EcoSedekah: sedekah dari barang bekas layak pakai

Kata siapa bersedekah itu harus menunggu kaya? Kata siapa pula bersedekah itu harus dari barang2 yang bagus dan selalu baru?  Barang bekas pun bisa dipakai untuk bersedekah!!! Bagaimana caranya???

Dari mana ide awalnya? Dulu waktu saya ngajar di MI Asih Putera, Bazzar Ramadhan adalah kebiasaan kita.  Saya sih tidak terlalu tertarik pada point, bazis AP yang bisa mengumpulkan dana, membelikan sembako dan menjualnya dengan harga murah pada masyarakat.  Saya tidak tertarik dengan itu.  Bagi saya itu bukan keunggulannya,  tetapi keunggulan dari Bazzar Ramadhan MI AP adalah pengumpulan dan penjulan barang2 layak pakai.  Para siswa mengumpulkan berbagai barang layak pakai dari mulai baju, sepatu, dan sandal, kemudian guru men-sortirnya dan memberikan harga murah pada tiap baju dan barang lainnya itu.  Harganya mulai dari IDR 500, 1.000, 5.000 dan 10.000; tentu saja banyak masyarakat membutuhkan baju yang lumayan untuk sehari-hari bahkan untuk lebaran.

Pada tahun 2006, ketika saya kembali ke MI AP, saya gulirkan juga untuk mengumpulkan koran, botol, termasuk botol dan gelas plastik yang banyak tercecer setiap harinya di sekitar sekolah, bekas minum anak2, selama ramadhan kami membiarkan kelas kami, penuh dengan tumpukan botol bekas dan koran bekas.  Biasanya di kelas saya, sediakan kardus tempat botol bekas, kalau siang para OB mengambilnya untuk mereka kumpulkan dan jual.  Nah, khusus ramadhan, kami menumpuknya!!!  Seingat saya dari beberagai tumpukan barang bekas itu, kami mendapatkan dana sekitar 200 ribu-an, yang kemudian disumbangkan pada yayasan yatim.

Saya menyebut rangkaian, menjual barang-barang bekas yang kemudian uangnya digunakan untuk sedekah sebagai eco-Sedekah.

Apa yang dilakukan di MI Asih Putera itu, yang menginspirasi kami melakukan hal yang sama di Sekolah Hikari pada Ramadhan 1433 H kemarin.   Hanya saja, polanya dibedakan.  Kami, lebih mengaktifkan siswa.  Siswa sendirilah yang menjual barang layak pakai yang mereka kumpulkan dan itu milik mereka.   Mereka pun yang menentukan hasil penjualannya, “Mau disumbangkan berapa untuk keperluan sedekah?”

Walhasil, banyak penjual cilik, yang baru kelas 1-2 SD memajang dagangannya, ada yang menjual sepatu yang sudah tidak terpakai milik mereka, baju, bahkan pensil2 yang masih layak pakai.  Anak-anak sangat senang, mereka menjadi penjual beneran.  (Ingatkan, waktu kecil, permainan apa yang paling kita senangi? main jual-jualan bukan? Disini mereka jualan beneran dan mendapatkan uang beneran, bayangkan senangnya wajah anak2 itu bukan?)

Dengan model eco-sedekah seperti ini, banyak nilai yang bisa diambil siswa.  Kesenangan dan kepuasan adalah hal yang pasti mereka dapatkan, decision making [berapa harga barang ini harus dijual, berapa hasil yang akan saya sumbangkan] itu kita tumbuhkan lewat kegitan ini, kesetiakawanan dan berbagi merupakan tujuan utama dari kegiatan ini, tak lupa kegiatan ini adalah bagian dari prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), matematika, bahasa, dan banyak hal lainnya bisa diperoleh anak dari kegiatan ini!!!

Berapa rupiah yang didapatkan dari penjualan barang2 layak pakai ini? Lebih dari 1 juta terkumpul sudah dari kegiatan ini.  Jumlah yang lumayan besar, karena siswa di SD Hikari pada Ramadhan 1433 baru berjumlah 64 siswa, terdiri dari kelas 1 dan 2 saja!

Jadi, siapa yang terinspirasi untuk melakukan eco-sedekah??? Ayo!!!!  Tak perlu menunggu kaya untuk sedekah bukan? dan tak selalu harus memberikan yang terbagus, tapi pola 3R pun bisa untuk sedekah!!!

– See more at: http://yantiherlanti.com/?p=292#sthash.K5Hgw54B.dpuf

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s