Me and Radicalism #Part01

Jika radikalisme didefinisikan dengan….”In political science, the term radicalism is the belief that society needs to be changed, and that these changes are only possible through revolutionary means” maka definisi ini tentu saja cocok disematkan pada gerakan-gerakan islam ideologi.

Mystory I:

Sewaktu SMA saya termasuk peserta di Rohis sekolah walau tak bisa disebut sebagai aktifis, karena sampai akhir SMA saya tak pernah terlibat dalam kepengurusan Rohis.  Disinilah saya kenal istilah pemerintahan THOGUT yang disematkan pada pancasila.  Disini juga ghirah kami terbakar dengan cerita-cerita heroik dari Hasan Al Bana, Zainab Al Ghazali, dan Sayid Qutb.  Tak jarang teman ikhwan kami bersitegang dengan guru PMP saat itu.  Mentor yang datang ke sekolah saat itu sebagian besarnya kakak-kakak yang kuliah di UNPAD, hanya satu saja yang bukan UNPAD yaitu Aa Gym waktu itu masih berstatus mahasiswa tingkat akhir UNJANI. Kang Agym lebih banyak melakukan netralisir terhadap ide Kakak2 UNPAD.  Suatu kali selepas Kang Irfan memberikan materi tentang daulah-daulah, Kang Agym sudah hadir di mesjid sekolah, dan ketika beliau memberikan materi Beliau berkata, “Aduh berat amat materinya ya! Nah, Aa mah giliran yang ringan-ringan sajalah”.  Aa Gym lebih banyak membahas tentang Akhlak.  Kakak2 UNPAD itu juga aktifis remaja mesjid di Mesjid Agung, akhwatnya berpakaian jubah panjang dan kerudung panjang.  Saya pernah sekali ikut mabit di Mesjid Agung, dan pernah pula ikut kajian singkat pengkaderan mereka.  Saat itu kami dibawa ke sebuah rumah, entah dimana letakknya.  Selama tiga hari kami dijejali materi…. diantara materi itu adalah “Potensi Indonesia sebagai wilayah tempat bangkitnya Islam kembali.  Sang Mentor mengisahkan posisi Indonesia yang berada diantara AS dan Unisoviet [Saat itu tahun 1987, tentu saja Uni Soviet masih eksis, Uni Soviet runtuh tahun 1991] sangat persis sama dengan posisi arab saudi diantara Persia dan Romawi. Melalui pemetaan itu, kami diyakinkan bahwa Indoensia adalah lokasi tempat berdirinya daulah islamiyah sebuah negara baru yang berasaskan syariat islam, negara ini akan menggantikan negara Indonesia yang berasaskan pancasila”

Walau sudah melalui mabit dan pengkaderan, saya tidak tertarik ketika diajak untuk bergabung lebih intensif oleh teman-teman SMA saya yang lebih dahulu bergabung di dalamnya (Dari peserta ROHIS ada sekitar 4 orang angkatan saya yang tergabung dalam kajian intesif bersama kakak mahasiswa UNPAD).  Mereka memang mengajak saya, untuk ikut kajian lebih intensif.  Namun, saya menolaknya. Alasannya….

Selain ikut rohis di SMA, saya pun mengikuti kegiatan mentoring di SALMAN ITB.  Mentor-mentor ITB ini lebih memacu saya untuk menjadi ilmuwan muslim.  Mereka menggambarkan bagaimana perkembangan teknologi dan minimnya partisipasi muslim di dalamnya.  Sebagai anak yang punya ketertariakan terhadap sains dan teknologi, saya tentu lebih tertarik fokus tembus UMPTN agar bisa menjadi ilmuwan muslim.  Lagu BIMBO berjudul “Aisyah adinda kita……” menjadi inspirasi saya saat itu.

Saat itu teman saya yang sudah terkader lebih dulu, mengajak saya ngobrol berdua dengannya di ruang rohis.  Dia cerita banyak hal.  Namun, saya katakan pada teman saya, “Saya mau jadi ilmuwan muslimah, saya menolaknya untuk memperdalam kajian islam bersamanya!”

Alasan lainnya, sebetulnya ada.  Namun tidak saya kemukakan ke teman saya itu, takut dia tersinggung.  Alasan lainnya adalah pengajian yang diberikan Kakak2 UNPAD itu aneh.  Mereka bilang kita belum dapat predikat ISLAM, karena kita belum bersyahadat.  Rukun islam pertama itu Syahadat, karena islam keturuan kita tak pernah disyahadatkan.  Islam kita dianggap tidak syah dan harus syahadat ulang.  Bahkan dengan eksreem kakak Mentor mengatakan “Abu Lahab dan Abu Jahal itu mu’min tapi bukan muslim” (seumur SD-SMP dan ngaji di Madrasah juga denger ceramah kyai kampung dan para Kyai yang suka ceramah di radio, bahkan HAMKA yang tiap jumat di TV, baru kali itu saya denger kalau Abu Lahab dan Abu Jahal Mu’min).   Ketika ditanya, “Pada siapa kita harus bersyahadat?” Mereka bilang, kita harus bersyahadat pada orang yang pernah bersyahadat langsung pada Rasulullah saw. Ketika kita tanya, apa memang masih ada orang seperti itu? Siapa orangnya?  Mereka hanya menjawab, ada…dari kalangan kita nanti akan diberitahukan.  Tapi nanti….   Menurut saya ini agak aneh alirannya, gak seperti umumnya islam, yang paling penting dalam logika anak SMA saat itu, saya pikir aliran ini membuat hidup jadi ribet.  Belakangan ketika kuliah salah seorang teman saya yang juga pernah mengalami hal yang sama mengatakan bahwa aliran yang meminta syahadat ulang itu dinamakan JK (Jamaah Kerosulan).

Ketidakmauan saya mengikuti pengkaderan oleh JK, menyebabkan saya tidak pernah terlibat dalam kepengurusan ROHIS SMA.  Jadi jika dikatakan sebagai aktifis Rohis, mungkin saya tidak terkatagori ini, saya hanya pernah menjadi FOLLOWER ROHIS SMA.

Refleksi

Apakah ROHIS SMA menjadi sasaran empuk masuknya radikalisme yang akan menggoncang ideologi pancasila? Pengalaman saya mengatakan IYA! Alumni yang mendapatkan gerakan islam ideologi selama di kampus, melakukan pengkaderan pada adik-adik kelas di SMA.  Karena Alumni, mudahlah bagi mereka masuk ke sekolah menggarap ROHIS.  Banyak SMA terutama negeri (SMAN) menjadi sasaran karena lemahnya pengawasan para guru dalam kegiatan ekstrakurikuler.  Banyak ekstrakurikuler dibina oleh para alumni pun termasuk Rohis.  Tidak seperti ekskul lain yang alumninya mengajak adik-adik SMA-nya untuk mendapatkan tropi kejuaraan, alumni di ekskul ROHIS mengajak adik-adik kelasnya masuk aliran-aliran islam ideologi.      ROHIS SMAN dijadikan kawah candradimuka, pengkaderan awal oleh gerakan islam ideologi.  Kemendikbud, Kemenag, dan para kepala sekolah/madrasah tentu saja harus mewaspadai hal ini.  ROHIS di SMAN harus direformasi dan difokuskan pada pencapaian prestasi dari sisi keagamaan, bagaimana dari ekstrakurikuler ini lahir qiroaah dan hafizul qur’an (kalau untuk jadi Mubaligoh tidak mungkin perlu ilmu alat yang mumpuni yang hanya bisa dilakukan di pesantren), SMAN harus menyediakan guru atau pelatih profesional yang bisa membimbing peserta dalam latihan qiroah dan hafizul qur’an bukan dilepas begitu saja sehingga dimanfaatkan oleh para alumni melakukan mentoring keagamaan memasukkan ideologi-ideologi radikal.  Bukankah kedudukan ekstrakulikuler itu untuk meningkatkan raihan prestasi non akademik dari peserta didik? Berapa banyak qoriah dan hafizul qur’an yang sudah dihasilkan oleh ROHIS SMA? Berapa banyak alumni ROHIS SMAN yang berhasil masuk ke Musabaqoh Qur’an tingkat daerah dan nasional? Jika ekskul pencinta alam di SMA memiliki prestasi dalam menaklukkan gunung-gunung dasar, maka apa prestasi ROHIS? Jika indeks keberhasilan ekskul pramuka pada berapa banyak peserta lolos Jambore tingkat nasional dan internasional, apa indikator untuk ROHIS? Pun jika indeks keberhasilan ekskul paskribaka adalah berapa peserta lolos jadi pengibar bendera di tingkat daerah dan nasional yang menjadi kebanggan sekolah setiap tanggal 17 Agustus, maka apa indeks keberhasilan ROHIS?  Jangan sampai indeks keberhasilan ROHIS SMA “Berapa banyak peserta didik yang berhasil menjadi kader gerakan-gerakan islam ideologi?”  Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya ROHIS SMAN telah dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan islam ideologi.  Alih-alih memperkuat karakter kebangsaan dengan 18 karakter yang telah dicanangkan kemendikbud, segelintir peserta didik yang aktif di ROHIS ini akan menjadi penantang nyata untuk NKRI. Inilah yang menyebabkan Kemendikbud, Kemenag, dan para kepala sekolah-sekolah negeri perlu melakukan reformasi terhadap ROHIS di sekolah.

MySTORY II:

1990, saya lolos UMPTN walaupun bukan pilihan pertama, saya masuk IPB.  Di kampus ini saya tidak tertarik aktif di kerohisan.  Namun, pada saat saya TPB (tingkat I) ospek-ospek yang diadakan kampus tidak memperkenalkan kami pada UKM.  UKM yang saya kenal di IPB saat itu hanya lawalata, MENWA, BKI (Kerohanian Islam), dan Paduan Suara.  Lebih miskin daripada kegiatan ekskul waktu saya di SMA yang beragam jenisnya mulai dari Tari, Basket, Volley, Silat, KIR, Paduan Suara, PKS (Polisi Keamaan Sekolah), PMR, Pramuka, Paskibra, Pencinta Alam, …. dan lainnya.  Masa TPB ada pelajaran agama islam.  Sistem di IPB, setiap pelajaran ada responsi yang dipegang assisten.  Dosen mengajar 100 menit di kelas, dan 100 menit lagi diajar assisten dengan waktu yang disepakati.  Begitu pula dengan PAI, kami mendapatkan assisten seorang ikhwan dan akhwat.  Kuliah agama tak ada masalah, mungkin karena saya lebih banyak bolos atau tidur saat kuliah, jadi saya tak pernah terlalu menyimak apa isi kuliah, kuliah pun diberikan oleh 1 orang dosen dengan 120 mahasiswa dalam kelas, jadi kebayangkan? mau tidur pun gak ketahuan, dan saya memang tukang tidur di kelas, apalagi posisi barisan tengah dekat jendela dengan angin semilir bertiup hehehe. Namun responsi agama itu menyusahkan, acapkali saya tak paham apa yang sedang dijelaskan para asissten itu.  Mungkin mereka kelewat pintar, sehingga saya tak bisa menangkap.  Ketika mereka meminta membuatkan rangkuman tentang materi yang telah diberikan sang assisten, saya membuat rangkuman dengan judul sama namun materi yang saya rangkumkan dari buku mentoring di SALMAN ITB yang saya kaji selama SMA. Sampai-sampai assiten mengomentari hasil rangkuman saya, darimana ini dapatnya?  Namun dari dulu sampai kini, saya punya prinsip.  Saya tidak akan menyajikan sesuatu pada orang lain, sesuatu yang tidak saya pahami.  Penjelasan assisten agama itu tidak saya pahami, sehingga saya tak memberikan rangkuman sesuai materi yang mereka telah terangkan.

Belakangan hari saya baru paham, bahwa buku yang dijadikan rujukan oleh para assisten agama islam di IPB adalah “Nizhamul Islam karya Syekh Taqiyuddin Annabhani”  Buku yang sulit dipahami karena secara mendasar meredefinisi kembali aqidah islam kita.

Bersambung ke #Part02 “Bagaimana saya berkenalan dengan aliran-aliran radikal di IPB?

 

One thought on “Me and Radicalism #Part01

  1. Di SMA sy bukan anak Rohis, waktu kuliah pun begitu..lbh banyak kegiatan ekskul di Himpunan Mahasiswa yg agak2 jauh dari keagamaan.
    Saya malah sudah phobi duluan dg kegiatan mentoring di kampus, soalnya ayah saya TNI sering mewanti wanti jangan belajar agama pada org yg sudah mulai ngomong masalah negara Islam..
    Saat sempat ikut satu dua kali kajian di mesjid dan sang penceramah justru besoknya membicarakan masalah tersebut, ..sy tdk mau datang lagi ke kajian.

    Namun saat kuliah dapat dosen PAI yg keren, yg bisa mendorongku mendalami agama lebih baik sampai akhirnya saya memutuskan berjilbab.
    Sy lbh banyak baca buku utk mencapai pemahaman bagaimana menjadi muslimah…. Dan sesekali mendengarkan tausyiah di Radio..

    saya anak ABRI yang berpetualang dalam alliran-aliran radikal, dialiran-aliran itu pengetahuan islam diperoleh. Pengalaman hidup saya ini bisa dibuatkan jurnal riset dengna metodologi penelitian transformatif, suatu saat akan dilakukan

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s