Refleksi Pilpres 2014

KPU belum secara resmi mengumuman perolehan suara. Namun, transparansi yang dibuat KPU membuat kita semua bisa menghitung REAL COUNT. Untuk hal ini kita harus angkat topi pada KPU.

Berdasarkan transparansi data KPU itulah, berbagai komponen masyarakat bisa mengawal PEMILU2014, dari sekedar menghitung menggunakan excell sampai membuat website sendiri seperti Kawal Pemilu. atau REKAPDA1.

Selama pemilu, rasanya PILPRES kali ini yang paling istimewa, karena masyarakat turut mengawal, ada people power disitu. Lalu kenapa people power turut bergerak? #jokowiEfect kah? Jawabannya sih harus dianalisis, dan saya gak kompeten menganalisisnya secara makro.

Hanya saja, saya bisa merefleksi pada diri saya sendiri….
Selain PILKADA BOGOR 2014 yang menghantarkan Bima Arya menjadi walikota, maka PILPRES 2014 ini juga yang membuat saya men-tweet, nge-blog, dan membuat status yang menunjukkan ke PRO-an pada salah satu pihak. Lalu kenapa saya berbalik PRO-Jokowi??

Gini ceritanya!
Waktu PILEG, saya gak tahu milih siapa. Saya cuma nyoblos partai dan berharap GERINDRA bisa mengusung PRABOWO jadi presiden. Namun, harapan itu ternyata tak kesampaian. Walaupun berada di posisi ketiga, namun Partai Gerindra tidak mendapat 20% suara, hanya belasan saja, ini agak sulit bagi GERINDRA kecuali berkoalisi.

PDIP dan Jokowi bukanlah calon favorit saya. PDIP, kami tinggal di kota Bandung, dan kader PDIP selalu identik dengan kerusuhan, sehingga keluarga kami tidak pernah bersimpati terhadap partai ini. Walaupun mertua saya, sangat militan dengan partai ini, tapi saya sendiri tidak pernah tertarik untuk memilih partai ini. Jokowi pun bagi saya saat itu tak diperhitungkan.

Saya menunggu aksi GERINDRA selanjutnya! Posisi PDIP aman sekali, 18% ditangan, tinggal menggaet satu atau dua partai sudah bisa mencalonkan presiden secara independent. Namun bagi GERINDRA ini jadi perjuangan, entah deal-deal apa yang terjadi yang jelas pada akhirnya koalisi GERINDRA menjadi koalisi gemuk dengan bergabung berbagai partai yang reputasinya selama tahun 2009-2014 SANGAT MENGKHAWATIRKAN, Gerinda TERPAKSA menggandeng partai hitam yaitu:

PKS – yang tak pernah mengindahkan etika politik, hanya mencari keuntungan untuk kelompok dan partainya, dan terakhir terbelit kasus sapi. Ketua partai – lambang tertinggi kekuasaan di partai justeru terlilit SAPI.

Golkar versi ARB dengan kasus lumpur lapindo – dengan seenaknya menyerahkan kasus ini untuk ditanggung pemerintah, opini publik dibuat …dari lumpur lapindo menjadi lumpur Sidoarjo yang memperlihatkan perubahan tanggung jawab dari lapindo ke pemerintah. ARB – adalah ketua partai yang juga terlilit secara etika dengan lapindo.

Terakhir PPP yang tegabung pun dirundung masalah – pimpinannya terkait sangkaan korupsi dana haji.

Partai Demokrat sendiri tidak perlu banyak cerita. Ketua partainya sedang menjalani serangkaian sidang kasus korupsi.

Hanya PAN yang cukup elegan, sehingga wajar juga kalau akhirnya PAN – “Hatta Rajasa” dipilih sebagai cawapres, karena dibandingkan partai lainnya partai ini relatif lebih bersih.

Dengan peta seperti ini, membuat saya berpikir ulang untuk memilih Prabowo-Hatta. Waktu itu kalkulasi saya adalah “Jika saya memilih Prabowo-Hatta berarti saya memberi jalan bagi berkuasanya kembali mapia-mapia pertanian, sosial, dan IT di pemerintahan. Depatemen agama tempat saya bernaung, tidak akan melakukan reformasi yang berarti untuk perbaikan kinerja birokrasinya. Ngeri sekali, jika kursi kabinet yang seharusnya diisi oleh orang2 profesional ternyata hanya dibagi-bagi untuk kepentingan mereka sendiri. Sebagaimana kita ketahui beberapa partai seperti PKS atau PPP tak punya pendanaan kuat, mereka mengandalkan iuaran kader partai. Hal ini beda dengan beberapa partai yang punya back up finansial seperti Gerindra dan Golkar. Maka bagi partai kecil seperti itu, kabinet adalah mesin uang partai.

Saya mulai mencari2 apa yang ditawarkan oleh Jokowi. Point Jokowi bagi saya naik, ketika memilih JK. Point ini naik kembali manakala PDIP menunjukkan kesungguhan untuk merealisasikan koalisi demi rakyat. Yah, paling tidak ini jadi angin segar, walaupun tidak tahu akan diwujudkan atau tidak setelah terpilih.

Lalu point pada Prabowo bagi saya terus melorot, ketika kader PKS begitu membabi buta melakukan serangan2 black campaign dengan membawa-bawa agama ISLAM, mengajak ulama dan ustadz untuk condong pada rekan koalisinya, tanpa mengindahkan PERSATUAN INDOENSIA. Secara masif dan terstruktur melalui media sosial dan lewat cyber army, PKS menyebarkan black campaign berbau SARA. BLACK CAMPAIGN BERBAU SYARA INI APALAGI DIEMBEL-EMBELI DENGAN JIHAD, MEMBUAT SAYA NGERI, seakan-akan Indonesia mau berperang saja.

Point bagi Jokowi pun naik, makin diterpa isu black campaign makin simpati saya. Black campaign bagi saya adalah sebuah upaya mencegah orang baik untuk berkuasa.

Nah, bagi saya kenapa saya berbalik pilih JOKOWI bukan karena JOKOWI EFECT, tetapi karena MASIfnya Black Campaign pada Jokowi atau Black Campaign Effect.  Black campaign membuat saya tambah mencari informasi, dari berbagai informasi itu, justeru terus menambah point bagi Jokowi-JK.

Advertisements

One thought on “Refleksi Pilpres 2014

  1. Sebagian besar pandangan saja juga sama bun, saya memikirkan partai yang ada di belakangnya

    Indonesia butuh orang baik sebagai pemimpin dan pemberi contoh

    (masih syok ketika inget anak yang jujur dimusuhi oleh teman-temannya yang mendapat bocoran)

    Semoga Indonesia menjadi semakin baik…

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s