Membidik Indonesia

“Mencari titik lemah dari pemerintahan sah.  Menjadikan titik lemah sebagai isue yg digoreng. Menyajikan hasil gorengan tersebut pada masyarakat.  Tujuannya agar masyarakat tidak percaya lagi pada pemerintah yg sah”

Seperti itulah gerakan politik yg berusaha mengganti presiden dan sistem suatu negara.  Jadi, kita tak perlu heran bila kebijakan pemerintah terus dibombardir isu.  Yg perlu kita lakukan adalah move on dg pembangunan.   Kita punya pengalaman buruk pada pemerintahan lalu, banyakannya kritikan membuat pemerintahan lalu menjadi stagnan.  Pemerintahan saat itu kayak salah langkah, mundur kena mau kena, akhirnya hanya sedikit melangkah dengan hati-hati sekali.  Tentu kita semua ingin maju, ingin #moveON dari kondisi stagnan tersebut.  Maka saya pada pemerintahan Jokowi, kita gak boleh seperti itu lagi, kalau kita punya cita2 INDONESIA MAJU, INDONESIA BAGUS, INDONESIA HEBAT! Jadi, yuk kita buat Indonesia Bagus, Maju, dan Hebat!

Upaya memutuskan “kepercayaan umat terhadap pemerintah yang sah” dilakukan dengan berbagai dalih yang islami, misalnya JIHAD SYIASI atau MUHASABAH BIL HUKAM.   Bahkan hadits yg mengatakan, “Muslim yg paling baik adalah yg bermuhasabah pada pemimpin, kemudian pemimpin itu memenggal lehernya”. Begitulah berbagai dalil terkait pentingnya menentang pemimpin sah yang disebut mereka sebagai “thogut atau kafir atau komprador” terus dikumandangkan sebagai legitimasi atas tindakan  mereka.  Di sisi lain, ayat2 terkait bughot (menghianati negara) dan hukuman bagi org yg melakukan bughot mereka tutupi.  

Indonesia dibidik oleh gerakan transnasional untuk dijadikan targetan sebagai NEGARA ISLAM INDONESIA ataupun khilafah islamiyah, benarkah? Indonesia dengan potensi muslim terbesar hampir 200 juta dan kekayaan SDA yg memang merupakan wilayah yg empuk.  Semua gerakan sudah dimulai sejak tahun 1980-an.

Lalu darimana harus mulai? Mengambil pola keberhasilan kaum muda dalam kebangkitan Indonesia oleh mahasiswa STOVIA 1908, revolusi 1945 yg diperjuangkan salah satunya mahasiswa ITB yaitu SOEKARNO, dan gerakan 1966 sudah jelas digerakkan para aktifis kampus.  Berdasarkan pengalaman itu,  gerakan transnasional menjadikan kampus sebagai titik tumbuh paham-paham transnasional. Kampus berplat merah menjadi  kawah candradimuka tempat cuci otak  dan kaderisasi gerakan transnasional.  Kini kita saksikan tak ada satu pun kampus plat merah steril dari gerakan transnasional.  Di kampus-kampus plat merah inilah pengkaderan dilakukan…selama kurang lebih 30 tahunan.  Dan tidak hanya menyasar pada kampus plat merah, tapi juga mahasiswa indonesia di luar negeri.  

Gerakan transnasional bekerja di kampus plat merah melalui unit kegiatan mahasiswa resmi dan responsi keagamaan, juga secara tidak resmi dengan membentuk pemgajian terbatas dengan nama liqo atau halaqoh di rumah kos, begitu pula mahasiswa indonesia di luar negeri, dikumpulkan dalam liqo/halaqoh yg terdiri dari 1-4 org dalam kelompok. Begitulah pola-pola gerakan transnasional sejak 30 tahun lamanya mahasiswa Indonesia di perguruan tinggi plat merah dan mahasiswa indonesia di luar negeri menjadi sasaran.  

Bgmn hasilnya? Reformasi adalah salah satunya, ini titik mula memberikan kesempatan pada gerakkan ini untuk menjadi partai dan ormas dengan segala kebebasan  berhimpun dan berkumpul untuk mengeluarkan pendapatan.  Tanpa peduli bahwa pendapat tersebut bertentangan dg ideologi yang dianut bangsa. Semuanya akan berdalih, it’s just opinion.  Pemerintah tidak boleh memenjarakan orang yang hanya beropini.  Perangkat hukum didesain untuk sulit memenjarakan “gerakkan pemikiran”,  memenjarakan gerakan pemikiran berarti REZIM ORBA.  Kini ada sekitaran 8 jutaan org yg cukup loyal dg ide dan gerakan transnasional, bisa dilihat dari partai yg mereka pilih saat pilkada 2014. Itu blm semua, karena ada gerakan transnasional yg “golput”.  Ada 57 juta golputers pada pemilu 2014, anggap 10% dari golputers penyebabnya ideologi, jadi total selama 30 tahun  pengkaderan gerakan transnasional telah menghimpun sekitar 15 juta orang. Bayangkan 15 juta orang, tentu sudah bisa membuat sebuah kota bukan? Jumlah ini akan terus bertambah setiap tahunnya, seiring lembaga pendidikan dan pesantren yang mereka kelola, ditambah tak berbendungnya gerakan masif penyebaran ide2ini terutama di kampus plat merah, yg disokong oleh dosen-dosen yang juga bagian dari gerakan transnasional ini.

So, can you imagine this “ONCE UPON TIME,  INDONESIA WILL BE A STORY,  just a history, like Majapahit with nusantara……..? And Jokowi dengan pembangunannya akan jadi sejarah seperti Sejarah Syailendra dengan Borobudurnya,  Soekarno-Hatta dengan proklamasinya akan jadi sejarah terlupakan sebagaimana Gajah Mada dengan SUMPAH PALAPAnya.  INDONESIA DOES NOT EXIST! Apakah ini yang kita inginkan? So, let’s think about it!

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s