23. We need it!

image

Djogjakarta, 28 april 2015
Saya kebagian ambil data di smp perak, sebuah smp dengan akreditasi C.  Kru Dinas Pendidikan mengantar saya, berhenti persis di depan warung. Beliau mengajak saya masuk warung tsb, naik tangga, sambil berkata “Maaf, ini sekolah tempatnya kayak gini memang”

Letak sekolahnya di atas warung.  Menginjakkan kaki, terlihat beberapa guru sedang membersihkan kelas.  Penasaran, maka saya telusuri setiap sudut sekolah.  Beberapa siswa sdg berkumpul, saya tanya kelas berapa? Mereka menjawab 3. Lalu saya tanyakan kemana kelas 1 dan 2 dg santai mereka menjawab “libur dalam waktu yg tidak terbatas”

Jawaban itu membuat saya bertanya, “Berapa jumlah murid di sini?”  Ternyata berturut2 dari kelas 7,8,9 adalah 5, 12, 22.

Semua keheranan saya ternyata terjawab saat wawancara mendalam dengan kepala sekolah.  Dan presepsi negatif saya tentang sekolah ini pun berbalik menjadi positif. SEKOLAH SEPERTI INI MEMANG HARUS ADA BAGI MEREKA.

Sekolah ini, menampung anak2 yg telah di DO dari berbagai sekolah krn kenakalannya atau karena prestasinya yg mandeg.  Bisa dilihat piramida berdasarkan jumlah siswa, makin tinggi kelas makin banyak siswa.  Namun, mengapa anak2 itu melakukan hal ini? Ternyata sebagian besar mereka berasal dari keluarga broken home.  Ulah mereka sebetulnya bentuk protes sosial.

Sederhana saja misi sekolah ini yaitu “mencapai WAJAR 9 TAHUN melalui pendidikan formal”

Apapun perbuatan destruktif yg telah para siswa ini lakukan, mereka tetap mempunyai hak bersekolah.  

Saya cukup salut dg bakti ibu bapak guru di sekolah ini, walau para murid dengan semena2 meliburkan diri namun mereka tetap datang kesekolah, tetap mengunjungi rumah anak2 tsb, tetap menggalakkan program pembinaan pada siswanya. Mengarahkan mereka untuk tetap melanjutkan wajar 12 tahun. Bagi mereka “tidak semua anak bisa berprestasi, tapi semua anak bisa menjadi baik” 

—– KOMITMEN DAN LOYALITAS PROFESI benar2 diuji manakala seorang guru bertugas di sekolah seperti itu, mau lari? Atau terus mengabdi karena mereka pun generasi negeri——

Selamat hari pendidikan nasional!!

Advertisements

2 thoughts on “23. We need it!

  1. Bu… saya suka sekali artikel ibu ini. seringkali sekolah yang tidak “wah” mendapat komentar (yang saya dengar) ttg ketidakprofesionalan perangkat-perangkat sekolah dan murid-muridnya. Tidak jarang pula komentarnya diakhiri dengan statement, “gimana tuh ya, tutup aja sekolah kayak gitu”, tanpa mereka tahu kondisi di balik apa-yang-kita-lihat. pendapat awam saya, guru-guru yg mengajar di sekolah itu digaji kecil sekali tapi niat dan kesungguhan mereka untuk membekali murid-muridnya (yang kebanyakan berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah) dgn ilmu dunia dan akhirat sangat besar. yang lebih sering saya dengar dari mereka (seingat saya) adalah kekhawatiran tentang para siswa akan kesulitannya dibandingkan keluhan akan gaji mereka. Mungkin banyak yg tdk tahu, meskipun dari sisi kehandalan, atau kedekatan dgn media teknologi mereka memang jauh dari guru-guru di sekolah yg sudah “wah”, tapi mereka sebisa mungkin selalu belajar dan menyesuaikan (meskipun tidak signifikan). Yah, mungkin mereka dipandang sebelah mata oleh banyak orang, bahkan mungkin juga teman2 seprofesinya, tapi kalau tidak ada orang-orang seperti mereka, siapa yang MAU dengan IKHLAS menangani murid2 ekonomi menengah ke bawah, yg mendapat pengalaman belajar lebih sedikit daripada kalangan menengah ke atas untuk membeekali mereka agar siap menjalankan kehidupannya kelak. Sekolah yg saya bicarakan ini diistilahkan oleh guru2nya dgn istilah “bengkel”. Yah, saya tau persis bu bagaimana sekolah ini, saya salah satu murid yg pernah sekolah di situ selama 6 tahun (SD).

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s