16. #Random: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Dua hari ini RCTI memutar film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.  Novelnya sendiri karya Ulama besar Buya Hamka.  Sewaktu sekolah dasar saya mengenal Buya Hamka sebagai penceramah di TVRI tiap malam jum’at.  Karena satu-satunya tontonan ya saya sering mendengar beliau ceramah, saya paling suka kalau beliau cerita tentang kisah Nabi, itu yang terkenang tentang beliau ketika saya kecil.

Ketika Buya Hamka meninggal usia saya kurang lebih 10 tahun.  Saya baru tahu beliau ulama besar, karena berita TV dan koran waktu itu ramai sekali.  Ternyata Buya Hamka bukan hanya penceramah tetapi ulama besar.

Ketika saya SMP maka saya kenal Buya HAMKA justeru sebagai sastrawan.  Zaman saya SMP dan SMA saya pake kurikulum 1974, bahasa indonesia itu ada dua yaitu Belajar Bahasa dan Belajar Sastra.  Nah, kita akan buta sastra kalau tidak tahu judul novel yang dikarang para sastrawan dan tokoh2 di dalamnya.  Terkadang guru juga memberi tugas untuk meresensi buku sastrawan itu.

Mungkin teman2 saya ada yang meresensi tanpa membaca.  Walau saya juga tidak mengerti mereka dapat dari mana.  Tapi saya termasuk anak baik, ketika mendapat tugas itu saya meresensinya.  “Salah Asuhan” adalah novel pertama yang saya resensi ketika kelas 2 atau 3 SMP.  Bahasanya susah sekali, untuk menemukan alurnya saya harus berulang2 baca.  Ada kepuasan tersendiri ketika saya selesai resensi, dan ternyata dibeberapa buku teks sastra itu ada juga nama tokoh dan alur ceritanya, oh jadi rupanya temen2 saya dapat dari situ.  Tapi tak apalah…biarkan saja.  Saya merasa puas dengan membaca novelnya langsung.  Setelah membaca novel itu, maka menjadi kebiasaan untuk membaca aneka novel karya para punjangga sampai dengan SMA.

Tentang karya Buya Hamka ini.  Waktu jaman sekolah dulu kita hanya mencatat nama tokoh dan isi ceritanya.  Tapi dua hari ini saya melihat filmnya, dan berulang-ulang dikatakan “Ini untuk bangsa saya” maka kata-kata itu baru saya pahami sekarang.

Kenapa?  Menikah beda suku pada jaman itu (1930-1940 an) adalah suatu ketabuan.  Masing-masing suku merasa punya negara sendiri.  Lihat aja sebutannya, Tanah Minang, Tanah Jawa, dst.  Artinya wilayah2 itu merasa dirinya menjadi negara sendiri.  Tak usah heran karena jaman itu masih jaman2 belum merdeka, masih terparadigma hidup dalam kerajaan dengan rajanya masing-masing yang para rajanya mulai kendor kekuasaannya karena kekuasaan Belanda.

Dan ketika indonesia merdeka, tentu tidaklah mudah mengeratkan satu suku dengan suku lain yang memang terbiasa hidup dalam satu raja dengan raja lain.  Sehingga menganggap suku lain berasal dari tanah lain, bisa dikatakan waktu itu bahwa pernikahan antar suku sama dengan pernikahan antar negara.

Lalu relevansinya apa?  Sungguh luar biasa Buya HAMKA ini, sangat dalam apa yang dilakukan oleh Buya pada zamannya, melalui novelnya ini beliau melakukan NASIONALISASI.  Bahwa suku satu dengan suku lain adalah sama, sama-sama mulia dan seharusnya bisa bersatu.

Novel dikemas dalam kisah cinta tentu saja akan mudah diterima oleh masyarakat manapun.  Karena cinta bicara perasaan, sedangkan tabu bicara tentang adat atau agama.  Sesuatu yang “tabu” menjadi tersentuh ketika disadingkan dengan “cinta”.

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s