak mereka, mereka melakukan demo, penekan, dan boikot.   Org beragama model gitu ngerusak citra agama mereka sendiri, membuat agama gak menarik.  Jadi wajarlah kalau ada lagu…..imagine no religion……living life in peace…yuhuyyyyyyy…..gitu kata John Lenon.

Pipit : Terus terang, diantara kalian kali Pit yang awam agama.  Nih, Pit tanya ya, tapi jangan pada ketawa, loh!

Bagas : Tar, gue senyum dulu deh…hehehehehe…..sebelum Ipit tanya.

Pipit : Ah loe Gas.  Pertanyaan Pipit, jika pemilik kedai ini seorang gay atau pendukung LGBT, memang haram ya minum kopi di sini?

Wiro : Uhukkkk (tersendak, sambil menahan tawa)

Pipit : Nah, kan…Pit udah bilang jangan diketawakan pertanyaan Pit ini.

Wiro : Gak kok, itu pertanyaan standar Pit.  Cuma gue gak kepikiran seawam itu pikiranmu.

Bagas : Pikiranmu “NDESO” Pit!

Pipit : Lagi tren lagi tuh NDESO, setelah lama Tukul gak bawain acara empat mata.  Ayo, kembali ke lap…..top!

Wiro : Makanan dan minuman yang diharamkan udah jelas. Sebagaimana kita tahu bersama.  Selama tidak mengandung zat yang diharamkan, makanan gak haram.   Dan kita dilarang menharamkan apa yang Alloh swt halalkan.  Adapun boikot, itu masalah politik.  Pernyataan boikot haruslah dikumandangkan oleh pemimpin negara atau presiden atau kholifah atau raja atau sultan atau apapun sebutannya.  Jika ada sekelompok orang atau ormas mengumandangkan boikot, maka itu hanya mengikat anggota mereka.  Kita yang bukan anggota mereka ngapain ikut-ikutan.

Maman : Ada sih Pit, yang menganggap uang yang udah kita bayarkan buat beli kopi ini, akan jadi memperbesar kampanye LGBT.  Tapi itu bukan urusan kita, urusan dia yg menggunakan uang yang dia miliki.

Bagas : Jadi gimana Pit? Mau pindah kedai? Atau kita bikin kedai sendiri?

Pipit : Eh, kalian tahu gak, kenapa Pit suka kopi? Dulu nih ya waktu Pit kecil, kakek tiap minggu pagi ajak Pipit ke kedai kopi, di sana ada kue balok dan kopi.  Kedainya rame bapak-bapak, di situ ada koran, biasanya mereka ngobrol isu kekinian yang ada pada koran.

Maman : Mirip, kita dong! Kalian ingat pertama kali kita ketemu?

Bagas: Ingat dong, karena kita lembur harus masuk kerja di saat org PEMILU.  Dan kedai penuh dengan orang antre gratisan kopi dengan menunjukkan jari tercelup tinta.  Meja kosong jadi sedikit, akhirnya kita satu meja.  Ternyata kita satu almamater, satu angkatan pula.

Wiro : Hahaaha …. biasanya sore gini gue ngabisin waktu di sudut sana tuh! Buka gadget dan medsos.  Sejak peristiwa itu gue lebih suka ngobrol begini ternyata.

Pipit :  Tapi Pit waktu itu dapat gratisan loh, paginya Pit nyoblos dulu baru ke kantor.  Pit juga biasanya di sut sana tuh, sambil buka laptop tulas tulis apa aja.

Maman : Eh balik lagi ke Kedai Kopi, apa gak sebaiknya kita rintis bisnis kedai kopi ya?

Adzan magrib berkumandang, saatnya mereka kembali pulang….

Pembicaraan kita tobe continue ya!

Cerita Moral #01 #4HIKARIGAKKO

  • Tujuan umum: Menumbuhkan sikap empati pada teman
  • Tujuan khusus: Menumbuhkan sikap senyum, sapa, dan salam
  • Waktu 1 x 35 menit

Hari ini mulai masuk sekolah.  Semua anak bergembira ria.  Banyak anak yang pergi pagi, mereka ingin lekas bertemu teman-temannya.  “Saya sudah rindu bertemu teman-teman, hampir sebulan kita tidak bertemu” kata Nisa.  Nisa ingin mengetahui wajah teman-temannya yang lama tidak ketemu.  Apakah teman-temannya memotong rambut dengan gaya baru? Setinggi apa teman-temannya, setelah tidak bertemu satu bulan lamanya?

 Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada murid-murid.  Apa yang mereka rindukan saat lama tidak bertemu teman-temannya? Beri kesempatan tiga orang murid untuk menceritakannya secara singkat.

Ada satu orang yang Nisa rindukan.  Namanya Tata.  Ya, Tata adalah teman baik Nisa.  Nisa tidak sabar ingin mendengar kabar liburan Tata.  Tidak sabar melihat senyum manis Tata.  Tidak sabar ingin melihat, potongan rambut Tata yang baru di kelas yang baru. “Pokoknya, aku harus ketemu Tata pertama kali, aku harus datang ke sekolah lebih pagi, agar aku bisa menyambut Tata, akulah yang pertama kali akan mengucapkan ‘Selamat pagi’ untuk Tata.

Guru memotong cerita sampai di sini.  Mintalah murid untuk menuliskan di buku catatan moral mereka, siapa nama teman yang mereka rindukan? Mengapa mereka merindukan teman tersebut?

Benar saja, Tata belum sampai ke sekolah.  Nisa adalah murid pertama yang sampai di sekolah.  Bapak ibu guru telah berdiri di gerbang sekolah menyambut Nisa.  Murid pertama yang datang. “Nisa, selamat pagi! Kamu murid pertama yang datang!”  sapa Pak Dewa. Nisa menunggu teman-temannya di kelas.  Satu persatu temannya datang. “Nisa, kamu akan sebangku dengan siapa di hari pertama sekolah ini?” tanya Ria.  “Aku ingin sebangku dengan Tata” Jawab Nisa mantap.  Lima menit lagi pembelajaran akan dimulai.  Semua bangku telah telah terisi, tinggal bangku untuk Tata.  Tata pun masuk tepat jam 7.30.  Bu guru sudah akan memulai pembelajaran. Tata masuk ke kelas tanpa mengucapkan salam, tanpa senyum.  Dia melihat bangku tersisa tinggal di sebelah Nisa.  Nisa sudah senyum melambaikan tangannya.  Tata tak membalas senyum Nisa.  Dia tertunduk dan langsung duduk.  Nisa menjulurkan tangannya hendak bersalaman sambil mengatakan, “Selamat pagi Tata, bagaimana kabarmu?”.  Tata tidak membalas uluran tangan Nisa, juga sapaan Nisa.  Dia langsung mengeluarkan alat tulisnya di atas meja.  Pelajaran di mulai, sepanjang pelajaran Tata tidak mau berbicara, dia hanya memperhatikan ibu guru saja.  Nisa tak dilirik sama sekali oleh Tata.  Nisa berkata dalam hati, “Padahal aku dan Tata teman baik di kelas sebelumnya, tapi hari ini Tata sombong sekali. Dia tidak tersenyum, menyapa dan memberi salam bahkan dia juga tidak membalas senyum, sapa, dan salamku”

Guru memotong cerita sampai di sini.  Tanyakan pada murid-murid.  Bagaimana sikap Nisa? Bagaimana sikap Tata? Bagaimana perasaanmu kalau kamu sebagai Nisa? Bagaimana perasaanmu kalau kamu sebagai Tata? Mintalah mereka menduga, “Apa kira-kira yang menyebabkan Tata berubah sikapnya?”

Waktunya istirahat…. Nisa sangat senang.  Sekarang aku bisa bertanya sama Tata, “Mengapa ia bersikap seperti itu pada Nisa.  Mengapa ia masuk kelas pun tak senyum, sapa, dan salam.  Padahal senyum, sapa, salam itu harus diucapkan setiap kali kita bertemu dengan siapapun atau masuk ke ruangan yang penuh orang?”  Eh….Tata dimana ya? Tanya Nisa pada teman-temannya.  Semua orang yang ditanya menggelengkan kepala.  Nisa sudah geram pada Tata.  “Dasar Si Tata, udah tahu salah, sekarang kabur tak mau ketemu saya!” dalam hati Nisa marah sekali.  Sekeliling sekolah telah dicari, tapi Tata belum terlihat.  Tiba-tiba pandangan Nisa tertuju pada kantor kepala sekolah.  Di sana berdiri Tata dengan seseorang sedang mengobrol dengan Ibu Kepala Sekolah….”Itu siapanya Tata ya? Bukan ayahnya, tapi siapanya ya?”  Nisa menghampiri kantor kepala sekolah.  Nisa mendekat, tapi tidak berani dekat sekali.  Nisa bisa mendengar percakapan Ibu Kepala Sekolah, Tata, dan Orang itu.

Kepala Sekolah: “Tata, ibu turut sedih dengan apa yang terjadi pada ibu-bapakmu, tapi ibu yakin kamu akan menjadi anak yang kuat.  Tuhan pasti sayang sama ibu-bapakmu, sehingga mereka segera dipanggil ke surga.  Kamu harus tetap semangat dan ceria.  Ibu senang kalau kamu tersenyum, coba ibu mau lihat kamu tersenyum pagi ini!”

Seseorang: Terima kasih Bu, Tata senang bersekolah di sini, Namun saya sebagai Pamannya tak bisa terus mendampingi Tata di sini, terpaksa Tata pindah ikut kami.  Terima kasih sudah mengizinkan Tata masuk kelasnya untuk hari ini….

Nisa menguping semua percakapan itu. Ibu-bapak Tata sudah di surga, berarti…..  Dan itu pamannya? Tata ikut pamannya, berarti….

“Tata!” Seru Nisa.  “Tata aku cari kemana-mana ternyata di sini, ayo! Aku bawa kue keju kita makan bersama!” Nisa berusaha bersikap biasa. Tata tentu saja terkejut, dia seperti akan berlari menjauhi Nisa.  Namun, pamannya mengengam tangan Tata sambil jongkok dia berkata pada Tata, “Temui temanmu, kamu harus berpamitan pada mereka.  Beri kesan yang baik pada temanmu”.   Tata agak ragu, tapi akhirnya dia berlari.  “Nisa!!!!” Tata memeluk Nisa.  “Nisa maafkan aku tadi pagi.  Aku ingin kamu membenci aku, jadi aku bisa cepat pergi dari sekolah ini.  Nisa aku harus pindah sekolah.  Ibu dan bapak aku meninggal karena kecelakaan lalu lintas liburan kemarin.  Aku harus tinggal dengan pamanku sekarang di Kota Bandung.  Maafkan aku Nisa!!!

Guru memotong cerita.  Tanyakan pada para murid.  Bagaimana Nisa dan Bagaimana Tata? Tanyakan apa yang seharusnya Nisa lakukan? Apa yang seharunya Tata lakukan?

Bel istirahat telah selesai.  Nisa dan Tata masuk ke kelas.  Mereka terkejut, guru kelas dan teman-teman lainnya menyiapkan origami bunga. Ibu guru berkata, “Tata, kami sedih mendengar apa yang terjadi pada kedua orang tuamu.  Kami juga sedih berpisah denganmu. Namun walaupun kita berpisah ruang dan tempat, kita masih bisa berkirim kabar denganmu”  Tata dipeluk oleh teman-temannya.  Hari ini mereka melakukan pesta perpisahan untuk Tata.

Guru meminta murid untuk menceritakan lewat tulisan, apa pesan moral dari cerita yang telah dibacakan guru.

“Cerita ini dibuat untuk pembelajaran moral di Sekolah Hikari

Afternoon 2050

#Selingkuh#

Selasa, 16.05.  starbuck masih jadi tempat setia buat mereka kumpul. Dengan muka cemberut Pipit duduk, dengan mata menerawang.  

“Tumben, Pit.  Loe duluan datang!” Sapa Maman.

“Deuh, itu muka ditekuk begitu, putus cinta loe Pit?” Canda Wiro

“Putus cinta, sama Loe kali! Pacar juga gak punya gue!” Jawab Pipit.

“Masalah Loe, apa sih Pit? Muka sampai nekuk gitu? Tanya Bagas.

“Hari ini, Pit bener-bener rese.  Kerjaan gue semua out of deadline.  Setengah hari Pit gak kerja apa2.  Hahhh…geram Pipit!” 

“Mau cerita gak? Klu Loe gak mau cerita, gue punya topik bahasan yang lagi in nih, “kedai kopi kita!” Bujuk Wiro.

—-

Gini ya.  Jam istirahat makan, Pit cari makan dong keluar.  Pulang makan, Pit belum juga duduk orang-orang di kantor udah nyapa. “Pit, Loe dicari HRD!” “Pit, satpam bulak-balik cari Loe tuh!” “Pit, loe disuruh ke ruang big bos tuh!”  Dalam hati, Pipit bertanya, ‘Ini gue kayak seleb aja, dicari semua orang’.  Big Bos? Ngapain juga manggil kacung seperti gue, yang bisanya dipanggil kalau kerjaan gue gak bener kan kepala divisi.  Manggil gue kejauhan banget.  Dengan penuh heran, Pit melangkah ke ruang Big Bos.  Belum juga ngetuk pintu, kepala HRD udah bukain pintu.  Duh, banyak orang di ruang Big Bos ada apa? Pintu tertutup rapat, seorang ibu berseru, ‘ini namanya Pipit Andriyani, tukang rebut laki orang’.  Hampir aja muka Pit kena gampar, kalau gak ditangkis oleh Kepala HRD, sambil berseru ‘Sabar, bu!’  Mana bisa sabar saya Pak, lihat sama Bapak bagaimana isi WA dia dan suami saya.  Pit bingung, ya bela diri dong. “WA apaan bu? Suami ibu yang mana?” .  “Tak ada maling yg ngaku.  Kamu selingkuh sama suami saya! Suami saya dia! Sambil nunjuk Big Bos.  Dalam hati Pit, “Kenal juga kagaak sama si big bos, gimana gue mau selingkuh.  “Maaf bu, baru kali ini saya ketemu muka langsung sama Bapak Direktur, saya pun tak pernah komunikasi dengan Bapak apalagi WA, bahkan nomor hp bapak pun saya tak punya” “Masih gak ngaku juga, nih kamu lihat WA kamu sama suami saya, lihat profil kamu, masih gak mau ngaku?”  Reflek Pit ambil HP dari tangan si ibu.  Gue sendiri jijik baca isi WA si Bapak dan orang yg ngaku jadi Pit.  Pipit terkejut foto profil di WA itu memang foto gue.  Tapi nomornya bukan nomor gue.  “Ini foto saya, tapi no telepon bukan punya saya, dan isi WA saya gak pernah nulis kayak gitu”. Pedes banget muka si ibu, “Nah, kan gak ngaku!” .  Bayangin posisi gue saat itu? Gue jadi tertuduh! Gue kasih tuh HP Ke kepala HRD. Jijik pegangnya juga.  Tiba-tiba Kepala Divisi gue ketuk pintu big bos.  Kepala HRD berbicara dengan berbisik-bisik pada Kepala Divisi Pit. Kepala HRD memperlihatkan isi WA.  Kepala Divisi lihat Pipit beberapa kali, dengan mata memelas Pipit bilang, “Please, help me Pak!” .   Kepala Divisi gue, menghela napas panjang…..”Saya, yakin Pipit di sini bukan Pipit anak buah saya.  Pipit tak mungkin secara bersamaan ada di dua tempat.  Misalnya di WA ini kemarin pukul 14.00-16.00 ada janjian makan di sebuah resto.  Padahal kemarin Pipit bersama saya, kami meeting untuk finalisasi proyek satu hati buat bunda.  Kepala divisi menjelaskan beberapa tanggal di WA itu yg tak mungkin gue lakukan.  Gue lirik si Big Bos, dia terdiam tak bergerak di kursi.  Pengen gue tampar mulutnya supaya dia ngomong jujur sama bininya, cuma gue takut  nanti gue yg dipecat.  “Saya bisa memberikan bukti-bukti otentik, bahwa ditanggal-tanggal yg saya sebutkan tadi posisi Pipit ada bersama kami, mengerjakan pekerjaan kantor ini”.  Alhamdulillah, klu gak ada halangan syara sih sudah Pipit peluk tuh kepala divisi. Pit dan Kepala Divisi diminta keluar oleh kepala HRD.   “Pit, Loe balik aja, kerjaan Loe biar besok kita garap rame-rame. Gue yakin, Loe perempuan baik!”   Itu ceritanya kenapa Pit, bisa datang lebih awal di sini.

—–

“Yah, Pit! Cerita Loe gak rame, coba kalau ditambahin bumbu jambak-jambakan gitu!” Seloroh Bagas.

“Gue sih penasaran “ending” nya sih Pit.  Kenapa Loe gak nguping, kali aja Pipit ASPAL di WA itu tokoh imajiner ciptaan si Big Bos untuk mengetes cinta isterinya” canda Maman.

“Eh, Pit, ternyata Loe itu oke dan terkenal juga, sampai-sampai ada edisi ASPAL-nya!”

“Hahaha….dasar Loe pada ya, komentar Loe pada itu lebih parah dari penderitaan Pit hari ini!”

“Udah, yang penting Loe udah adem sekarang.  Yuk, magriban dulu, biar lebih adem.  Pasrahkan aja sama Alloh, GUSTI ALLOH MBOTEN SARE, Pit!” 

Kopraja 19 mengantar mereka sampai di Stasiun Sudirman.  

“Pit, naik gerbong campur bareng kita?” tawar Wiro.  

“Gue, biasa aja sama Ndari!”

“Kali aja, Pit nanti Loe nangis, bisa bersandar di bahu gue.  Bahu gue lebih kuat dari bahu Ndari loh!” Canda Bagas.

“Bray! Thank you, gue udah gak apa2 kok!”

“Besok, kalau masalah Loe masih berlanjut, Kita semua ke kantor Loe.  Kita jelasin, Loe gak mungkin selingkuh sama Om-Om apalagi Bapak-bapak.  Kita jelasin ke mereka, kalau selera Loe itu artis Korea.  Kita aja yg ganteng gini gak dipilih Loe, apalagi Om2 dan Bapak2!”

“Hahaha, makin kacau dah kalau Loe, pada datang.  Tapi gue pasti telepon Loe pada Bray, kalau gue butuh tukang Pukul!”

“Nah, cocok! Siap terima telepon.  Hati-hati ya, Pit! Ketemu besok!”

Langkah kaki Pipit dan Ndari menuju ke peron gerbong wanita.  Gerbong TanahAbang – Bogor memisahkan Pipit dari tiga kawanannya. Hari ini, Pipit sadar “Masalah besar jadi ringan, jika dibagi dan dihibur”

Afternoon 2050

 

Kisah empat sekawan lulusan IPB, mereka hidup dalam suasana cinta dan politik, memperbincangkannya ditemani secangkir kopi….

#UNTUK APA KULIAH?#

Senin, 16.15 empat sekawan ini kongkow di starbuck.  Hanya perlu waktu 15 menit dari kantor mereka menuju kafe ini.  Sampai magrib mereka kongkow, ngobrol ngalor ngidul sebelum mereka pulang ke Bogor.  Menunggu sampai kereta cukup ruang menampung badan mereka.  Toh, mereka tinggal tidur ketika sudah sampai di kos-an atau rumah mereka di Bogor.
“Loe pada udah pada lihat video yg lagi viral di dunia maya, tentang kelakuan adik2 kita melakukan baiat perjuangan menegakkan khilafah islamiyah?” Maman membuka pembicaraan sore itu.

“Gue pikir, itu wajarlah, darah anak muda.  Kita waktu di IPB juga pernah jadi bagiannya kan? Lagian itu mah berita basi taun 2016 kejadiannya, baru booming sekarang, mungkin karena pas situasinya” timpal Wiro.

“Bagi, Ipit sih tak wajar, masuk IPB buat belajar pertanian, membangun bangsa melalui pertanian, kok malah mau dirikan sistem pemerintahan baru.  Seharusnya yg seperti itu dibahas di FISIP bukan di institut pertanian bogor”

“Tenang, Pit, besok IPB buka jurusan baru ILMU POLITIK PERTANIAN.  Alumnus IPB kan udah banyak yang jadi anggota dewan, bahkan ada yang jadi Kepala Daerah dari jalur Parpol”  celetuk Bagus.

“Ah, loe Gus! Tanpa fakultas resmi, singkatan IPB udah banyak, Institut Politik Bogor karena alumninya banyak yang jadi politikus, Institut Pendidikan Bogor karena alumninya banyak yang jadi guru, Institut Perbankan Bogor karena alumninya banyak yang jadi bankir, Institut Penulisan Bogor karena alumni banyak yang jadi wartawan, akhirnya bukan sekedar Institut Pertanian Bogor, tapi Institut Pleksible Banget”

“Balik lagi ke diskusi kita nih, ini video viral itu, juga ditonton oleh para veteran 45.  Komentar mereka bikin gue sedih” Maman mulai memfokuskan pembicaraan.

“Ya, gimana lagi.  Menurut gue sih, zaman itu berubah.  Kali aja suatu saat memang bisa diterima tuh ide khilafah itu”

“Kalau Ipit sih masih agak ngeri terima konsekuensi hidup dalam tatanan kekhilafahan yang dicitakan oleh mereka.  Ingat, kita di IPB dekat dengan aktifitas mereka.  Loe, masih pada ingat nanti akan ada pemisahan yang jelas.  Lelaki dan wanita gak campur.  Baju kita para wanita pakai jilbab yg nutup seluruh badan.  Gue, sebagai perempuan akan dilarang kerja, kerja gue sebagai anak perempuan di rumah.  Pekerjaan di kantoran pasti prioritas buat lekaki.  Tak ada lagi kompetensi berdasarkan kemampuan, tapi utama itu berdasarkan gender.  Kebayang gak sih? Gue gak bisa kongkow bareng Loe pada!”

“Gue sih simple aja, jika ulama NU udah bilang NKRI HARGA MATI, gue ikut aja.  Terus terang gue mah tau diri miskin ilmu agama.  Mendingan Wiro tuh sempet ngaji ama mereka, gue sempet juga liqo bentaran doang setahunan, udah gitu gue kabur.   Gue tuh memang gak suka pengajian kalau udah nyingung2 THOGUT dan SISTEM KAFIR.  Bagi gue sih, NKRI dan pancasila juga buah ijtihad ulama NU, MUHAMDIYAH, dan Masyumi, udah terima aja, taat sama ulama Indonesia.  Gue gak mau repot!”

“Masalahnya itu, ini nama almamater kita! IPB.  Jagat maya sa-nasional memperbincangkannya.  Kampus kita dianggap sebagai sarang pemikiran radikal” Maman kembali membuka diskusi.

“Man, gue pikir itu memag fakta, ada benarnya.  Yg gue tahu sih.  Memang dari Aktifis rohis IPB ide khilafah muncul dan disebarkan ke seluruh kampus universitas negeri di Indonesia melalui jaringan Lembaga Dakwah Kampus.  Itu memang fakta.  Mau diapakan lagi? Dihapus? Ya gak bisa!” Timpal Wiro.

“Lagian menurut Ipit, kita alumni hanya bisa mengamati.  Gak bisa menindak, yg bisa melakukan tindakan ya yg pegang kekuasaan di kampus, Man.  Kalau merasa itu mencemarkan IPB, kampus pasti urus”

“Lagian kayak beginian ini bukan problem IPB semata, tapi problem PTN.  Dari dulu mahasiswa di Indonesia jadi sasaran penyebaran ide-ide entah itu gerakan islam, komunis sosialis, kapitalis, dan ide lainnya. Mahasiswa selalu jadi target untuk membawa bendera revolusi di Indonesia ini.   Pertanyaannya kita kuliah itu mau apa? Jadi agen pelanjut pembangunan yg udah berjalan atau agen revolusi untuk memulai kembali pembangunan dari nol?”

“Gue, suka kalimat loe yang terakhir, “KULIAH UNTUK APA SEBENARNYA? Mau jadi agen pembangunan atau mau jadi agen revolusi? Mau membangun Indonesia Jaya di tengah percaturan dunia atau mau mengubah tatanan dunia dg revolusi jilid berikutnya?”

“Closing, tuh ya Man! Udah adzan, yuk Magriban!”

Mereka bergegas ke mushola basment mall, menunaikan sholat magrib.   Selepas itu, kopraja 19 membawa mereka ke stasiun Sudirman.

Pit, tuh Ndari udah nunggu Loe!

“oh, ya….jumpa besok ya, gue naek gerbong cewe! Dah!”

“See U, Pit!”

Kereta Tanah Abang-Bogor membawa mereka melewati hari itu…..

Membidik Indonesia

“Mencari titik lemah dari pemerintahan sah.  Menjadikan titik lemah sebagai isue yg digoreng. Menyajikan hasil gorengan tersebut pada masyarakat.  Tujuannya agar masyarakat tidak percaya lagi pada pemerintah yg sah”

Seperti itulah gerakan politik yg berusaha mengganti presiden dan sistem suatu negara.  Jadi, kita tak perlu heran bila kebijakan pemerintah terus dibombardir isu.  Yg perlu kita lakukan adalah move on dg pembangunan.   Kita punya pengalaman buruk pada pemerintahan lalu, banyakannya kritikan membuat pemerintahan lalu menjadi stagnan.  Pemerintahan saat itu kayak salah langkah, mundur kena mau kena, akhirnya hanya sedikit melangkah dengan hati-hati sekali.  Tentu kita semua ingin maju, ingin #moveON dari kondisi stagnan tersebut.  Maka saya pada pemerintahan Jokowi, kita gak boleh seperti itu lagi, kalau kita punya cita2 INDONESIA MAJU, INDONESIA BAGUS, INDONESIA HEBAT! Jadi, yuk kita buat Indonesia Bagus, Maju, dan Hebat!

Upaya memutuskan “kepercayaan umat terhadap pemerintah yang sah” dilakukan dengan berbagai dalih yang islami, misalnya JIHAD SYIASI atau MUHASABAH BIL HUKAM.   Bahkan hadits yg mengatakan, “Muslim yg paling baik adalah yg bermuhasabah pada pemimpin, kemudian pemimpin itu memenggal lehernya”. Begitulah berbagai dalil terkait pentingnya menentang pemimpin sah yang disebut mereka sebagai “thogut atau kafir atau komprador” terus dikumandangkan sebagai legitimasi atas tindakan  mereka.  Di sisi lain, ayat2 terkait bughot (menghianati negara) dan hukuman bagi org yg melakukan bughot mereka tutupi.  

Indonesia dibidik oleh gerakan transnasional untuk dijadikan targetan sebagai NEGARA ISLAM INDONESIA ataupun khilafah islamiyah, benarkah? Indonesia dengan potensi muslim terbesar hampir 200 juta dan kekayaan SDA yg memang merupakan wilayah yg empuk.  Semua gerakan sudah dimulai sejak tahun 1980-an.

Lalu darimana harus mulai? Mengambil pola keberhasilan kaum muda dalam kebangkitan Indonesia oleh mahasiswa STOVIA 1908, revolusi 1945 yg diperjuangkan salah satunya mahasiswa ITB yaitu SOEKARNO, dan gerakan 1966 sudah jelas digerakkan para aktifis kampus.  Berdasarkan pengalaman itu,  gerakan transnasional menjadikan kampus sebagai titik tumbuh paham-paham transnasional. Kampus berplat merah menjadi  kawah candradimuka tempat cuci otak  dan kaderisasi gerakan transnasional.  Kini kita saksikan tak ada satu pun kampus plat merah steril dari gerakan transnasional.  Di kampus-kampus plat merah inilah pengkaderan dilakukan…selama kurang lebih 30 tahunan.  Dan tidak hanya menyasar pada kampus plat merah, tapi juga mahasiswa indonesia di luar negeri.  

Gerakan transnasional bekerja di kampus plat merah melalui unit kegiatan mahasiswa resmi dan responsi keagamaan, juga secara tidak resmi dengan membentuk pemgajian terbatas dengan nama liqo atau halaqoh di rumah kos, begitu pula mahasiswa indonesia di luar negeri, dikumpulkan dalam liqo/halaqoh yg terdiri dari 1-4 org dalam kelompok. Begitulah pola-pola gerakan transnasional sejak 30 tahun lamanya mahasiswa Indonesia di perguruan tinggi plat merah dan mahasiswa indonesia di luar negeri menjadi sasaran.  

Bgmn hasilnya? Reformasi adalah salah satunya, ini titik mula memberikan kesempatan pada gerakkan ini untuk menjadi partai dan ormas dengan segala kebebasan  berhimpun dan berkumpul untuk mengeluarkan pendapatan.  Tanpa peduli bahwa pendapat tersebut bertentangan dg ideologi yang dianut bangsa. Semuanya akan berdalih, it’s just opinion.  Pemerintah tidak boleh memenjarakan orang yang hanya beropini.  Perangkat hukum didesain untuk sulit memenjarakan “gerakkan pemikiran”,  memenjarakan gerakan pemikiran berarti REZIM ORBA.  Kini ada sekitaran 8 jutaan org yg cukup loyal dg ide dan gerakan transnasional, bisa dilihat dari partai yg mereka pilih saat pilkada 2014. Itu blm semua, karena ada gerakan transnasional yg “golput”.  Ada 57 juta golputers pada pemilu 2014, anggap 10% dari golputers penyebabnya ideologi, jadi total selama 30 tahun  pengkaderan gerakan transnasional telah menghimpun sekitar 15 juta orang. Bayangkan 15 juta orang, tentu sudah bisa membuat sebuah kota bukan? Jumlah ini akan terus bertambah setiap tahunnya, seiring lembaga pendidikan dan pesantren yang mereka kelola, ditambah tak berbendungnya gerakan masif penyebaran ide2ini terutama di kampus plat merah, yg disokong oleh dosen-dosen yang juga bagian dari gerakan transnasional ini.

So, can you imagine this “ONCE UPON TIME,  INDONESIA WILL BE A STORY,  just a history, like Majapahit with nusantara……..? And Jokowi dengan pembangunannya akan jadi sejarah seperti Sejarah Syailendra dengan Borobudurnya,  Soekarno-Hatta dengan proklamasinya akan jadi sejarah terlupakan sebagaimana Gajah Mada dengan SUMPAH PALAPAnya.  INDONESIA DOES NOT EXIST! Apakah ini yang kita inginkan? So, let’s think about it!

Agama, politik, dan negara: where are we?

Isu ini mengemuka akhir-akhir ini.  #PILKADADKI suka atau tidak suka, secara fakta menjadi pemicu bagi kegegaran agama (islam) dalam tatanan pemerintahan di Indonesia.  Bukan sebuah rahasia lagi pada #PILKADADKI muncul slogan-slogan PEMIMPIN MUSLIM UNTUK JAKARTA BERSYARIAH. #PilkadaDKI menjadi momen kebangkitan NKRI Bersyariah (tentang NKRI BERSYARIAH, telah ditulis sebelumnya). 

Penangkapan Ustadz Muhammad Al Khathath (Gatot Saptono) bukan sekedar karena inisiasi aksi #313 tapi karena memang bukti-bukti dunia maya, untuk ide #NKRIBERSYARIAH yg digulirkan sejak tahun 2012 tertuju pada al ustadz (silahkan Googling, informasi pada media2 resmi yg diterbitkan FUI atau FPI dan juga media2 islam).  Dan juga bukti2 lain  hanya polisi yang tahu.

Jika penangkapan atas kasus makar #212, tidak terkait ideologi, hanya terkait skenario ketidaksetujuan dg pejabat yang memerintah. Maka penangkapan makar #313 lebih ideologis, yaitu mengancam pancasila.

Yes, islam is ideology….

Kami aktifis rohis sewaktu di SMA atau perguruan tinggi, sangat hapal bahwa islam sebagai ideologi khas.  Islam memerlukan negara untuk merealisasikan hukum terkait pidana seperti zina, minum khamar, mencuri, dan membunuh.  Lalu kami juga sangat hapal bahwa dengan sebutan Pemerintahan Thogut atau Pemerintahan Kufar untuk pemerintahannya yg tidak dijalankan berdasarkan syariat islam, pun disematkan pada pemerintahan demokrasi pancasila  Dan kami juga sangat sadar bahwa ide-ide terkait islam ideologi dibawa oleh dua jaringan.  Pertama, jaringan transnasional atau partai internasional seperti Ikhwanul Muslimin (di Indonesia bernama PKS) dan Hizb Tahrir dengan pemimpinan utamanya berada di negara sekitar Arab.  Kedua, jaringan lokal semodel NII atau metamorfosisnya.  Kedua jaringan ini bergerak masuk dlm sistem menjadi partai dan diluar sistem menjadi ORMAS atau ada juga gerakan di bawah tanah.

Jaringan pertama marak sekitar tahun 80-an, seiring gegap gempita REVOLUSI IRAN.  Jika saya masuk SMA tahun 1987, maka sudah lebih dari 30 tahun untuk kelompok pertama melakukan kaderisasi.  Dan tentu saja lebih lama lagi untuk jaringan kelompok lokal, karena NII pun tumbuh dan ada seusia Indonesia berdiri.  Kini kedua jaringan tersebut menyatu dg agenda yang sama menjadikan Indonesia sebagai cikal bakal pendirian Negara Islam.  Jakarta dijadikan target utama, karena seperti kata DN AIDIT DALAM FILM G30S PKI “Jika ingin menguasai Indonesia, kuasai pulau Jawa, jika ingin kuasai Jawa maka kuasai Jakarta”.  Quote DN AIDIT ini ada benarnya, “Aksi 411 dan aksi 212 didatangi oleh muslim di wilayah yang tidak punya kepentingan dengan PILGUB DKI, ada peserta dari Palembang, Padang, Medan, Makasar, selain dari pulau Jawa.  Magnet Jakarta memang cukup besar.  Membludaknya dukungan terhadap aksi 212 dianggap sebagai sinyal positif kerinduan umat akan syariat islam tegak di Indonesia.  Momen sholat  berjama’ah atau peringatan hari besar digunakan untuk memelihara perlunya “umat islam  menjadi pemain dalam percaturan pemerintahan indonesia” “keharusan DKI dipimpin muslim yg bisa menjadi entry masuknya PERDA SYARIAH atau DKI BERSYARIAH” Dan sebetulnya dalam hal ini makna “pemain” bukan sekedar umat islam atau muslimnya, karena 95% yg mengisi birokrasi sekarang ini pun muslim, tapi maknanya IDEOLOGI ISLAM.

Is it logic?

Terus terang aja, saya mah agak bingung.  Apa memungkinkan tertunaikannya DKI BERSYARIAH jika gubernurnya muslim? Lihat saja JABAR gubernurnya Muslim, bahkan diusung oleh partai yg punya cita2 mendirikan negara islam.  Tapi apakah bisa menjadikan JAWABARAT BERSYARIAH? Apakah ada hukum ikhtilat, Liwath, Zina, Qishosh, dll di Jabar???  Begitu pun di Sumbar, adakah SUMBAR BERSYARIAT, pdhl wilayah ini terkenal dg adat bersanding syaro, syaro bersanding kitabulloh? Bisakah? Jadi? Think 2x. Jangan2 ini akal2an saja? Atau memang Jakarta jadi entry point, lalu wilayah lain nanti akan ikutan….seperti paham gerakan ikhwanul muslimin “dari individu, ke keluarga, ke daerah, daerah ke negara, negara2 bersatu jadi khilafah islamiyah…..”?

Pancasila dan NKRI yg ada saat ini disepakai oleh tokoh muslim dari NU, MUHAMMADIYAH, dan MASYUMI.  Dianggap sebagai jalan tengah untuk menakomodasi persatuan Indonesia dari Sabang sampai Meurauke.  Para ulama saat itu harus menahan ambisi mereka mendirikan SYARIAT ISLAM demi mashlahat seluruh rakyat Indonesia.  Apakah ini bentuk kekalahan? Atau bentuk perjuangan yg belum selesai?  Atau ini justeru bentuk kearifan dan kebijaksanaan?

So, where are we?

Kita muslim, tidak menolak islam dan al quran.  Namun perlu diingat Indonesia yg kita cintai ini adalah buah perjuangan para ulama sampai titik darah pemghabisan.   Pancasila sebagai bentuk kompromi dan perjuangan para ulama harus dihargai, kita hanyalah seorang mutabi atau pengikut ulama.   Jika ada ulama Timur Tengah yg menawarkan KHILAFAH atau NII untuk Indonesia, dan ada ulama Indonesia yg menawarkan hidup berdampingan dg pancasila, maka siapa yg kita pilih? Ulama Timur Tengah mengeluarkan ijtihad dg melihat fakta relevan di negaranya, pun begitu ulama Indonesia.  Khilafah dan NII boleh jadi cocok ditawarkan di negara Timur Tengah, tapi belum tentu cocok untuk negara Indonesia.  Sebagai mutabi, dalam pilihan politik lebih baik bila kita taat pada ulama Indonesia terutama para kyai NU, karena mereka mengikhsas fakta berdasarkan kondisi faktual Indonesia, dan tentu hasil ijtihadnya cocok untuk Indonesia.  MENOLAK #kompromi dan #jalanTengah sesungguhnya bentuk keegoisan, jika ada gerakan yg menolak kompromi dan mendahulukan kepentingan golongannya daripada kepentingan umat yang banyak patutlah kita pertanyakan, “APAKAH MEMNG ISLAM MENGAJARKAN HAL TERSEBUT?” 

Serial Keluarga Kemiri: Pool-itik

Rangkuman serial keluarga kemiri dalam facebook, saya coba rangkum dalam beberapa edisi di blog ini, semoga menikmati, senyam-senyum sendiri aja. Ketiga saya tampilkan topik pikalieureun yaitu Kolam Itik alias POOLITIK.

#17# Lieur ku AADC

Enok: politik teh lieur ya Bah?

Abah: politik adalah seni meraih kekuasaan. 

Enak: pantesan lieur Bah. Nu ngarana seni mah memang sok ngalieurkeun Emak. Emak pernah ninggali pameran lukisan. Lukisanna kawas benang kusut. Harga eta lukisan 150 juta. Emak ge pernah denger nyanyian gogoakan teu pararuguh, teriak2 aja gak nyanyi, sampe telinga Emak budeg. Tah nu kararitu “seni” ceunah Bah! Lieur kan? Seni memang ngalieurkeun!

Tole: PECAHKAN SAJA SEMUA, BIAR GADUH! BIAR RAME! 

Enok: kunaon Kang Tole jadi baca puisi di AADC 1 Dian Sastro!

Tole: Biarkan semuanya gaduh! Gaduh duit!

*gaduh = punya (bhs sunda)

————
#15# Revolusi

Enok: Bah, ari revolusi teh naon?

Abah: Revolusi teh perubahan yang mendadak tak perlu waktu lama. Revolusi kebalikan dari evolusi. Kalau di Biologi mah perubahan mendadak biasanya disebabkan oleh mutasi. 

Tole: Itu tinjauan biologi Bah, kalau tinjauan sosial?

Abah: Pergerakan yang ingin menggantikan sebuah ideologi yang dianut suatu negara dengan ideologi lain atau menginginkan pergantian SISTEM pemerintahan. Misalnya revolusi perancis 1789–1799, menggantikan sistem monarki menjadi kapitalis-liberalis-demokratis. Revolusi Bolshevik Okt 1917 menggantikan sistem pemerintahan kekaisaran di Uni Soviet menjadi Sosialis-Demokrasi. 

Tole: Oh, itu toh maksud Revolusi. Itu sebabnya namanya REFORMASI, karena sistem masih tetap demokrasi-pancasila. Cuma pemilihan presiden aja yang diubah.

Enok: Itu loh Kang Tole, waktu Demo tempo lalu kan ada juga teriakan “REVOLUSI….REVOLUSI…REVOLUSI”

Emak: Tah, Emak setuju memang kita perlu REVOLUSI…penting itu, biar akhlak kita jadi bagus. Tuh lihat, sekarang mah orang gak beban buang sampah, corat-coret dan rusak fasilitas umum, bahkan mengambil hak publik pun tanpa dosa. Perlu revolusi tuh!

Enok: Eta mah REVOLUSI MENTAL atuh Mak!

———–

Enok: Eta mah REVOLUSI MENTAL atuh Mak!

KELUARGA KEMIRI
#15# Pake Ka I

Tole: Katanya PeKaIi bangkit lagi Bah?

Abah: Sebagai sebuah partai? Tidak mungkin bisa bangkit dan lolos verifikasi dari kementrian hukum. Semua partai dan ormas di Indonesia seharusnya berazas pancasila.

Tole: Ah, abah. Bukan PKI nya, tapi apanya itu ya? Misalnya nih bah lambang PKI palu arit ada di uang kita, produksi kaos lambang PKI, kayak gitu deh.

Enok: Memangnya adanya simbol PKI menandakan hidup kembalinya PKI Bah?

Abah: Agak susah PKI bangkit di Indonesia, trauma panjang pada pengemban ide komunis, mematikan nafsu mereka untuk membangkitkannya kembali. Saat ini banyak negara sosialis komunis pun sudah berubah menjadi kapitalis, seperti China dan Uni Soviet. Yang terpenting mah, kelakuan kita sekarang jangan seperti orang PKI, “keukeuh peuteukeuh dan egois ingin menang sendiri, ngajak2 massa buat melakukan revolusi”. 

Emak: Dari dapur, emak denger pada bicaraiin “pake kai” naon nu “pake kai” teh?

Enok: pe ka i Mak, lain pake kai!

kai= kayu dalam bahasa sunda

———–

#11#Status

Abah: Ngapain si Emak cemberut gitu?

Emak: Ini loh Bah, temen2 emak statusnya sekarang mah politik, dia update status kritik pemerintah tentang jual-jual pulau sama orang asing. Emak bingung!

Tole: Memang juga kebijakan pemerintah sekarang mah parah, dijualin semuanya sama Asing dan Aseng!

Abah: Le dan Emak! Kita pernah wisata ke KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK) TANJUNG LESUNG KAN? Siapa yg kembangin itu kawasan? PEMDA kah?

Tole: Bukan Bah, kayaknya swasta!

Abah: Nah, kira2 menurut kalian bagus gak itu wilayah?

Enok: Bagus banget Bah! Wisatanya ditata rapih!

Abah: Itulah, kalian lihat wilayah ujung selat sunda yg terpencil ketika dipercayakan pada investor swasta yg punya modal mereka akan bangun daerah itu dg modal mereka. Kalian lihat daerah itu sekarang? Yg dibangun adalah KEK, pertama swasta membangun kawasan wisata, lalu dibangun SMK Pariwisata untuk menyiapkan tenaga kerja disitu. Di maket kalian lihat pengembangan perumahan sampai nanti ada universitas yg arahnya pada ke jurusan biologi & biodiversity, rumah sakit pun akan dibangunkan. KEK memang dikembangkan oleh swasta. Tapi kalian lihat jalan raya sepanjang KEK pun tumbuh, warung makan…penginapan sederhana yg dibangun masyarakat bagi backpackers yg gak mampu nginap di Tanjung Lesung Cottage berhaga lebih dari 7 juta per malam, tapi tetap mereka bisa menikmati indahnya Tanjung Lesung. Lalu..nelayan. Sekarang para nelayan bisa jual ikan untuk memenuhi kebutuhan KEK, tak perlu mereka jual ke luar KEK. Sumber2 ekonomi tumbuh di daerah situ mengeliatkan ekonomi rakyat kecil di wilayah itu. Hebat kan? Nah! Kalian juga tahu RAJA AMPAT? destinasi prestisius itu pun dikembangkan oleh swasta bahkan Asing. Insyaalloh suatu saat kalau Abah ada rejeki, kita piknik ke Raja Ampat. Sekarang pemerintah ingin menghidupkan wilayah di nusantara seperti Tanjung Lesung dan Raja Ampat. Jangan sampai pulau2 itu nasibnya kayak Sipadan dan Ligitan, jatuh pada negara orang karena pemerintah kita dianggap abai membiarkan pulau itu. Dana pemerintah terbatas buat ngembangin pulau2 yg terpencil, terluar, terjauh…maka diundanglah sektor swasta. Bukan berarti dijual itu. Abah mah jadi ingat hidupnya kegiatan ekonomi di wilayah terpencil dan terjauh itu karena efek menjalan hadits nabi saw ttg “menghidupkan tanah mati”. 

Tole: Tuh…Mak, makanya jadi emak2 jangan suka nyiyir sama pemerintah. Naik motor aja emak2 mah udah bahaya, apalagi masuk ke jurang politik! 

Enok: Tah, Mas Tole juga otaknya kudu banyak piknik biar gak butek!

———-

#17# Jenggotan

Kamis sore, di rumah hanya ada Abah dan Enok. Emak sedang pengajian dan Tole rapat BEM di kampusnya.

Abah; cari apaan Nok di internet?

Enok: googling aksi lingkungan, tapi dikit dapatnya, banyak aksi lainnya. Bah, kenapa ya org2 sekarang mudah sekali KEBAKARAN JENGOT, dikit2 marah, aksi, demo deh….

Abah; mudah KEBAKARAN JENGOT, karena mereka punya jengot, coba kalau cukur jengot, kan gak ada lagi istilah kebakaran jengot,

Enok: @$#%!???!!!?

#13#hoax

Tole: Busyet nih banyak banget pekerja cina ke indonesia. Kasian buruh Indonesia. Ini hoax bukan sih Bah?

Enok: Bah, pegang kepala Tole, demam gak? Soalnya tumben dia gak jugment!

Abah: Ngenye abang mu melulu, Nok! Gini loh Le! Bagi Abah mah, hoax atau bukan, bukan itu masalahnya, juga bukan masalah China atau Walanda atau Arab. Pasar bebas memang di depan mata kita semua. Kelak kalian akan bersaing dg berbagai bangsa untuk memperebutkan pekerjaan di negaramu sendiri, juga buat buka usaha di negaramu sendiri. Era globalisasi meniadakan sekat kesamaan karena suku, bangsa, dan agama….pada zaman itu yg diperlukan adalah kemampuan komunikasi dan kolaborasi, bekerja cepat dan efektif, kreativitas dan inovasi, kritis dan problem solving. Jika kemampuan ini tidak kita miliki maka kita gak bisa bersaing. Oleh sebab itu hard skill dan soft skill kalian harus terus diasah. Sibukkan diri kalian dg prestasi! Manfaatkan waktu dg membaca dan menonton asupan bergizi, yg menambah energi bagi beramal sholeh.

Enok: Tuh, Mas Tole. Reugeupkeun tah! Tong baca wae hoax!

Emak: Ahok lagi Ahok lagi, bosen! Yeuh emak bikin holak! 

Tole: Kita lagi bahas hoax Mak! Bukan Ahok!

———

#08#Malaikat

Emak: Duh lieur emak mah, dua orang ini kayaknya diharuskan jadi malaikat, sedikit2 dilaporkan. Naha jadi kieu?

Tole: ya Emak, keduanya itu pan tokoh. Presiden Jakarta dan Presiden NKRI bersyariah, harus jaga diri dong. Jaga ngomongan tong salah!

Enok: Ah si kang Tole mah lebay meuni jadi presiden gitu. Ari enok mah lieur ku jamaah baper, lain mareuman seuneu nu keur berkobar, malah ikutan niup eta api jadi we beuki gede. 

Abah: Nah, sebagai rakyat kita nu kudu jadi rakyat produktif. Abah teh PNS lamun istilahna keren mah ‘civil servant’ tugasna melayani rakyat, nah Abah dosen ukur jago teori ukur bisa ngajak massa facebookers dan twitter berpikir. Berpikir agar jadi warga konstruktif dan produktif Jika abah share berita HOAX atau berita provokasi, maka abah bukan lg pelayan massa walaupun abah tetap PNS – Pro Negative Sharing. 

Enok: Si Abah mah! Aya-aya wae PNS mah ya PNS wae kerenna CIVIL SERVANT OF GOVERMENT, PEGAWAI NEGERI SIPIL.