NKRI dikepung Neo NII?

Pilpres berakhir, perhitungan suara sedang dilakukan. Hitungan cepat menunjukkan kemenangan bagi Pasangan Jokowi KH Ma’ruf Amin. Seperti umumnya pilpres lalu, perkiraan hitungan cepat yg bersifat sampling mungkin tidak melesat dari perhitungan populasi data. Hal yg menarik dari hitungan cepat adalah kenaikan suara PKS.

PKS adalah gabungan dua partai yaitu Partai Keadilan (kepanjangan dari partai Transnasional Ikhwanul Muslimin) dan Partai Islam Sejahtera (partai mengusung ideologi dan gerakan NII/DI TII). Kenaikan suara PKS saat ini tak lepas dari dukungan suara dari FUI FPI dan HTI, konon HTI pada kali ini memperbolehkan anggotanya mencoblos, dan partai yg paling memungkin dicoblos anggota HTI setelah PBB membelot ke kubu 01 adalah PKS. Masuknya suara FUI, FPI, HTI pada PKS tidak mengubah ideologi PKS, tapi justeru memperjelas ideologinya. PKS adalah partai yg memperjuangkan tegaknya NEGARA ISLAM INDONESIA, jika pimpinan tertinggi Republik ini sudah berada di tangan PKS maka akan dibentuk UNITED ISLAMIC STATE (Jamiatul Muslimin) dengan menggabungkan beberapa negara lain yg dipimpin anggota ikhwanul muslimin lainnya. Pada saat ini negara yg dipimpin kader Ikhwanul Muslimin adalah Turki oleh Erdogan (inilah sebabnya peserta liqo PKS selalu mengelu2kan Erdogan sebagai presiden mereka), sebentar lagi Malaysia dg Anwar Ibrahim. Konsep Jamiatul muslim ini mirip dg konsep Khilafah HIzbut Tahrir.

Berapa kekuatan mereka yg punya cita2 NEO NII di Indonesia. Jika didasarkan pada perkiraan QC antara 7-9% pemilih (jumlah pemilih 2019 sekitar 133 juta), maka jumlah mereka sekitar 12 juta orang. Ada 12 juta orang dewasa yang merupakan simpatisan, anggota, dan kader dari NEO NII. Jumlah yg harus diperhitungkan dg baik bagi eksistensi NKRI.

Bukankah mereka juga menerima NKRI PANCASILA? Menerima tapi tidak berhenti memperjuangkan agar Indonesia dihukumi dengan hukum islam dan semua jabatan diisi oleh muslim dari golongan mereka.

12 juta itu kecil? Iya, kecil tapi mereka paling riuh di media sosial, karena sebagian besar dari mereka dari kaum intelektual lulusan perguruan tinggi. Dan di kehidupan nyata mereka militan selalu memainkan politik identitas dan memberikan pada pengikutnya jaminan masuk surga, sehingga mampu menggolkan calon pemimpin apapun kondisinya seperti kasus 02 menjadi pemimpin yg islami dan ulamai dengan modal Ijmak para Ustadz dan tebar isue ‘Jokowi bagian dari Soekarnoisme yang mana PDIP diidentikan dengan PNI yang pernah bersatu dengan PKI“, lalu mengajak masyarakat memilih 02 dengan alasan didukung para Ustadz dan tidak ada kaitannya dengan PKI.  Padahal secara akal sehat 01 malah berpasangan dengan Ulama, dan platform Gerindra tak jauh beda dengan PDIP juga PSI. Maka kita bisa menyaksikan pengaruh 12 juta ini bisa mempengaruhi masyarakat di 14 propinsi yaitu Aceh, Riau, Sumbar, Sumsel, Bengkulu, Banten, Jabar, NTB, Gorontalo, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Selatan. Ada 42% wilayah di Indonesia yg berhasil digiring dalam isu agama, jangkauan wilayah meningkat 10-15% dari tahun 2014 dengan beberapa wilayah terparah pengaruh Radikalisme Isu Agama Islam dalam pemilu yaitu di Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Kalaimantan Selatan, Maluku Utara, dan NTB.

Jika melihat Sejarah NII di Indonesia tentu kita tidak terkejut. Aceh bersama Teungku Daud Beureuh pernah mendeklarasikan NII, Sumbar-Jambi-Riau pernah jadi pusat PRRI/PERMESTA, Jawa Barat juga pernah jadi Basis pemberontakkan DII/TII. Maluku Utara sampai saat ini masih ada Kesultanan Ternate.

Jika Indonesia dipecah jadi negara2 kecil, maka diperkirakan wilayah2 ini akan jadi kerajaan atau kesultanan Islam. Nah, merawat Indonesia dengan keberagamannya tentu bukan hal mudah bukan? Inilah sebabnya 1945 Para Ulama berijmak “PANCASILA adalah dasar negara yg bisa mempersatukan keberagaman” dan “NKRI adalah bentuk negara yg mewadahi keberagaman dari 33 propinsi”. Akankah NKRI PANCASILA yg mewadahi keberagaman di Indonesia tetap eksis ditengah gempuran keinginan untuk melakukan Islamisasi Sistem Kekuasaan?

Semuanya akan berpulang pada warga negara Indonesia. Mampukan bertahan merawat NKRI dengan keberagamannya atau rela dipecah belah oleh aliran-aliran Radikal Islam yang ingin mendirikan sekedar NKRI BERSYARIAH atau meluas menjadi UNITED ISLAMIC STATE (Jamiatul Muslimin ala Ikhwanul Muslimin) atau mengglobal menjadi Khilafatul Islamiah ala Hizbut Tahrir.

One thought on “NKRI dikepung Neo NII?

  1. Pingback: Khilafah vs NKRI – Note Think Note

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s