Teman Jadi Lawan #it’s politics!

Minggu-minggu kemarin itu, minggu yang menguras perasaan saya banget deh! Betapa tidak? Karena keseringan komen dan diskusi di salah satu grup FB alumni institusi saya waktu S1, teman-teman  punya multitafsir, bukannya dikonfirmasi malah mereka berasumsi sendiri melalui diskusi-diskusi menjurus pada ghibah dan fitnah, kebayang aja…laiknya cyber army mereka meng-capture komentar-komentar saya, lalu memperbincangkannya dengan asumsinya.  Ironisnya buzzer-nya adalah para kader dan aktifivis sebuah partai dakwah. (Duh jadinya makin gak simpati gue sama nih parte).

Kebetulah mereka berdiskusi di grup WA, dan saya founder grup WA Majelis Ta’lim tersebut tetapi saya mengeluarkan diri dari grup WA.  Udah lama saya keluar dari grup itu mungkin tahun lalu…sebelum heboh pilkada AHOK.  Alasan saya keluar dari grup itu karena sebal dengan kelakuan mereka menghina ulama.  Pertama-tama mereka menghina Quraish Shihab saya luruskan adab terhadap ulama.  Bapak Quraish Shihab di UIN Jakarta adalah guru besar, ahli tafsir, ilmu kita gak kesampaian dengan ilmu beliau, jika ada beberapa yang tidak sependapat, maka laiknya kita hargai perbedaan, pilih saja ikuti atau tidak, boleh jadi itu adalah karena kebodohan kita yang ilmunya gak sampai seperti beliau.  Tapi yah…mereka ngotot, ngotot tetap melakukan penuduhan pada Bapak Quraish Shihab.  Dan yang membuat saya keluar adalah ketika terjadi lagi….mendeskriditkan Bapak Nasaruddin Umar ketika terpilih sebagai Imam Mesjid Istiqlal.  Saya tekankan pada mereka bahwa Bapak Nasaruddin di UIN Jakarta sangat dihormati kepakarannya, dan beliau termasuk salah satu pendiri IIQ, sebuah institusi yang mengkader pada hafidz al qur’an menjadi intlektual muslim.  Tentu saja saya dan semua di grup itu bukan apa2 jika dibandingkan dengan beliau dari sisi agama, kok ya kita berani caci maki dan tuduh “ulama” yang bukan-bukan.  Alih-alih diskusi sehat, saya malah dituduh liberal.  Sudahlah….saya masih waras untuk ngalah, daripada terlibat diskusi gak karuan lebih baik saya LEAVE GROUP.

Setahun setelah “leave group” ternyata mereka melakukan GHIBAH dan FITNAH dasyhat sama saya. Ck ck ck ck, kurang kerjaan amat.  Mungkin saya tokoh atau seleb? sehingga pantas dijadikan ajang gosip.  Uniknya ketika saya japri, mereka sama sekali gak ngerasa DOSA.  Malah minta konfirmasi sana sini sama saya, sepertinya saya sebagai tertuduh! COME ON!! Are u crazy or am i stupid for understand you?

Saya sih sangat yakin bahwa pengkaderan di sebuah kelompok dakwah itu akan menghasilkan individu-individu yang bersyaksyiah khas.  Ini beda banget antara yang satu dengan yang lain.

  1. Teman saya di kelompok parte ono nyerang dan menuduh…..walau akhirnya dia bilang oh berarti kita salah tafsir, dan dia tak ada minta maaf atas kesalahan yang dia buat karena mungkin dia merasa tidak bersalah, boleh jadi ini karena parte ono mengajarkan SELALU BENAR.
  2. Teman saya di kelompok gerakan ini, dia hati-hati sekali memilih kata, lembut dan mengatakan bahwa dia hendak tabayun dan tidak rela teman-teman lain melakukan ghibah atau fitnah, gerakan ini mengajarkan menghargai perbedaan mementingkan kesatuan.

Syaksiyah yang ditunjukkan merupakan hasil pembinaan, terlihat sekali pada saat mereka mem-feed back  komentar di status saya.

Saya sih gak mainan politik, gak berafiliansi dengan partai politik tertentu, tapi saya paham.  Saya cuma bisa paham kemana arah gerakan-gerakan pada akhirnya bermuara.  Saya paham apa yang sesungguhnya sedang diperjuangkan.  Sebagai individu, saya punya prinsip kapan saya akan mendukung dan kapan tidak.  Saya berpegang teguh pada cara Rasulullah saw berdakwah dan beramal.  Walaupun mungkin saya tidak memperhitungkan -fiqih syiasi- dalam kalkulasi saya, saya pikir memang tak mampu perhitungkan ini, karena saya bukan anggota partai atau gerakan politik yang punya tujuan politik.

Ok, saya belain Ahok? Saya gak punya kepentingan politik buat bela Ahok, saya tak ber-KTP Jakarta.  Kalau tidak membela kenapa kamu tidak menghujat Ahok? Loh! terkejut saya dengan ungkapan itu! Saya tak biasa menghujat, yang punya hak menentukan salah dan benar itu ada dua yaitu HAKIM dan TUHAN.  Saya hanya punya kewajiban IQRA dan MENENTUKAN AMAL YANG HARUS SAYA AMBIL.

Kajian saya terhadap Af’al Rasulullah saw terhadap Abu Lahab, Abdulah bin Ubay, dan Kaab bin Asyraf, cukup bagi saya untuk memaafkan AHOK yang terpeleset lidah.  Ditambah ayat Al Qur’an yang melarang saya berlaku tidak adil terhadap kaum yang kita benci.  Makin menguatkan saya untuk tidak mempermasalahkannya.  [Dan dengan sikap saya ini kemudian, kalian mengatakan saya MUNAFIK? Saya harus bilang SHAME ON YOU.  Landasan pengambilan sikap saya atas hal ini berdasarkan dalil loh!]

Lalu saya, tak menghitung ‘alasan politik’ ya, karena saya tak punya kepentingan politik apapun terhadap pilkada.  Jadi saya tak hitung hal itu.  Saya warga negara yang tidak ‘berpolitik’. ANDA KEBERATAN? Anda katakan harusnya jadi “semut ibrahim” – No!!!  Bagi saya, itu urusan mereka yang terlibat di partai dan gerakan politik, jangan libatkan saya sebagai rakyat sipil untuk ikut2an, dan saya pun tak mau terlibat untuk sebuah agenda yang saya sendiri tak punya pengetahuan pasti terhadap agenda itu.  Saya ingat benar pesan Alloh swt “Jangan mengikuti sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan terhadapnya”

Bagi saya kalkulasi jelas, jika perjuangan ‘beribroh pada cara-cara Rasulullah saw’ menegakkan Dien di Madinah, dan cara-cara Wali Songo mengislamkan 80% nusantara, maka saya turun jadi semut ibrahim.

Saya sendiri tidak pernah setuju dengan pesta demokrasi, bayangkan untuk PILKADA DKI, dana kampaye yang dibutuhkan lebih dari 80 M. Kalau uang 100.000 yang berdimensi 0,5 cm dijejerkan, maka 80M itu panjangnya adalah 80.000.000.000 cm, atau 40.000 km.  Tahu tidak uang yang dijejerkan itu akan sepanjang apa? Jakarta surabaya saja jaraknya 700 km.  Jarak Sabang ke Meurauke 8.514 km.  Jarak dari Jakarta ke Mekah itu 15.000 km.  Jadi kebayang sejauh apa uang 100.000 rupiah jika dibariskan? Dan setinggi apa jika ditumpuk?  Artinya itu uang banyak sekali! 80 M biasa buat banyak hal dalam pembangunan pendidikan di Indonesia.  Uang sebanyak itu “menguap” dalam sebuah pesta demokrasi.  Betapa KAYA RAYA nya Indonesia, uang dibuang-buang dalam pesta rakyat seperti itu.  Jadi jangan pernah bilang “Indonesia negara miskin, perlu bantuan.  Lah….itu pesta demokrasi aja bisa sampai 80 M loh, masa masih ngaku miskin?”

Saya hanya berpijak, pada yang Alloh swt karuniakan, yaitu Dalil Naqli dan Akal.  Saya tak mau jadi orang-orang yang ikut-ikutan tanpa pengetahuan, artinya sebelum semuanya jelas, logis, dan rasional, saya akan menahan diri.  Saya bukan seekor kerbau yang dicocok hidungnya, dan gak mau jadi bagian dari 7 orang buta yang sedang mendeskripsikan gajah.   Karena sesungguhnya di Akherat kelak, Alloh swt akan menanyakan tentang Amal Saya mengapa saya melakukan amal tersebut? Jadi saya harus pikir baik-baik, gak bisa sembarangan.  Ini #nyunah atau #tidakNyunah?

Kayumanis, Bogor: I am just writing  what i think, although you will say it’s nothing

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s