28-10-1928 vs 28-10-2018 #90tahun

Sembilan puluh tahun yang lalu para pemuda dari berbagai suku, ras, dan agama mendeklarasikan “PERSATUAN DAN KESATUAN INDONESIA” Satu tanah air, bangsa, dan bahasa….INDONESIA.

Sampai hari ini pada 28-8-2018 kita masih terkejut dengan pengibaran bendera berlafadz tauhid pada hari santri dibeberapa daerah di Priyangan Timur, di satu wilayah disertai pembakaran, kemudian dilanjutkan dengan aksi dibeberapa kota yang tentu saja dikomandoi oleh aktifis HTI dan gambungan dari simpatisan dalam persaudaraan 212, dan terakhir di Poso dengan insiden penurunan merah putih pengibaran bendera berlafadz tauhid berwarna hitam plus ada pedangnya, yang menggambarkan bendera ini bendera lainnya tidak sama dengan bendera sebelumnya dan bukan bendera milik HTI.  Tampak bahwa perjuangan pembentukan NEGARA ISLAM di Indonesia tidak diperjuangkan oleh HTI saja, ada banyak kelompok.

Ada yang bertanya, “Apakah salah memperjuangkan tegaknya TAUHID di Indonesia, lalu mengajak orang-orang untuk menegakkannya? Pertanyaan selanjutnya, “Apakah selama ini TAUHID tidak ditegakkan di Indonesia? Apakah Indonesia kurang memfasilitasi warganya untuk melaksanakan ketauhidan? Apakah jika tegakknya TAUHID diperjuangkan kembali di Indonesia, Indonesia akan masuk pada fase seperti 1950-1970 yang hidup dalam ketakutan karena gerombolan DI/TII?”

Insiden demi insiden akan terus terjadi pada masa depan, entah itu memang didisain, atau sekedar kecelakaan, atau didesain untuk terjadinya kecelakaan – by design, by accident, or by design for accident-.  Hari ini kita melihat sebuah pola: Ketika insiden itu terjadi, maka akan dilanjutkan dengan penyebaran opini, untuk menarik perasaan umat, menstimulus alam bawah sadar dengan kata-kata misalnya untuk kasus (1) pembakaran bendera berlafadz tauhid: kata-kata yang disebarkan dalam opini adalah “Gak tergerak hati melihat bendera tauhid dibakar, maka iman lemah“.   Untuk kasus (2) pengutipan al maidah oleh Ahok,  kata-kata yang disebarkan dalam opini adalah “Al qur’an dinistakan, masih diam saja, tidak punya iman“.  Setelah hati atau alam bawah sadar mereka digerakkan dengan kata-kata tersebut, maka dengan mudah ikut melakukan aksi-aksi damai yang digelar.  Dari aksi damai memang bisa berbuah jadi kudeta? Hemm…. lebih baik kita coba telaah dulu gerakan-gerakkan ideologi transnasional ini sebelum membahas lebih lanjut semua pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.

Gerakan ideologi transnasional, katakanlah Hizbut Tahrir (HT) mempunyai tiga marhalah (tahapan) dakwah, saya coba kaitkan ketiga marhalah ini dengan konteks Indonesia yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiga tahapan dakwah ini lahir dari proses ijtihad seorang ulama, yang tinggal di Al Quds kemudian berpindah-pindah ke Yordan, Yaman….wilayah timur tengah lainnya, namun belum pernah menyaksikan islam di Indonesia.

(1) Marhalatul tasqif (Tahap Pengkaderan)

Pada tahap ini terjadi perekruitan anggota atau kader HTI.  Memulainya di Bogor sekitar tahun 1980-an oleh Abdurahman Al Bagdadi (sekarang sudah keluar dari HT), dengan bantuan Mama Abdullah bin Nuh (tokoh NU yang sangat dihormati warga Bogor) mengajar pada para santri diantaranya ada mahasiswa IPB.  Mahasiswa IPB saat itu menjadi kelompok dakwah awal (kelompok halaqoh ula, salah satu anggota dikelompok ini adalah Muhammad Al Khatath-Gatot Saptono, ada sekitar 6 orangan anggota halaqoh pertama ini).  Perekrutan anggota tentu saja tidak sebatas halaqoh ula tapi dikembangkan kelompok-kelompok halaqoh lainnya.  Badan Kerohanian Islam (LDK IPB) dan Asistensi Agama di IPB menjadi pintu masuk perekruitan anggota-anggota baru secara formal menggunakan fasilitas kampus, dari sini terbentuk kelompok halaqoh lagi.  Selain itu secara informal juga digunakan pengajian-pengajian rumah dimana para anggota HTI ada ditempat tersebut.  Agar dakwah HT punya lingkup nusantara, maka BKI menginisiasi pendirian FSLDK se-Indonesia (Forum Silaturahmi Dakwah Kampus).  Melalui FSLDK ini kader HTI di Bogor dikirimkan ke berbagai kampus untuk membuat halaqoh ula di wilayah-wilayah tersebut.  Perekrutan anggota mirip dengan sistem MLM,  setiap upline punya downline.  Sistem kaderisasi ini terus berlanjut, sampai hari ini.  Karena suatu gerakkan tidak akan hidup tanpa kaderisasi.  Kampus terutama kampus PTN ternama seperti IPB, ITS, UGM, UNPAD, UNHAS, IKIP MALANG, Lembu Mangkurat, dll dijadikan sebagai lahan bagi kaderisasi anggota HTI.  Kenapa kampus? Kenapa kampus umum? Sebetulnya kampus di bawah departemen agama pun jadi sasaran, namun pergerakan terbatas pada prodi-prodi umum atau non agama, dan hujahnya terpatahkan oleh ahli-ahli agama di kampus2 islam.  Kampus di bawah Dikti yang pengetahuan agama islamnya masih minim ditambah ghiroh tinggi jurusan prodi umum belajar agama, maka jadi semacam simbiosis mutialisme. Tambah lagi kondisi mahasiswa di PTN Favorite dengan kepintaran luar biasa, biasanya jago mikir tapi gak pandai dalam seni, budaya, dan olah raga, mereka lebih memilih kegiatan dalam mengisi waktu luang dengan aktifitas berpikir juga. Mahasiswa dijadikan sasaran, karena disadari bahwa semua kebangkitan di Indonesia pelopornya para pemuda, para mahasiswa, termasuk 1908 Boedi Utomo adalah para mahasiswa STOVIA, lalu 1928 Soempah Pemoeda, lalu tumbangnya orde lama bahkan tumbangnya orde baru, semua mahasiswa berperan.  Inilah sebabnya mahasiwa jadi sasaran. Pada tahapan ini tak ada yang akan menyadari bahwa gerakan ini adalah gerakan politik yang berbahaya, orang hanya menyadari ini pengajian islam, bagus! tujuan politik disampaikan tapi aktifitas/kegiatan politik tidak ada karena tahapannya masih syiriah (sembunyi-sembunyi), untuk memperkuat kaderisasi dan memperbanyak anggota.

hti.png

(2) Marhalah tafaul (tahap berinteraksi)

Setelah cukup kuat, HTI dari tahun 1980-an sampai tahun 1990-an sudah menyebar ke berbagai kampus di Indonesia, keran reformasi juga terbuka.  Maka pada awal tahun 2000-an tahapan kedua dimulai.  Tahapan berinteraksi awal adalah mengenalkan jati diri HTI sebagai partai internasional melalui berbagai kegiatan aksi damai atau masirah pada moment-moment tertentu misalnya hari kartini/ibu, hari runtuhnya daulah islamiyah, dll.   Selanjutnya aksi damai bergerak pada menyikapi isu-isu yang berkembang di Indonesia misalnya kenaikan BBM, Freeport, perubahan PTN menjadi PTNBH, dll.   Tak jarang demo atau aksi damai juga menyangkut kebijakan-kebijakan luar negri Indonesia seperti Palestina, Suriah, dll.  Selain aksi damai juga digelar seminar dan konferensi dengan terang-terangan ke masyarakat, INI HTI penyelenggaranya, pada tahap kedua inilah HTI mulai dikenalkan, dan bagaimana semua orang bisa memiliki HTI tanpa harus menjadi anggotanya, jika jadi anggota terlebih lagi sebuah anugrah.  Tahapan ini harapannya masyarakat mengenal HTI dan perjuangannya.  Lalu mengajak masyarakat untuk bergabung memperjuangankan apa yang diperjuangkan HTI dengan atau tanpa bergabung menjadi anggota.  Maka dalam setiap aksi damai atau kegiatan publik HTI selalu mengundang peserta dari luar HTI.  Target dari tahapan ini adalah kesatuan dan persatuan perasaan dan pemikiran umat agar mau hidup dibawah naungan khilafah islamiah.  Untuk memenangkan pertarungan ini pada umat maka dibuatlah slogan-slogan dakwah yang akan mudah diingat umat, misalanya:  PEMERINTAHAN ISLAM VS PEMERINTAHAN KUFUR,  PEMERINTAHAN DZALIM, PEMERINTAHAN PRO ASENG-ASING, PEMERINTAHAN AUTOPILOT, DLL. Kok yang diserang pemerintah? Ya, jika rakyat masih percaya sama pemerintah, sangat sulit bagi mereka untuk meraih kekuasaan.  Namun untuk umat mereka pun membuat jurus-jurus dakwah seperti: Al Liwa dan Ar Rayah adalah bendera tauhid, bendera islam, lambang kesatuan umat islam yang sah, bendera lainnya bukan bendera umat islam.  Nasionalisme adalah ancaman dan pemecah belah umat islam.  Sistem khilafah adalah solusi atas semua masalah yang ada sekarang dari mulai kemiskinan, ketidakadilan, termasuk masalah keluarga yaitu tingginya perceraian.  Sistem khilafah adalah sistem islam sistem yang diridhoi Alloh, barang siapa yang tidak mau hidup dalam sistem khilafah maka dia bukanlah muslim.  Alam bawah sadar umat islam disentuh dengan ini semua, sehingga perasaannya bisa dikuasai untuk bergerak ke arah mana mereka harus bertindak.

(3) Marhalah tatbiq li ahkamil syari (tahap menegakkan hukum islam)

Sebelum mendirikan kekhilafahan islam, maka harus dipastikan terlebih dahulu:

  1.  “Apakah umat islam sudah benar-benar TIDAK PERCAYA PADA PEMERINTAHAN SAH? Berapa banyak umat islam yang seperti itu?”   Pastikan bahwa jumlah umat tersebut mampu digerakkan untuk aksi damai yang boleh jadi akan memakan waktu berhari-hari demi membuat ‘chaos’ situasi.
  2. Faktor apa yang membuat umat islam tidak percaya pada pemerintahan yang sah? Pastikan bahwa faktor yang membuat ketidakpercayaan itu bersifat ideologi.  karena mereka menghendaki berdirinya sistem islam bukan sekedar #gantiPresiden atau hanya tergerak karena dengan slogan #belaIslam #belaTauhid tapi pemikiran dan hatinya masih #NKRIPancasilaHargaMati.
  3. Apakah HTI yang menjadi pemimpin dalam menggerakan umat yang menuntut pembaharuan ini?  Pastikan komando di tangan HTI.
  4. Bagaimana posisi militer? Pastikan militer berpihak pada HTI atau paling tidak netral.  Jangan sampai militer berpihak pada pemerintah.  Oleh sebab itu berdakwah pada militer menjadi target dari HTI juga.
  5. Bagaimana dengan posisi Indonesia dengan negara lain? Pastikan bahwa Indonesia bebas campur tangan asing/aseng, mandiri dari interfensi negara Asing atau Aseng.

Jika hal-hal di atas sudah dipastikan, maka proses pengambil alihan kekuasaan melalui umat akan berjalan mulus.  Bendera merah putih dapat dengan mudah diturunkan dan diganti dengan Al Liwa dan Arrayah tanpa menghadapi protes dari rakyat, hadangan dari militer, dan pencegahan dari Asing/Aseng.  Umat akan menyerahkan kekuasaan pada HTI untuk membuat UU dan memilih kholifah.  Siapa kholofah yang akan dipilih?  Syarat afdholiyah dari seorang kholifah adalah kemampuan sebagai mujtahid, selain syarat wajib muslim, baligh, sehat, tidak cacat.  Maka berdasarkan syarat afdholiyah tidak mungkin Prabowo dipilih jadi Kholifah, dan kecil kemungkinan juga Ustadz HRS memenuhi syarat afdholiyah ini.  Jika di Indonesia tidak ditemukan yang ideal, maka boleh jadi Kholifah akan dipegang oleh orang di luar Indonesia kemungkinannya adalah Amir Hizb Tahrir Internasional yang memenuhi syarat.  Setelah Kholifah terpilih maka barulah penataan struktur kenegaraan dan pemberlakuan UU, HTI sudah mempersiapkan bagaimana struktur daulah dan bagaimana UU yang akan diberlakukan di negara ini.  Siapa yang mengisi struktur kenegaraan, bisa siapa saja ya! tapi prioritas tentu saja pada para anggota Hizb. Tahrir, bisa Hizb. Tahrir di Indonesia bisa juga dari luar Indonesia yang memiliki kapabilitas mengisi struktur daulah tersebut.  Lalu jika daulah kekhilafahan islam berdiri di Indonesia, bagaimana dengan Demokrasi, Pancasila, dan Kebudayaan Indonesia yang saat ini ada? Demokrasi dan pancasila tentu akan menjadi ajaran yang dilarang disebarkan di tengah masyarakat.  Adapun dengan budaya, maka aturannya akan mengikuti aturan islam yang ada pada kitab nizomil ijtimai’ fii islami yaitu wanita jika keluar rumah harus menutup aurat dan menggunakan abaya (jilbab), kehidupan wanita dan lelaki dipisah secara mutlak, wanita hanya berkumpul dengan para wanita saja tidak bebas berinteraksi dengan para pria.  Beberapa tradisi budaya yang mengandung warisan nenek moyang akan dilarang.  Patung-patung di Jakarta dan beberapa kota mungkin juga akan diruntuhkan.  Tempat ibadah bagi umat selain islam akan diperketat ijinnya.  Non muslim akan dimintakan jizah yaitu pajak khusus, jika tak mau membayar pajak itu dipersilahkan keluar dari negara ini. Daulah islamiyah atau kekhilafahan islam adalah negara untuk muslim dan oleh muslim, non muslim selama membayar jizyah dan mengikuti aturan boleh tinggal di negara ini.

Semoga paparan ini menyadarkan kita semua, bagaimana harus bersikap terhadap situasi dan kondisi yang ada.  Sekali lagi insiden demi insiden akan terjadi baik  – by design, by accident, or by design for accident-.  Lalu insiden ini akan dimanfaatkan untuk menyatukan “perasaan umat” dengan pengemasan perang opini.  Selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan aksi-aksi damai.  Ini adalah bagian dari tahap tafa’ul, berinteraksi dengan masyarakat, tahapan sebelum hukum islam diterapkan.

Dan patut juga diingat, bahwa Indonesia pun lahir dari IJMAK ULAMA tahun 1945.  Ulama-ulama dari NU, Muhammadiyah, Sarekat Islam (Masyumi) dll menyepakati demi kemashlahatan umat islam Indonesia, UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang beragam suku, ras, agama. Sebagai orang yang miskin ilmu agama, maka kewajiban kita menjadi mutabii, atau pengikut.  Pengikut ulama siapa? Ulama Timur Tengah yang menerapkan islam sesuai konteks timur tengah, atau ulama indonesia yang menyerap ilmu di timur tengah, namun berijtihad dalam penerapannya agar sesuai dengan konteks budaya Indoensia? Saya pribadi lebih memilih tsiqoh pada para ulama Indonesia.  Ulama itu beda ya dengan ustadz, ulama itu harus ngerti bahasa arab, ulumul qur’an ulumul hadits, ushul fiqh, dan umumnya punya tafsir selain menguasai tafsir dari para mufashirin sebelumnya.     SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA!

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s