Let’s Think! Part II

Tulisan ini adalah lanjutan tulisan sebelumnya, cuma ingin mengajak berfikir menggunakan nalar, jangan menggunakan rasa.  Karena acapkali RASA tidak sesuai FAKTA.  Semoga saja bermanfaat bagi yang mau tercerahkan….

Selamat membaca, mohon maaf bacaannya memang berat!

Lanjutan tahap Tafa’ul

Gozwul fikri adalah kata sakti yang dihembuskan untuk mempersiapkan masyarakat masuk ke tahap tafa’ul (berinteraksi dengan umat).  Senjata yang dihembuskan dalam medan perang pemikiran ini adalah “pemerintah anti islam” “pemerintah anti dakwah islam” “pemerintah dzalim” “pemerintah thogut” “pemerintah kufur“.  Pada tahap ini selain interaksi dengan masyarakat melalui penyebaran jargon-jargon yang membuat masyarakat tidak percaya pada pemerintah yang berkuasa, juga dilakukan interaksi dengan pemimpin di pemerintahan dan ABRI serta public figure atau tokoh masyarakat.  Tujuan interaksi dengan pemuka di pemerintahan, ABRI, dan masyarakat adalah untuk mencari bantuan dan mempercepat proses pengambilalihan kekuasaan.  Maka pada tahap ini, jika inflitrasi ini berhasil kita akan melihat pemuka dan tokoh di pemerintahan, ABRI, dan masyarakat mereka melakukan konter dan konfrontasi dengan pemerintahan sah.   Presiden v.s Panglima ABRi v.s Kapolri v.s Ketua DPR v.s ….dst.  Nah, pada tahap ini gerakan revolusioner ini juga  melakukan playing victim, contohnya mereka menyebutkan PEMERINTAH MELAKUKAN ADU DOMBA TERHADAP RAKYAT, manakala pemerintah sah melakukan pembersihan terhadap gerakan revolusioner ini.  Padahal sebuah pemerintahan sah akan tetap berdiri dan membangun rakyat serta melaksanakan programnya untuk kesejahteraan rakyat. Dan tugas pemerintah memberantas ancaman terhadap ideologi negara.

Tahap II.  Tatbiq

Tatbiq adalah berdirinya sistem islam atau terambilnya kursi presiden ke tangan golongan mereka.  Apa yang dilakukan ketika keberhasilan ini terjadi? Contoh kasus adalah Mesir saat keberhasilan IM memimpin dan Turki dengan keberhasilan PAS-nya sekarang.  Apa yang mereka lakukan adalah memecat para pejabat bahkan kelompok dakwah lain yang tidak seide, memenjarakannya, dan memberikan label TERORIS hanya karena mereka-mereka yang tidak se-ide.

Apakah kelompok ini berbahaya?

Bahaya atau tidak bukan itu pokoknya, namun bayangan saya, “Jika kelompok transnasional berkuasa di Indonesia, saya membayangkan yang akan mereka lumatkan adalah NU, Muhammadiyah, PDIP, NASDEM,….  Lalu budaya? Mungkin berbagai gelaran tari tradisional, juga festival jazz, rock, … akan hilang musnah diganti dengan gelaran nasyid dan kesenian arab lainnya.  Kita tidak akan mendapati para wanita yang bebas berekspresi, para wanita akan dikurung di rumah-rumah dan wilayah harom.  Bahkan boleh jadi para wanita yang sekarang bekerja di berbagai instansi akan dipensiunkan dini. Gerakkan islam yg beredar di Indonesia dibawa dari Mesir, Arab, Yordan….umumnya punya kesamaan yaitu membatasi ruang gerak wanita di sektor publik dan tidak menerima PERBEDAAN. Sekarang tinggal kita pikirakan, apakah kita setuju dg “ARABISASI? Menciptakan kultur seperti di timur tengah? Baju tak lagi boleh bercorak batik, harus berwarna kelam….budaya jaipong, ketuk tilu, suling, gamelan, angklung….mungkin akan dilarang. Dan blog, facebook, twitter, serta media sosial atau media kontra dg khilafah yg telah berdiri akan diberangus sampai ke akar2nya. Siapa saja yg menentang khilafah berdiri dikatagorikan budghot dan siapkan saja untuk dipancung. Biasanya org membayangkan yg enak2 ketika hidup dalam kekhilafahan islam, membayangkan gampangnya saja, tidak pernah membayang konsekuensi dari wahabisme ini apa? Apakah mereka yg sudah bergabung ke ISIS memperoleh “gemah ripah roh jinawi”?? So, let’s think it! Bayangkan sekarang aja tingkah para pejuangan gerakkan wahabisme melakukan persekusi hebat pada mereka yang tidak seide. Padahal mereka masih berada di negara pancasila. Bayangkan kalau daulah khilafah itu berdiri, hal yang lebih sadis bisa dilakukan bagi mereka yg tidak seide. Mau dibangun negara yg seperti itu? Negara penuh ancaman yg menakutkan jiwa?

Kurang apa Indonesia sekarang? Kita diberi kebebasan menjalankan ibadah dan syariat islam bahkan difasilitasi. Jika pun ideologi yg dipilih adalah pancasila bukan syariat islam, ini karena kesepakatan bersama termasuk para ulama yang mewakili umat islam saat itu. Jika kita berteriak-teriak #belaUlama tentulah kita pun harus membela perjuangan yg telah dilakukan para ulama pada tahun 1945. Yg perlu kita lakukan saat ini adalah menikmati kemerdekaan dan mengisinya dengan kerja dan prestasi, tidak perlu lagi membuat gerakan-gerakan revolusi apalagi mengatasnamakan islam. So, let’s think and keep the right side!

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s