Khilafah vs NKRI

Sejak pilkda DKI Jakarta sampai dengan Pilpres 2019 lalu, perpolitikan cukup riuh karena keikutsertaan Hizb Tahrir didalamnya. Pada PILKADA DKI walaupun HTI GOLPUT, tapi HTI berhasil membumikan hastag #TolakPemimpinKafir yang menyebabkan Ahok terpeleset lidah dan HTI juga yang all out menggerakkan demo berjilid-jilid mulai 411, 212, 121 sampai reuni-reuninya hari kemarin sampai nanti. 212 dianggap sebagai momen untuk menyatukan perasaan umat, dan reuni demi reuni dianggap sebagai momen menyatukan pemikiran umat. Efek dari ini semua, kita bisa lihat:

  1. Kasus pembakaran bendera arrayah pada hari santri, membuat marah umat islam bukan hanya HTI saja tapi komunitas 212 dan juga masyarakat yang sudah terprovokasi dg ungkapan ‘tidak beriman kalau tidak sedih melihat lafadz laillahaillalloh dibakar’. Arrayah yang akan menjadi bendera khilafah jika berdiri, bisa dirasakan sebagai bendera mereka. Ketika perasaan menyatu dengan simbol2 hizbut tahrir ini sudah dimiliki masyarakat, tentu akan mudah ketika masyarakat diajak oleh Hizb Tahrir untuk melakukan gerakan-gerakan pendirian Khilafah dari sekedar fikriyah sampai revolusi.
  2. Hasil Quick Count ada 14 propinsi dengan kenaikan suara 02 sangat signifikan, dan perolehan suara PKS juga meningkat tajam karena HTI memperbolehkan anggotanya untuk memilih dan menyatakan dukungan pada paslon tentu saja #02. (Baca postingnya sebelumnya NKRI vs NEO NII).

Hizb. Tahrir (HT) mengusung IDE KHILAFAH didasarkan pada kajian: 1) Al Qur’an, 2) Hadits, 3) Ijmak Shahabat, 4) Qiyas. Jika merujuk Al Qur’an dan Hadits saja, keharusan harus menggunakan sistem Khilafah tidak ada. Pada Al Qur’an dan Hadits berbicara secara umum keharusnya adanya pemimpin. Adapun Konsep Khilafah muncul setelah melihat penerapan oleh para shahabat pasca Rasulullah saw wafat. Kajian dari Zaman Abu Bakar sampai dengan runtuhnya Kekhilafahan Turki Utsmaniyah dianggap sebagai IJMAK SAHABAT. Empat sumber hukum itu saja yang diyakini oleh HT. HT tidak memasukkan unsur ijmak ulama sebagai sebuah keharusan dalam memproduksi suatu hukum.

Hal ini berbeda dengan NU yang mendasarkan sumber hukum pada 4 hal yaitu 1) Al Qur’an, 2) Hadits, 3) Ijmak Ulama, 4) Qiyas. Maka NU menolak sistem Khilafah atas landasan bahwa NKRI PANCASILA adalah hasil Ijmak Ulama 1945, terbaik buat Indonesia. Ingat ulama ketika mengeluarkan ijmak tidak akan membuat dhoror umat (kecuali ijma-ijmaan ulama-ulamaan demi kepentingan politik mendukung paslon tertentu dan itu hanyalah QUASY IJMAK ULAMA). Tentang Kekhilafahan sendiri menurut NU bagian dari sejarah saja, untuk dijadikan pelajaran karena dari sistem tersebut ada yang baik ada juga yang buruk. Hidup pada zaman sekarang, mengikuti Ijmak Ulama kekinian yang update dengan situasi dan kondisi saat ini.

Khilafah tidak islami? NKRI tidak islami? Eitttttt dua-duanya pendapat yang islami. Namun tentu saja dari kedua pendapat islami ini kita harus mengambil pendapat mana yang paling kuat dan mana yang menimbulkan dhoror paling sedikit.

Hadits mengikuti Sahabat banyak, demikian juga hadits mengikuti ulama sebagai pewaris nabi juga banyak. Ketika sahabat masih hidup, kita mengikuti mereka. Bagaimana kalau mereka sudah meninggal, apakah pendapatnya tetap diikuti? Beberapa pendapatnya tentu tidak relevan lagi saat ini. Contohnya tentang Khilafah, dimana tidak relevannya?

  1. Pasca perang dunia II semua orang berpikir untuk membuat bumi ini nyaman dihuni dengan menyadari adanya multikulturime dan hidup damai dalam perbedaan. Perang sudah dilarang, negara yang melakukan invansi akan kena PENJAHAT PERANG. Walaupun memang dalam pelaksanaannya masih pilih kasih, misalnya George Bush tak pernah diadili sebagai penjahat perang karena sudah menginvasi Irak. Tetapi hukum itu ada, dan mahkamah internasional itu ada.
  2. Beda dengan jaman para shahabat atau abad 7-19. Semua wilayah di dunia ini menggunakan jalan peperangan untuk memberikan pengaruh kekuasaannya. Kerajaan Pajajaran perang dengan Majapahit dalam perang Bubat, karena Majapahit ingin Pajajaran bergabung menjadi bagian wilayah Majapahit untuk disatukan menjadi Nusantara. Kehilafahan usmaniyah menaklukkan konstantinopel untuk menguasai wilayahnya. Demikian juga Antar Shogun di Jepang melakukan perang untuk menguasai wilayah. Saat ini abad 20-21 relevankah penggunakan otot dan senjata? Pasti semua berpikir itu cara barbar. Pada zaman ini menguasai suatu wilayah cukup dengan 4C: Creative thinking-inovatif, Critical Thinking-Problem solving, Colaborrative, dan Communicative. Korea mempengaruhi budaya dan kehidupan di Indonesia melalui perebutan wilayah? Tidak tapi melalui SAMSUNG dan DRAMA KOREA. Jepang menguasai ASEAN melalui pengiriman tentara seperti jaman dulu? Tidak tapi melalui Honda Toyota Sonny dan produk teknologi lainnya. Lalu sekarang China, menguasai ASIA melalui apa? Pengiriman pasukan Kublai Khan? Bukan tapi melalui XIOMI. Jadi pada abad 21 ini yang diperlukan adalah mengasah otak, mengasah komunikasi lobbying, dan menghasilakan produk inovatif. Sekarang zaman otak bukan zaman adu otot.

Jadi silahkan pikirkan apakah pembentukan kekhilafahan itu relevan pada saat sekarang? Untuk diketahui Hizbut Tahrir melakukan 3 tahapan dalam mewujud kekhilafahan, tahapan tersebut adalah:

  1. Pembinaan (tasqif): HT akan membentuk halaqoh2 terdiri dari 2-5 orang secara intensif setiap minggu mengkaji kitab rujukan HT. Tujuan dari Tasqif adalah menghasilkan kader-kader dakwah di masyarakat.
  2. Berinteraksi (Tafa’ul): Setelah mengalami proses tasqif setiap anggota HT harus menyebarkan pemikirannya di tengah umat. Pada tahap ini setiap kader diminta mencermati isu-isu yang ada lalu membuat opini dari isu tersebut yang mengarah pada “Memotong kepercayaan umat pada pemimpin yang berkuasa saat ini atau sistem yang bukan khilafah (termasuk pancasila), dan menawarkan Khilafah sebagai solusinya” Indikator keberhasilan tahap ini adalah MENYATUNYA PEMIKIRAN DAN PERASAAN UMAT UNTUK MENENTANG PEMERINTAHAN YANG ADA (Pemerintahan Bukan Khilafah). Keberhasilan tahapan ini ditentukan oleh tiga faktor: (1) Pemerintahan yang berkuasa lemah sehingga banyak celah untuk dikritik. (2) Umat yang mudah diprovokasi, karena literasi rendah, tidak suka baca, suka diiming-iming surga, dan takut diancam neraka. (3) Kader HT yang secara intensif dan tidak kenal lelah serta pantang menyerah untuk terus menyebarkan opini dan memprovokasi masyarakat.
  3. Pendirian Khilafah (Tatbiq). Umat yang tidak percaya pada pemerintah dan mereka percaya pada HT akan mudah diajak untuk melakukan kudeta menumbangkan sistem pemerintahan yang ada dan menggantinya dengan Khilafah. Ini disebut oleh Hizb Tahrir sebagai “Khilafah Berdiri atas keinginan Umat” bukan semata-mata keinginan HT.

Setelah Khilafah berdiri ngapain? Yang pertama milih kholifah. Yang akan menjadi Kholifah tentu saja yang pertama adalah PIMPINAN HIZB TAHRIR INTERNASIONAL. Tapi bisa saja ditawarkan pada yang lain tergantung deal politik, yang penting bagi HT mau menerapkan UU (Dustur) yang sudah mereka buat. Setelah menyusun perangkat2 kekhilafahan, tahap selanjutnya konsolidasi internal memperkuat negara Khilfah yang baru berdiri. Setelah Kekhilafahan kuat, maka akan meminta negara lain untuk masuk bagian kekhilfahan secara sukerela. Jika secara sukarela menolak, maka ditawari untuk membayar upeti perlindungan oleh Khilafah. Jika menolak juga maka yang dilakukan selanjutnya adalah memerangi negara2 yang tidak mau bergabung menjadi bagian negara khilafah. Dengan cara seperti ini UNITED STATE KHILAFAH ISLAMIYAH berdiri sebagai perwakilan Tuhan di Muka Bumi.

Jadi setelah mendapatkan gambaran ini, Mana yang dipilih NKRI Pancasila atau Khilafah?

2 thoughts on “Khilafah vs NKRI

  1. Kenapa NU dan HTI harus bermusuhan kak?
    Padahal ormas Islam lainnya tidak sampai demikian… Saya bukan NU dan bukan HTI, jujur saya sangat sedih melihatnya.

    • berbeda pendapat dalam memandang sesuatu, Pendapat NU pendapat islami “mentaati ijmak ulama 1945” pendapat HTI pendapat islami “Mengikuti shahabat” yang diperlukan adalah dialog, menurunkan EGO, mana yang terbaik bagi masyarakat Indonesia dengan kemajukannya saat ini.

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s