#25. Mempertanyakan Akal Sehat Bapak Profesor?

Dalam perjalanan pulang menggunakan GA tanggal 7 Juni tersedia beberapa koran and I take SINDO.  Tek…ditelusuri semua artikel yang menarik, dan kolom curhat yang ditulis oleh Guru Besar Psikologi itu menarik untuk saya baca, bukan karena judulnya, tetapi karena nama besarnya.

Sang Profesor menanyakan tentang “AKAL SEHAT”

Sebetulnya yang di-CURHAT-kan oleh Guru Besar ini tentang pengelolaan inventarisasi di kampusnya.  Misalnya tentang mengapa komputer lama masih disimpen tidak dibuang saja? Sang Profesor mengkritik BIROKASI INVETARISASI yang membuat ribet dan keluar dari akal sehat, tentu saja dengan analisa psikologi yang dalam.  Saya sendiri selaku orang yang pernah membuat SOP di kampus, salah satunya terkait inventaris ini justeru mempertanyakan “pengetahuan” sang profesor.   Sebagai ketua prodi, jika memang tidak ingin digudangkan, ya usulkan saja untuk dilelangkan.  Dan tidak semua barang dari jaman jeprut disimpan digudang, jangkanya hanya 5 tahun, setelah itu bisa dimusnahkan, tapi harus dibuat laporan pemusnahannya.

Nah, yang membuat saya mengyengitkan dahi, mengapa dari inventarisasi barang di kampusnya lari ke CURHAT-an ketidaksukaannya terhadap aparat pemerintahan negeri ini yang mengizinkan PAWAI AKBAR sebuah ORMAS ISLAM di Senayan.  Si Profesor menanyakan AKAL SEHAT pemerintahan yang ada karena membiarkan ORMAS yang mengancam NKRI.

Kembali lagi, saya justeru mempertanyakan SEMPITNYA pengetahuan dan pikiran Sang Profesor tentang demokrasi, dan terkukungnya pikiran Sang Profesor dengan EGO yang bisa mengarah pada KEDIKTATORAN.  Demokrasi adalah sebuat tatanan pemerintahan dari rakyat oleh rakyat.  Rakyatlah yang memilih ideologi apa yang ingin diterapkan atas wilayahnya.  Indonesia termasuk negara yang OPEN IDEOLOGI,  kita pernah mencoba untuk menerapkan sosialisme, walau tidak lama karena tidak sesuai dengan keinginan masyarakat Indonesia.  Kapitalisme yang diterapkan pada zaman ORBA cukup nyaman bagi masyarakat Indonesia, walau ada sisi yang belum liberal, maka reformasi pun terjadi.  Kapitalisme Liberalisme yang dijalankan di ORDE REFORMASI ini sedang dinikmati oleh masyarakat Indonesia, walau banyak pertanyaan WHY? WHY freeport diperpanjang? WHY subsidi BBM dicabut? WHY perusahan BUMN di go publikkan? pertanyaan WHY?WHY?WHY? itu ditanyakan oleh mereka yang tidak memahami esensi kapitalisme liberalisme.  Esensinya ideologi ini membebaskan campur tangan pemerintah menyerahkannya pada yang punya kapital.   Pemerintah hanya memjadi fasilitator saja.  Ideologi ini berhasil? Ya, negara di ASIA yang bisa menjadi contoh keberhasilan penerapan ideologi ini adalah JEPANG.

Lalu jika ada sekelompok masyarakat yang menawarkan Ideologi yang lain selain Kapitalisme Liberalisme yang kita anut sekarang, dan kebetulan negara yang mayoritas muslim ini tidak pernah menerapkan ideologi ini, yaitu Ideologi Islam yang dijalankan oleh sistem Kekhilafahan, pertanyaannya perlukan kita BERANG seperti sang profesor?  Jawabannya NO.  Mengapa? Karena semuanya akan dikembalikan pada rakyat.  Maukah rakyat Indonesia menerimanya? Ridhokah rakyat Indonesia menjalankan ideologi tersebut?  “Ingat demokrasi menyerahkan sepenuhnya pada pilihan mayoritas rakyat” – jadi kalau mayoritas rakyat saja menganggapnya itu biasa saja bukan hal yang bikin resah, hanya segelintir saja yang resah, seperti resahnya Sang Profesor.  Ya, itulah derita Lu, bukan derita rakyat.

Yang patut diingat disini adalah “Tidaklah mudah menaklukkan hati mayoritas rakyat Indonesia”  perlu kerja keras dan cerdas.  Hanya dengan memberikan mimpi saja, akan ditepis…karena Rakyat Indonesia sudah kenyang dengan sodoran janji kampanye yang tak pernah direalisasikan dengan baik.  Hanya menyuguhkan simbol2 ketakwaan seperti jangut atau jilbab….juga tak akan mempan.   Rakyat melihat ternyata kader bahkan ketua partai  berjangut pun bermain dalam kumbangan tindak korupsi dan koleksi futsun.  Sebuah tantangan yang tidak mudah…..tapi bukan berarti mustahil.

Jadi, AKAL SEHAT itu adalah manakala kita bisa memandang dari sudut pandang kelompok lain, orang lain, menggali pengetahuan lebih banyak…. bukanlah AKAL SEHAT jika memandang sesuatu dari sudut pandang EGO sendiri.  Wallohualambisawab.

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s