Logical Failure Felix Siauw

Sebenarnya beberapa kali logika berpikir Felix sebagai syabab Hizbut Tahrir Indonesia dalam tulisan dan perkataan menunjukkan kekeliruan berpikir. Saya tidak tahu apakah ini disengaja atau tidak, namun kekeliruan berpikirnya sangat berbahaya mengingat jutaan orang menjadi pengikutnya di media sosial. Pada kali ini saya mau membahas satu saja dari tulisannya, yg dimuat di facebook dan IG dengan judul “manusia berlagak tuhan”

Awal paragraf diawali dg perbandingan sikap manusia pada dokter dan Tuhan

Tak ada satupun pasien yang pernah mendebat dokternya dalam diagnosa, saran, dan resep yang diberikan. Hebatnya banyak orang yang berani mendebat Tuhannya. Semua saran dokter ketika diberikan didengarkan dengan seksama dan ditaati, disaat yang sama kewajiban dari Allah diragukan, disangsikan kesesuaiannya dengan zaman. Konsep-konsep ilahiyah dimakzulkan, ayat-ayat Tuhan saja dipertanyakan. Tapi pendapat manusia dimuliakan, dijunjung dan dipuji, walaupun sudah terbukti menyengsarakan. Anda bisa jadi mendebat dokter, bila anda tidak meyakini bahwa orang itu adalah dokter. Sama seperti anda bisa jadi mendebat Allah bila anda tak meyakini Allah itu Tuhan.

Menyamakan seorang dokter yg memberikan treatment pengobatan pada pasien dengan Tuhan sebetulnya sebuah pelecehan yg nyata. Karena Alloh swt adalah Khalik, sedangan seorang dokter hanyalah makhluk. Membandingkannya tak sebanding sama sekali. Alloh swt bersifat mahaesa (tunggal) menurunkan satu wahyu pada umat islam yaitu al quran untuk memecahkan permasalahan kehidupan. Manusia yg menerima al quran mencoba memahami wahyu Alloh swt melalui tafsir2 yg dilakukan secara shahih sesuai keilmuan sehingga melahirkan para mufasirin dan mujtahid. Karena berbeda sudut pandang dan pemahaman pada ayat maka tidak menutup kemungkinan terjadi ragam tafsir. Manusia lain yg tidak memiliki ilmu tentang tafsir dan proses ijtihad, hanya menjadi pengikut setelah memilih mujtahid yg diyakini baik secara ilmu setelah mengkaji hasil ijtihad ulama tersebut maupun faktor tsiqoh pada ulamanya saja.

Adapun dokter sifatnya jamak, ada banyak. Pasien akan berobat pada dokter tertentu, dokter akan memberikan diagnosa dan saran pengobatan, pasien yg sudah yakin sama hasil diagnosa dokter akan mengikuti, tapi jika belum yakin dia akan datang ke dokter lainnya sebagai second opinion. Bahkan dia bisa memilih teknik pengobatan lainnya dari para tabib ahli herbal atau dari para sensei akupuntur bahkan dari orang pintar…. sampai sini DOKTER DAN TUHAN sangat berbeda.

Kalimat selanjutnya Felix menuliskan “Pasien serasa Dokter sama dengan Manusia Berlagak Tuhan” untuk pasien yang tidak percaya pada diagnosa dan saran dokter, dan manusia yang tidak menjalankan hukum syara.

Anehnya, kita berlagak lebih tahu dari dokter, lebih hebat dari Tuhan. Resep yang diberi dokter kita sortir sendiri, syariat dari Allah kita pilah pilih, sesuka semau kita. Pasien serasa dokter, manusia berlagak Tuhan, dengan bangga mempertontonkan kebodohan, menyombongkan kelemahan, padahal malaikat maut sedang mengintainya.

Posisi dan cara kerja seorang dokter sangat tidak sebanding dengan Alloh SWT . Menganalogi kepercayaan pasien pada dokter dengan kepercayaan makhluk pada Alloh swt dalah sebuah logical Failure bahkan bisa jadi pelecehan yang nyata. Jika pun mau disamakan kepercayaan pasien pada dokter sama sama dengan kepercayaan umat pada mujtahid. Ada banyak dokter, begitu juga ada banyak mujtahid. Dokter dalam mendiagnosa dan menyarankan treatment terhdp pasien akan menjalani serangkaian pendidikan dan pembiasaan menggunakan kaidah ilmiah. Begitu juga dengan seorang mujtahin akan menjalani serangkaian pendidikan agama sehingga mempunyai kemampuan dalam menafsirkan al quran dan menghasilkan hukum-hukum syara. Jika seorang pasien sudah memilih dokter A, maka jika dia yakin dengan diagnosa dokter A dia akan mengikuti pengobatan yang disarankan dokter A. Namun jika dia tidak yakin dengan dokter A dia bisa memilih dokter lainnya bahkan pindah ke pengobatan alternatif lainnya. Hal Ini sah-sah saja bagi pasien. Pun begitu dengan umat dalam memilih seorang mujtahid yang diikutinya. Jika seorang bani adam memilih Mujtahid Taqiyuddin Annabhani, jika ia yakin dengan keshahihan hasil ijtihadnya akan mengikuti hasil ijtihadnya bahwa ‘semua hukum islam hanya bisa tegak dengan mendirikan khilafah islamiyah’. Namun jika seorang bani adam tidak yakin terhadap argumen-argumen Taqiyuddin Annabhani tentang hukum syara ketatanegaraan, dia boleh saja mengambil hasil ijtihad dari ulama lain misalnya mengambil pendapat dari HASIL IJTIMAK PARA ULAMA INDONESIA 1945 yang berijtihad tentang sistem ketatanegaraan Indonesia yaitu NKRI PANCASILA. Khilafah Islamiyah Tahririyah adalah produk Ijtihad seorang ulama, pun begitu NKRI PANCASILA pun hasil ijtihad bahkan jadi kesepakatan para ulama Indonesia. Umat Islam diperkenankan memilih hasil ijtihad ini mana yang paling sesuai dengan konteks Indoensia dan tidak menimbulkan kemudorotan yang besar. Sama dengan pasien diperkenankan memilih dokter mana yang memberikan treatment yang lebih baik bagi kesehatannya. Mujtahid dan dokter tidak bersifat TUNGGAL, sehingga banyak pilihan yang bisa dipilih tergantung keyakinan mereka.

Kesimpulan bahwa “Pasien serasa Dokter, manusia berlagak Tuhan” adalah kesimpulan yang salah. Ketika kita memilih hasil ijtihad ulama lain dibandingkan hasil ijtihad Taqiyuddin An Nabhani tentang penerapan hukum islam melalui khilafah, tidak menyakini hasil ijtihad seorang ulama bukan berati “Manusia berlagak Tuhan”. Manusia berlagak Tuhan itu hanya pantas disematkan bagi mereka yang berlaku seperti Tuhan padahal mereka bukan tuhan. Misalnya “Tuhan punya sifat esa (tunggal), dan dia mengklaim kebenaran bersifat tunggal dari kelompoknya saja” atau berlagak seperti Tuhan yang Al Hakim yaitu “mengklaim bahwa orang yang tidak mengikuti ijtihad Taqiyuddin An Nabhani sebagai golongan sesat, munafiq, kafir, atau Dzalim”. Padahal syariat islam jelas, mereka yang berijtihad dengan benar dapat 2 yang hasil ijtihadnya salah dapat 1, mana yang benar dan salah tidak ditentukan didunia tapi di yaumil akhir berdasarkan keputusan Alloh SWT. Manusia hanya bisa mengikuti ijtihad para ulama dengan kaidah mana yang dalilnya paling kuat, mana yang memberikan manfaat lebih banyak pada umat, dan tidak menimbulkan kedhororan yang besar. Manusia yang tidak menerima perbedaan hukum syara yang dikeluarkan oleh para ulama, sesunggunhnya dialah yang “Manusia Berlagak Tuhan”. Wallohualam bi sawab.

Komentari dong artikelnya, terima kasih!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s