Sabtu bersama Bapak 


Walau disajikan buat film lebaran tapi Baru sempet nonton, maklum saya lebaran di kampung gak ada bioskop.  Dan kesannya “Filmnya lebih seru dan asyik!!”

Jika ada orang yg kecewa, “Kok, filmnya gak seperti novelnya?” Nah, baru kali ini saya menikmati nonton film setelah baca novelnya.  Kalau gak percaya silahkan aja buktikan sendiri😝.

Ok, dari baca novelnya saya suka ide ceritanya.  “Menghadirkan sosok Ayah dalam mendidik anak”.  Walau sosok ayah telah tiada, tapi petuahnya hadir sepanjang masa, sampai akhir masa melepaskan ke-jomblo-an anaknya.  Sungguh Brilliant ide ceritanya, dan jempol buat Adhit.  Dalam pendidikan keayahbundaan kita semua mafhum bagaimana kehadiran sosok ayah dan ibu tak bisa terganti dengan apapun.  Kondisi single parent akan membuat pincang kepribadian anak.  Nah, ide mem-video-kan petuah2 ayah, diputer tiap sabtu, ini bener2 ide cemerlang.  

Selain alur utama dan ide utama “menghadirkan sosok ayah”, masih ada dua cerita lagi.  Pertama, konflik rumah tangga antara Satya-Risa yang bikin merengut. Kedua,  usaha Cakra mengakhiri ke-jomblo-annya yang bikin ketawa. Menonton film ini kita dihadiahi banyak QUOTE yg membuat kita berfikir keabsahan logika umum selama ini.  Misalnya umumnya menikah itu tujuannya saling melengkapi, pasangan satu menyempurnakan pasangan lainnya. Lewat dialog Cakra pada Ayu justeru “sebelum menikah haruslah mematutkan diri, menyempurnakan diri apakah layak menjadi imam bagi pasangannya?”   

Bagi yang belum nonton, ada baiknya menyiapkan catatan, karena akan banyak quote di film ini, hehehe. Mungkin filmnya jadi terkesan menggurui ya? Namun kesan itu akan pupus dengan kenikmatan akting Cakra, Wati, Firman yang sungguh kocak. Juga kematangan akting Acha dan Ira Wibowo. 

….dari ide cerita juga rangkaian cerita walau tidak didedikasikan sebagai film religi atau film berlabel islami, ini film lebih islami daripada film yang  berlabel islami namun alurnya seputar percintaan segitiga.  Memang cocok banget film ini disajikan di moment lebaran.

Oh ya hal yang menarik dari film ini adalah ….membiarkan gambar yang berbicara.  Tidak ada satupun tokoh yang mengungkapkan apa penyebab kematian ayah Satya-Cakra, tapi dari surat yang diterima kita tahu bahwa apa penyebab kematian ayah mereka.  Lalu tidak perlu mengungkap dengan banyak kata “alasan religius” kenapa Cakra ngebet sama Ayu…cukup dengan menggambarkan dengan sepasang sepatu terongook di rak sepatu Mushola kantor.  

Satu lagi yg bikin jempol…. Setting 1990-an sangat diperhatikan pada film ini.   film tidak abai sama setting perangkat dan teknologi yg melatari tahun kronologis.  Detail penggunaan dari kaset ke flashdisk bukan sekedar perangkat tapi jadi makna sebagai sebuah film bergaya flashback.

Penasarankan? Kalau gitu silahkan menonton!

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s