19. A little note from JICA Field Study

JICA Field Study, rangkaian dari JICA Youth Leadership yang diadakan JICA untuk para pemuda Jepang yang berminat dalam hubungan kerjasama internasional.  Indonesia dijadikan sasaran setelah sebelumnya program yang sama dilakukan di Vietnam.  Saya hanya memfasilitasi program dengan menyediakan lima mahasiswa UIN Jakarta yang terlibat sebagai fasilitator selama program.  Ada 4 kelompok, dan 20 presentator yang mempresentasikan temuannya pada kami.  Ok, ini sekedar catatan ringan dari yang tercecer dan tertinggal, semoga menjadi bahan pembelajaran.

#1.  Saya harus bilang bahwa mereka cukup efektif dalam menggali berbagai data yang diinginkan dalam 3 hari survei  mereka bisa mengumpulkan rata-rata 30 orang, bahkan ada yang mengumpulkan data dari wawancara sampai 70-82 orang.  Efektif bukan?

#2.  Metode yang mereka gunakan dalam survei ini adalah kuantitatif dan kualitatif serta ada yang menggunakan keduanya.  Instrumen yang digunakan adalah wawancara dan observasi.  Apapun metode pengumpulan data saya sangat apresiasi terhadap mahasiswa yang umurnya berkisar 18-23 tahun ini, analisisnya tajam, mereka dapat mengkorelasikan antara satu fakta yang ditemuinya dengan fakta-fakta lainnya, serta tentu saja dengan informasi yang mereka peroleh sebelumnya (Sebelum mereka ke Indonesia, mereka punya waktu 3 hari untuk pembekalan tentang Indonesia, sehingga ketika mereka ke Indonesia mereka sudah punya informasi tentang Indonesia dan tentang tempat serta berbagai hal untuk wilayah yang mereka kunjungi).

#3.  Tentang inkuiri informasi yang mereka lakukan, sangat terlihat dari 3 pertanyaan yang ditanyakan ketika kunjungan mereka ke UIN Jakarta.  Mereka tidak menanyakan hal-hal yang sepele dan hal-hal yang sudah ada di website UIN Jakarta, tetapi mereka menggali lebih lanjut apa yang tidak ada informasinya, tetapi mereka menanyakan “Tuition fee” “subsidi” “perbedaan UIN dibawah MORA dengan MONE”.

#4. Tentang análisis yang tajam:  Observasi dan wawancara mereka dapat menyimpulkan bahwa KESADARAN LINGKUNGAN DI INDONESIA DIPACU OLEH DUA HAL yaitu Pengetahuan dan Uang.  Beberapa masyarakat sadar akan lingkungan karena pengetahuan — maka muncul BANK SAMPAH.  Namun beberapa komponen masyarakat lain kesadaran tersebut justeru terbentuk karena UANG, mereka merasakan benefit ketika menjual botol, plastik, dll ke Bank Sampah dan mereka mendapatkan uang dari situ.

#5. Analisis yang tajam juga ditunjukan oleh peserta dari kelompok Goverment, ketika memaparkan relasi antara pemerintah, perusahaan daur ulang, dan TPA.

#6. Solusi solutif bagi masyarakat bawah untuk perduli pada sampah ditawarkan oleh salah satu mahasiswa yaitu dengan menghubungkan sampah dengan air tanah.  Solusi yang dihasilkan dari analisis bahwa sebagian masyarakat di desa Setu menggunakan air tanah dan mereka pun membuang sampah ditumpuk dilahan kosong, yang tanpa disadari oleh mereka bahwa sampah yang menumpuk itu akan menganggu kondisi air tanah penduduk sekitar.

#7. Solusi solutif juga ditawarkan ketika seorang peserta membahas relasi antara Bank Sampah dan TPS.  TPS adalah pola pengangkutan sampah diberbagai perumahan, yang tentu saja ada kontribusi kebersihannya.  Dengan cerdas mahasiswa ini mengatakan bahwa pola ini tidak menguntungkan bagi masyarakat kelas bawah yang tidak bisa membayar, dan akhirnya membuang sampah sembarangan.  Lalu dia pun memaparkan bahwa Bank Sampah umumnya dikelola oleh mereka yang level ekonomi-nya atas, tapi masyarakat bawah bisa memanfaatkan.  Pola menggabungkan antara Bank Sampah-TPS ini bisa dijadikan solusi.

Yap, 20 hasil análisis, 20 ide kreatif dari mereka, ini sungguh luar biasa.  Dan mereka melakukannya dalam 6 hari saja.  3 hari untuk pendalaman materi yang dilakukan di Jepang, dan 3 hari dilakukan di Indonesia.  –SEMOGA 5 MAHASISWA P. BIO (QUMILALILA, ALVIAN, RISTA, LATIFA, IAN) YANG TERLIBAT DALAM PROGRAM INI BISA BELAJAR BANYAK DARI PROGRAM INI DAN DARI INTERAKSI YANG TERJADI SELAMA PROGRAM!

Advertisements

One thought on “19. A little note from JICA Field Study

  1. Selama menemani mereka mengumpulkan data, saya menjelaskan medan dan kondisi perumahan yang akan mereka datangi serta kendala-kendala akan didapatkannya sedikit sampel. Yg tidak terpikirkan oleh saya, mereka mengambil inisiatif dgn cerdas untuk mengakali kekurangan sampel dengan mencari sampel selagi dinner. (Itu salah satu contoh yg saya ingat dari mereka, cepat mengambil inisiatif Yg menurut saya saat itu cukup cerdas)

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s