Etika Berjualan #Indonesia

Kalau urusan perut, kebanyakan orang kita tidak lihat lagi aturan agama dan etika, apalagi perasaan orang lain. Gak di alam nyata gak di dunia maya, tindak tanduknya sama aja.

Di dunia nyata, KUDETA TROTOAR DAN BAHU JALAN adalah pemandangan umum yang kita lihat di berbagai kota di Indonesia.  “Saya berjualan yang halal!” begitu alasannya ketika para TIBUM menggelandang mereka.  Mungkin sebagian besar penjual kaki lima itu muslim. Ya, bisa dipastikan mereka muslim.  “Barang dagangan HALAL” menjadi jaminan boleh berjualan dimana saja.  Padahal dalam islam ada dua hal yaitu milik pribadi dan milik umum.  Kepemilikan umum tidak boleh atau haram dimiliki pribadi.  KUDETA TROTOAR atau BAHU JALAN untuk kepentingan pribadi yaitu “berjualan” tentu saja bukan tindakan yang diperkenankan dalam hal ini.  Trotoar dan bahu jalan adalah milik umum digunakan sesuai kepentingan umum yaitu para pejalan kaki.  Namun, entah mengapa juga “kebanyakan para pendakwah dan gerakan dakwah” enggan melakukan LITERASI SYARIAH pada masyarakat untuk hal seperti ini.  Akibatnya membiarkan begitu saja para pedagang yang melakukan kudeta terhadap lahan umum sebagai tindakan wajar aja secara agama.  Atau isu ini tidak terlalu SEKSI untuk diperbincangkan dan terlalu menguntungkan pemerintahan kota yang notabene-nya SEKULER atau THOGUT??? – entahlah!!! Menurut saya yang namanya hukum syara sih harus tetap dijelaskan segamblang2nya pada umat.

Di dunia maya, umumnya FOLLOWER seleb dan tokoh masyarakat memanfaatkan kolom komentar untuk mempromosikan dagangannya.  Buka lapak di status orang lain??? seakan2 dianggap sah-sah saja.  Di pikirnya follower lain yang baca akan tertarik.  Aihhh yang ada juga sebal…  Kalau yang model seperti ini bukan melakukan kudeta tempat umum, tapi kudeta kepemilikan orang lain, menganggu kepemilikan orang.  Di mana habluminanasnya? Padahal ada hadits yang meminta kita menjaga ketentraman dan kenyamanan tetangga.  Dimana pengamalan hadits ini?

Screen Shot 2015-07-17 at 11.10.52 PM

 

Ini sebuah pengalaman, kami berkumpul di grup humor.  Pembicaraan tentu saja tentang humor. Tak ada yang berjualan di grup ini.  Namun dari humor, kami saling mengenal termasuk usaha yang dimiliki, dari situ terjadi juga jual beli, selama interaksi di media sosial padahal tidak pernah melakukan jual beli.  Jual beli dilakukan ketika kami sudah saling kenal dan saling percaya.  Para pelaku bisnis dunia maya harus menyadari bahwa sebagai PENJUAL jangan egois, tetapi masuklah melalui interaksi, sehingga pembeli pun akan bersimpati.

 

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s