Dating or Nothing?

Waktu kuliah Ilmu Kesejahteraan Keluarga (IKK) di kelas terjadi  perdebatan.  Begini ceritanya….

1/3 isi kelas saya adalah mahasiswa yg telah mengalami ‘brainstroming’ dg ide2 gerakan islam yg memdang bahwa “dating” adalah perkara haram dan mendekati zina.  Ketka dosen psikologi kami  membuka perkuliahan tentang tahap hubungan berkeluarga dan salah satu tahap tersebut. DATING, sontak aja hujaman pertanyaan tertuju.

Nah, sebagian besar teman2 saya melalui pernikahan yg menurut saya luar biasa sholeh…Dijodohkan oleh para murobinya atau senior pengajian.  Siap nikah? Minta cariin jodoh!  Ikhwan dan akhwat yg siap nikah kemudian bersatu.   Bahkan ada gosip saking tsiqoh-nya, ikhwan2 tersebut memilih para akhwat dg membalik foto dan memilih secara acak dari akhwat yg siap.  LUAR BIASA BUKAN?  Untuk model ini Without dating cenderung gambling…

Bgmn tingkat keberhasilan perkawinan model begini? Kalau yg akhirnya jadi jodoh adalah teman2 kampus….dan ternyata pernah bersama2 mengerjakan tugas atau berorganisasi yang artinya pernah saling kenal satu sama lain, maka keberhasilan rumah tangga bisa dikatakan cukup berhasil.  Pernah juga model jodoh2an ini dilakukan dan ternyata yg dijohkan teman satu SMA, teman rohis bareng ketika SMA, artinya sebelumnya mereka kenal juga.  Ada kenal sebelumnya, ada kecocokan maka rumah tangga mereka cukup berhasil.

Hanya saja model ini jodoh2an kayak gini menurut saya ‘gambling’.   Mari bicara setelah 7, 13, dari pernikahan tersebut.  Jrennngggggg

“Umi, saya mau nikah lagi?”   “what? Sama siapa Abi?”  “Sama ukhti yg pernah mengisi hidup Abi, jaman jahiliyah dulu.  Sekarang dia sudah janda, suaminya sudah meninggal, Abi mau melamarnya!”  — Korban CLBK.

“Umi, Abi ijin nikah sama perempuan cantik dari  Honggaria.  Entahlah,  rasanya abi merasa jatuh cinta.  Sebelumnya abi belum pernah merasakan hal seperti ini”.     Umi pingsan.   —– Korban perasaan cinta.

“Umi, ijinkan Abi menikah lagi dg wanita lain?” “Loh, memang kurang Umi apa Abi?” “Banyak Umi, umi sebenarnya bukan tipe abi.  Abi suka perempuan yg putih, manja, langsing, dan modis.  Bukan yg hitam, gemuk, dan  mandiri seperti umi.  Abi sudah menemukan perempuan idaman Abi sejak lama.  Dia teman sekantor Abi”.   Umi banting pintu.   — Korban angan2.

“Umii…harus mengizinkan Abi menikah lagi pokoknya titik!”  “Abi gak rasional!”  “Umi, abi juga dulu gak rasional menikahi umi.  Dikasih foto umi, lalu diminta lamar Umi.  Abi waktu itu masih culun, nerima aja apa kata murobi.  Sekarang Abi udah dewasa.  Abi merasa untuk mendapatkan akhwat yg satu ini gak mudah bagi Abi.  Abi suka style-nya, ini perempuan tipe abi.  Tomboy, mandiri, enak diajak ngobrol apapun tentang hidup ini.  Coba Umi pikirkan, obrolan kita sehari2 apa? Cabe naek, anak sekolah…..umi juga gak nyambung kalau Abi bicara hobby Abi naik gunung.   Sekarng umi pilih ijinkan poligami atau abi ceraikan.   Perkawinan kita adalah kesalahan.  Abi dari dulu sebetulnya pengennya nikah sama akhwat yg punya hobby sama naik gunung” 

Menikah….bukan bicara hari ini tapi bicara masa depan, bicara tentang 7, 13, 25, bahkan 50 tahun ke depan.  Inilah sebabnya Rasulullah membolehkan wanita menolak lamaran seorang pria, dan senantiasa meminta para pria untuk mengenal secara fisik wanita yang akan dilamarnya, bahkan Rasulullah pun membolehkan mengutus perempuan saudara si lelaki untuk melihat wanita yg akan dilamar.   Semua itu dilakukan agar dari dua org yang menikah tersebut punya ‘magnet’ yg saling tarik menarik.  

Dating – bukan berarti melakukan banyak hal berdua seperti suami isteri saja.  Dating berarti saling kenal dan cocok,biarlah pada saat sekarang berjalan sebagai mana hubungan antar teman yg wajar menurut syara-saling bantu dlm kebaikan-, tapi jika ada kecocokan, maka suatu saat bisa datang untuk melamar.   Belum ada survei sih, tapi dlm kehidupan yg saya lihat sampai detik ini….mereka yg memulai hubungan dengan teman2 SMA atau kuliah lebih bisa mempertahankan RT MONOGAMI dibandingkan dg mereka yg dijodohkan dg org2 yg tidak dikenal. Walaupun perjodohan itu mengatasnamakan syariat islam.

Dating or nothing at all….. Itu pilihan.  Hal terpenting adalah mencari titik temu yg bisa menyatukan dlm kebersamaan berkeluarga itu paling utama. 

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s