Deteksi ‘radikalisme’ dari opini

Kebijakan pemerintah dengan mencabut ijin operasional sebuah ormas membuat mereka berang. sehingga menuduh pemerintah berbuat dzalim dan menurut mereka pemerintah melakukan dosa luar biasa besar. Mereka pun merasa dirinya terdzalimi dan mengais rasa iba dari kaum muslimin lainnya. Betulkan mereka didzalimi? Bayangkan pemerintah Indonesia hanya mencabut izin operasional, sampai saat ini mereka masih bebas berkoar-koar MEMUTARBALIKKAN FAKTA DAN MENEBAR PROVOKASI SERTA MENGAJAK MASYARAKAT MENGGANTIKAN NKRI PANCASILA HASIL IJMAK ULAMA dengan sistem baru yang hasil ijtihad seorang ulama di Timur Tengah. Tak ada aktifis ormas ini yang dipenjarakan, bahkan banyak PNS yang terang2an dan sembunyi2 mengaku sebagai syabab ini tidak dipecat dari ke-ASN-annya hanya dilakukan pencabutan jabatan struktural. Kurang baik apa negara ini pada mereka? Ini semua karena negara merasa bahwa mereka adalah WN juga harus diayomi.

Tapi ya itu, sebaik apapun negara ini pada mereka, mereka tak henti-hentinya memojokkan negara, dan siapapun yang membela kebijakan negara akan mereka sebut sebagai pro sekular, pro kapitalis, pro sosialis. Dan tak jarang mereka menuduh kebijakan pemerintah PRO ATHEIS dan seringkali mengumpat pemerintah dengan sebutan PEMERINTAH KAFIR dan DEMOKRASI KUFUR serta PEMERINTAH ANTI ISLAM. Dibandingkan sebagai organisasi agama atau organisasi dakwah, mereka lebih pantas disebut sebagai Kelompok Politik islam. Dan memang dalam kitab Takatul Hizby, kitab yang harus dikaji oleh setiap orang ketika akan masuk Hizb Tahrir sebelum mereka disumpah (ba’iat/qosam) menjadi anggota sangat jelas disebutkan bahwa “kelompok ini bukanlah ORGANISASI MASSA atau Jamaah Khoiriyah [organisasi kebaikan/sosial] tapi PARTAI POLITIK. Dengan tujuan organisasi bersifat politik yaitu mengambil alih kekuasaan yang ada di suatu negara melalui jalan umat . Di sinilah kita harus hati-hati, kita ingin mengkaji islam dan berislam secara baik, tapi ternyata kita terjebak dalam sebuah Partai Politik jaringan Internasional lagi!

Di media sosial sangat mudah mendeteksi para anggota dan simpatisan kajian radikal yang telah dicuci otaknya bertahun-tahun oleh kajian2 ini. Proses cuci otak dalam kajian yang disebut liqo atau halaqoh menghasilkan syakhyiah atau kepribadian yang khas dan pola pikir khas akan terlihat pada opininya, seperti apa itu? Mari kita lihat contoh-contoh opini simpatisan atau mungkin juga anggota jaringan ini pada berbagai status dan komentar di facebook.

Ketika ada status facebook teman yang memposting tulisan dengan judul “Gus Baha Aset NU” komentar khas mereka adalah….

  1. “Apalagi kalau menerapkan syariat islam secara kaffah ya Om!” Agus Soleh Sudrajat.
  2. “Aset kok kayak gitu sih!Ahmad Din

Berikut juga ungkapan khas mereka,

Ada yang bangga atas jasa para pendahulunya, tapi ketika ada yang berjuang seperti pendahulunya, justeru dianggap sebagai musuhnya. Dulu loyang sekarang besi. Dulu semangat berjuang kini rajin persekusi. Sambil bergoyang teriak cinta NKRI. Pengajian dihadang, natalan ditemani. Budaya sesat disang-sayang atas nama toleransi. LGBT diberi ruang atas nama hak asasi. Hukum islam diganyang atas nama demokrasi. Skenario Alloh memang tidak mungkin dihentikan, walau andaikata selalu orang-orang kafir bekererjasama dengan seluruh setan untuk melakukan perlawanan. Abu Fatih

Kalau yang membolehkan riba dan penyerahan kekayaan negeri ini ke para cukong dan antek asing siapa ya? Su Tisna.

Orang sekuler liberal moderat tentu anti khilafah David David Dafid

Sekarang makin tampak dan terang-terangan mereka terus menyebarkan paham atheis di negeri. Tidak setuju ada konsep tuhan dan iman. mereka begitu mendewakan akalnya. Seolah-olah akal manusia penentu segalanya. Hartadi Hartadi

Ada beberapa kata kunci yang sering disampaikan oleh anggota gerakan ini ketika beropini yaitu: Atheis, demokrasi, HAM, kaffah, cukong, antek asing, riba, sekuler, liberal, anti moderat, khilafah.

Kata kunci yang ditebarkan penuh kebencian, memperlihatkan radikalisme dalam berujar.

One thought on “Deteksi ‘radikalisme’ dari opini

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s