Bagian III: Menjadi orang berkarakter dan berbudaya di Jepang

08_04_18 13.30 Office Lens

Bagian III dari buku ini karya teman saya Murni Ramli ini membahas tentang teknologi, pendidikan, dan karakter moral.  Bahasan disajikan dalam 10 bab mulai bab 7 sampai dengan bab 17.

Tentang teknologi, hal yang menarik dikemukan oleh penulis adalah “Jepang menyiapkan dahulu budaya sebelum membangun infrastruktur dan teknologi. Pada zaman Edo masyarakat Jepang melakukan revolusi mental menciptakan sosok berdisiplin tinggi dalam penggunaan waktu, kerja keras, dengan karakter seperti ini lahirlah teknologi seperti pedang, keramik porselin, boneka robot dan lainnya. Namun teknologi juga mengubah budaya masyarakat Jepang.  Misalnya bagaimana kehadiran shinkansen telah mengubah pola hidup masyarakat menjadi serba cepat, mengakibatkan pola makan juga serba cepat, waktu makan dipercepat menjadi 10-15 menit agar pada siang hari, pada saat jam kerja tidak mengantuk.  Pola hidup serba cepat memerlukan kepraktisan, berdasarkan kebutuhan ini lahir teknologi baru yaitu makanan serba instan.

Bagaimana warga Jepang bisa menjadi warga negara yang tertib? halaman 202 penulis menuliskan “Tahun 1960-an, awalnya penerapan hukum lalu lintas dilakukan dengan kekerasan misalnya dengan menampar atau memukul warga yang melanggar.  Hukuman keras dihilangkan ketika masyarakat Jepang terbiasa mematuhi aturan.  Kepatuhan atas aturan ini juga dicapai karena proses pendidikan moral dan karakter dimasukan ke sekolah.

Bagaimana pendidikan moral dan karakter dibelajarkan di sekolah? Bagaimana semesta mendukung moral dan karakter peserta didik? Penulis memaparkan sebagai berikut:

  1. Tiga dimensi pendidikan di Jepang: tubuh-jiwa-otak.  Ketiga dimensi diberikan, namun tidak rata, diberikan sesuai tingkatannya. Makin tingkat atas porsi makin besar untuk otak, makin tingkat bawah porsi lebih besar untuk tubuh.  Ini sebabnya di tingkat TK anak-anak lebih banyak bermain olah raga dari mulai naik titian, meloncati penghalang, dan gerak fisik lainnya.
  2. Pendidikan prilaku dilakukan dengan pembiasaan, mengucap sambil mengerjakan,  mengapa dilarang-mengapa harus begini, menempel slogan, life skill… (pada halaman 292-293 penulis menyajikan tabel tema2 pada pelajaran life skill untuk SD), budaya membaca (jangan kaget satu bulan buku siswa Jepang membaca lebih dari 16 buku per bulan).  Buku biografi tokoh merupakan buku yang banyak ditulis untuk membangun karakter.
  3. Karakter di mulai dari orang dewasa.  Orang dewasa menjadi contoh bagi anak-anak.  Anak-anak dan orang dewasa mempunyai pemahaman yang sama.  Pemahaman didasarkan pada manfaat yang mereka rasakan yaitu kenyamanan.  Jika anak dan orang dewasa di Jepang ditanya “mengapa harus antri?” jawaban mereka karena kalau tidak antri akan merugikan orang lain dan suasana menjadi kacau.  Mengapa harus bersih? karena bersih membuat mereka tidak cepat sakit dan sakit membuat mereka menderita karena tidak bisa beraktifitas.  Tidak ada jawaban anak dan orang dewasa yang menyebutkan karena alasan agama atau peraturan, semuanya atas kesadaran dan manfaat yang mereka rasakan.
  4. Fasilitas mendukung pembangunan karakter. Tidak ada fasilitas umum yang dicorat-coret oleh warga, karena di setiap fasilitas dipasang CCTV sehingga pelaku dan perusak fasilitas umum akan mudah dibekuk polisi.  Karakter 3R muncul karena setiap tempat umum disediakan tong sampah 4 jenis.
  5. Sistem kemasyarakatan yang berjalan sangat baik.  Supaya masyarakat antri ketika masuk kereta, maka jalur-jalur penanda antrian dibuat dan kereta berhenti tepat di jalur-jalur tersebut tanpa meleset sedikitpun.
  6. Orang sekampung turut bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Ada kegiatan dimana para orang tua membuat komunitas membantu anak-anak agar dapat bersekolah dengan baik.  Misalnya komunitas ini membantu anak yang terlihat kurang sehat di sekolah, ternyata anak tersebut tidak pernah sarapan karena orang tuanya pergi bekerja pagi-pagi sekali.

Halaman 327-347 menceritakan lebih menarik bagaimana studi kasus untuk contoh-contoh pembelajaran karakter ini di sekolah.

Pada persekolahan penulis juga menjelaskan kurikulum di Jepang dan bagaimana rapor di Jepang yang bersifat kualitatif terutama di tingkat dasar, tidak ada nilai-nilai yang berupa angka.  Rasanya membaca sendiri bukunya lebih menarik karena disertai dengan contoh-contoh, sayangnya paparan dari beberapa deskripsi tersaji tersebut akan sulit terbayangkan jika kita sendiri belum pergi ke Jepang dan melihat langsung kehidupan di sana.  SELAMAT MEMBACA DAN MENIKMATINYA!

Let’s stop the radicalism!

Ketika BNPT merilis PTN terpapar radikalisme.  Rilis ini tidak diterima begitu saja oleh beberapa kampus termasuk forum rektor, juga oleh kampus seperti IPBITS, dan UNAIR.    Namun ada pula universitas yang langsung responsif diantaranya UI, UGM, UNS, UB, dan UNDIP,   ada yang bagus yaitu mengakui secara sportif bahwa memang kampusnya terpapar radikalisme diantaranya ITBWalaupun rektor menampakkan tiga sikap yang berbeda yaitu #denial, #responsif, #, harus diyakinkan bahwa setiap rektor tidak akan tinggal diam untuk terus membersihkan radikalisme di kampus-kampus PLAT MERAH ini. Kampus-kampus ini tetap jadi kampus terbaik untuk mencetak intlektual-intelektual yang berbakti pada nusa, bangsa, dan agama.

Sebagian lini masa meminta kejelasan definisi dari radikalisme itu apa? Untuk yang meminta definisi kamus oxford mendefinisikan radikalisme sebagai:

The beliefs or actions of people who advocate thorough or complete political or social reform. ‘his natural rebelliousness found an outlet in political radicalism’

artinya kurang lebih keyakinan atau tindakan seseorang yang memprovokasi perubahan sosial politik secara kaffah atau menyeluruh.  Keyakinan atau tindakan ini akan mengarah pada sebuah pemberontakan.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia radikalisme didefinisikan sebagai berikut:

Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Dari dua definisikan tersebut diambil kesimpulan bahwa radikalisme itu mengacu pada “PEMIKIRAN”. Bukan sembarang pemikiran, tapi PEMIKIRAN INGIN MENGUBAH TATANAN SOSIAL POLITIK SECARA KAFFAH.  Dengan definisi bahwa radikalisme adalah keinginan mengubah tatanan politik secara kaffah maka mudah kita menentukan siapa saja dan gerakan apa saja yang selama ini menginginkan tumbangnya NKRI PANCASILA.

Sebetulnya sangat mudah mengidentifikasi pemikiran radikal itu apa cirinya: (1) Mereka yang selalu mencela pemerintahan sekarang dengan pemerintahan Thougut atau pemerintahan kufur. (2) Mereka yang menginginkan berdirinya negara islam Indonesia baik dalam bentuk jamiiah islam, immamah, khilafah, atau sultoniyah. (3) Mereka yang mencela orang-orang yang bukan golongan mereka sebagai orang kafir, munafik, atau komprador.

Apakah kampus terpapar pemikiran seperti ini? Ini adalah sedikit kisah di IPB dengan gerakkan islam transnasionalnya pada tahun 1990-an.

HTI di IPB

HT sejak datang ke Indonesia pertama kali diemban oleh mahasiswa IPB masuk secara formal melalui Badan Kerohanian Islam (BKI) dan Responsi Agama Islam pada tahun 1990 sudah menggunakan acuan Nidzamul Islam karya Syekh Taqiyuddin Annabhani (pendiri HT di Yerusalem). Dari cerita selama di BKI saya tahu bahwa pada zaman ketua BKI IPB dipegang oleh Muhammad Al Khoththoth 1985-1986,   jaringan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS LDK) dimanfaatkan untuk menebarkan pemikiran HT ke seluruh Indonesia.  IPB tidak bisa #denial atau #malu mengakui bahwa HIZBUT TAHRIR di Indonesia memang lahir, tumbuh, dan membesar karena memanfaatkan jaringan formal dan informal yang ada di IPB. Sumpah penegakkan khilafah islamiyah oleh peserta FS LDK se-Indonesia 2016 membuktikan bagaimana sebagian mahasiswa IPB menjadi ‘leader’ penegakkan khilafah islamiyah di Indonesia.  Mengakui bahwa IPB telah menjadi “kawah candridimuka” bagai pengkaderan, pertumbuhan, dan perkembangan Hizb Tahrir di Indonesia bukanlah sebuah aib.  Selanjutnya IPB bergerak, membersihkan HTI di kampus, bekerjasama dengan kepolisian dan BNPT.  Sangat disadari selama 30 tahun lebih IPB membudidayakan Hizb Tahrir di Indonesia, tentulah tidak mudah membersihkannya. Tidak mudah membersihkan debu yang sudah menebal selama hampir 30 tahun.  Perlu dukungan dan bantuan semua pihak.  Saya selalu yakin jajaran IPB akan selalu terus menerus berupaya membersihkan radikalisme yang berasal dari HTI di kampus tercinta.  Siapapun yang terpapar HTI di kampus, harus kita anggap sebagai KORBAN yang patut diselamatkan untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Ikhwanul Muslimin di IPB

Gelombang akhwat berkerudung panjang dan akhi berjengot yang suka menundukkan pandangan, mulai marak pada angkatan pada angkatan saya 1990 dan sesudahnya.  Zaman saya mereka kita sebut POKJA (Kelompok Jakarta) atau tarbiyah, karena rata-rata mereka berasal dari SMA di Jakarta atau Depok. Masuk IPB mereka sudah punya style seperti itu, sepertinya mereka sudah terkaderisasi sejak SMA.  Masuk ke IPB dengan gelombang yang cukup besar untuk mewarnai IPB.  Belakang teman-teman yang aktif di POKJA/Tarbiyah selama mahasiwa menjadi anggota dewan dari PKS.  Walau acapkali menolak dihubungkan dengan Ikhwanul Muslimin, namun dari tokoh panutan dan imam besar tak dapat di pungkiri Tarbiyah, PKS, KAMMI, dan Ikhwanul Muslimin merupakan satu bangunan (baca riset mahasiswa UIN Makasar).  Gerakan tarbiyah menjadi mendominasi di IPB setelah berhasil mengambil alih DKM Al Ghifari dengan responsi agamanya dari dominasi HTI (sekitar tahun 1993/1994).  Jika BKIM punya jaringan FS LDK yang terbentuk sejak 1985/1986.  Maka DKM Al Ghifari IPB mengutus Edi Chandra dalam inisiasi pendirian KAMMI 1998.   Ikhwanul Muslimin belum dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia, namun dibeberapa negara seperti Bahrain, Mesir, Rusia, Arab Saudi, Suriah dan Uni Emirat Arab, partai ini dianggap sebagai kelompok teroris yang dilarang.

Jika radikalisme mengacu pada kelompok dakwah yang berasal dari Gerakan Transnasional model HTI atau IM, maka berapa tingkat paparannya dikalangan mahasiswa? Berdasarkan studi kasus di kelas angkatan saya yang terdiri dari 59 orang, maka yang terpapar radikalisme sebesar 44%.  Jurusan saya ini memang jurusan yang paparannya berat, pada jurusan lain jumlahnya sebetulnya lebih sedikit dari jumlah tersebut. Mengacu pada hal ini jumlah yang terpapar sebetulnya bukanlah jumlah dominan.

Walaupun jumlah tidak dominan tetap saja setiap kampus pada saat ini saya yakin sedang bekerja dalam membersihkan semua aktifitas terkait gerakan islam transnasional ini? Mengapa pembersihan giat dilakukan? Ini karena mereka yang terpapar radikalisme baik dari HTI maupun IM umumnya selalu kontraproduktif terhadap kebijakan pemerintah, siapapun pemerintahannya bukan hanya Jokowi, termasuk kepada SBY dulu,  Kita masih ingat betapa bapak SBY dibuat pusing oleh koalisi PKS yang selalu menentang kebijakkan SBY, partai tergabung pemerintah rasa oposisi. Apalagi sekarang oposisi terhadap pemerintah, makin menjadi-jadi.  Jika kita masuk pada gerakan transnasional seperti ini, selain memperkuat ibadah mahdoh, otak kita dicuci untuk melakukan “tebar opini” mengkondisikan Indonesia dalam perang pemikiran.  Lisan dan tulisan dianggap sebagai jihad yang lebih tajam daripada pedang. Jihad pemikiran untuk memutuskan kepercayaan umat kepada pemerintahan saat ini, untuk kemudian umat menyerahkan kepercayaan kepada gerakan transnasional ini, pada saat itulah mereka akan mengubah ideologi NKRI Pancasila.  Tahap Tafa’ul atau tahap Gozwul Fikr/ideologi ini mengakibatkan polemik dan keresahan secara ideologi di masyarakat.  Pemerintah akan disibukkan dengan agenda mengatasi perang pemikiran ini.  Akibatnya Indonesia tidak bisa #moveON bergerak menjadi negara maju.  Kita banyak disibukkan untuk mengcounter dan menyelesaikan permasalahan akibat perang ideologi.  Padahal permasalahan ideologi itu sudah selesai! SUDAH SELESAI PADA SAAT PARA ULAMA INDONESIA DAN KOMPONEN BANGSA LAINNYA MEN-SAH-KAN PANCASILA DAN UUD 1945 SEBAGAI DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA.  Seharusnya kita bergerak maju, membangun bangsa, mengejar ketertinggalan dari bangsa lain, sehingga bisa memposisikan diri sejajar sebagai bangsa besar di dunia. Bukan kembali lagi ke-era sebelum 1945.

Bayangkan energi yang besar dari lulusan PTN hebat itu jika menjadi duta bangsa, pengembang iptek, penjaga moral bangsa….potensinya begitu besar! Sayang potensi besar dari lulusan terbaik PTN di negeri ini, jika terperosok pada aliran #gantiIdeologi akan menjadi penantang paling lantang terhadap segala kebijakan pemerintahan, tidak pandang bulu…jika kebijakkan itu sebuah kebaikan, maka akan senantiasa dicari sela-sela keburukannya, agar punya amunisi untuk memutuskan kepercayaan umat terhadap pemerintah yang berkuasa.  Apakah “memutuskan kepercayaan umat terhadap pemerintahan yang berkuasa di Indonesia” menjadi sasaran dari PTN di Indonesia?  Tentu saja bukan.  PTN punya VISI mulia untuk turun menjaga NKRI dan Keberlanjutan Pembangunan di NKRI, maka penting untuk selalu melakukan upaya-upaya untuk membersihkan, mencegah, dan menangkalnya.  Bagaimana cara kita turut membantu menghentikan radikalisme?

  1. Stop jadi “vocal minority”  yang selalu membela eksistensi #radikalismeKampus, hanya  karena isu ini menguntungkan secara politik.
  2. Komponen alumni  PTN dan masyarakat sebagai “sillent majority” harus kencang dalam bersuara Religius Yes! NKRI Pancasila Yes! Radikal No!
  3. Diskusi keluarga harus terus dihidupkan, berdasarkan pengalaman saya selama tahun 1991-1995, teman-teman sekelas  yang tidak kos atau bermukim bersama orang tuanya, tidak ada yang terpapar radikalisme (tingkat paparan 0%).
  4. Mahasiswa yang kos dengan pengetahuan agama minim, yang jauh dari orang tua yang terkena paparan radikalisme. Mahasiswa kos namun yang berlatar belakang santri NU, atau orang tuanya berlatar belakang NU atau Muhammadiyah, mereka pun tidak ada yang terpapar radikalisme.  Hal ini karena mereka memiliki dasar keagamaan yang kuat. Orang tua yang memiliki anak kos, harus sering melakukan pengecekan dan nasehat atau peringatan “Awas, jangan sampai terbawa-bawa aliran-aliran radikal, jauhi pengajian-pengajian politik yang menjelek-jelekkan pemerintahan dan pancasila. Ingat NKRI dan pancasila ini juga perjuangan para Ulama yang lebih tahu agama ketimbang kita!” Peringatan seperti ini terus menerus diulang-ulang setiap orang tua menengok dan menelepon, umumnya peringatan seperti ini ampuh pada anak-anak kita yang mahasiswa.
  5. Bagaimana dengan mahasiswa yang sudah terlanjur terpapar radikalisme? Perlu dilakukan ‘CAMP’ untuk mencuci kembali otak mereka.  Dan membuat perjanjian untuk tidak terlibat dan memutuskan hubungan dengan jaringan gerakkan radikalisme.  Jika masih bersikukuh terlibat dalam jaringan radikalisme, tindakan tegas bisa saja diterapkan para rektor. Ini semua tentu untuk menyelamatkan masa depan para mahasiswa tersebut. Pun jika dia anak kita, maka mengobrol mendalam dengan si anak, jika kita kurang pengetahuan tentang hal ini bisa dibawa ke beberapa ulama atau memasukkan mereka ke ‘pesantren NU’.

Para rektor di PTN, saat ini terus melakukan pembersihan ‘radikalisme di lingkungan kampus’.  Dosen ASD/PNS merupakan komponen yg perlu juga dibersihkan.  Beberapa dosen plat merah terpapar radikalisme sejak mahasiswa, mereka adalah kader potensial bagi gerakkan dakwah transnasional, bahkan diantara mereka masuk dalam jajaran pengurus gerakkan dakwah tersebut.  Apa yg mereka lakukan sebetulnya sudah melanggar SUMPAH PNS pada saat awal mereka ttd ketika lolos dari CPNS menjadi PNS. Tidak hanya rektor yg ditekan tapi kemenristek dan kemenag serta BKN dapat memanggil dosen2 tsb minta mereka komitmen “keluar dari PNS karena tetap menjadi simpatisan bahkan partisan gerakkan dakwah transnasional, atau tetap dari PNS stop jadi simpatisan dan partisipan gerakkan dakwah transnasional” tindakkan tegas ini perlu dilakukan pemerintah karena gerakkan dakwah transnasional ini ibarat kanker dalam NKRI.  Apalagi posisi sebagai dosen yg punya akses besar dalam rekuitmen kader dan simpatisan di kalangan mahasiswa.  TEGAS ITU HARUS!

Orang tua juga memperkuat deradikalisme di rumah.  Deradikalisme ini bukan hanya tugas rektor, polisi, dan BNPT tetapi juga tugas kita selaku orang tua anak-anak kita.  RELIGIUS YES! NKRI PANCASILA YES! RADIKAL NO!

Serial Kehidupan di Jepang: Bagaimana guru mengajar pendidikan moral?

PIC_0905.jpeg

Dari mana semua sikap dan karakter orang Jepang dibentuk? Salah satunya dari asupan pengetahuan selama di sekolah melalui pembelajaran moral.  Pembelajaran moral diberikan sebanyak satu jam setiap minggu.  Satu jam setara dengan 50 menit.  Bagaimana sekolah mengelola satu jam ini?  Buku moral pegangan peserta didik berupa cerita-cerita moral harian.  Namun bukan sekedar cerita, tetapi cerita yang menimbulkan konflik kognitif.  Guru menyampaikan cerita itu di kelas, bagaimana cara guru menyampaikannya? Inilah pengamatan kami pada pembelajaran moral di SD Afiliansi Toyama University.

Apersepsi: Guru mengingatkan pengalaman pribadi peserta didik.  

Guru :  Pernahkah kalian mengalami berjanji dengan seseorang, dan orang itu melanggarnya? Bagaimana perasaan kita saat itu?

Peserta didik: Sedih, kok bisa gitu!

Guru:  Hari ini kita akan membahas mengenai hal ini.  Silahkan maju ke depan empat orang. Satu orang sebagai narator, satu orang berperan sebagai Kasumi, satu orang berperan sebagai Sakura, dan satu orang berperan sebagai ibu Kasumi.  Guru meminta peserta didik yang telah maju untuk membacakan adegan 1 dari cerita Buku Harian Sakura.  Peserta didik yang lain pun membaca buku masing-masing.

Bagian 1. Buku Harian Sakura

Hari Jumat pulang sekolah janji dengan Kasumi pergi ke festival Yosakoi.

Kasumi : Hari ini kan ada festival.  Temanku ikut menari pada festival Yasokai dari jam enam.  Kita lihat sama-sama Yuk!

Sakura: Ayo…ayo…jam berapa kita ketemu?

Kasumi: Ibuku mungkin harus pergi bekerja, saya akan tanya duli nia, nanti saya telepon ya!

Sakura: Baiklah! saya tunggu telepon ya!

Tiba di rumah pukul 4:30.  Menyelesaikan PR di kamar sampai pukul 5 lebih gak ada telepon dari Kasumi.  Di tanya ke Ibu pun katanya dari tadi telepon tidak berdering. Karena merasa aneh saya telepon ke rumah Kasumi.

Ibu Kasumi: Kasumi sekarang sedang disuruh belanja, seharusnya sudah pulang…

Sakura: Kalau begitu tolong sampaikan bahwa saya menunggu di taman biasa jam 5.30.

Bersiap-siap, kemudian jam 5.30 pergi ke taman, Ksumi tidak datang juga.  Waktu terus berlalu, semakin mendekati jam 6, acara Yosakoi akan dimulai, kalau tidak cepat tidak akan keburu.  

Sakura: Ngapain sih Kasumi, dia sendiri yang ngajak, janji menelepon gak menelepon, datang ke taman juga tidak.

Karena Kasumi tidak datang, akhirnya Sakura memutuskan pergi ke festival sendiri. Di perjalanan ketika melihat para festival, …di sana ada Kasumi.  Kasumi menyapa saya.

Kasumi: Sakura! maaf ya saya ……….!

Sambil pura-pura tidak kenal, saya mengomel dalam hati. 

Sakura: Apaan sih, udah melanggar janji, sekarang mau ngapain lagi. Udah! Saya gak mau ngomong lagi sama Kasumi.

Guru menanyakan kepada peserta didik. “Sakura marah kepada Kasumi, bagaimana menurut anak-anak?”

Peserta didik ada yang menjawab kasihan Sakura,  Kan Kasumi juga punya alasan….

Guru kemudian meminta lagi tiga orang peserta didik untuk maju ke depan.  Tiga orang berperan sebagai narator, Kasumi dan Ibu Kasumi.  Mereka membacakan Buku Harian Kasumi.  

Bagian 2. Buku harian Kasumi.

Hari Jumat pulang sekolah, janji dengan Sakura pergi ke Festival Yasakoi.  Sampai rumah pukul 4.30, pas mau nanya ibu, ibu malah minta tolong saya untuk berbelanja.

Ibu: Kasumi, bisa tidak cepat tolong ibu berbelanja! ibu lagi tanggung, ini tidak bisa ditinggalkan.

Kasumi: Aduh bagaimana ya? Telepon Sakura ah, nanti mungkin agak telat. 

Saya coba telepon Sakura, tapi tidak ada yang mengangkat.  Apa boleh buat saya cepat-cepat pergi berbelanja. Supermarket sangat penuh, ngantri lama di kasir.  Pada saat keluar supermarket, waktu sudah cukup lama berlalu.  Saya cepat-cepat pulang ke rumah.  Sampai rumah ibu bilang….

Ibu:  Wah lama juga ya.  Tadi Sakura telepon, katanya dia menunggu di taman biasa jam 5.30.

Kasumi:  Wah kacau, saya membuat dia menunggu, saya harus cepat-cepat.

Saya lari tergesa-gesa keluar rumah menuju taman, tapi Sakura tidak ada.  

Kasumi: Apa sudah duluan ya? Tetapi kok dia seenaknya menentukan jam ketemuan sendiri secara sepihak.  Saya juga kan udah buru-buru.

Saya menunggu sebentar di Taman, tapi karena waktu parade dimana teman saya ikut menari sudah tiba, saya pergi ke tempat festival.  Di perjalanan bertemu sakura.

Kasumi: Sakura! maaf ya,….saya……!

Saya sudah mencoba untuk minta maaf tapi Sakura malah buang muka. 

Kasumi: Saya juga kan punya alasan datang terlambat. Kan gak ada salahnya dia mendengar alasan saya dulu.  Ya, sudah saya gak mau ngomong lagi sama Sakura.

Guru menanyakan kepada anak-anak, “Bagaimana menurut kalian mengenai tindakan Sakura?”

Peserta didik ada yang menjawab wajar kalau marah, gak betul kalau marah tanpa mendengarkan dulu alasannya.

Guru kemudian menyakan kepada peserta didik, “Bagaimana caranya agar hubungan mereka tidak retak?”

Peserta didik ada yang menjawab menelepon dengan baik, jangan cepat marah dengarkan alasan orang lain.

Guru mengingatkan kembali kehidupan diri sendiri masing-masing, menyadarkan perlunya berdiri di pihak orang lain atau berpikir dari sudut pandang orang lain, dan tenggang rasa.

Guru mennanyakan pada peserta didik, pernah tidak mengalami kejadian serupa? 

Dua orang peserta didik menceritakan pengalaman mereka.

Guru kemudian menanyakan, bagaimana caranya agar tidak terjadi permusuhan seperti cerita Sakura-Kasumi, apa yang sebaiknya dilakukan. Guru meminta peserta didik menuliskan pendapatnya pada buku mereka.  Kemudian mempresentasikan jawaban di depan kelas dan didiskusikan.

Hasil presentasi dan diskusi disimpulkan bagaimana meningkatkan tenggang rasa, jalan cepat marah, berusahan mendengarkan orang lain.

Pembelajaran moral yang disajikan tema: Salah Paham.  

Target: Menumbuhkan prilaku atau hati yang dapat memberikan tenggang rasa, sehingga dapat berpikir atau melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain dengan memikirkan mengapa terjadi kesalahpahaman antara Sakura dan Kasumi.

Keterkaitan dengan kurikulum pembelajaran moral:  Memiliki hati tengang rasa kepada siapapun, berlaku ramah berdiri di pihak orang lain atau memahami sudut pandang orang lain. 

Me and Radicalisme #Part02

Ok, pada tulisan ini saya bahas bagaimana perkenalan saya dengan paham radikalisme di IPB.  Sebelumnya sudah saya ceritakan bahwa pintu masuk pertama radikalisme di IPB pada tahun 90-an adalah responsi agama yang diasuh oleh para assisten agama.  Bagi beberapa orang responsi agama ini sukses menghantarkan mereka pada pengajian lebih khusus, bagi saya yang tidak mudah menerima sebuah paham karena sudah punya paham sebelumnya tentu tidak mudah.

my stories

Namun, jangan anggap jalur formal itu satu-satunya cara.  Ada jalur informal lainnya, yaitu melalui DAURAH dan SANLAT secara informal.  Saya berkenalan dan berliqo dengan gerakkan cabang Ikhwanul Muslimin atau Tarbiyah di IPB melalui daurah yang saya ikuti.  Lalu berkenalan dengan hizbut tahrir pun melalui sanlat yang diadakan.

Perkenalan dengan tarbiyah. Adalah teman saya satu kelompok.  Selepas pembagian transkip tingkat I, dia mengajak saya untuk ikut daurah.  Dia memang lebih dulu kenal dengan kakak kelas, tempat kost-annya memang multi angkatan dan rerata kakak kelas itu berkerudung panjang.  Daurah atau dikenal dengan Mabit itu dilaksanakan di sebuah lembaga pendididkan di Pasir Kuda Ciomas.  Kita ditempatkan disalah satu bangunan.  Selama tiga hari kita dibina oleh mbak-mbak dari UNJ, sepertinya tahun 90 itu belum ada kader akhwat mumpuni dari IPB, sehingga mbak-mbak UNJ yang isi.  Mbak-mbak dari IPB hanya fasilitator saja.  Lepas dari dauroh itu, dibentuk kelompok-kelompok pengajian kecil yang disebut liqo. Liqo dibimbing Murobi (Mentor) kakak kelas angkatan 26 yang juga orang Bandung.  Kegiatan ngajinya seminggu sekali, yang diberikan adalah ma’rifatullah, ma’rifatul rasul, ma’rifatunabi….  mengajinya kalau menurut saya mah membosankan.  Mengapa? Murobi memperkenalkan sedikit materi lalu meminta kita membaca ayat-ayat yang relevan dengan topik tersebut.  Acapkali ayat yang dirujuk maknanya gak nyambung.   [Oh ya, walaupun saya masuk di sini, tapi saya tetap ngaji tafsir Jalalain ba’da subuh di Bapak, karena bahasa arab saya belepotan saya cuma dengerin aja kajiannya, gak berani ikut-ikutan baca hehehe.  Tapi paling tidak karena ngaji sedikit tafsirnya, penjelasan Murobi yang kurang masuk akal jadi tak mudah saya terima].  Murobinya bermuka masam, kalau kita banyak bertanya.  Pada waktu itu, saya berpikir di ‘liqo‘ ini dilarang jadi orang kritis.  Dengan pola pengajian seperti membuat saya ‘bete’ sekaligus khawatir, saya punya prinsip kalau menukil ayat gak boleh sembarangan harus tahu tafsirnya. Kalau sembarangan nanti bisa jatuh sama ta’wil.

Perkenalan dengan Hizbut Tahrir.  Pada saat yang sama setelah saya ikut Daurah, teman saya itu pun ngajak juga saya ikut SANLAT yang diadakan oleh mbak-mbak yang kebanyakan assisten PAI.  Waktu itu dalam hati saya, yeahhh kena lagi nih.  Selepas dari SANLAT itu pun lanjutannya adalah pembentukan kelompok kecil yang mereka sebut halqoh. Halqohdibimbing Musyrifah (Mentor).  Halqoh seminggu sekali, untuk tahap perkenalan ini kami diminta melalukan kupasan isu-isu aktual dengan merujuk pada berbagai sumber bacaan.  Pengemasan halqoh oleh Musyrifah sangat kreatif, melatih daya analisis.  Tak jarang pertanyaan-pertanyaan nyeleneh saya pun ditanggapi dengan serius dan rujukan yang baik.  Pertanyaam tentang banyaknya golongan-golongan yang menyeru pada islam ditanggapi dengan mengupas ‘makna bahasa dari QS Ali Imron 104’.  Cara menukil al quran mirip Kyai yang biasa ngisi kajian tafsir jalalain.  Keterbukaan dan Musyrifah yang tidak alergi dengan pertanyaan2 saya membuat saya lebih tertarik ikut kajian dalam Halqoh daripada Liqo.

Pelan-pelan saya menjauhkan diri dari Liqo dengan jarangnya ikut kajiannya.  Teman se-liqo saya yang tahu gelagat saya. Mulai mengingatkan, “Yan, kamu jangan terlalu banyak ikut pengajian. Nanti kamu pusing!”  Saya hanya tersenyum, dalam hati saya, saya cuma ikut 3 kajian saja liqo yang membuat bete, halqoh yang menantang daya kritis, dan ngaji sama Kyai seperti biasanya kebiasaan di kampung saya dulu juga begitu, yang dikaji juga sama Jalalain.

Masuk semester 4, ketika saya harus pindah kampus dari Baranangsiang ke Dramaga.  Saya pamit sama teman saya [Bukan sama Murobi hehehe], saya keluar dari Liqo.  Namun saya tetap melanjutkan Halqoh.  Pada Halqoh inilah kemudian saya mengkaji aneka kitab gundul keluaran Hizb Tahrir, kitab yang dikaji adalah Nidzomul Islam, Ma’rifatul Hizbut Tahrir, Takatul Hizbi, Nidzomul Ijtimai (Sistem Pergaulan), Nidzomul Ihtisody (Sistem ekonomi), Nidzmul Hukmi (Sistem Pemerintahan), dan Syakhsiyah Islamiyah (Kepribadian Islam).  Untuk sekaliber orang Indonesia yang bahasa arabnya belepotan satu kitab tipis dikaji 1 tahun, maka 1 kitab tebal bisa 2-3 tahunan.  Mungkin bagi orang pesantrenan yang baca kitab dan paham bacaannya lebih baik, bisa lebih cepat.  Apakah isi kitab itu menyimpang dari Islam? Tidak semua kitab itu dirujuk dari sumber-sumber shahih dan bisa dikatakan sebagai sebuah kekayaan pengetahuan islam.

my opinion

Dimana sisi radikal dari kedua gerakkan ini?

  1. Tarbiyah, sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin yang ingin mendirikan Jamiah Islamiyah (mirip Khilafah Islamiyah yaitu Negara Islam Internasional yang satu) dengan terlebih dahulu mendirikan negara Islam termasuk di Indonesia.  Dakwah dimulai dengan keluarga (untuk membentuk keluarga, secepatnya para anggota pengajian dijodohkan dengan anggota pengajian lainnya), lalu bi’ah [lingkungan masyarakat yang islami di suatu perumahan mereka akan melakukan dominasi], dan terus ke negara-negara melalui partisipasi politik sebagai partai, kalau presiden sudah dari golongan mereka begitupula negara lainnya maka akan disatukan menjadi jamiah islamiah.  Disinilah letak bahaya ideologinya.  Selain itu sikap #NO-Cooperative dengan yang tidak sekelompok menjadi bahaya tersendiri terhadap multikulturisme.  Kebencian mereka terhadap kaum Nasrani dan Yahudi menurut saya sudah keterlaluan.  Ayat yang dijadikan rujukan adalah QS Al Baqoroh “Wa lan tardo anka Yahudi wa Nasrani hatta tatabia milatahum” “walladzinaa kafaruu aliyauhum thoguutu. Lalu semua produk dari mulai KFC, A&W, McDonald ….pokoknya yang dianggap produk Nasrani atau Yahudi sepertinya dianggap nazis yang tidak boleh disetuh.  Disentuh aja gak boleh apalagi diajak kerjasama.  Muslim yang kerjasama dengan Non muslim mereka sebut Thogut. Dulu teman saya sepengajian liqo, dengan seenaknya mengejek teman Nasrani dan sekelompok teman muslim bersamanya dengan sebutan ‘tauge’.   Terus terang, ketika saya mendengar ungkapan ‘tauge’ saya langsung risih.  Sebagai anak yang besar dari keluarga nasionalis, yang dari kecil diajarkan untuk menghargai perbedaan suku dan agama demi persatuan Indonesia.  Ini menggelitik kalbu saya.  Panggilan “Ukhti wa Akhi” hanya disematkan pada golongan pengajian mereka.  Ketika kita di luar atau sudah keluar dari pengajian itu, panggilan itu tidak berlaku lagi.  Pemerintahan yang berkuasa jika pemimpinnya bukan dari kalangan mereka, akan disematkan sebagai pemerintahan Thogut.  TERTUTUP TIDAK MAU MENERIMA PENDAPAT ULAMA LAIN, BAHKAN mereka alergi pada ULAMA NU.  “Semua salah kecuali kelompok saya [paham ini bisa dibaca dari buku Menuju Jamiah Islamiyah]”  Maka saya tidak heran kalau diantara teman saya ini menyebutkan Golkar, PDIP, atau partai nasionalis lainnya dengan sebutan partai tauge.  Lalu menyebut NU sebagai ahlul bid’ah, Hizbut Tahrir sebagai gerakan sesat, ….. “Semua salah, kelompok saya yang benar…. kalau ada hadits Umat Islam terbagi menjadi 73 golongan dan yang benar adalah 1 saja, maka kelompok inilah yang ngaku 1 itu”   –   Kelompok yang tidak memahami esensi dari Ali Imron: 104, dalam ayat ini siapa saja yang menyeru pada al khoir, u’laikahumul (mereka-mereka semua itu, jama’) adalah beruntung.
  2. Hizbut tahrir. HT itu gerakan politik yang bertujuan mendirikan khilafah islamiyah, deklarasi 2012 sangat nyata Ustadz Labib Rahmat sebagai pimpinan HTI menyatakan Indonesia bisa dijadikan  titik tolak berdirinya Khilafah Islamiyah, potensinya ada 73% masayarakt berdasarkan hasil survei PPIM UIN Jakarta ingin syariat islam diterapkan.  Kitab-kitab HTI itu bagus-bagus isinya, namun jika menginginkan pengajian untuk menguasai kitab-kitab itu, HTI hanya membuka kajian untuk mereka yang mau berjuang mendirikan khilafah.  HT bukan lembaga ta’lim tapi gerakkan politik untuk memperbaharui sistem kafir [sebutan buat sistem bukan islam].  Melayani mereka yang hanya ingin mengkaji kitabnya saja, hanya ingin ta’lim saja, hanya buang-buang waktu.  Yang lebih diinginkan adalah orang-orang yang mau bersama-sama memperjuangkan khilafah islamiyah baik sebagai anggota (syabab) atau penolong dakwah mereka.  Memperjuangkan khilafah islamiyah inilah yang disebut dakwah.  Dan salah satu sifat yang ditekan dalam gerak hizbut tahrir adalah #NOCOMPROMAISE, tidak ada kompromi dan tidak berkompromi.  Mereka mengatakan orang-orang muslim yang mau berkompromi sebagai munafik atau komprador.

Ada jutaan kebaikan ketika kita mengaji di Tarbiyah dan HTI, kita termotivasi beribadah secara rajin, berakhlaktul karimah, dan berpegang teguh pada syariat islam. Namun keduanya adalah gerakan politik dan ideologi. Gerakan yg punya tujuan menggantikan pancasila dan NKRI sebagai dasar dan bentuk negara. Sifat sebagai gerakan politik ideologi inilah yg berbahaya. Jamiah islam atau khilafah islamiyah bagi mereka bukan sekedar knowledge namun cita-cita perjuangan.

Refleksi

Untuk kasus IPB secara formal gerakkan radikalisme ini masuk secara formal melalui Responsi Agama Islam oleh DKM Al Huriyah/Al Ghifari  dan Unit Kegiatan Mahasiswa Badan Kerohanian Islam.  Bahkan dari IPB pulalah Hizb Tahrir tersebar ke semua Lembaga Dakwah Kampus di Indonesia melalui Forum Silaturahmi LDK.

Secara tidak formal melalui interaksi aktivis Hizb Tahrir atau ikhwanul muslimin di rumah kos dengan anggota kos terutama adik kelas.  Ada diantara rumah kos dijadikan sebagai rumah binaan.   Jika seseorang  masuk ke rumah kos seperti ini maka 90% akan menjadi kader masa depan aktivis gerakkan ini.  Selain itu kegiatan daurah atau sanlat (pesantren kilat) pada saat liburan atau bulan ramadhan menjadi pintu masuk pengkaderan.

Berdasarkan hal ini, maka IPB memang dapat melakukan restrukturisasi Pendidikan Agama Islam, DKM Al Huriyah/Al Ghifari, dan BKIM IPB untuk mengurangi tumbuhnya paham radikalisme di kampus.  Namun tampaknya jalur non formal yaitu aktifitas di rumah kos dan kegiatan daurah – sanlat yang diselenggarakan pada saat liburan atau ramadhan di luar wewenang IPB.

IPB perlu memberikan penguatan wawasan Pancasila dan NKRI pada para mahasiswa.  Pemberian wawsan kebangsaan haruslah dikaitkan dg esensi syariah islam dengan mengundangan ulama-ulama NU. Misalnya perlu penekanan bahwa sumber syariat islam ada empat 1) al qur’an 2) as sunah 3) qiyas 4) Ijma para ulama.  Mengingkari ijma ulama akan membawa kebahayaan bagi bangsa Indonesia.  Ulama dari NU, Muhammadiyah, SI, Al Arsyad… adalah para wakil umat islam pada BPUPKI dan PPKI, ulama berijma pada 1945 untuk menerima pancasila dan NKRI sebagai dasar dan bentuk negara Indonesia.  Menghianati pancasila dan NKRI merupakan bentuk ketidakpercayaan kita terhadap para Ulama.  Padahal #BelaUlama pernah dilakukan berjilid-jilid oleh sebagian umat muslim.  Tentu #belaUlama haruslah konsisten dilakukan, bukan hanya membela satu pernyataan yg menguntung gerakan politik islam radikal saja tapi juga bela pancasila dan NKRI buah perjuangan para ulama indonesia. Halaqoh kebangsaan di IPB perlu dihidupkan untuk meminimalisir radikalisme.

Sebagai anak yg lahir dari keluarga nasionalis terbisa dg hidup multiethis dan keluarga yg kuat dalam memegang teguh toleransi. Berada di IPB memang tak nyaman, pada awal perkuliahan tempat duduk lelaki dan perempuan wajib terpisah kiri dan kanan. Muslim berkumpul dg muslim pun begitu non muslim, keduanya saling mencurigai. Mahasiswa muslim yg berkawan baik dg non muslim akan dipandang dg pandangan hina. Pelajaran PAI makin menguatkan eksklusifisme antara muslim vs non muslim. UKM yg menampung multietnis seperti UKM SENI DAN OLAH RAGA sangat minim. Maka wajar jika pada jaman saya halqoh dan liqo lah yg marak dijalani mahasiswa IPB. IPB pada era 90-an menjadi lingkungan yg tidak sehat bagi tumbuhnya multikulturisme dan toleransi, semoga pada saat ini berubah menjadi lebih baik.

Kajian DKM Al Huriyah perlu diubah, melibatkan para Kyai NU yang banyak di sekitar kampus IPB untuk mengisi kajian Tafsir Jalalain atau Ibnu Katsir tiap subuh.  Kajian ihya ulumuddin ba’da magrib juga akan sangat bagus untuk mengimbangi pikiran radikalisme yang marak di kampus.  Sebagai catatan pada tahun 90-an, para mahasiswa/i yang rajin ngalong bersama para Kyai di pesantren sekitar kampus mempunyai daya retensi yang tinggi terhadap radikalisme di kampus.

Wallohualam bi sawab.

Me and Radicalism #Part01

Jika radikalisme didefinisikan dengan….”In political science, the term radicalism is the belief that society needs to be changed, and that these changes are only possible through revolutionary means” maka definisi ini tentu saja cocok disematkan pada gerakan-gerakan islam ideologi.

Mystory I:

Sewaktu SMA saya termasuk peserta di Rohis sekolah walau tak bisa disebut sebagai aktifis, karena sampai akhir SMA saya tak pernah terlibat dalam kepengurusan Rohis.  Disinilah saya kenal istilah pemerintahan THOGUT yang disematkan pada pancasila.  Disini juga ghirah kami terbakar dengan cerita-cerita heroik dari Hasan Al Bana, Zainab Al Ghazali, dan Sayid Qutb.  Tak jarang teman ikhwan kami bersitegang dengan guru PMP saat itu.  Mentor yang datang ke sekolah saat itu sebagian besarnya kakak-kakak yang kuliah di UNPAD, hanya satu saja yang bukan UNPAD yaitu Aa Gym waktu itu masih berstatus mahasiswa tingkat akhir UNJANI. Kang Agym lebih banyak melakukan netralisir terhadap ide Kakak2 UNPAD.  Suatu kali selepas Kang Irfan memberikan materi tentang daulah-daulah, Kang Agym sudah hadir di mesjid sekolah, dan ketika beliau memberikan materi Beliau berkata, “Aduh berat amat materinya ya! Nah, Aa mah giliran yang ringan-ringan sajalah”.  Aa Gym lebih banyak membahas tentang Akhlak.  Kakak2 UNPAD itu juga aktifis remaja mesjid di Mesjid Agung, akhwatnya berpakaian jubah panjang dan kerudung panjang.  Saya pernah sekali ikut mabit di Mesjid Agung, dan pernah pula ikut kajian singkat pengkaderan mereka.  Saat itu kami dibawa ke sebuah rumah, entah dimana letakknya.  Selama tiga hari kami dijejali materi…. diantara materi itu adalah “Potensi Indonesia sebagai wilayah tempat bangkitnya Islam kembali.  Sang Mentor mengisahkan posisi Indonesia yang berada diantara AS dan Unisoviet [Saat itu tahun 1987, tentu saja Uni Soviet masih eksis, Uni Soviet runtuh tahun 1991] sangat persis sama dengan posisi arab saudi diantara Persia dan Romawi. Melalui pemetaan itu, kami diyakinkan bahwa Indoensia adalah lokasi tempat berdirinya daulah islamiyah sebuah negara baru yang berasaskan syariat islam, negara ini akan menggantikan negara Indonesia yang berasaskan pancasila”

Walau sudah melalui mabit dan pengkaderan, saya tidak tertarik ketika diajak untuk bergabung lebih intensif oleh teman-teman SMA saya yang lebih dahulu bergabung di dalamnya (Dari peserta ROHIS ada sekitar 4 orang angkatan saya yang tergabung dalam kajian intesif bersama kakak mahasiswa UNPAD).  Mereka memang mengajak saya, untuk ikut kajian lebih intensif.  Namun, saya menolaknya. Alasannya….

Selain ikut rohis di SMA, saya pun mengikuti kegiatan mentoring di SALMAN ITB.  Mentor-mentor ITB ini lebih memacu saya untuk menjadi ilmuwan muslim.  Mereka menggambarkan bagaimana perkembangan teknologi dan minimnya partisipasi muslim di dalamnya.  Sebagai anak yang punya ketertariakan terhadap sains dan teknologi, saya tentu lebih tertarik fokus tembus UMPTN agar bisa menjadi ilmuwan muslim.  Lagu BIMBO berjudul “Aisyah adinda kita……” menjadi inspirasi saya saat itu.

Saat itu teman saya yang sudah terkader lebih dulu, mengajak saya ngobrol berdua dengannya di ruang rohis.  Dia cerita banyak hal.  Namun, saya katakan pada teman saya, “Saya mau jadi ilmuwan muslimah, saya menolaknya untuk memperdalam kajian islam bersamanya!”

Alasan lainnya, sebetulnya ada.  Namun tidak saya kemukakan ke teman saya itu, takut dia tersinggung.  Alasan lainnya adalah pengajian yang diberikan Kakak2 UNPAD itu aneh.  Mereka bilang kita belum dapat predikat ISLAM, karena kita belum bersyahadat.  Rukun islam pertama itu Syahadat, karena islam keturuan kita tak pernah disyahadatkan.  Islam kita dianggap tidak syah dan harus syahadat ulang.  Bahkan dengan eksreem kakak Mentor mengatakan “Abu Lahab dan Abu Jahal itu mu’min tapi bukan muslim” (seumur SD-SMP dan ngaji di Madrasah juga denger ceramah kyai kampung dan para Kyai yang suka ceramah di radio, bahkan HAMKA yang tiap jumat di TV, baru kali itu saya denger kalau Abu Lahab dan Abu Jahal Mu’min).   Ketika ditanya, “Pada siapa kita harus bersyahadat?” Mereka bilang, kita harus bersyahadat pada orang yang pernah bersyahadat langsung pada Rasulullah saw. Ketika kita tanya, apa memang masih ada orang seperti itu? Siapa orangnya?  Mereka hanya menjawab, ada…dari kalangan kita nanti akan diberitahukan.  Tapi nanti….   Menurut saya ini agak aneh alirannya, gak seperti umumnya islam, yang paling penting dalam logika anak SMA saat itu, saya pikir aliran ini membuat hidup jadi ribet.  Belakangan ketika kuliah salah seorang teman saya yang juga pernah mengalami hal yang sama mengatakan bahwa aliran yang meminta syahadat ulang itu dinamakan JK (Jamaah Kerosulan).

Ketidakmauan saya mengikuti pengkaderan oleh JK, menyebabkan saya tidak pernah terlibat dalam kepengurusan ROHIS SMA.  Jadi jika dikatakan sebagai aktifis Rohis, mungkin saya tidak terkatagori ini, saya hanya pernah menjadi FOLLOWER ROHIS SMA.

Refleksi

Apakah ROHIS SMA menjadi sasaran empuk masuknya radikalisme yang akan menggoncang ideologi pancasila? Pengalaman saya mengatakan IYA! Alumni yang mendapatkan gerakan islam ideologi selama di kampus, melakukan pengkaderan pada adik-adik kelas di SMA.  Karena Alumni, mudahlah bagi mereka masuk ke sekolah menggarap ROHIS.  Banyak SMA terutama negeri (SMAN) menjadi sasaran karena lemahnya pengawasan para guru dalam kegiatan ekstrakurikuler.  Banyak ekstrakurikuler dibina oleh para alumni pun termasuk Rohis.  Tidak seperti ekskul lain yang alumninya mengajak adik-adik SMA-nya untuk mendapatkan tropi kejuaraan, alumni di ekskul ROHIS mengajak adik-adik kelasnya masuk aliran-aliran islam ideologi.      ROHIS SMAN dijadikan kawah candradimuka, pengkaderan awal oleh gerakan islam ideologi.  Kemendikbud, Kemenag, dan para kepala sekolah/madrasah tentu saja harus mewaspadai hal ini.  ROHIS di SMAN harus direformasi dan difokuskan pada pencapaian prestasi dari sisi keagamaan, bagaimana dari ekstrakurikuler ini lahir qiroaah dan hafizul qur’an (kalau untuk jadi Mubaligoh tidak mungkin perlu ilmu alat yang mumpuni yang hanya bisa dilakukan di pesantren), SMAN harus menyediakan guru atau pelatih profesional yang bisa membimbing peserta dalam latihan qiroah dan hafizul qur’an bukan dilepas begitu saja sehingga dimanfaatkan oleh para alumni melakukan mentoring keagamaan memasukkan ideologi-ideologi radikal.  Bukankah kedudukan ekstrakulikuler itu untuk meningkatkan raihan prestasi non akademik dari peserta didik? Berapa banyak qoriah dan hafizul qur’an yang sudah dihasilkan oleh ROHIS SMA? Berapa banyak alumni ROHIS SMAN yang berhasil masuk ke Musabaqoh Qur’an tingkat daerah dan nasional? Jika ekskul pencinta alam di SMA memiliki prestasi dalam menaklukkan gunung-gunung dasar, maka apa prestasi ROHIS? Jika indeks keberhasilan ekskul pramuka pada berapa banyak peserta lolos Jambore tingkat nasional dan internasional, apa indikator untuk ROHIS? Pun jika indeks keberhasilan ekskul paskribaka adalah berapa peserta lolos jadi pengibar bendera di tingkat daerah dan nasional yang menjadi kebanggan sekolah setiap tanggal 17 Agustus, maka apa indeks keberhasilan ROHIS?  Jangan sampai indeks keberhasilan ROHIS SMA “Berapa banyak peserta didik yang berhasil menjadi kader gerakan-gerakan islam ideologi?”  Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya ROHIS SMAN telah dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan islam ideologi.  Alih-alih memperkuat karakter kebangsaan dengan 18 karakter yang telah dicanangkan kemendikbud, segelintir peserta didik yang aktif di ROHIS ini akan menjadi penantang nyata untuk NKRI. Inilah yang menyebabkan Kemendikbud, Kemenag, dan para kepala sekolah-sekolah negeri perlu melakukan reformasi terhadap ROHIS di sekolah.

MySTORY II:

1990, saya lolos UMPTN walaupun bukan pilihan pertama, saya masuk IPB.  Di kampus ini saya tidak tertarik aktif di kerohisan.  Namun, pada saat saya TPB (tingkat I) ospek-ospek yang diadakan kampus tidak memperkenalkan kami pada UKM.  UKM yang saya kenal di IPB saat itu hanya lawalata, MENWA, BKI (Kerohanian Islam), dan Paduan Suara.  Lebih miskin daripada kegiatan ekskul waktu saya di SMA yang beragam jenisnya mulai dari Tari, Basket, Volley, Silat, KIR, Paduan Suara, PKS (Polisi Keamaan Sekolah), PMR, Pramuka, Paskibra, Pencinta Alam, …. dan lainnya.  Masa TPB ada pelajaran agama islam.  Sistem di IPB, setiap pelajaran ada responsi yang dipegang assisten.  Dosen mengajar 100 menit di kelas, dan 100 menit lagi diajar assisten dengan waktu yang disepakati.  Begitu pula dengan PAI, kami mendapatkan assisten seorang ikhwan dan akhwat.  Kuliah agama tak ada masalah, mungkin karena saya lebih banyak bolos atau tidur saat kuliah, jadi saya tak pernah terlalu menyimak apa isi kuliah, kuliah pun diberikan oleh 1 orang dosen dengan 120 mahasiswa dalam kelas, jadi kebayangkan? mau tidur pun gak ketahuan, dan saya memang tukang tidur di kelas, apalagi posisi barisan tengah dekat jendela dengan angin semilir bertiup hehehe. Namun responsi agama itu menyusahkan, acapkali saya tak paham apa yang sedang dijelaskan para asissten itu.  Mungkin mereka kelewat pintar, sehingga saya tak bisa menangkap.  Ketika mereka meminta membuatkan rangkuman tentang materi yang telah diberikan sang assisten, saya membuat rangkuman dengan judul sama namun materi yang saya rangkumkan dari buku mentoring di SALMAN ITB yang saya kaji selama SMA. Sampai-sampai assiten mengomentari hasil rangkuman saya, darimana ini dapatnya?  Namun dari dulu sampai kini, saya punya prinsip.  Saya tidak akan menyajikan sesuatu pada orang lain, sesuatu yang tidak saya pahami.  Penjelasan assisten agama itu tidak saya pahami, sehingga saya tak memberikan rangkuman sesuai materi yang mereka telah terangkan.

Belakangan hari saya baru paham, bahwa buku yang dijadikan rujukan oleh para assisten agama islam di IPB adalah “Nizhamul Islam karya Syekh Taqiyuddin Annabhani”  Buku yang sulit dipahami karena secara mendasar meredefinisi kembali aqidah islam kita.

Bersambung ke #Part02 “Bagaimana saya berkenalan dengan aliran-aliran radikal di IPB?

 

Bagian II: Menjadi orang berkarakter dan berbudaya Jepang

08_04_18 13.30 Office Lens

Ini bagian kedua dari tulisan pertama, bagian kedua akan membahas bab 4-6 pada buku karya Murni Ramli.  Bagian ini akan membahas dari aspek geografi dan sosial masyarakat Jepang.

Kita senantiasa berpikir bahwa penduduk Jepang itu cuma sedikit, padahal penduduk jepang itu 1/2 dari penduduk Indonesia loh, yaitu sekitar 127 juta terbagi menjadi 47 prefecture (Indonesia sekitar 250 juta, terbagi dalam 34 Propinsi), dengan 5 pulau besar (Hokaido, Honshu, Shikoku, Kyushu, dan Ryuku) dengan 35.000 pulau kecil (Indonesia punya 14 pulau besar dengan jumlah pulau kecil 17.503).

Ada tiga suku di Jepang yaitu Yamato (dominan), Ainu, dan Ryukyuan.  Kita dulu mengenal orang Jepang orang kate karena pendek2, Murni Ramli pada bukunya halaman 105 menuliskan pada masa sekarang rerata lelaki jepang umur 30 mempunyai tinggi 171,4 cm sedangkan wanitanya 158 cm (Lebih tinggi dari hasil penelitian tinggi lelaki Indonesia tinggi 162,4 cm dan perempuan 151, 3 cm).

Orang Jepang selain karakter fisik yang hampir sama, juga mempunyai karakter sikap yang sama.  Baik berdasarkan opini kebanyakan orang yang bergaul dengan orang Jepang, maupun pada faktanya beberapa sikapnya adalah: jujur, disiplin, detail dalam berkarya, tidak mau merepotkan orang lain, dan pekerja keras.  Pertanyaan kita kemudian apakah ini sikap atau tingkah laku yang lahir secara genetis? Bukan! Penulis memaparkan pada halaman 111 pada zaman Edo, Taisho, dan Meiji orang Jepang ternyata bukanlah komunitas disiplin dalam bekerja, Misthubishi melaporkan tahun 1898 tingkat absensi diperusahannya 21%.  Menghargai waktu,  pada era sebelum perang Jepang juga sama dengan Indonesia, kereta sering terlambat.   Penulis memaparkan disinyalir kebiasaan ini muncul karena pameran tepat waktu dan efesiensi yang silakukan oleh Toyko Educational Museum.  10 juni 1920 ditetapkan secara nasional waktu dalam sehari.  Ada beberapa sifat lain orang Jepang diantaranya adalah tertutup (uchigawa & sotogawa), senioritas, menjaga perasaan lawan bicara … ada hal yang menarik dari sikap orang jepang yaitu:

Mencintai keharmonisan, kondisi damai, dan tidak suka konflik diistilahkan dengan heiwa. Sikap ini menjadikan orang Jepang tidak suka jika dalam suatu tim ada yang merasa lebih unggul dan dia mau menunjukkan diri unggul dengan menganggap teman lainnya saingan atau berkompetisi.  Orang semacam ini akan membahayakan keharmonisan tim, sehingga harus diketok dalam pepatah jepang ada istilah “deru kui wa utare” [paku yang menonjol harus diketok]. Efek dari ‘heiwa’ ini mereka menjadi orang yang rendah hati dan sederhana. Bukan pemandangan aneh para dosen di Jepang menggunakan sepeda ke Kampus, kecuali dosen yang rumahnya berbeda kota. Menggunakan tas yang sudah ditambal berkali-kali karena robek.  Tidak hanya para dosen, sikap sederhana juga ditunjukkan oleh para anggota dewan di Jepang.  Kursi-kursi yang mereka gunakan melapuk dan menua, warna sandaran dan tempat duduk punsudah memudar. Semua dibiarkan saja dari sejak gedung parlemen berdiri, mungkin ini menjadi bukti bahwa mereka benar2 memperjuangkan rakyat.

Tampaklah bahwa sikap bekerja masyarakat Jepang bukan lahir dari genetik, namun sebuah proses yang panjang membentuk sikap tersebut.  Paling tidak sejak revolusi Industri atau perang dunia mereka menginisiasi sikap bekerja disiplin, menghargai waktu, dan bekerja semangat.

Beberapa sikap lainnya lahir dari agama Budha atau ajaran Kong Hu Chu seperti heiwa, hidup sederhana, dan menjaga perasaan orang lain.  Ada juga sikap yang memang lahir secara naluriah misalnya senioritas dan tertutup.

Namun beberapa sikap orang Jepang pada generasi milenia beberapa mulai memudar, misalnya sifat sederhana dan gambarimasu (kerja keras).  Generasi di Jepang pada zaman milenia penulis membaginya menjadi 8 generasi yaitu posmo, ojoman, arubaito, komunitas terpelajar, diam & cuek, konsumtif, otaku, dan neet & Freeter. Tentang kondisi sosial generasi milenia ini diuraikan panjang lebar pada halaman 171-192.

To be continue ke bagian III tentang Teknologi dan Pendidikan di Jepang.

 

 

 

Bagaimana Jepang menciptakan manusia berkarakter dan berbudaya?

08_04_18 13.30 Office Lens.jpg

Bagian I: Fondasi pembangunan karakter di Jepang.

Saya dapat kiriman buku dari sahabat saya Murni Ramli judul bukunya “Menjadi Orang Berkarakter dan Berbudaya di Jepang”  Buku ini menjawab pertanyaan “Bagaimana Jepang menciptakan manusia berkarakter dan berbudaya?”  Tentu saja dengan perspektif sebagai orang indonesia.  Bukunya mengkaji secara lengkap dari mulai fondasi sampai dengan interior didalamnya.

Dua bab pertama dari buku memaparkan fondasi dari penciptaan karakter manusia jepang.  Fondasi dari pembangunan karakter di Jepang itu apa? Penulis memaparkan bahwa pembangunan karakter di Jepang adalah proses panjang dari mulai era Tokugawa (sekitar abad ke 16 M tepatnya 1603-1867).  Setiap jaman pemerintahan Jepang sangat peduli dengan pendidikan moral. Pendidikan moral merupakan sarana membentuk karakter orang-orang Jepang.  Jika zaman Edo sampai dengan Meiji pendidikan moral masyarakat Jepang dipengaruhi oleh Agama yang berkembang di Jepang yaitu Budha Shinto atau Konfusianisme (Kong hu Chu).  Namun setelah perang dunia kedua, dengan masuknya pengaruh AS, pendidikan moral orang di Jepang pun dipengaruhi oleh teori-teori barat tentang moral seperti Piaget, Kohlberg, … Kini pengaruh teori asia timur dan barat disatukan oleh Pakar Pendidikan Moral, dengan rumusan aspek kesadaran moral meliputi empat hal yaitu (1) Kesadaran pribadi, (2) hubungan dengan orang lain, (3) hubungan dnegan masyarakat/kelompok, (4) hubungan dengan alam/dunia.  Pendidikan moral di Jepang setelah perang dunia kedua mempunyai misi “menumbuhkan individu yang akan menjadi masyarakat dan warga negara demokratis dan damai, dengan menghapuskan unsur-unsur perang dan kepatuhan pada Kaisar”.

Sekilas rumusan aspek moral ini sama dengan rumusan dalam islam tentang tugas pokok manusia yaitu: Hambluminnalloh, Hablumminnannas, dan habluminnaalam.  Namun Jepang tidak memasukkan hubungan dengan tuhan sebagai sebuah landasan pendidikan moral.  Ini semua karena pemerintahan Jepang tidak menetapkan satu agama sebagai keyakinan mayoritas penduduknya, agama adalah keyakinan pribadi tidak harus diurusi pemerintah. Kebijakan ini menyebabkan tidak ada data jumlah penduduk beragama tertentu di Jepang.  Dan tentu saja tidak ada kolom agama dalam setiap form identitas di Jepang.  Kebijakan ini membuat masyarakat Jepang tidak fanatik pada agama tertentu, ketika lahir seorang anak akan diadakan upacara sesuai agama Shinto, ketika meninggal dia akan dikremasi sesuai agama budha, beribadah di rumah altar budha dan shinto ditempatkan berdampingan, dan ketika menikah akan merasa keren (Kakoi) dengan menikah di Gereja.  Maka ketika orang-orang jepang di Tanya apa agama kamu? lihat ini: THAT JAPANNESE MAN YUTA . That’s Jepang! Seketika saya pun teringat, lagu John Lenon “imagine no religion…living life in peace!” Tampaknya John Lennon terinspirasi dari Yoko Ono isterinya yang berasal dari Jepang ketika membuat lirik ini.

To be Continue, bagian selanjutnya akan dijelaskan tentang bagian II: Geografi, Sosial Budaya, dan Teknologi di Jepang.

 

Rapih: one of Japan culutre

Pernah berkunjung ke Jepang? Apa kesan pertama anda terhadap negara ini? Ungkapkan dalam tiga kata: BERSIH, RAPIH, TERATUR! itu yang senantiasa saya dapatkan ketika mengajak peserta ke Jepang pertama kalinya, dan itu pula yang saya rasakan.  Mengapa bisa seperti itu?

Tulisan sebelumnya sudah dibahas mengapa Jepang bisa bersih? Silahkan baca tulisan saya tentang O-sōji: Piket membersihkan sekolah di Jepang #SerialPendidikandanKehidupan diJepang).  Mengapa jepang masyarakat jepang teratur? Silahkan lihat salah satunya dalam tulisan tentang Antri: just one of Japan culture).  Kali ini saya akan tuliskan mengapa kehidupan di Jepang bisa rapi?

Budaya rapi.  Suka lihat film Dora Emon kan? Nobita, Giant, dan Suzuka pegang sapu dan lap menyapu dan mengepel rumah udah biasa bukan? Juga bagaimana mereka membereskan kembali sepatu dan sandalnya.  Di rumah dilakukan, di sekolah pun dibiasakan.  Maka jika lihat di Jepang tak ada sandal atau sepatu yang letaknya berantakan kayak di pelataran mesjid di Indonesia saat sholat jum’at atau jama’ah.  Semuanya akan tertata rapi, kenapa? Melihat yang rapi hati kita damai bukan? Itulah esensinya! KEDAMAIAN HIDUP! KENYAMAAN HIDUP! Bahkan berbagai teknologi yang diciptakan oleh Jepang pun punya filosofi “Bagaimana membuat hidup orang Jepang (manusia) nyaman?” Jalan kaki Bandung-Jakarta membuat gempor bukan, pakai kuda pun kasihan kudanya, lalu ketika eropa menciptakan mobil yang super duper mahal dan ternyata mobil memberikan kenyamaan dalam perjalanan, maka Jepang bertekad memurahkannya agar semua orang bisa nyaman.  Pun “Shinkazen”, kereta peluru ini lahir karena paradigma ‘banyak orang yang memilih naik kereta karena takut ketinggian atau takut naik pesawat, namun naik kereta acapkali memakan waktu lama.  Maka kereta peluru ini bisa memotong waktu sampai empat kali,  menyenangkan hati orang lain atau sesama manusia ….ini prinsip hidup mereka.

Karena dengan rapih, pandangan mata semua orang menjadi nyaman, maka inilah yang ditanamkan di sekolah-sekolah Jepang dengan pembiasaan membereskan sandal-sandal dan ditata rapi.

Anak SD Jinzumidori merapihkan sandal tolitet mereka

Tidak hanya itu, penulis pernah mengunjungi tempat pembakaran sampah bersamaan dengan itu, anak-anak dari sebuah sekolah berkunjung ke tempat yang sama.  Apa yang mereka lakukan terhadap sepatu dan tempat minum mereka? Mereka merapihkan susunan sepatu dan barang bawaan mereka dengan rapi tanpa disuruh gurunya, mereka otomatis melakukannya karena “RAPIH adalah BUDAYA MEREKA. “Wow sugoi desuka?”

IMG_0178

Anak-anak sekolah berkunjung ke Tempat Pembakaran Sampah Propinsi Toyama, sepatu dan termos air yang mereka bawa disusun rapi oleh mereka sendiri.

Bukan hanya itu, MERAPIHKAN KEMBALI apapun punya kita dan bekas kita itu menjadi tanggung jawab kita.  Di Indonesia, kita sering melihat sehabis makan direstoran kita tinggalkan meja dengan berantakan, maka jangan lakukan itu di Jepang, walaupun itu di restoran cepat saji sekalipun. Di banyak restoran di Jepang, kita yang harus membereskan meja kita sendiri. Bahkan disediakan serebet untuk membersihkan meja kita sendiri.  Sampah-sampahnya pun harus kita buang sendiri.

Sehabis makan meja dibereskan, dibuang sampahnya termasuk sisa cairan yang ada.  Semua dirapihkan sendiri. 

Jadi inilah sebab mengapa Jepang rapih? Pembiasaan dilakukan oleh siapapun dimanapun dan dilakukan mulai dari sekecil apapun.  Mau Indonesia lebih baik! Ayo, pikirkan bagaimana membuat orang lain nyaman dan mudah!

 

Antri: just one of Japan culture

Bagi negara Jepang, antri merupakan bagian dari budaya mereka.  Sejak kapan jepang punya budaya itu? Entahlah yang jelas orang jepang punya prinsip, (1) “kerjakan segala sesuatu dengan cepat, rapih, dan tertib” (2) “Pikirkan perasaan orang lain”  (3) “Setiap aturan dibuat untuk membuat nyaman semua orang, jadi patuhi aturan”.  Aturan yang terus menerus dilakukan menjadi pembiasaan, pembiasaan pada akhirnya menjadi budaya.  Orang yang tidak ikut budaya akan dianggap sebagai orang aneh (Hen).

Apa yang menyebabkan prilaku ini menjadi sebuah budaya? kunci ada pada sinergitas antara rumah, sekolah, dan masyarakat atau istilah singkatnya “semestakung – semesta mendukung”

Budaya antri.  Rasanya sejak dalam kandungan Bayi di Jepang sudang diajak antri sama ibunya.  Tidak keistimewaan ibu hamil harus didahulukan ketika antri di kasir minimarket atau antri masuk kereta atau antri ke toilet.  Semuanya mengantri sesuai urutan kedatangan.  Ketika pertama kali mata Si Bayi itu diajak jalan orang tuanya, dia harus mengantri masuk bus, mengantri makan di restoran, dan mengantri-mengantri Si Jabang bayi yang baru melek itu melihat, itu terus berlanjut sampai ketika mereka tiga tahun ketika diajak orang tuanya jalan-jalan.  ANTRI sudah menjadi pemandangan baginya. Namanya anak umur tiga tahun ya pasti ada saja ingin cepatnya, namun ketika si anak ini memperlihatkan egonya, menerobos antrian, maka orang tua akan memegangnya untuk patuh pada urutan antrian.  Maka ketika mereka masuk TK, mengantri karena pandangan harian di masyarakat, diajarkan dan dicontohkan orang tua, juga dilihat dari lingkungan sekitar.  Tidaklah mengherankan jika kita berkunjung ke TK di sana, anak-anak biasa antri dengan sabar menunggu giliran. Guru pun tak cape dalam mengarahkan mereka untuk sabar mengantri.

 

Anak-anak TK Kamidaki sedang mengantri dengan sabar menunggu giliran bermain. Tanpa perlu ekstra pengawasan dari guru.

Tidak hanya di dalam kelas, ketika kunjungan pun mereka terbiasa antri.  Pembiasaan di masyarakat dan diperkuat melalui pendidikan di sekolah membuat antri menjadi budaya melekat, maka para siswa TK dengan ketika mereka mengunjungi area publik maka dengan otomatis mereka sudah antri. Cukup menunjukkan tangan dua jari, siswa otomatis mengantri berpasangan dengan temannya, tanpa perlu gurunya berteriak-teriak lagi. “Wow, sugoi desuka?”

Anak-anak TK antri memasuki Aquaculture Uozu di Prefecture Toyama Japan

Bagi orang Jepang juga bagi kita sih  “tidak  antri” memiliki kerugian yang banyak, diantaranya: (1) Waktu terbuang banyak.  Misalnya masuk kereta api.  Bayangkan jika tidak ada budaya antri, semua orang berebut masuk duluan.  Akhirnya banyak yang terjepit dipintu, memperhambat orang belakang untuk masuk.  Berapa lama waktu terbuang hanya untuk empet-empetan di pintu masuk kereta.  (2) cape hate (bhs. sunda – bahasa indonesianya lelah hayati).  Misalnya antri di toilet, orang akan ribut mulut merasa duluan gara-gara tak ada line antrian.  Akibatnya ngelus dada, sampai jantungan. (3) tercabut nyawa.  Kok bisa? pernah dengar ada seorang saudagar membagikan zakat, dan masyarakat yang datang berebut tak antri? Akhirnya pencari sedekah harus meregang nyawa karena diinjak-injak oleh pencari sedekah lainnya.  Coba kalau antri?

Antri adalah perbuatan yang membuat semua orang nyaman dan adil, perasaan semua orang pun menjadi senang, inilah sebabnya budaya antri dijunjung di Jepang, karena filosfi mereka adalah “Bagaimana menjadi warga negara jepang sebagai warga negara yang cinta damai”.  Cinta damai hanya akan terwujud jika kita bisa membuat orang lain merasa nyaman dan diperlakukan serta memperlakukan orang dengan adil tanpa melihat dia itu anak, orang tua, dan tanpa memandang ras, suku, dan agama. Budaya antri hanyalah bagian kecil saja dari mewujudkan warga negara Jepang yang cinta damai.

 

Ironis bukan? Padahal AL ISLAM yang berasal dari SALAM bermakna damai. Harusnya “islamlah yang menghadirkan manusia-manusia cinta damai itu.  Namun kita tak mampu mewujudkan esensi apa yang menyebabkan manusia bisa damai? Jepang mengajarkan esensi “Kedamaian adalah manakala kita bisa mencabut ego kita baik ego individu maupun ego kelompok dengan memikirkan perasaan orang lain dan kepekaan sosial yang membuat semua orang merasa nyaman dalam hidup”.

Sikap radikal tanpa toleransi jauh dari kesan damai yang diperlihatkan oleh sebagian muslim pun lahir karena “EGOSENTRIS atau memikirkan diri sendiri atau kelompoknya saja”, sehingga lahirlah sifat kukuh yaitu keharusan dalam segala aspek kehidupan wajib kudu “SEIMAN” kalau gak seiman BOIKOT Jangan dibeli Jangan di tonton dan Jangan-Jangan lainnya.  Hal yang banyak menjangkiti sebagian kaum muslim saat ini “EGO – BAGAIMANA SAYA SENANG, BAGAIMANA KELUARGA SAYA NYAMAN, BAGAIMANA SAYA CEPAT SAMPAI TUJUAN, dan saya saya saya lainnya.  Maka tidaklah mengherankan jika seorang ulama Mesir “M. Abduh” ketika berkunjung ke negara yang mereka sebut kafir, Dia mengatakan “Aku tidak melihat muslim disini, tapi aku melihat islam“.  Namun ketika dia ada di negara islam dia mengatakan, “Aku melihat banyak muslim di sini, tetapi aku tidak melihat islam” 

Jika kita ingin semua orang mengatakan, “Aku melihat banyak muslim di sini, dan aku melihat islam”, maka mulailah dengan menghilangkan EGOSENTRIS, dan mulai memikirkan apakah orang lain akan senang, nyaman, dan rido dengan apa yang kita lakukan…….

Let’s Think! Part II

Tulisan ini adalah lanjutan tulisan sebelumnya, cuma ingin mengajak berfikir menggunakan nalar, jangan menggunakan rasa.  Karena acapkali RASA tidak sesuai FAKTA.  Semoga saja bermanfaat bagi yang mau tercerahkan….

Selamat membaca, mohon maaf bacaannya memang berat!

Lanjutan tahap Tafa’ul

Gozwul fikri adalah kata sakti yang dihembuskan untuk mempersiapkan masyarakat masuk ke tahap tafa’ul (berinteraksi dengan umat).  Senjata yang dihembuskan dalam medan perang pemikiran ini adalah “pemerintah anti islam” “pemerintah anti dakwah islam” “pemerintah dzalim” “pemerintah thogut” “pemerintah kufur“.  Pada tahap ini selain interaksi dengan masyarakat melalui penyebaran jargon-jargon yang membuat masyarakat tidak percaya pada pemerintah yang berkuasa, juga dilakukan interaksi dengan pemimpin di pemerintahan dan ABRI serta public figure atau tokoh masyarakat.  Tujuan interaksi dengan pemuka di pemerintahan, ABRI, dan masyarakat adalah untuk mencari bantuan dan mempercepat proses pengambilalihan kekuasaan.  Maka pada tahap ini, jika inflitrasi ini berhasil kita akan melihat pemuka dan tokoh di pemerintahan, ABRI, dan masyarakat mereka melakukan konter dan konfrontasi dengan pemerintahan sah.   Presiden v.s Panglima ABRi v.s Kapolri v.s Ketua DPR v.s ….dst.  Nah, pada tahap ini gerakan revolusioner ini juga  melakukan playing victim, contohnya mereka menyebutkan PEMERINTAH MELAKUKAN ADU DOMBA TERHADAP RAKYAT, manakala pemerintah sah melakukan pembersihan terhadap gerakan revolusioner ini.  Padahal sebuah pemerintahan sah akan tetap berdiri dan membangun rakyat serta melaksanakan programnya untuk kesejahteraan rakyat. Dan tugas pemerintah memberantas ancaman terhadap ideologi negara.

Tahap II.  Tatbiq

Tatbiq adalah berdirinya sistem islam atau terambilnya kursi presiden ke tangan golongan mereka.  Apa yang dilakukan ketika keberhasilan ini terjadi? Contoh kasus adalah Mesir saat keberhasilan IM memimpin dan Turki dengan keberhasilan PAS-nya sekarang.  Apa yang mereka lakukan adalah memecat para pejabat bahkan kelompok dakwah lain yang tidak seide, memenjarakannya, dan memberikan label TERORIS hanya karena mereka-mereka yang tidak se-ide.

Apakah kelompok ini berbahaya?

Bahaya atau tidak bukan itu pokoknya, namun bayangan saya, “Jika kelompok transnasional berkuasa di Indonesia, saya membayangkan yang akan mereka lumatkan adalah NU, Muhammadiyah, PDIP, NASDEM,….  Lalu budaya? Mungkin berbagai gelaran tari tradisional, juga festival jazz, rock, … akan hilang musnah diganti dengan gelaran nasyid dan kesenian arab lainnya.  Kita tidak akan mendapati para wanita yang bebas berekspresi, para wanita akan dikurung di rumah-rumah dan wilayah harom.  Bahkan boleh jadi para wanita yang sekarang bekerja di berbagai instansi akan dipensiunkan dini. Gerakkan islam yg beredar di Indonesia dibawa dari Mesir, Arab, Yordan….umumnya punya kesamaan yaitu membatasi ruang gerak wanita di sektor publik dan tidak menerima PERBEDAAN. Sekarang tinggal kita pikirakan, apakah kita setuju dg “ARABISASI? Menciptakan kultur seperti di timur tengah? Baju tak lagi boleh bercorak batik, harus berwarna kelam….budaya jaipong, ketuk tilu, suling, gamelan, angklung….mungkin akan dilarang. Dan blog, facebook, twitter, serta media sosial atau media kontra dg khilafah yg telah berdiri akan diberangus sampai ke akar2nya. Siapa saja yg menentang khilafah berdiri dikatagorikan budghot dan siapkan saja untuk dipancung. Biasanya org membayangkan yg enak2 ketika hidup dalam kekhilafahan islam, membayangkan gampangnya saja, tidak pernah membayang konsekuensi dari wahabisme ini apa? Apakah mereka yg sudah bergabung ke ISIS memperoleh “gemah ripah roh jinawi”?? So, let’s think it! Bayangkan sekarang aja tingkah para pejuangan gerakkan wahabisme melakukan persekusi hebat pada mereka yang tidak seide. Padahal mereka masih berada di negara pancasila. Bayangkan kalau daulah khilafah itu berdiri, hal yang lebih sadis bisa dilakukan bagi mereka yg tidak seide. Mau dibangun negara yg seperti itu? Negara penuh ancaman yg menakutkan jiwa?

Kurang apa Indonesia sekarang? Kita diberi kebebasan menjalankan ibadah dan syariat islam bahkan difasilitasi. Jika pun ideologi yg dipilih adalah pancasila bukan syariat islam, ini karena kesepakatan bersama termasuk para ulama yang mewakili umat islam saat itu. Jika kita berteriak-teriak #belaUlama tentulah kita pun harus membela perjuangan yg telah dilakukan para ulama pada tahun 1945. Yg perlu kita lakukan saat ini adalah menikmati kemerdekaan dan mengisinya dengan kerja dan prestasi, tidak perlu lagi membuat gerakan-gerakan revolusi apalagi mengatasnamakan islam. So, let’s think and keep the right side!