Negeri Kuali Asia #EduTravelling

um2

Sebenarnya kunjungan ke Malaysia kali ini untuk menghadiri International Conference, bukan untuk bahas sociocultural. Namun sisi sosiocultural Malaysia ternyata asyik juga ditelaah.

Negeri kuali Asia pantas disematkan pada malaysia.  Negara ini punya tiga ras yang saling bahu membahu membangun Malaysia yaitu China, India, dan Melayu.

Kalau kita jalan-jalan di Kualalumpur, kita akan mendengar sebagian cakap bahasa China, bahasa India, bahasa Melayu, dan bahasa Inggris.  Dan… jangan heran kalau Orang India gak bisa bahasa Melayu atau Inggris, dia hanya bisa bahasa India pun begitu dengan orang China.   (Gue bayangin kalau kejadian itu terjadi di Indonesia, orang China tidak bisa bahasa Indonesia, pastilah udah dituduh imigran gelap).

Nah, masuk ke hotel. Ups, hotel2 penuh! Rombongan China membooking kamar-kamar hotel, mereka adalah wisatawan dari China.  Sebenarnya rombongan wisatawan dari China bukan sekali itu saja saya lihat, di Jepang pun mereka banyak sekali.  Sekali memberangkatkan ada 20 orang untuk satu kloter, dan bisa ada 5-10 kloter loh berpapasan dengan kita. (Sekali lagi gue bayangin kalau kejadian ini terjadi di Indonesia, maka mereka akan disangka imigran gelap, punya tujuan tinggal di Indonesia. Ups padahal mereka sumber devisa kita ya?)

Begitu “terbukanya dada dan tangan” orang2 Malaysia terhadap China dan India membuat saya kagum.  Kalau YOU pergi ke universitas negeri di Indonesia, coba You hitunglah, berapa ras China yang mengisi jajaran akademik di universitas negeri? Ada 5% itu udah luar biasa, umumnya hanya 1-2 orang saja kan?  Tapi kalau you tenggok malaysia, maka jajaran akademik di universitas negeri maka You akan kaget, China-India memenuhi jajaran akademik universitas2…negeri.  Dan kita mungkin bisa saja berdalih, “Aih, itukan karena ranah akademik yang lebih open, kalau politik, mungkin tidak”.  Nah, silahkan you buka jajaran JAMAAH MENTERI MALAYSIA: KLIK DISINI  you akan lihat 17% anggota jamaah berethis China, dan nama mereka tidak mengalami naturalisasi, sehingga you akan lihat nama2 China macam ONG KA CHUAN, LOW SENG KUAN, SIEW KEONG, LIOW TIONG LAI ,  atau nama India macam S. SUBRAMANIAM.  

Siapa yang menyangkal “keberislaman budaya Malaysia?” Tapi keberislaman mereka ternyata mampu menghargai perbedaan lintas budaya dan mampu berbesar hati menerima kesamaam hak dan kewajiban sebagai WN.

Ok, back to Indonesia.  Akhir-akhir ini sebagian agama dan ras tertentu merasa lebih berhak atas Negara Kesatuan Republik Indonesia, atas Wilayah yang mereka tempati, sehingga mereka menutup peluang bagi beda agama dan ras lain untuk maju menjadi pemimpin daerah atau negera.  Aneka dalil dikeluarkan untuk menyatakan HARAM.  Ya, semua dalil itu memang bersumber pada kitab suci.  Kebenaran dalil dari Al Qur’an adalah benar adanya, sebagai muslim tak boleh membantahnya.  Namun, pertanyaannya, “Apakah konteks penerapan dalil tersebut cocok untuk Indonesia?” Indonesia adalah negara yang mendasarkan dirinya pada Demokrasi Pancasila (atau istilah beberapa kelompok mendasarkan pada SISTEM KUFUR bukan SISTEM ISLAM).  Lalu pertanyaannya, “Apakah pemimpin SISTEM KUFUR pun harus MUSLIM JUGA?”

Disinilah “nalar” kita berperan.  Islam adalah agama agung, namun sebagian orang memanfaatkan islam demi kepentingan politiknya.  Agama dijual demi mendulang suara.  Ketika prestasi lawan tak bisa ditandingi, maka MEMBAWA AGAMA dan ETHIS/RAS menjadi adalah jalan pintas yang digunakan mereka. Mereka melakukannya bukan semata-mata murni karena agama, tapi karena MENTAL MANUSIA KAPITALISME MATERIALISME DAN GILA KEKUASAAN.

Bukan hanya di Indonesia, di USA pun sama kok! Masih ingat kampanye agama/ras pada Obama? Yap, tuduhannya adalah “Obama Muslim, Obama AfroAmerican, gak layak jadi pemimpin USA yang mayoritas kristen dan orang kulit putih/CaucasianAmerica”.   Ok, mirip kan? Mirip sama Lu pada yang mengatakan “Ahok kristen, Ahok ChinaIndonesia” gak layak jadi pemimpin Jakarta yang mayoritas Islam dan MelayuIndonesia

#sekian saja! Let’s Think, daripada Nothing#

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s