Afternoon 2050

 

Kisah empat sekawan lulusan IPB, mereka hidup dalam suasana cinta dan politik, memperbincangkannya ditemani secangkir kopi….

#UNTUK APA KULIAH?#

Senin, 16.15 empat sekawan ini kongkow di starbuck.  Hanya perlu waktu 15 menit dari kantor mereka menuju kafe ini.  Sampai magrib mereka kongkow, ngobrol ngalor ngidul sebelum mereka pulang ke Bogor.  Menunggu sampai kereta cukup ruang menampung badan mereka.  Toh, mereka tinggal tidur ketika sudah sampai di kos-an atau rumah mereka di Bogor.
“Loe pada udah pada lihat video yg lagi viral di dunia maya, tentang kelakuan adik2 kita melakukan baiat perjuangan menegakkan khilafah islamiyah?” Maman membuka pembicaraan sore itu.

“Gue pikir, itu wajarlah, darah anak muda.  Kita waktu di IPB juga pernah jadi bagiannya kan? Lagian itu mah berita basi taun 2016 kejadiannya, baru booming sekarang, mungkin karena pas situasinya” timpal Wiro.

“Bagi, Ipit sih tak wajar, masuk IPB buat belajar pertanian, membangun bangsa melalui pertanian, kok malah mau dirikan sistem pemerintahan baru.  Seharusnya yg seperti itu dibahas di FISIP bukan di institut pertanian bogor”

“Tenang, Pit, besok IPB buka jurusan baru ILMU POLITIK PERTANIAN.  Alumnus IPB kan udah banyak yang jadi anggota dewan, bahkan ada yang jadi Kepala Daerah dari jalur Parpol”  celetuk Bagus.

“Ah, loe Gus! Tanpa fakultas resmi, singkatan IPB udah banyak, Institut Politik Bogor karena alumninya banyak yang jadi politikus, Institut Pendidikan Bogor karena alumninya banyak yang jadi guru, Institut Perbankan Bogor karena alumninya banyak yang jadi bankir, Institut Penulisan Bogor karena alumni banyak yang jadi wartawan, akhirnya bukan sekedar Institut Pertanian Bogor, tapi Institut Pleksible Banget”

“Balik lagi ke diskusi kita nih, ini video viral itu, juga ditonton oleh para veteran 45.  Komentar mereka bikin gue sedih” Maman mulai memfokuskan pembicaraan.

“Ya, gimana lagi.  Menurut gue sih, zaman itu berubah.  Kali aja suatu saat memang bisa diterima tuh ide khilafah itu”

“Kalau Ipit sih masih agak ngeri terima konsekuensi hidup dalam tatanan kekhilafahan yang dicitakan oleh mereka.  Ingat, kita di IPB dekat dengan aktifitas mereka.  Loe, masih pada ingat nanti akan ada pemisahan yang jelas.  Lelaki dan wanita gak campur.  Baju kita para wanita pakai jilbab yg nutup seluruh badan.  Gue, sebagai perempuan akan dilarang kerja, kerja gue sebagai anak perempuan di rumah.  Pekerjaan di kantoran pasti prioritas buat lekaki.  Tak ada lagi kompetensi berdasarkan kemampuan, tapi utama itu berdasarkan gender.  Kebayang gak sih? Gue gak bisa kongkow bareng Loe pada!”

“Gue sih simple aja, jika ulama NU udah bilang NKRI HARGA MATI, gue ikut aja.  Terus terang gue mah tau diri miskin ilmu agama.  Mendingan Wiro tuh sempet ngaji ama mereka, gue sempet juga liqo bentaran doang setahunan, udah gitu gue kabur.   Gue tuh memang gak suka pengajian kalau udah nyingung2 THOGUT dan SISTEM KAFIR.  Bagi gue sih, NKRI dan pancasila juga buah ijtihad ulama NU, MUHAMDIYAH, dan Masyumi, udah terima aja, taat sama ulama Indonesia.  Gue gak mau repot!”

“Masalahnya itu, ini nama almamater kita! IPB.  Jagat maya sa-nasional memperbincangkannya.  Kampus kita dianggap sebagai sarang pemikiran radikal” Maman kembali membuka diskusi.

“Man, gue pikir itu memag fakta, ada benarnya.  Yg gue tahu sih.  Memang dari Aktifis rohis IPB ide khilafah muncul dan disebarkan ke seluruh kampus universitas negeri di Indonesia melalui jaringan Lembaga Dakwah Kampus.  Itu memang fakta.  Mau diapakan lagi? Dihapus? Ya gak bisa!” Timpal Wiro.

“Lagian menurut Ipit, kita alumni hanya bisa mengamati.  Gak bisa menindak, yg bisa melakukan tindakan ya yg pegang kekuasaan di kampus, Man.  Kalau merasa itu mencemarkan IPB, kampus pasti urus”

“Lagian kayak beginian ini bukan problem IPB semata, tapi problem PTN.  Dari dulu mahasiswa di Indonesia jadi sasaran penyebaran ide-ide entah itu gerakan islam, komunis sosialis, kapitalis, dan ide lainnya. Mahasiswa selalu jadi target untuk membawa bendera revolusi di Indonesia ini.   Pertanyaannya kita kuliah itu mau apa? Jadi agen pelanjut pembangunan yg udah berjalan atau agen revolusi untuk memulai kembali pembangunan dari nol?”

“Gue, suka kalimat loe yang terakhir, “KULIAH UNTUK APA SEBENARNYA? Mau jadi agen pembangunan atau mau jadi agen revolusi? Mau membangun Indonesia Jaya di tengah percaturan dunia atau mau mengubah tatanan dunia dg revolusi jilid berikutnya?”

“Closing, tuh ya Man! Udah adzan, yuk Magriban!”

Mereka bergegas ke mushola basment mall, menunaikan sholat magrib.   Selepas itu, kopraja 19 membawa mereka ke stasiun Sudirman.

Pit, tuh Ndari udah nunggu Loe!

“oh, ya….jumpa besok ya, gue naek gerbong cewe! Dah!”

“See U, Pit!”

Kereta Tanah Abang-Bogor membawa mereka melewati hari itu…..

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s