言葉:how to organize?

Sejak belajar bahasa jepang, saya bukan orang yang “tarapti” menyimpan kumpulan kotoba atau kata-kata baru di satu buku khusus atau folder tertentu. Tapi tersebar dimana-mana, pada buku, modul aki no sora, pada mini note, pada file-file word yang bernama kotoba 1, 2, 3, bahkan sengaja dibiarkan di skype berdasarkan catatan sensei. Akibatnya, jika lupa udah semua tempat dicari dulu. とても便利じゃねい!Gak praktis banget, akhirnya 時間無駄!Buang-buang waktu!

Nah, timbul ide untuk membuat lebih mudah mencari kotoba yang pernah dipelajari, karena dalam berbahasa “KOTOBA atau KOSA KATA” itu penting, gak hapal kosa kata ya gak bisa ngomong. Sama sekalian menakar, seberapa kotoba yang sudah diberikan para sensei dan berapa persen saya mampu menghapalnya.

Untuk itu semua akhirnya saya bikin di excel, lebih mudah mengorganisasinya, dan juga bisa dibikin ala-ala pencarian mirip kamus gitu. Pokoknya lumayan lah, ini baru dua level pemula yang sudah saya entri data kotobanya, ada 250 buah…. jadi tiap level ada seratusan kotoba dipelajari, ada 6 level lagi menunggu dimasukan kotobanya, Wah banyak ya! 頑張ります!

Teacher’s Diary

Ada film Thailand yang selalu ingin saya tonton, sejak pertama kali ketemu list-nya di Apple Movies. Tapi belum kesampaian sampai akhirnya ketemu lagi di Goplay. Dan tadi malam karena susah tidur akhirnya saya berhasil nonton. Film berdurasi hampir dua jam ini mengangkat tema “Guru di wilayah terpencil, terdalam, dan tertinggal” dikemas dalam nuansa romantis dengan ide cerita yang “BRILIANT” menurut saya.

Cerita yang berkisah tentang sekolah dan guru pasti saya tonton dan biasanya saya buru, mengapa? Karena biasanya ada banyak inspirasi di sana. Dugaan saya benar, di film ini ada insight yang bisa diambil “Bagaimana seharusnya seorang guru mendedikasikan dirinya untuk anak didiknya, menyesuaikan dengan kontekstual peserta didik dalam pengajarannya dan boleh juga sedikit ‘gokil serta nekad’ demi anak didiknya” [SAYA MENAHAN DIRI UNTUK TIDAK SPOILER].

Cerita-cerita guru seperti ini harus terus disemarakkan pada mereka yang kuliah di jurusan Pendidikan. Mengapa? Entahlah apakah ini hanya fakta pencilan yang saya alami dan rasakan atau ini merupakan fenomena umum. Jadi begini, sepengalaman saya ngajar dari tahun 1997 sampai sekarang dengan beragam jenjang saya pernah alami mulai guru SD, SMP, SMA, sampai sekarang saya ngajar calon guru di sekolah.

Fakta yang saya temui adalah “Banyak Alumnus Pendidikan Guru acapkali terjebak pada ZONA NYAMAN DAN MAPAN” maksudnya? Maksudnya mereka mengajar hanya mengajar sesuai teori kependidikan yang diperoleh, terkadang mengajar tanpa roh – ah ini memang pekerjaan profesional saya, saya mengajarkan begini-begini saja gak perlu susah-susah dan menyusahkan diri saya. Namun, ada juga beberapa alumnus keguruan yang juga idealis tinggi walau sedikit selengan kayak Guru Ann di film ini tapi populasinya sedikit sekali.

Sebaliknya mereka yang putar haluan dari NONDIK tertarik jadi guru, maka idealismenya pun tinggi. Tentu saja sangat sedikit tidak lebih dari 10% alumnus NONDIK yang menetapkan jadi guru walaupun seringkali ada ejekkan Intitute Teaching Bandung atau Institut Pendidikan Bogor, karena beberapa alumni ITB/IPB memang menekuni profesi guru.

Sebenarnya wajar aja sih, mereka dari jalur NONDIK menjadi guru akan melakukan ‘ombak banyu’ dalam mengajar, misalnya mereka yang berasal dari background sains, hanya punya satu hal dalam mengajar “Bagaimana menjadikan anak didiknya mencintai sains seperti ilmuwan”, maka pendekatan pembelajaran laksana sebagai seorang ilmuwan akan dijalankan. Misalnya ketika mengajar tentang mengapung melayang dan tenggelam lalu mengajarkan tentang rambatan bunyi lebih keras terdengar melalui media air atau padat, jangan heran kalau mereka akan ngajak langsung anak2 itu terjun ke kolam renang melakukan eksplorasi. Karena ketika kami belajar sains itulah yang kami lakukan, Ini akan berbeda dengan mereka alumnus pendidikan sains, mereka akan mencari media2 dari internet atau menyusun gambar2 dan video atau melalukan mini simulasi pakai praktikum agar anak paham tentang konsep mengapung, melayang, tenggelam, dan rambat bunyi di air.

Guru “ombak banyu” yang melakukan lompatan-lompatan pendekatan pengajaran pada para siswa akan ditemui pada Sosok Guru Ann dan Guru Song (Silahkan saksikan, gak mau bikin spoiler ah).

Nah, dari segi “IDE CERITA” saya sih jempollah. Berfokus pada Diary Guru Ann, menjadi panduan bagi Guru Song bagaimana mengajar anak2 di rumah kapal dan jatuh cinta pada bayangan yang belum dia lihat. Selanjutnya Guru Song melanjutkan menulis cerita mengajarnya di Buku Diary Ann. Ketika Guru Ann balik lagi ke sekolah kapal dia baca kembali buku diary-nya, guru Ann pun jatuh cinta pada Guru Song yang juga tidak dia lihat. Bagaimana akhir romansa guru Ann dan Guru Song? Nonton di Goplay, ada teks bahasa Indonesianya loh! Dan kayaknya ini bisa jadi tontonan ketika hari TEACHER DAY, filmnya tidak hanya bicara idealisme tapi juga romansa.

Idul Fitri, Pandemik, Sakit gigi

SELAMAT HARI IDUL FITRI! Happy IED MUBAROK! イード祭りおめでとうございます!

イード2020年、Siapapun tak pernah menyangka kita berada di masa seperti ini. Saat WHO menyatakan COVID19 sebagai pandemik, serentak seluruh dunia kecuali Afrika menyatakan lockdown atau Social Distancing, Indonesia salah satunya.

Kota tempat kami tinggal berada di Zona Merah, bahkan walikotanya pun terjangkit virus ini.

Jadi idul fitri kali ini benar2 di rumah aja. Video calling ucapkan selamat hari raya, bahkan shalat ied pun di rumah. Dan paling nyesek, karena malas sikat gigi selama pandemik saya terserang sakit gigi luar biasa, mulai terasa hari Rabu malam, parah mulai hari kamis sampai saat idul fitri. Bonusnya jadi banyak banget hahaha…

Gigi graham bungsu kiri bawah udah dimatikan syarafnya, bakteri masuk dari sela2nya saya lihat ada sisa gigi keropos, kayaknya dari situ dia masuk.

Nah, karena pandemik gak ada dokter gigi buka dong. Tapi untunglah zaman teknologi canggih, ada HALO DOC, saya konsultasi secara maya dg dokter gigi, kirim foto gigi, didiagnosa, memang harus dicabut, tapi gak mungkin dicabut saat pandemik seperti ini. Jadi saya dikasih resep obat yg terdiri dari antibiotik untuk bunuh bakterinya, anti nyeri gigi, dan obat kumur antiseptik. Obatnya ditebus dan diantar gojek ke rumah, ini karena aplikasi halodoc kerjasama dg gojek. Benar2 praktis! 日本人は便利だと言います。よかった私はインドネシアに住んでいる。Bersyukur tinggal di Indonesia, masyarakatnya kreatif dan inovatif bisa bikin yg mempermudah seperti aplikasi halodoc.

Kini sekitar gigi saya baal dan membengkak… terkadang nyeri masih terasa, walhasil saya makan obat pakai durasi untuk kurangi nyeri. Obat kumur jam 6, Antibiotik jam 7 pagi, dan anti nyeri jam 9, semuanya diatur 6 jam sekali. Dan efek obat kumurnya itu, membuat ujung lidah kita mati rasa, memulihkan rasa dg banyak minum juice. とても大変ね!

Tentu saja terasa mengganggu dan gak bisa ngapa-ngapain. Gak banyak yg saya lakukan selain rebahan sambil nonton draJ buat usir bosan ditengah menikmati ngilunya pertempuran antara bakteri dengan antiseptik dan antibiotik.

Membunuh bakteri lebih mudah daripada virus, penelitian terkait bakteri hari ini sangat maju, aneka antibiotik dan antiseptik adalah cara ampuh membunuhnya, tentu dg dosis yg tepat, oleh sebab itu hanya dokter yg bisa meresepkan antibiotik.

Adapun virus kayak COVID19 yg tergolong pada spesies corona ini, sementara ini teknologi medis hanya bisa berharap pada vaksin saja. Dan vaksin hanya bisa dibuat saat genom virusnya sudah diketahui. Kalau ada yg buat banyak vaksin sementara penyakit yg diakibatkan oleh virus tersebut belum ada, kita wajib curiga bahwa perusahaan vaksin itulah yg membiakkan virus dan meyebarkannya agar vaksinnya laku dijual. Ini jika bisnis dijalankan tanpa kemanusiaan, JAHAT!

Hari ini lembaga Eijkman dan para peneliti Indonesia berupaya menghasilkan vaksin buat Covid19. Itu satu2nya jalan mengakhiri pandemik ini?

Hem…. saya sbg org yg belajar biologi sempat berpikir udah lakukan saja HERD IMMUNITY, yg sehat dibiarkan beraktifitas sementara yg rentan sakit aja yg diisolasi. Mereka yg rentan sakit dapat dihotelkan, #stayAtHome atau #stayAtHotel beraktifitas #workFromHome sementara yg usia produktif 20-40 tahun tetap bekerja seperti biasa. Anak2 muda ini tetap harus menjaga diri tidak berinteraksi dg org2 tua yg rentan. Dengan begitu ekonomi berjalan dan kesehatan juga berjalan dg baik. Kebijakan ini lebih pada “survival of fittest” siapa yg kuat yg bisa beradaptasi, dia akan bertahan hidup. Menyerahkan pada mekanisme evolusi biologi.

Tapi tentu hal ini berbeda dg org Pandemik Kesehatan Mmasyarakat, yg menyarankan LOCKDOWN dg dasar dugaan potensi jumlah org sakit dan kapasitas rumah sakit yg tersedia.

Kompromi antara kesehatan dan ekonomi hasilnya adalah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar. Walaupun pada akhirnya PSBB ini juga berdampak besar pada ekonomi.

Apapun yg diputuskan pemerintah akhirnya kita hanya manut, karena tentu itu yg terbaik menurut hasil diskusi dg para pakar. Sebagai pakar parsial bahkan non pakar tak elok bila menghujat ijmak para pakar. Ijmak para pakar statusnya Shahih, pendapat pakar parsial macam saya yg hanya lihat dari bidang saya saja sifatnya hasan. Dan pendapat para netizen yg berbunyi tanpa punya kepakaran apapun hanya kebencian saja dan nafsu politik maka bisa jatuh pada dhoif bahkan semu (palsu). Jadi, setelah idul fitri keputusan apa yg dibuat pemerintah? Yakinlah bahwa keputusan itu shahih!

Yos!! Apapun selamat makan ketupat, lebih enak dengan sayur labu berkuah, dicampur daging rendang yang pedas! Gak usah mengumpat, apalagi sama pemeritah, yang sudah bekerja keras.

Deteksi ‘radikalisme’ dari opini

Kebijakan pemerintah dengan mencabut ijin operasional sebuah ormas membuat mereka berang. sehingga menuduh pemerintah berbuat dzalim dan menurut mereka pemerintah melakukan dosa luar biasa besar. Mereka pun merasa dirinya terdzalimi dan mengais rasa iba dari kaum muslimin lainnya. Betulkan mereka didzalimi? Bayangkan pemerintah Indonesia hanya mencabut izin operasional, sampai saat ini mereka masih bebas berkoar-koar MEMUTARBALIKKAN FAKTA DAN MENEBAR PROVOKASI SERTA MENGAJAK MASYARAKAT MENGGANTIKAN NKRI PANCASILA HASIL IJMAK ULAMA dengan sistem baru yang hasil ijtihad seorang ulama di Timur Tengah. Tak ada aktifis ormas ini yang dipenjarakan, bahkan banyak PNS yang terang2an dan sembunyi2 mengaku sebagai syabab ini tidak dipecat dari ke-ASN-annya hanya dilakukan pencabutan jabatan struktural. Kurang baik apa negara ini pada mereka? Ini semua karena negara merasa bahwa mereka adalah WN juga harus diayomi.

Tapi ya itu, sebaik apapun negara ini pada mereka, mereka tak henti-hentinya memojokkan negara, dan siapapun yang membela kebijakan negara akan mereka sebut sebagai pro sekular, pro kapitalis, pro sosialis. Dan tak jarang mereka menuduh kebijakan pemerintah PRO ATHEIS dan seringkali mengumpat pemerintah dengan sebutan PEMERINTAH KAFIR dan DEMOKRASI KUFUR serta PEMERINTAH ANTI ISLAM. Dibandingkan sebagai organisasi agama atau organisasi dakwah, mereka lebih pantas disebut sebagai Kelompok Politik islam. Dan memang dalam kitab Takatul Hizby, kitab yang harus dikaji oleh setiap orang ketika akan masuk Hizb Tahrir sebelum mereka disumpah (ba’iat/qosam) menjadi anggota sangat jelas disebutkan bahwa “kelompok ini bukanlah ORGANISASI MASSA atau Jamaah Khoiriyah [organisasi kebaikan/sosial] tapi PARTAI POLITIK. Dengan tujuan organisasi bersifat politik yaitu mengambil alih kekuasaan yang ada di suatu negara melalui jalan umat . Di sinilah kita harus hati-hati, kita ingin mengkaji islam dan berislam secara baik, tapi ternyata kita terjebak dalam sebuah Partai Politik jaringan Internasional lagi!

Di media sosial sangat mudah mendeteksi para anggota dan simpatisan kajian radikal yang telah dicuci otaknya bertahun-tahun oleh kajian2 ini. Proses cuci otak dalam kajian yang disebut liqo atau halaqoh menghasilkan syakhyiah atau kepribadian yang khas dan pola pikir khas akan terlihat pada opininya, seperti apa itu? Mari kita lihat contoh-contoh opini simpatisan atau mungkin juga anggota jaringan ini pada berbagai status dan komentar di facebook.

Ketika ada status facebook teman yang memposting tulisan dengan judul “Gus Baha Aset NU” komentar khas mereka adalah….

  1. “Apalagi kalau menerapkan syariat islam secara kaffah ya Om!” Agus Soleh Sudrajat.
  2. “Aset kok kayak gitu sih!Ahmad Din

Berikut juga ungkapan khas mereka,

Ada yang bangga atas jasa para pendahulunya, tapi ketika ada yang berjuang seperti pendahulunya, justeru dianggap sebagai musuhnya. Dulu loyang sekarang besi. Dulu semangat berjuang kini rajin persekusi. Sambil bergoyang teriak cinta NKRI. Pengajian dihadang, natalan ditemani. Budaya sesat disang-sayang atas nama toleransi. LGBT diberi ruang atas nama hak asasi. Hukum islam diganyang atas nama demokrasi. Skenario Alloh memang tidak mungkin dihentikan, walau andaikata selalu orang-orang kafir bekererjasama dengan seluruh setan untuk melakukan perlawanan. Abu Fatih

Kalau yang membolehkan riba dan penyerahan kekayaan negeri ini ke para cukong dan antek asing siapa ya? Su Tisna.

Orang sekuler liberal moderat tentu anti khilafah David David Dafid

Sekarang makin tampak dan terang-terangan mereka terus menyebarkan paham atheis di negeri. Tidak setuju ada konsep tuhan dan iman. mereka begitu mendewakan akalnya. Seolah-olah akal manusia penentu segalanya. Hartadi Hartadi

Ada beberapa kata kunci yang sering disampaikan oleh anggota gerakan ini ketika beropini yaitu: Atheis, demokrasi, HAM, kaffah, cukong, antek asing, riba, sekuler, liberal, anti moderat, khilafah.

Kata kunci yang ditebarkan penuh kebencian, memperlihatkan radikalisme dalam berujar.

Pembelajaran Online Bagi Milenial

Pendekatan apa dan media apa yang paling cocok bagi milenial, pertanyaan ini bergelayut di benak kita ketika kita harus menyajikan pembelajaran secara online karena pandemik COVID19. Tulisan ini mungkin bermanfaat bagi semua pihak dalam memilih media yang sesuai bagi generasi milenial ini, baik masa kini maupun masa mendatang.

Pada tulisan sebelumnya saya menyelipkan hasil survei pada 117 mahasiswa jurusan Tadris Biologi UIN Jakarta, bahwa mahasiswa menyukai pembelajaran melalui google clasroom, googlemeet, dan edmodo. Dalam perkuliahan di Tadris Biologi, dosen sebetulnya menggunakan ragam media. Media yang paling disukai mahasiswa dalam pembelajaran online adalah 1. google classroom, 2. whatapps, 3. Googlemeet. Hal ini juga mengacu pada media yang paling banyak digunakan dosen dalam perkuliahan online.

Hal yang menarik lain pada survei ini adalah bagaimana kaum milenial ini dalam akses pembelajaran online.

  1. Kartu yang banyak digunakan kaum milenial dari provaider indosat dan telkomsel. Data ini akan memudahkan bagi Kampus dengan siapa bekerjasama untuk menyediakan paketan gratis pembelajaran online.

2. Mahasiswa lebih banyak menggunakan paketan dari telepon gengam, ini berarti pembelajaran online lebih memudahkan jika dilakukan mahasiswa melalui telepon gengam.

3. Sinyal lemah dan kehabisan kuota, menjadi kendala dalam pembelajaran online.

4. Kaum milenial ini aktif di media sosial instagram dan whatapps

Perkuliahan di masa darurat COVID19: Bagian II. Google Clasroom & Google Meet

Perkuliahan Seminar Pendidikan Penelitian Biologi 1 SKS ini bersifat “hit and run” yaitu saya beri tugas kemudian mahasiswa mengerjakan dan memposting tugasnya. Saya periksa tugasnya jika dan harus memberitahukan dimana letak kekurangan tugasnya. Karena sifatnya demikian saya gunakanlah fasilitas dari google yaitu google clasroom dan google meet.

Google clasroom ini secara fasilitas dan fungsi mirip dengan EDMODO berbasis hypertext. Namun secara subyektif, saya katakan bahwa EDOMODO lebih ergonomis, praktis, dan mudah diorganisasikan terutama untuk tampilan smartphone. Google clasroom tampilannya terlalu klasik dan jika memberikan kuis harus balik menggunakan google form. Namun untuk perkuliahan bersifat “hit and run” menurut saya ini paling cocok.

Google meet ini fasilatasnya mirip ZOOM dan Skype dari Microsoft. Bedanya dengan ZOOM, google meet punya durasi konferensi video yang unlimited. Mirip skype yang juga unlimited. Hanya saya google meet ini hanya bisa diakses sempurna, terutama untuk menyelenggarakan video conference melalui Google Suite (G-Suite). Namun jangan khawatir bagi anda yang punyai email lembaga pendidikan, yaitu ***.sch.id atau ***.ac.id bisa mengaksesnya secara gratis google clasroom dengan fasilitas lengkap dan juga google meet. Caranya tinggal masuk ke gmail dengan akun ***.ac.id atau ***.sch.id anda tersebut. Lalu lihat tampilan bilah sembilan akan ada google meet. Contohnya sebagai berikut.

untuk mengadekan acara video conference-nya anda agendakan di kalender (klik icon kalender).

Lalu bagaimana saya mengorganisasikan perkuliahan melalui google clasroom dan google meet ini.

  1. Mahasiswa diberikan tugas melalui google clasroom.
  2. Mahasiswa mengumpulkan tugas melalui google clasroom..
  3. Dosen memeriksa tugas melalui google clasroom.
  4. Dosen memberikan nilai dan komentar pada tugas melalui google clasroom..
  5. Dosen menyediakan waktu tatap muka untuk membahas feedback (nilai dan komentar) yang telah diberikan melalui google meeting.

Google clasroom ini bukan hanya dilakukan oleh saya banyak dosen lain di prodi saya menggunakannya. Lalu bagaimana tanggapan mahasiswa terhadap penggunaan google clasroom ini? 大学生はエドモノよりグーグルの方が好きと言いました。

Jadi, bagaimana pengalaman anda melakukan kuliah online yuk kita bagikan!

Perkuliahan di masa darurat COVID19: Bagian I. EDMODO

Tak ada yang menyangka kita akan secepat ini memasuki teknologi 4.0. Ketika akreditasi Program Studi, bagi Prodi yang tidak berbasis pembelajaran jarak jauh selalu ditanyakan bagaimana integrasi teknologi informasi dalam perkuliahan? Tentu jawaban kita 90% digunakan untuk mencari literatur dan pemberian tugas baik lewat google clasroom ataupun lewat email. Jika ada matakuliah yang mengintegrasikan dengan edmodo, facebook, dan membuat moodle maka itu adalah riset-riset yang sedang dilakukan oleh dosen. Setelah riset selesai, matakuliah itu berganti dosen pengganti, maka semua perangkat ini mungkin akan sia-sia saja.

Darurat covid19 ini membuat para dosen bekerja keras untuk menggunakan aneka flatform dalam perkuliahan. Untuk perkuliahan masa darurat covid19 platform yang dipilih pun harus benar-benar kita pertimbangkan baik dari sisi efektifitas, efesien, dan kuota. Jika terus menerus menggunakan platform video conference, kuota mahasiswa tentu akan habis. Untuk itu saya sendiri lebih memilih menggunakan platform “EDMODO” dan Google Clasroom+Google Meet pada perkuliahan saya.

Semester ini saya mengampu Gizi Anak Usia Dini di Jurusan PIAUD, di Jurusan Pendidikan Biologi mengampu mata kuliah Telaah Kurikulum Biologi SMA dan Seminar proposal penelitian pendidikan biologi. Untuk mata kuliah Gizi AUDi dan Telaah Kurikulum Biologi SMA saya menggunakan platform EDMODO. Mengapa EDMODO?

  1. Edmodo bisa diunduh secara gratis oleh mahasiswa di handpone berbasis android dan IOS.
  2. Edmodo tidak menghabiskan banyak kuota untuk perkuliahannya, kerena platform berbasis hyperteks.
  3. Edmodo memberikan ruang berinteraksi dan memberikan umpan balik secara teks.
  4. Edmodo menyediakan aplikasi tugas dan kuis yang dapat dinilai dengan gampang oleh guru.
  5. Edmodo gampang diorganisasi.

Kelebihan itulah yang menjadikan saya lebih memilih Edmodo sebagai platform dalam mengajar di masa pandemik ini. Bagaimana mengorganisir pembelajaran melalui Edmodo ini?

Pertemuan dalam kuliah ini adalah 100 menit. Platform kelas online dengan kelas tradisional tentu berbeda. Dalam kelas online kejenuhan lebih mudah terjadi, karena yang kita tatap adalah layar. Jika di kelas biasa yang bisa kita tatap banyak, misalnya senyum sang dosen yang menebar ke seantero kelas, gerak-gerik gebetan, pemandangan papan tulis yang penuh kata-kata kunci yang akan keluar, pemandang layar berisi ppt, sepatu teman yang kayaknya belum dicuci sejak dia beli, bisa juga ngobrol kecil disela-sela break dengan teman kiri dan kanan, dll kegiatan yang berpeluang menggunakan seluruh indra kita. Tentu pemandangan tersaji membawa nikmat bagi indera kita, menjadikan durasi perkuliahan 150 menit pun tak terasa. Hal seperti itu tidak bisa dinikmati jika kita menggunakan EDMODO. Oleh sebab itu untuk menekan kejenuhan belajar ini, maka saya mendesain pembelajaran melalui Edmodo ini hanya satu jam saja (60 menit) dan (60 menit bahkan lebih berikutnya, saya akan memberikan tugas baik bersifat individu ataupun kelompok). Bagaimana sih pelaksanaannya? Penasaran gak? Gak penasaran juga tetap saya kasih tahu caranya, yaitu seperti ini. Kegiatan dibagi menjadi empat, yaitu pendahuluan, kegiatan inti, penutup, dan penugasan.

(1) Kegiatan pendahuluan berupa pengenalan materi dan juga memastikan kehadiran mahasiswa dengan mengisi polling “Bagaimanan perasaanmu hari ini”. Mengapa sih saya pakai polling ini? Bukan sekedar gaya2an tapi ini cara saya memantau mood mereka sebelum perkuliahan dimulai, jangan2 banyak yang bad mood karena dikacangin gebetan atau “大変” karena kuota menipis.

(2) Kegiatan inti, kegiatan pembelajaran dimulai dengan metode tanya jawab. Saya memberikan pertanyaan untuk mereka jawab atau tebak lebih dahulu dilanjutkan dengan penjelasan. Kenapa metode ini digunakan? Agar “chat room” tidak sepi, tidak hanya berisi mahasiswa yang like aja, tapi juga ada kehidupan dengan komentar-komentarnya. Ups! ekplanasi ilmiahnya bukan begitu tentu saja, “Mengajukan pertanyaan diawal sebelum menjelaskan lanjut, memberikan peluang pada para mahasiswa untuk berpikir mengaktifkan dendrit2 di otaknya, inilah yang disebut advance organizer oleh Ausuble, yaitu bagaimana mengkaitkan pengalaman belajar mereka sebelumnya dengan pembelajaran baru yang akan diberikan. Bagaimana sih bentuknya di Edmodo, yuk intip ini.

Setelah pertanyaan-pertanyaan itu, maka mulailah penjelasan dilakukan di sela-sela penjelasan saya pun bertanya-pertanyaan agar tepat fokus pada ppt yang disampaikan. Misalkan seperti berikut.

(3) Penutup, sebelum ditutup saya memberikan kuis. Kuis ini berfungsi untuk mengevaluasi “Sejauh mana mereka memahami materi yang disampaikan?” 10 soal esensial untuk kuis ini, sudah cukup.

(4) Pemberian tugas. Tugas dikerjakan perkelompok atau individu diberikan pada jam ke dua perkuliahan. Tugas ini sebagai sarana ekplorasi bagi mahasiswa untuk memahami lebih lanjut terkait materi, memecahkan masalah terkait dengan kondisi faktual yang sesuai materi, dan juga membuat proyek. Contoh-contohnya adalah sebagai berikut.

Yap, sekian pengalaman saya menggunakan edmodo dalam perkuliahan. Lalu bagaimana respon mahasiswa terhadap penggunaan EDMODO ini, saya coba survei mereka, dan hasilnya adalah sebagai berikut.

Terima kasih sudah membaca. To be continue untuk bagian II. Google meet dan Google Clasroom.

日本語を勉強のために: jika kalau

2018年4月から私はCAKAP秋の空と日本語を勉強しています。二年間ぐらいかかりますね!英語より日本語の方が難しいと思います。文法がたくさん。覚えやすくなくて早く忘れた。そして私は色々文法を集めらないと。見てください!勉強しましょう!

Untuk mengungkapkan jika kalau dalam bahasa Jepang ada beberapa dan ada bedanya. Terus terang saya juga masih suka pabaliut membedakannya. Yuk, simak penjelasan sensei-sensei akinosora.

日本語を勉強のために: kalimat Ajakan

2018年4月から私はCAKAP秋の空と日本語を勉強しています。二年間ぐらいかかりますね!英語より日本語の方が難しいと思います。文法がたくさん。覚えやすくなくて早く忘れた。そして私は色々文法を集めらないと。見てください!勉強しましょう!

Bagaimana cara mengajak pakai bahasa Jepang? Yuk, simak penjelasan sensei-sensei akinosora.