Bagaimana Kabar Revolusi Mental Kita?

Pada tahun 1945, pasca kekalahan PD II, Jepang mereformasi pendidikannya. Hal mendasar yg direformasi adalah MORAL. Di Jepang pendidikan Moral 1 jam perminggu di semua level dasar dan menengah. Pembelajaran diberikan melalui metode konflik kognitif. Hal utama dalam pendidikan moral adalah: “MENGHILANGKAN EGO MENJADI MEMIKIRKAN KEBAIKAN UNTUK BERSAMA”

Maka keberhasilan pendidikan jepang dilihat dari indikator moral yaitu:

(1) jika masih banyak orang yg “Keukeuh dg pendapat sendiri dan merasa paling benar” maka pendidikan gagal.

(2) pendidikan gagal jika “masih banyak org memperjuangkan diri sendiri dan keuntungan untuk dirinya saja”

(3) Pendidikan gagal jika masih banyak org Merasa pintar sendiri dan gak mau berbagi”

Dll…

Urgesi perubahan moral ini dilakukan oleh Ibu (ada kyouku mama – mirip hadonah dlm islam), sekolah bahkan media televisi….bisa disaksikan acara jepang dari drama/sinetron juga aneka acara tips berujung pada pesan2 moral “JANGAN EGOIS, HANYA MIKIRIN KEINGINAN, KEUNTUNGAN, KEBUTUHAN UNTUK DIRI SENDIRI”. Semesta bergerak mewujudkan revolusi mental ini.

Tajiri, Nobira dan Negishi Sensei kolega kami selama 6 tahun ini senantiasa memberi semangat pada kita org Indonesia “70 tahun lalu yaitu saat masa PERANG DUNIA” Jepang Masyarakatnya sama dengan Indonesia (penuh dg org2 egois yg hanya mementingkan kepentingan sendiri dan keinginan sendiri bukan kepentingan bersama dan bersama2 memajukan negara). Revolusi Mental melalui Pendidikan Moral yg membuat Jepang maju seperti sekarang.

Revolusi mental Jepang 1945 dasarnya ilmu2 teori perkembangkan mental yg sering kita pelajari misalnya Piaget, Ericson, Kohlberg….pendidikan moral jepang diramunya dari sini juga…

Bagaimana dg revolusi Mental kita?

Revolusi mental tak akan berhasil bila belum menemukan agar masalahnya…..

Budaya korup tidak bisa diatasi dg naiknya gaji. Sifat radikal tidak akan hilang dg meniadakan pendidikan agama. Dan lain2nya seperti yg selama ini sudah diaplikasikan atau diwacanakan…… hal2 itu bukan akarnya….. Pakar pendidikan Jepang menemukan dari aneka masalah di dunia adalah akar masalahnya adalah “EGO”. Menghilangkan EGO menjadi memikirkan pikiran dan perasaan orang lain, inilah yg ditemukan pakar pendidikan Jepang.

From “TEPOK DADA” to “TEPO SELIRO” itu yg harus direvolusi dari mental kita.

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s