Teman Jadi Lawan #it’s politics!

Minggu-minggu kemarin itu, minggu yang menguras perasaan saya banget deh! Betapa tidak? Karena keseringan komen dan diskusi di salah satu grup FB alumni institusi saya waktu S1, teman-teman  punya multitafsir, bukannya dikonfirmasi malah mereka berasumsi sendiri melalui diskusi-diskusi menjurus pada ghibah dan fitnah, kebayang aja…laiknya cyber army mereka meng-capture komentar-komentar saya, lalu memperbincangkannya dengan asumsinya.  Ironisnya buzzer-nya adalah para kader dan aktifivis sebuah partai dakwah. (Duh jadinya makin gak simpati gue sama nih parte).

Kebetulah mereka berdiskusi di grup WA, dan saya founder grup WA Majelis Ta’lim tersebut tetapi saya mengeluarkan diri dari grup WA.  Udah lama saya keluar dari grup itu mungkin tahun lalu…sebelum heboh pilkada AHOK.  Alasan saya keluar dari grup itu karena sebal dengan kelakuan mereka menghina ulama.  Pertama-tama mereka menghina Quraish Shihab saya luruskan adab terhadap ulama.  Bapak Quraish Shihab di UIN Jakarta adalah guru besar, ahli tafsir, ilmu kita gak kesampaian dengan ilmu beliau, jika ada beberapa yang tidak sependapat, maka laiknya kita hargai perbedaan, pilih saja ikuti atau tidak, boleh jadi itu adalah karena kebodohan kita yang ilmunya gak sampai seperti beliau.  Tapi yah…mereka ngotot, ngotot tetap melakukan penuduhan pada Bapak Quraish Shihab.  Dan yang membuat saya keluar adalah ketika terjadi lagi….mendeskriditkan Bapak Nasaruddin Umar ketika terpilih sebagai Imam Mesjid Istiqlal.  Saya tekankan pada mereka bahwa Bapak Nasaruddin di UIN Jakarta sangat dihormati kepakarannya, dan beliau termasuk salah satu pendiri IIQ, sebuah institusi yang mengkader pada hafidz al qur’an menjadi intlektual muslim.  Tentu saja saya dan semua di grup itu bukan apa2 jika dibandingkan dengan beliau dari sisi agama, kok ya kita berani caci maki dan tuduh “ulama” yang bukan-bukan.  Alih-alih diskusi sehat, saya malah dituduh liberal.  Sudahlah….saya masih waras untuk ngalah, daripada terlibat diskusi gak karuan lebih baik saya LEAVE GROUP.

Setahun setelah “leave group” ternyata mereka melakukan GHIBAH dan FITNAH dasyhat sama saya. Ck ck ck ck, kurang kerjaan amat.  Mungkin saya tokoh atau seleb? sehingga pantas dijadikan ajang gosip.  Uniknya ketika saya japri, mereka sama sekali gak ngerasa DOSA.  Malah minta konfirmasi sana sini sama saya, sepertinya saya sebagai tertuduh! COME ON!! Are u crazy or am i stupid for understand you?

Saya sih sangat yakin bahwa pengkaderan di sebuah kelompok dakwah itu akan menghasilkan individu-individu yang bersyaksyiah khas.  Ini beda banget antara yang satu dengan yang lain.

  1. Teman saya di kelompok parte ono nyerang dan menuduh…..walau akhirnya dia bilang oh berarti kita salah tafsir, dan dia tak ada minta maaf atas kesalahan yang dia buat karena mungkin dia merasa tidak bersalah, boleh jadi ini karena parte ono mengajarkan SELALU BENAR.
  2. Teman saya di kelompok gerakan ini, dia hati-hati sekali memilih kata, lembut dan mengatakan bahwa dia hendak tabayun dan tidak rela teman-teman lain melakukan ghibah atau fitnah, gerakan ini mengajarkan menghargai perbedaan mementingkan kesatuan.

Syaksiyah yang ditunjukkan merupakan hasil pembinaan, terlihat sekali pada saat mereka mem-feed back  komentar di status saya.

Saya sih gak mainan politik, gak berafiliansi dengan partai politik tertentu, tapi saya paham.  Saya cuma bisa paham kemana arah gerakan-gerakan pada akhirnya bermuara.  Saya paham apa yang sesungguhnya sedang diperjuangkan.  Sebagai individu, saya punya prinsip kapan saya akan mendukung dan kapan tidak.  Saya berpegang teguh pada cara Rasulullah saw berdakwah dan beramal.  Walaupun mungkin saya tidak memperhitungkan -fiqih syiasi- dalam kalkulasi saya, saya pikir memang tak mampu perhitungkan ini, karena saya bukan anggota partai atau gerakan politik yang punya tujuan politik.

Ok, saya belain Ahok? Saya gak punya kepentingan politik buat bela Ahok, saya tak ber-KTP Jakarta.  Kalau tidak membela kenapa kamu tidak menghujat Ahok? Loh! terkejut saya dengan ungkapan itu! Saya tak biasa menghujat, yang punya hak menentukan salah dan benar itu ada dua yaitu HAKIM dan TUHAN.  Saya hanya punya kewajiban IQRA dan MENENTUKAN AMAL YANG HARUS SAYA AMBIL.

Kajian saya terhadap Af’al Rasulullah saw terhadap Abu Lahab, Abdulah bin Ubay, dan Kaab bin Asyraf, cukup bagi saya untuk memaafkan AHOK yang terpeleset lidah.  Ditambah ayat Al Qur’an yang melarang saya berlaku tidak adil terhadap kaum yang kita benci.  Makin menguatkan saya untuk tidak mempermasalahkannya.  [Dan dengan sikap saya ini kemudian, kalian mengatakan saya MUNAFIK? Saya harus bilang SHAME ON YOU.  Landasan pengambilan sikap saya atas hal ini berdasarkan dalil loh!]

Lalu saya, tak menghitung ‘alasan politik’ ya, karena saya tak punya kepentingan politik apapun terhadap pilkada.  Jadi saya tak hitung hal itu.  Saya warga negara yang tidak ‘berpolitik’. ANDA KEBERATAN? Anda katakan harusnya jadi “semut ibrahim” – No!!!  Bagi saya, itu urusan mereka yang terlibat di partai dan gerakan politik, jangan libatkan saya sebagai rakyat sipil untuk ikut2an, dan saya pun tak mau terlibat untuk sebuah agenda yang saya sendiri tak punya pengetahuan pasti terhadap agenda itu.  Saya ingat benar pesan Alloh swt “Jangan mengikuti sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan terhadapnya”

Bagi saya kalkulasi jelas, jika perjuangan ‘beribroh pada cara-cara Rasulullah saw’ menegakkan Dien di Madinah, dan cara-cara Wali Songo mengislamkan 80% nusantara, maka saya turun jadi semut ibrahim.

Saya sendiri tidak pernah setuju dengan pesta demokrasi, bayangkan untuk PILKADA DKI, dana kampaye yang dibutuhkan lebih dari 80 M. Kalau uang 100.000 yang berdimensi 0,5 cm dijejerkan, maka 80M itu panjangnya adalah 80.000.000.000 cm, atau 40.000 km.  Tahu tidak uang yang dijejerkan itu akan sepanjang apa? Jakarta surabaya saja jaraknya 700 km.  Jarak Sabang ke Meurauke 8.514 km.  Jarak dari Jakarta ke Mekah itu 15.000 km.  Jadi kebayang sejauh apa uang 100.000 rupiah jika dibariskan? Dan setinggi apa jika ditumpuk?  Artinya itu uang banyak sekali! 80 M biasa buat banyak hal dalam pembangunan pendidikan di Indonesia.  Uang sebanyak itu “menguap” dalam sebuah pesta demokrasi.  Betapa KAYA RAYA nya Indonesia, uang dibuang-buang dalam pesta rakyat seperti itu.  Jadi jangan pernah bilang “Indonesia negara miskin, perlu bantuan.  Lah….itu pesta demokrasi aja bisa sampai 80 M loh, masa masih ngaku miskin?”

Saya hanya berpijak, pada yang Alloh swt karuniakan, yaitu Dalil Naqli dan Akal.  Saya tak mau jadi orang-orang yang ikut-ikutan tanpa pengetahuan, artinya sebelum semuanya jelas, logis, dan rasional, saya akan menahan diri.  Saya bukan seekor kerbau yang dicocok hidungnya, dan gak mau jadi bagian dari 7 orang buta yang sedang mendeskripsikan gajah.   Karena sesungguhnya di Akherat kelak, Alloh swt akan menanyakan tentang Amal Saya mengapa saya melakukan amal tersebut? Jadi saya harus pikir baik-baik, gak bisa sembarangan.  Ini #nyunah atau #tidakNyunah?

Kayumanis, Bogor: I am just writing  what i think, although you will say it’s nothing

Move on #fiksi #Asep

Bagian ke-2: ASEP

“Ayah! Ini ayah seringnya foto sama teman ayah ini ya?”

“Asep!”

Asep, bagi orang sunda ini nama pasaran.  Biasanya karena kelihatan “kasep [tampan]” maka dinamai Asep.  Asep, tampan? Wah, saya tak pernah perhatikan, apa ukuran ketampanan? Diminati banyak dara? Nah, waktu SMA sedikit sekali kaum hawa yang mau ngobrol dan dekat sama Asep.  Kenapa? Hemm orangnya seriuussss, diam, sedikit-sedikit mikir.  “Sep, nonton yuk!” “Nonton apa?” “Film…nih lagi trend..Lupus!”  “Oh … gak ah!”  “Nonton film haram ya Sep?” “Bukan, apa alasan aku harus nonton film itu?” “Ya, rame…cerita pendeknya itu kan seru-seru, kali-kali aja filmnya seru!” “Oh, ini film dari cerita di majalah HAI itu ya?” “Lah, aku setiap minggu nebeng baca ceritanya sama kamu. Ngapain harus nonton, lagian sayang uangnya!”  “Nih, aku traktir deh, Yuk rame-rame kita berangkat!”  “Gini aja, uang traktirannya buat aku beli makan siang, lalu sisanya tak tabung di kencleng mesjid bagaimana?”  Kalau sudah begitu saya tinggal tuh Asep.

Dan…. Besoknya ketika akan sholat Dzuhur dia akan ceramah.  “Abdi, tahu tidak kenapa aku menolak ajakan mu dan teman-teman ke bioskop kemarin? Hidup ini singkat, kita harus tabung banyak pahala buat bekel di akherat yang kekal, setiap waktu yang kita jalani harus kita pikirkan ini nanti nilainya minus, nol, atau plus.  Kamu tahukan surat Wal Ashr? Nah, manusia itu akan merugi kelak kalau gak memanfaatkan waktu buat menabung amal shaleh.

Kalau sudah begitu, mulut saya terkatup, cuma bisa angguk-angguk saja.  Inilah mengapa kaum hawa tidak banyak mendekatinya, takut diceramahi!

Sangat suka menceramahi hal kecil apa saja….tidaklah mengherankan.  Liburan semester saya menyempatkan tidur di kampungnya.  Perjalanan dari Bandung menggunakan ‘elf’ menuju perkampungnya kami harus jalan kaki kurang lebih lima kilo meter, melewati jalan setapak yang kiri dan kanan sawah serta kebun.  Kata Asep, ini jalan pintas, kalau melewati jalan desa lebih jauh dan memutar.

Sampai di suatu desa, semua orang menyapa Asep “liburan Sep?” “Sumuhun ambu!” “Mulih Sep?” “Sumuhun Aki!” kayaknya hampir se-desa itu menyapa Asep dan semua dijawab dengan “sumuhun” oleh Asep.  Ramah sekali.  “Sep, kamu kenal semua orang itu?” Dia menganggukkan kepala.

Masuk di sebuah komplek yang hanya dibatasi dengan bebatuan disusun setinggi 1/2 meter.  Ada dua rumah panggung besar dari bambu, lalu…ini sepertinya sebuah mesjid, karena ada beduk dan mihrab, namun sekilingnya hanyalah panggung bambu.  Berjajar juga rumah panggung dari bilik bambu ada sekitar empat rumah dengan ukuran sama, tampak tepas keempat bangunan itu cukup besar mampu menampung beberapa orang.  Bangunan permanen hanya terlihat empat kelas dengan berplang MTS Kertajadi.

Ini rumahku Di! Itu disana rumah abahku, Tiga rumah disamping itu rumah para guru yang mengajar di sini.  Itu bangunan itu, itu sekolahku dulu.  “Ayo, kita ketemu Abah dulu!”

“Assalamualaikum!”  “Waalaikum salam warohmatullahi wabarakatuh!” “Abah!” “Asep! Libur? Eh ieu?” “Ieu rerencangan Abah!” “Eh, eta gera…..Ambu….ieu Asep!”  Sebetulnya agak aneh, karena Asep diterima Abahnya laksana tamu saja, duduk…sepertinya ini ruang tamu karena digelar tikar bambu.  Di rumah panggungnya tidak ada barang apa2, pun hiasan hanya ada gambar kabah  satu saja.  Ruangan penuh  rak buku.  Dihitung kamarnya ada tiga.  Wanita yang dipanggil Ambu membawa makanan dan minuman, lalu bergabung dengan kami di ruang tamu itu.  Asep menceritakan semua yang dialaminya di sekolah.  Kemudian dia memberikan rapor pada Abahnya.  Abahnya sejenak ke kamar mengambil bulpen dan menandatangani rapornya, sambil berkata “Ku Abah dido’akeun cita-cita Asep jadi Insinyur Pertanian terkobul, bismillahirahmanirohiim!”  Selepas ngobrol dan bercerita serta menghabiskan sajian, Asep mengajakku istirahat.  Ku pikir ia akan mengajakku masuk salah satu kamar di situ, ternyata bukan.  Ia mengajak aku ke rumah besar.

“Sebagian besar santri lagi mudik Di, kecuali beberapa santri yang sudah tidak punya orang tua!”

“Sep…kita tidur di rumah besar itu?”

“Iya, aku bukan anak kecil lagi.  Sejak aku SMP atau aku baligh, Abah menyuruhku untuk tidur bersama para santri.  Rumah tempat Abah itu hanya untuk abah , ambu, dan anak-anak Abah yang belum baligh atau masih dalam hadonah.”

“Hadonah!”

“Iya, masih kecil, masih harus diasuh ibunya gitu!”

“Terus, di rumah ustadz2 itu?”

“Iya sama, anak mereka kalau sudah balik masuk rumah panjang ini, untuk belajar bersama santri”

Rumah besar dari panggung, isinya hanya tikar dan beberapa lemari berjejer yang menandakan kepemilikan.  Beberapa anak tampak membaca qur’an.

Assalamualaikum! Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.  Anak yang membaca quran berlarian menyalami kami.   Tiba-tiba anak-anak yang sedang melakukan aktifitas itu mengumpul membuat lingkaran dan menyediakan ruang bagi kami untuk duduk.  Asep kemudian mengajakku duduk dalam lingkaran itu.  Asep menceritakan pengalamannya selama di Kota Bandung.  Semua Asep ceritakan, dan anak-anak itu memperhatikan Asep. Sampai berkumandang Adzan Ashar, cerita Asep diakhiri.

“Mereka santri yang tidak punya tempat untuk pulang.  Mereka anak Yatim atau memang terlalu jauh pulangnnya sehingga orang tuanya tidak menjemput mereka.”

Ternyata jamaah sholat ashar cukup banyak, kebanyakan anak-anak usia SMP.

“Mereka itu santri kalong, mereka ikut kajian di pesantren Ashar sampai Magrib atau ada juga yang Magrib sampai Isya.  Umumnya mereka anak-anak di kampung sini.”  Seakan Asep tahu keherananku akan banyaknya jamaah shalat ashar.

Selepas sholat Ashar, Abahnya Asep sambil membuka kitab, dia membaca sebuah paragraf dari kitabnya lalu menceritakan isi kitab itu pada para santri.  Kegiatan dilanjutkan dengan   ustadz lainnya, ustadz mengajarkan cara ceramah, beberapa anak yang menjadi gilirannya hari ini maju menampilkan ceramahnya.

“Beginilah hari-hari disini Di.  Gak ada bioskop, mall, hanya ada sawah, sekolah, dan pesantren”

“Apakah anak-anak disini tidak bosan?”  “Hahahahaha……kita menjalaninya tiap hari, memang begini, ini hidup kita Di”

 

“Kalau Ayah sendiri lebih suka tinggal di Kota atau di Desa?”

“Dimana pun asal bersama kalian!”

“Ahhhhh! Ayah, jago rayu!”

 

 

 

 

 

Move ON #fiksi #PandawaLima

Ini hanyalah sebuah kisah fiksi, jika ada kesamaan nama, sifat, tempat, atau prilaku, semuanya hanyalah kebetulan semata.  Jadi, jangan BAPER ya!

Bagian 1. Pandawa Lima

Jakarta, 1 Januari 2017

Usiaku akan mencapai kepala lima sekarang, setengah abad sudah aku mengarungi dunia ini.  Aku bergelut dalam politik relligi hampir 3/5 umurku. Sampai kini aku belum bisa move ON”

“Ayah! Cepat, mobilnya sudah panas, nih!” Seruan anak sulungku memaksaku beranjak meninggalkan buku catatanku.

“Yeah! Semuanya ready to go? Tak ada yang ketinggalan? Yuk, Bismillahitawakaltu a’llohu laahaulawalaakuata illa billah, bismillahimajrehawamursaha inna robbi lagofururohim.

“Yah, yang kita kunjungi itu temen lama ayah ya? Kok, dia tak pernah ke rumah kita, gak kayak temen ayah lainnya”

“Shahabat baik ayah, Ini lihat foto-foto jadul Ayah!”

“Hihihi ayah masih kurus-kurus, kok gak seperti ayah ya?”

Anak-anak tertidur, mobil melaju memberikan jalan bagi kenangan masa lalu, kini ia kembali terbentang di hadapan.

Angan terbawa pada masa silam, 1984.  Ini bukan SMA Negeri terbaik di Kota Bandung, tapi paling dekat dengan lokasi rumahku.  Semua anak bercelana kodok warna biru, kecuali satu murid yang bercelana panjang warna hijau pula.  Agak aneh bagiku.

“Hai! Namaku Abdi, kamu?”

“Saya teh Asep ti MTS Cianjur”

“em te es?”

Madrasah Tsanawiyah, Madrasah hartina sakola, Tsanawiyah kerena mah secondary hehehe.

“Oh, Madrasah, pantasan pake celana panjang”

Perkenalan pertama dengan Asep, Aseplah yang sering mengajakku sholat dzuhur bersama di sekolah.  Sholat yang sebelumnya jarang kulakukan.  Dan Asep pulalah yang mengajakku aktif dalam kegiatan rohis SMA.

“Sep, sebetulnya saya lebih suka ikutan Basket ketimbang ekskul Rohis”

“Agama itu lebih wajib kita dalami Abdi, Basket kita masih bisa mainkan sama-sama pada hari libur”

Siapa yang bisa menolak wajah lugu Si Asep.  Asep yang punya cita-cita sederhana, ingin membangun pertanian di daerahnya dimana pesantren Abahnya berdiri di sana.

“Aku ini Di, anak dusun, Abahku memilih menyekolahkan ku di Kota ini, masuk SMA yang kata beberapa kakakku sekolah sekuler dengan satu harapan, aku bisa masuk IPB, dan memajukan pertanian di pesantren.  Banyak masyarakat dan para santri bergantung pada hasil pertanian, tetapi kita belum bisa mengolah hasilnya menjadi lebih baik.  Abah ingin aku jadi sarjana pertanian”

Bagai anak bebek aku mengikuti apa yang Asep sarankan.  Lugu penuh karisma, mungkin karena dia anak Kyai, sehingga semua tutur dan sikapnya senantiasa terjaga. Dan inilah yang membuat aku tak kuasa menolak.

Ikhwan dan akhwat semua, saya perkenalkan pengisi materi kita pertama adalah Kang Irfan, Kang Irfan ini mahasiswa dari UNPAD jurusan Jurnalistik.  Pemateri kedua adalah Kang Daud, kang Daud ini mahasiswa Teknik Elektro dari ITB, silahkan akang-akang memberikan materi.

Pertemuan pertama, kedua, ketiga, bulan pertama, kedua, dan ketiga tak ada yang aneh dengan materi.  Ma’rifatullloh, ma’rifatul islam, ma’rifatul Rasulullah, ma’rifatul kitabullah…. Di sini pertama kalinya saya memahami makna Laa Ilaha Ilalloh, bukan sekedar tiada tuhan selain alloh seperti yang sering diucapkan, tetapi lebih jauh lagi yaitu melepaskan dari segala penghambaan pada siapapun dan apapun kecuali pada Alloh swt, apa yang menjadi perintah Alloh menjadi wajib untuk dilaksanakan apapun itu!

Bulan ke enam, teman-teman menjuluki kami Pandawa Lima, kami berlima, aku, Asep, Ferry, Danu, dan Hamdan.  Kami berlimalah yang paling rajin datang ke acara Rohis, ringan kaki dan tangan kami, selalu siap membantu.

Selain mengadakan kajian Islam, Akang-akan dari beberapa PTN di Bandung itu menyediakan layanan bimbel gratis, bahkan mereka mengundang kami belajar lebih jauh ditempat-tempat yang mereka janjikan selain aktifitas seminggu sekali, acara rohis sekolah.

Ferry si kutu buku yang bercita-cita menjadi Einsten jilid II.  Danu hapalan al qurannya banyak sekali, Imam andalan.  Dan Hamdan dikenal dengan suara mengajinya yang bagus sekali, dia pernah jadi juara lomba MTQ.

Bulan ke tujuh, mulailah Akang-akang becerita tentang keterpurukan dunia islam, dan tentang kebangkitan islam.  Pada saat itu dunia dikuasai oleh dua kekuatan yaitu Amerika serikat dengan demokrasi liberalnya dan Uni Soviet dengan sosialismenya. Kita Indonesia dengan pancasila, katanya Indonesia juga negara demokrasi, tapi demokrasinya pancasila, dan nama demokrasi pun tertutup dengan kebesaran nama pancasila.  Indonesia khas pancasila, begitulah guru dan buku Pendidikan Moral Pancasila mengajarkan kami semua.

“Kalian tahu, ini coba kalian perhatikan peta ini.  Ini adalah Jazirah Arab dimana Mekah dan Madinah ada di sini, dan ini ini adalah Persia, lalu ini ini adalah Rum atau Rumawi. Ar Rum ayatnya ada di Al Qur’an.  Perhatikanlah Persia sama dengan Amerika saat ini, lalu Rumawi sama dengan Uni Soviet saat ini, dan perhatikanlah…. posisi Indonesia persis sama dengan Jajirah Arab.  Pada Abad ke-7 kebangkitan islam itu munculnya di Mekah dan bangkit di Madinah, dari tempat ini islam kemudian menyebar ke seluruh bagian dunia hambir 2/3 dunia dan menaklukkan Persia kemudia Romawi,  Konstantinopel direbut Al Fatih beserta Mujahid Islam, lalu runtuhlah Romawi. Ini perhatikan! berdasarkan kesamaan posisi, Indonesia adalah the next land bagi kebangkitan Islam, jadi disinilah kita harus berjuang menegakkan Islam.  Laa ilaha illalloh, kalimat tauhid itu harus didirikan.

Suatu hari Asep menyampaikan sesuatu padaku “Abdi, kayaknya kita harus lebih berhati-hati ikut kajian di Rohis!”

“Ada apa? Bukankah yang mereka sampaikan itu Islam?”

“Iya, islam! tapi…..sudahlah suatu saat aku akan mengajakmu liburan di Cianjur, kita ngaji sama Abah ya!”

Bulan ke-11

“Di, Rohis ngadain Mabit.  Kita akan Mabit di Padalarang, Sabtu-Minggu!” Pesan dari Kang Irfan dan Kang Daud, Pandawa Lima kudu ikutan.

“Ikhwan dan Akwat sekalian, kalian adalah orang-orang terpilih, yang dipilih Alloh swt, umat terbaik.  Pernah kalian dengar tentang baiat?  Kita akan bahas tentang baiat itu.  Baiat itu adalah pernyataan janji dan setia pada islam.  Para shahabat dulu berbaiat pada Rasulullah saw, menyatakan “Laa ilaha illalloh muhammadu Rasulullah” bukan sembarang janji, tetapi juga pernyataan pengorbanan.  Kerelaan berjuang di jalan islam.   Bagi orang muslim cuma ada dua jalan HIDUP MULIA atau MATI SYAHID.  Dan kalian semua pernahkah berucap syahadat? Belum dikatakan berislam seseorang jika belum bersyahadat”

Ferry mengacungkan tangan, “Loh, setiap sholat kita mengucapkan shahadat!”

“Ikhwan dan Akhwat sekalian, rukun islam itu yang pertama syahadat, bukan shalat.  Jadi haruslah syahadat dulu baru sholat”

Danu juga menyanggah, “Kak pada ayat Al Araf 172 sudah dikatakan seperti ini:

 وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Terjemah :
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).

Itu artinya kita sudah syahadat sejak dalam kandungan, kita sudah islam.

“Tidak bisa begitu, pada shahabat rasulullah saw juga bersyahadat ulang sama Nabi saw.  Jadi syhahadat itu harus dilakukan!”

Hamdan dengan bersemangat berkata, “Kita bersyahadat saja lagi kalau begitu sekarang, gampangkan kak, dan semua jadi saksinya!”

“Tidak bisa kita bersyahadat pada sembarang orang, yang mensyahadati kita haruslah orang yang sudh pernah bersyahadat pada Rasulullah saw”

Suasana mulai gaduh, semua berbisik mana ada orang seperti itu pada saat sekarang.  Jarak Rasulullah saw dengan kita hampir 14 Abad.

“Ikhwan dan Akhwat yang dimuliakan Alloh swt, jangan heran.  Syahadat tetap dilakukan dari jaman ke jaman, dari manusia pertama bersyahadat sama Nabi Muhammad SAW, ada orang yang tidak putus.  Pada orang itulah kita bersyahadat, kita berbaiat”

Asep dengan kalem akhirnya bertanya, “Maaf nih Kang Irfan, kalau menurut Kang Irfan, artinya status kita sekarang belum Islam karena belum bersyahadat?”

“Betul sekali Asep! Kalian tahu Abu Lahab? Dia percaya tuhan! Dia percaya Muhammad saw itu Nabi, dia percaya, artinya dia beriman.  Tapi dia tak pernah mau bersyahadat, maka dia bukan muslim dia bukan islam”

Aku sendiri saat itu tidak paham sama sekali, aku bukan Asep yang terbiasa mengkaji islam, Aku bukan Danu yang banyak hapal ayat al qur’an,  Aku hanya Aku seorang awam anak seorang anggota TNI AU yang hanya kenal islam sangat sedikit.

Menjelang tidur, Asep berkata padaku, “Abdi, aku yang mengajakmu ikut ekskul Rohis, aku juga yang akan meminta kamu untuk berhenti di ekskul ini.  Nanti kelas II kita berhenti di Rohis ini, jika islam yang kau tuju, maka kita cari pengajian lain saja jangan yang ini.

“Memang kenapa, Sep?”

“Syahadat ulang itu, ajaran yang aneh.  Abahku gak pernah mengajarkan aku tentang syahadat ulang”

Pandawa Lima pun bubar, Aku dan Asep memilih pindah pengajian di Salman ITB juga kajian subuh di beberapa mesjid kota Bandung.  Danu pun tak ikut kajian di Rohis lagi, Danu penghapal Qur’an ini tak terima dikatakan bukan muslim.  Hanya Hamdan yang masih setia mengurus rohis di SMA kami, aku tak tahu apakah Hamdan pada akhirnya berbaiat atau tidak.  Ferry, dia pun lebih memilih menekuni dunia Fisikanya.

“Ayah, sudah sampai mana kita?”

Baru masuk tol Jagorawi Nak!

It’s Politics, be carefull!

“Andaikan Rasulullah saw hidup pada saat ini, apa yang akan beliau perbuat?”

Itulah yang senantiasa saya tanyakan dalam hati ketika menyikapi berbagai isu yang mengarah pada ajakan aksi.  Bagi orang seperti saya yang terbebas dari partai politik atau dari gerakan dakwah bernuasa politik adalah penting bertanya hal seperti itu sehingga dapat melihat segalanya dengan clear dan mantap dalam bersikap karena kekuatan hujjah.  Belajar kembali menggali “Siroh Nabawiyah” menjadi mutlak dalam kondisi seperti ini.

Bagi mereka yang menjadi anggota dari partai politik atau gerakkan dakwah, kemudian mereka meng-expose ayat2 dan siroh2 yang mendukung dan memperkuat opini mereka, hal itu adalah wajar.  Jika pun mereka mengajak dan mendakwahkan opini mereka dengan cara halus atau paksa, bagi saya adalah wajar-wajar saja, itu sudah menjadi gerakan politik dan dakwah mereka. Apa yang mereka lakukan semoga senantiasa menjadi sebuah kebaikan bagi islam.

Seorang ustadz Syekh Taqiyuddin An Nabhani semoga Alloh swt merahmatinya menuliskan adalah kita harus mampu melihat apa yang ada di balik dinding, adalah kita harus mempunyai kemampuan melihat di atas awan.  Ini bermakna kita harus memiliki sebuah pandangan yang holistik tidak hanya melihat semua makna yang tersurat dan tersirat. Jadi artinya kita memang dituntut memiliki kecerdasan di atas rata-rata untuk memahami semua kondisi.

APAKAH PERSATUAN UMAT ISLAM INDONESIA PERLU DIUJI? Tidak perlu menguji persatuan umat islam Indonesia.  Untuk seruan terkait rukun islam dan rukun iman kita mempunyai kekuatan yang luar biasa.  Berikut ini fakta-fakta umat islam indonesia:

  1. Setiap idul adha, berapa omzet ternak di Indonesia? Tak masalah bagi orang Indonesia ternak saat idul adha naik berlipat-lipat, dan semuanya tetap dibeli, karena alasan “ibadah”.
  2. Haji! Ya, Haji! Berapa rupiah yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk berhaji? 40-60 juta per orang, dan kita Umat Islam Indonesia rela menunggu sampai 10-15 tahun untuk pergi karena quota haji.  Tidak hanya mereka yang berkecukupan yang pergi berhaji, banyak juga mereka yang menyisihkan hasil sedikit usahanya yang tidak seberapa untuk memenuhi panggilan Alloh swt ini.
  3. Pada saat Ramadhan, sumbangan ta’jil dan zakat fitrah ditunaikan dengan baik.  Saat shalat id, berapa banyak ruas jalan dan lapangan yang digunakan karena membludaknya jamaat untuk shalat id?
  4. Hal-hal yang diberi label “halal” dan “syariah” di Indonesia lebih diminati umat islam daripada yang tidak berlabel, walau produknya sama halal-nya atau sama-sama tak melanggar syari’ah.
  5. Dan bagi umat islam indonesia, bersedeqah untuk kepentingan umat dan menolong sesama adalah hal prioritas.  Miliyaran rupiah bisa dikumpulkan umat islam indonesia dalam patungan membangun mesjid di negera Jepang.

Jadi masih perlu lagi menguji persatuan umat islam?

APAKAH DALAM ISLAM SEMUA HAL SELALU BERUJUNG PADA HUKUMAN FISIK…, TIDAK ADAKAH SELA UNTUK DIMAAFKAN? Mari kita ber-tafakur “Andaikan Rasulullah saw, hadir pada saat ini” Lalu terjadilah dialog fiktif seperti ini:

  • Muslim1: Ya, Rasulullah Si Fulan dia mengatakan “Bapak ibu tak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun..ini bapak ibu tak usah khawatir  nanti programnya bubar, tidak saya  berhentinya sampai oktober 2017, jadi kalau program ini dijalankan pun bapak ibu masih sempat panen sama saya.  Jadi saya ingin bapak ibu semangat, jangan nanti ganti gubernur programnya bubar. Enggak saya sampai Oktober 2017.  Jadi jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya.  Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu, program ini jalan saja.  Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok, gak suka sama Ahok, programnya udah terima gak enak dong gue punya hutang budi, jangan nanti gak enak mati pelan-pelan kena stroke…..”
  • Rasulullah saw: lalu apa maksudmu?
  • Muslim1: Dia telah menghina Al Qur’an dengan perkataan yang ini, Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu.
  • Rasulullah saw: Jadi apa maumu?
  • Muslim 1: Aku mau dia dihukum ya Rasulullah saw.  Sungguh dia telah menistakan Al Qur’an.
  • Lalu datanglah muslim2 menghadap Rasulullah saw.  Muslim2: Ya, Rasulullah sesungguhnya dia sudah minta maaf, dia berjanji pada umat islam tidak akan mengulanginya lagi, sesungguhnya perkataannya itu karena kebodohannya semata, karena ketidaktahuannya, karena emosinya.  Tak ada niat dari dia melukai umat islam. Dia sudah mohon maaf.
  • Rasulullah saw: Jadi apa maumu hai muslim2?
  • Muslim2: “Saya mau dia dimaafkan saja…!”
  • Rasulullah saw: “…………………..”

Jika Rasulullah saw hidup pada masa ini, dan menghadapi persoalan seperti itu.  Kira-kira apa yang akan beliau putuskan?

___

back to fakta politik

Alhamdulillah aksi 212 berjalan damai, Pak Jokowi mampu tampil meredam aksi, diskusi ulama dan umaro mampu mengalihkan aksi dari Aksi Demo menjadi do’a bersama, dari gelar sajadah di sepanjang jalan menjadi gelar sajadah terlokalisasi pada area monas dan sekitarnya.  Apresiasi yang sangat tinggi buat umat islam dan para aparat.

Namun tampaknya aksi 212 belum memuaskan, terbukti setelah aksi 212 muncul provokasi seperti di bawah ini: Radio Dakta pada 2 Desember jam 1:59 men-tweet “Aksi 411 seperti thawaf, aksi 212 seperti Wukuf.  Kalau Ahok masih dak ditangkap SELANJUTNYA TINGGAL KITA LEMPAR JUMROH!!!”  dan twiit seperti ini pun menjadi viral.

img_0225img_0226

Bukan hanya itu, setelah aksi muncul juga “Ghirah mendirikan lembaga ibadah, ekonomi dan usaha 212” di sisi lain muncul tuntutan perdata 470M yang mengiringi tuntutan pidana penahanan Ahok, sebelumnya tuntutan hanya 240 juta terkait biaya2 yang sudah dikeluarkan oleh Habib Novel untuk urusan mengadukan Ahok, tapi kemudian membengkak jadi 470M setelah aksi 212.  Berdasarkan dua berita ini kita pun diberi peluang untuk mengkaitkan dua fenomena ini “Apakah mau mendirikan lembaga ibadah, ekonomi, dan usaha 212 dari dana 470M tersebut?”

Sampai di sini apakah kita dibuat puyeng dengan fenomena ini?  ya it’s politics be careful.

Jadi, bagi saya pribadi….sebagai seorang muslim yang tidak berafiliasi dengan partai dan gerakkan dakwah manapun serta tidak punya hajat politik, saya memilih kembali saja pada dunia profesionalisme.  “Belum banyak yang bisa disumbangkan bagi umat dan negara ini?” Jangan-jangan saat ini saya hanya mengerjakan rutinitas saja untuk diri dan keluarga, tanpa memberikan sumbangan berharga pada umat.  Wallohualam bi sawab.

____

Bagian 2: Beribroh pada siapa? #Think

Pada bagian sebelumnya sudah dibahas bagaimana perlakukan Rasulullah saw ketika menjadi Pemimpin di Madinah pada pengemis Yahudi yang buta, juga pada Abdullah bin Ubay [Yahudi, yang masuk islam].  Kepada keduanya Rasululloh saw tidak menghukum walaupun “Pengemis Yahudi BODOH ini melakukan penistaan kepada Rasulullah saw dengan kata-katanya, ‘Jangan Mau dibohongi Muhammad‘,  ‘Muhammad orang gila‘ dll“.  Lalu Abdulah Bin Ubay yang melakukan penistaan dengan mengatakan “Kaum mukminin dari kalangan muhajirin sebagai orang hina”.  Pengemis dimaafkan oleh Rasulullah saw, dia menghina karena kebodohannya.  Abdulah bin Ubay walau sering menghina dan menghalangi islam pun tidak dihukum karena jika dihukum akan timbul perpecahan di kalangan Masyarakat Madinah.

Kini kita beribroh pada kasus lainnya.

3.  Kasus Rasulullah saw menghadapi Ka’ab Bin Al Asyraf. [kisahnya ada di Sirah Nabawiyah, mohon maaf ya saya bahasakan ulang dengan gaya kekinian]

Kisahnya terjadi di Madinah, saat hukum Islam berdiri tegak.  Adalah …. Ka’ab Bin Al-Asyraf (ABA) seorang Yahudi Bani Nadhir nan gagah dan tampan seorang ahli syair. Apa dia lakukan?

  1. Dia membuat syair atau puisi yang menghina Rasululloh saw, ummu mukminin, shahabat, islam dan wanita muslimah.
  2. Dia datang ke Quraish, membuat syair menangisi korban perang Badr, menghasut Quraish untuk berperang melawan kaum muslimin dan Nabi Muhammad saw di Madinah. [Syair ABA mengobarkan perang Quraish vs Muslim]
  3. Dia menyiapkan pesta bersama kawan-kawan Yahudinya, dan berencana mengundang Rasulullah SAW, ketika Nabi SAW datang, teman-temannya diminta menjatuhkan Nabi SAW ke pangkuannya. [Ka’ab merencanakan pembunuhan Nabi SAW].

Bukan hanya membuat syair hinaan bagi muslim dan islam, tapi juga menghasut musuh untuk memerangi kaum muslimin dan islam, bahkan bermaksud membunuh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah saw pun bersabda, “Siapa yang mau menghukum Ka’ab, sebab dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya”

Adalah Muhammad bin Maslamah (MBM) dkk, yang mengajukan diri memenuhi seruan Rasulullah SAW. MBM menggunakan taktik pura-pura tidak senang terhadap islam.

MBM: Orang itu (Nabi Muhammad SAW) mengharuskan kami bersedakah. Kami berat, boleh gak pinjam uang dari kamu.
ABA: Boleh, tapi harus pakai jaminan.
MBM: Jaminannya apa?
ABA: Serahkan isteri kalian padaku [wuihhh kurang ajar ya?]
MBM: Bagaimana mau menyerahkan padamu, nanti isteri kami tertarik padamu, kamukan gagah dan tampan.
ABA: serahkan anak-anak kalian saja kalau begitu!
MBM: Bagaimana mungkin kami menggadaikan anak-anak kami dengan sekuintal kurma. Gini aja deh, kami gadaikan senjata kami saja.
ABA: Ok, kalau gitu! Malam purnama bawa, saya tunggu di Benteng Bani Nadhir!

Adalah Rasulullah saw, was-was dengan rencana MBM dkk. Kalau gagal, maka MBM dkk lah yang akan terbunuh dan dibunuh oleh Kaab dan pasukan Yahudi di Benteng Bani Nadhir. Oleh karena itu sepanjang jelang rencana dilaksanakan tak hentinya Rasulullah saw bermunajat pada Alloh SWT.

Pada malam purnama, MBM dkk datang membawa senjata untuk digadaikan. ABA keluar rumah dengan rambut yang wangi. Abu Nailah (kawan MBM) berkata, “Wuih…harum banget nih pas Kaab Keluar” Kaab mesem-mesem, “Iya gue pake minyak rambut yang wanita arab pun gak ada yang bakalan punya! [Busyet deh, masih sombong aja ya?]. Abu Nailah membelai rambut Kaab, 1x, 2x dan yang ke-3x merenggut rambutnya keras seraya membekuk tengkuknya….dan terbunuhlah ABA.

#Refleksi: Rasulullah saw memerintah membunuh penista Nabi dan Islam, dikala derajat penistaannya tidak hanya menyangkut pribadi tapi juga membahayakan stabilitas negara bahkan jiwa Nabi Muhammad SAW.

4. Kasus Rasulullah saw menghadapi Abu Lahab

Abu Lahab, kisahnya diabadikan dalam QS. Al Lahab. Dia adalah paman Nabi SAW sendiri. Kisahnya terjadi saat Nabi SAW masih di Mekah, sebelum syariat Islam berdiri di Madinah.

Dia sangat menyangi Muhammad, sampai2 ketika Muhammad keponakannya lahir dia menyembelih dua kambing [Aqikah pertama dlm sejarah dilakukan Abu Lahab] dan membebaskan budak sebagai wujud kegembiraannya. Ketika Muhammad nikah dengan Khadijah, darinya ada dua anak tiri Ruqqayah dan Ummu Kulsum. Saking sayangnya pada keponakannya, dia pun menjodohkan Kedua anaknya dengan anak tiri Muhammad. 

Sikapnya berbalik 180 derajat, ketika Muhammad mengumumkan kenabiannya. Ketika pengumuman kenabian diberitakan pada penduduk Mekah, Abu Lahablah yang mengatakan “Gila, kamu muhammad” Padahal sebelumnya beliau diberi gelar Al Amiin (Orang terpercaya). Seperti diberitakan di QS Al Lahab, adalah Abu Lahab menggalang kekuatan melakukan penistaan berjamaan dengan menyebutkan “Muhammad orang Gila, Muhammad tukang Sihir, Ayat Qur’an itu buatan seorang Pendeta Nasrani bukan Firman Alloh SWT”. Bukan hanya itu isterinya pun Ummu Jamil pada malam hari memanggul kayu yang berduri untuk diletakkan di jalan2 yang biasa dilalui Nabi SAW. Sehingga bila Nabi SAW lewat pada malam hari/subuh akan terinjak kayu yang berduri itu dan terluka. Anaknya yang dijodohkan dengan anak tiri Nabi SAW pun diminta untuk cerai.

Inilah sikap Abu Lahab terhadap Baginda Nabi SAW:
1. Ringan tangan menyakiti Rasulullah Saw.
2.Bukan hanya dirinya yang memerangi Rasulullah Saw, ia pun melibatkan istri dan anak-anaknya. Satu keluarga telah terlibat.
3.Siap bekerjasama dengan siapapun demi menghabisi Rasulullah Saw, meski dengan setan sekalipun.
4.Baginya semua remeh dan enteng selagi itu untuk memerangi Rasulullah Saw, meski semua harta harus terbang melayang pergi.

___
Abu Lahab membenci Ajaran Islam yang dibawa Muhammad SAW. tak pernah berhenti memprovokasi masyarakat agar menjauhi Muhammad saw. Apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW pada pamannya ini? Apakah Nabi SAW meminta para pembesar Quraish untuk menghukum Si Abu Lahab? Apakah Nabi mengerahkan para shahabatnya untuk menuntut keadilan terhadap dirinya menggunakan hukum Quraish? Semuanya TIDAK, Nabi Muhammad SAW memilih bersabar tak henti menyadarkan pamannya ini bahkan Nabi SAW pernah memohon secara khusus pada Alloh swt agar menggerakkan hati pamannya ini terhadap Islam. Namun Abu Lahab adalah Abu Lahab….”Suara iman yang mengetuk hatinya diingkari, hanya karena keangkuhan dan kesombongan diri” …Nabi SAW berhenti dakwah pada Abu Lahab……sampai turun QS AL Lahab yang menjelaskan…
.سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.

#Refleksi5:Riwayat ini menjelaskan adalah proses natural jika ada cacian dan hinaan. Sebagai muslim…. sabar, do’akan, dan tetap melakukan yang terbaik, dan tidak berhenti mendakwahinya sampai terjadi kesetimbangan [bhs kimia].

 

Back to kasus Ahok, bagaimana saya harus bersikap? (Namanya juga #refleksi, saya tak hendak mempengaruhi siapapun].  Saya butuh fakta, berikut ini penggalan dari

“Bapak ibu tak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun..ini bapak ibu tak usah khawatir  nanti programnya bubar, tidak saya  berhentinya sampai oktober 2017, jadi kalau program ini dijalankan pun bapak ibu masih sempat panen sama saya.  Jadi saya ingin bapak ibu semangat, jangan nanti ganti gubernur programnya bubar. Enggak saya sampai Oktober 2017.  Jadi jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya.  Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu, program ini jalan saja.  Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok, gak suka sama Ahok, programnya udah terima gak enak dong gue punya hutang budi, jangan nanti gak enak mati pelan-pelan kena stroke…..”

akses lengkap silahkan download disini: https://www.youtube.com/watch?v=N2Bn5JKTGkI

#Refleksi: Sebenarnya Ahok mau bilang, “Bapak Ibu gak pilih saya juga gak apa2 karena saya tahu bapak ibu punya keyakinan yang gak mudah diubah apalagi ini terkait dengan keyakinan terhadap Al Qur’an dan konsekuensinya di akherat.  Gak apa2 jangan merasa hutang budi sama saya

Tapi penyampaianya kasar….sehingga keluar “dibohongi pakai Al Maidah 51, dibodohin masuk neraka” [kata ini menyakitkan hati umat Islam tentu saja, termasuk juga saya].

Senin, 10 Oktober 2016 baca: AHOK MINTA MAAF [baca tribunnews.com, kompas.com]

 “Saya sampaikan kepada semua umat Islam, ataupun orang yang merasa tersinggung, saya sampaikan mohon maaf. Untuk semua pihak yang jadi repot, gaduh gara-gara saya, ya saya sampaikan mohon maaf,”  Balai Kota Jakarta, Senin (10/10/2016).

 

Kesimpulan:

Adalah Nabi Muhammad SAW memaafkan kebodohan pengemis Yahudi Tua.  Mengampuni Abdulah bin Ubay dan Abu Lahab yang terus menyerang Islam dan menyerahkan hukuman bagi mereka pada Alloh swt.  Adalah Nabi Muhammad SAW membunuh Ka’ab bin Asyraf karena syair dan provokasinya, Ka’ab tak pernah jera terus melakukan penghancuran melalui lisan dan provokasinya.  Adalah AHOK sudah meminta maaf pada umat islam, sudah mengakui kekhilafannya, dan menyesali perbuatannya.  Kemudian kita masih bersikeras? Cuma mau mengingatkan diri aja “Jangan sampai kebencian kita terhadap seseorang dan sesuatu kaum, menghalangi kita untuk berlaku adil terhadapnya”.

 

 

 

Bagian2: Beribroh pada siapa? #Think

Hiruk pikuk dunia perpolitikan mempengaruhi juga emosi umat islam.  Adalah demokrasi menjadikan pendapat mayoritas sebagai sebuah kebenaran sehingga kita lupa untuk merujuknya pada sumber hakiki.

Saya hanyalah sebagai seorang pembelajar yang mencoba mencari apakah kasus serupa yang dilakukan Ahok dengan mulut kotornya pernah terjadi di masa Rasulullah saw, dan bagaimana cara Rasulullah saw pada masa pemerintahannya atau pada masa beliau menjadi kepala negara di Madinah mengatasi masalah-masalah ini?

Kasus 1.  Menghadapi Abdulah Bin Ubay. 

ABDULAH BIN UBAY (ABU)” – Pada masa itu …dia adalah provokator, pernah memfitnah Ummu Mukminin Aisyah, dan mulutnya pun kotor menyebut kaum mu’min dengan orang hina, bukan hanya itu dia juga acapkali menjadi musuh dalam selimut bagi kaum muslimin, bershahabat tapi tujuannya menghancurkan kaum muslimin. [Catat: ABU ini adalah seorang publik figur.  Hampir saja dia menjadi Pemimpin di Madinah, ABU adalah seorang Yahudi yang pintar, sehingga masyarakat Yatrib percaya mampu menjadi pemimpin mereka, namun detik-detik terakhir pengangkatan gagal…. karena beberapa pemuka Yatrib (Madinah) bertemu Rasulullah saw dan memastikan bahwa Rasulullah saw adalah karakter yang cocok untuk memimpin kota mereka. ABU kemudian masuk islam, tapi…….munafik].

Umar bin Khattab mengatakan, “Ya Rasulullah kupenggal saja orang yang mengatakan ‘Akan kukeluarkan orang hina itu (orang mukmin) dari Madinah”

Rasululloh saw menjawab: “Tidak wahai Umar. Nanti apa kata orang bahwa Muhammad membunuh sahabatnya. Demi Allah tidak.”

Abdulah bin Abdullah bin Ubay pun menghadap Rasulullah saw “Jika engkau memang ingin membunuh ayahku ya Rasulullah. utus aku… utus aku sendiri… Betapapun aku mencintai ayahku.. tapi Allah dan Rasul-Nya lebih layak aku cintai daripada ayahku sendiri…”

Rasululloh saw menjawab, “Baiklah, berbaktilah kepada orang tuamu, ia tidak melihat darimu kecuali kebaikan.”

Tahulah Sang Anak bahwa Rasulullah saw memaafkan ayahnya.

Ketika Abdulah bin Ubay mati, anaknya Abdulllah minta menyolatkan ayahnya.  Umar melarang, tapi  sikap Rasulullah saw tetap baik, sampai2 menyetujui untuk mensholatkan jenazahnya, namun Alloh swt melarangnya dengan firmannya,

وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

#Refleksi: Jadi seperti itulah Rasululloh saw memperlakukan publik figur yang memusuhi islam di dunia. Adapun diakherat terserah Alloh swt. 

Kasus 2:  Cara Rasulullah saw menghadapi pengemis yang selalu menghina beliau

Di sudut Pasar Madinah Al Munawarah ada seorang Pengemis Yahudi buta yg setiap hari selalu mengumpat,menghina, menjelekkan dan memaki Nabi Muhammad SAW dan apabila ada orang yg mendekatinya si pengemis selalu berkata :
“Wahai Saudaraku, kamu jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, DIA ITU PEMBOHONG, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya”

Namun setiap pagi Rasulullah SAW mendatangi si Pengemis dan tanpa berkata sepatah kata pun. menyuapkan makanan yg dibawanya. Nabi SAW melakukan perbuatan mulia itu kepada si Pengemis Yahudi buta hingga menjelang wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW TAK ada lagi orang yg membawakan makanan kepada si Pengemis buta itu.

Suatu hari Abu Bakar r.a. berkunjung ke rumah Aisyah, “Anakku, adakah sunnah Rasulullah yg belum aku kerjakan ?”.
Aisya menjawab: “Wahai Ayahanda…Engkau adalah seorang ahli sunnah, Hampir tdk ada satu sunnah pun yg belum Ayahanda lakukan, kecuali satu saja”. “Apakah itu, Aisyah ?”

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar Madinah dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi yg buta yg berada disana” kata Aisyah.

Abubakar r.a. pergi ke pasar Madinah dengan membawa makanan.
Ketika Abubakar mulai menyuapinya, si Pengemis Yahudi buta itu marah sambil berteriak, “Siapakah kamu? Bukan…engkau bukan orang yg biasa mendatangiku dan menyuapi aku makan. Orang yg biasa mendatangiku dan menyuapi aku makan, apabila dia datang kepadaku, tidak susah tanganku ini memegang dan tidak susah mulutku ini mengunyah makanan. Orang yg biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tetapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya dan setelah itu diberikan dan disuapkannya kepadaku”

Abubakar tidak dapat menahan air matanya, Abubakar menangis sambil berkata kepada Pengemis Yahudi buta itu: “Aku memang bukan orang yg biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari Sahabatnya. Ketahuilah wahai Pengemis bahwa orang yg baik dan mulia itu kini telah tiada, orang yg mulia itu telah wafat. Orang yg baik dan mulia itu adalah Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam.

#Refleksi: Pengemis ini bermulut kotor, miskin, kafir pula.  Tapi adalah Rasulullah saw tidak menjebloskannya ke penjara, padahal pada saat itu Rasulullah saw kuasa untuk menjebloskan PENISTA RASULULLAH SAW ke penjara atau menghukumnya dengan hukuman cambuk atau hukum rajam atau hukum lainnya.  Yang Rasulullah saw lakukan adalah memaafkannya dan mengasihinya.

Begitulah cara Rasulullah saw memperlakukan orang-orang yang menghinanya baik dari kalangan publik figur maupun masyarakat biasa, baik dari kalangan kaum muslim (munafik) maupun dari kalangan kafir (Yahudi) . Dan ini adalah af’al Rasulullah saw, apakah kita berani mengingkari PERBUATAN RASULULLAH SAW?

Demikian saja, semoga kita menjadi orang-orang yang terus belajar, TONG KABAWA KU SAKABA-KABA, cek dan ricek, Tauladan yang paling baik adalah NABI MUHAMMAD SAW. Wallohualambisawab.

4 Indonesia Indah (4II) #salamDamai #Peace

Saya gak nulis apapun di status FB menanggapi 411.  Mengapa?

  1. Menurut saya, Ahok memang salah.  Bagaimana pun tak etis, menggunakan ayat-ayat agama lain.  Bagi orang muslim sendiri, penggunaan ayat2 al qur’an tidak bisa digunakan seenaknya, seorang muslim jika akan menggunakan ayat2 al qur’an tidak boleh asal comot seenaknya saja, salah2 seorang muslim bisa jadi kena “Takwilkan ayat qur’an”.  Memahami ayat al qur’an butuh lihat konteks dan makna bahasanya oleh sebab itu perlu merujuk pada Tafsir bukan sekedar terjemahan.  Seorang muslim saja bisa kena predikat “takwil” apalagi jika yang melakukannya non muslim.  Untuk penggunaan ayat2 al qur’an, muslim saja dilarang SOK TAHU! Apalagi non muslim.  Jadi tidak diragukan “ada tidak adanya penistaan agama di dalamnya AHOK secara etika pun tetap saja bersalah”
  2. Muslim tersinggung?? Wajar! Siapapun yang mempermainkan ayat alloh, menggunakan ayat alloh tidak pada tempatnya, seorang muslim yang punya iman akan tersinggung.  Saya juga pernah bahkan sering kok tersinggung, ketika kami sedang berdiskusi tentang suatu hal, lalu seorang muslim nyeletuk lihat aja “Allohu khoiru makirin” (Wuhhh seakan-akan alloh swt akan menghukum kelompok lain).  Atau ketika seseorang berselingkuh, lalu mengundang kami dan disurat undangannya bukan disematkan surat ar rum seperti biasaya tetapi surat lainnya yang tak biasa yaitu QS At Thalak “Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”  melalui ayat yang dinukilnya dalam surat undangan tersebut, kedua orang yang berselingkuh itu menganggap apa yang terjadi pada keduanya adalah takdir alloh swt (Nah, kurang ajar bukan?? padahal kedua orang itu Muslim).  Lebih parah lagi ada partai islam yang mengeluarkan FATWA “boleh memilih pemimpin non muslim” hanya karena calon yang diusungnya non muslim, sebaliknya mengeluarkan fatwa “haram memilih pemimpin non muslim” ketika mendapatkan saingan dari non muslim.  Untuk mendukung fatwanya dikeluarkan ribuan dalil.    Sebagai seorang muslim wajarlah tersinggung, ketika seseorang baik itu muslim atau non muslim tanpa pikir panjang menggunakan ayat-ayat al qur’an seenaknya demi melegalisasi perbuatan atau tindakannya.

Lalu terjadi DEMO 4-11….

Saya menghormati segala upaya kaum muslim yang ikhlas dan ridho menyisihkan waktu, tenaga, dan finansial untuk mengekspresikan kecintaan mereka terhadap al qur’an.  Insyaalloh niat tulus dengan segala pengorbannya akan memudahkan mereka jalan menuju surga. Dan aksi ini berdampak memberi efek “jera” pada pelaku-pelaku yang punya niatan melecehkan al qur’an.

Agenda terselubung dalam aksi damai?

Hemmm….diantara sekian banyak yang demo, disadari dan adalah fakta yg tidak terbantahkan ada segelintir yang memanfaatkan moment ini untuk mendulang keuntungan.

  1. Pertama keuntungan yang bersifat pragmatis dan instan dari demo 4-11.  Ini dilakukan oleh mereka yang punya kepentingan maju DKI1, keuntungannya  berupa”turunnya elektabilitas ahok sebagai DKI1″ [Bisa di cek, jika hari ini dilakukan survei, maka elektabilitas Ahok akan menurun, beberapa daerah bahkan menolak Ahok kampanye di wilayah mereka].  Namun, sepertinya belum puas bagi mereka kalau belum “Memenjarakan Ahok” karena hanya dengan status Ahok menjadi tersangka, Ahok bakal terjegal selamanya dalam pilkada DKI.  Untuk kepentingan inilah mereka mendesak pemerintah “HARUS MEMENJARAKAN AHOK BAGAIMANAPUN JUGA”  mereka-meraka ini lupa dimana mereka tinggal dan konstitusi apa yang digunakan di negara ini.  Mereka lupa bahwa mereka tinggal di Indonesia yang mempunyai aturan hukum berlandaskan pancasila dan UUD45.  Mereka lupa ada seperangkat aturan turunannya lagi berupa UU, Peraturan, dll yang menjadi landasan hukum negara Indonesia.  Di sini harus disadari, bahwa Indonesia walaupun mayoritas muslim, tetapi Negara Indonesia tidak menggunakan konstitusi Islam.
  2. Kedua kepentingan politk  jangka panjang.  Mereka menyadari bahwa konstitusi Indonesia bukanlah Islam.  Mereka menyadari bahwa ketika AHOK DIDESAK UNTUK DIPENJARAKAN, perangkat hukum Indonesia tidaklah memadai untuk memenjarakan Ahok.  Mereka terus memaksa dan mendesak tuntutan ini, mereka menginginkan masyarakat sadar bahwa hukum dan konstitusi yang ada di Indonesia tidak memadai, dan perlu diganti.  Salah satu teriakan ketika aksidamai411 ba’da magrib adalah #REVOLUSI!!!!# [Saya dengar jelas ketika menonton TVRI LIVE).  Teriakan ini memperjelas, bahwa ada pula niat dan desakan untuk menggantikan sistem yang ada sekarang dengan sistem islam.  Desakan pergantian sistem ini terbagi menjadi dua kubu, yaitu kubu  MENGGANTI PRESIDEN terlebih dahulu dan kubu mengganti sistem secara keseluruhan.  Bagi yang punya tujuan mengganti sistem dengan mengganti presidennya terlebih dahulu, maka Pak Presiden pun jadi sasaran tembak, Pak Presiden dianggap tidak becus mengurus negara, harapannya adalah hilangnya simpati rakyat pada Presiden terpilih, sehingga jadi gampang kalau menggulingkan presiden. Tahap awal mereka adalah menggantikan dengan presiden yang bisa mereka kendalikan [yakin mau menggunakan cara ini? Mungkin sebaiknya kita belajar dari Turki masa kini.  Apakah Turki masa kini dibawah Erdogan telah mampu mengayomi semua warga Turki dengan keberagaman dan perbedaan mahzab berislam? atau justeru sebaliknya Turki memukul siapapun yang tidak se-ide atau se-fikroh?].   Untuk kubu kedua (menggantikan sistem secara kaffah), sebenarnya ini agak sulit dijalankan pada saat ini.  Pada akhirnya kubu kedua  jatuh pada penyebaran OPINI “Bagaimana sistem islam menghukum orang-orang penista al qur’an“.  Melalui penyebaran opini ini, kita diberitahu bukan salah Ahok bisa jadi DKI1 atau bukan salah Jokowi jika penista alqur’an di negeri ini tidak dihukum, tapi semua karena syariat yang digunakan adalah syariat kufur bukan syariat islam.  So, dirikan dahulu syariat islam di Indonesia, dengan syariat islam maka islam mendapatkan keadilan. Penerapan syariat islam saja yang mampu menghukum penista al qur’an dgn setimpal dan Non Muslim tidak punya kesempatan menjadi pemimpin.

Dampak dari 411 sebagian lain dari para ulama berbicara.  Patut digaris bawahi bahwa para ulama yang berbicara pasca 411 saya yakin bukan hendak membela Ahok [adalah ‘fatal’ bagi mereka yang menuduh para ulama yang dimuliakan alloh swt ini dengan sebutan ulama ‘su’].  Para ulama tampil ke muka karena mereka sadar ada agenda terselubung jangka panjang dan pendek.  Mereka (para ulama) tidak menghendaki Indonesia kembali pada masa 1940-an atau 1950-an atau 1960-an.  Indonesia dengan sistem pancasila dilahirkan melalui sebuah perjuangan panjang.  Pada awal Indonesia mau merdeka berbagai tokoh DEAL untuk penghapusan kalimat “syariat islam” pada Ketuhanan YME.  Pasca setelah merdeka upaya mendirikan “syariat islam” melalui DI/TII dan NII telah membawa korban pada rakyat dan tata ekonomi-politik-budaya Indonesia.  Berdasarkan fakta-fakta yang telah dialami Indonesia selama kurun panjang  Indonesia berdiri, inilah yang membuat mereka tampil menyuarakan “NKRI adalah buah perjuangan para ulama juga, alangkah eloknya jika dihargai dengan cara mau hidup secara harmonis dengan berbagai suku, ras, dan agama yang ada di Indonesia serta menghormati konstitusi dan keputusan hukum Negara Indonesia”  Indonesia memang bukanlah sebuah negara yang berdasarkan pada #syariatIslam walau mayoritas penduduknya muslim, Indonesia berada dalam sistem Demokrasi dan Pancasila, pada saat ini sistem Demokrasi-Pancasila dianggap paling ideal diterapkan di Indonesia, dengan Demokrasi-Pancasila berbagai suku, ras, dan agama bisa dipersatukan.

The last, tentu saja semua tulisan ini “just my opinion”  hanya berharap semoga bisa dibaca dan ditarik manfaatnya.  It’s just my writing  although people said it’s nothing.

Negeri Kuali Asia #EduTravelling

um2

Sebenarnya kunjungan ke Malaysia kali ini untuk menghadiri International Conference, bukan untuk bahas sociocultural. Namun sisi sosiocultural Malaysia ternyata asyik juga ditelaah.

Negeri kuali Asia pantas disematkan pada malaysia.  Negara ini punya tiga ras yang saling bahu membahu membangun Malaysia yaitu China, India, dan Melayu.

Kalau kita jalan-jalan di Kualalumpur, kita akan mendengar sebagian cakap bahasa China, bahasa India, bahasa Melayu, dan bahasa Inggris.  Dan… jangan heran kalau Orang India gak bisa bahasa Melayu atau Inggris, dia hanya bisa bahasa India pun begitu dengan orang China.   (Gue bayangin kalau kejadian itu terjadi di Indonesia, orang China tidak bisa bahasa Indonesia, pastilah udah dituduh imigran gelap).

Nah, masuk ke hotel. Ups, hotel2 penuh! Rombongan China membooking kamar-kamar hotel, mereka adalah wisatawan dari China.  Sebenarnya rombongan wisatawan dari China bukan sekali itu saja saya lihat, di Jepang pun mereka banyak sekali.  Sekali memberangkatkan ada 20 orang untuk satu kloter, dan bisa ada 5-10 kloter loh berpapasan dengan kita. (Sekali lagi gue bayangin kalau kejadian ini terjadi di Indonesia, maka mereka akan disangka imigran gelap, punya tujuan tinggal di Indonesia. Ups padahal mereka sumber devisa kita ya?)

Begitu “terbukanya dada dan tangan” orang2 Malaysia terhadap China dan India membuat saya kagum.  Kalau YOU pergi ke universitas negeri di Indonesia, coba You hitunglah, berapa ras China yang mengisi jajaran akademik di universitas negeri? Ada 5% itu udah luar biasa, umumnya hanya 1-2 orang saja kan?  Tapi kalau you tenggok malaysia, maka jajaran akademik di universitas negeri maka You akan kaget, China-India memenuhi jajaran akademik universitas2…negeri.  Dan kita mungkin bisa saja berdalih, “Aih, itukan karena ranah akademik yang lebih open, kalau politik, mungkin tidak”.  Nah, silahkan you buka jajaran JAMAAH MENTERI MALAYSIA: KLIK DISINI  you akan lihat 17% anggota jamaah berethis China, dan nama mereka tidak mengalami naturalisasi, sehingga you akan lihat nama2 China macam ONG KA CHUAN, LOW SENG KUAN, SIEW KEONG, LIOW TIONG LAI ,  atau nama India macam S. SUBRAMANIAM.  

Siapa yang menyangkal “keberislaman budaya Malaysia?” Tapi keberislaman mereka ternyata mampu menghargai perbedaan lintas budaya dan mampu berbesar hati menerima kesamaam hak dan kewajiban sebagai WN.

Ok, back to Indonesia.  Akhir-akhir ini sebagian agama dan ras tertentu merasa lebih berhak atas Negara Kesatuan Republik Indonesia, atas Wilayah yang mereka tempati, sehingga mereka menutup peluang bagi beda agama dan ras lain untuk maju menjadi pemimpin daerah atau negera.  Aneka dalil dikeluarkan untuk menyatakan HARAM.  Ya, semua dalil itu memang bersumber pada kitab suci.  Kebenaran dalil dari Al Qur’an adalah benar adanya, sebagai muslim tak boleh membantahnya.  Namun, pertanyaannya, “Apakah konteks penerapan dalil tersebut cocok untuk Indonesia?” Indonesia adalah negara yang mendasarkan dirinya pada Demokrasi Pancasila (atau istilah beberapa kelompok mendasarkan pada SISTEM KUFUR bukan SISTEM ISLAM).  Lalu pertanyaannya, “Apakah pemimpin SISTEM KUFUR pun harus MUSLIM JUGA?”

Disinilah “nalar” kita berperan.  Islam adalah agama agung, namun sebagian orang memanfaatkan islam demi kepentingan politiknya.  Agama dijual demi mendulang suara.  Ketika prestasi lawan tak bisa ditandingi, maka MEMBAWA AGAMA dan ETHIS/RAS menjadi adalah jalan pintas yang digunakan mereka. Mereka melakukannya bukan semata-mata murni karena agama, tapi karena MENTAL MANUSIA KAPITALISME MATERIALISME DAN GILA KEKUASAAN.

Bukan hanya di Indonesia, di USA pun sama kok! Masih ingat kampanye agama/ras pada Obama? Yap, tuduhannya adalah “Obama Muslim, Obama AfroAmerican, gak layak jadi pemimpin USA yang mayoritas kristen dan orang kulit putih/CaucasianAmerica”.   Ok, mirip kan? Mirip sama Lu pada yang mengatakan “Ahok kristen, Ahok ChinaIndonesia” gak layak jadi pemimpin Jakarta yang mayoritas Islam dan MelayuIndonesia

#sekian saja! Let’s Think, daripada Nothing#

Serial Pendidikan dan Kehidupan di Jepang: Cara Guru Jepang Mengoptimalkan Papan Tulis dalam Proses Argumentasi di Kelas

Oleh Yanti Herlanti

Tulisan ini telah dimuat di Tabloid Aksara No 109 September 2016

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan pemanfaatan papan tulis oleh guru di Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Media pembelajaran apa yang paling banyak digunakan oleh guru SD di kelas? Papan tulis! Ya, papan tulis merupakan media pembelajaran utama di kelas.

Papan tulis merupakan salah satu penemuan revolusioner dalam dunia. Dahulu papan tulis digunakan para pelajar Babilionia dan Sumeria kuno serta juga ditemukan di India berbentuk batu sabak. Abad ke-18 di Eropa batu sabak digantikan dengan papan, karena lebih murah dari kertas dan tinta. Walaupun terjadi perdebatan siapa yang punya ide papan tulis pertama, namun diketahui tahun 1801 James Pillans seorang kepala sekolah dan guru geografi dari Old High School in Edinburgh, Scotland pertama kali menggunakan papan tulis besar yang digantungkan di dinding yang kemudian secara massif pada tahun 1960-an digunakan sebagai standar yang harus ada di setiap kelas.

Bagaimana sebagaian besar guru di Indonesia memanfaatkan papan tulis?

Ada beberapa tindakan guru dalam memanfaatkan diantaranya adalah:

Tipe pertama, Guru menuliskan hari dan tanggal lalu menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis. Selanjutnya guru memanfaatkan media presentasi seperti LCD proyektor atau mengintruksikan siswa membuka buku/LKS dan sama-sama membaca dan mengerjakan LKS. Papan tulis pun bersih tak terlihat tulisan apapun.

Tipe kedua, Guru menuliskan atau meminta siswa menuliskan setiap kata dari materi dari buku atau ringkasan materi ataupun contoh soal yang sudah dibuat guru di papan tulis. Peserta didik diminta menulis kembali seperti yang tertera di papan tulis di buku tulis masing-masing. Setelah papan tulis penuh, guru menjelaskan maksud dari yang ditulis, kemudian setelah selesai menjelaskan dan tak ada pertanyaan, tulisan dihapus untuk diganti tulisan lanjutan. Seterusnya seperti itu. Walhasil papan tulis pun penuh dengan tulisan.

Tipe ketiga, Guru menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis. Lalu menjelaskan materi melalui berbagai media, dan setiap point penting dari penjelasannya dituliskan dipapan tulis. Walhasil kita akan melihat resume pada papan tulis berupa point-point penting pembelajaran hari itu.

Seperti halnya di Indonesia, pakar pendidikan di Jepang pun menyadari peran vital dari papan tulis. Lalu bagaimana guru di Jepang memanfaatkan papan tulis?

Di Jepang satu jam pelajaran setara 50 menit. Setiap guru mata pelajaran akan menyampaikan materi di kelas selama 50 menit yang meliputi pembukaan sampai penutupan. Apa saja yang disampaikan oleh guru selama 50 menit tersebut dapat dilihat di papan tulis. Papan tulis dimanfaatkan secara optimal sebagai media pembelajaran. Gambar 1 memperlihatkan sekitar pukul 13.50 guru menempelkan selembar kertas berisi sebuah pertanyaan di papan tulis. “Ada peristiwa apa di Hokaido setiap hari selasa ke-4 pada bulan oktober?” Beberapa siswa menjawab dan guru menuliskan jawaban siswa menggunakan kapur tulis. Selama kurang lebih lima menit, siswa diminta menebak jawaban pertanyaan tersebut.

Gambar 1.

Gambar 1. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan pertanyaan di papan tulis dan menuliskan jawaban dari siswanya [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].

Gambar 2 memperlihatkan guru menggunakan kapur berwarna putih untuk menuliskan jawaban siswa. Penggunaan warna kapur merah digunakan untuk menandai kata-kata kunci yang mengarah pada jawaban. Guru menandai dengan kapur merah bahwa jawaban yang benar terkait dengan “rusa” dan “makan”. Anak menebak bahwa “Selasa ke-4 bulan Oktober sebagai hari dimana masyarakat Hokaido dilarang makan rusa!” namun jawabanya salah ternyata sebaliknya yaitu “Hari bebas makan daging rusa sepuasnya. Guru pun menuliskan dengan menggunakan kapur warna kuning sebagai jawaban yang tepat. Lalu guru menempelkan selembar kertas lagi bergambar kesukaan anak-anak terhadap daging rusa. Guru menggambarkan dari muka tersenyum sampai cemberut untuk meunjukkan kesukaan sampai ketidaksukaan terhadap daging rusa.

 

gambar 2

Gambar 2. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan jawaban para siswa, kapur berwarna digunakan untuk menandai kata-kata kunci yang mengarah pada jawaban dan jawaban terhadap jawaban [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].  

            Gambar 3 menunjukkan guru menuliskan alasan peserta didik mengapa tidak suka dan suka terhadap daging rusa. Alasan bermacam-macam misalnya tak tega karena lucu, nanti rusanya habis, dan lainnya. Lalu guru membawa daging rusa yang dibelinya di Hokaido. Peserta didik diminta mencobanya, parameter kesukaan pun ditempelkan kembali untuk menjaring perubahan kesukaan setelah peserta didik mencicipi daging rusa. Tampak di papan tulis terjadi perubahan, peserta didik yang sangat menyukai daging rusa bertambah dari 7 menjadi 21.

 

gambar 3

Gambar 3. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan jumlah siswa yang menyukai sampai yang tidak menyukai daging rusa dan menuliskan alasan peserta didik mengapa menyukai dan tidak menyukai [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].

 

Gambar 4 memperlihatkan guru menggali mengapa ada perubahan persepsi? Siswa mengemukakan alasannya, dan guru menuliskan alasan di papan tulis. Alasan peserta didik yang berubah dari tidak suka menjadi suka karena ternyata setelah dicicipi daging rusanya enak. Ada juga yang bertahan tidak menyukainya karena alasan rusa bisa habis padahal harusnya dilindungi. Lalu guru menempelkan grafik yang dibuat sendiri dari kertas karton. Grafik kerusakan lahan pertanian di Hokaido dari tahun ke tahun.

gambar 4

Gambar 4. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan alasan perubahan pendapat siswa dan menempelkan grafik kerusakan lahan pertanian di Hokaido [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Gambar 5 menunjukkan guru menempelkan satu grafik lagi yaitu pertumbuhan rusa di Hokaido dari tahun ke tahun. Siswa memikirkan hubungan antara grafik kerusakan lahan pertanian dari tahun ke tahun dan pertumbuhan rusa pada tahun yang sama di Hokaido. Dari dua grafik ini guru meminta para siswa memikirkan alasan mengapa Hokaido masyarakat beramai-ramai memakan daging rusa tiap selasa keempat bulan Oktober.

gambar 5

Gambar 5. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan grafik kedua yaitu pertumbuhan rusa di Hokaido [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Gambar 6 menunjukkan kegiatan inti berlangsung selama 40 menit. Kita bisa melihat rangkaian kegiatan selama 40 menit di papan tulis dari kanan ke kiri. Apa yang dibelajarkan guru dan bagaimana proses argumentasi yang terjadi di kelas terlihat di papan tulis.

gambar 6

Gambar 6. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan kesimpulan dan pada pukul 14.30 kegiatan inti pembelajaran berakhir. Seluruh pembelajaran yang dilakukan terlihat di papan tulis [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Tidak hanya Guru Hasimoto, hampir semua guru di Toyama Jepang mempunyai pola yang sama. Sebuah topik pembelajaran yang diberikan guru selama satu jam pelajaran di kelas dapat dilihat pada papan tulis. Gambar 6 memperlihatkan selembar pertanyaan yang diberika guru dan proses argumentasi yang terjadi selama pembelajaran di kelas. Warna kuning yang ditempelkan adalah nama peserta didik yang memberikan pendapat. Garis panah menunjukkan kaitan antara pendapat siswa yang satu dengan yang lain.

diskus

Gambar 7. Papan Tulis di sebuah kelas SD Jinzu Midori Jepang memuat apa yang telah dibelajaran selama satu jam pembelajaran [Foto Dokumen Penulis].

Guru Jepang telah memanfaatkan papan tulis sebagai media pembelajaran secara optimal. Selepas pembelajaran papan tulis dapat dipotret, dijadikan sebagai bahan refleksi. Bagaimana Guru Indonesia? Mari kita mulai mengoptimalkan papan tulis sebagai media pembelajaran di kelas! #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus! [YH].

Tur Kieu 

Turkey dieja pakai bahasa sunda mah jadi Tur Kieu artinya katanya begini atau beginilah ceritanya…. Kira2 tanah sunda pernah berkenalan dengan Tur Kieu gak ya? Tak ada manuskrip dari pajajaran atau galuh yang menunjukkan kerjasama tersebut.  Boleh jadi karena kerajaan sunda lebih dulu tenggelam sebelum turki utsmani berdiri.  Namun kedekatan nusantara dan turki besar sekali, ketika perang Aceh Turki bantu Indonesia. Wali Songo pun datang menyebarkan islam nusantara karena perintah khilafah ustmaniyah di Turki.

Tur Kieu benteng terakhir kekhilafahan islam, setelah sekulerisasi Otomatis 1/3 bagian dunia yg berada pada satu daulah islamiyah bubar.  3 maret 1924 khilafah Ottmaniah yang dibangun oleh Rasulullah saw di Madinah hancur….. “Kemal Attarturk tokoh sejarah yg menghancurkannya”.   Pembubaran yg nyaris tanpa perlawanan berarti, jika kita hidup diera 1980-1990  terjadi seperti itu pada UNI SOVIET,  tanpa perlawanan “Glasnot dan prestorika” telah menceraiberaikan unisoviet menjadi negara2 kecil yg merdeka.  Now, tinggal China yg masih menjadi negara raksasa.  

Kini kisah baru dimulai di Turki.  Erdogan sebagai presiden Turki adalah bagian dari organisasi transnasional IKHWANUL MUSLIMIN/IM. Sebagaimana kita tahu organisasi ini menyebar ke seluruh negara dengan menyandang nama partai keadilan… atau nama IM sendiri.  Goal akhir dari IM adalah berdirinya kembali khilafah islamiyah.  Sebenarnya bukan hanya IM tapi Hizbut Tahrir pun punya maksud yg sama.  Bedanya IM melebur jadi partai peserta pemilu. Sedangkan HT memilih bergerak di luar sistem.

IM/di Indonesia PKS, akan senantiasa berusaha meraih pimpinan tertinggi pengendali negara yaitu presiden.   Sudah itu bgmn?

Nah, drama Turki menjadi tontonan kita bagaimana pola gerakkan IM.  Sangat disadari bahwa stabil memerintah bukanlah hal mudah.  Mursi lengser dan menjadi partai terlarang di Mesir setelah sebelumnya dialami PAS di Aljazair dan Malaysia.  Kemudahan mereka lengser karena dukungan rakyat yg kurang.  Dukungan rakyat kurang, karena citra sang pemimpin tdk terbangun di mata publik.  Alih2 membela sang pemimpin, malahan rakyat jadi benci.  Tampaknya Erdogan cerdas belajar dari pengalaman.  So, menampilkan citra sbg presiden yg santun, care, dicintai rakyat itu yg diperlukan.  Bagaimana menguji loyalitas rakyat? Awalnya sih saya gak percaya kudeta Turki sebuah “test water” tapi membaca perkembangan akhir2 ini Turki melarang gerakan Tasawuf “Fettulah Gulen” yg penuh damai, saya jadi pikir ulang. Kita semua tahu gerakan seperti ini non politik, berhikmat pada dunia pendidikan dan sosial.  Sebagai catatan sebelum kudeta pun berkali-kali Erdogan menyerukan larangan terhadap Fettulah Gullen/FG. Dan ketika kudeta terjadi tertuduh pun kembali disematkan pada FG.   Test water berhasil, walaupun harus mengorbankan rakyat, tapi Erdogan tahu posisinya dicintai rakyat dan didukung rakyat.  Mungkin sekarang tinggal merealisasikan agenda2 IM lainnya….

Tur kieu….. Akankah berimbas ke Indonesia?

Ada 8 juta aktifis dan simpatisan PKS di Indonesia.  8 juta itu yg sudah 17 tahun dari catatan prmilu 2014.  Lalu hitung saja berapa jumlah SD-SMA ISLAM TERPADU di Indonesia, hitung jumlah murid dan ortunya,  ini belum termasuk pesantren Tahfidz dan Sekolah Berasrama, lembaga dakwah kampus di kampus PTN termasuk PTAIN seperti di UIN yg mahasiswanya tak bisa milih krn KOS dan KTP.  So…….????? 

Ya….dikembalikan lagi pada kita semua, mau hidup Indonesianya bgmn? 

#justThink better than nothing.