Pemimpin dan Wanita #iseng

harta, tahta, wanita….membuat pria menjadi buta

Kenapa penyebutan 3Ta diawali harta? Yap, biasanya para berharta dulu baru kemudian cari kedudukan/tahta, setelah itu cari wanita….[wanita lain untuk jadi selingkuhannya]. Meraih harta tentu perjuangan berat yang biasa ada peran ister [wanita pendamping sah yang dikorbankan baik waktu maupun kebersamaan]…. begitu pula metamorfosis dari harta ke tahta ini memerlukan perjuangan berat sang isteri.   Namun ketika sukses sudah diraih…meraih wanita tidak perlu konfirmasi isterinya……bahkan boleh jadi meninggalkan isterinya….

Wanita dilingkaran kekuasaan, ini bukan hal baru.  Dari dulu….seperti sebuah tradisi.  Kalau jaman raja dan para nabi termasuk Nabi Muhammad saw, “WANITA” sebagai hadiah bagi pemimpin sebagai tanda persahabatan dua negara.  Tentu saja diberikan wanita terbaik baik dari sisi kecantikan maupun dari sisi tabiatnya.  Nabi Muhammad saw mendapatkan Mariatul Qibtiyah dari proses ini.

Abad kapitalistik, wanita dilingkaran kekuasaan tetap ada cuma perannya bukan lagi sebagai selir tetapi sebagai pelengkap penderitaan alias selingkuhan atau dari selingkuhan akhirnya dinikahi secara resmi.  Dan wanita pada era ini dapat menjadi kartu TRUF untuk menjatuhkan sang pemimpin.  Ingat, kasus presiden AS dan Monica Lewisky…[untunglah ia punya istri yang visioner dan besar hati, sehingga tetap bertahan, pada kasus pendahulunya hal seperti ini bisa mendulang pemecatan].    Lalu wanita disekeliling para pemimpin indonesia bagaimana? yang akhirnya menjebloskan dalam bui….publik tahu ada mantan presiden PKS dan rekan kongkalingkongnya AF, Gubernur sumatera utara yang dibanggakan para kadernya karena hapal qur’an dan suka tidur di tikar penduduk……ternyata juga kepeleset jauh dengan wanita kedua.

Wanita juga dapat menjadi sandungan bagi calon pemimpin loh? Kok iso! Ya iso…sa iki #PEREMPUAN#

Bersinar karena prestasi serta mendapatkan posisi namun turun pamor karena wanita.  Ini pun banyak.  Dulu para ibu-ibu favorit dengan sosok seorang Dai Muda bersorban dan Calon Presiden Muda Masa Depan, tetapi kasus menceraikan isteri pertama memilih hidup dengan isteri kedua membuat publik tidak simpati lagi.  Akhirnya publik pun terutama ibu-ibu tidak mau lagi bicara atau nge-Fans pada publik figure tersebut.

Kini betapa sulitnya kini Sang Da’i meraih kembali simpati terutama dari ibu2 dan para wanita.  Tablig yang memasang namanya tidak lagi menjual.  Lebih baik hadir di mamah dedeh daripada hadir mendengarkan Sang Da’i yang telah melukai wanita.  BRUGGGG hancurlah image yang sudah dibangun bertahun-tahun hanya kasus WANITA.

Begitu pula bagi Calon Presiden Masa Depan.  Awal muncul ketika reformasi terjadi, menjadi bintang cemerlang….bahkan jika saat itu dia mencalonkan diri menjadi presiden, kemenangan pastilah diraihnya.  Namun umur mudanya saat itu tak memperbolehkannya menjadi calon pemimpin negara.  Sayangnya kasus wanita pun menjeratnya berakhir menceraikan isterinya dan memilih wanita 23 tahun, menjadikan publik [sekali lagi kebanyakan bu-ibu] gak simpati sama sekali.  Sayang sekali, menaikan kembali simpati publik bukan hal gampang.  Sekarang menurun grade dari calon presiden menjadi calon gubernur, namun apa lajur, simpati publik sudah menguap, sangat sulit menampungnya kembali.

Publik bukannya anti poligami…Banyak poligami yang menuai pujian, karena poligami tersebut sukses memberikan kedamaian pada para isteri-nya, beberapa ustadz dan da’i pelaku poligami tetap menjadi idola karena keberhasilannya membawa dua biduk rumah tangga.  Bahkan diantara seloroh para ustadz “Lelaki dapat menjadi pemimpin jika dia sudah bisa membiduki minimal 2 rumah tangga dengan aman tanpa menimbulkan karam pada salah satunya apalagi dua-duanya.  Namun, kalau sampai karam salah satunya, maka gak lolos ujian kempimpinan.  Jadi jangankan mimpin umat, mimpin dirinya sendiri aja belum bisa”

____

#JLEB! Jangankan memimpin umat yang besar, memimpin diri sendiri aja belum bisa! Ini maknanya dalam banget.  Jika refleksi diri lalu perasaan isteri, kalau cenderung monogami, mengapa berani poligami apalagi selingkuh? Tentu ini akan merusak dirinya dan isterinya.

— Kalau saya mungkin lebih #jelb lagi….”Jangan mengendalikan satu wilayah atau satu indonesia, memahami satu isterinya saja gagal.  Jangankan menghargai perasaan jutaan bahkan ratusan juta rakyat, menghargai perasaan satu isteri saja tak mampu” —

Ok, kita lihat fakta sekarang….

Pemimpin yang kuat itu hadir karena kuatnya dorongan sang isteri.  Pak Soeharto (alm) kuat kepemimpinannya karena dorongan Ibu Tien (alm).  Bill Clinton bisa 2x periode memimpin AS walau tertimpa skandal, karena kekuatan Hilary.  Begitu pula pak SBY, semua tahu ada Ibu Ani lah yang selalu mensupport kepemimpinanya right or not right.  Terlepas apakah publik suka atau tidak suka dengan para isteri mantan presiden tersebut….namun inilah fakta:

dibalik pemimpin yang kuat ada WANITA YANG KUAT YANG SENANTIASA MEMPERTAHANKAN KEUTUHAN RUMAH TANGGANYA.

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s