#Tanya-Jawab Hukum Syara berkaitan dengan Natal

Tulisan ini hanya menyadur saja dari sebuah nasroh lokal (Jawa, 7 Rajab 1413H/31 Desember 1992) ketika saya mengikuti kajian di sebuah gerakan dakwah sewaktu masih kuliah di IPB.

Tanya
Bolehkah seorang muslim memenuhi undangan untuk menghadiri hari raya orang kafir, menerima hadiah dari mereka, mengucapkan selamat kepada mereka, dan mengunjungi mereka pada hari raya mereka?”

Jawab

Seorang muslim diperbolehkan memenuhi undangan orang Nasrani (dzimni) pada hari kegembiraan mereka, namun tidak termasuk acara ritual mereka, boleh juga memenuhi undangan makan yang dibuat dalam rangka hari raya natal dan sebagainya, asal makanan itu tidak dipersembahkan bagi al masih atau disajikan dalam gereja. Adapun mengucapkan selamat hari raya kepada mereka adalah boleh dilakukan tetapi hanya kepada kafir dzimni saja, karena perbuatan ini termasuk perbuatan baik (al birr) yang diperbolehkan. Sesungguhnya alloh memerintahkan kita berbuat baik kepada mereka dengan firmannya Alloh SWT:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kami karena agama dan tidak mengusir kami dari negerimu. Sesungguhnya Alloh swt mencintai orang-orang yang berlaku adil” (Al Mumtahanah: 8).

Termasuk juga perbuatan baik itu adalah menerima hadiah dari mereka jika hadiah tersebut tidak berupa barang yang diharamkan alloh swt seperti khamar. Para Shahabat dahulu menerima hadiah dari orang-orang musyrik pada hari raya mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Syaibah dalam kitab Al Mushannaf bahwa seorang wanita telah bertanya kepada Aisyah r.a. Wanita itu berkata, “Sesungguhnya orang-orang Majusi telah berlaku baik kepada kami dan pada hari raya mereka memberi hadiah kepada kami” Maka Aisyah menjawab, “Adapun apa yang disembelih untuk hari raya mereka, maka jangalah kalian makan, tetapi makanlah apa yang berasal dari pohon-pohon mereka (buah-buahan)”

Diriwayatkan dari Abu Bardzah bahwa dia mempunyai penduduk Majusi, maka mereka memberi hadiah kepadanya pada hari raya Niruz dan Mahrujan. Maka dia berkata kepada keluarganya: “Apa-apa yang berupa buah-buahan makanlah, dan selain itu tolaklah”

Ini semua menunjukkan bahwa tidak apa-apa (jaiz) menerima hadiah dari orang kafir pada hari raya mereka. Bahkan hukumnya sama baiknya pada hari raya maupun hari-hari selain hari raya, karena itu tidak termasuk ikut serta bersama-sama merka atau membantu mereka dalam menonjolkan syiar-syiar agama mereka.

Dalam masalah ini wajib dibedakan antara kafir dzimmi dengan selain kafir dzimmi atau kafir harbi. Adapun terhadap kafir harbi, maka tidak boleh mengunjungi mereka pada hari raya mereka, tidak boleh memenuhi undangan mereka, tidak boleh mengucapkan selamat kepada mereka pada hari raya mereka, dan tidak boleh pula melakukan hal-hal yang semacamnya.

Dari Nasroh tentang Tanya Jawab yang dikeluarkan oleh sebuah gerakkan dakwah, kemungkinan besar hasil ijtihad seorang atau beberapa syabab mereka.

———-

Ok, sekarang ini murni buah pikiran saya…. Yg harus diingat dalam MERIVIEW HUKUM INI, kita mencari dalil mana yang paling kuat.  Tidak ada yang salah dan benar, jika salah dapat 1 jika benar dapat 2.  Terlebih penting adalah menghargai pendapat.

#Pendapat1: Pembahasan tentang Kafir Dzimmi.  Sebagian ulama mengatakan bahwa umat kristiani di Indonesia tergolong pada Kafir Harbi bukan kafir Dzimmi, karena agama kristen dibawa oleh PENJAJAH ke Indonesia, dan seperti diketahui bahwa PENJAJAH keras menentang kerajaan2 Islam yang ada di Indonesia. Oleh sebab itu umat kristiani yang ada sekarang dikatagorikan Kafir Harbi, sehingga haram bagi kita mengucapkan natal kepada mereka.

#Bantahan terhadap pendapat1: Menurut ustadz Sigit Purnomo pengasuh Rubrik Ustadz Menjawab di eramuslim.com.  Ada empat tipe kafir yaitu:

  1. Kafir Harbi yaitu mereka yang memerangi kaum muslimin.
  2. Kafir Dzimmi yaitu mereka yang memberikan jizyah kepada pemimpin kaum muslimin.
  3. Mu’ahid yaitu mereka yang terikat perjanjian untuk jangka waktu tertentu.(Contohnya kaum kafir di Madinah saat Rasulullah saw berhijrah ke sana).
  4. Musta’min yaitu mereka yang diberikan perlindungan keamanan oleh seorang muslim.

Umat kristiani di Indonesia tidak termasuk pada katori di atas.  (lihat selengkapnya di sini: Eramuslim).

#Pendapat2: Ayat yang digunakan untuk melarang mengucapkan selamat natal [sumber muslim.or.id] adalah:

  1. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6),
  2. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata : Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya kurban (‘Idul Adha) dan hari raya ‘Idul Fitri” (HR. Ahmad, shahih).  
  3. “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Qs. Al Mumtahanah: 4).   
  4. “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (HR. Muslim no. 2167).
  5. “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

#Bantahan untuk pendapat2:

  1. Sudah menjadi sebuah mafhum mukholafah bahwa QS Al Kafirun terkait ibadah antara manusia dengan alloh swt, atau ibadah ritual.  Jelas hukumnya bagi kita untuk tidak mengikuti natalan bersama-sama atau misa natal bersama. Adapun ucapan atau memerima undangan makan terkait hubungan antara manusia berbeda agama, tidak ada kaitannya dengan ritual tertentu,
  2. Hadits Annas bin Malik jelas sekali bahwa kita harus bergembira di hari raya kita bukan dihari raya orang lain.  Kita harus merayakan hari raya kita bukan hari raya orang lain.  Jika kita memasang pohon natal di rumah kita, maka jelas itu melanggar ayat ini.  Karena Pohon natal simbol perayaan agama mereka.
  3. QS, Al Mumtahanah ini sulit untuk dihubungkan dengan “HABLUMINANAS ANTAR MANUSIA BERBEDA AGAMA”
  4. Hadits ini tidak bisa diqiyaskan dengan ucapan natal, karena ini terkait dengan adab ucapan assalamualaikum ketika bertemu sesama muslim.
  5. Hadits ini terkait dengan tasyabuh.  Menyerupai orang kafir.  Kita memang dilarang menggunakan madiyah yang menjadi ciri khas mereka, misalnya baju pendeta, kalung salib, kerudung dan jubah ala biarawati.

Agak sulit bagi saya untuk mempercayai bahwa ayat2 yang dikemukakan tadi menjadi hujah bagi larangan mengucapkan selamat natal.

#Pendapat3: ayat-ayat lain yang digunakan untuk mengharamkan pengucapan natal adalah sebagai berikut: (sumber muslim.or.id)

  1. “Hamba-hamba Allah yang Maha belas kasih sayang, yaitu orang-orang yang tidak mau menghadiri atau menyaksikan upacara agama kaum musyrik (Az-zuur). Jika mereka melewati tempat yang sedang digunakan untuk upacara agama oleh kaum musyrik, mereka segera berlalu dengan sikap baik” (QS. Al-Furqon, 72).
  2. Hadis Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan, “Setibanya Nabi di Madinah, orang-orang Madinah kala itu memiliki dua hari yang mereka bersenang-senang (merayakan) dua hari tersebut.
  3. Hadis Tsabit bin Dhahak radhiyallahu’anhu, beliau mengisahkan, “Seorang datang menemui Nabi shallallahu’alaihiwasallam sembari berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya pernah bernadzar untuk menyembelih unta di Babwanah (nama sebuah tempat di dekat kota Makkah). “Apakah di sana ada arca yang disembah oleh kaum jahiliyah?” Tanya Rasulullah kepada para sahabatnya. “Tidak wahai Rasulullah.” Jawab para sahabat. Nabi bertanya kembali, “Apakah di tempat itu pernah dilaksanakan perayaan hari rayanya orang-orang jahiliyah?” “Tidak wahai Rasulullah.” Sahut para sahabat. “Kalau begitu, silahkan tunaikan nadzarmu. Karena sesungguhnya tidak boleh menunaikan nadzar yang mengandung maksiat kepada Allah dan dalam hal yang di luar batas kemampuan manusia” (HR. Abu Dawud, hadis yang semakna juga terdapat dalam shahihain).
  4. “Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya dan hari raya kita adalah hari ini (yaitu hari idul adha)” (HR. Bukhari dan Muslim).
  5. Janganlah kalian masuk ke gereja-gereja kaum musyrikin di saat hari raya mereka karena kemurkaan Allah sedang turun atas mereka” (Sunan Al-Baihaqi 9/234).
  6. Jangan dekati orang-orang kafir pada hari raya-hari raya mereka” (Sunan Al-Baihaqi 9/234), dan Kanzul ‘amal 1/405).

#Bantahan pendapat3:

  1. QS. Al Furqon:72 terkait dengan larangan menghadiri tempat yang mengandung ibadah ritual atau perayaan agama mereka.  Kita tidak mengucapkan natal dengan cara berbaur di perayaan mereka bukan? tapi mengucapkan via pesan atau kartu atau mendatangi rumahnya tidak pada saat mereka dalam kondisi beritual.
  2. No 2 dan 4 idem dengan bantahan sebelumnya.
  3. Hadits no 3 terkait dengan penggunaan madaniyah/tempat suatu ibadah ritual yang dilakukan agama tertentu.  Ketika bernazar maka kita tidak boleh bernazar “Saya akan sholat di Candi Borobudur” atau “Saya akan berdo’a di altar gereja” dsb.
  4. Hadits ke-5 jelas larangan untuk mengikuti ibadah ritual, misalnya misa natal.
  5. Hadits ke-6 terkait larang bercampur baur dengan orang-orang yang sedang merayakan hari besar agama mereka.

Sudah cukup jelas bagi saya sih!

Lakum dinnukum itu ada dalam hal ritual yaitu dua perkara berikut:

  1. Terlibat dalam perayaan natal bersama – DILARANG-HARAM,  Masing2 kita punya hari raya, bergembira di hari raya kita masing-masing.
  2. DILARANG IKUT-IKUTAN MISA BERSAMA di gereja mereka.  Dilarang pasang pohon natal di rumah kita.  Dialarang memakai pakaian santa atau atribut lainnya yang menjadi simbol natal.

Adapun menghadiri jamuan makan (asal makanan halal dan tidak bekas sesaji untuk almasih atau geraja) di rumah orang yang sedang bergembira di hari raya mereka, mengucapkan “selamat merayakan natal kalian” adalah perkara al birr.  Hal ini terkait hubungan antara manusia dengan manusia yang berbeda keyakinan.  Ayat al qur’an dan hadits yang dipaparkan dalam nasroh di atas, bagi saya lebih mengena dibandingkan dengan dalil-dalil yang dikemukan oleh situs muslim.or.id.

WALLOHUALAMBISAWAB

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s