01. Kesempatan mereka sama #Wanita

Saya lahir dari keluarga militer, tetangga saya di samping kanan dan depan selagi saya kecil sebagian besar berasal dari militer TNI AU.  Ini karena pangkalan TNI AU dengan rumah kami jaraknya hanya 500 meter saja.  Kakek saya sendiri seorang pegawai rendahan di Jawatan Kereta Api, sehingga tetangga belakang rumah dan samping kiri sebagian besar bekerja di Jawatan Kereta Api, karena memang bagian belakang dan kiri rumah kami adalah tanah pemerintah, tanah jawatan kereta api.  Namun jangan salah tanah kami berada di areal pemukiman yang sebagian besar, terutama wilayah kidul berprofesi sebagai petani [Akan diceritakan bagaimana transisi rural ke urban]

Hidup di sebuah kampung yang sebagian besar militer dan pegawai negeri jawatan kereta api, kakek dan ayah saya punya berbeda, visi yang maju.

#Kakek

Kakek saya punya prinsip “anak-anak pendidikannya harus lebih tinggi dari kakeknya”.  Kakek saya hanya lulus SR (Sekolah Rakyat, setara kelas 3 SD).  Dari lima anaknya 2 lelaki dan 3 perempuan, maka 4 anaknya semua menamatkan sekolah menengah, kecuali satu anak yang memang malas bersekolah dan berkali-kali membolos sekolah.  Kesempatan yang sama diberikan kakek pada anak lelaki maupun perempuan.   Walaupun kakek hanya lulusan SR, kami sering menyebutnya Kakek Insinyur.  Mengapa? Karena kakek bisa membuat apa saja seperti halnya seorang insiyur.  Hampir semua mainan yang kami punya dibuat olehnya.  Jika teman-teman lain punya mobil-mobilan dan sepeda, kami juga punya. Hanya saja punya kami terbuat dari kayu yang dibuat kakek sendiri.  Barang-barang di rumah tangga pun dibuat oleh kakek sendiri dari kompor minyak tanah, kursi, dan lain-lain.  Uniknya kakek tak pernah melarang cucu perempuannya untuk memagang palu, kikir, tang, dan aneka alat pertukangan lainnya.  Kakek selalu bilang “Anak perempuan juga bisa bikin apa saja, seperti anak lelaki”.   Jangan heran, seperti juga paman dan ayah saya, maka  bibi saya pun sekolahnya di STM (Sekolah Teknik Menengah).

#Bapak

Seperti juga kakek, Bapak saya tidak pernah membedakan anak perempuan dan lelaki.  Ketika saya dekat Bapak membetulkan listrik yang acapkali mati atau memompa patromak, Bapak justeru mengajari saya bagaimana membetulkannya.  Bapak menyuruh saya mengambilkan obeng, menyuruh untuk meraut kabelnya.  Mengajarkan cara mengambil kabel kuningan ketika masih terbungkus plastik dan menempatkan kabel itu ke dalam skering.  Tak pernah saya dengar perkataan Bapak “Udah anak perempuan bantu Mamah saja di dapur!” Tetapi kesempatan saya sebagai anak perempuan pun diberikan kesempatan untuk belajar listrik.  Dalam beberapa kesempatan saya sering diajak Bapak ke tempat kerjanya.  Pekerjaan bapak saya Mekanik Pesawat Tempur di Pangkalan TNI AU Husain Sastranegara.  Saya diberi penutup telinga, ketika agar desing mesin2 tidak merusak gendang telinga ketika mesin-mesin itu diperbaiki.  Bapak selalu berkata “Kamu harus sekolah lebih tinggi dari bapak, anak lelaki dan perempuan sama saja!”  Ketika bilang seperti itu, adik saya nyeletuk “Wiwin mah mau jadi ABRI kayak bapak, pake seragam biar keren.  Bisa enggak Pak?”  “Bisa, perempuan juga bisa jadi ABRI!”.  Bapak mengeluarkan buku saku berwarna biru, di dalam buku itu ada gambar seragam-seragam ABRI lelaki dan wanita.  “Nah, ini namanya WARA — wanita angakatan udara — seragamnya kayak begini!”

#Mamah

Mamah saya benar-benar seorang wanita yang memang mendapatkan teori dalam menanta rumah tangga.  Dia bersekolah di SKKA/SKKP atau Sekolah Putri yang digagas oleh RA Dewi Sartika.  Mamah itu jago masak, jago jahit, dan jago beres-beres rumah.  Dia tidak bekerja, murni ibu rumah tangga.  Kami jarang diberi uang jajan, karena mamah selalu membuat makanan kecil bagi kami.  Jika membuat masakan bersantan, maka ampas kelapanya dibuang.  Mamah saya TIDAK! Dia memanfaatkan ampas kelapa tersebut untuk dibuat makanan kecil yang rasanya enak.  ZERO WASTE — itu prinsip Mamah saya dalam memasak.  Dari cerita Mamah dan bibi-bibi, saya tahu Mamah ternyata seorang yang pintar di sekolahnya dan juga seorang aktifis 66 yang ikut berjuang dalam barisan KAMI untuk menuntut TRITURA.  Enaknya punya ibu — seorang ibu rumah tangga — tiap pulang sekolah, beliau selalu ada menyambut kita.  Karena ibu selalu di rumah, kebiasaan kami ketika pulang sekolah mengucapkan “Assalamualaikum…. Mah!!”   Bila tidak ada jawaban, maka kita akan bertanya, “Kemana Mamah?”

Mamah selalu berkata kepada kami, “Anak lelaki dan anak perempuan harus sekolah yang tinggi.  Anak perempuan pun harus sekolah yang tinggi, agar mempunyai penghasilan sendiri agar bebas mengelola uang sendiri.  Bapak dan Mamah hanya lulus sekolah menengah saja, kalian harus sekolah sampai perguruan tinggi.”

___________

–Yanti Herlanti, Me and my environment–

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s