Sederhana ketika berkecukupan

Mungkin sebagian orang hidup dg azas “biar tekor asal kesohor” tapi tidak bagi ayah yg satu ini.  Ia lebih memilih hidup di gubuk tua.  Ia sangat bekerja keras sewaktu muda.  Selain pekerjaan tetapnya sebagai seorang ABRI ia masih menyempatkan diri untuk bercocok tanam, menjadi juragan beca, memfasilitasi modal bagi guru yang membuka kursus bahasa inggris, membuka konveksi celana jeans, membuka bisnis daur ulang kertas, membuka usaha jualan kompor, memfasilitasi karang taruna membuka kedai batagor, sementara isterinya pun berjualan kue basah untuk dijual di berbagai warung dan kantin.  

Gaji kecilnya cukup untuk kehidupan sehari-hari.  Tetapi usaha yang dijalankannya sebetulnya cukup untuk sedikit bermewah-mewahan. 

“Ayah, apakah kita bisa beli mobil dan tinggal di rumah yg lebih baik?” Tanya putrinya.

“Bisa” Jawab si Ayah 

“Kenapa ayah tidak melakukannya? Kenapa ayah tidak mengajak kita pindah di lingkungan yg lebih layak daripada gubuk di gang kecil ini! Apakah ayah punya uang biar kita bisa pindah ke perumahan cijerah seperti teman2 ayah?”

“Pertanyaanmu banyak sekali, tapi suatu saat kamu akan tahu jawabannya”

Memasuki pensiun tubuh tuanya tak kuasa untuk terus menjalankan bisnisnya.  Perlahan-lahan ditarik semua modal dari bisnisnya satu persatu.  Modal tersebut digulirkan kembali untuk membangun rumah kontrakan dan kos-kosan.   

“Ayah, aku sudah gede, udah punya suami, adik juga bentar lagi kelar kuliah. Kenapa ayah masih sibuk memikirkan uang? Apakah ayah masih membutuhkan uang?”

“Ayah tidak ingin meninggalkan kepapaan pada anak2 ayah, nanti kau akan belajar dari ini semua!”

Lelaki tua itu tak pernah hirau dg merk sepatu, baju, ……  Ia tetap hidup dalam kesederhanaanya.  Selamanya tidak pernah minta dan menyusahkan org, klu perlu sebaliknya berusaha bantu orang.

Dengan jabatan yang disandangnya, ia tak ingin tampak kesohor, dg hartanya sebetulnya dia bisa bermewah-mewahan, tapi ia tak pernah mau jadi orang tekor.  Ia datang ketika anaknya kesulitan ekonomi, ia tak pernah minta pada anak2nya, sebaliknya dialah yg lebih banyak membantu.

“Ayah, seharusnya aku yg mulang tarima sama ayah, kok ya aku malah nyusahin ayah, masih minta bantuan finansial sama ayah” sesal putrinya.

“Uang ayah uang kamu juga. Ayah ada ayah bantu.  Tak perlu ‘mulang tarima’ cukup do’akan saja ayah agar masuk surga”

Muda bekerja keras, tua tak menyusahkan anak, sampai tua tetap berbagi……..

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s