Trend bacaan kita

Waktu saya sd atau smp tahun 80-an tokoh lima sekawan dan trio detektif selain tokoh komik model tintin memiguri anak2 indonesia yg suka baca.  Tokoh di buku itu ya dari Eropa dan Amerika.

Anak2 sekarang pun tetep punya tokoh favorite dalam bacaan, tetapi pengimportnya beda…nama Aang, Naruto, Conan Edugawa jadi tokoh bacaan yg lekang pd anak2 indonesia era 2000.  Negara Asia Timur terutama Jepang menjadi trendcenter bacaan anak2 era 2000-an.  Miris dari 80-an sampai 2000-an tak ada pengarang anak dari Indonesia yg bisa jadi trendcenter.

Tampaknya memang tokoh petualang dan detektif menjadi fav. Anak2 di indonesia di setiap era.

Beranjak ke bacaan remaja,
Saya remaja pada akhir 1980-an dan awal 1990-an.  Saat itu rambut model duran2…baju gombrang2 dengan tangan dilinting….dan gambaran remaja era itu ada pada Lupus dan Olga.

Lupus dan Olga adalah tokoh imajinatif.  Lupus bikinan Hilman Hariwijaya, anak usil, usil, dan nekad… dengan rambut ala duran2 berkucir, baju lengan dilinting, kemeja gombang2, dan ditumpuk kaos. And gaya imajinatif Lupus pun banyak ditiru remaja saat itu.

“Olga” juga tokoh imajinatif karya Zara Zetira.  Hampir sama dengan Lupus dalam kecuekannya.  Mempertahankan jati diri.

Nah, tokoh remaja didominasi karya asli novelis indonesia.  Tokohnya imajinatif.  Tokoh imajinatif ini menjelma jadi trend.

Beda dengan remaja tahun 2000-an.  Karya yg digandrungi remaja saat ini bukan lagi novel tetapi The Real Epic.  Raditya Dika adalah iconnya.  Remaja ngefans dengan kambing jantannya atau malam minggu miko.  Mereka cerita ttg hidup mereka yg tentu saja dibuat lebay sehingga jadi lucu.
Lebay dan alay jadi icon remaja abad ini.  Tidak ada lagi tokoh imajinatif, yg ada bagaimana dirinya sendiri menjadi tokoh dlm episode kehidupan.
PD abiss and be your self jadi motto.

Apapun apakah imajinatif role model, atau konyolin hidup real yg dialami.  Kita gak pernah kekurangan penulis buat remaja yg membuat trendcenter.

Pada lini dewasa pun novel2 karya pribumi  tetap mendapat hati dari para pembaca.  Banyak film dibuat based on novel.  Sayangnya tokoh novel mostly 20-30 tahunan, kita gak kekurangan ide buat bikin cerita kehidupan diumur ini.

Nah, jarang yg mengangkat novel buat 40-50 tahunan.  Pdhl klu novel2 bule tetep banyak cerita untuk umur ini. Kita jarang banget.  Jika di AS ada The Comflicated cerita ttg percintaan after 50 thn, kita gak pernah bikin film kyk gini….belum ada novel angkat ini.

____________
The End
Note my thinking maybe for u is nothing .

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s