Jokowi Amin atau GOLPUT? #saveNKRI

Jokowi Amin….. (nb. kalau saya membaca frasa ini, serasa do’a berkah untuk sebuah pertanyaan, “Siapa Presiden Indonesia 2019-2024? insyaalloh “Jokowi! Aamiin!”).  Hal yang sama jika Prabowo berpasangan dengan Amien Rais, frasanya menjadi “Prabowo Amien”

Bagi saya pribadi pasangan Jokowi Amin cukup mengagetkan, karena sejak awal saya menduga Pak Mahfud MD yang akan berpasangan dengan Pak Jokowi.  Pak Mahmud MD tidak diragukan lagi keilmuan dalam soal ketatanegaraan dan agama.  Namun gelarnya beliau belum nyampe Kyai atau Ulama.  Partai koalisi Jokowi yang tidak pernah membahas ‘ijmak ulama’ pada akhirnya memilih seorang Kyai seorang ulama untuk mendampingi Jokowi. Sementara partai oposisi yang sudah melakukan Ijmak Ustadz sudah mengeluarkan dua nama Ustadz yang dipilih, pada akhirnya berlabuh pada sosok Pengusaha Muda.

Secara pribadi, saya menghaturkan terima kasih kepada Jokowi dan Partai Koalisinya yang menempatkan kepentingan bangsa Indonesia, bagaimana PILPRES dapat berjalan bukan hanya aman, namun juga damai dan tentram serta gembira.  Terima kasih yang sangat dalam juga untuk Pak Prabowo, Bapak telah menunjukkan secara cermat keluar dari tekanan yang begitu menghimpit demi keutuhan NKRI Pancasila juga. Brovo Jenderal, from the bottom of my heart i salute you

Hal yang menarik adalah pilihan partai koalisi Jokowi terhadap Pak KH. Ma’ruf Amin.  Menyandingkan antara Ulama dan Umaro.  Saya sendiri follower beberapa tokoh yang punya pandangan beragam tentang posisi ulama dan umaro dalam pemerintahan (islam khususnya), dalam diskurs ini paling tidak ada dua pendapat yaitu:

  1. Pemisahan ulama dan umaro.  Umaro atau pemimpin pemerintahan haruslah orang yang ahli dalam manajemen pemerintahan yang dibuktikan dengan pernahnya menjabat di pemerintahan level walikota, gubernur, pada akhirnya presiden.  Adapun ulama posisinya sebagai dewan penasehat umaro, posisi lebih tinggi dari Umaro.  Namun tidak setiap nasehat dari Ulama bisa ditelan mentah-mentah oleh Umaro.  Pemisahan seperti ini terjadi pada pemerintahan Syiah seperti di Iran.  Juga pada sistem monarkhi seperti sistem sultaniyah atau kerajaan.  Termasuk kesultanan-kesultanan di Nusantara seperti Ternate, Jogja, Solo, dan lainnya.
  2. Penyatuan antara ulama dan umaro.  Seorang umaro lebih afdol jika dia seorang mujtahid pada konteks ini maka dia adalah Umaro yg juga Ulama.   Pandangan seperti ini diadopsi oleh sistem khilafah islamiyah atau Negara Islam Indonesia.  Pada zaman kekhilafahan islam ada Umar bin Khatab, Abu Bakar Sidiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib….keempatnya adalah Umaro sekaligus Ulama yang dibina langsung oleh Nabi SAW.  Pada konsep #NeoNII unggulan dari calon gubernur selalu dibangkitkan sisi kefakihannya dalam agama, misalnya hafidz quran.  Jika pun tidak maka pasangan wakilnya haruslah unsur umaro-ulama, berdasarkan pandangan ini maka wajar jika kelompok tokoh agama islam pengusung #NEONII melakukan ijmak untuk memilih ustadz yang layak menjadi cawapres.

Ketika koalisi Jokowi menyandingkan Umaro-Ulama maka sesungguhnya pola ini mendekati sistem ideal kekhilafahan islam. Umaro dan ulama sejajar dalam membimbing bangsa Indonesia menuju baldatun toyibatun warobun ghofur.  Dengan masuknya unsur ulama juga ahli ekonomi syariah, saya membanyangkan bergejolaknya ekonomi real dan mulai dibumikannya mata uang berlandaskan emas yang boleh jadi akan menggantikan dominasi dollar.  Pembangunan mental dan spiritual akan makin subur.  Nasionalis religius….menjadi ruh dalam membangun Indonesia.  Ruh jamai’ pasangan Jokowi-Amin adalah islam nusantara, islam  yang toleran terhadap multikultur, multi ethnis, dan multi agama.

Lalu mengapa mereka yang memperjuangkan kekhilafahan islam dan #NeoNII tetap “nyinyir” dengan keputusan ini? Apalagi kelompok #NeoNII sangat paham siapa Kyai Ma’ruf Amin.  Beliau lah yang membuat fatwa sehingga lahir GNFMUI yang berjilid-jilid demo di Monas.  Mengapa setelah digandeng Jokowi cs, kelompok #NeoNII tetap membenci? Ini semata-mata karena Jokowi dan koalisinya yang menyadari bahkan menghalangi mereka bisa bangkit dalam menghimpun kekuatan umat islam untuk melakukan revolusi menggantikan pemerintahan NKRI berdasarkan pancasila menjadi pemerintahan NKRI BERSYARIAH sebagai cikal bakal dari Kekhilafahan islam.  Ini “nyinyir” ideologis.   Beberapa isu yang dimunculkan anggota kelompok Nyinyir ideologis adalah:

  1. KH Ma’ruf Amin sangat mulia, tidak pantas dijadikan pilihan politik.
  2. Jokowi butuh suara umat islam.
  3. Pemilihan KH. Ma’rif Amin sekedar perisai untuk menutupi kedzaliman Jokowi terhadap umat islam.
  4. ……dan isu-isu lainnya yang akan terus diproduksi oleh mereka untuk membuat masyarakat pemilih Jokowi GOLPUT.

Praktek kelompok #nyinyir ideologi ini di lapangan kemudian dibagi menjadi dua:

Kelompok Nyinyir ideologis pertama:  Selain isu yang telah disebutkan di atas, akan dimunculkan juga isu HARAM-nya memilih pemimpin dalam sistem demokrasi kufur, walaupun calonnya itu Seorang Kyai, namun karena sistem yang dibangunnya adalah demokrasi, dan demokrasi sistem kufur, maka memilih Kyai pun tetap haram.  Dengan Nyinyir #ideologis seperti ini mereka berharap masyarakat banyak yang GOLPUT, sehingga pemimpin terpilih nanti tidak menggambarkan legitimasi hukum.

Kelompok Nyinyir ideologis kedua: tidak mengajak golput, namun mengajak memilih koalisi partai yang bisa mereka stir.  Namun tak mudah menyitir calon presiden sekarang!

Sudah jelas koalisi 9 Partai Jokowi sangat solid tidak bisa mereka stir, justeru sebaliknya kelompok ini bisa distir dan dibanting jika bertindak membahayakan NKRI Pancasila.  Bagi kelompok Jokowi Amin sudah sangat jelas “NKRI Pancasila adalah perjuangan para pendiri bangsa termasuk di dalamnya para ulama dari NU.  Mempertahankan NKRI dan Pancasila adalah bentuk ke-tsiqoh-an pada para ulama pendahulu”.   Maka kelompok Jokowi cs karena tidak bisa mereka stir, bahkan jika kelompok #NeoNII ini masuk pada kelompok ini, mereka akan diminta tobat untuk kembali pada Islam Nusantara.  Oleh sebab itu Jokowi cs akan menjadi lawan abadi mereka.  Labeling “pendukung penista agama” walaupun di dalamnya ada Kyai yang menginisiasi gerakan demo berjilid-jilid, tetap akan terus disematkan pada kelompok Jokowi cs untuk memenangkan pertarungan ini.

Adapun Gerindra dan Demokrat juga bukan partai yang gampang distir, sudah terbukti dari keputusan Pak Prabowo memilih Sandiaga Uno.   Demokrat dan Gerindra sebagai partai nasionalis saya yakin menjaga NKRI Pancasila.  Bagi Gerindra/Demokrat bergabungnya orang-orang kelompok #NeoNII ini ke partai mereka bisa dianggap sebagai simbiosis komensalisme.  Militansi dan kesolidan mereka bisa dimanfaatkan untuk kampanye mendulang suara.  Walaupun kampanye mereka penuh hujatan SARA dan politik identitas, namun selama keberadaan mereka menguntungkan dan tidak merugikan mengapa tidak? Toh secara pribadi  Prabowo-Gerindra dan SBY-Demokrat bukan orang atau kelompok yang mudah di-stir oleh kemauan mereka.  Ideologi Gerindra dan Demokrat jelas ‘Nasionalis Pancasila’, tinggal kekuatan keduanya untuk tetap istiqomah ditengah gempuran pihak-pihak #NeoNII.

Tadinya saya berhadap PILPRES kali ini dengan berpasangannya Jokowi dengan Ulama bisa dijalani oleh warganet dengan nyaman dan damai, namun rasanya nyamannya hanya sesaat saja.  Sehari setelah deklarasi capres-cawapres keributan mulai kembali.  Ya, sudahlah kita tutup toko aja selama PILPRES.

 

Hidup bebas atau hidup teratur?

Saya sangat memegang teguh filosofi hidup dari ushul fiqh, “Setiap perbuatan terikat kepada hukum syara“.   Inilah yang saya ajarkan pada anak-anak saya, bagaimana EGO mereka berkompromi dengan peraturan baik agama, negara, sekolah, etika, dan adat.  Tidak ada istilah dalam keluarga saya “SEMAU GUE” karena keinginan kita dibatasi dengan keinginan orang lain dan hukum. Tidak ada istilah “BREAKING THE LAW” atau aturan dibuat untuk dilanggar, tapi aturan dibuat untuk kemaslahatan bersama.  Tidak bisa keukeuh mengatakan “HARUSNYA ITU BEGINI” yang ada adalah bagaimana “WIN WIN SOLUTION“.  Jangan pernah keinginan dan rasa idealisme kita menabrak aturan-aturan yang ada.

Sebagai pendidik inilah yang bisa kita lakukan, yaitu mengajarkan betapa pentingnya sebuah aturan yang tentu saja harus dibarengi dengan rasa kemanusiaan.  Hidup tidak EGOIS, namun penuh harmoni sehingga mencapai kedamaian.  Berikut ini adalah petikan cerita moral yang biasa diajarkan pada anak-anak di sekolah.   Mari kita simak, dan pikirkan!

KOTA BEBAS I

bebas.png

Di sebuah negeri terdapat kota yang dinamakan Kota Bebas.   Di kota ini tidak ada “aturan”, siapapun dapat berbuat sesukanya. Mendengar hal tersebut, orang-orang dari kota lain berbondong-bondong pindah ke kota tersebut sehingga kota pun menjadi padat. Pada awalnya semua orang merasa senang karena mereka dapat berbuat seenaknya. Tetapi seiring dengan berjalannyawaktu, berbagai masalah pun terjadi.

Pada suatu ketika….

Dua anak laki-laki bertengkar di pinggir kali.   “Hey, itu adalah ikan yang aku pancing, jangan kamu bawa seenakmu,” kata anak lelaki yang satu. “Gak, di kota ini kita bisa lakukan apapun sesuka kita, kita juga bisa mengambil ikan yang dipancing orang lain,” kata yang anak lelaki satunya lagi.

Di terminal bus juga orang-orang banyak yang bertengkar. Ketika bus yang ditunggu datang, mereka berebut naik bus, terjadilah keributan….“Saya yang menunggu duluan, harusnya saya yang duluan naik, ngantri dong!” “Aduh, jangan dorong-dorong dari belakang dong bahaya! kan masuknya hanya bisa satu-satu,” “Minggir-minggir, aku capek habis kerja, aku pengen cepat naik dan duduk,” Di kota ini kan gak ada aturan, siapapun dapat melakukan apapun, jangan protes! saya naik duluan!”

Di depan rumah juga dua orang ibu-ibu bertengkar satu sama lain. “Tunggu, ibu jangan buang sampah basah di depan rumah saya dong! Itu kan mengganggu.” “Lho memang ada aturan gak boleh buang sampah di depan rumah orang? Sampah basah kan bau, aku buang di depan rumah mu aja, dari pada di depan rumah ku?”

Begitulah di kota itu.  Keributan demi keributan sering terjadi di berbagai tempat!

Bagaimana menurut kalian tentang hidup di Kota Bebas yang tidak punya “aturan” Apa yang ada di benak orang-orang yang bertengkar dalam cerita di atas?

KOTA BEBAS II

bebas3.png

Pada awalnya orang-orang yang tinggal di Kota Bebas sangat senang, mereka berpikir dapat berbuat sesuka hati. Namun mereka sadar bahwa banyak masalah yang timbul karena hal itu. Kemudianmereka pun memohon kepada walikota untuk membuat beberapa aturan. Walikota pun dengan penuh semangat membuat peraturan untuk kotanya. Walikota membuat lima peraturan yang harus ditaati oleh warganya.

Peraturan di Kota Bebas

  1. Orang yang mengambil barang orang lain dihukum satu bulan penjara.
  2.  Orang yang menyalip antrian pada saat menunggu bis didenda 100 ribu Yen.
  3. Orang yang membuang sampah sembarangan dihukum satu bulan penjara.
  4. Orang yang berbohong dihukum satu bulan penjara.
  5. Sarapan pagi harus selesai sampai jam 7 pagi. Orang yang tidak mematuhinya dihukum satu bulan penjara.

Selain aturan-aturan tersebut, Walikota juga membuat berbagai aturan lain, lalu menempelkannya di berbagai tempat di kota itu. Dengan aturan-aturan tersebut, orang-orang pun senang hidup tanpa ada pertengkaran.

Akan tetapi masalah lain kini timbul dan orang-orang merasa terganggu…..

Seorang anak menangis di pinggir jalan. Anak ini membeli makanan ringan ketika pulang sekolah. Anak ini bermaksud membuang bungkus makanan tersebut ke dalam tong sampah, namun karena tertiup angin, bungkus itu keluar dari tong sampah. Tidak jauh dari tempat tersebut seorang anak lain melihatnya dan melaporkan kepada orang dewasa. “Anak ini tidak membuang sampah pada tempatnya, oleh karena itu harus dihukum satu bulan penjara.” Anak yang pertama tadi menangis, “Aku buang bungkus tadi ke dalam tong sampah, tapi karena tertiup angin, bungkus tadi keluar, aku bermaksud mengambilnya dan memasukkan lagi ke dalam tong sampah, masa aku harus dipenjara satu bulan?”

Di depan rumah lain, seorang anak perempuan menangis…. “Pagi ini aku bangun. Karena Ibu sakit dan tertidur, aku cepat-cepat masak menyiapkan sarapan pagi, tetapi keluargaku seisi rumah tidak dapat selesai sarapan sampai jam 7. Keluargaku harus dihukum satu bulan penjara,….hiks hiks…”

 

Di sekolah, anak-anak bertengkar…. “Pensil ini tadi terjatuh di lantai, aku hanya kebetulan memungutnya. Aku tidak mencuri dari siapapun,”  “Gak!, kamu harus masuk penjara satu bulan, karena mengambil barang yang kamu gak tahu siapa pemilikinya, itu sama dengan mencuri” “Tunggu! Dalam aturannya gak tertulis seperti itu. Kamu berbohong. Kamu lah yang harus masuk penjara,”

Sudah capek-capek aturan pun dibuat, tetapi orang-orang di kota itu tetap saja menghadapi berbagai masalah, lama-lama kelamaan mereka merasa kesal juga. “Untuk apa sebenarnya aturan dibuat?”

Bagaimana menurut pendapat kalian tentang hidup di kota seperti ini di mana aturannya sangat lengkap dan rinci? Mengapa masalah terjadi padahal ada aturan Apa yang penting agar hidup kita nyaman?

Kali Sentiong dan Energy 212

Tak bisa dipungkiri bahwa terpilihnya pasangan Anies-Sandi menjadi DKI 1 dimobilisasi oleh gerakkan 212.  Dari mulai gerakan demo berjilid, tamasya Al Maidah dengan cara nongkrongin TPS-TPS sehingga pemilih merasa was-was, sampai ancaman tidak menyolatkan jenazah yang memilih AHOK.  Ancaman yang nyata yang juga diserukan oleh Wakil Sekjen MUI untuk tidak menyolatkan jenazah pemilih AHOK.  Konon ada 7 juta umat 212 yang mendukung Anies-Sandi menjadi Gubernur muslim.

Sayangnya Pak Anies belum menggarap potensi 7 juta umat 212 ini sehingga mampu membersihkan dan menertibkan DKI Jakarta.  Apa saja yang harus ditertibakan dan dibersihkan:

Kali Sentiong dan kali lainnya di Jakarta.

Ahok sudah memindahkan pemukiman di bantaran kali.  Kerja Ahok belum tuntas, karena dia tidak terpilih lagi menjadi Gubernur DKI Jakarta.  Maka Pak Anieslah yang harus membereskannya, tinggal sedikit lagi yaitu pembersihan kali-kali di DKI Jakarta agar kalinya tidak hitam dan berbau.  Bagaimana caranya?  Selain membuat saluran pembuangan limbah air terkoneksi dengan pengolahan tinja yang dilakukan oleh Pemprov DKI.  Anies-Sandi bisa mengerahkan massa melakukan pembersihan kali.  Tak perlu mengharapkan #JKT42 yang saat ini belum #moveon.  Manfaatkan #JKT58 yang telah memilih Pak Anies-Sandi untuk melakukan gerakan kerja bakti tiap JUMAT membersihkan kali-kali di DKI Jakarta. Mesjid-mesjid bisa dikerahkan, seperti halnya sewaktu PILGUB DKI mesjid-mesjid dijadikan basis kemenangan Anies-Sandi, setelah sholat subuh berjamaah mereka dikerahkan untuk membersihkan kali sekitar dengan sukarela tanpa bayaran.  Mengapa? Ya, ini karena seruan menjaga kebersihan adalah seruan dari Nabi SAW yang sangat jelas!  Ini seruan Nabi SAW derajatnya lebih tinggi daripada Fatwa MUI.  Untuk fatwa MUI saja bisa mengerakkan 7 juta umat turun ke jalan, maka untuk sebuah seruan dari Nabi SAW masa tidak bisa? Lagian Anies-Sandi adalah Gubernur muslim, sebagai Gubernur muslim penggeraknya bukan PERDA-PERDA terdahulu yang sudah dibuat tapi salah satunya adalah HADITS.  Dan seruan Rasulullah saw sudah jelas untuk kebersihan:

“Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqas dari bapaknya, dari Rasulullah saw. : Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu” (HR. Tirmizi)”

Penghalang trotoar dan bahu jalan

Masalah kedua setelah Anies-Sandi terpilih adalah makin seenaknya saja para penjual kak lima berjualan.  Dulu dengar kata AHOK mereka meringis, takut mau berjualan pun pilih2 ditempat-tempat yang sekiranya aman.  Mereka takut kena razia terus disemprot (sebagian orang sebut “mulut comberan”) Pak Ahok.  Ini sebabnya para pedagang kaki lima lebih suka cari aman.  Namun ketika Anies-Sandi naik menjadi Gubernur, rasa takut mereka hilang.  Mereka tentu saja berasumsi selama masih muslim, tak akan berani tegur-tegur mereka, ditambah lagi peristiwa Tanah Abang yang memberikan akses pedagang kaki lima berjualan di Jalan Raya yang terkontrol oleh PEMPROV DKI, maka makin memberi angin segar para pedagang kaki lima.   Sebetulnya pak Anies-Sandi tidak perlu merasa tidak enak.  Sebagai Gubernur muslim, bisa mengerahkan kekuatan ayat dan mengerahkan umat 212 untuk turut membantu melakukan DAKWAH ON THE STREET, yatiu umat 212 berjalan sepanjang jalan dan trotar berdakwah pada para pedagang kaki lima dan menyarankan sekaligus membimbing mereka untuk berjualan di tempat yang telah ditentukan. Tempat yang telah ditentukan dimana? Umat 212 telah berhasil mengumpulkan dana yang besar untuk sebuah aksi 411, 212, reuni 212 bahkan juga membuat mini mart 212, artinya ada energy sedekah di dalamnya.  Dari sedekah inilah para pedagang kaki lima itu disediakan tempatnya.  Perintah membersihkan jalan dari gangguan itu sangat jelas.  Membuang duri beranting yang ukurannya kecil di jalan aja di suruh, apalagi gerobak kaki lima yang melintang di bahu dan trotoar yang gede banget, tentulah lebih utama.

Ketika seorang lelaki tengah berjalan di suatu jalan, dia mendapati ranting yang berduri di jalan tersebut. Maka dia mengambil dan membuangnya. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” (HR. Al-Bukhari Muslim)

Mengubah energi #212 menjadi energi konstruktif membangun DKI Jakarta, bukanlah sebuah kemustahilan.  Anies-Sandi sebagai orang yang dipercayakan oleh mereka memimpin mereka, dapat menggunakan energi ini.  Anies-Sandi bisa mengalihkan warga DKI umat 212 dari dakwah mencaci pemerintahan pusat menjadi DAKWAH BIL AMAL DAKWAH ON THE STREET dan DAKWAH ON THE RIVER.  Jika dua hal ini saja berhasil ditertibkan oleh Gubernur Anies-Sandi saya yakin warga #JKT42 pun pelan-pelan akan #moveon dan mingkem.  SELAMAT BEKERJA DAN BERSINERGI DENGAN #UMAT212 Membangun Jakarta yang Nyaman dan Tertib! Hidup Pak Anies-Sandi!

Bagian III: Menjadi orang berkarakter dan berbudaya di Jepang

08_04_18 13.30 Office Lens

Bagian III dari buku ini karya teman saya Murni Ramli ini membahas tentang teknologi, pendidikan, dan karakter moral.  Bahasan disajikan dalam 10 bab mulai bab 7 sampai dengan bab 17.

Tentang teknologi, hal yang menarik dikemukan oleh penulis adalah “Jepang menyiapkan dahulu budaya sebelum membangun infrastruktur dan teknologi. Pada zaman Edo masyarakat Jepang melakukan revolusi mental menciptakan sosok berdisiplin tinggi dalam penggunaan waktu, kerja keras, dengan karakter seperti ini lahirlah teknologi seperti pedang, keramik porselin, boneka robot dan lainnya. Namun teknologi juga mengubah budaya masyarakat Jepang.  Misalnya bagaimana kehadiran shinkansen telah mengubah pola hidup masyarakat menjadi serba cepat, mengakibatkan pola makan juga serba cepat, waktu makan dipercepat menjadi 10-15 menit agar pada siang hari, pada saat jam kerja tidak mengantuk.  Pola hidup serba cepat memerlukan kepraktisan, berdasarkan kebutuhan ini lahir teknologi baru yaitu makanan serba instan.

Bagaimana warga Jepang bisa menjadi warga negara yang tertib? halaman 202 penulis menuliskan “Tahun 1960-an, awalnya penerapan hukum lalu lintas dilakukan dengan kekerasan misalnya dengan menampar atau memukul warga yang melanggar.  Hukuman keras dihilangkan ketika masyarakat Jepang terbiasa mematuhi aturan.  Kepatuhan atas aturan ini juga dicapai karena proses pendidikan moral dan karakter dimasukan ke sekolah.

Bagaimana pendidikan moral dan karakter dibelajarkan di sekolah? Bagaimana semesta mendukung moral dan karakter peserta didik? Penulis memaparkan sebagai berikut:

  1. Tiga dimensi pendidikan di Jepang: tubuh-jiwa-otak.  Ketiga dimensi diberikan, namun tidak rata, diberikan sesuai tingkatannya. Makin tingkat atas porsi makin besar untuk otak, makin tingkat bawah porsi lebih besar untuk tubuh.  Ini sebabnya di tingkat TK anak-anak lebih banyak bermain olah raga dari mulai naik titian, meloncati penghalang, dan gerak fisik lainnya.
  2. Pendidikan prilaku dilakukan dengan pembiasaan, mengucap sambil mengerjakan,  mengapa dilarang-mengapa harus begini, menempel slogan, life skill… (pada halaman 292-293 penulis menyajikan tabel tema2 pada pelajaran life skill untuk SD), budaya membaca (jangan kaget satu bulan buku siswa Jepang membaca lebih dari 16 buku per bulan).  Buku biografi tokoh merupakan buku yang banyak ditulis untuk membangun karakter.
  3. Karakter di mulai dari orang dewasa.  Orang dewasa menjadi contoh bagi anak-anak.  Anak-anak dan orang dewasa mempunyai pemahaman yang sama.  Pemahaman didasarkan pada manfaat yang mereka rasakan yaitu kenyamanan.  Jika anak dan orang dewasa di Jepang ditanya “mengapa harus antri?” jawaban mereka karena kalau tidak antri akan merugikan orang lain dan suasana menjadi kacau.  Mengapa harus bersih? karena bersih membuat mereka tidak cepat sakit dan sakit membuat mereka menderita karena tidak bisa beraktifitas.  Tidak ada jawaban anak dan orang dewasa yang menyebutkan karena alasan agama atau peraturan, semuanya atas kesadaran dan manfaat yang mereka rasakan.
  4. Fasilitas mendukung pembangunan karakter. Tidak ada fasilitas umum yang dicorat-coret oleh warga, karena di setiap fasilitas dipasang CCTV sehingga pelaku dan perusak fasilitas umum akan mudah dibekuk polisi.  Karakter 3R muncul karena setiap tempat umum disediakan tong sampah 4 jenis.
  5. Sistem kemasyarakatan yang berjalan sangat baik.  Supaya masyarakat antri ketika masuk kereta, maka jalur-jalur penanda antrian dibuat dan kereta berhenti tepat di jalur-jalur tersebut tanpa meleset sedikitpun.
  6. Orang sekampung turut bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Ada kegiatan dimana para orang tua membuat komunitas membantu anak-anak agar dapat bersekolah dengan baik.  Misalnya komunitas ini membantu anak yang terlihat kurang sehat di sekolah, ternyata anak tersebut tidak pernah sarapan karena orang tuanya pergi bekerja pagi-pagi sekali.

Halaman 327-347 menceritakan lebih menarik bagaimana studi kasus untuk contoh-contoh pembelajaran karakter ini di sekolah.

Pada persekolahan penulis juga menjelaskan kurikulum di Jepang dan bagaimana rapor di Jepang yang bersifat kualitatif terutama di tingkat dasar, tidak ada nilai-nilai yang berupa angka.  Rasanya membaca sendiri bukunya lebih menarik karena disertai dengan contoh-contoh, sayangnya paparan dari beberapa deskripsi tersaji tersebut akan sulit terbayangkan jika kita sendiri belum pergi ke Jepang dan melihat langsung kehidupan di sana.  SELAMAT MEMBACA DAN MENIKMATINYA!

Let’s stop the radicalism!

Ketika BNPT merilis PTN terpapar radikalisme.  Rilis ini tidak diterima begitu saja oleh beberapa kampus termasuk forum rektor, juga oleh kampus seperti IPBITS, dan UNAIR.    Namun ada pula universitas yang langsung responsif diantaranya UI, UGM, UNS, UB, dan UNDIP,   ada yang bagus yaitu mengakui secara sportif bahwa memang kampusnya terpapar radikalisme diantaranya ITBWalaupun rektor menampakkan tiga sikap yang berbeda yaitu #denial, #responsif, #nrimo, harus diyakinkan bahwa setiap rektor tidak akan tinggal diam untuk terus membersihkan radikalisme di kampus-kampus PLAT MERAH ini. Kampus-kampus ini tetap jadi kampus terbaik untuk mencetak intlektual-intelektual yang berbakti pada nusa, bangsa, dan agama.

Sebagian lini masa meminta kejelasan definisi dari radikalisme itu apa? Untuk yang meminta definisi kamus oxford mendefinisikan radikalisme sebagai:

The beliefs or actions of people who advocate thorough or complete political or social reform. ‘his natural rebelliousness found an outlet in political radicalism’

artinya kurang lebih keyakinan atau tindakan seseorang yang memprovokasi perubahan sosial politik secara kaffah atau menyeluruh.  Keyakinan atau tindakan ini akan mengarah pada sebuah pemberontakan.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia radikalisme didefinisikan sebagai berikut:

Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Dari dua definisikan tersebut diambil kesimpulan bahwa radikalisme itu mengacu pada “PEMIKIRAN”. Bukan sembarang pemikiran, tapi PEMIKIRAN INGIN MENGUBAH TATANAN SOSIAL POLITIK SECARA KAFFAH.  Dengan definisi bahwa radikalisme adalah keinginan mengubah tatanan politik secara kaffah maka mudah kita menentukan siapa saja dan gerakan apa saja yang selama ini menginginkan tumbangnya NKRI PANCASILA.

Sebetulnya sangat mudah mengidentifikasi pemikiran radikal itu apa cirinya: (1) Mereka yang selalu mencela pemerintahan sekarang dengan pemerintahan Thougut atau pemerintahan kufur. (2) Mereka yang menginginkan berdirinya negara islam Indonesia baik dalam bentuk jamiiah islam, immamah, khilafah, atau sultoniyah. (3) Mereka yang mencela orang-orang yang bukan golongan mereka sebagai orang kafir, munafik, atau komprador.

Apakah kampus terpapar pemikiran seperti ini? Ini adalah sedikit kisah di IPB dengan gerakkan islam transnasionalnya pada tahun 1990-an.

HTI di IPB

HT sejak datang ke Indonesia pertama kali diemban oleh mahasiswa IPB masuk secara formal melalui Badan Kerohanian Islam (BKI) dan Responsi Agama Islam pada tahun 1990 sudah menggunakan acuan Nidzamul Islam karya Syekh Taqiyuddin Annabhani (pendiri HT di Yerusalem). Dari cerita selama di BKI saya tahu bahwa pada zaman ketua BKI IPB dipegang oleh Muhammad Al Khoththoth 1985-1986,   jaringan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS LDK) dimanfaatkan untuk menebarkan pemikiran HT ke seluruh Indonesia.  IPB tidak bisa #denial atau #malu mengakui bahwa HIZBUT TAHRIR di Indonesia memang lahir, tumbuh, dan membesar karena memanfaatkan jaringan formal dan informal yang ada di IPB. Sumpah penegakkan khilafah islamiyah oleh peserta FS LDK se-Indonesia 2016 membuktikan bagaimana sebagian mahasiswa IPB menjadi ‘leader’ penegakkan khilafah islamiyah di Indonesia.  Mengakui bahwa IPB telah menjadi “kawah candridimuka” bagai pengkaderan, pertumbuhan, dan perkembangan Hizb Tahrir di Indonesia bukanlah sebuah aib.  Selanjutnya IPB bergerak, membersihkan HTI di kampus, bekerjasama dengan kepolisian dan BNPT.  Sangat disadari selama 30 tahun lebih IPB membudidayakan Hizb Tahrir di Indonesia, tentulah tidak mudah membersihkannya. Tidak mudah membersihkan debu yang sudah menebal selama hampir 30 tahun.  Perlu dukungan dan bantuan semua pihak.  Saya selalu yakin jajaran IPB akan selalu terus menerus berupaya membersihkan radikalisme yang berasal dari HTI di kampus tercinta.  Siapapun yang terpapar HTI di kampus, harus kita anggap sebagai KORBAN yang patut diselamatkan untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Ikhwanul Muslimin di IPB

Gelombang akhwat berkerudung panjang dan akhi berjengot yang suka menundukkan pandangan, mulai marak pada angkatan pada angkatan saya 1990 dan sesudahnya.  Zaman saya mereka kita sebut POKJA (Kelompok Jakarta) atau tarbiyah, karena rata-rata mereka berasal dari SMA di Jakarta atau Depok. Masuk IPB mereka sudah punya style seperti itu, sepertinya mereka sudah terkaderisasi sejak SMA.  Masuk ke IPB dengan gelombang yang cukup besar untuk mewarnai IPB.  Belakang teman-teman yang aktif di POKJA/Tarbiyah selama mahasiwa menjadi anggota dewan dari PKS.  Walau acapkali menolak dihubungkan dengan Ikhwanul Muslimin, namun dari tokoh panutan dan imam besar tak dapat di pungkiri Tarbiyah, PKS, KAMMI, dan Ikhwanul Muslimin merupakan satu bangunan (baca riset mahasiswa UIN Makasar).  Gerakan tarbiyah menjadi mendominasi di IPB setelah berhasil mengambil alih DKM Al Ghifari dengan responsi agamanya dari dominasi HTI (sekitar tahun 1993/1994).  Jika BKIM punya jaringan FS LDK yang terbentuk sejak 1985/1986.  Maka DKM Al Ghifari IPB mengutus Edi Chandra dalam inisiasi pendirian KAMMI 1998.   Ikhwanul Muslimin belum dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia, namun dibeberapa negara seperti Bahrain, Mesir, Rusia, Arab Saudi, Suriah dan Uni Emirat Arab, partai ini dianggap sebagai kelompok teroris yang dilarang.

Jika radikalisme mengacu pada kelompok dakwah yang berasal dari Gerakan Transnasional model HTI atau IM, maka berapa tingkat paparannya dikalangan mahasiswa? Berdasarkan studi kasus di kelas angkatan saya yang terdiri dari 59 orang, maka yang terpapar radikalisme sebesar 44%.  Jurusan saya ini memang jurusan yang paparannya berat, pada jurusan lain jumlahnya sebetulnya lebih sedikit dari jumlah tersebut. Mengacu pada hal ini jumlah yang terpapar sebetulnya bukanlah jumlah dominan.

Walaupun jumlah tidak dominan tetap saja setiap kampus pada saat ini saya yakin sedang bekerja dalam membersihkan semua aktifitas terkait gerakan islam transnasional ini? Mengapa pembersihan giat dilakukan? Ini karena mereka yang terpapar radikalisme baik dari HTI maupun IM umumnya selalu kontraproduktif terhadap kebijakan pemerintah, siapapun pemerintahannya bukan hanya Jokowi, termasuk kepada SBY dulu,  Kita masih ingat betapa bapak SBY dibuat pusing oleh koalisi PKS yang selalu menentang kebijakkan SBY, partai tergabung pemerintah rasa oposisi. Apalagi sekarang oposisi terhadap pemerintah, makin menjadi-jadi.  Jika kita masuk pada gerakan transnasional seperti ini, selain memperkuat ibadah mahdoh, otak kita dicuci untuk melakukan “tebar opini” mengkondisikan Indonesia dalam perang pemikiran.  Lisan dan tulisan dianggap sebagai jihad yang lebih tajam daripada pedang. Jihad pemikiran untuk memutuskan kepercayaan umat kepada pemerintahan saat ini, untuk kemudian umat menyerahkan kepercayaan kepada gerakan transnasional ini, pada saat itulah mereka akan mengubah ideologi NKRI Pancasila.  Tahap Tafa’ul atau tahap Gozwul Fikr/ideologi ini mengakibatkan polemik dan keresahan secara ideologi di masyarakat.  Pemerintah akan disibukkan dengan agenda mengatasi perang pemikiran ini.  Akibatnya Indonesia tidak bisa #moveON bergerak menjadi negara maju.  Kita banyak disibukkan untuk mengcounter dan menyelesaikan permasalahan akibat perang ideologi.  Padahal permasalahan ideologi itu sudah selesai! SUDAH SELESAI PADA SAAT PARA ULAMA INDONESIA DAN KOMPONEN BANGSA LAINNYA MEN-SAH-KAN PANCASILA DAN UUD 1945 SEBAGAI DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA.  Seharusnya kita bergerak maju, membangun bangsa, mengejar ketertinggalan dari bangsa lain, sehingga bisa memposisikan diri sejajar sebagai bangsa besar di dunia. Bukan kembali lagi ke-era sebelum 1945.

Bayangkan energi yang besar dari lulusan PTN hebat itu jika menjadi duta bangsa, pengembang iptek, penjaga moral bangsa….potensinya begitu besar! Sayang potensi besar dari lulusan terbaik PTN di negeri ini, jika terperosok pada aliran #gantiIdeologi akan menjadi penantang paling lantang terhadap segala kebijakan pemerintahan, tidak pandang bulu…jika kebijakkan itu sebuah kebaikan, maka akan senantiasa dicari sela-sela keburukannya, agar punya amunisi untuk memutuskan kepercayaan umat terhadap pemerintah yang berkuasa.  Apakah “memutuskan kepercayaan umat terhadap pemerintahan yang berkuasa di Indonesia” menjadi sasaran dari PTN di Indonesia?  Tentu saja bukan.  PTN punya VISI mulia untuk turun menjaga NKRI dan Keberlanjutan Pembangunan di NKRI, maka penting untuk selalu melakukan upaya-upaya untuk membersihkan, mencegah, dan menangkalnya.  Bagaimana cara kita turut membantu menghentikan radikalisme?

  1. Stop jadi “vocal minority”  yang selalu membela eksistensi #radikalismeKampus, hanya  karena isu ini menguntungkan secara politik.
  2. Komponen alumni  PTN dan masyarakat sebagai “sillent majority” harus kencang dalam bersuara Religius Yes! NKRI Pancasila Yes! Radikal No!
  3. Diskusi keluarga harus terus dihidupkan, berdasarkan pengalaman saya selama tahun 1991-1995, teman-teman sekelas  yang tidak kos atau bermukim bersama orang tuanya, tidak ada yang terpapar radikalisme (tingkat paparan 0%).
  4. Mahasiswa yang kos dengan pengetahuan agama minim, yang jauh dari orang tua yang terkena paparan radikalisme. Mahasiswa kos namun yang berlatar belakang santri NU, atau orang tuanya berlatar belakang NU atau Muhammadiyah, mereka pun tidak ada yang terpapar radikalisme.  Hal ini karena mereka memiliki dasar keagamaan yang kuat. Orang tua yang memiliki anak kos, harus sering melakukan pengecekan dan nasehat atau peringatan “Awas, jangan sampai terbawa-bawa aliran-aliran radikal, jauhi pengajian-pengajian politik yang menjelek-jelekkan pemerintahan dan pancasila. Ingat NKRI dan pancasila ini juga perjuangan para Ulama yang lebih tahu agama ketimbang kita!” Peringatan seperti ini terus menerus diulang-ulang setiap orang tua menengok dan menelepon, umumnya peringatan seperti ini ampuh pada anak-anak kita yang mahasiswa.
  5. Bagaimana dengan mahasiswa yang sudah terlanjur terpapar radikalisme? Perlu dilakukan ‘CAMP’ untuk mencuci kembali otak mereka.  Dan membuat perjanjian untuk tidak terlibat dan memutuskan hubungan dengan jaringan gerakkan radikalisme.  Jika masih bersikukuh terlibat dalam jaringan radikalisme, tindakan tegas bisa saja diterapkan para rektor. Ini semua tentu untuk menyelamatkan masa depan para mahasiswa tersebut. Pun jika dia anak kita, maka mengobrol mendalam dengan si anak, jika kita kurang pengetahuan tentang hal ini bisa dibawa ke beberapa ulama atau memasukkan mereka ke ‘pesantren NU’.

Para rektor di PTN, saat ini terus melakukan pembersihan ‘radikalisme di lingkungan kampus’.  Dosen ASD/PNS merupakan komponen yg perlu juga dibersihkan.  Beberapa dosen plat merah terpapar radikalisme sejak mahasiswa, mereka adalah kader potensial bagi gerakkan dakwah transnasional, bahkan diantara mereka masuk dalam jajaran pengurus gerakkan dakwah tersebut.  Apa yg mereka lakukan sebetulnya sudah melanggar SUMPAH PNS pada saat awal mereka ttd ketika lolos dari CPNS menjadi PNS. Tidak hanya rektor yg ditekan tapi kemenristek dan kemenag serta BKN dapat memanggil dosen2 tsb minta mereka komitmen “keluar dari PNS karena tetap menjadi simpatisan bahkan partisan gerakkan dakwah transnasional, atau tetap dari PNS stop jadi simpatisan dan partisipan gerakkan dakwah transnasional” tindakkan tegas ini perlu dilakukan pemerintah karena gerakkan dakwah transnasional ini ibarat kanker dalam NKRI.  Apalagi posisi sebagai dosen yg punya akses besar dalam rekuitmen kader dan simpatisan di kalangan mahasiswa.  TEGAS ITU HARUS!

Orang tua juga memperkuat deradikalisme di rumah.  Deradikalisme ini bukan hanya tugas rektor, polisi, dan BNPT tetapi juga tugas kita selaku orang tua anak-anak kita.  RELIGIUS YES! NKRI PANCASILA YES! RADIKAL NO!

Serial Kehidupan di Jepang: Bagaimana guru mengajar pendidikan moral?

PIC_0905.jpeg

Dari mana semua sikap dan karakter orang Jepang dibentuk? Salah satunya dari asupan pengetahuan selama di sekolah melalui pembelajaran moral.  Pembelajaran moral diberikan sebanyak satu jam setiap minggu.  Satu jam setara dengan 50 menit.  Bagaimana sekolah mengelola satu jam ini?  Buku moral pegangan peserta didik berupa cerita-cerita moral harian.  Namun bukan sekedar cerita, tetapi cerita yang menimbulkan konflik kognitif.  Guru menyampaikan cerita itu di kelas, bagaimana cara guru menyampaikannya? Inilah pengamatan kami pada pembelajaran moral di SD Afiliansi Toyama University.

Apersepsi: Guru mengingatkan pengalaman pribadi peserta didik.  

Guru :  Pernahkah kalian mengalami berjanji dengan seseorang, dan orang itu melanggarnya? Bagaimana perasaan kita saat itu?

Peserta didik: Sedih, kok bisa gitu!

Guru:  Hari ini kita akan membahas mengenai hal ini.  Silahkan maju ke depan empat orang. Satu orang sebagai narator, satu orang berperan sebagai Kasumi, satu orang berperan sebagai Sakura, dan satu orang berperan sebagai ibu Kasumi.  Guru meminta peserta didik yang telah maju untuk membacakan adegan 1 dari cerita Buku Harian Sakura.  Peserta didik yang lain pun membaca buku masing-masing.

Bagian 1. Buku Harian Sakura

Hari Jumat pulang sekolah janji dengan Kasumi pergi ke festival Yosakoi.

Kasumi : Hari ini kan ada festival.  Temanku ikut menari pada festival Yasokai dari jam enam.  Kita lihat sama-sama Yuk!

Sakura: Ayo…ayo…jam berapa kita ketemu?

Kasumi: Ibuku mungkin harus pergi bekerja, saya akan tanya duli nia, nanti saya telepon ya!

Sakura: Baiklah! saya tunggu telepon ya!

Tiba di rumah pukul 4:30.  Menyelesaikan PR di kamar sampai pukul 5 lebih gak ada telepon dari Kasumi.  Di tanya ke Ibu pun katanya dari tadi telepon tidak berdering. Karena merasa aneh saya telepon ke rumah Kasumi.

Ibu Kasumi: Kasumi sekarang sedang disuruh belanja, seharusnya sudah pulang…

Sakura: Kalau begitu tolong sampaikan bahwa saya menunggu di taman biasa jam 5.30.

Bersiap-siap, kemudian jam 5.30 pergi ke taman, Ksumi tidak datang juga.  Waktu terus berlalu, semakin mendekati jam 6, acara Yosakoi akan dimulai, kalau tidak cepat tidak akan keburu.  

Sakura: Ngapain sih Kasumi, dia sendiri yang ngajak, janji menelepon gak menelepon, datang ke taman juga tidak.

Karena Kasumi tidak datang, akhirnya Sakura memutuskan pergi ke festival sendiri. Di perjalanan ketika melihat para festival, …di sana ada Kasumi.  Kasumi menyapa saya.

Kasumi: Sakura! maaf ya saya ……….!

Sambil pura-pura tidak kenal, saya mengomel dalam hati. 

Sakura: Apaan sih, udah melanggar janji, sekarang mau ngapain lagi. Udah! Saya gak mau ngomong lagi sama Kasumi.

Guru menanyakan kepada peserta didik. “Sakura marah kepada Kasumi, bagaimana menurut anak-anak?”

Peserta didik ada yang menjawab kasihan Sakura,  Kan Kasumi juga punya alasan….

Guru kemudian meminta lagi tiga orang peserta didik untuk maju ke depan.  Tiga orang berperan sebagai narator, Kasumi dan Ibu Kasumi.  Mereka membacakan Buku Harian Kasumi.  

Bagian 2. Buku harian Kasumi.

Hari Jumat pulang sekolah, janji dengan Sakura pergi ke Festival Yasakoi.  Sampai rumah pukul 4.30, pas mau nanya ibu, ibu malah minta tolong saya untuk berbelanja.

Ibu: Kasumi, bisa tidak cepat tolong ibu berbelanja! ibu lagi tanggung, ini tidak bisa ditinggalkan.

Kasumi: Aduh bagaimana ya? Telepon Sakura ah, nanti mungkin agak telat. 

Saya coba telepon Sakura, tapi tidak ada yang mengangkat.  Apa boleh buat saya cepat-cepat pergi berbelanja. Supermarket sangat penuh, ngantri lama di kasir.  Pada saat keluar supermarket, waktu sudah cukup lama berlalu.  Saya cepat-cepat pulang ke rumah.  Sampai rumah ibu bilang….

Ibu:  Wah lama juga ya.  Tadi Sakura telepon, katanya dia menunggu di taman biasa jam 5.30.

Kasumi:  Wah kacau, saya membuat dia menunggu, saya harus cepat-cepat.

Saya lari tergesa-gesa keluar rumah menuju taman, tapi Sakura tidak ada.  

Kasumi: Apa sudah duluan ya? Tetapi kok dia seenaknya menentukan jam ketemuan sendiri secara sepihak.  Saya juga kan udah buru-buru.

Saya menunggu sebentar di Taman, tapi karena waktu parade dimana teman saya ikut menari sudah tiba, saya pergi ke tempat festival.  Di perjalanan bertemu sakura.

Kasumi: Sakura! maaf ya,….saya……!

Saya sudah mencoba untuk minta maaf tapi Sakura malah buang muka. 

Kasumi: Saya juga kan punya alasan datang terlambat. Kan gak ada salahnya dia mendengar alasan saya dulu.  Ya, sudah saya gak mau ngomong lagi sama Sakura.

Guru menanyakan kepada anak-anak, “Bagaimana menurut kalian mengenai tindakan Sakura?”

Peserta didik ada yang menjawab wajar kalau marah, gak betul kalau marah tanpa mendengarkan dulu alasannya.

Guru kemudian menyakan kepada peserta didik, “Bagaimana caranya agar hubungan mereka tidak retak?”

Peserta didik ada yang menjawab menelepon dengan baik, jangan cepat marah dengarkan alasan orang lain.

Guru mengingatkan kembali kehidupan diri sendiri masing-masing, menyadarkan perlunya berdiri di pihak orang lain atau berpikir dari sudut pandang orang lain, dan tenggang rasa.

Guru mennanyakan pada peserta didik, pernah tidak mengalami kejadian serupa? 

Dua orang peserta didik menceritakan pengalaman mereka.

Guru kemudian menanyakan, bagaimana caranya agar tidak terjadi permusuhan seperti cerita Sakura-Kasumi, apa yang sebaiknya dilakukan. Guru meminta peserta didik menuliskan pendapatnya pada buku mereka.  Kemudian mempresentasikan jawaban di depan kelas dan didiskusikan.

Hasil presentasi dan diskusi disimpulkan bagaimana meningkatkan tenggang rasa, jalan cepat marah, berusahan mendengarkan orang lain.

Pembelajaran moral yang disajikan tema: Salah Paham.  

Target: Menumbuhkan prilaku atau hati yang dapat memberikan tenggang rasa, sehingga dapat berpikir atau melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain dengan memikirkan mengapa terjadi kesalahpahaman antara Sakura dan Kasumi.

Keterkaitan dengan kurikulum pembelajaran moral:  Memiliki hati tengang rasa kepada siapapun, berlaku ramah berdiri di pihak orang lain atau memahami sudut pandang orang lain. 

Me and Radicalisme #Part02

Ok, pada tulisan ini saya bahas bagaimana perkenalan saya dengan paham radikalisme di IPB.  Sebelumnya sudah saya ceritakan bahwa pintu masuk pertama radikalisme di IPB pada tahun 90-an adalah responsi agama yang diasuh oleh para assisten agama.  Bagi beberapa orang responsi agama ini sukses menghantarkan mereka pada pengajian lebih khusus, bagi saya yang tidak mudah menerima sebuah paham karena sudah punya paham sebelumnya tentu tidak mudah.

my stories

Namun, jangan anggap jalur formal itu satu-satunya cara.  Ada jalur informal lainnya, yaitu melalui DAURAH dan SANLAT secara informal.  Saya berkenalan dan berliqo dengan gerakkan cabang Ikhwanul Muslimin atau Tarbiyah di IPB melalui daurah yang saya ikuti.  Lalu berkenalan dengan hizbut tahrir pun melalui sanlat yang diadakan.

Perkenalan dengan tarbiyah. Adalah teman saya satu kelompok.  Selepas pembagian transkip tingkat I, dia mengajak saya untuk ikut daurah.  Dia memang lebih dulu kenal dengan kakak kelas, tempat kost-annya memang multi angkatan dan rerata kakak kelas itu berkerudung panjang.  Daurah atau dikenal dengan Mabit itu dilaksanakan di sebuah lembaga pendididkan di Pasir Kuda Ciomas.  Kita ditempatkan disalah satu bangunan.  Selama tiga hari kita dibina oleh mbak-mbak dari UNJ, sepertinya tahun 90 itu belum ada kader akhwat mumpuni dari IPB, sehingga mbak-mbak UNJ yang isi.  Mbak-mbak dari IPB hanya fasilitator saja.  Lepas dari dauroh itu, dibentuk kelompok-kelompok pengajian kecil yang disebut liqo. Liqo dibimbing Murobi (Mentor) kakak kelas angkatan 26 yang juga orang Bandung.  Kegiatan ngajinya seminggu sekali, yang diberikan adalah ma’rifatullah, ma’rifatul rasul, ma’rifatunabi….  mengajinya kalau menurut saya mah membosankan.  Mengapa? Murobi memperkenalkan sedikit materi lalu meminta kita membaca ayat-ayat yang relevan dengan topik tersebut.  Acapkali ayat yang dirujuk maknanya gak nyambung.   [Oh ya, walaupun saya masuk di sini, tapi saya tetap ngaji tafsir Jalalain ba’da subuh di Bapak, karena bahasa arab saya belepotan saya cuma dengerin aja kajiannya, gak berani ikut-ikutan baca hehehe.  Tapi paling tidak karena ngaji sedikit tafsirnya, penjelasan Murobi yang kurang masuk akal jadi tak mudah saya terima].  Murobinya bermuka masam, kalau kita banyak bertanya.  Pada waktu itu, saya berpikir di ‘liqo‘ ini dilarang jadi orang kritis.  Dengan pola pengajian seperti membuat saya ‘bete’ sekaligus khawatir, saya punya prinsip kalau menukil ayat gak boleh sembarangan harus tahu tafsirnya. Kalau sembarangan nanti bisa jatuh sama ta’wil.

Perkenalan dengan Hizbut Tahrir.  Pada saat yang sama setelah saya ikut Daurah, teman saya itu pun ngajak juga saya ikut SANLAT yang diadakan oleh mbak-mbak yang kebanyakan assisten PAI.  Waktu itu dalam hati saya, yeahhh kena lagi nih.  Selepas dari SANLAT itu pun lanjutannya adalah pembentukan kelompok kecil yang mereka sebut halqoh. Halqohdibimbing Musyrifah (Mentor).  Halqoh seminggu sekali, untuk tahap perkenalan ini kami diminta melalukan kupasan isu-isu aktual dengan merujuk pada berbagai sumber bacaan.  Pengemasan halqoh oleh Musyrifah sangat kreatif, melatih daya analisis.  Tak jarang pertanyaan-pertanyaan nyeleneh saya pun ditanggapi dengan serius dan rujukan yang baik.  Pertanyaam tentang banyaknya golongan-golongan yang menyeru pada islam ditanggapi dengan mengupas ‘makna bahasa dari QS Ali Imron 104’.  Cara menukil al quran mirip Kyai yang biasa ngisi kajian tafsir jalalain.  Keterbukaan dan Musyrifah yang tidak alergi dengan pertanyaan2 saya membuat saya lebih tertarik ikut kajian dalam Halqoh daripada Liqo.

Pelan-pelan saya menjauhkan diri dari Liqo dengan jarangnya ikut kajiannya.  Teman se-liqo saya yang tahu gelagat saya. Mulai mengingatkan, “Yan, kamu jangan terlalu banyak ikut pengajian. Nanti kamu pusing!”  Saya hanya tersenyum, dalam hati saya, saya cuma ikut 3 kajian saja liqo yang membuat bete, halqoh yang menantang daya kritis, dan ngaji sama Kyai seperti biasanya kebiasaan di kampung saya dulu juga begitu, yang dikaji juga sama Jalalain.

Masuk semester 4, ketika saya harus pindah kampus dari Baranangsiang ke Dramaga.  Saya pamit sama teman saya [Bukan sama Murobi hehehe], saya keluar dari Liqo.  Namun saya tetap melanjutkan Halqoh.  Pada Halqoh inilah kemudian saya mengkaji aneka kitab gundul keluaran Hizb Tahrir, kitab yang dikaji adalah Nidzomul Islam, Ma’rifatul Hizbut Tahrir, Takatul Hizbi, Nidzomul Ijtimai (Sistem Pergaulan), Nidzomul Ihtisody (Sistem ekonomi), Nidzmul Hukmi (Sistem Pemerintahan), dan Syakhsiyah Islamiyah (Kepribadian Islam).  Untuk sekaliber orang Indonesia yang bahasa arabnya belepotan satu kitab tipis dikaji 1 tahun, maka 1 kitab tebal bisa 2-3 tahunan.  Mungkin bagi orang pesantrenan yang baca kitab dan paham bacaannya lebih baik, bisa lebih cepat.  Apakah isi kitab itu menyimpang dari Islam? Tidak semua kitab itu dirujuk dari sumber-sumber shahih dan bisa dikatakan sebagai sebuah kekayaan pengetahuan islam.

my opinion

Dimana sisi radikal dari kedua gerakkan ini?

  1. Tarbiyah, sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin yang ingin mendirikan Jamiah Islamiyah (mirip Khilafah Islamiyah yaitu Negara Islam Internasional yang satu) dengan terlebih dahulu mendirikan negara Islam termasuk di Indonesia.  Dakwah dimulai dengan keluarga (untuk membentuk keluarga, secepatnya para anggota pengajian dijodohkan dengan anggota pengajian lainnya), lalu bi’ah [lingkungan masyarakat yang islami di suatu perumahan mereka akan melakukan dominasi], dan terus ke negara-negara melalui partisipasi politik sebagai partai, kalau presiden sudah dari golongan mereka begitupula negara lainnya maka akan disatukan menjadi jamiah islamiah.  Disinilah letak bahaya ideologinya.  Selain itu sikap #NO-Cooperative dengan yang tidak sekelompok menjadi bahaya tersendiri terhadap multikulturisme.  Kebencian mereka terhadap kaum Nasrani dan Yahudi menurut saya sudah keterlaluan.  Ayat yang dijadikan rujukan adalah QS Al Baqoroh “Wa lan tardo anka Yahudi wa Nasrani hatta tatabia milatahum” “walladzinaa kafaruu aliyauhum thoguutu. Lalu semua produk dari mulai KFC, A&W, McDonald ….pokoknya yang dianggap produk Nasrani atau Yahudi sepertinya dianggap nazis yang tidak boleh disetuh.  Disentuh aja gak boleh apalagi diajak kerjasama.  Muslim yang kerjasama dengan Non muslim mereka sebut Thogut. Dulu teman saya sepengajian liqo, dengan seenaknya mengejek teman Nasrani dan sekelompok teman muslim bersamanya dengan sebutan ‘tauge’.   Terus terang, ketika saya mendengar ungkapan ‘tauge’ saya langsung risih.  Sebagai anak yang besar dari keluarga nasionalis, yang dari kecil diajarkan untuk menghargai perbedaan suku dan agama demi persatuan Indonesia.  Ini menggelitik kalbu saya.  Panggilan “Ukhti wa Akhi” hanya disematkan pada golongan pengajian mereka.  Ketika kita di luar atau sudah keluar dari pengajian itu, panggilan itu tidak berlaku lagi.  Pemerintahan yang berkuasa jika pemimpinnya bukan dari kalangan mereka, akan disematkan sebagai pemerintahan Thogut.  TERTUTUP TIDAK MAU MENERIMA PENDAPAT ULAMA LAIN, BAHKAN mereka alergi pada ULAMA NU.  “Semua salah kecuali kelompok saya [paham ini bisa dibaca dari buku Menuju Jamiah Islamiyah]”  Maka saya tidak heran kalau diantara teman saya ini menyebutkan Golkar, PDIP, atau partai nasionalis lainnya dengan sebutan partai tauge.  Lalu menyebut NU sebagai ahlul bid’ah, Hizbut Tahrir sebagai gerakan sesat, ….. “Semua salah, kelompok saya yang benar…. kalau ada hadits Umat Islam terbagi menjadi 73 golongan dan yang benar adalah 1 saja, maka kelompok inilah yang ngaku 1 itu”   –   Kelompok yang tidak memahami esensi dari Ali Imron: 104, dalam ayat ini siapa saja yang menyeru pada al khoir, u’laikahumul (mereka-mereka semua itu, jama’) adalah beruntung.
  2. Hizbut tahrir. HT itu gerakan politik yang bertujuan mendirikan khilafah islamiyah, deklarasi 2012 sangat nyata Ustadz Labib Rahmat sebagai pimpinan HTI menyatakan Indonesia bisa dijadikan  titik tolak berdirinya Khilafah Islamiyah, potensinya ada 73% masayarakt berdasarkan hasil survei PPIM UIN Jakarta ingin syariat islam diterapkan.  Kitab-kitab HTI itu bagus-bagus isinya, namun jika menginginkan pengajian untuk menguasai kitab-kitab itu, HTI hanya membuka kajian untuk mereka yang mau berjuang mendirikan khilafah.  HT bukan lembaga ta’lim tapi gerakkan politik untuk memperbaharui sistem kafir [sebutan buat sistem bukan islam].  Melayani mereka yang hanya ingin mengkaji kitabnya saja, hanya ingin ta’lim saja, hanya buang-buang waktu.  Yang lebih diinginkan adalah orang-orang yang mau bersama-sama memperjuangkan khilafah islamiyah baik sebagai anggota (syabab) atau penolong dakwah mereka.  Memperjuangkan khilafah islamiyah inilah yang disebut dakwah.  Dan salah satu sifat yang ditekan dalam gerak hizbut tahrir adalah #NOCOMPROMAISE, tidak ada kompromi dan tidak berkompromi.  Mereka mengatakan orang-orang muslim yang mau berkompromi sebagai munafik atau komprador.

Ada jutaan kebaikan ketika kita mengaji di Tarbiyah dan HTI, kita termotivasi beribadah secara rajin, berakhlaktul karimah, dan berpegang teguh pada syariat islam. Namun keduanya adalah gerakan politik dan ideologi. Gerakan yg punya tujuan menggantikan pancasila dan NKRI sebagai dasar dan bentuk negara. Sifat sebagai gerakan politik ideologi inilah yg berbahaya. Jamiah islam atau khilafah islamiyah bagi mereka bukan sekedar knowledge namun cita-cita perjuangan.

Refleksi

Untuk kasus IPB secara formal gerakkan radikalisme ini masuk secara formal melalui Responsi Agama Islam oleh DKM Al Huriyah/Al Ghifari  dan Unit Kegiatan Mahasiswa Badan Kerohanian Islam.  Bahkan dari IPB pulalah Hizb Tahrir tersebar ke semua Lembaga Dakwah Kampus di Indonesia melalui Forum Silaturahmi LDK.

Secara tidak formal melalui interaksi aktivis Hizb Tahrir atau ikhwanul muslimin di rumah kos dengan anggota kos terutama adik kelas.  Ada diantara rumah kos dijadikan sebagai rumah binaan.   Jika seseorang  masuk ke rumah kos seperti ini maka 90% akan menjadi kader masa depan aktivis gerakkan ini.  Selain itu kegiatan daurah atau sanlat (pesantren kilat) pada saat liburan atau bulan ramadhan menjadi pintu masuk pengkaderan.

Berdasarkan hal ini, maka IPB memang dapat melakukan restrukturisasi Pendidikan Agama Islam, DKM Al Huriyah/Al Ghifari, dan BKIM IPB untuk mengurangi tumbuhnya paham radikalisme di kampus.  Namun tampaknya jalur non formal yaitu aktifitas di rumah kos dan kegiatan daurah – sanlat yang diselenggarakan pada saat liburan atau ramadhan di luar wewenang IPB.

IPB perlu memberikan penguatan wawasan Pancasila dan NKRI pada para mahasiswa.  Pemberian wawsan kebangsaan haruslah dikaitkan dg esensi syariah islam dengan mengundangan ulama-ulama NU. Misalnya perlu penekanan bahwa sumber syariat islam ada empat 1) al qur’an 2) as sunah 3) qiyas 4) Ijma para ulama.  Mengingkari ijma ulama akan membawa kebahayaan bagi bangsa Indonesia.  Ulama dari NU, Muhammadiyah, SI, Al Arsyad… adalah para wakil umat islam pada BPUPKI dan PPKI, ulama berijma pada 1945 untuk menerima pancasila dan NKRI sebagai dasar dan bentuk negara Indonesia.  Menghianati pancasila dan NKRI merupakan bentuk ketidakpercayaan kita terhadap para Ulama.  Padahal #BelaUlama pernah dilakukan berjilid-jilid oleh sebagian umat muslim.  Tentu #belaUlama haruslah konsisten dilakukan, bukan hanya membela satu pernyataan yg menguntung gerakan politik islam radikal saja tapi juga bela pancasila dan NKRI buah perjuangan para ulama indonesia. Halaqoh kebangsaan di IPB perlu dihidupkan untuk meminimalisir radikalisme.

Sebagai anak yg lahir dari keluarga nasionalis terbisa dg hidup multiethis dan keluarga yg kuat dalam memegang teguh toleransi. Berada di IPB memang tak nyaman, pada awal perkuliahan tempat duduk lelaki dan perempuan wajib terpisah kiri dan kanan. Muslim berkumpul dg muslim pun begitu non muslim, keduanya saling mencurigai. Mahasiswa muslim yg berkawan baik dg non muslim akan dipandang dg pandangan hina. Pelajaran PAI makin menguatkan eksklusifisme antara muslim vs non muslim. UKM yg menampung multietnis seperti UKM SENI DAN OLAH RAGA sangat minim. Maka wajar jika pada jaman saya halqoh dan liqo lah yg marak dijalani mahasiswa IPB. IPB pada era 90-an menjadi lingkungan yg tidak sehat bagi tumbuhnya multikulturisme dan toleransi, semoga pada saat ini berubah menjadi lebih baik.

Kajian DKM Al Huriyah perlu diubah, melibatkan para Kyai NU yang banyak di sekitar kampus IPB untuk mengisi kajian Tafsir Jalalain atau Ibnu Katsir tiap subuh.  Kajian ihya ulumuddin ba’da magrib juga akan sangat bagus untuk mengimbangi pikiran radikalisme yang marak di kampus.  Sebagai catatan pada tahun 90-an, para mahasiswa/i yang rajin ngalong bersama para Kyai di pesantren sekitar kampus mempunyai daya retensi yang tinggi terhadap radikalisme di kampus.

Wallohualam bi sawab.

Me and Radicalism #Part01

Jika radikalisme didefinisikan dengan….”In political science, the term radicalism is the belief that society needs to be changed, and that these changes are only possible through revolutionary means” maka definisi ini tentu saja cocok disematkan pada gerakan-gerakan islam ideologi.

Mystory I:

Sewaktu SMA saya termasuk peserta di Rohis sekolah walau tak bisa disebut sebagai aktifis, karena sampai akhir SMA saya tak pernah terlibat dalam kepengurusan Rohis.  Disinilah saya kenal istilah pemerintahan THOGUT yang disematkan pada pancasila.  Disini juga ghirah kami terbakar dengan cerita-cerita heroik dari Hasan Al Bana, Zainab Al Ghazali, dan Sayid Qutb.  Tak jarang teman ikhwan kami bersitegang dengan guru PMP saat itu.  Mentor yang datang ke sekolah saat itu sebagian besarnya kakak-kakak yang kuliah di UNPAD, hanya satu saja yang bukan UNPAD yaitu Aa Gym waktu itu masih berstatus mahasiswa tingkat akhir UNJANI. Kang Agym lebih banyak melakukan netralisir terhadap ide Kakak2 UNPAD.  Suatu kali selepas Kang Irfan memberikan materi tentang daulah-daulah, Kang Agym sudah hadir di mesjid sekolah, dan ketika beliau memberikan materi Beliau berkata, “Aduh berat amat materinya ya! Nah, Aa mah giliran yang ringan-ringan sajalah”.  Aa Gym lebih banyak membahas tentang Akhlak.  Kakak2 UNPAD itu juga aktifis remaja mesjid di Mesjid Agung, akhwatnya berpakaian jubah panjang dan kerudung panjang.  Saya pernah sekali ikut mabit di Mesjid Agung, dan pernah pula ikut kajian singkat pengkaderan mereka.  Saat itu kami dibawa ke sebuah rumah, entah dimana letakknya.  Selama tiga hari kami dijejali materi…. diantara materi itu adalah “Potensi Indonesia sebagai wilayah tempat bangkitnya Islam kembali.  Sang Mentor mengisahkan posisi Indonesia yang berada diantara AS dan Unisoviet [Saat itu tahun 1987, tentu saja Uni Soviet masih eksis, Uni Soviet runtuh tahun 1991] sangat persis sama dengan posisi arab saudi diantara Persia dan Romawi. Melalui pemetaan itu, kami diyakinkan bahwa Indoensia adalah lokasi tempat berdirinya daulah islamiyah sebuah negara baru yang berasaskan syariat islam, negara ini akan menggantikan negara Indonesia yang berasaskan pancasila”

Walau sudah melalui mabit dan pengkaderan, saya tidak tertarik ketika diajak untuk bergabung lebih intensif oleh teman-teman SMA saya yang lebih dahulu bergabung di dalamnya (Dari peserta ROHIS ada sekitar 4 orang angkatan saya yang tergabung dalam kajian intesif bersama kakak mahasiswa UNPAD).  Mereka memang mengajak saya, untuk ikut kajian lebih intensif.  Namun, saya menolaknya. Alasannya….

Selain ikut rohis di SMA, saya pun mengikuti kegiatan mentoring di SALMAN ITB.  Mentor-mentor ITB ini lebih memacu saya untuk menjadi ilmuwan muslim.  Mereka menggambarkan bagaimana perkembangan teknologi dan minimnya partisipasi muslim di dalamnya.  Sebagai anak yang punya ketertariakan terhadap sains dan teknologi, saya tentu lebih tertarik fokus tembus UMPTN agar bisa menjadi ilmuwan muslim.  Lagu BIMBO berjudul “Aisyah adinda kita……” menjadi inspirasi saya saat itu.

Saat itu teman saya yang sudah terkader lebih dulu, mengajak saya ngobrol berdua dengannya di ruang rohis.  Dia cerita banyak hal.  Namun, saya katakan pada teman saya, “Saya mau jadi ilmuwan muslimah, saya menolaknya untuk memperdalam kajian islam bersamanya!”

Alasan lainnya, sebetulnya ada.  Namun tidak saya kemukakan ke teman saya itu, takut dia tersinggung.  Alasan lainnya adalah pengajian yang diberikan Kakak2 UNPAD itu aneh.  Mereka bilang kita belum dapat predikat ISLAM, karena kita belum bersyahadat.  Rukun islam pertama itu Syahadat, karena islam keturuan kita tak pernah disyahadatkan.  Islam kita dianggap tidak syah dan harus syahadat ulang.  Bahkan dengan eksreem kakak Mentor mengatakan “Abu Lahab dan Abu Jahal itu mu’min tapi bukan muslim” (seumur SD-SMP dan ngaji di Madrasah juga denger ceramah kyai kampung dan para Kyai yang suka ceramah di radio, bahkan HAMKA yang tiap jumat di TV, baru kali itu saya denger kalau Abu Lahab dan Abu Jahal Mu’min).   Ketika ditanya, “Pada siapa kita harus bersyahadat?” Mereka bilang, kita harus bersyahadat pada orang yang pernah bersyahadat langsung pada Rasulullah saw. Ketika kita tanya, apa memang masih ada orang seperti itu? Siapa orangnya?  Mereka hanya menjawab, ada…dari kalangan kita nanti akan diberitahukan.  Tapi nanti….   Menurut saya ini agak aneh alirannya, gak seperti umumnya islam, yang paling penting dalam logika anak SMA saat itu, saya pikir aliran ini membuat hidup jadi ribet.  Belakangan ketika kuliah salah seorang teman saya yang juga pernah mengalami hal yang sama mengatakan bahwa aliran yang meminta syahadat ulang itu dinamakan JK (Jamaah Kerosulan).

Ketidakmauan saya mengikuti pengkaderan oleh JK, menyebabkan saya tidak pernah terlibat dalam kepengurusan ROHIS SMA.  Jadi jika dikatakan sebagai aktifis Rohis, mungkin saya tidak terkatagori ini, saya hanya pernah menjadi FOLLOWER ROHIS SMA.

Refleksi

Apakah ROHIS SMA menjadi sasaran empuk masuknya radikalisme yang akan menggoncang ideologi pancasila? Pengalaman saya mengatakan IYA! Alumni yang mendapatkan gerakan islam ideologi selama di kampus, melakukan pengkaderan pada adik-adik kelas di SMA.  Karena Alumni, mudahlah bagi mereka masuk ke sekolah menggarap ROHIS.  Banyak SMA terutama negeri (SMAN) menjadi sasaran karena lemahnya pengawasan para guru dalam kegiatan ekstrakurikuler.  Banyak ekstrakurikuler dibina oleh para alumni pun termasuk Rohis.  Tidak seperti ekskul lain yang alumninya mengajak adik-adik SMA-nya untuk mendapatkan tropi kejuaraan, alumni di ekskul ROHIS mengajak adik-adik kelasnya masuk aliran-aliran islam ideologi.      ROHIS SMAN dijadikan kawah candradimuka, pengkaderan awal oleh gerakan islam ideologi.  Kemendikbud, Kemenag, dan para kepala sekolah/madrasah tentu saja harus mewaspadai hal ini.  ROHIS di SMAN harus direformasi dan difokuskan pada pencapaian prestasi dari sisi keagamaan, bagaimana dari ekstrakurikuler ini lahir qiroaah dan hafizul qur’an (kalau untuk jadi Mubaligoh tidak mungkin perlu ilmu alat yang mumpuni yang hanya bisa dilakukan di pesantren), SMAN harus menyediakan guru atau pelatih profesional yang bisa membimbing peserta dalam latihan qiroah dan hafizul qur’an bukan dilepas begitu saja sehingga dimanfaatkan oleh para alumni melakukan mentoring keagamaan memasukkan ideologi-ideologi radikal.  Bukankah kedudukan ekstrakulikuler itu untuk meningkatkan raihan prestasi non akademik dari peserta didik? Berapa banyak qoriah dan hafizul qur’an yang sudah dihasilkan oleh ROHIS SMA? Berapa banyak alumni ROHIS SMAN yang berhasil masuk ke Musabaqoh Qur’an tingkat daerah dan nasional? Jika ekskul pencinta alam di SMA memiliki prestasi dalam menaklukkan gunung-gunung dasar, maka apa prestasi ROHIS? Jika indeks keberhasilan ekskul pramuka pada berapa banyak peserta lolos Jambore tingkat nasional dan internasional, apa indikator untuk ROHIS? Pun jika indeks keberhasilan ekskul paskribaka adalah berapa peserta lolos jadi pengibar bendera di tingkat daerah dan nasional yang menjadi kebanggan sekolah setiap tanggal 17 Agustus, maka apa indeks keberhasilan ROHIS?  Jangan sampai indeks keberhasilan ROHIS SMA “Berapa banyak peserta didik yang berhasil menjadi kader gerakan-gerakan islam ideologi?”  Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya ROHIS SMAN telah dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan islam ideologi.  Alih-alih memperkuat karakter kebangsaan dengan 18 karakter yang telah dicanangkan kemendikbud, segelintir peserta didik yang aktif di ROHIS ini akan menjadi penantang nyata untuk NKRI. Inilah yang menyebabkan Kemendikbud, Kemenag, dan para kepala sekolah-sekolah negeri perlu melakukan reformasi terhadap ROHIS di sekolah.

MySTORY II:

1990, saya lolos UMPTN walaupun bukan pilihan pertama, saya masuk IPB.  Di kampus ini saya tidak tertarik aktif di kerohisan.  Namun, pada saat saya TPB (tingkat I) ospek-ospek yang diadakan kampus tidak memperkenalkan kami pada UKM.  UKM yang saya kenal di IPB saat itu hanya lawalata, MENWA, BKI (Kerohanian Islam), dan Paduan Suara.  Lebih miskin daripada kegiatan ekskul waktu saya di SMA yang beragam jenisnya mulai dari Tari, Basket, Volley, Silat, KIR, Paduan Suara, PKS (Polisi Keamaan Sekolah), PMR, Pramuka, Paskibra, Pencinta Alam, …. dan lainnya.  Masa TPB ada pelajaran agama islam.  Sistem di IPB, setiap pelajaran ada responsi yang dipegang assisten.  Dosen mengajar 100 menit di kelas, dan 100 menit lagi diajar assisten dengan waktu yang disepakati.  Begitu pula dengan PAI, kami mendapatkan assisten seorang ikhwan dan akhwat.  Kuliah agama tak ada masalah, mungkin karena saya lebih banyak bolos atau tidur saat kuliah, jadi saya tak pernah terlalu menyimak apa isi kuliah, kuliah pun diberikan oleh 1 orang dosen dengan 120 mahasiswa dalam kelas, jadi kebayangkan? mau tidur pun gak ketahuan, dan saya memang tukang tidur di kelas, apalagi posisi barisan tengah dekat jendela dengan angin semilir bertiup hehehe. Namun responsi agama itu menyusahkan, acapkali saya tak paham apa yang sedang dijelaskan para asissten itu.  Mungkin mereka kelewat pintar, sehingga saya tak bisa menangkap.  Ketika mereka meminta membuatkan rangkuman tentang materi yang telah diberikan sang assisten, saya membuat rangkuman dengan judul sama namun materi yang saya rangkumkan dari buku mentoring di SALMAN ITB yang saya kaji selama SMA. Sampai-sampai assiten mengomentari hasil rangkuman saya, darimana ini dapatnya?  Namun dari dulu sampai kini, saya punya prinsip.  Saya tidak akan menyajikan sesuatu pada orang lain, sesuatu yang tidak saya pahami.  Penjelasan assisten agama itu tidak saya pahami, sehingga saya tak memberikan rangkuman sesuai materi yang mereka telah terangkan.

Belakangan hari saya baru paham, bahwa buku yang dijadikan rujukan oleh para assisten agama islam di IPB adalah “Nizhamul Islam karya Syekh Taqiyuddin Annabhani”  Buku yang sulit dipahami karena secara mendasar meredefinisi kembali aqidah islam kita.

Bersambung ke #Part02 “Bagaimana saya berkenalan dengan aliran-aliran radikal di IPB?

 

Bagian II: Menjadi orang berkarakter dan berbudaya Jepang

08_04_18 13.30 Office Lens

Ini bagian kedua dari tulisan pertama, bagian kedua akan membahas bab 4-6 pada buku karya Murni Ramli.  Bagian ini akan membahas dari aspek geografi dan sosial masyarakat Jepang.

Kita senantiasa berpikir bahwa penduduk Jepang itu cuma sedikit, padahal penduduk jepang itu 1/2 dari penduduk Indonesia loh, yaitu sekitar 127 juta terbagi menjadi 47 prefecture (Indonesia sekitar 250 juta, terbagi dalam 34 Propinsi), dengan 5 pulau besar (Hokaido, Honshu, Shikoku, Kyushu, dan Ryuku) dengan 35.000 pulau kecil (Indonesia punya 14 pulau besar dengan jumlah pulau kecil 17.503).

Ada tiga suku di Jepang yaitu Yamato (dominan), Ainu, dan Ryukyuan.  Kita dulu mengenal orang Jepang orang kate karena pendek2, Murni Ramli pada bukunya halaman 105 menuliskan pada masa sekarang rerata lelaki jepang umur 30 mempunyai tinggi 171,4 cm sedangkan wanitanya 158 cm (Lebih tinggi dari hasil penelitian tinggi lelaki Indonesia tinggi 162,4 cm dan perempuan 151, 3 cm).

Orang Jepang selain karakter fisik yang hampir sama, juga mempunyai karakter sikap yang sama.  Baik berdasarkan opini kebanyakan orang yang bergaul dengan orang Jepang, maupun pada faktanya beberapa sikapnya adalah: jujur, disiplin, detail dalam berkarya, tidak mau merepotkan orang lain, dan pekerja keras.  Pertanyaan kita kemudian apakah ini sikap atau tingkah laku yang lahir secara genetis? Bukan! Penulis memaparkan pada halaman 111 pada zaman Edo, Taisho, dan Meiji orang Jepang ternyata bukanlah komunitas disiplin dalam bekerja, Misthubishi melaporkan tahun 1898 tingkat absensi diperusahannya 21%.  Menghargai waktu,  pada era sebelum perang Jepang juga sama dengan Indonesia, kereta sering terlambat.   Penulis memaparkan disinyalir kebiasaan ini muncul karena pameran tepat waktu dan efesiensi yang silakukan oleh Toyko Educational Museum.  10 juni 1920 ditetapkan secara nasional waktu dalam sehari.  Ada beberapa sifat lain orang Jepang diantaranya adalah tertutup (uchigawa & sotogawa), senioritas, menjaga perasaan lawan bicara … ada hal yang menarik dari sikap orang jepang yaitu:

Mencintai keharmonisan, kondisi damai, dan tidak suka konflik diistilahkan dengan heiwa. Sikap ini menjadikan orang Jepang tidak suka jika dalam suatu tim ada yang merasa lebih unggul dan dia mau menunjukkan diri unggul dengan menganggap teman lainnya saingan atau berkompetisi.  Orang semacam ini akan membahayakan keharmonisan tim, sehingga harus diketok dalam pepatah jepang ada istilah “deru kui wa utare” [paku yang menonjol harus diketok]. Efek dari ‘heiwa’ ini mereka menjadi orang yang rendah hati dan sederhana. Bukan pemandangan aneh para dosen di Jepang menggunakan sepeda ke Kampus, kecuali dosen yang rumahnya berbeda kota. Menggunakan tas yang sudah ditambal berkali-kali karena robek.  Tidak hanya para dosen, sikap sederhana juga ditunjukkan oleh para anggota dewan di Jepang.  Kursi-kursi yang mereka gunakan melapuk dan menua, warna sandaran dan tempat duduk punsudah memudar. Semua dibiarkan saja dari sejak gedung parlemen berdiri, mungkin ini menjadi bukti bahwa mereka benar2 memperjuangkan rakyat.

Tampaklah bahwa sikap bekerja masyarakat Jepang bukan lahir dari genetik, namun sebuah proses yang panjang membentuk sikap tersebut.  Paling tidak sejak revolusi Industri atau perang dunia mereka menginisiasi sikap bekerja disiplin, menghargai waktu, dan bekerja semangat.

Beberapa sikap lainnya lahir dari agama Budha atau ajaran Kong Hu Chu seperti heiwa, hidup sederhana, dan menjaga perasaan orang lain.  Ada juga sikap yang memang lahir secara naluriah misalnya senioritas dan tertutup.

Namun beberapa sikap orang Jepang pada generasi milenia beberapa mulai memudar, misalnya sifat sederhana dan gambarimasu (kerja keras).  Generasi di Jepang pada zaman milenia penulis membaginya menjadi 8 generasi yaitu posmo, ojoman, arubaito, komunitas terpelajar, diam & cuek, konsumtif, otaku, dan neet & Freeter. Tentang kondisi sosial generasi milenia ini diuraikan panjang lebar pada halaman 171-192.

To be continue ke bagian III tentang Teknologi dan Pendidikan di Jepang.

 

 

 

Bagaimana Jepang menciptakan manusia berkarakter dan berbudaya?

08_04_18 13.30 Office Lens.jpg

Bagian I: Fondasi pembangunan karakter di Jepang.

Saya dapat kiriman buku dari sahabat saya Murni Ramli judul bukunya “Menjadi Orang Berkarakter dan Berbudaya di Jepang”  Buku ini menjawab pertanyaan “Bagaimana Jepang menciptakan manusia berkarakter dan berbudaya?”  Tentu saja dengan perspektif sebagai orang indonesia.  Bukunya mengkaji secara lengkap dari mulai fondasi sampai dengan interior didalamnya.

Dua bab pertama dari buku memaparkan fondasi dari penciptaan karakter manusia jepang.  Fondasi dari pembangunan karakter di Jepang itu apa? Penulis memaparkan bahwa pembangunan karakter di Jepang adalah proses panjang dari mulai era Tokugawa (sekitar abad ke 16 M tepatnya 1603-1867).  Setiap jaman pemerintahan Jepang sangat peduli dengan pendidikan moral. Pendidikan moral merupakan sarana membentuk karakter orang-orang Jepang.  Jika zaman Edo sampai dengan Meiji pendidikan moral masyarakat Jepang dipengaruhi oleh Agama yang berkembang di Jepang yaitu Budha Shinto atau Konfusianisme (Kong hu Chu).  Namun setelah perang dunia kedua, dengan masuknya pengaruh AS, pendidikan moral orang di Jepang pun dipengaruhi oleh teori-teori barat tentang moral seperti Piaget, Kohlberg, … Kini pengaruh teori asia timur dan barat disatukan oleh Pakar Pendidikan Moral, dengan rumusan aspek kesadaran moral meliputi empat hal yaitu (1) Kesadaran pribadi, (2) hubungan dengan orang lain, (3) hubungan dnegan masyarakat/kelompok, (4) hubungan dengan alam/dunia.  Pendidikan moral di Jepang setelah perang dunia kedua mempunyai misi “menumbuhkan individu yang akan menjadi masyarakat dan warga negara demokratis dan damai, dengan menghapuskan unsur-unsur perang dan kepatuhan pada Kaisar”.

Sekilas rumusan aspek moral ini sama dengan rumusan dalam islam tentang tugas pokok manusia yaitu: Hambluminnalloh, Hablumminnannas, dan habluminnaalam.  Namun Jepang tidak memasukkan hubungan dengan tuhan sebagai sebuah landasan pendidikan moral.  Ini semua karena pemerintahan Jepang tidak menetapkan satu agama sebagai keyakinan mayoritas penduduknya, agama adalah keyakinan pribadi tidak harus diurusi pemerintah. Kebijakan ini menyebabkan tidak ada data jumlah penduduk beragama tertentu di Jepang.  Dan tentu saja tidak ada kolom agama dalam setiap form identitas di Jepang.  Kebijakan ini membuat masyarakat Jepang tidak fanatik pada agama tertentu, ketika lahir seorang anak akan diadakan upacara sesuai agama Shinto, ketika meninggal dia akan dikremasi sesuai agama budha, beribadah di rumah altar budha dan shinto ditempatkan berdampingan, dan ketika menikah akan merasa keren (Kakoi) dengan menikah di Gereja.  Maka ketika orang-orang jepang di Tanya apa agama kamu? lihat ini: THAT JAPANNESE MAN YUTA . That’s Jepang! Seketika saya pun teringat, lagu John Lenon “imagine no religion…living life in peace!” Tampaknya John Lennon terinspirasi dari Yoko Ono isterinya yang berasal dari Jepang ketika membuat lirik ini.

To be Continue, bagian selanjutnya akan dijelaskan tentang bagian II: Geografi, Sosial Budaya, dan Teknologi di Jepang.