Afternoon 2050

#KEDAI KOPI#

16.15 empat sekawan sudah menenteng kopi mereka.

Wiro : Kalian tahu, isu boikot kopi di kedai kita?

Bagas: Selama mereka ribut di medsos dan tidak nempel tulisan di pintu kedai ini, selama itu kita masih berkopi ria di sini.

Pipit:  Mungkin, Pit egois enggak ya, kalau Pit bilang, anjing mengonggong kafilah berlalu?

Maman : Enggak sih Pit, palingan kamu dicap kafir karena dukung LGBT.

Pipit : Ah, bodo deh, dibilang kafir sama manusia, yang penting Alloh swt gak cap Pit kafir.

Bagas: Pit, lu LGBT gitu?

Pipit : Sebarangan kamu Gas, gue normal!

Bagas : Oh i see, kalau LGBT itu berarti abnormal atau paranormal ya?

Pipit : Terserah apa kata Bagas aja, deh! Yang jelas mah, kucing jantan di rumah gue doyan betina, belum ada cerita kucing gue suka sejenis.

Bagas : Pit, kita lagi ngomongin LGBT bukan kucing, euy!

Wiro : LGBT itu kisahnya setua manusia.  LGBT pertama ya zaman nabi Luth.  Nabi keempat.   Umat samawi sepakat menolak pola hidup ini.  Pola hidup LGBT mendapat tempat di era liberlisme, saat orang benci agama dan memilih jadi atheis atau agnostik.

Maman : kita umat beragama yg terkadang membuat agama jadi tak menarik.  Agama dianggap biang Terorisme dan perang.  Dan seringkali org beragama merasa paling suci paling bener sendiri menapikan aturan komunitas.  Mereka sering kali egois, jika ada sesuatu yang gak sesuai kehendak mereka, mereka melakukan demo, penekan, dan boikot.   Org beragama model gitu ngerusak citra agama mereka sendiri, membuat agama gak menarik.  Jadi wajarlah kalau ada lagu…..imagine no religion……living life in peace…yuhuyyyyyyy…..gitu kata John Lenon.

Pipit : Terus terang, diantara kalian kali Pit yang awam agama.  Nih, Pit tanya ya, tapi jangan pada ketawa, loh!

Bagas : Tar, gue senyum dulu deh…hehehehehe…..sebelum Ipit tanya.

Pipit : Ah loe Gas.  Pertanyaan Pipit, jika pemilik kedai ini seorang gay atau pendukung LGBT, memang haram ya minum kopi di sini?

Wiro : Uhukkkk (tersendak, sambil menahan tawa)

Pipit : Nah, kan…Pit udah bilang jangan diketawakan pertanyaan Pit ini.

Wiro : Gak kok, itu pertanyaan standar Pit.  Cuma gue gak kepikiran seawam itu pikiranmu.

Bagas : Pikiranmu “NDESO” Pit!

Pipit : Lagi tren lagi tuh NDESO, setelah lama Tukul gak bawain acara empat mata.  Ayo, kembali ke lap…..top!

Wiro : Makanan dan minuman yang diharamkan udah jelas. Sebagaimana kita tahu bersama.  Selama tidak mengandung zat yang diharamkan, makanan gak haram.   Dan kita dilarang menharamkan apa yang Alloh swt halalkan.  Adapun boikot, itu masalah politik.  Pernyataan boikot haruslah dikumandangkan oleh pemimpin negara atau presiden atau kholifah atau raja atau sultan atau apapun sebutannya.  Jika ada sekelompok orang atau ormas mengumandangkan boikot, maka itu hanya mengikat anggota mereka.  Kita yang bukan anggota mereka ngapain ikut-ikutan.

Maman : Ada sih Pit, yang menganggap uang yang udah kita bayarkan buat beli kopi ini, akan jadi memperbesar kampanye LGBT.  Tapi itu bukan urusan kita, urusan dia yg menggunakan uang yang dia miliki.

Bagas : Jadi gimana Pit? Mau pindah kedai? Atau kita bikin kedai sendiri?

Pipit : Eh, kalian tahu gak, kenapa Pit suka kopi? Dulu nih ya waktu Pit kecil, kakek tiap minggu pagi ajak Pipit ke kedai kopi, di sana ada kue balok dan kopi.  Kedainya rame bapak-bapak, di situ ada koran, biasanya mereka ngobrol isu kekinian yang ada pada koran.

Maman : Mirip, kita dong! Kalian ingat pertama kali kita ketemu?

Bagas: Ingat dong, karena kita lembur harus masuk kerja di saat org PEMILU.  Dan kedai penuh dengan orang antre gratisan kopi dengan menunjukkan jari tercelup tinta.  Meja kosong jadi sedikit, akhirnya kita satu meja.  Ternyata kita satu almamater, satu angkatan pula.

Wiro : Hahaaha …. biasanya sore gini gue ngabisin waktu di sudut sana tuh! Buka gadget dan medsos.  Sejak peristiwa itu gue lebih suka ngobrol begini ternyata.

Pipit :  Tapi Pit waktu itu dapat gratisan loh, paginya Pit nyoblos dulu baru ke kantor.  Pit juga biasanya di sut sana tuh, sambil buka laptop tulas tulis apa aja.

Maman : Eh balik lagi ke Kedai Kopi, apa gak sebaiknya kita rintis bisnis kedai kopi ya?

Adzan magrib berkumandang, saatnya mereka kembali pulang….

Pembicaraan kita tobe continue ya!

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s