Zakat oh zakat

Penghasilan 10 juta, gak zakat? Kamu dipertanyakan ke-muslim-annya.  Begitulah kira-kira iklan suatu lembaga zakat.  

Saya bukan orang yang kompeten terkait hukum, tapi saya cuma memaparkan dari hal yang menjadi keyakinan saya saja.  Dari sebuah proses belajar yang sampai sekarang masih saya tabbani.

Entahlah kadang risih kalau ada yang bilang “Kita aja bayar pajak penghasilan 5-15% tergantung pangkat/golongan untuk setiap gaji dan honor yang kita dapatkan, tetapi kita tak keluarkan zakatnya?”  Lalu ada lagi analogi “Petani aja mengeluarkan zakat dari hasil pertanian, itu petani loh! Masa kita profesional gak keluarkan zakat!”

Dan semua analogi itu menghasilkan hukum terkait Zakat.   Dari semua analogi itu dicarilah dalil yang memandankan  analogi.  Hemmm!!! Saya pun merenung!

Saya mungkin disebut kolot karena berpegang teguh pada kaidah syari’ ibadah sesuatu yang tauqify.  Nah, zakat adalah salah satu ibadah, salah satu rukun islam.  Dalam ibadah kita tak boleh menambah-nambah, nambah-nambah dalam ibadah disebut bid’ah. Urusan ibadah adalah urusan Tauqify [begitu adanya] dan tidak ada ilat [qiyas atau analogi] dalam urusan ibadah.   Jadi begitu adanya dari Rosulullah saw, begitu kita harus patuhi.  Dalam aspek ibadah ya harus apa adanya.

Ok, ringkasnya zakat saja, dalilnya bisa ditelusuri dari At Taubah dan surat lainnya, Af’al dan pelaksanaannya bisa ditelusuri dari hadits2 terkait.

  1. Zakat Fitrah dalam syariat jelas HARUS dalam bentuk Tho’am/makanan pokok 3,5 liter/2,7 kg.  Zakat fitrah diterima oleh orang Fakir & miskin.
  2. Zakat maal: terkait pada hasil perniagaan (1), pertanian(2), pertambangan(3), hasil laut(3), hasil ternak(4), harta temuan(6), emas dan perak – untuk emas/perak termasuk didalamnya Tabungan/deposito/reksadana karena Ideologi Kapitalis telah menukar emas/perak-dirham/dinar menjadi MATA UANG KERTAS dan kertas2 berharga lainnya (7).  Zakat Maal diterima oleh 8 asnab: fakir, miskin, Gharimin, Mualaf, Hamba Sahaya, Fisabilillah, Ibnu Sabil.

Lalu, bagaimana kemudian zakat fitrah yang secara jelas dari ayat dan af’al Rosululloh selalu dalam bentuk makanan kemudian kita ganti dengan uang, hanya karena alasan PRAKTIS???   Jika zakat fitrah itu ibadah yang setara dengan sholat, maka boleh dong dengan alasan yang sama untuk ke praktisan SHOLAT yang bacaan bahasa arab itu saya ganti ke bahasa sunda? Boleh dong SHOLAT MAGRIB yang waktunya pendek dituker aja bukan sholat tapi cukup do’a dan dzikir? Bisakah kita mengubah2 sholat seperti itu?  Tentu saja tak bisa dan tak boleh! Kita bisa2 disebut sesat jika begitu.  Lalu kenapa kita melakukannya pada ZAKAT??? Disinilah saya gagal paham, pada sebagian orang yang membolehkan mengganti beras dengan uang.  Bahkan PNS di Propinsi JB langsung main potong gaji untuk pembayaran “zakat fitrah”, berhubung sudah tidak ada lagi jatah beras.

Begitu juga dengan zakat mal.  Tiba2 muncul zakat ke 8, yaitu zakat profesi.  Apakah pada zaman Rasulullah saw dan para shahabat tidak ada penjual jasa? Nah, tidak mungkin tidak ada bukan? Ada orang-orang yang bekerja sebagai assisten atau ajir dari mustajir, mereka menjual jasa, majikan membayar jasa mereka.  Entah itu penulis transaksi, marketing, sales, atau hanya bagian logistik.  Lalu apakah Rasulullah dan khalifah sesudahnya memunggut zakat dari mereka??? Jadi zakat profesi itu bagaimana? Jangan2 itu hanya nambah-nambahin aja.

—Fenomena kebabblasan: “Zakat telah berubah dari orientasi ibadah menjadi orientasi “mengeruk harta umat” —-

Agak ngeri sebenarnya, karena Zaman Abu Bakar orang-orang yang tidak mau bayar zakat diperangi. Nah, ingat konsekuensi perang adalah bunuh membunuh.  Lalu seandainya ada zakat profesi, maka orang yang tidak bayar zakat itu harus diperangi juga? dibunuh? ditumpas? dihabisi? Ngeri bukan?

Atau fenomena zakat profesi itu sebenarnya hanyalah fenomena “Keirian saja kaum islamis terhadap kaum sekularis”?  Kaum sekularis dapat membangun infrastruktur dan kesejahteraaan rakyat melalui pajak.  Sebetulnya islampun bisa membangun kesejahteraan umat melalui zakat. Maka berdirilah lembaga-lembaga zakat independent untuk mengumpulkan zakat dari para mustahik.  Kalau yang dikumpulkan hanya terfokus pada tujuh hal saja disertai dengan syarat-syarat zakat lainnya yaitu nisab, ulang tahun, dll tentu saja secara kuantitas sangat kecil sekali.  Maka berfikirlah….berijtihad….sampai bertemu dengan potensi zakat profesi dengan mengqiyaskan pada pajak penghasilan [Sebagai orang awam saya malahan jadi bertanya lagi, MEMANG BOLEH YA BERIJTIHAD DALAM HAL IBADAH? BUKANNYA HASIL IJTIHAD DALAM IBADAH AKAN MENGHASILKAN TAMBAHAN ATAU IBADAH BARU.  DAN SEGALA HAL TERKAIT TAMBAHAN DALAM IBADAH ITU BID’AH?].

Jadi, orientasi zakat diubah dari ibadah menjadi benefit sosial dan pembangunan manusia

Acapkali zakat untuk 8 asnab pun bermetamorfosis menjadi program.  Beberapa lembaga zakat memang sudah berubah menjadi MINI GOVERMENT.  Tugas-tugas pemerintah dalam kesejahteraan rakyat, penyediaan layanan kesehatan dan pendidikan, kewirausahaan, dll.

__

Paparan di atas  bukan berarti kita gak boleh sedekah 2,5% dari penghasilan kita loh!

Alangkah lebih baik kita punya alokasi khusus untuk sedekah dari penghasilan kita.  Dari setiap kita mendapatkan honor/gaji kita bersihkan harta kita.  2.5% itu sangat kecil sekali sebenarnya, karena apa? Ingat yang akan menjadi tabungan kita di akherat adalah setiap harta yang kita sedekahkan.  Bukan setiap harta yang kita belikan pakaian, sepatu, tas, dll barang habis pakai yang akan jadi usang dan terbuang.  Jadi seyogyanya sebagai seorang muslim bertakwa memprioritaskan sedekah ini.  Dany seyogyanya kebahagian bagi seorang muslim adalah ketika bisa memudahkan urusan orang lain, membuat orang lain bahagia dengan bantuan kita, walaupun kita hanya bisa bantu sedikit dari harta yang kita punya.

Hanya saja sedekah berbeda dengan zakat.  Orang yang tidak bersedekah tidak akan kena hukum apapun, hanya kena cap sebagai ORANG KIKIR atau MEDIT di dunia, dan miskin amalan di akherat.  Namun kalau orang tak ber-zakat tentu saja hukum islam keras padanya di dunia dan pedih siksanya di akherat.

Lalu terkait dengan sedekah.  Apakah sedekah itu mau di sebuah lembaga pengumpul sedekah atau ke komunitas atau orangnya langsung, semuanya tentu akan bermanfaat. Bagi lembaga yang mengelola sedekah, karena ini sedekah bukan zakat [ingat bahwa zakat harus 8 asnab) maka sah-sah saja kalau lembaga itu kemudian mengelola harta yang disedekahkan menjadi program-program bagi kesejahteraan umat.

___

So???  I just write what i think…although it’s nothing.

 

 

Advertisements

One thought on “Zakat oh zakat

  1. I have noticed you don’t monetize your page, don’t waste your traffic, you can earn additional
    bucks every month because you’ve got hi quality content.
    If you want to know how to make extra $$$, search for: best adsense alternative Wrastain’s tools

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s