Pengenalan Lapangan Persekolah di Jepang #PLP

plpjp

Pada tulisan sebelumnya saya mengulas tentang hasil observasi PLP di Jepang (Klik INI). Tulisan hari ini saya membahas hasil pertanyaan-pertanyaan tentang PLP untuk memperdalam pola PLP di Jepang. Pertanyaan-pertanyaan dijawab oleh Prof. Negishi dari Toyama University.

SKS PLP di Fakultas Human Develeopment (Fakultas Keguruan) di Toyama University berjumlah 4 SKS dan 1 SKS untuk Prior & Subsequent Guidance.

1 SKS Prior & Subsequent Guidence merupakan pembekalan yang diberikan oleh Universitas dan sekolah tempat PLP.  Pembekalan  ini bisa dikatakan sebagai PLP I,  PLP I diberikan sebulan sebelum PLP II (Praktek Mengajar di Sekolah).  Pelatihan terdiri dari:

1. Pembekalan di Universitas oleh para dosen, materinya adalah sebagai berikut:

Waktu (menit) Materi
90 Pembimbingan peserta didik
90 Etika Profesi Guru
90 Praktek mengajar

2.  Pembekalan di Sekolah oleh para guru, materinya adalah sebagai berikut:

Waktu (menit) Materi
90 Praktek mengajar
90 Pembimbingan peserta didik
90 Pendidikan moral

Pendidikan moral di Jepang diberikan selama 1 jam pembelajaran (1 jam pembelajaran di Jepang 50 menit).  Semua guru harus menguasai pendidikan moral, karena tidak ada guru khusus pendidikan moral.  Pendidikan moral harus bisa diajarkan oleh semua guru, termasuk guru Sains, IPS, Olah raga, dll.

Pembekalan dilakukan selama bulan Juli (7 月)Adapun PLP II (Praktik Mengajar di Sekolah) sebanyak 4 SKS, dilakukan dari bulan Agustus sampai bulan Oktober dilakukan di sekolah. Dengan jadwal sebagai berikut:

Bulan Kegiatan
Agustus Observasi mengajar 3 hari.
Agustus Pembimbingan pre dan pos praktik mengajar
29 agustus-19 september Praktik mengajar di kelas secara kolaboratif, satu kelompok terdiri dari 4 orang.
Bulan 10 Bimbingan pasca praktik mengjar

Berdasarkan jadwal tampak bahwa kesempatan para mahasiswa mengajar ini diberikan dalam jumlah yang terbatas, hanya dua minggu.  Sebagian besar lebih banyak para guru melakukan bimbingan baik sebelum maupun sesudah praktik mengajar.  PLP II di Jepang, berorientasi “Bagaimana Guru Senior, memberikan pengalaman mengajar pada para calon guru.”  Hal ini seiring dengan tujuan dari Pendidikan Keguruan di Jepang sendiri yaitu: menghasilkan guru yang terlatih dengan baik dan mengembangkan model pengajaran untuk sekolah publik.  Selama dua bulan di sekolah, walaupun praktik mengajarnya hanya diberikan kesempatan 10 hari saja, namun kehadiran mahasiswa di sekolah tiap hari kerja dari jam 8.00 sampai jam 18.00 sebagaimana jam kerja guru di Jepang.

Hal yang menarik berikutnya adalah jawaban dari pertanyaan kami, “Sebelum melakukan praktik mengajar di sekolah apa saja yang dilakukan mahasiswa kependidikan di Jepang?

Selain sudah menamatkan  serangkaian matakuliah kependidikan seperti di Indonesia umumnya, bagi yang mengikuti praktik mengajar juga diwajibkan sudah mengikuti kegiatan volunteer di sekolah negeri.  Apa itu kegiatan voluenteer? Kegiatan voluenteer adalah kegiatan membantu guru-guru di sekolah (mereka tidak mengajar, tapi jadi semacam shadow teacher atau supporting teacher). Mereka membantu para guru menyiapkan media pembelajaran, membantu para siswa tertentu yang perlu bimbingan khusus, membantu kegiatan saat pembelajaran proyek atau eksperimen atau field trip, dll.

Begitulah PLP di Jepang.

28-10-1928 vs 28-10-2018 #90tahun

Sembilan puluh tahun yang lalu para pemuda dari berbagai suku, ras, dan agama mendeklarasikan “PERSATUAN DAN KESATUAN INDONESIA” Satu tanah air, bangsa, dan bahasa….INDONESIA.

Sampai hari ini pada 28-8-2018 kita masih terkejut dengan pengibaran bendera berlafadz tauhid pada hari santri dibeberapa daerah di Priyangan Timur, di satu wilayah disertai pembakaran, kemudian dilanjutkan dengan aksi dibeberapa kota yang tentu saja dikomandoi oleh aktifis HTI dan gambungan dari simpatisan dalam persaudaraan 212, dan terakhir di Poso dengan insiden penurunan merah putih pengibaran bendera berlafadz tauhid berwarna hitam plus ada pedangnya, yang menggambarkan bendera ini bendera lainnya tidak sama dengan bendera sebelumnya dan bukan bendera milik HTI.  Tampak bahwa perjuangan pembentukan NEGARA ISLAM di Indonesia tidak diperjuangkan oleh HTI saja, ada banyak kelompok.

Ada yang bertanya, “Apakah salah memperjuangkan tegaknya TAUHID di Indonesia, lalu mengajak orang-orang untuk menegakkannya? Pertanyaan selanjutnya, “Apakah selama ini TAUHID tidak ditegakkan di Indonesia? Apakah Indonesia kurang memfasilitasi warganya untuk melaksanakan ketauhidan? Apakah jika tegakknya TAUHID diperjuangkan kembali di Indonesia, Indonesia akan masuk pada fase seperti 1950-1970 yang hidup dalam ketakutan karena gerombolan DI/TII?”

Insiden demi insiden akan terus terjadi pada masa depan, entah itu memang didisain, atau sekedar kecelakaan, atau didesain untuk terjadinya kecelakaan – by design, by accident, or by design for accident-.  Hari ini kita melihat sebuah pola: Ketika insiden itu terjadi, maka akan dilanjutkan dengan penyebaran opini, untuk menarik perasaan umat, menstimulus alam bawah sadar dengan kata-kata misalnya untuk kasus (1) pembakaran bendera berlafadz tauhid: kata-kata yang disebarkan dalam opini adalah “Gak tergerak hati melihat bendera tauhid dibakar, maka iman lemah“.   Untuk kasus (2) pengutipan al maidah oleh Ahok,  kata-kata yang disebarkan dalam opini adalah “Al qur’an dinistakan, masih diam saja, tidak punya iman“.  Setelah hati atau alam bawah sadar mereka digerakkan dengan kata-kata tersebut, maka dengan mudah ikut melakukan aksi-aksi damai yang digelar.  Dari aksi damai memang bisa berbuah jadi kudeta? Hemm…. lebih baik kita coba telaah dulu gerakan-gerakkan ideologi transnasional ini sebelum membahas lebih lanjut semua pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.

Gerakan ideologi transnasional, katakanlah Hizbut Tahrir (HT) mempunyai tiga marhalah (tahapan) dakwah, saya coba kaitkan ketiga marhalah ini dengan konteks Indonesia yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiga tahapan dakwah ini lahir dari proses ijtihad seorang ulama, yang tinggal di Al Quds kemudian berpindah-pindah ke Yordan, Yaman….wilayah timur tengah lainnya, namun belum pernah menyaksikan islam di Indonesia.

(1) Marhalatul tasqif (Tahap Pengkaderan)

Pada tahap ini terjadi perekruitan anggota atau kader HTI.  Memulainya di Bogor sekitar tahun 1980-an oleh Abdurahman Al Bagdadi (sekarang sudah keluar dari HT), dengan bantuan Mama Abdullah bin Nuh (tokoh NU yang sangat dihormati warga Bogor) mengajar pada para santri diantaranya ada mahasiswa IPB.  Mahasiswa IPB saat itu menjadi kelompok dakwah awal (kelompok halaqoh ula, salah satu anggota dikelompok ini adalah Muhammad Al Khatath-Gatot Saptono, ada sekitar 6 orangan anggota halaqoh pertama ini).  Perekrutan anggota tentu saja tidak sebatas halaqoh ula tapi dikembangkan kelompok-kelompok halaqoh lainnya.  Badan Kerohanian Islam (LDK IPB) dan Asistensi Agama di IPB menjadi pintu masuk perekruitan anggota-anggota baru secara formal menggunakan fasilitas kampus, dari sini terbentuk kelompok halaqoh lagi.  Selain itu secara informal juga digunakan pengajian-pengajian rumah dimana para anggota HTI ada ditempat tersebut.  Agar dakwah HT punya lingkup nusantara, maka BKI menginisiasi pendirian FSLDK se-Indonesia (Forum Silaturahmi Dakwah Kampus).  Melalui FSLDK ini kader HTI di Bogor dikirimkan ke berbagai kampus untuk membuat halaqoh ula di wilayah-wilayah tersebut.  Perekrutan anggota mirip dengan sistem MLM,  setiap upline punya downline.  Sistem kaderisasi ini terus berlanjut, sampai hari ini.  Karena suatu gerakkan tidak akan hidup tanpa kaderisasi.  Kampus terutama kampus PTN ternama seperti IPB, ITS, UGM, UNPAD, UNHAS, IKIP MALANG, Lembu Mangkurat, dll dijadikan sebagai lahan bagi kaderisasi anggota HTI.  Kenapa kampus? Kenapa kampus umum? Sebetulnya kampus di bawah departemen agama pun jadi sasaran, namun pergerakan terbatas pada prodi-prodi umum atau non agama, dan hujahnya terpatahkan oleh ahli-ahli agama di kampus2 islam.  Kampus di bawah Dikti yang pengetahuan agama islamnya masih minim ditambah ghiroh tinggi jurusan prodi umum belajar agama, maka jadi semacam simbiosis mutialisme. Tambah lagi kondisi mahasiswa di PTN Favorite dengan kepintaran luar biasa, biasanya jago mikir tapi gak pandai dalam seni, budaya, dan olah raga, mereka lebih memilih kegiatan dalam mengisi waktu luang dengan aktifitas berpikir juga. Mahasiswa dijadikan sasaran, karena disadari bahwa semua kebangkitan di Indonesia pelopornya para pemuda, para mahasiswa, termasuk 1908 Boedi Utomo adalah para mahasiswa STOVIA, lalu 1928 Soempah Pemoeda, lalu tumbangnya orde lama bahkan tumbangnya orde baru, semua mahasiswa berperan.  Inilah sebabnya mahasiwa jadi sasaran. Pada tahapan ini tak ada yang akan menyadari bahwa gerakan ini adalah gerakan politik yang berbahaya, orang hanya menyadari ini pengajian islam, bagus! tujuan politik disampaikan tapi aktifitas/kegiatan politik tidak ada karena tahapannya masih syiriah (sembunyi-sembunyi), untuk memperkuat kaderisasi dan memperbanyak anggota.

hti.png

(2) Marhalah tafaul (tahap berinteraksi)

Setelah cukup kuat, HTI dari tahun 1980-an sampai tahun 1990-an sudah menyebar ke berbagai kampus di Indonesia, keran reformasi juga terbuka.  Maka pada awal tahun 2000-an tahapan kedua dimulai.  Tahapan berinteraksi awal adalah mengenalkan jati diri HTI sebagai partai internasional melalui berbagai kegiatan aksi damai atau masirah pada moment-moment tertentu misalnya hari kartini/ibu, hari runtuhnya daulah islamiyah, dll.   Selanjutnya aksi damai bergerak pada menyikapi isu-isu yang berkembang di Indonesia misalnya kenaikan BBM, Freeport, perubahan PTN menjadi PTNBH, dll.   Tak jarang demo atau aksi damai juga menyangkut kebijakan-kebijakan luar negri Indonesia seperti Palestina, Suriah, dll.  Selain aksi damai juga digelar seminar dan konferensi dengan terang-terangan ke masyarakat, INI HTI penyelenggaranya, pada tahap kedua inilah HTI mulai dikenalkan, dan bagaimana semua orang bisa memiliki HTI tanpa harus menjadi anggotanya, jika jadi anggota terlebih lagi sebuah anugrah.  Tahapan ini harapannya masyarakat mengenal HTI dan perjuangannya.  Lalu mengajak masyarakat untuk bergabung memperjuangankan apa yang diperjuangkan HTI dengan atau tanpa bergabung menjadi anggota.  Maka dalam setiap aksi damai atau kegiatan publik HTI selalu mengundang peserta dari luar HTI.  Target dari tahapan ini adalah kesatuan dan persatuan perasaan dan pemikiran umat agar mau hidup dibawah naungan khilafah islamiah.  Untuk memenangkan pertarungan ini pada umat maka dibuatlah slogan-slogan dakwah yang akan mudah diingat umat, misalanya:  PEMERINTAHAN ISLAM VS PEMERINTAHAN KUFUR,  PEMERINTAHAN DZALIM, PEMERINTAHAN PRO ASENG-ASING, PEMERINTAHAN AUTOPILOT, DLL. Kok yang diserang pemerintah? Ya, jika rakyat masih percaya sama pemerintah, sangat sulit bagi mereka untuk meraih kekuasaan.  Namun untuk umat mereka pun membuat jurus-jurus dakwah seperti: Al Liwa dan Ar Rayah adalah bendera tauhid, bendera islam, lambang kesatuan umat islam yang sah, bendera lainnya bukan bendera umat islam.  Nasionalisme adalah ancaman dan pemecah belah umat islam.  Sistem khilafah adalah solusi atas semua masalah yang ada sekarang dari mulai kemiskinan, ketidakadilan, termasuk masalah keluarga yaitu tingginya perceraian.  Sistem khilafah adalah sistem islam sistem yang diridhoi Alloh, barang siapa yang tidak mau hidup dalam sistem khilafah maka dia bukanlah muslim.  Alam bawah sadar umat islam disentuh dengan ini semua, sehingga perasaannya bisa dikuasai untuk bergerak ke arah mana mereka harus bertindak.

(3) Marhalah tatbiq li ahkamil syari (tahap menegakkan hukum islam)

Sebelum mendirikan kekhilafahan islam, maka harus dipastikan terlebih dahulu:

  1.  “Apakah umat islam sudah benar-benar TIDAK PERCAYA PADA PEMERINTAHAN SAH? Berapa banyak umat islam yang seperti itu?”   Pastikan bahwa jumlah umat tersebut mampu digerakkan untuk aksi damai yang boleh jadi akan memakan waktu berhari-hari demi membuat ‘chaos’ situasi.
  2. Faktor apa yang membuat umat islam tidak percaya pada pemerintahan yang sah? Pastikan bahwa faktor yang membuat ketidakpercayaan itu bersifat ideologi.  karena mereka menghendaki berdirinya sistem islam bukan sekedar #gantiPresiden atau hanya tergerak karena dengan slogan #belaIslam #belaTauhid tapi pemikiran dan hatinya masih #NKRIPancasilaHargaMati.
  3. Apakah HTI yang menjadi pemimpin dalam menggerakan umat yang menuntut pembaharuan ini?  Pastikan komando di tangan HTI.
  4. Bagaimana posisi militer? Pastikan militer berpihak pada HTI atau paling tidak netral.  Jangan sampai militer berpihak pada pemerintah.  Oleh sebab itu berdakwah pada militer menjadi target dari HTI juga.
  5. Bagaimana dengan posisi Indonesia dengan negara lain? Pastikan bahwa Indonesia bebas campur tangan asing/aseng, mandiri dari interfensi negara Asing atau Aseng.

Jika hal-hal di atas sudah dipastikan, maka proses pengambil alihan kekuasaan melalui umat akan berjalan mulus.  Bendera merah putih dapat dengan mudah diturunkan dan diganti dengan Al Liwa dan Arrayah tanpa menghadapi protes dari rakyat, hadangan dari militer, dan pencegahan dari Asing/Aseng.  Umat akan menyerahkan kekuasaan pada HTI untuk membuat UU dan memilih kholifah.  Siapa kholofah yang akan dipilih?  Syarat afdholiyah dari seorang kholifah adalah kemampuan sebagai mujtahid, selain syarat wajib muslim, baligh, sehat, tidak cacat.  Maka berdasarkan syarat afdholiyah tidak mungkin Prabowo dipilih jadi Kholifah, dan kecil kemungkinan juga Ustadz HRS memenuhi syarat afdholiyah ini.  Jika di Indonesia tidak ditemukan yang ideal, maka boleh jadi Kholifah akan dipegang oleh orang di luar Indonesia kemungkinannya adalah Amir Hizb Tahrir Internasional yang memenuhi syarat.  Setelah Kholifah terpilih maka barulah penataan struktur kenegaraan dan pemberlakuan UU, HTI sudah mempersiapkan bagaimana struktur daulah dan bagaimana UU yang akan diberlakukan di negara ini.  Siapa yang mengisi struktur kenegaraan, bisa siapa saja ya! tapi prioritas tentu saja pada para anggota Hizb. Tahrir, bisa Hizb. Tahrir di Indonesia bisa juga dari luar Indonesia yang memiliki kapabilitas mengisi struktur daulah tersebut.  Lalu jika daulah kekhilafahan islam berdiri di Indonesia, bagaimana dengan Demokrasi, Pancasila, dan Kebudayaan Indonesia yang saat ini ada? Demokrasi dan pancasila tentu akan menjadi ajaran yang dilarang disebarkan di tengah masyarakat.  Adapun dengan budaya, maka aturannya akan mengikuti aturan islam yang ada pada kitab nizomil ijtimai’ fii islami yaitu wanita jika keluar rumah harus menutup aurat dan menggunakan abaya (jilbab), kehidupan wanita dan lelaki dipisah secara mutlak, wanita hanya berkumpul dengan para wanita saja tidak bebas berinteraksi dengan para pria.  Beberapa tradisi budaya yang mengandung warisan nenek moyang akan dilarang.  Patung-patung di Jakarta dan beberapa kota mungkin juga akan diruntuhkan.  Tempat ibadah bagi umat selain islam akan diperketat ijinnya.  Non muslim akan dimintakan jizah yaitu pajak khusus, jika tak mau membayar pajak itu dipersilahkan keluar dari negara ini. Daulah islamiyah atau kekhilafahan islam adalah negara untuk muslim dan oleh muslim, non muslim selama membayar jizyah dan mengikuti aturan boleh tinggal di negara ini.

Semoga paparan ini menyadarkan kita semua, bagaimana harus bersikap terhadap situasi dan kondisi yang ada.  Sekali lagi insiden demi insiden akan terjadi baik  – by design, by accident, or by design for accident-.  Lalu insiden ini akan dimanfaatkan untuk menyatukan “perasaan umat” dengan pengemasan perang opini.  Selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan aksi-aksi damai.  Ini adalah bagian dari tahap tafa’ul, berinteraksi dengan masyarakat, tahapan sebelum hukum islam diterapkan.

Dan patut juga diingat, bahwa Indonesia pun lahir dari IJMAK ULAMA tahun 1945.  Ulama-ulama dari NU, Muhammadiyah, Sarekat Islam (Masyumi) dll menyepakati demi kemashlahatan umat islam Indonesia, UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang beragam suku, ras, agama. Sebagai orang yang miskin ilmu agama, maka kewajiban kita menjadi mutabii, atau pengikut.  Pengikut ulama siapa? Ulama Timur Tengah yang menerapkan islam sesuai konteks timur tengah, atau ulama indonesia yang menyerap ilmu di timur tengah, namun berijtihad dalam penerapannya agar sesuai dengan konteks budaya Indoensia? Saya pribadi lebih memilih tsiqoh pada para ulama Indonesia.  Ulama itu beda ya dengan ustadz, ulama itu harus ngerti bahasa arab, ulumul qur’an ulumul hadits, ushul fiqh, dan umumnya punya tafsir selain menguasai tafsir dari para mufashirin sebelumnya.     SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA!

Bagaimana Praktek Pengenalan Lapangan Persekolah di Jepang? #edutraveling

9-17 September 2018 kami melakukan perjalan dalam rangka The Project for Establishing the Subject ‘Environment’ in Junior High Schools and Disseminating Environmental Education yang disponsori oleh JICA pathership dengan IEPF (Indonesian Education Promoting Foundation).  Apa yang saya paparkan di bawah ini adalah side effect dari kunjungan (Kata orang islam mah BERKAH BANGET ini mah).  Pada saat kami kunjungan ke sekolah pembelajaran yang dilakukan bertepatan dengan keberadaan mahasiswa on job training di sekolah tersebut. Berikut hal-hal yang bisa kita ambil, yang sangat bermanfaat bagi perbaikan matakuliah Pengenalan Praktek Lapangan Persekolahan di universitas kita.

Di Jepang, setiap lulusan perguruan tinggi dari jurusan manapun bisa menjadi guru dengan syarat mengikuti program lisensi guru selama satu tahun.  Universitas tertentu juga mempunyai fakultas keguruan yang bertujuan mencetak sarjana pendidikan.  Salah satu universitas tersebut adalah universitas Toyama.  Universitas Toyama mempunyai Fakultas Ilmu Pendidikan tempat mencetak calon guru nama fakultasnya Fakultas Human Development.

Tentang  mata kuliah on job training(Pengenalan Lapangan Persekolahan dalam kurikulum Indonesia) di Jepang:

Menurut penuturan Prof. Negishi Sensei:  Pada semester 5 dan 7 atau tahun ke-3 dan ke-4 mahasiswa melakukan on job training (disingkat OJT) selama 3 minggu dengan 10 kali penampilan di kelas.   Sebelum melakukan on job training mahasiswa mendapatkan pelatihan membuat RPP, cara mengajar, membuat media, dan evaluasi.  Para mahasiswa praktik mengajar di sekolah (OJT) juga mengikuti semua aktifitas yang ada di sekolah misalnya osouji (waktu bersih-bersih sekolah), makan bersama anak-anak, pokoknya kegiatan yang dilaksanakan di sekolah selama tiga minggu waktu OJT diikuti semua oleh mahasiswa keguruan ini.

Observasi OJT di Toyama Chougakko dan Shougakko

Pada tanggal 11-12 September 2018 saya berkesempatan melakukan observasi aktifitas mahasiswa on job trainingdi SD dan SMP Fuzoku sebuah sekolah afiliasi dengan universitas Toyama.  Di sekolah ini ada 70 mahasiswa OJT dari berbagai jurusan seperti PGSD, Sains SMP (Rika), IPS SMP (Sakai), bahasa, musik dan seni, dan lain sebagainya. Kami berkesempatan menyaksikan tampilan dari mahasiswa OTJ bidang studi rika dan sakai di SMP.  Kami menyaksikan tiga pembelajaran terkait sains dan satu pembelajaran terkait IPS.  Di Jepang satu jam pembelajaran berlangsung selama 50 menit.  Pengamatan kali ini juga berlangsung selama 50 menit.

1) Pengamatan pada pembelajaran sains: 

Pembelajaran dilakukan di laboratorium,  Siswa sudah duduk secara berkelompok di meja masing-masing, satu kelompok terdiri dari 4 orang dengan proporsi gender yang seimbang yaitu dua lelaki dan dua perempuan. Ada 9 kelompok siswa SMP di laboratorium (36 orang siswa).  Ada empat orang gakusai daigaku (mahasiswa OJT)), satu orang berperan sebagai guru model dan tiga orang berperan sebagai observer juga membantu secara teknis pada saat pembelajaran.  Guru sains hadir di kelas tersebut melakukan observasi jalannya OJT

Pada sesi ini mahasiswa OJT menjelaskan prosedur yang akan dilakukan di laboratorium, dan membimbing siswa melakukan praktikum.  Praktikum di kelas sains yang kami amati adalah:

  • Kelompok 1 mahasiswa OJT terdiri dari 4 orang: Praktikum memprediksi zat berdasarkan sifatnya. Mahasiswa OJT menyediakan empat bubuk yaitu gula, garam, tepung kentang, dan satu bubuk X [rahasia].  Keempat bubuk tersebut secara acak diberi huruf A, B, C, D.  Peserta didik memprediksi bubuk apa yang ada dalam A, B, C, dan D berdasarkan sifat-sifatnya ketika diberi empat perlakukan yaitu dipanasi, …..,……,…… (pas pengamatan itu kurang terperhatikan perlakuannya apa saja maaf).
  • Kelompok 2 Mahasiswa OJT terdiri dari 4 orang: Praktikum mengamati karakteristik organ manusia. Mahasiswa OJT membawa organ dari babi yang strukturnya mirip manusia.  Dengan cara demonstrasi mahasiswa memperlihatkan organ jantung dan paru-paru yang dipompa sampai mengelembung.  Selanjutnya organ lainnya seperti hati, ginjal, tenggorokan, jantung diberikan kepada setiap kelompok untuk melakukan pengamatan.
  • Kelompok 3 OJT terdiri dari 3 orang: Praktikum mengamati reaksi enzim gelatin pada buah kiwi.Buah kiwi dipisahkan menjadi tiga bagian: pusat, lingkaran tengah, dan lingkaran luar.

Gambar 1.  Pembelajaran sains oleh mahasiswa on job training satu mahasiswa berperan sebagai guru model.  Mahasiswa lainnya membantu teknis ketika pengajaran dilakukan. [Dokumentasi foto dari IEPF2018 Taken by Yanti Herlanti]

2) Pengamatan pembelajaran sakai (IPS):

Kelompok 1 OJT Sakai terdiri dari 4 orang: Topik yang dibahas adalah tentang hukum pidana.  Mahasiswa OJT mengambil topik popular untuk dibahas di kelas yaitu “Pro Kontra Terhadap Hukuman Mati bagi Kasus Terorisme di Jepang”. Kasus ini sedang menjadi pembahasan di Jepang,  sekelompok pelaku terorisme pada 13 tahun lalu, pengadilan memutuskan beberapa waktu lalu hukuman mati bagi para pelaku.  Mahasiswa OJT memberikan potongan berita korannya.  Selanjutnya menampilkan video beberapa narasumber yang pro maupun kontra terhadap hukuman mati.  Peserta didik juga diberikan resume tentang hukuman mati di Jepang oleh mahasiswa OJT.  Peserta didik secara individu selanjutnya diminta untuk menentukan posisi pro atau kontra beserta alasannya.  Alasannya harus didukung dengan sumber-sumber referensi yang ada.  Walhasil para siswa merujuk beberapa referensi selain rujukan para ahli yang tampil di video mereka pun membuka buku enslikopedia IPS yang membahas tentang hukuman mati tersebut.  Sebagai catatan buku enslikopedia ini dimiliki oleh para siswa sebagai buku referensi tambahan selain buku teks, maka saat mereka ada pelajaran IPS, buku enslikopedia ini selalu menemani.  Buku enslikopedia ini diperbaharui setiap lima tahun sekali. Pembelajaran selama 50 menit berakhir dengan menuangkan pendapat tiap individu, menurut pendapat mahasiswa OJT, mereka akan melanjukan dengan diskusi pada pertemuan selanjutnya.

Gambar 2.  Pembelajaran IPS oleh mahasiswa on job training dengan topik isu sosiosaintifik. [Dokumentasi foto dari IEPF2018 Taken by Yanti Herlanti]

 3) REFLEKSI dengan guru pamong

Setelah mahasiswa OJT melaksanakan pengajaran di kelas, guru pamong berdiskusi dengan mereka berempat.  Pada saat itu kami mengikuti sesi refleksi yang berlangsung dari jam 10.51 – 11.31 (kurang lebih 40 menit waktu yang diperlukan untuk refleksi).  Pada refleksi ini guru pamong mengawali dengan menanyakan perasaan guru model dan refleksi kekurangan saat mengajar tadi, selanjutnya menanyakan hal yang sama dari teman-teman yang mengobservasinya.  Guru pamong kemudian memaparkan catatan pengamatannya selama observasi guru model, dan juga menyampaikan tips-tips diantara tips itu adalah “Jangan jadi BAPER pada saat pembelajaran ditonton banyak orang, karena pada kondisi nyata itu akan terjadi setiap saat”  [Maklum para mahasiswa OJT cukup shock ketika mengajar diperhatikan kami, ini suatu yang alamiah tentu saja].

Image

Gambar 3.  Guru Pamong dan Mahasiswa On Job Training sedang melakukan refleksi [Foto IEPF2018 taken by Yanti Herlanti]

Beberapa pertanyaan

Beberapa pertanyaan kami sampaikan, karena hal ini tidak kita lihat saat observasi.  Misalnya bagaimana para mahasiswa OJT ini mempersiapkan lesson plan.  Jawabannya mereka sendiri yang mempersiapkan lesson plan –nya secara kelompok. Mereka berdiskusi dengan tuntutan silabus yang ada bagaimana merepresentasikannya, topik apa yang dipilih, bagaimana mengajarkannya dan lain-lain.  Mahasiswa OJT kemudian mengkonsultasikanlesson plandengan guru pamong.  Guru pamong memberikan masukan-masukan pada lesson planyang dibuat. Katanya satu lesson planbisa didiskusikan 3-5 kali dengan guru pamongnya.  Lalu bagaimana pembagian pengajaran?  Satu kelompok sebanyak empat orang tersebut berbagi peran pada saat pengajaran.  Mereka memilih secara bergiliran siapa yang akan menjadi guru model.  Saya membayangkan jika satu kelompok 10 kali tampil, maka satu orang akan tampil mengajar 2-3 saja.

Berdasarkan wawancara, penjelasan Prof. Negishi, dan observasi pelaksanaan OJT di Toyama Shougakko, maka dapat disimpulkan POLA yang diberlakukan oleh Universitas Toyama dalam matakuliah OJT (Indonesia PLP II) adalah “LESSON STUDY”.

  • PLAN: Sekelompok mahasiswa (4 orang satu kelompok) membuat satu RPP (lesson plan) bersama-sama.
  • DO : Sekelompok mahasiswa memilih satu orang yang akan tampil menjadi di depan kelas.  Sisa mahasiswa lainnya menjadi observer.
  • SEE: Mahasiswa lainnya sebagai observer berbekal lesson plan mengamati aktifitas peserta didik dan juga membantu secara teknis hal-hal yang diperlukan seperti bimbingan kelompok saat praktikum.  Guru pamong pun mengamati pengajaran dan pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa OJT.
  • REFLEKSI: Pada akhir penampilan, guru pamong dan sekelompok mahasiswa OJT melakukan refleksi terhadap kegiatan pengajaran di kelas saat itu.

Inspirasi bagi Indonesia:

Semua Fakultas Pendidikan di Indonesia pada saat ini sedang melakukan reformasi kurikulum terutama pada matakuliah On Job Trainingatau di Indonesia dikenal dengan matakuliah Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). Kementerian Pendidikan Tinggi Indonesia sudah memberikan panduan tentang PLP I dan PLP II bagi strata S1 (level 6). Namun secara teknis bagaimana membedakan dengan On Job Traning yang dilakukan pada Program Sertifikasi Profesi Guru (level 7).   PLP II bagi masiswa S1 (level 6) dibeberapa universitas, termasuk universitas saya masih sama dengan Praktek Mengajar mahasiswa program profesi (level 7) yaitu secara invidual mahasiswa mengajar di kelas sebanyak 10-12 kali pertemuan.  [Bandingkan dengan pengalaman saya di Jepang, setiap individu hanya mengajar 2-3 saja dengan pola lesson study.  Beban mahasiswa S1 Indonesia tentu menjadi lebih berat bukan? Padahal mereka belum masuk pada profesi guru].  Berdasarkan pengalaman ini, teknik PLP II di Indonesia dapat mengadopsi pola lesson studi di Jepang ini.  Namun untuk sampai pada pola di Jepang, kita punya pekerjaan rumah yang penting baik bagi perguruan tinggi maupun bagi dinas pendidikan setempat.

  • Perguruan tinggi harus memetakan guru-guru yang berkualitas dari sisi keterampilan pedagogi, personal, sosial, dan konten. Pemetaan para guru yang punya kemampuan professional dalam membimbing para mahasiswa PLP dengan sepenuh hati.
  • Sekolah dan Dinas Pendidikan Daerah harus mampu mempersiapkan guru-guru super dengan kemampuan mumpuni dalam pedagogi, personal, sosial, dan konten, serta mempunyai integritas tinggi membantu para juniornya melakukan akselerasi kemampuan mengajar.

Bogor, 21 September 2018

Emak-emak berpolitik?

Muncul beberapa grup politik yang anggotanya emak-emak.  Emak-emak berpolitik apa salah? Tidak sih, namun ketika terjun menjadi bagian masyarakat yang sadar politik ada beberapa rambu-rambu yang harus emak-emak ini patuhi.  Mengapa seperti itu? Ya, agar emak-emak tidak “kabawa ku sakaba-kaba” dalam bahasa sundanya adalah TIDAK TERBAWA ARUS.  Jika emak-emak terbawa arus bisa bahaya, nanti kebingungan mau belok ke kiri kasih sen ke kanan…..  Jadi apa yang harus disiapkan emak-emak ketika ikut mengharubirukan perpolitikan di Indonesia.

(1) Kudu Paham IDEOLOGI GLOBAL dan derivatnya

Pahami hiruk pikuk ideologi yang mendasari perang politik.  Emak harus paham ideologi Kapitalisme, Sosialisme, dan Islamisme berserta turunan dari Ideologi itu.  Ini pengetahuan global tapi sangat mendasar yang harus emak-emak pahami.  Tanpa memahami perbandingan ideologi Kapitalisme, Sosialisme, dan Islamisme, tanpa memahami derivat dari ideologi ini pada sistem ekonomi dan sosial; maka emak-emak hanya akan jadi KANTONG KRESEK yang terbang ketika angin berhembus, sobek ketika bawaan keberatan, dan  dikesek-kesek ketika sudah tidak terpakai, hanya sebatas dijadikan wadah sampah, bahkan tak laku dalam perdagangan daur ulang.  Loh, kok bisa jadi kantong kresek begitu.  Itulah kejamnya politik.  Emak-emak SARACEN yang ditangkap baru-baru lalu adalah contohnya mereka nyebur ke politik tanpa pengetahuan perbedaan IDEOLOGI (MABDA INI).  Jadi, kalau emak mau nyebur ke politik ya BELAJAR DASAR-DASAR IDEOLOGI GLOBAL BERSERTA DERIVATNYA DULU.

(2) Kudu paham Sejarah perpolitikan Indonesia dari masa ke masa + Ushul Fiqh buat Emak yang muslimah

Pahami konteks budaya lokal Nusantara dalam perpolitikan.  Memahami ini berarti Emak harus paham banget sama sejarah Indonesia.  Hayo dulu waktu SD-SMA udah baca berapa buku Sejarah? Jangan-jangan modalnya hanya buku pelajaran sejarah yang itu pun jarang Emak baca.   Nih, saya kasih tahu karena saya dari kecil kerjaannya bacaain buku sejarah dan biography tokoh-tokoh sejarah, dan sejak kecil ortu saya mengajarkan prinsip  “sejarah untuk dilupakan” tapi “sejarah harus jadi kenangan agar bisa belajar dari masa lalu untuk masa depan” .  Saya kasih tahu ya: Sejak 1905 atau 1908 misi perpolitikan Indonesia dicanangkan.  Melawan Belanda gak lagi pake pedang berhadapan langsung FACE TO FACE, tapi lebih elegan menggunakan pemikiran, gelar diskusi, gelar orasi atau pidato, dan gelar tulisan baik di media massa maupun berupa buku.  Buku pun dari buku serius atau non fiksi sampai buku-buku fiksi bahkan puisi.  Pemikiran kemerdekaan dan nasionalisme terus mengembang.  Perkumpulan-perkumpulan pemuda dan organisasi tumbuh pesat.  Sampai akhirnya Jepang melakukan inisiasi menyatukan semua perkumpulan dan organisasi tersebut dalam BPUPKI  (独立準備調査会 = どくりつじゅんびいちょうさか=Dokuritsu Junbii Chōsakai).  Lalu BPUPK berubah setelah Pemboman Hiroshima dan Nagasaki yang dikenal dengan Perang ……..[apa coba??? jawabannya bukan perang bintang ya!]  menjadi 独立準備委員会 =どくりつじゅんびいいいんかい=Dokuritsu Junbi Iinkai、dalam bahasa Indonesia disebut ……..[Hayo apa coba???].  Perkumpulan organisasi, tokoh, dan perkumpulan seindonesia menyepakati PANCASILA sebagai dasar negara.  Pancasila yang memuat lima sila menggambarkan akomodasi dari ideologi kapitalisme “Kemanusiaan yang adil dan Beradab, Permusyawaratan Rakyat yang dipimpin oleh hikmah kebujaksanaan dalam permusyawartan dan perwakilan”, ideologi sosialisme “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, Islamisme “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang semua ideologi itu dirangkum dalam “PERSATUAN INDONESIA”.   Pancasila hasil kompromi? Eit, Jika Emak seorang muslim maka dalam terjun ke politik Emak juga perlu pengetahuan tentang USHUL FIQH.  Nah, dalam Ushul Fiqh itu ada Ijmak Ulama.  Pancasila disepakati oleh para Ulama yang saat itu menjadi wakil umat Islam.  Bisa Emak sebutkan siapa saja nama ulama tersebut? Bahkan Ulama itu masuk PANITIA SEMBILAN BPUPKI, Emak!  [Daripada Emak harus minum Puyer bintang tujuh, ini saya kasih PIAGAM JAKARTA hasil perumusan BPUPKI, coba Emak tebak siapa saja Kyai yang ada di situ!]

300px-Naskah_Asli_Piagam_Jakarta.jpg

PPKI yang menghasilkan pancasila yang sekarang ada di dinding depan kelas kita dulu dan anak-anak kita sekarang, itu disahkan tanggal berapa mak? [Inget aja Mak, pembukaan ASIAN GAMES tanggal berapa?].  Para Ulama pun masih menjadi anggota PPKI.  Jadi Emak-emak muslim, menurut ushul fiqh, PANCASILA ITU HASIL IJMAK ULAMA 1945.  Ijmak Ulama teh salah satu hukum syara.  Karena ketika para ulama ber-Ijmak tidak mungkin mereka bersepakat untuk menjerumuskan umat dalam ke-dhoror-an.  Oleh sebab itu, pahami sejarah, sehingga ketika berpolitik Emak gak menjadi orang yang menolak PANCASILA sebagai dasar NKRI dan menyatakan pancasila sebagai THOUGUT, KAFIR, SYIRIK, dll.  Kalau EMAK muslim mau ubah pancasila silahkan emak suruh Para Ulama untuk mengeluarkan IJMAK!  Dengan modal ini Emak akan berpolitik secara santun, dengan tujuan menjaga KEUTUHAN NKRI berlandaskan PANCASILA. Bukan sebaliknya politik BABI BUTA yang menghancurkan NKRI dan PANCASILA.

(3) Cerdas melihat fakta

Terjun ke politik selain dua pengetahuan di atas, juga emak harus cerdas melihat fakta.  Fakta didepan mata harus dilihat dari berbagai sisi dan diprediksi lalu diinkuiri fakta tersebut motif ideologinya apa?  Tanpa kecerdasan ini Emak hanya akan jadi orang yang ikut-ikutan saja.  Jika ikut-ikutan saja ya EMAK HANYA AKAN JADI KANTONG KERESEK.  Contohnya bagaimana? Contohnya nih Mak, Gerakkan #2019GantiPresiden.  Emak jangan dulu main ikut-ikutan karena Emak SEBEL sama Pak Jokowi yang Krempeng tapi Kerja Keras, jangan hanya benci sama Pak Jokowi yang sunyam senyum saja tapi bisa bangun infrastruktur banyak, jangan hanya sebel DOLLAR naik padahal keluar negeri atau lihat uang dollar aja gak pernah, jangan sampai hanya karena telur naik di jelang hari raya emak protes sama Jokowi padahal setiap jelang hari raya kebutuhan selalu naik siapapun presidennya.  Jangan hanya karena sebel-sebel seperti itu lalu EMAK ikut-ikutan gerakan TAGAR GANTI PRESIDEN.  Emak harus analisis secara ideologi, gerakkan itu siapa inisiatornya, motif tujuannya apa, adakah kepentingan ideologi di sana, apa untungnya gerakkan itu bagi PERDAMAIAN DAN KEDAMAIAN BANGSA DAN NEGARA?.  Setelah jelas semuanya baru emak putuskan ikut-ikutan tagar itu? atau Emak lebih baik ikutan tagar baru yang lebih elegan misalnya #PERMAKBODI #EMAKWARASPILIHJOMIN dan grup lainnya yang saya tidak tahu maklum saya tidak jadi anggota grup seperti itu ya Mak! atau mendingan ikut meningkat keterampilan memasak, kelas YOGA, atau kelas Parenthing?  Ingat ya, Emak, ikut-ikutan berpolitik….boleh saja! Namun jangan sampai jadi KANTONG KRESEK ya, Mak!  Kalau saya pribadi sebagai EMAK lebih enak nonton dunia politik sambil ngeteh dan menikmati brownies yang legit buatan AMANDA, produksi mertua-mantu.

#わかりました:Mengapa bisa militan?

Saya pikir setelah 10 Agustus tagar akan berganti ternyata tagar tersebut tidak berganti juga jadi #2019PrabowoPresiden untuk melawan #2019Jokowi2Periode atau #2019JokowiTetapPresiden.  Deklarasi atas tagar ganti presiden tanpa menyebutkan siapa penggantinya terus dikumandangkan,  pertanyaannya “Mengapa gak mau ganti tagar? Mengapa sebagian masyarakat mendukung tagar tersebut?

Sebelum membahas dua pertanyaan ini.  Mari kita bahas siapa deklarator dari hastag ini?  Tentu kita sudah tahu hastag ini dipopulerkan oleh Kader PKS tercatat sebagai ketua dan si ibu mantan artis 80-an juga relawan pemenangan PILKADA DKI Jakarta yang penuh ancaman dari mulai ancaman “Haram Pilih Pimpinan Kafir [padahal sistem Indonesia bukan berdasarkan syariat Islam bahkan mereka menyebutnya sebagai sistem kafir atau thougut, tapi kok pemimpinnya dilarang orang kafir??]” – INI PERANG AYAT, ketika ancaman ini tidak mempan dilakukan ancama berikutnya “LARANGAN MENYOLATKAN JENAZAH PEMILIH AHOK” — ini Perang Mayat.   Untuk memastikan bahwa masyarakat takut dengan ancaman “Ayat dan Mayat” mereka melakukan “Tamasya Al Maidah”, dalam Tamasya ini  mereka ibarat para pembusur yang siap memuntahkan anak panah kepada siapa saja yang membandel.  Seperti halnya PILKADA DKI dengan gerakan 212, gerakan hastag ini pun didukung oleh HTI dengan tambahan tidak hanya presiden yang ganti tapi juga sistem [klik di sini!] “Ganti Rezim Ganti Sistem. Ibarat lalu lintas, diperlukan sopir yg baik dan aturan lalu lintas yg baik untuk terwujudnya kondisi lalu lintas yg baik, lancar, aman dan menentramkan – Jubir HTI.  

Mengapa HTI ikut mendukung gerakan ini? Bukankah bagi anggota HTI “Haram Memilih Pemimpin dalam Sistem Kafir, sehingga anggota HTI diwajibkan GOLPUT.” Pertanyaan ini bisa dijawab dari tontonan video ini [–> KLIK DI DISINI BENARKAH HTI MENUGANGGI?].  Lihat pada detik 7.45 -8.08   “Saya kira kita harus memiliki pemimpin yang dia melindungi masyarakat, melindungi umat, bisa menopang atau bisa mendukung dakwah, memperlancar dakwah, bukan justeru sebaliknya menghambat dakwah bahkan sampai membubarkan kelompok dakwah begitu.  Nah, Penguasa yang menghambat dakwah bahkan membubarkan kelompok dakwah ini saya kira penguasa yang tidak selayaknya terus kita dukung.”

Bukti digital baru menuju pada PKS sebagai inisiator gerakan hastag dan HTI yang bersatu ikut memperjuangkan.  Saya coba mencari bukti digital untuk komponen lainnya seperti FUI/FPI tampaknya belum secara jelas ada mendukung hastag ini, karena kubu FUI/FPI atau PA212 cukup konsisten merekomendasikan #PrabowoPresiden.   Dengan melihat siapa pemain hastag ganti presiden, maka kita bisa menjawab pertanyaan “Mengapa sebagian masyakat mendukung gerakkan tagar ini?”  Jawabannya adalah (1) Keinginan berkuasa atau memegang posisi penting pada pemerintahan Indonesia, posisi strategis sebagai Presiden.  Mereka berkaca dari TURKI, Erdogan ketika menjadi Perdana Mentri kekuasaannya ternyata tidak absolute, namun ketika jadi Presiden dia bisa membubarkan sistem parlementer, ini karena rakyat lebih mendukung posisi Presiden dibandingkan ketua parlementer seperti MPR atau DPR.  Kekuasaan absolute yang bisa mengatur rakyat dengan kekuatan ABRI ini tentu menjadi incaran PKS. Alasan selanjutnya (2) Balas dendam karena pemerintah telah membubarkan status ORMAS mereka.

Lalu mengapa mereka tak mau ganti tagar menjadi #2019PrabowoPresiden? PKS adalah partai politik transnasional mempunyai garis komando dengan Ikhwanul Muslimin (IM) yg dikomandoi Yusuf Qadrawi, tujuan dari partai ini adalah membentuk Jamiatul Muslim, ini mirip sistem khilafah ala hizbut tahrir yaitu penyatuan negeri-negeri muslim dalam satu komando internasional.  Perjuangan PKS atau IM dilakukan dengan mulai mengambil alih jabatan-jabatan strategis di negara-negara muslim dari mulai walikota/bupati, gubernur, sampai presiden.  Jika negeri Muslim seperti Malaysia, Indonesia, Turki juga negara-negara lainnya dikuasai oleh kader-kader IM maka aliansi Jamiatul Muslimin akan mudah terbentuk.  Jamiatul Muslim ini akan melawan haegomoni USA yang mengusung Kapitalis Liberalis Demokrasi.  Tampaknya PKS melihat Pak Prabowo pada saat ini, setelah tidak memilih capres rekomendasi Ijmak Ustadz, tidak mampu mereka kendalikan.  Bahkan sebaliknya, Pak Prabowo yang nasionalis dan cinta NKRI ini malah membalikkan posisi memanfaatkan mereka.  Inilah sebabnya tagar tersebut bertahan.  Bagi HTI sendiri tidak terlalu penting siapa presidennya, yang paling penting Presiden itu memberikan kebebasan untuk mendakwahkan KHILAFAH dan #GANTISISTEM diberikan ijin #DEMO dan menggelar acara-acara seminar dan konferensi #KHILAFAH.  Pemerintahan Pak Jokowi dianggap mematikan dakwah khilafah mereka, mereka pun tidak yakin Pak Prabowo akan mendukung ide khilafah.  Inilah sebabnya mereka mendukung hastag ganti presiden bukan #2019PrabowoPresiden atau #2019TetapJokowi.  Gerakan ini sebenarnya bisa mengancam tidak hanya pada Jokowi tapi juga pada Prabowo kalau terpilih.  Berikut bukti digital ancamannya.

Screen Shot 2018-09-01 at 03.29.12

Kenapa gerakkan ini kok kader-kadernya militan ya? Pertanyaan itu sering dilontarkan pada saya.  Sebagai “pakar mantan” saya cuma bisa jawab, (1) karena DORONGAN IDEOLOGI.  (2) karena cuci otak dalam liqo/halaqoh tiap minggu. (3) karena penutupan keterbukaan berpikir.   Yuk, kita bahas satu-satu!

  1. Dorongan ideologi.  Mereka diyakinkan bahwa sistem yang dianut Indonesia dengan Pancasila dan Demokrasi adalah sistem bathil, sistem kufur, sistem thogut.  Sistem yang tidak sesuai dengan teks al qur’an, hadits, dan ijmak shahabat.  Mereka diyakinkan bahwa sistem yang dianut Indonesia saat ini tidak sesuai dengan contoh Rasulullah saw dan para Shahabat, oleh sebab itu perlu dibubarkan dan diganti dengan sistem islam.  Para pejuang sistem ini dijamin surga, dikatagorikan sebagai mujahid, dan orang-orang Idealis . Adapun para pejuang Pancasila dan Demokrasi dianggap mereka sebagai orang-orang Pragmatis atau Liberal bahkan tidak jarang mereka melontarkan perkataan “munafik” dan “komprador” pada umat islam yang memperjuangkan Pancasila dan Demokrasi. Hal yang mereka lupakan, “NKRI dan Pancasila lahir dari Ijmak Ulama 1945, ada ulama dari Masyumi, NU, Muhammadiyah, dan lainnya.  Semua ulama dengan komponen bangsa lain bersepakat menerapkan ideologi Pancasila dan NKRI.  Ulama saat itu menyepakati ideologi negara Indonesia dengan dasar kepentingan umat islam. Selayaknya kita sebagai umat mempercayai keputusan ulama, karena Ulama adalah pewaris para Nabi SAW”.   Dorongan ideologi yang membabi buta, melupakan konteks dimana mereka tinggal.  Bahkan mereka lebih percaya pada ulama-ulama yang tinggal di Timur Tengah untuk mengatur gerak dakwah di Indonesia, ketimbang petuah para ulama Indonesia.  Ulama timur tengah pemimpin IM dan HT mengatur gerak dakwah di Indonesia, menyamakan Indonesia dengan kondisi masyarakat timur tengah menciptakan gejolak.  Sementara para ulama Indonesia yang tidak sesuai kemauan mereka, mereka sebut sebagai ULAMA SU [ 1, 2, 3, 4, Astagfirullah….keji bukan?].
  2. Liqo/halaqoh adalah kegiatan rutin 2 jam dalam satu minggu.  Pada kegiatan ini para kader atau anggota PKS/HTI diberi asupan pemikiran.  Tujuannya menjaga agar kader tidak terpengaruh pemikiran dari luar gerakkan dakwah mereka.  Bisa dikatakan kegiatan ini merupakan kegiatan cuci otak agar pemikiran dan langkah mereka sama.  Opini yang dikeluarkan setiap anggota sama.  Apa yang harus dilakukan di masyarakat maya dan real sama.  Anggota yang jarang liqo/halaqoh pemikiran dan langkahnya boleh jadi menyeleweng dari khittah (garis komando) mereka.  Oleh karena itu peraturan liqo/halaqoh ini sangat ketat.  Liqo/halaqoh ini wajib dihadiri, dan diberi sanksi jika tidak hadir tanpa uzur syari’. Sanksi terberat adalah dikeluarkan.
  3. Menutup keterbukaan berpikir.  Selain liqo/halaqoh juga ada mutaba’ah.  Kegiatan ini diisi dengan (1) mengecek  EFEKTIFITAS OPINI MINGGUAN YANG DISEBARKAN PADA MASYARAKAT dengan pertanyaan “sudah sebar opini dimana saja? sasarannya siapa, lembaga mana? efektif atau tidak penyebaran opini tersebut? siapa yang berhasil direkrut atau menyetujui opini ini?  (2) menegur, para anggota yang dianggap beropini atau bertindak tidak sesuai dengan yang digariskan partai (gerakan islam ini) akan ditegur bahkan disalahkan.  Tidak ada kebebasan berpikir dan berpendapat.  Pikiran dan pendapat anggota/kader harus sama dengan pikiran/pendapat partai.  Jika membandel, maka diberi sanksi….sanksi terberat yaitu dikeluarkan.

Jadi, sebagai warga masyarakat yang masih cinta hidup di Indonesia.  Hidup damai dengan Pancasila warisan para Ulama45.  Maka sebaiknya berhati-hati dengan gerakan-gerakan ini.  Semoga #わかりました。

 

Lagu Asian Games 2018

Ada 13 lagu mengiringi Asian Games, dua lagu pertama banyak di-cover oleh berbagai penyanyi di Asia untuk ikut menyemarakan ASIAN GAMES.  Lagi Via Vallen bergaya dangdut modern adalah lagu yang banyak di-cover artis Asia [See here].  Akhirnya lagu ini menjadi THEME SONG utama.  Liriknya yang membangun para petarung juga para penontonnya seperti saya ini dia liriknya “Kalau Menang Prestasi Kalau Kalah Jangan Frutasi, menang kalah solidaritas, kita galang sportivitas“.   Lagu ini mengalahkan lagu utama yang sudah dicanangkan sebelumnya dinyanyikan beragam artis Bright the Sun.  Lagu Bright the Sun termasuk lagu kedua yang banyak di-cover artis-artis Asia [See here].

Eh, selagi kita bergembira ada loh yang nangis dipojokan sambil bikin postingan “Hamburin uang 1/2 triliyun sementara lombok berduka” ada juga yang komentar “Apaan gaya presiden kekanak-kanakan gitu pake naik-naik motor membuka ASIAN GAMES” ada pula yang bikin isu “Semua acara spektakuler itu dibikin sama Om Anies, dia bekerja dibalik layar….untuk hal ini mari kita tertawa karena Direktur Kreatif Opening Ceremony Asian Games adalah Wishnutama Kusubandio selama 1,5 tahun atau sebelum Anies jadi Gubernur (See here!).  Walaupun Gubernur Anies dan Gubernur Alex Noedin serta jajaran tentu saja berperan benahi Jakarta dan Palembang dalam menerima tamu para Atlet dan Official ASIAN GAMES.   Nah, sudah kita perkirakan siapa yang bikin postingan seperti itu kan? Tentu saja siapa yang share postingan seperti itu kita juga sudah deteksi siapa saja.  Maksudnya apa dan maunya apa kita sudah tahu.  Lagi-lagi dikaitkan urusan politik dan keinginan merebut kekuasaan di Indonesia, jadi aja “nyinyir wae”.  Prestasi pemerintah di mata mereka salah semua.  Jadi biarkan saja mereka yang benci sama keberhasilan Pemerintahan Indonesia.  Kita cuma bisa mengasihani mereka.  Lebih baik kita simak lagu-lagu ASIAN GAMES!

1. Meraih bintang

2. Bright the Sun

4. Unbeatable

5. Janger Persahabatan

6. No Political Asian Dance

7. Cita kita baru

8. Dance to night

9. Menaklukkan dunia

10. Be alright

11. Kemenangan

12.  Asia’s who we are

13. Indonesia berpesta

Sayangnya, di itunes lagunya dijual satuan, tidak per-album. Any way bus way selamat menikmati! Ojo, ceurik di sudutan toh! Kayak anak ilang aja!

Jokowi Amin atau GOLPUT? #saveNKRI

Jokowi Amin….. (nb. kalau saya membaca frasa ini, serasa do’a berkah untuk sebuah pertanyaan, “Siapa Presiden Indonesia 2019-2024? insyaalloh “Jokowi! Aamiin!”).  Hal yang sama jika Prabowo berpasangan dengan Amien Rais, frasanya menjadi “Prabowo Amien”

Bagi saya pribadi pasangan Jokowi Amin cukup mengagetkan, karena sejak awal saya menduga Pak Mahfud MD yang akan berpasangan dengan Pak Jokowi.  Pak Mahmud MD tidak diragukan lagi keilmuan dalam soal ketatanegaraan dan agama.  Namun gelarnya beliau belum nyampe Kyai atau Ulama.  Partai koalisi Jokowi yang tidak pernah membahas ‘ijmak ulama’ pada akhirnya memilih seorang Kyai seorang ulama untuk mendampingi Jokowi. Sementara partai oposisi yang sudah melakukan Ijmak Ustadz sudah mengeluarkan dua nama Ustadz yang dipilih, pada akhirnya berlabuh pada sosok Pengusaha Muda.

Secara pribadi, saya menghaturkan terima kasih kepada Jokowi dan Partai Koalisinya yang menempatkan kepentingan bangsa Indonesia, bagaimana PILPRES dapat berjalan bukan hanya aman, namun juga damai dan tentram serta gembira.  Terima kasih yang sangat dalam juga untuk Pak Prabowo, Bapak telah menunjukkan secara cermat keluar dari tekanan yang begitu menghimpit demi keutuhan NKRI Pancasila juga. Brovo Jenderal, from the bottom of my heart i salute you

Hal yang menarik adalah pilihan partai koalisi Jokowi terhadap Pak KH. Ma’ruf Amin.  Menyandingkan antara Ulama dan Umaro.  Saya sendiri follower beberapa tokoh yang punya pandangan beragam tentang posisi ulama dan umaro dalam pemerintahan (islam khususnya), dalam diskurs ini paling tidak ada dua pendapat yaitu:

  1. Pemisahan ulama dan umaro.  Umaro atau pemimpin pemerintahan haruslah orang yang ahli dalam manajemen pemerintahan yang dibuktikan dengan pernahnya menjabat di pemerintahan level walikota, gubernur, pada akhirnya presiden.  Adapun ulama posisinya sebagai dewan penasehat umaro, posisi lebih tinggi dari Umaro.  Namun tidak setiap nasehat dari Ulama bisa ditelan mentah-mentah oleh Umaro.  Pemisahan seperti ini terjadi pada pemerintahan Syiah seperti di Iran.  Juga pada sistem monarkhi seperti sistem sultaniyah atau kerajaan.  Termasuk kesultanan-kesultanan di Nusantara seperti Ternate, Jogja, Solo, dan lainnya.
  2. Penyatuan antara ulama dan umaro.  Seorang umaro lebih afdol jika dia seorang mujtahid pada konteks ini maka dia adalah Umaro yg juga Ulama.   Pandangan seperti ini diadopsi oleh sistem khilafah islamiyah atau Negara Islam Indonesia.  Pada zaman kekhilafahan islam ada Umar bin Khatab, Abu Bakar Sidiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib….keempatnya adalah Umaro sekaligus Ulama yang dibina langsung oleh Nabi SAW.  Pada konsep #NeoNII unggulan dari calon gubernur selalu dibangkitkan sisi kefakihannya dalam agama, misalnya hafidz quran.  Jika pun tidak maka pasangan wakilnya haruslah unsur umaro-ulama, berdasarkan pandangan ini maka wajar jika kelompok tokoh agama islam pengusung #NEONII melakukan ijmak untuk memilih ustadz yang layak menjadi cawapres.

Ketika koalisi Jokowi menyandingkan Umaro-Ulama maka sesungguhnya pola ini mendekati sistem ideal kekhilafahan islam. Umaro dan ulama sejajar dalam membimbing bangsa Indonesia menuju baldatun toyibatun warobun ghofur.  Dengan masuknya unsur ulama juga ahli ekonomi syariah, saya membanyangkan bergejolaknya ekonomi real dan mulai dibumikannya mata uang berlandaskan emas yang boleh jadi akan menggantikan dominasi dollar.  Pembangunan mental dan spiritual akan makin subur.  Nasionalis religius….menjadi ruh dalam membangun Indonesia.  Ruh jamai’ pasangan Jokowi-Amin adalah islam nusantara, islam  yang toleran terhadap multikultur, multi ethnis, dan multi agama.

Lalu mengapa mereka yang memperjuangkan kekhilafahan islam dan #NeoNII tetap “nyinyir” dengan keputusan ini? Apalagi kelompok #NeoNII sangat paham siapa Kyai Ma’ruf Amin.  Beliau lah yang membuat fatwa sehingga lahir GNFMUI yang berjilid-jilid demo di Monas.  Mengapa setelah digandeng Jokowi cs, kelompok #NeoNII tetap membenci? Ini semata-mata karena Jokowi dan koalisinya yang menyadari bahkan menghalangi mereka bisa bangkit dalam menghimpun kekuatan umat islam untuk melakukan revolusi menggantikan pemerintahan NKRI berdasarkan pancasila menjadi pemerintahan NKRI BERSYARIAH sebagai cikal bakal dari Kekhilafahan islam.  Ini “nyinyir” ideologis.   Beberapa isu yang dimunculkan anggota kelompok Nyinyir ideologis adalah:

  1. KH Ma’ruf Amin sangat mulia, tidak pantas dijadikan pilihan politik.
  2. Jokowi butuh suara umat islam.
  3. Pemilihan KH. Ma’rif Amin sekedar perisai untuk menutupi kedzaliman Jokowi terhadap umat islam.
  4. ……dan isu-isu lainnya yang akan terus diproduksi oleh mereka untuk membuat masyarakat pemilih Jokowi GOLPUT.

Praktek kelompok #nyinyir ideologi ini di lapangan kemudian dibagi menjadi dua:

Kelompok Nyinyir ideologis pertama:  Selain isu yang telah disebutkan di atas, akan dimunculkan juga isu HARAM-nya memilih pemimpin dalam sistem demokrasi kufur, walaupun calonnya itu Seorang Kyai, namun karena sistem yang dibangunnya adalah demokrasi, dan demokrasi sistem kufur, maka memilih Kyai pun tetap haram.  Dengan Nyinyir #ideologis seperti ini mereka berharap masyarakat banyak yang GOLPUT, sehingga pemimpin terpilih nanti tidak menggambarkan legitimasi hukum.

Kelompok Nyinyir ideologis kedua: tidak mengajak golput, namun mengajak memilih koalisi partai yang bisa mereka stir.  Namun tak mudah menyitir calon presiden sekarang!

Sudah jelas koalisi 9 Partai Jokowi sangat solid tidak bisa mereka stir, justeru sebaliknya kelompok ini bisa distir dan dibanting jika bertindak membahayakan NKRI Pancasila.  Bagi kelompok Jokowi Amin sudah sangat jelas “NKRI Pancasila adalah perjuangan para pendiri bangsa termasuk di dalamnya para ulama dari NU.  Mempertahankan NKRI dan Pancasila adalah bentuk ke-tsiqoh-an pada para ulama pendahulu”.   Maka kelompok Jokowi cs karena tidak bisa mereka stir, bahkan jika kelompok #NeoNII ini masuk pada kelompok ini, mereka akan diminta tobat untuk kembali pada Islam Nusantara.  Oleh sebab itu Jokowi cs akan menjadi lawan abadi mereka.  Labeling “pendukung penista agama” walaupun di dalamnya ada Kyai yang menginisiasi gerakan demo berjilid-jilid, tetap akan terus disematkan pada kelompok Jokowi cs untuk memenangkan pertarungan ini.

Adapun Gerindra dan Demokrat juga bukan partai yang gampang distir, sudah terbukti dari keputusan Pak Prabowo memilih Sandiaga Uno.   Demokrat dan Gerindra sebagai partai nasionalis saya yakin menjaga NKRI Pancasila.  Bagi Gerindra/Demokrat bergabungnya orang-orang kelompok #NeoNII ini ke partai mereka bisa dianggap sebagai simbiosis komensalisme.  Militansi dan kesolidan mereka bisa dimanfaatkan untuk kampanye mendulang suara.  Walaupun kampanye mereka penuh hujatan SARA dan politik identitas, namun selama keberadaan mereka menguntungkan dan tidak merugikan mengapa tidak? Toh secara pribadi  Prabowo-Gerindra dan SBY-Demokrat bukan orang atau kelompok yang mudah di-stir oleh kemauan mereka.  Ideologi Gerindra dan Demokrat jelas ‘Nasionalis Pancasila’, tinggal kekuatan keduanya untuk tetap istiqomah ditengah gempuran pihak-pihak #NeoNII.

Tadinya saya berhadap PILPRES kali ini dengan berpasangannya Jokowi dengan Ulama bisa dijalani oleh warganet dengan nyaman dan damai, namun rasanya nyamannya hanya sesaat saja.  Sehari setelah deklarasi capres-cawapres keributan mulai kembali.  Ya, sudahlah kita tutup toko aja selama PILPRES.

 

Hidup bebas atau hidup teratur?

Saya sangat memegang teguh filosofi hidup dari ushul fiqh, “Setiap perbuatan terikat kepada hukum syara“.   Inilah yang saya ajarkan pada anak-anak saya, bagaimana EGO mereka berkompromi dengan peraturan baik agama, negara, sekolah, etika, dan adat.  Tidak ada istilah dalam keluarga saya “SEMAU GUE” karena keinginan kita dibatasi dengan keinginan orang lain dan hukum. Tidak ada istilah “BREAKING THE LAW” atau aturan dibuat untuk dilanggar, tapi aturan dibuat untuk kemaslahatan bersama.  Tidak bisa keukeuh mengatakan “HARUSNYA ITU BEGINI” yang ada adalah bagaimana “WIN WIN SOLUTION“.  Jangan pernah keinginan dan rasa idealisme kita menabrak aturan-aturan yang ada.

Sebagai pendidik inilah yang bisa kita lakukan, yaitu mengajarkan betapa pentingnya sebuah aturan yang tentu saja harus dibarengi dengan rasa kemanusiaan.  Hidup tidak EGOIS, namun penuh harmoni sehingga mencapai kedamaian.  Berikut ini adalah petikan cerita moral yang biasa diajarkan pada anak-anak di sekolah.   Mari kita simak, dan pikirkan!

KOTA BEBAS I

bebas.png

Di sebuah negeri terdapat kota yang dinamakan Kota Bebas.   Di kota ini tidak ada “aturan”, siapapun dapat berbuat sesukanya. Mendengar hal tersebut, orang-orang dari kota lain berbondong-bondong pindah ke kota tersebut sehingga kota pun menjadi padat. Pada awalnya semua orang merasa senang karena mereka dapat berbuat seenaknya. Tetapi seiring dengan berjalannyawaktu, berbagai masalah pun terjadi.

Pada suatu ketika….

Dua anak laki-laki bertengkar di pinggir kali.   “Hey, itu adalah ikan yang aku pancing, jangan kamu bawa seenakmu,” kata anak lelaki yang satu. “Gak, di kota ini kita bisa lakukan apapun sesuka kita, kita juga bisa mengambil ikan yang dipancing orang lain,” kata yang anak lelaki satunya lagi.

Di terminal bus juga orang-orang banyak yang bertengkar. Ketika bus yang ditunggu datang, mereka berebut naik bus, terjadilah keributan….“Saya yang menunggu duluan, harusnya saya yang duluan naik, ngantri dong!” “Aduh, jangan dorong-dorong dari belakang dong bahaya! kan masuknya hanya bisa satu-satu,” “Minggir-minggir, aku capek habis kerja, aku pengen cepat naik dan duduk,” Di kota ini kan gak ada aturan, siapapun dapat melakukan apapun, jangan protes! saya naik duluan!”

Di depan rumah juga dua orang ibu-ibu bertengkar satu sama lain. “Tunggu, ibu jangan buang sampah basah di depan rumah saya dong! Itu kan mengganggu.” “Lho memang ada aturan gak boleh buang sampah di depan rumah orang? Sampah basah kan bau, aku buang di depan rumah mu aja, dari pada di depan rumah ku?”

Begitulah di kota itu.  Keributan demi keributan sering terjadi di berbagai tempat!

Bagaimana menurut kalian tentang hidup di Kota Bebas yang tidak punya “aturan” Apa yang ada di benak orang-orang yang bertengkar dalam cerita di atas?

KOTA BEBAS II

bebas3.png

Pada awalnya orang-orang yang tinggal di Kota Bebas sangat senang, mereka berpikir dapat berbuat sesuka hati. Namun mereka sadar bahwa banyak masalah yang timbul karena hal itu. Kemudianmereka pun memohon kepada walikota untuk membuat beberapa aturan. Walikota pun dengan penuh semangat membuat peraturan untuk kotanya. Walikota membuat lima peraturan yang harus ditaati oleh warganya.

Peraturan di Kota Bebas

  1. Orang yang mengambil barang orang lain dihukum satu bulan penjara.
  2.  Orang yang menyalip antrian pada saat menunggu bis didenda 100 ribu Yen.
  3. Orang yang membuang sampah sembarangan dihukum satu bulan penjara.
  4. Orang yang berbohong dihukum satu bulan penjara.
  5. Sarapan pagi harus selesai sampai jam 7 pagi. Orang yang tidak mematuhinya dihukum satu bulan penjara.

Selain aturan-aturan tersebut, Walikota juga membuat berbagai aturan lain, lalu menempelkannya di berbagai tempat di kota itu. Dengan aturan-aturan tersebut, orang-orang pun senang hidup tanpa ada pertengkaran.

Akan tetapi masalah lain kini timbul dan orang-orang merasa terganggu…..

Seorang anak menangis di pinggir jalan. Anak ini membeli makanan ringan ketika pulang sekolah. Anak ini bermaksud membuang bungkus makanan tersebut ke dalam tong sampah, namun karena tertiup angin, bungkus itu keluar dari tong sampah. Tidak jauh dari tempat tersebut seorang anak lain melihatnya dan melaporkan kepada orang dewasa. “Anak ini tidak membuang sampah pada tempatnya, oleh karena itu harus dihukum satu bulan penjara.” Anak yang pertama tadi menangis, “Aku buang bungkus tadi ke dalam tong sampah, tapi karena tertiup angin, bungkus tadi keluar, aku bermaksud mengambilnya dan memasukkan lagi ke dalam tong sampah, masa aku harus dipenjara satu bulan?”

Di depan rumah lain, seorang anak perempuan menangis…. “Pagi ini aku bangun. Karena Ibu sakit dan tertidur, aku cepat-cepat masak menyiapkan sarapan pagi, tetapi keluargaku seisi rumah tidak dapat selesai sarapan sampai jam 7. Keluargaku harus dihukum satu bulan penjara,….hiks hiks…”

 

Di sekolah, anak-anak bertengkar…. “Pensil ini tadi terjatuh di lantai, aku hanya kebetulan memungutnya. Aku tidak mencuri dari siapapun,”  “Gak!, kamu harus masuk penjara satu bulan, karena mengambil barang yang kamu gak tahu siapa pemilikinya, itu sama dengan mencuri” “Tunggu! Dalam aturannya gak tertulis seperti itu. Kamu berbohong. Kamu lah yang harus masuk penjara,”

Sudah capek-capek aturan pun dibuat, tetapi orang-orang di kota itu tetap saja menghadapi berbagai masalah, lama-lama kelamaan mereka merasa kesal juga. “Untuk apa sebenarnya aturan dibuat?”

Bagaimana menurut pendapat kalian tentang hidup di kota seperti ini di mana aturannya sangat lengkap dan rinci? Mengapa masalah terjadi padahal ada aturan Apa yang penting agar hidup kita nyaman?