Ide Kendaraan Pedesaan Masa Depan: “Sepeda Aruna” untuk Murid SD

banner_blog.jpg

Saya cukup terkejut melihat viral berita JPNN.com  di media sosial.  Beritanya tentang anak-anak di sebuah Sekolah Dasar di Trenggalek, “Anak-anak SD naik sepeda motor ke sekolah.”

Jarak dari rumah ke sekolah katanya rata-rata dua kilo meter, namun jalannya berbukit, dan mereka pun ingin cepat sampai di sekolah.    Sekolah dan aparat desa setempat telah berulang-ulang kali melarang hal ini, namun mereka tak kuasa karena para orang tua tak dapat mengantarkan anaknya, orang tua  sibuk bekerja di hutan dan ladang.  Terpaksa dibiarkanlah anak-anak kelas IV – VI SD mengendarai sepeda motor.

Selain peraturan SIM, kendaraan bermotor pun didesain bagi mereka yang telah berusia 17 tahun, bukan  untuk anak usia 9-11 tahun.  Sehingga anak-anak akan sulit mengendalikan motor tersebut baik dari sisi tinggi maupun bobot kendaraan.  Pada tontonan berita pun tampak anak-anak usia 9-10 tahun kesulitan mengendalikan motor tersebut.

Apakah kita akan membiarkan ini semua?

Peristiwa di Trenggalek ini bukan hanya fenomena di daerah itu saja, boleh jadi menjadi fenomena di kota lain.  Termasuk di Kota saya Bogor yang termasuk perkotaan.  Anak-anak SMP yang tidak disediakan jemputan sekolah lagi, akhirnya diijinkan orang tua untuk membawa motor.  Kontur jalan di beberapa desa dan kota berbukit-bukit, jika naik sepeda biasa akan sangat melelahkan bagi si anak.  Kontur jalan di desa tambah lagi tantangan, yaitu sebagian jalan berbatu dan bertanah liat.  Jika dipaksakan membawa sepeda, tentu sepeda akan jadi beban panggul bagi si anak.  Melelahkan bukan? Jika datang ke sekolah dia akan kelelahan, maka bagaimana anak bisa belajar dengan baik?

Desain kendaraan buat sekolah anak pedesaan Indonesia!

Dengan pertimbangan sebagian besar pedesaan di Indonesia terutama pulau Sumatera dan Jawa sebagai berikut:

  1. Kontur berbukit-bukit
  2. Jalanan berbatu atau sekedar tanah liat
  3. Jarak tempuh ke sekolah 2 – 10 km
  4. Anak bersekolah dengan adik atau kakaknya
  5. Indonesia negara tropis punya musim panas sepanjang tahun

Berdasarkan pertimbangan itu, maka desain kendaraan bagi anak pedesaan di Indonesia haruslah memenuhi aspek sebagai berikut:

  1. Mengatasi kontur berbukit-bukit, sepeda harus dilengkapi mesin, bukan sekedar kayuh, karena butuh bantuan dorongan tenaga ketika posisi menanjak.
  2. Dengan jalan berbatu dan tanah liat, maka ban yang digunakan harus dapat menghindari slip.  Ban harus memiliki tonjolan-tonjolan gerigi yang tajam dan kuat.
  3. Jiwa masyarakat Indonesia yang komunal dan gotong royong, maka kendaraan harus memiliki boncengan.
  4. Kendaraan bertenaga surya lebih cocok karena banyak pedesaan di Indonesia mempunyai sumber listrik yang terbatas.

Desain yang mempertimbangkan keempat hal itu kita namakan  “Sepeda Aruna.  Aruna berasal dari bahasa sansekerta yang berarti  fajar, sehingga bisa disebut juga sepeda fajar.  Fajar kata lain dari matahari atau surya, matahari yang terbit pada pagi hari. Sepeda digunakan oleh anak-anak SD ketika fajar mulai menyising untuk pergi ke sekolah.  Jadi nama Sepeda Aruna cocok digunakan.    Gambar di bawah ini dapat menjadi inspirasi  untuk mengembangkan “Sepeda Aruna” lebih lanjut.

daymak-beast-the-solar-powered-off-road-scooter-photo-gallery-81988-7

Sepeda Aruna dikembangkan dari prototife sepeda yang sudah ada.  Ban kendaraan sudah sesuai untuk kontur jalan tanah liat di banyak pedasaan Indonesia.  Selain gowes, penggunaan tenaga surya tenaga penggerak. Tiga aspek dari empat aspek ideal sudah dimiliki kendaraan ini, tinggal ditambahkan boncengan yang nyaman di belakang pengemudi.  Dan tidak lupa cat warna yang digunakan adalah MERAH, karena fajar berwarna merah.  Sekarang tinggal pengaturan ketinggian sesuai poster dan bobot tubuh anak-anak Indonesia. Sumber gambar: http://autoevolution.com

Untuk rancangan teknis terkait ebike tenaga surya, Mual Alim mengunggah sebuat artikel terkait pengembangannya.  Pada artikel tersebut tersedia acuan pembuatan dan  kalkulasi lainnya.  Kita bisa menbacanya di sini –> KLIK.

Nah, alangkah indahnya kalau anak-anak desa mulai dari kelas 4 SD di pedesaan Indonesia yang jarak tempuh ke sekolah lebih dari 3 kilometer kontur daerah berbukit-bukit dipinjami sepeda model seperti ini.  Anak bisa membonceng adik kelasnya di kelas 1-3.  Kendaraan seperti ini juga bisa digunakan oleh anak-anak SMP dan SMA yang belum pantas punya SIM.

Untuk anak-anak dengan jarak tempuh ke sekolah kurang dari 3 km lebih baik disarankan untuk berjalan kaki.  Sekolah perlu mengiatkan kembali kesadaran  berjalan kaki ke sekolah.

#InspirasiIndonesia #IMAJINESIA #TMMINspirasi

 

 

 

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s