Refleksi PILEG 2014

Pestanya demokrasi usai sudah! Walau hasil pasti belum diperoleh, namun quick count menunjukkan 3 besar berada di tangan PDI-P, Golkar, dan Gerindra.  Ada sih partai yang masih berharap menjadi tiga besar dan pada saat ini sedang terus memburu formulir C1, partai yang dari awal yakin dengan target 3 besar, kebetulan juga partainya no 3.   Tapi tampaknya data-data berbicara, hasil quick count berbagai lembaga survey menunjukkan partai ini terlontar dari 5 besar!!!

Jika PDI-P dan Golkar perolehan suaranya melesat! Kita tidak perlu heran, karena kedua partai ini pemain tangguh di kancah politik Indonesia.  PDI-P pernah diguncang di ORDE BARU, partai ini pun keluar dari PDI mendirikan PDI-P dan sempet memperoleh 33% pada PEMILU REFORMASI, ketangguhannya terbukti.  GOLKAR pun begitu, berbagai petingginya menciptakan partai2 baru mulai dari HANURA, PD, NASDEM, GERINDRA, dan PKPI…namun suaranya tetap bertengger dan tetap kokoh dalam berbagai goncangan.  Kasus korupsi di partai ini banyak tentu saja, namun korupsinya tidak sampai melibatkan ketua partai, sehingga efeknya pada masyarakat tidak begitu besar, karena kronco2 yang melakukan korupsi bukan para elitnya.

Suara yang terjun bebas dialami oleh Partai Demokrat.  Kegagalan SBY bersikap tegas dan terlalu lambat dalam mengambil sikap, serta korupsi yang membelit kader juga ketua partainya disinyalir menjadi sebab menurunnya simpati rakyat.  Ditambah lagi, kegagahan dan kegantengan SBY makin memudar, membuat ibu2 yang awalnya mengidolakannya menjadi surut pada masa kini (#justJoke but Real).  Partai ini susah MOVE ON….  tampaknya, #sebaSalah…

Satu partai lagi yang ketua partainya terlibat urusan dengan KPK karena kasus suap daging sapi adalah PKS.  Suara partai ini pun melorot sekitar 1-2% saja, memang gak se-tragis PD yang terjun bebas, tapi tetap saja gagal menempati 3 besar bahkan 5 besar hasil quick count, mungkin tinggal menununggu keajaiaban hasil real count, tapi tampaknya juga imposible bisa 3-5 besar, jika melihat margin error quick count 1-2%.  Usaha partai ini untuk jadi terbuka dengan menerima caleg non muslim, caleg syiah, dan caleg pendeta tampaknya gagal mendongkrak suara.   Begitu juga pasukan cyber army yang disiapkan untuk mempengaruhi para aktifis sosial media tampaknya juga gagal bertarung, bahkan acapkali para cyber army ini membuat BLUNDER!!!  Para cyber army ini menciptakan data-data hoax, sumpah serapah pada para golputers termasuk bersabda “al goputers ikhwanusysyaiton” juga pada para lawan potilik terutama JOKOWI dan PDIP.  Tapi usaha para 500 ribu cyber Army (see: detik.com)  Gagal mempengaruhi massa media sosial, bahkan sebaliknya acap kali menjadi blunder.  Usaha cyber Army ini sangat kontra produktif,  bukan jualan program yang ada malah menangkis citra negatif partai dan menyerang PDIP & Golputers.  Akiibatnya apa? Boro2 menarik para golputers buat milih nih partai, malahan pemilih yg pernah bersimpati pun emoh milih lagi partai ini.  Jika tahun ini PKS mendapatkan suara 6-7%, maka tampaknya itu angka yang FIX yang terdiri dari simpatisan dan para kader serta keluarganya yang loyal pada PKS, juga para pemilih pemula yaitu mahasiswa dan pelajar yang ikut pengajian tabiyah/PKS (sebagaimana diketahui PKS masuk ke universitas lewat LDK/Lembaga Dakwah Kampus, dan masuk ke SMAN2 lewat ROHIS serta mendirikan berbagai SMA IT termasuk lembaga2 Zakat )

Sebagaian golputers lari kemana (Golput turun 5% baca: detik.com)? Ke Gerindra! Kenapa? karena walaupun diserang berbagai black campaign, partai ini konsisten menawarkan program, termasuk program ekonomi kerakyatannya, dan berjanji melepaskan Indonesia dari gurita IMF.  Internalisasi partai terus dilakukan, para pemilih pun mendapat informasi2 apa yang dilakukan partai ini melalui twitter dan facebook.

Selain Gerindra, PKB juga menunjukkan fenomena menarik.  Isu perpecahan yang santer pada 2009 mulai meredup.  Cak Imin bisa mengkondisikan warga nahdiyin untuk come back melalui figur Mahfud MD dan Rhoma Irama serta konsolidasi yang terus dilakukan.  Warga nahdiyin di PPP pun tampaknya mulai berpaling ke PKB, begitu juga warga nahdiyin di PD juga pulang kampung.  Sepertinya PKB bekerja keras untuk melakukan konsolidasi internal, dan hasilnya cukup menggembirakan.

Boleh dikatakan pemenang PILEG 2014 adalah Gerindra dan PKB,  kenaikan suaranya hampir 100%,  rahasianya apa??? Rahasianya adalah mereka bekerja keras untuk konsolidasi memperbaiki internal partai dan mereka jualan program.  Maka merekalah pemenangnya.

Nasib menyedihkan ada pada 2 partai yang tidak lolos PT.  Terutama PBB, partai ini pernah bersinar pada tahun 1999 dengan tokohnya bapak Yusril, tetapi kemudian meredup perolehan kursinya seiring dengan intrik kawin lagi yang melanda figuritas Yusril.  Tahun 2014 partai ini menawarkan format Ideologi Masyumi yaitu memperjuangkan syariah, tetapi tampaknya tidak populer bagi rakyat Indonesia.  Satu hal yang bisa dibaca dari kekagagalan PBB dengan tawaran syariat islamnya adalah masyarakat indonesia masih dilanda PHOBIA SYARIAT ISLAM dan lebih memilih partai yang tidak terlalu ekstrim memperjuangkan syariat seperti PKB atau PPP.  Untuk partai yang konsisten memperjuangkan syariat ISLAM tampaknya perjuangnya bukan mengikutikan partai ke PESTA DEMOKRASI, tapi bagaimana mengubah presepsi masyarakat muslim agar TIDAK ALERGI PADA SYARIAT ISLAM.  Bgaimana agar semua kalangan baik muslim maupun non muslim bisa menerima konsep syariat islam dalam tatanan negara, tentu saja perlu dakwah yang elegan, bukan ingin mendapatkan kursi di parlemen untuk mengubah UUD menjadi bersyariat, tetapi lebih pada menyiapkan rakyat untuk bersyariat.   Salah satu indikator rakyat taat syariat adalah “MENOLAK MONEY POLITICS” selama rakyat masih mau menerima money politics,  selama itu pula sulit menerapkan keinginan indonesia bersyariah.

 

Ok, ini sih hanya sekedar refleksi di 1/3 malam.  “I just write what i think, even you think nothing”

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Refleksi PILEG 2014

  1. “Kegagahan dan kegantengan SBY makin memudar, membuat ibu2 yang awalnya mengidolakannya menjadi surut pada masa kini ”
    mengutip kata-kata ini jadi senyam senyum sendiri.. . dan punya ide pak SBY harus ke salon dulu. . . hehe
    btw bu, sejauh ini efek konvensi PD dengan hasil quick count tersebut apakah tidak berpengaruh juga pada pileg kemaren?

    • hehehe….ke salon make over…
      Terima kasih udah mampir ya!!!
      Konvensi PD memang menawarkan beragam kandidat presiden, tapi kandidat yang ditawarkan tidak begitu populer di masyarakat awam. Masyarakat media sosial jumlahnya tidak lebih dari 40% (menurut Bang Enda Nasution), dan masyarakat media sosial atau urban kritis-kritis dan berpendirian kuat. 60% masyarakat Indonesia ada di pedesaan, yang lebih mengenal RHOMA IRAMA ketimbang Pak Anies, Gita, atau Dahlan Iskan.

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s