Menggoyang rakyat, lalu menggoyang TNI

Saya warga negara bisa,

Tapi saya punya pengalaman hidup yang lumayan kompleks.  Ayah saya sebagai TNI yang ditugaskan menjalankan fungsi dwi fungsi ABRI dalam level tatanan pemerintahan terendah di Masyarakat.  Sejak kecil saya terbiasa melihat ayah saya meng”handle” para begundal dan preman, pun termasuk kerjasama dengan beberapa ulama NU dan PERSIS di wilayah untuk membina masyarakat di daerahnya.  Maka jangan heran jika, kriminalisasi yang asalnya sangat parah kemudian bisa berkurang, pun pengajian-pengajian menjadi subur dan tambah subur ketika seorang Kyai NU terkenal datang ke kampung.

Lalu saya masuk ke IPB berkenalan dg berbagai gerakan transnasional dari mulai ingin mendirikan kampung islam, negara islam di Indonesia sampai mendirikan khilafah.  Siapapun anak IPB langsung atau tak langsung pernah berhubungan dg gerakan transnasional.  Pada saat di gerakan ini kemudian saya mengenal “Talbun Nasroh” meminta pertolongan, salah satunya minta pertolongan pada ABRI.  Saya pernah duskusi dg alm. Bpk terkait hal ini, lalu bapak bilang, “awas bahaya, ngaji politik! ABRI punya mekanisme, tergantung pimpinan, tapi ABRI pernah punya riwayat kelam, ketika jaman PKI, TNI AU dianggap mem-back up PKI, TNI AD vs TNI AU diadu domba” 

Gerakan transnasional ada dua jenis, jenis pertama justeru menjauhi ABRI.  Loe anak ABRI, loe gak akan punya tempat di pengajian ini, tujuan mereka adalah mendirikan NII, dengan cara apapun dengan masuk menjadi partai resmi atau lewat jalur tarbiyah, tapi mereka tetap satu dalam hal “anti ABRI dan POLRI”.   Jenis kedua, justeru memanfaatkan anak dan keluarga ABRI/POLRI untuk melindungi gerakan mereka.  

Bagaimana cara mendekati ABRI/polri? Jika kontak secara langsung, yaitu gerakkan ini membuka dialog pada ABRI aktif, menyentuh perasaan kemuslimannya, selanjutnya mereka memasukkan isme2 gerakkan, sampai akhirnya anggota ABRI terutama para perwiranya menyetujui gerakkan mereka, dan berada dipihak mereka.  Ketika gesekkan antara gerakkan tersebut dengan pemerintah sah, maka mereka bisa berlindung pada para perwira ABRI/POLRI yg berada pada pihak mereka.

Namun, mendekati ABRI/POLRI tentu tak mudah.  Mengapa? ABRI/POLRI mempunyai tujuan yg jelas, mempertahankan NKRI, dan aktifitas gerakkan transnasional yg akan menyusup pada mereka, saya pikir dengan sejarah ABRI yang panjang mereka cukup waspada.  Sehingga mendekati dan menyusup serta minta tolong pada ABRI, bukan hal mudah.  Betul, gerakkan transnasional berhasil mendekati pensiunan ABRI/POLRI, namun para pensiunan ABRI/POLRI bila sudah tidak aktif, senjata dilucuti dan jaringan komunikasi dengan yg masih aktif pun terputus.  Jaringan komunikasi hanya terjadi dikalangan pensiunan saja.  Jadi, tidak banyak bantuan bisa diberikan pada gerakan transnasional ini.

Apakah gerakkan transnasional akan berhenti berusaha untuk melakukan tholabun nusroh? Jika pertolongan ini tidak bisa diraih, maka upaya berikutnya adalah melemahkan ABRI dan POLRI.  Lihatlah Panglima ABRI dan Kapolri dijadikan sasaran.  Pak Gatot Nurmantyo vs Jokowi, pada saat 212 muncul simpati luar biasa dari beberapa kalangan gerakkan pada Panglima ABRI, sampai kopiah putihnya dielu-elukan.  Harapannya apa? Panglima menjadi simpati dengan perjuangan mereka, siap menjadi pembela mereka melawan POLRI dan Presiden jika diperlukan. Lihatlah berbagai posting dilakukan untuk mencitrakan Panglima ABRI pada satu sisi tapi membunuh karakter Kapolri dan Presiden pada sisi lain.  Tujuannya? Sudah jelas agar mereka mendapatkan simpati dari ABRI,  ketika Kapolri dan Presiden memberangus mereka, mereka bisa pada ABRI, karena selama ini mereka baik pada ABRI.

Menggoyang ABRI adalah targetan selanjutnya setelah berhasil mengoyang rakyat.  Rakyat pro pada demo2 yg mereka inisiasi, nurut pada seruan untuk boikot produk atau boikot ikut dalam kegiatan keagamaan di istiqlal atau boikot nonton salah satu stasiun teve.  Kita sebagai rakyat biasa, yg bisa membaca fenomena yg terjadi, harapan saya cuma satu ABRI-POLRI-jajaran Kepresidenan tetap kompak dalam menata NKRI.  Revolusi hijau ataupun hitam dengan jalan kudeta, tentu menjadi agenda dari gerakkan transnasional.  Kami rakyatlah yang akan menjadi korban dari revolusi tersebut.  ABRI-POLRI-Presiden yg punya kebijakkan untuk meminimalisir efek dari revolusi atau bahkan menekan laju revolusi hitam.

Kita sebagai rakyat biasa dan wanita patut diingat, bila revolusi hijau atau hitam diberi ruang di indonesia, kemudian gerakkan tradnsnasional itu berhasil menduduki kekuasaan di Indonesia.  Hal paling buruk bisa terjafi pada para wanita adalah, “Siapkah kita, sebagai wanita dikurung di rumah? Tidak berhak keluar rumah kecuali dikawal mahrom? Bayangkan tak ada lagi wanita dengan bebas dan aman berjalan mengendarai motor ke kampus, ke pasar dan ke tempat kerja? Lalu memesan taksi online atau taksi jalanan untuk pergi ke mall sendirian?  Lelaki! Ya, lelaki dipandang sebagai srigala yang punya potensi memerkosa dan melecehkan para wanita, dan wanita adalah domba yang siap dterkam para srigala, sehingga domba harus selalu dikawal pengembala agar aman.  Begitulah pandangan terhadap wanita dan lelaki oleh gerakkan ini, lelaki dianggap srigala dan wanita adalah sekumpulan domba.  Siapkah kita para wanita? Mana yg lebih disukai? Kehidupan muslim dan muslimah Nusantara saat ini? Atau kehidupan muslim dan muslimah seperti pandangan gerakkan transnasional yg ingin membudaykan hubungan SRIGALA-Domba?” So, let’s think it!

Advertisements

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s