It’s Politics, be carefull!

“Andaikan Rasulullah saw hidup pada saat ini, apa yang akan beliau perbuat?”

Itulah yang senantiasa saya tanyakan dalam hati ketika menyikapi berbagai isu yang mengarah pada ajakan aksi.  Bagi orang seperti saya yang terbebas dari partai politik atau dari gerakan dakwah bernuasa politik adalah penting bertanya hal seperti itu sehingga dapat melihat segalanya dengan clear dan mantap dalam bersikap karena kekuatan hujjah.  Belajar kembali menggali “Siroh Nabawiyah” menjadi mutlak dalam kondisi seperti ini.

Bagi mereka yang menjadi anggota dari partai politik atau gerakkan dakwah, kemudian mereka meng-expose ayat2 dan siroh2 yang mendukung dan memperkuat opini mereka, hal itu adalah wajar.  Jika pun mereka mengajak dan mendakwahkan opini mereka dengan cara halus atau paksa, bagi saya adalah wajar-wajar saja, itu sudah menjadi gerakan politik dan dakwah mereka. Apa yang mereka lakukan semoga senantiasa menjadi sebuah kebaikan bagi islam.

Seorang ustadz Syekh Taqiyuddin An Nabhani semoga Alloh swt merahmatinya menuliskan adalah kita harus mampu melihat apa yang ada di balik dinding, adalah kita harus mempunyai kemampuan melihat di atas awan.  Ini bermakna kita harus memiliki sebuah pandangan yang holistik tidak hanya melihat semua makna yang tersurat dan tersirat. Jadi artinya kita memang dituntut memiliki kecerdasan di atas rata-rata untuk memahami semua kondisi.

APAKAH PERSATUAN UMAT ISLAM INDONESIA PERLU DIUJI? Tidak perlu menguji persatuan umat islam Indonesia.  Untuk seruan terkait rukun islam dan rukun iman kita mempunyai kekuatan yang luar biasa.  Berikut ini fakta-fakta umat islam indonesia:

  1. Setiap idul adha, berapa omzet ternak di Indonesia? Tak masalah bagi orang Indonesia ternak saat idul adha naik berlipat-lipat, dan semuanya tetap dibeli, karena alasan “ibadah”.
  2. Haji! Ya, Haji! Berapa rupiah yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk berhaji? 40-60 juta per orang, dan kita Umat Islam Indonesia rela menunggu sampai 10-15 tahun untuk pergi karena quota haji.  Tidak hanya mereka yang berkecukupan yang pergi berhaji, banyak juga mereka yang menyisihkan hasil sedikit usahanya yang tidak seberapa untuk memenuhi panggilan Alloh swt ini.
  3. Pada saat Ramadhan, sumbangan ta’jil dan zakat fitrah ditunaikan dengan baik.  Saat shalat id, berapa banyak ruas jalan dan lapangan yang digunakan karena membludaknya jamaat untuk shalat id?
  4. Hal-hal yang diberi label “halal” dan “syariah” di Indonesia lebih diminati umat islam daripada yang tidak berlabel, walau produknya sama halal-nya atau sama-sama tak melanggar syari’ah.
  5. Dan bagi umat islam indonesia, bersedeqah untuk kepentingan umat dan menolong sesama adalah hal prioritas.  Miliyaran rupiah bisa dikumpulkan umat islam indonesia dalam patungan membangun mesjid di negera Jepang.

Jadi masih perlu lagi menguji persatuan umat islam?

APAKAH DALAM ISLAM SEMUA HAL SELALU BERUJUNG PADA HUKUMAN FISIK…, TIDAK ADAKAH SELA UNTUK DIMAAFKAN? Mari kita ber-tafakur “Andaikan Rasulullah saw, hadir pada saat ini” Lalu terjadilah dialog fiktif seperti ini:

  • Muslim1: Ya, Rasulullah Si Fulan dia mengatakan “Bapak ibu tak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun..ini bapak ibu tak usah khawatir  nanti programnya bubar, tidak saya  berhentinya sampai oktober 2017, jadi kalau program ini dijalankan pun bapak ibu masih sempat panen sama saya.  Jadi saya ingin bapak ibu semangat, jangan nanti ganti gubernur programnya bubar. Enggak saya sampai Oktober 2017.  Jadi jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya.  Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu, program ini jalan saja.  Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok, gak suka sama Ahok, programnya udah terima gak enak dong gue punya hutang budi, jangan nanti gak enak mati pelan-pelan kena stroke…..”
  • Rasulullah saw: lalu apa maksudmu?
  • Muslim1: Dia telah menghina Al Qur’an dengan perkataan yang ini, Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu.
  • Rasulullah saw: Jadi apa maumu?
  • Muslim 1: Aku mau dia dihukum ya Rasulullah saw.  Sungguh dia telah menistakan Al Qur’an.
  • Lalu datanglah muslim2 menghadap Rasulullah saw.  Muslim2: Ya, Rasulullah sesungguhnya dia sudah minta maaf, dia berjanji pada umat islam tidak akan mengulanginya lagi, sesungguhnya perkataannya itu karena kebodohannya semata, karena ketidaktahuannya, karena emosinya.  Tak ada niat dari dia melukai umat islam. Dia sudah mohon maaf.
  • Rasulullah saw: Jadi apa maumu hai muslim2?
  • Muslim2: “Saya mau dia dimaafkan saja…!”
  • Rasulullah saw: “…………………..”

Jika Rasulullah saw hidup pada masa ini, dan menghadapi persoalan seperti itu.  Kira-kira apa yang akan beliau putuskan?

___

back to fakta politik

Alhamdulillah aksi 212 berjalan damai, Pak Jokowi mampu tampil meredam aksi, diskusi ulama dan umaro mampu mengalihkan aksi dari Aksi Demo menjadi do’a bersama, dari gelar sajadah di sepanjang jalan menjadi gelar sajadah terlokalisasi pada area monas dan sekitarnya.  Apresiasi yang sangat tinggi buat umat islam dan para aparat.

Namun tampaknya aksi 212 belum memuaskan, terbukti setelah aksi 212 muncul provokasi seperti di bawah ini: Radio Dakta pada 2 Desember jam 1:59 men-tweet “Aksi 411 seperti thawaf, aksi 212 seperti Wukuf.  Kalau Ahok masih dak ditangkap SELANJUTNYA TINGGAL KITA LEMPAR JUMROH!!!”  dan twiit seperti ini pun menjadi viral.

img_0225img_0226

Bukan hanya itu, setelah aksi muncul juga “Ghirah mendirikan lembaga ibadah, ekonomi dan usaha 212” di sisi lain muncul tuntutan perdata 470M yang mengiringi tuntutan pidana penahanan Ahok, sebelumnya tuntutan hanya 240 juta terkait biaya2 yang sudah dikeluarkan oleh Habib Novel untuk urusan mengadukan Ahok, tapi kemudian membengkak jadi 470M setelah aksi 212.  Berdasarkan dua berita ini kita pun diberi peluang untuk mengkaitkan dua fenomena ini “Apakah mau mendirikan lembaga ibadah, ekonomi, dan usaha 212 dari dana 470M tersebut?”

Sampai di sini apakah kita dibuat puyeng dengan fenomena ini?  ya it’s politics be careful.

Jadi, bagi saya pribadi….sebagai seorang muslim yang tidak berafiliasi dengan partai dan gerakkan dakwah manapun serta tidak punya hajat politik, saya memilih kembali saja pada dunia profesionalisme.  “Belum banyak yang bisa disumbangkan bagi umat dan negara ini?” Jangan-jangan saat ini saya hanya mengerjakan rutinitas saja untuk diri dan keluarga, tanpa memberikan sumbangan berharga pada umat.  Wallohualam bi sawab.

____

Advertisements

3 thoughts on “It’s Politics, be carefull!

  1. Opini yang lugas dan cermat. Saat beropini memang sebaiknya kita melihat dari berbagai sudut pandang ya, bu.
    Ibarat, pemilik yg berada di dalam rumah tidak akan mengetahui cacat di atap rumahnya atau tembok luar rumahnya, sebelum ia melihatnya dari sisi luar rumah.
    Saya merasa posisi saya sama dg ibu. Muslim yang bukan org politik dan bukan bagian gerakan dakwah manapun. Sudut pandang kita terhadap ‘rumah’ itu akan lebih jelas dan objektif.
    Bukankah dakwah bisa dilakukan dimanapun, siapapun, tidak perlu juga harus bergabung dengan suatu gerakan dulu baru kita boleh dakwah?
    Menurut saya dengan tulisan ringan namun analisa cermat seperti yg ibu buat ini, juga merupakan bagian dakwah…dakwah yg menentramkan, yg mencerdaskan.

    Bangga pernah jadi mahasiswa Ibu Yanti Herlanti, sehat dan semangat selalu yaa, bu….

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s