#70 tahun – DIMANA POSISI ANDA?

Sebuah bus lusuh dan reyot jurusan bogor-bandung.  Bus itu dikelola oleh seorang supir, kodektur, dan mekanik.
Supir, kodektur, dan mekanik setiap lima tahun berganti, namun busnya tetap yg sama.

60 Penumpang setia bus sudah merasa kesal dg bus tersebut, tapi masih percaya dan cinta pada bus tersebut.  1/10 penumpang (Grup A) juga sebenarnya ingin meninggalkan bus itu, ada yg berkumpul membicarakan strategi2 politik untuk menganti bus tersebut.  1/10 penumpang (grup B) yang merasa tidak terlalu penting busnya, tapi yg utama adalah supir, kondektur, dan mekanik nya dari golongan mereka, dg begitu mudah nantinya bagi mereka buat mengganti bus itu.  1/2 lagi (Grup C) tak terlalu penting ttg bus lusuh dan reyot. Yg paling penting bus atau kru bus itu dapat menghantarkan mereka dg aman dan selamat sampai tujuan.  3/10 penumpang (grup D) adalah orang2 yg dipilih untuk membuat para penumpang setia dg bus, mereka aktif mencari supir2 terbaik, mekanik terbaik, dan kodektur terramah.  Mereka juga aktif menyebarkan pamplet pada penumpang.  1/10 penunpang (grup E) adalah org yg paham kondisi, senantiasa mengadvokasi penumpang tentang konsekuensi pilihan mereka.  Penumpang ini tidak pro siapapun, mereka komitmen buat mencerdaskan para penumpang.

Saat ini,  supir dipilih dg penuh cinta oleh sebagian masyarakat. Supir pekerja keras, dia pilih pula kondektur dan mekanik yg mau bekerja keras, mau menyingsingkan lengan.  Sebelum bus berangkat supir selalu memastikan apakah kondektur telah membersihkan bus, dan mekanik pun memastikan mesin laik jalan, bagian2 yg aus sdh diganti. Grung……grung…. Supir mengingatkan penumpang membaca do’a, dan mulai menjalankan bus.  Si supir memilih jalur puncak dibandingkan tol cipularang.  Penumpang pun protes keras, “ini bagaimana mau ceoat sampai, ah supir parah!”  Grup B bilang “Ganti we supirna teu becus pan, coba kalau milih supir urang baheula bakalan urang kabeh dibawa liwat jalan tol cipularang” ….  Grup A langsung nyolot “Ah,…nu jelas mah busna buru2 ganti jadi bisa lewat cipularang, mun can diganti moal bisa”.  Grup D  berkata “udah sabarrr percaya we pada supir. Nu penting sampai tujuan, ieu supirna geus lihay”.  Grup C hanya memelas dada, bingung melihat grup a, b, dan c.  Grup E lebih bersikap dan berpikir logis, “bus reot seperti ini tak mungkin melalui jalur tol cipularang, supir telah cerdas memilih jalur demi keselamatan penumpang”.

Dreg….bus pun mandeg dan mogok.
Grup B langsung nyolot “Tah sia, ceuk uing oge naon.  Supirna goblok teu boga kapabilitas lain ngajalankeun mobil malah buat mobil mogok. Omean tah mekanik”  Grup B pun nyeletuk “ganti busna Pir! Ganti kunu anyar.  Yeuh saya kasih carana ganti bus!”.  Supir dg santun mengatakan, maaf grup B saya hanya diamanahi menjlaankan bus ini saja, gak punya wewenang mengganti bus ini”.   Mekanik dan supir segera turun untuk memperbaiki mobil.  Kondektur dg ramah mengatakan, bapak ibu agak cukup lama perbaikannya saya akan menghibur bapak dan ibu supaya tidak jenuh.  Mari nyanyi bersama dan joget juga boleh.  Grup B nyolot kembali “lain ngaji, malah dangdutan sagala.  Jeung eta supir nanaonan mantuan mekanik PENCITRAAN wae”  Untuk urusan ini g/10 penumpang lain lebih milih ikut hiburan atau menghibur diri saja.

Jika bus adalah sistem pemerintahan negara, supir adalah presiden, mekanik dan kondektur adalah para menteri dan para pejabat negara. Penumpang adalah rakyat yg terkotak-kotak dalam kelompok, partai, serikat, dan hanya sekedar rakyat  saja…. Maka dimanakah diri kita???
#MERDEKA!!!

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s