Mencari Hilal: Merekatkan silaturahmi sesungguhnya… #resensiFilm

Serasa begitu dekat dengan ayah……. dan ….. legaaaaaaa……….

Begitulah kesan usai menonton  FILM “Mencari Hilal” yang akan ditayangkan di Bioskop mulai tanggal 15 Juli nanti.

Hilal? Hilal bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia.  Hilal selalu dicari dan ditunggu untuk mengawali bulan ramadhan dan mengakhirinya.

Dengan apik  lewat frame demi frame yang kadang menggelitik, Sang Sutradara  menggambarkan Mahmud sebagai sosok ayah yang taat agama, bersih akidahnya dan jujur amalnya.  Semua tindakannya mengikuti amalan Rasulullah saw.  Gambar sikap Mahmud tidak menaikan harga barang dagangan mengikuti kenaikan, dan tetap mendasarkan pada harga stok terdahulu, adalah sebuah gambaran pedagang taat syariat. Konservatif?? Hemmm, Saya sih mah lebih suka menyebutnya orang takwa yang ucap dan langkahnya seiring.

Lalu Hely Sang Anak?? ….dengan pendekatan dialog Sutradara membawa para penonton menemukan sosok Hely.  Dialog-dialog singkat mengambarkan Heli sebagai aktifis kemanusian yang memiliki luka mendalam pada ayahnya.  Kecewa pada ayahnya dan akhirnya memberontak pada agama.

Sebuah relationship  rumit antara ayah dan anak bukan? Namun,  akhirnya mereka dipertemukan untuk menghabiskan perjalanan bersama melakukan nampak tilas Sang Ayah dalam “Mencari Hilal akhir Ramadhan”.  Cerita pun mengalir karena adanya perbedaan  niat, sudut pandang, usia, dan rasa…tak jarang kelucuan, keharuan, dan ternyata pada satu titik mereka pun menemukan kesamaan watak yaitu munculnya sikap “IDEALIS” ketika bertemu shobib sang ayah yang gagal jadi Kepala Daerah.

Baik, tentang film ini sendiri Acung jempol buat Sutradarnya. Film ini menyajikan…

  1. Visualisasi.  Kita akan dimanjakan dengan visualisasi alam dan sosial.  Walaupun ada sedikit lebay, ketika Hely berteriak tanpa sebab pada pasukan ormas bermotor… kemudian dinetralisir oleh sang Ayah bahwa itu baik saja mengingatkan orang-orang, kalau niatnya juga baik, tapi itu tak mengurangi keindahan visual lainnya.  Paling menarik adalah visualisasi di awal…digambarkan sangat artisitk tentang “sebuah tas dibawah pohon….”  dan gambaran ini akan terjawab pada 1/6 akhir cerita tergambar… tak perlu banyak berkata, semua visualisasi ini seakan-akan mengatakan….. “aku mulai perjalanan disini…….”  Dan di 1/6 akhir film dengan visualisasi yang sama….. menggambarkan “Diakhiri atau dilanjut semuanya dipasrahkan pada keputusan anaknya” ….. dan ending.  Visualisasi yang apik disajikan frame demi frame di film ini.  Membuat kita tertahan dan betah menyaksikannya.
  2. Pemain.  Saya harus acungkan jempol pada Pak Dedi Sutomo.  Actingnya luar biasa, tak banyak kata, tapi body language menggambarkan semuanya.  Dan saya tidak akan terkejut kalau akhirnya bapak ini mendapatkan piala citra pada FFI nanti.
  3. Alur cerita.  Jalan cerita utamanya adalah perjalanan cinta ayah dan anak.  Selama melakukan perjalanan menemukan realitas sosial dan politik yang dikritik sesuai pesan sponsor, namun semuanya disajikan dengan logis dan tak menganggu alur cerita.  Kalau tidak suka dengan kritik sosial dan politiknya, dilewat saja pun tak akan mengurangi alur cerita.  Misi utama dari film ini ….”Bagaimana merekatkan kembali silaturahmi ayah dan anak lewat sebuah perjalanan…..nostalgia”.  Seperti film produksi mizan umumnya…air mata, tawa, kejutan-kejutan ada di setiap frame yang kita simak.  Misalnya penonton dibuat tertawa ketika Pak Mahmud berniat pergi dengan membawa kopernya,  kopernya kemudian diambil anak perempuannya dan dikembalikan baju2nya ke lemari, tetapi Pak Tua ini tak hilang akal, ia memang punya koper cadangan.  [Maaf, saya teh dari USA (Urang Sunda Asli) ari koper [n] = sejenis tas ditulisna janten kofer atau kover atau koper ya? hehehe].   Kita penonton dipaksa menarik makna dari “frame  sebelum perjalanan di mulai ada dialog Ayah dan anak tentang ajaran Nabi Khidir” dengan mengikuti seluruh frame yang ada sabar dan sampai tuntas baru ngeh maknanya.   Dan…..berkat film ini juga saya jadi cari2 isi Al Kahfi 62-82 yang bercerita tentang nabi khidir. Eh…beberapa ayatnya ternyata menggambarkan bagaimana sang Ayah sedang membelajarkan si anak memang meniru nabi khidir membelajarkan Musa as.

     “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku.” (Surah Al-Kahfi : 67)

    Nabi Musa berkata, “Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun.” (Surah Al-Kahfi : 69)
    Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi : 70)
  4. Hal yang paling saya suka adalah ending film ini.  Dari ending film….”Ketika Hely membuka paspornya….dan kita semua melihat nama lengkapnya” maka MENCARI HILAL bukan sekedar makna faktual yaitu sebuah tanda awal atau akhir ramadhan tetapi juga makna emosional…tentang kasih sayang, tentang perjalanan SEORANG BAPAK KERAS KEPALA YANG TERNYATA MENYIMPAN CINTA PADA ANAKNYA YANG MEMBENCINYA.

Yap, Hely mungkin termasuk pemuda yang beruntung.  Tidak semua pemuda/pemudi berkonflik ayah-anak berakhir happy ending. 

Dan……… Rasanya begitu sayang melewatkan film ini, karena film ini bisa mengingatkan kita tentang memori ayah kita.   Banyak tingkah Bapak Mahmud yang membuat kita bernostalgia terhadap sosok bapak yang sudah tua.  [Stttt suami saya yang duduk disebelah berisik ‘Pesis si Eyang’].   Ternyata…..mengajak napak tilas ke momen tertentu yang paling berkesan dalam hidupnya akan mempererat tali silaturahmi  dengan orang tua kita.  Kenapa kita tidak coba tawarkan pada ayah/ibu kita?

Satu lagi, film dengan tema seperti ini jarang sekali ada di Indonesia, sungguh sayang melewatkan film yang syarat makna kaya inspirasi.  Di jamin di Film ini tidak akan ditemui adegan para non-mahrom bekasih-kasihan, jadi kalau nonton sekeluarga termasuk mengajak anak-anak tetaplah aman.

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s