Oshin: The Legend #Film

image

Siapa org Indonesia era 1980-an yang tidak kenal Oshin??
Serial TV dari NHK Japan yg diputar TVRI menjadi legenda yg tak terkalahkan oleh film jepang lainnya.  Now Oshin The Movie is coming, cuma Filmnya hanya diputar di Blitzmegaplex sejak 29 Januari lalu.

Hari ini gue nonton filmnya di Blitzmegaplex Paris Van Java Bandung.  Blitz memang gak disetiap kota ada, gak seperti 21Cinemaplex atau Cinema XXI. Cek dimana aja adanya disini: https://www.blitzmegaplex.com

Setelah nonton selama 2 jam saya harus akui bahwa film ini bagus banget!  Saking menikmati alur ceritanya air mata saya terkuras abis!

Ok, let me say about alur! Semua sudah tahu alur panjang dari serial Oshin dari kecil sampe nenek2. Nah, alur cerita di film ini sangat cerdas dan tak rakus.  Acapkali film biografi terjebak pada sifat “rakus” kenapa saya bilang rakus? Krn film2 itu memborong semua kisah hidup dari kecil sampai dewasa bahkan mati…hingga esensi cerita yg mau disampaikan hilang dan film2 itu terjebak pada sebuah riwayat dan perjalanan saja! Film Oshin tak begitu! Sepenggal kisah saat Oshin berumur 7 tahun cukup mewakili perjuangannya.  Ekaplorasi perjuangan disegmen ini yg detail bercerita. Jadi nontonnya pun nikmat ga pake terpotong2.

Let me tell about moral of film! Nah, selalu saya ajak semua untuk nonton film yg punya nilai moral tinggi.  Nonton film Oshin bukan sekedar hiburan tapi penuh pesan moral.  Kejujuran dan komitmen menjadi ruh film ini! Sebuah nilai moral yg langka di negeri ini.  Lingkungan dan keluarga yg menjaga tinggi nilai moral ini.

Let me describe about character! Tahu dong film indonesia kalau udah antagonis selamanya antagonis, dan protagonis jadi menderita terus.  Hingga kita menyengit2 “ini di dunia nyata kejadian kayak gini?”  Di film Oshin…manusia adalah manusia bukan malaikat atau syaitan. Kayo yg antagonis berubah menjadi baik… pada majikan sebelumnya Oshin yg dituduh mencuri belakangan uangnya dikembalikan.   sebuah film yg manusiawi dan nyata dalam kehidupan. Rasanya film2 Indonesia harus belajar pada film Jepang bagaimana mengemas nilai moral tanpa mengurui dan tetap memposisikan sebagai hubungan antar manusia bukan hubungan antara malaikat dan syetan.

I just knew, Oshin talk about ecofeminism!!
Nah ini menariknya! Waktu serial film ini diputar di TVRI saya gak terlalu ngerti pesan mendalamnya, yang saya tahu tentang kegigihan dan perjuangan Oshin dari keluarga miskin sehingga sukses menjadi pedagang.  Sekarang saya lihat Oshin the Movie dg persepsi lain, persepsi sebagai seorang dewasa dengan banyak ilmu pengetahuan.  Dan saya melihat hal lain, sesungguhnya ini cerita tentang wanita!!! Sangat feminisme tapi bukan feminisme liberal.  Lebih pada ecofeminisme yaitu posisi wanita dalam keluarga yang sangat sentral sebagai ibu dengan naluri keibuannya dan isteri dengan keinginannya mematuhi dan mengabdi pada suami.  Pengabdiannya pada keluarga dan suami, terkadang harus mengorbankan perasaan dan harga dirinya.   Sangat menyentuh sekali saat Ibu Kuni mengatakan “wanita bekerja untuk dirinya, keluarganya, dan anak2nya
Dikatakan begitu saat Oshin kecil kecewa melihat pekerjaan ibunya menjadi menghibur pria mabuk.  Perkataan Ibu Kuni ini menyebabkan Oshin sadar…dan tidak kecewa dengan apa yang dilakukan ibunya, walau dalam pandangan kemasyarakatan ‘wanita penghibur’ kotor tentu saja.  Sangat NICE, tidak men-judge…tapi mencoba memahami.  EMPATI….!!! That’s it!

It’s about children labour but so touched!!! Pekerja anak!! Oshin adalah gambaran pekerja anak2 kalau konteks zaman sekarang ilegal. Tapi itu fakta yg banyak dijumpai pada keluarga miskin. Terpaksa mempekerjakan anaknya karena tuntutan ekonomi.  Menariknya film ini menggambar secara apik ttg metamorfosis persepsi Oshin kecil “Awalnya Oshin melakukannya dg terpaksa krn tuntutan ekonomi, pada kali kedua ia bekerja untuk menjaga wibawa keluarga….sebuah aib sebelum selesai masa kontrak telah kabur dari pekerjaan…dan kali ketiga ia berangkat dengan sukarela krn perubahan persepsi ttg wanita…” Sebuah gambaran yg sangat bagus…perubahan persepsi yg menyebabkan kegigihannya bekerja digambarkan apik….sekali.

Sampai disini, saya masih berpikir2, ini film ceritanya sarat moral, tapi kok gak ngebosenin.  Sampai2 saya nahan pipis demi menuntaskan frame by frame tanpa ketinggalan.  Gambar dan pengambilan anglenya pun menarik.  Gak usah terlalu banyak ngomong, tapi body language dan sorot mata udah bicara.  Jempol deh!!  Gak usah cerita bahwa ayahnya dibalik kerasnya mencintai Oshin! Cukup dengan menggambarkan adegan menghantarkan Oshin untuk bekerja.   Gak usah adu mulut untuk memperlihatkan Oshin kecewa dengan pekerjaan ibunya, cukup dengan dia terduduk dan menangis.  Gak usah mengatakan I Love U ribuan kali, cukup binar mata yang bicara.  Wah!!! berapa jempol harus diacungkan nih???

Pokoknya gak rugi kalau nonton.  So! Mengapa gak buru2 nonton??Keburu gak diputar lagi loh! Karena apa? Penontonnya sedikit.  Saat saya nonton pun ruangan blitzmegaplex hanya berisi 11 orang, 9 orang Indonesia dan 2 orang lagi seorang ibu dan anak kecilnya warga Jepang.  Ini tontonan SU jadi ajak kakek nenek ibu ayah dan anak2 untuk bernostalgia.  Sungguh saya lebih memaknai film ini ketimbang waktu kecil saya rajin nonton serialnya.  #Stoppiracy-Nontonlah di Bioskop!!

Advertisements

5 thoughts on “Oshin: The Legend #Film

  1. wah saya ga sempet nonton bun, sudah keburu turun… nunggu dvd nya saja deh 🙂

    mungkin jika semp[at nonton way back home, ceritanya bagus juga bun, saat ini masih ada di blitz kalo ga salah 🙂

  2. dulu saya tidak pernah nonton oshin di tvri… males nonton drama panjang yang harus nunggu seminggu sekali. saya juga tidak nonton saat oshin the movie diputar tahun 2013. saya baru nonton oshin the movie di tivi kabel pada tahun ini, 2015. itu pun nontonnya sudah 1/4 jalan.. setuju dengan semua catatan dsini. filmnya sangat bagus dan mendorong saya mencari di youtube.. Alhamdulillah semua seri cukup lengkap.. jadinya dalam dua minggu ini saya nonton seri oshin yang dulu tidak pernah saya tonton di tvri. banyak pelajaran yang bisa kita ambil disini.

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s