09. #Random: Film Hijab

Beberapa hari ini tampilan facebook, WA, dan BBM saya menampilkan broadcast tentang kritik film Hijab karya Hanung Bramantiyo.  Saya sendiri sampai saat ini belum berkempatan untuk  menonton film ini.  Tadinya sih gak akan nonton film ini, tapi karena derasnya BC jadi kepikiran buat nonton.

ok, beberapa situs ini mengemukakan hal negatif tentang film ini:

Sebetulnya film ini sudah dinobatkan rugi dalam 5 hari pemutarannya, seperti pernyataan Hanung Bramantiyo, karena selama lima hari itu baru mengantongi penonton 13.000.000 saja.  Animo menonton film ini sampai tulisan ini saya tulis  menurut http://filmindonesia.or.id mengantongi penonton film hijab sebanyak 44.732.  Tampaknya kenaikannya lumayan juga, “apakah karena kontroversi yang terjadi sehingga membuat orang penasaran untuk menonton?? Bisa jadi!!! Asalnya kita abai, tapi karena seringnya BC itu dikirim — orang-orang yang berpikir, biasanya penasaran ingin membuktikan benar atau tidaknya opini yang mengkritik tersebut.  Andaikan yang terjadi adalah penasaran dan film terus dilanjutkan masa tayangnya, maka penonton film ini kemungkinan bisa mencapai 50 ribu – 70 ribu, ataubahkan 100.000.  Andaikan sampai menembus 100rb dan harga tiket 50.000, maka jumlah yang didapatkan minimalnya 2,5M  dan maksimalnya jika mencapai 100 ribu penonton adalah 5.000.000.000 (5M).   Kalau terus disebarkan “OPINI KONTROVERSIAL”-nya maka tidak menutup kemungkinan biaya pembuatan film ini tertutupi sudah, artinya sudah balik modal (baca modal pembuatan film hijab disini). LUMAYAN ya?? OMG Business is business!

Ada dua film mengambil tema dari simbol islam walaupun ceritanya yang satu kritik sosial dan lainnya cerita cinta, yaitu Hijab (Film kritik sosial gaya komedi) dan Assalamu’alaikum Beijing (Film Drama Percintaan).  Film Hijab sendiri hadir saat hangat-hangatnya film Assalamu’alaikum Beijing diputar (film ini bisa mengantongi penonton sejumlah 540.890, walau tidak sampai angka 1 juta karena sebagian kader terpecah ada yang mengikuti ustadz partai dan ada yang teguh dengan himbauan dari Dewan Syariah tentang haramnya mendatangi bioskop, serta kehadiran JONRU pada gala priemer film ini, tapi apapun film ini cukup sukses dengan kelas penikmat segmen drama. Dan film HIJAB pun kalah saing dengan film ini.

____

Masih penasaran buat nonton HIJAB mbak? Masih diputer ternyata? Hemmm saya….saya coba pikirkan lagi ya? Kayaknya tidak!! Kenapa? Entahlah, saya nonton karya Hanung 3x yaitu Ayat-ayat cinta (suer saya bosan nontonnya, dan gak bisa menyelesaikan tontonannya), Tanda Tanya (Ini jauh lebih baik mengemasnya daripada AAC, tapi tetep aja HANUNG kasar sekali dalam memindah satu frame ke frame lainnya, ibarat baca cerita antara satu paragaraf dengan paragraf lainnya sok teu nyambung.  Mungkin memang ini gaya dia dalam penyutradaraan — Saya menyebutnya gaya album foto.  Kalau kita punya banyak foto, lalu kita albumkan maka kita acapkali tak mempertimbangkan alur, yang penting semua foto masuk dalam album.  Nah, gaya ini makin terlihat ketika Hanung menyutradarai SANG PENCERAH).  Jadi, dari tiga film yang ditonton — saya tidak terlalu menikmati film karya Hanung.  Untuk nonton lagi karya dia, rasanya males banget.  Saya merasa gak cocok aja kalau nonton film karya Hanung.  Tiga film Hanung yang saya tonton membuat saya ngedumel dan tak terlalu menikmati tontonannya.

Dan….

Saya sendiri gak terlalu suka film  KRITIK SOSIAL, karena nonton film tujuannya untuk memotivasi bukan membuat dahi berkerut.  Kalau membuat dahi berkerut mah gak usah nonton film, dalam realita sehari-hari banyak di lihat.  Misalnya “Wanita berhijab merokok di area publik sering saya saksikan di Resto dan cafe coffee, mereka tidak malu lagi dengan hijabnya“.  “Lalu wanita berhijab pegangan tangan dengan non mahrom juga banyak dilihat di mall-mall“.  “Bahkan saya saksikan juga pagi berhijab malam pun berubah menggunakan rok mini sekedar menjadi sales rokok atau bahkan sampai menjadi sexy dancer, demi rupiah“.  Ini wanita berhijab??? Ya!!! Itu secara nyata ada di sekitar saya, gak perlu nonton khayalan di film segala.  Dan di beberapa universitas berlabel islam, beberapa mahasiswanya hanya menggunakan hijab ketika ke kampus, diluar kampus …you can see…lah! (Kalau kata emak saya mah, baju —yukensi— itu baju dengan tanpa lengan).  Jadi, sebenarnya siapa yang harus dimarahi dan dikritik habis-habisan bahkan dibenahi? Sutradara yang mengangkat realita atau realita masyarakat kita?

–Kalau saya sih lebih milih menasehati para hijabers untuk kokoh dalam hijabnya, karena kami pada tahun 1990-an berjuang luar bisa untuk dapat memakai hijab di sekolah dan di kampus umum, bahkan untuk bisa diterima di keluarga dengan hijab yang kita pakai itu gak mudah.  Bayangkan “Pedihnya dirimu ketika ibumu yang berbaju YOU CAN SEE menolak  jalan sama kamu yang berhijab??” — HIJAB adalah perjuangan bagi saya dan beberapa rekan lainnya.  Tapi saya juga tak boleh menutup mata, bahwa sekarang HIJAB jadi kewajiban bahkan trend.  Saya juga sadar — ketika hijab itu sebuah kewajiban — maka hijab tidak lagi menutupi aurat orang shalehah, tetapi menutup semua orang dengan berbagai sifatnya, dan ketika itu terjadi jangan heran kalau kita temui peragai beberapa orang berhijab  jauh dari syari’ dan kesan wanita shalehah.

Jadi? Jadi saya gak akan nonton, karena Hanung bukan sutradara favorit saya.  Dan saya sudah muak dan greget lihat realita sosial, gak usahlah saya nonton lagi di layar lebar cukup di dunia nyata aja saya saksikannya.  Nonton mah yang asyik-asyik aja deh, yang gak nguras otak, kan nonton buat refresing.  COMIC 8 sukses mengantongi lebih dari 1,6 juta penonton karena asyik!

____

Bagi yang suka nonton film, ada 3 sutradara yang asyik dalam membesut cerita: 1) Benni Setiawan dengan filmnya 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta.  2) Ifa Isfansyah juga recomended untuk ditonton, saya suka cara memindahkan frame demi framenya.  3) Riri Riza ini favorit saya — Dan saya belum sempat nonton TONGKAT EMAS, sekarang udah habis masa tayangnya.  Hiks hiks hiks.

 

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s