Saya, IPB, Pancasila, dan Indonesia

Pancasila sebagai dasar negara, sejak kecil saya tahu. Saya hapal banget tanggal 1 Juni hari lahir Pancasila. Waktu kecil sih, setiap tahun keluarga kami tumpengan memperingatinya, ya tentu saja, karena hari lahir pancasila bertepatan dengan hari lahir bapak saya, sama-sama 1 juni hehehe.

Pancasila, sebagai dasar negera mulai dipertanyakan ketika saya aktif di rohis SMA. Kebetulan pengisi rohis saat itu dari kakak2 UNPAD, mereka memberikan pemahaman tentang islam dan pancasila, yang intinya pancasila itu tidak sakral dan bukan satu-satunya ideologi negara. Walhasil anak2 SMA yang ikut rohis saat itu jadi penentang guru PMP di kelas. Hingga akhirnya kakak2 UNPAD dilarang manggung lagi di sekolah. Beberapa teman tetap melanjutkan aktifitas kajian dengan kakak UNPAD yang belakangan saya tahu alirannya adalah Jamaa’ah kerosulan. Dan saya memilih tak ikut-ikutan, lebih memilih aktif di KARISMA ITB dan tetap bercita-cita jadi ilmuwan yang bisa membangun bangsa ini.

IPB. Saya diterima di IPB, ketika gagal masuk pilihan pertama kedokteran UNPAD. SMA tempat saya besekolah ada dilingkungan ABRI, teman saya kebanyakan adalah anak ABRI kalau tidak polisi. Salah satu sahabat saya mengingatkan saya, “Yanti, masuk IPB ya? hati-hati disana di Bogor itu banyak aliran-aliran. Jangan ngaji sembarangan”.

Saya tak mengerti banyak apa yang sahabat saya katakan. Ah, mungkin karena sahabat saya ini anak seorang polisi, dia tahu banyak tentang peta masyarakat. Tapi tetap saya tak paham.

Sampai akhirnya saya merasakan …. sendiri. IPB merupakan tempat berkembang dan bertumbuh ragam aliran islam. Ragam aliran ini bisa masuk secara formal melalui responsi agama dan unit kegiatan mahasiswa, maka siapapun mahasiswa IPB tentulah bersinggungan secara langsung dan tanpa disadari paling tidak dengan dua aliran yaitu Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin (masih banyak aliran lain di IPB tapi tidak terlalu banyak massa-nya karena tidak ada dalam lembaga formal kampus, tidak seperti dua gerakkan ini yang memegang lembaga formal di kampus), dua aliran keagamaan yang berasal dari Timur Tengah yaitu Yordania dan Mesir, dua aliran yang secara resmi bisa masuk di kampus IPB. Hizbut Tahrir saja namanya dulu, tapi kini Hizbut Tahrir Indonesia, adapun Ihwanul muslimin ini dulu kami sebut POKJA atau Kelompok Jakarta, karena kebanyakan anak-anak jakarta yang liqo di kelompok ini. Kemudian berubah nama lagi menjadi Tarbiyah dan sekarang PKS. Kok, bisa ya masuk ke IPB? Sejarahnya panjang sehingga kedua gerakan ini bisa bersemanyam secara formal di kampus, namun kunci yang membuat kedua gerakkan ini bisa langgeng melakukan pengkaderan di IPB adalah “kesungguhan dan jiwa tanpa pamrih” menyebarkan ide-idenya. Tanpa dibayar, tanpa minta bayaran, tanpa lelah mereka menyebarkan opini dan merekrut kader-kader di kampus.

Pancasila? Kami dapatkan pada saat p4 selama satu bulan. Yang saya ingat selama satu bulan itu saya dapat makan siang gratis. Sebagai anak kos, lumayan banget. Setelah itu ada matakuliah kewiraan yang membosankan. Jadi, belajar pancasila pun menjadi tidak menarik, lebih menarik hati mengetahui ide-ide khilafah ala HTI atau pemerintahan thogut ala ikhwanul muslimin. Apakah para mahasiswa bersalah? Saya pikir tidak! itu adalah masa mencari jati diri.

Kedua gerakan ini bersifat ideologis? Yap, mahasiswa yang mengikuti kajian di kedua gerakan itu sangat sadar, bahwa kedua gerakan tersebut mempunyai cita-cita untuk menerapkan syariat islam dalam bentuk konstitusi dan menggeser ideologi yang selama ini diemban oleh negera Indonesia yaitu pancasila dan UUD 1945. Pola gerakannya saja yang berbeda HTI tidak menggunakan jalur parlementer, lebih memilih parlementer jalanan yaitu politik menggerakkan massa di luar sistem, adapun ikhwanul muslimin bergerak melalui parlementer menjadi partai politik dan memiliki cita-cita terpendam untuk menjadikan islam sebagai sistem di suatu negara melalui gerakan politik dalam sistem. Istilah DEMOKRASI SISTEM KUFUR atau SISTEM THOGUT, merupakan istilah biasa yang sering terdengar bagi kami mahasiswa IPB.

Walaupun bergerak di kampus, tapi semua aktifitas ada garis koordinasi dengan gerakan di level dunia, bergerak atas arahan langsung dari para Amir di Timur Tengah. Ini sebabnya disebut sebagai gerakan transnasional.

Pancasila, bagi sebagian mahasiswa IPB pada akhirnya terdengar sayup2 saja. Jika mahasiswa IPB menjadi inisiator “Sumpah terhadap Penegakkan Khilafah Islamiyah” kami alumni IPB tidaklah heran. Jika alumni Teknologi Benih IPB semodel Muhammad Al Khotot atau Gatot Saptono ditangkap karena tuduhan makar, kami juga tak heran. Dan kini Bang Sambo alumni Matematika 26 IPB sebagai presedium 212 berapi-api mau menurunkan Jokowi atau konstitusi Indonesia, kami gak heran. Dari tahun 1980-an sampai kini IPB dan juga kampus-kampus lainnya menjadi kawah candradimuka untuk mengkader anak-anak terbaik Indonesia dalam menentang sistem demokrasi dan pancasila di Indonesia.

Tak mungkin masuk IPB kalau gak pintar loh! Rata-rata anak IPB itu juara2 di sekolahnya. Anak-anak itu kemudian memilih untuk menentang sistem yang dianut oleh negara Indonesia? How can?

Abaikan semuanya, karena saya yakin IPB dan Kemenristekdikti pun berpikir keras untuk memecahkan persoalan ini. Saya lebih suka ngobril aja…

“Islam bagi saya bukan sekedar ritual itu betul. Islam mengisyaratkan kehilafahan itu juga betul karena Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Muawiyah, ….tercatat sebagai kholifah dalam kehilafahan islam. Tak bisa ditampikan bahwa sistem khilafah diwariskan oleh para shahabat. Fakta sejarah. Apakah sistem ini perlu dibangkitkan pada saat ini di Indonesia? Sistem ini bisa menjadi solusi atas aneka masalah yang ada di Indonesia?”

“Mari kita lihat Indonesia. Pancasila, adalah ideologi yang didalamnya memuat unsur religiusme, humanisme, nasionalisme, demokrasi-liberalisme, dan sosialisme.  Adalah pancasila menjadi jalan tengah bagi semua “isme” yang ada di indonesia saat itu. Indonesia dengan keberagaman penduduknya melahirkan sebuah jalan tengah yang disepakati oleh Ulama saat itu dari NU, Muhammadiyah, Masyumi juga dari kubu nasionalisme, humanisme, liberalisme, dan sosialisme. Terlihat sekali sila-sila dari pancasila menggambarkan keberagaman ini. Adakah IDEOLOGI lain yang bisa menggantikan pancasila di Indonesia pada saat ini? Cobalah tanya pada masyarakat Indonesia, apakah mereka mau hidup di bawah naungan kekhilafahan islam atau mau hidup di bawah pancasila?” Tanya pada semua rakyat Indonesia tanpa membedakan ras, agaama, dan bangsa. Jika jawaban semua agama, ras, dan bangsa yang ada di Indonesia adalah khlafah islamiah, maka pancasila memang sudah usang. Namun jika jawabannya pancasila, maka pancasila menjadi ideologi yang tepat bagi bangsa indonesia yang berbhineka”.

Khilafah, sangat tidak tergambar dalam benak masyarakat nusantara. Beda dengan masyarakat Arab dan Turki, dimana Khilafah adalah bagian dari sejarah mereka. Memperjuangkan khilafah di Indonesia ibarat mengkondisikan Indonesia pada jaman Arab Quraish. Benturan budaya akan banyak terjadi di Indonesia, yang membahayakan kebhinekaan Indonesia dan islam nusantara. Khilafah tidak dirindukan oleh masyarakat Indonesia, beda dengan masyarakat di Jazirah Arab dan Turki yang pernah merakan hidup dalam zaman itu, tentulah mereka mempunyai rasa merindukan kekhilafahan. Dibandingkan khilafah, kemungkinan besar masyarakat Indonesia akan lebih merindu rezim Suharto yang kukuh melakukan PANCASILA VERSI ORDE BARU yaitu KESTABILAN KEAMANAN.

Negara Islam digambarkan oleh masyarakat Indonesia sebagai NII/DII. Traumatik mendalam dialami oleh bangsa Indonesia pada saat konflik NKRI vs NII/DII. Rakyat sangat hapal pasukan mujahid atau TII (Tentara Islam Indonesia) tak lebih dari para gerombolan yang merampok dan menjarah hasil panen dan persediaan pangan mereka. Ini sebabnya NII tidak laku di Indonesia. Selain PKI masyarakat Indonesia pun menjadi anti dengan NII. Keduanya dianggap sebagai laten ideologi yang berbahaya bagi bangsa Indonesia.

Tapi bukan berarti kemudian Indonesia anti Islam dan anti kerakyatan, dengan menganggap ideologi islam dan komunis sebagai ancaman. Pancasila mengakomodasi umat beragama untuk menjalankan agamanya masing-masing dalam segi ritual ibadah dan muamalah, namun membatasi tidak dalam tatanan pemerintahan.

Jadi? Mari kita kembali pada tabiat nusantara. Bukan berarti kita tak mau islam tegak, tapi jika itu digenjot di bumi nusantara ini maka saksikanlah saat ini “perpecahan antara umat islam terjadi”. Sungguh mulia pendiri HT yaitu Taqyuddin Annabhani yang menyatakan bahwa perjuangan khilafah dilokalisasi di wilayah Arab, karena wilayah ini punya garis historis yang kuat. Menjadian Arab sebagai titik bangkit kekuatan khilafah islamiyah dan tidak menjadi nusantara sebagai target ADALAH PILIHAN BIJAK. Terlalu ambisius jika nusantara yang kita cintai ini dijadikan target oleh sekelompok orang untuk mendirikan NKRI BERSYARIAH atau KHILAFAH ISLAMIYAH. Jika hal itu dilakukan maka rakyat indonesia akan membayar mahal untuk sebuah KENYAMANAN, KEAMANAN, DAN KEMAJUAN.

Pancasila teruji sudah menjadi perekat kebhinekaan di Indonesia. Kita harus berpikir bijaksana untuk menghargai pilihan mayoritas masyarakat indonesia ini, jangan sampai EGOIS ingin mendirikan NKRI BERSYARIAH atau KEKHILAFAHAN ISLAM pada saat kondisi rakyat Indonesia masih cinta Pancasila. Saya teringat bagaimana Rasulullah saw meyakinkan bahwa masyarakat Madinah memang menginginkan islam tegak di Madinah. Rasulullah saw meyakinkan dengan baiat aqobah 1, baiat aqobah 2, dan mengutus Mushab bin Umair. Semuanya untuk memastikan bagaimana syuur masyarakat terhadap kerinduan ditegakkannya islam. Rasulullah saw tidak memaksakan kehendak pada masyarakat Quraish dalam mendirikan islam, Rasulullah saw membaca peta masyarakat, menghindari bentrokkan antar massa. MENJAGA PERDAMAIAN JAUH LEBIH UTAMA DARIPADA “EGOISME” PRIBADI DAN KELOMPOK.

I JUST WRITE, WHAT I THINK EVEN YOU THINK IT’S NOTHING

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s