Medan with love! #Edutravelling

Sebutkan kota dimana toleransi terlihat indah?  Saya pernah traveling ke Aceh, Kupang, Ambon, Denpasar, Padang, Banjar, Pontianak, dan kota-kota besar di Pulau Jawa.  Dan akhirnya saya menjatuhkan pilihannya pada Medan!

Di Medan Geraja berdampingan dengan mesjid,  area kampus kristen terbesar bersama-sama berada di lingkungan muslim.  Masyarakat dalam satu kampung bahkan dalam satu instansi bisa beragam agamanya.   Dan kita tidak pernah dengar konflik-konflik antar agama, seperti kita dengar bahkan alami di Poso atau Ambon. Semoga selamanya.

Dan usut punya usut, toleransi seperti ini telah berlangsung lama.  Ada dua tokoh ternama di Medan yang tempat tinggalnya dijadikan sebagai heritage of Medan.  Kedua tokoh itu adalah Chong A Fie dan Sultan Makmun Al Rasyid.

Chong A Fie adalah saudagar atau tepatnya konglomerat pada awal abad 19 (1860-1921).  Mempunyai 7 perkebunan di Sumatera Utara, Bank Deli, beberapa perusahaan penting saat itu.  Kekayaan tidak habis, walaupun beliau melakukan aktifitas CSR dengan mendirikan rumah sakit, walaupun beragama chong wu chu, namun beliau mendirikan mesjid dan gereja bagi penduduk sekitar.  Chong A Fie mempunyai relasi yang baik dengan Belanda, juga dengan Sultan Makmud Al Rasyid di Istana Maimun.   Keakraban dengan sultan ditunjukkan dengan kebiasaannya menyajikan bubur sebagai tajil berbuka di Mesjid Raya.  Sampai sekarang tradisi menyediakan bubur bagi orang berbuka setiap hari selama bulan Ramadhan masih dilakukan oleh keturunan Chong A. Fie.  Toleransi seperti ini yang patut dilestaraikan.

Bagaimana rumah seorang konglomerat zaman itu? Dengan membayar 35.000 berikut seorang guide, kita bisa menikmati rumah Chong A. Fie yang bergaya China Melayu, berbagai peralatan yang beliau gunakan masih tersimpan rapi.  Rumah dua tingkat dari kayu, begitu kokoh berdiri.  Mempunyai tiga ruang tamu, yaitu ruang tamu khusus untuk menerima Sultan, menerima Belanda, dan menerima tamu umum.  Ruang-ruang kamar yang besar sebesar rumah tipe 54, juga ballroom tempat dansa.  Dan jangan terkejut ya? Chong A. Fie membangun konglomerasinya mulai usia 20 tahun.

Sultan Makmun Al Rasyid dengan istana Maimun-nya termasuk yang bisa kita kunjungi.  Konon istana ini merupakan istana yang tersisa, karena Sultan Makmun bersedia kerjasama dengan Belanda.  Sementara istana lainnya hancur, karena menolak kerjasama dengan Belanda.  Jika kita amati pakaian dan beberapa tradisi di sekitar kesultanan ini, nampak bahwa kesultanan ini tidak bisa dipisahkan dari kekhilafahan utsmaniyah di Turki.  Boleh jadi, istana dan sultan adalah wakil khilafah islamiyah di tanah Deli.

Istana maimun, dibandingkan istana di Pulau Jawa, bangunannya lebih sederhana.  Walaupun seperti umumnya istana, halamannya luas dengan aneka taman dan pemandian.

Lengkapnya tentang istana ini bisa dibaca dibeberapa artikel seperti: http://indonesiaexplorer.net/istana-maimun.html 

Ulasan tentang Tjong A Fie ternyata pernah ada di Kabar Indonesia: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=26&dn=20081215143652

 

 

 

Advertisements

One thought on “Medan with love! #Edutravelling

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s