Bagaimana Jepang menciptakan manusia berkarakter dan berbudaya?

08_04_18 13.30 Office Lens.jpg

Bagian I: Fondasi pembangunan karakter di Jepang.

Saya dapat kiriman buku dari sahabat saya Murni Ramli judul bukunya “Menjadi Orang Berkarakter dan Berbudaya di Jepang”  Buku ini menjawab pertanyaan “Bagaimana Jepang menciptakan manusia berkarakter dan berbudaya?”  Tentu saja dengan perspektif sebagai orang indonesia.  Bukunya mengkaji secara lengkap dari mulai fondasi sampai dengan interior didalamnya.

Dua bab pertama dari buku memaparkan fondasi dari penciptaan karakter manusia jepang.  Fondasi dari pembangunan karakter di Jepang itu apa? Penulis memaparkan bahwa pembangunan karakter di Jepang adalah proses panjang dari mulai era Tokugawa (sekitar abad ke 16 M tepatnya 1603-1867).  Setiap jaman pemerintahan Jepang sangat peduli dengan pendidikan moral. Pendidikan moral merupakan sarana membentuk karakter orang-orang Jepang.  Jika zaman Edo sampai dengan Meiji pendidikan moral masyarakat Jepang dipengaruhi oleh Agama yang berkembang di Jepang yaitu Budha Shinto atau Konfusianisme (Kong hu Chu).  Namun setelah perang dunia kedua, dengan masuknya pengaruh AS, pendidikan moral orang di Jepang pun dipengaruhi oleh teori-teori barat tentang moral seperti Piaget, Kohlberg, … Kini pengaruh teori asia timur dan barat disatukan oleh Pakar Pendidikan Moral, dengan rumusan aspek kesadaran moral meliputi empat hal yaitu (1) Kesadaran pribadi, (2) hubungan dengan orang lain, (3) hubungan dnegan masyarakat/kelompok, (4) hubungan dengan alam/dunia.  Pendidikan moral di Jepang setelah perang dunia kedua mempunyai misi “menumbuhkan individu yang akan menjadi masyarakat dan warga negara demokratis dan damai, dengan menghapuskan unsur-unsur perang dan kepatuhan pada Kaisar”.

Sekilas rumusan aspek moral ini sama dengan rumusan dalam islam tentang tugas pokok manusia yaitu: Hambluminnalloh, Hablumminnannas, dan habluminnaalam.  Namun Jepang tidak memasukkan hubungan dengan tuhan sebagai sebuah landasan pendidikan moral.  Ini semua karena pemerintahan Jepang tidak menetapkan satu agama sebagai keyakinan mayoritas penduduknya, agama adalah keyakinan pribadi tidak harus diurusi pemerintah. Kebijakan ini menyebabkan tidak ada data jumlah penduduk beragama tertentu di Jepang.  Dan tentu saja tidak ada kolom agama dalam setiap form identitas di Jepang.  Kebijakan ini membuat masyarakat Jepang tidak fanatik pada agama tertentu, ketika lahir seorang anak akan diadakan upacara sesuai agama Shinto, ketika meninggal dia akan dikremasi sesuai agama budha, beribadah di rumah altar budha dan shinto ditempatkan berdampingan, dan ketika menikah akan merasa keren (Kakoi) dengan menikah di Gereja.  Maka ketika orang-orang jepang di Tanya apa agama kamu? lihat ini: THAT JAPANNESE MAN YUTA . That’s Jepang! Seketika saya pun teringat, lagu John Lenon “imagine no religion…living life in peace!” Tampaknya John Lennon terinspirasi dari Yoko Ono isterinya yang berasal dari Jepang ketika membuat lirik ini.

To be Continue, bagian selanjutnya akan dijelaskan tentang bagian II: Geografi, Sosial Budaya, dan Teknologi di Jepang.

 

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s