Golput or Golhit?

9 April 2014 mulai memanas. Bukan sekedar perang survei dan klaim siapa yang bisa menduduki kursi nomor 3, tetapi juga sebagaian partai meributkan golput.  Beberapa politisi menggunakan jalur hukum, menghendaki adanya hukuman bagi orang yang golput (bukan sekedar mereka yang menyerukan golput ya?).  Beberapa politisi minta fatwa pada ulama agar golput dihukumi haram, ada juga yang minta pada pendeta untuk menghimbau umatnya tidak golput.  Bahkan sebagian politisi dan partai menakut-nakuti masyarakat agar tidak golput dengan alasan SARA (padahal ini gak boleh hukumnya ya?), misalnya kalau golput parlemen akan dikuasi agama X, aliran X, dsb.

Golput cukup meresahkan? Ya, betapa tidak golput pemenang di setiap pilkada, mereka menduduki hampir 40% suara.  Media massa juga melasir partai sosial media (Media Sosial Addict) lebih cenderung golput.  Berbagai alasan golput, dari masalah teknis (PEMILU dilaksanakan pada jam kerja),  masalah pilihan (PEMILU menawarkan calon2 yang tidak mewakili aspirasinya), dan masalah ideologi.

Bahayakah GOLPUT??

GOLPUT bagian dari demokrasi.  Jika GOLPUT dilarang, dipenjarakan, dan diberangus, maka bisa dipastikan negara ini bukanlah negara demokrasi.  Jika memang MENDEKLARASIKAN DIRI SEBAGAI BAGIAN DARI DEMOKRASI, harus juga memiliki sikap DEMOKRAT yaitu menghargai dan respect terhadap perbedaan….”GOLPUT adalah buah perbedaan pikiran”.   GOLPUT bukan sebuah bahaya justeru penyeimbang.  Dulu ada Blok Barat dan Blok Timur, nah Indonesia memilih menjadi NON BLOK, Indonesia dan NON BLOKnya menjadi blok tersendiri sebagai penyeimbang peta politics dunia.

Menurut saya GOLPUT menjadi sebuah kekuatan OPOSISI yang paling jujur dan tidak pamrih.  Mereka bekerja mengawasi jalannya pemerintahan, mengkritik, dan beraksi jika ada yang salah. Nah, lihatlah berapa banyak UU yang dibatalkan oleh gerakan massa ini?  Partai dan kadernya yang duduk di SENAYAN tak mungkin ikut berdemo dan melakukan class action untuk membatalkan UU bukan?  Jadi kalau dikatakan berbahaya, pada kenyataannya mereka justeru menjadi PENYEIMBANG opini dan aksi yang paling jujur untuk membela rakyat.

Golongan putih adalah antitesa dari golongan hitam.  Jika semua dipaksa menjadi golongan hitam dengan FATWA NERAKA dan PENJARA, maka kita tidak akan pernah kenal warna putih.  Jadi mau jadi golput atau golhit biarkan saja itu kan pilihan setiap orang.  Sumbangan terhadap negeri tidak hanya melalui jalur politik, tetapi juga ada bidang lainnya sosial, budaya, keamanan…dll.   Selama mereka yang golput tetap bayar pajak, ikut aturan negara termasuk aturan lalu lintas, dan berpartisipasi membangun negara….GAK MASALAH BUKAN?? dan bukan suatu aib, yang tidak boleh dilakukan adalah menjadi teroris dan melakukan kekerasan!    

Advertisements

3 thoughts on “Golput or Golhit?

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s