Jakarta dan Harapan para Pelajo

Ini tulisan iseng, tapi bisa dianggap serius. Sebenarnya pengen nulis buat warga DKI yang punya hak memilih pengen nitip sesuatu….tapi jadinya #random aja deh.alias bakal ngalor ngidul nih tulisan.

Pasca PILGUB DKI Chapter I, apa yang didapatkan? Sebagian terbengong,  kok Ahok masih menang?

#Analisis amatiran pertama: Ini gegara kaum golputers tunduhan #gazebo ini termaktub dalam status sebagian neitizen.  Ngapain ikut aksi 411 212 dan aksi lainnya, kalau akhirnya dia golput? Patut dipahami sebagian umat islam memang memandang bahwa MEMILIH PEMIMPIN DALAM SISTEM KUFUR (sistem bukan islam, termasuk sistem demokrasi pancasila) SIAPAPUN CALON PEMIMPINNYA MUSLIM ATAU BUKAN adalah HARAM.  Ketika sekelompok orang konsisten dengan pendapatnya ini, saya bilang itu bagus, itu namanya KONSISTEN. Lalu jika ada sebagian mencemoohnya, maka saya MENGELUS DADA aja bagi yang mencemoohnya, #shameONyou kamu gak ngerti cara memahami keyakinan orang lain. Sesungguhnya aksi GOLPUT mereka lebih mulia, karena memperlihatkan bahwa dukungan aksi mereka adalah murni karena kesatuan islam, bukan karena politik.  Sebaliknya yang harus malu itu partai yang secara hukum membolehkan memilih pemimpin non muslim bahkan di wilayah papua, maluku, dan kalimantan partai ini mengusung non muslim, tapi partai ini mengharamkan pemimpin non muslim untuk DKI JAKARTA.  Ini namanya inkonsistensi, demi kemenangan dalil haram bisa jadi halal, dalil halal bisa jadi haram.  Jadi #ShameOnYou again.

#Analisis amatiran kedua: Ini gegara sebagian kaum muslimin adalah para munafikun, udah jelas ahok menistakan qur’an masih aja dipilih, apa namanya kalau gak munafik. Yah, manusia udah ngaku tuhan sekarang.  Nabi Muhammad saw saja ketika diminta anak Abdullah bin Ubay menyolatkan ayahnya, Nabi SAW mau, sampai Alloh swt melarangnya karena dia tergolong munafik.  Predikat munafik itu ditentukan oleh Alloh swt, manusia dilarang menyebut seseorang muslim lainnya dengan munafik.  Nabi Muhammad saw jungjungan kita semua “suri tauladan” yang harus diikuti lahir dan bathin, posisi beliau di atas sabda para ulama.  Lihatlah Beliau, Rasulullah saw sangat hati-hati bersikap pada Muslim, dan kita terkadang sangat ponggah menganggap diri kita AL HAKIM bagi muslim lainnya.  Hanya karena #PILKADADKI kita kemudian mencap muslim lainnya dengan MUNAFIK.  #istigfar

Mengapa sebagian muslim yang masih memilih AHOK?

  1. Anggapan 1: Apa yang dilakukan Ahok  bukan penistaan.  Penistaan Al Qur’an itu bagaimana? Penista Al Qur’an itu adalah orang yang mengartikan al qur’an semaunya saja dan sangat bertentangan dengan Al Qur’an.  MISALNYA “DIA MENGKLAIM BAHWA MINUM KHAMAR ITU BOLEH, MABUK-MABUKAN ITU HALAL SELAMA TIDAK SHOLAT, Lalu dia mengutip ayat al qur’an QS. Annissa 43.  Ini baru namanya penistaan al qur’an.  Penista Al Qur’an itu adalah orang-orang yang sudah jelas diperintahkan untuk sholat dan zakat, tapi dia menentang sholat dan zakat.  Penista Al Qur’an itu adalah orang yang menganggap Al Qur’an adalah syair semata bukan sebuah kitab suci kaum muslimin.  Berdasarkan hal ini maka jelaslah bahwa Ahok cuma kepeleset lidah saja.  Memang Ahok tidak pantas secara etika, belum waktu kampanye sudah kampanye, bukan muslim tapi menyetir ayat al qur’an, dosanya hanya sisi ETIKA saja, bukan sebuah dosa maha besar sehingga menggolongkan Ahok pada sebutan PENISTA AL QUR’AN. So, it’s clear bahwa apa yang dilakukan Ahok buka sebuah penistaan tapi pelanggaran Etika.  Kasus Ahok tentu beda dengan Lia Eiden yang mengaku Nabi/Malaikat atau Musadeq yang mengaku Nabi.  Kasus Ahok bisa disamakan dengan kasus Aswendo dan Permadi ditahun 90-an ketika masih zaman orde baru.  Hanya saja, sekarang zaman sudah sangat beda, tidak lagi otoriter, hanya karena perintah presiden orang bisa ditangkap dan dianggap bersalah, Orde Reformasi menyebabkan ketaatkan semua orang pada jalur hukum, tidak lagi jalur personal.  Jika ada sebagian orang yang anggap itu penistaan ya mangga silahkan saja proses secara hukum.  Namun ada sebagian orang yang anggap itu bukan penistaan ya jangan dicaci apalagi diintimidasi.
  2. Anggapan 2: Ini negara Indonesia tidak berlandaskan SISTEM ISLAM tapi berlandaskan SISTEM KUFUR (Demokrasi pancasila dianggap sebagai sistem kufur).  Pada sistem kufur “Apakah harus juga dipimpin oleh muslim, hanya karena muslim itu mayoritas?” Pada sistem kufur, jelaslah pemimpinnya akan melaksanaan uu dan aturan kufur juga, “Apakah itu harus orang islam juga yang menjalankan UU dan aturan kufur ini?”    Kalau seseorang punya logika begini bagaimana, #Sistem Kufur maka Pemimpinnya Kafir, Sistem Islam pemimpinnya Muslim.  Indonesia wabil khusus DKI  adalah Sistem Kufur, maka pemimpin Indonesia wabil khusus DKI harus muslim#  Nah, gak nyambung kan? Jadi, ini negara berlandaskan sistem DEMOKRASI PANCASILA (mau dibilang sistem kufur gak apa2), negara ini secara UU dan aturan memberi kesempatan pada semua ras, suku, dan agama untuk menjadi pemimpin.  So, secara UU sah seorang china dan kristen mencalonkan diri menjadi kepala daerah. it’s clear ya, ini bukan sistem islam, Non Muslim punya kesempatan untuk dipilih juga.
  3. Siapa yang harus dipilih muslim? Apakah dalam sebuah SISTEM KUFUR muslim harus tetap memilih pemimpin muslim? Sederhana saja, mana yang mau dipakai oleh seorang muslim? “Berdiri atas kepentingan kesamaan agama?” atau “Berdiri atas kepentingan kesamaan pembangunan untuk daerahnya?”

Betul kita berada dalam sebuah sistem kufur (kita gunakan istilah ini untuk menyebut demokrasi pancasila agar mudah dipahami), tapi bukan berarti kita tidak dipimpin oleh siapapun, karena ada 7 juta rakyat yang harus dilayani dan diorganisasikan dengan baik untuk mencapai sebuah tujuan, belum lagi warga sekitar Jakarta yang cari hidup di Jakarta. Bayangkan kalau semua berlepas diri tak mau pilih pemimpin? Bisa kacau semua urusan bukan? Kalau pikiran kita semua egois, biarin aja kita semua Golput agar sistemnya kufurnya nanti rusak, yah gimana kalau berpikir begitu hidup tanpa dipimpin oleh siapapun tentu akan kacau balau, sangat kacau.  Seperti halnya kita yang cuma bertiga melakukan perjalanan, kita memilih Amir Syafar, pemimpin perjalanan. Kalau semua memimpin atau semua tak mau memimpin, kacau perjalanan.  Lalu memilih berdasarkan apa? Ya, mangga yang mau pilih berdasarkan kesamaan agama saja, atau mau berdasarkan kepentingan pembangunan tanpa pandang SARA? Rasanya semuanya sah dipilih karena toh ini sistem kufur menjalankan uu dan aturan kufur, bukan menjalankan uu dan aturan islam.  Kalau menjalankan uu dan aturan islam, saya 100% mengharuskan kalian untuk memilih MUSLIM bukan selain MUSLIM! (Ini berdasarkan logika ijtihad amatiran, tak harus diikuti loh!)

Tapi ya, sebagai pelajo Bogor-Jakarta everyday gitu harapan saya bagi warga DKI Jakarta yang punya hak pilih, PILIHLAH YANG MEMBERI BUKTI BUKAN SEKEDAR JANJI.  Kenapa? Saya takut jalur LRT dan MRT mangkrak kembali seperti tempo lalu, padahal harapan kami ada disitu buat atasi waktu tempuh yang panjang ke Jakarta dari Bogor.  Kami takut sikap tidak tegas membuat para pengemudi metromini, kopraja, dll kembali ugal-ugalan, kami butuh angkutan umum yang nyaman dan aman selama di Jakarta.  Banjir adalah hal lumrah di Jakarta, tapi bagaimana titik banjir dikurangi dan cepat tanggap terhadap bencana banjir itu yang harus dilakukan setiap pemimpin jakarta, sehingga kami tetap bisa ngantor saat banjir, tetap bisa melalui jalanan menuju SOETTA dalam kondisi hujan parah.  Kami takut para pasukan orange yang selama ini bekerja dengan gaji UMR telah berkontribusi positif terhadap kebersihan kali dan wilayah Jakarta dianggap membebani APBD DKI, dan warga diajak untuk bersihkan secara gotong royong kali dan berbagai fasum DKI.  Padahal saya tahu, banyak warga jakarta tak punya waktu gotong royong dan warga punya keterbatasan tenaga.

Tapi yah, harapan mah tinggal harapan, yang menentukan pilihan itu ya Warga DKI, mau dibawa kemana dan oleh siapa pengemudinya sangat tergantung pada warga DKI.  Cuma bisa pesan saja, “Di saat hukum islam tidak ditegakkan di Indonesia, kalian bisa memilih berdasarkan kepentingan daerah kalian dan bangsa kalian, pilihlah pemimpin yang memberikan mudharat paling kecil bagi daerah kalian”   “Jika kelak hukum islam tertegakkan di Indonesia, maka pesan saya pilihlah muslim, walau bagaimana pun jeleknya, buruknya dan lemahnya jiwa kepemimpinannya, karena hanya muslimlah yang bisa membuat hukum islam tetap tegak

Wallohualam bi sawab, just think and i write it, maybe you think…it’s nothing.

 

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s