NKRI dikepung Neo NII?

Pilpres berakhir, perhitungan suara sedang dilakukan. Hitungan cepat menunjukkan kemenangan bagi Pasangan Jokowi KH Ma’ruf Amin. Seperti umumnya pilpres lalu, perkiraan hitungan cepat yg bersifat sampling mungkin tidak melesat dari perhitungan populasi data. Hal yg menarik dari hitungan cepat adalah kenaikan suara PKS.

PKS adalah gabungan dua partai yaitu Partai Keadilan (kepanjangan dari partai Transnasional Ikhwanul Muslimin) dan Partai Islam Sejahtera (partai mengusung ideologi dan gerakan NII/DI TII). Kenaikan suara PKS saat ini tak lepas dari dukungan suara dari FUI FPI dan HTI, konon HTI pada kali ini memperbolehkan anggotanya mencoblos, dan partai yg paling memungkin dicoblos anggota HTI setelah PBB membelot ke kubu 01 adalah PKS. Masuknya suara FUI, FPI, HTI pada PKS tidak mengubah ideologi PKS, tapi justeru memperjelas ideologinya. PKS adalah partai yg memperjuangkan tegaknya NEGARA ISLAM INDONESIA, jika pimpinan tertinggi Republik ini sudah berada di tangan PKS maka akan dibentuk UNITED ISLAMIC STATE (Jamiatul Muslimin) dengan menggabungkan beberapa negara lain yg dipimpin anggota ikhwanul muslimin lainnya. Pada saat ini negara yg dipimpin kader Ikhwanul Muslimin adalah Turki oleh Erdogan (inilah sebabnya peserta liqo PKS selalu mengelu2kan Erdogan sebagai presiden mereka), sebentar lagi Malaysia dg Anwar Ibrahim. Konsep Jamiatul muslim ini mirip dg konsep Khilafah HIzbut Tahrir.

Berapa kekuatan mereka yg punya cita2 NEO NII di Indonesia. Jika didasarkan pada perkiraan QC antara 7-9% pemilih (jumlah pemilih 2019 sekitar 133 juta), maka jumlah mereka sekitar 12 juta orang. Ada 12 juta orang dewasa yang merupakan simpatisan, anggota, dan kader dari NEO NII. Jumlah yg harus diperhitungkan dg baik bagi eksistensi NKRI.

Bukankah mereka juga menerima NKRI PANCASILA? Menerima tapi tidak berhenti memperjuangkan agar Indonesia dihukumi dengan hukum islam dan semua jabatan diisi oleh muslim dari golongan mereka.

12 juta itu kecil? Iya, kecil tapi mereka paling riuh di media sosial, karena sebagian besar dari mereka dari kaum intelektual lulusan perguruan tinggi. Dan di kehidupan nyata mereka militan selalu memainkan politik identitas dan memberikan pada pengikutnya jaminan masuk surga, sehingga mampu menggolkan calon pemimpin apapun kondisinya seperti kasus 02 menjadi pemimpin yg islami dan ulamai dengan modal Ijmak para Ustadz dan tebar isue ‘Jokowi bagian dari Soekarnoisme yang mana PDIP diidentikan dengan PNI yang pernah bersatu dengan PKI“, lalu mengajak masyarakat memilih 02 dengan alasan didukung para Ustadz dan tidak ada kaitannya dengan PKI.  Padahal secara akal sehat 01 malah berpasangan dengan Ulama, dan platform Gerindra tak jauh beda dengan PDIP juga PSI. Maka kita bisa menyaksikan pengaruh 12 juta ini bisa mempengaruhi masyarakat di 14 propinsi yaitu Aceh, Riau, Sumbar, Sumsel, Bengkulu, Banten, Jabar, NTB, Gorontalo, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Selatan. Ada 42% wilayah di Indonesia yg berhasil digiring dalam isu agama, jangkauan wilayah meningkat 10-15% dari tahun 2014 dengan beberapa wilayah terparah pengaruh Radikalisme Isu Agama Islam dalam pemilu yaitu di Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Kalaimantan Selatan, Maluku Utara, dan NTB.

Jika melihat Sejarah NII di Indonesia tentu kita tidak terkejut. Aceh bersama Teungku Daud Beureuh pernah mendeklarasikan NII, Sumbar-Jambi-Riau pernah jadi pusat PRRI/PERMESTA, Jawa Barat juga pernah jadi Basis pemberontakkan DII/TII. Maluku Utara sampai saat ini masih ada Kesultanan Ternate.

Jika Indonesia dipecah jadi negara2 kecil, maka diperkirakan wilayah2 ini akan jadi kerajaan atau kesultanan Islam. Nah, merawat Indonesia dengan keberagamannya tentu bukan hal mudah bukan? Inilah sebabnya 1945 Para Ulama berijmak “PANCASILA adalah dasar negara yg bisa mempersatukan keberagaman” dan “NKRI adalah bentuk negara yg mewadahi keberagaman dari 33 propinsi”. Akankah NKRI PANCASILA yg mewadahi keberagaman di Indonesia tetap eksis ditengah gempuran keinginan untuk melakukan Islamisasi Sistem Kekuasaan?

Semuanya akan berpulang pada warga negara Indonesia. Mampukan bertahan merawat NKRI dengan keberagamannya atau rela dipecah belah oleh aliran-aliran Radikal Islam yang ingin mendirikan sekedar NKRI BERSYARIAH atau meluas menjadi UNITED ISLAMIC STATE (Jamiatul Muslimin ala Ikhwanul Muslimin) atau mengglobal menjadi Khilafatul Islamiah ala Hizbut Tahrir.

インドネシアの 地方の 祭り

私はボゴルに住んでいる。おもしろい町ね!ボゴルに二つ祭りあります。CAP GOMEH (道祭り) と HALERAN文化祭りです。

旧正月に道祭りがあります。午後3時から時午1前まで道祭りをします。CAPGOMEHとき、Suryakencana道 (LawangSaketeng)が賑やかです。LiongBarong踊るがあります。面白い踊るですからいろいろ人が見ます。

町誕生日にHALERAN文化祭りがあります。Haleranは アートパフォーマンスと文化のパレード です。文化のパレードにいろいろ文化があります。Sudirman道からSEMPURフィールドまでいろいろ文化が歩きます。SEMPURフィールドにいろいろアートパフォーマンスがあります。

好きじゃないボゴル祭りがゴミです。ゴミの整理することが悪いです。皆人はゴミを持ち帰りません。ゴミステーシンがありません。

東京の上のパーク 2018年9月16日

日本の祭りにゴミの整理することがいいです。日本の祭りでゴミステーシンがあります。ゴミステーシンで皆人はゴミを捨てます。日本でゴミの整理することを勉強しましょう!

動物になったら

ハチになります。ハチが怖くても、優しいです。ハチがみだしたら,ハチがおこります。怒ることが怖くて痛いです。はちはアレルギー人を刺すと死にます。ハチが怖いね。ハチがみだしなかったら、大丈夫です。ハチが優しいね.

ハチが面白い動物です。はちみつを作り出します。はちみつが甘くて元気です。皆ははちみつが好きです。ハチががんばります14.毎日行って働いてはちみつを作り出します。はち疲れません。

ハチはちさい飛行機です。翼があります。スピードで飛ぶことが12-20 キロメーター. 遠い飛ぶことが32 キロメーターぐらいです。どこへも行きます21.飛行機の切符のを買いません. ハチはスラバヤへ行くことが39時間(7日間)かかります.23.ボゴルから都響まで 5.776キロメーターです24.はちは日本へ行ったら日間かかります。ハチ生の時間は32日間です。だからハチは飛行機を乗ってください。

インドネシアの 公共交通機関

インドネシアにいろいろ公共交通機関あります。公共交通機関は何が好きですか?何が便利ですか?何をよく乗りますか?私はこの電車がとても好きです。のんで?考えてください!この電車の写真を見てください!あなたは何を見ますか?

1。公用車

3.000 – 5.000 ルピア

2。バス

3。電車

4。MRT

3月2019年MRTがあります。

今交響交通機関がいいですね!

シカ🦌:奈良とボゴル

奈良パークへ行った時、シカがたくさんいます。奈良のシカを見た時、ボゴルのシカを考える。奈良のシカとボゴルのシカは同じですか? これはシカの写真です。見てください!

(1)きれいな自然にシカがいます。

ボゴルのシカ奈良のシカ

(2)ボゴルのシカににんじんをあげます。奈良のシカにケキをあげます。

(3) 奈良のシカはホーンがいません。ボゴルのシカはホーンがいます。

(4) シカが可愛い動物です。人々はシカがとてもすきです。ボゴルに“Pagar”あります。奈良にPagarありません。

可愛シカでしょう?

私の花見

今年3月29日から4月3日まで私たちは京都へ行った。桜が満開でしょう。楽しかったです。私は花がとても好きです。花を見て、花の写真を取ることが好きです。花がきれいでしょう。

日本で私は桜を見た時、写真を取った。私の携帯にいろいろ桜がたくさんあります。たとえば京都の桜と奈良の桜と富谷図の桜とお大阪の桜です。

桜のインフォを探した。よかった!私の写真に四つ桜があります。

1。ソメイヨシノ「Somei Yoshino, bunga sakura umumnya yang dikenal luas」。色の満開桜がピンクから白いまで。花びらは5つがいます。

2。シダレザクラ「Shidarezakura, bunga sakura menangis」色の花はピンクです。花びらは5つがいます。花が垂れ下がる。

3。ヤエザクラ「yaezakura, sakura berkelopak ganda」色の桜はピンクです。花びらは5の倍数:10、15、20 … 50。

4。山桜「yamazakura, bunga sakura liar]. 色の桜は白いです。花と葉っぱがあります。

楽しかったね!今年桜を見た。

Kyouiku Mama: Prinsip hidup wanita Jepang

—Prof. Dr. Daoed Joesoep—mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Kompas Sabtu, 7 Juli 2007

Peran Ibu
Pada tahun 1996, pendidik Amerika dari Charlottesville Virginia, Tony Dickensheets, berkesempatan beberapa bulan menetap di Jepang. Selama itu, beliau berpindah-pindah tinggal di beberapa keluarga karyawan. Berdasarkan pengamatannya, dia berkesimpulan, unsur kunci dari economic miracle Negri Sakura ini ternyata telah diabaikan atau paling sedikit amat dianggap enteng, yaitu peran kyouiku mama atau education mama.
Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi Jepang yang luar biasa sejak tahun 1960, bukanlah hasil kebijaksanaan pemerintah melalui pekerja yang bersedia bekerja 16 jam per hari. Sementara para suami bekerja, para istri bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Dalam kapasitas sebagai ibu inilah para istri membaktikan hidupnya demi kepastian keturunan mampu memasuki sekolah-sekolah bermutu.
Maka dibalik karyawan Jepang yang beretika kerja terpuji itu ada perempuan umumnya, kyouiku mama atau education mama khususnya. Mereka inilah pilar-pilar kukuh yang menyangga para karyawan itu. Merekalah yang membantu perkembangan ekonomi yang luar biasa dari bangsanya sesudah perang dunia. Kerja dan pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat dalam jalannya pendidikan nasional dan stabilitas sosial, yaitu dua hal yang sangat krusial bagi keberhasilan ekonomi sesuatu bangsa.
Jadi, perempuan Jepang ternyata berperan positif dalam membina dan mempertahankan kekukuhan fondasi pendidikan dan sosial yang begitu vital bagi kinerja kebangkitan ekonomi bangsanya.Ketika saya sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan diundang untuk meninjau berbagai lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi negeri ini, saya kagum melihat kebersihan ruang laboratorium di sekolah umum dan bengkel praktik di sekolah kejuruan teknik.
Semua murid membuka sepatu sebelum memasuki ruangan dan menggantikannya dengan sandal jepit yang sudah tersedia di rak dekat pintu, jadi lantai tetap bersih bagai kamar tidur. Ketika saya tanyakan kepada guru yang mengajar di situ bagaimana cara mendisiplinkan murid hingga bisa tertib, dia menjawab, “yang mulia, saya hampir tidak berbuat apa-apa dalam hal ini. Ibu-ibu merekalah yang mengajarkan anak-anak untuk berbuat begitu.”
Saya teringat sebuah kebiasaan di rumah tradisional Jepang, alih-alih menyapu debu di lantai, mereka masuk rumah tanpa bersepatu/bersandal agar debu tidak masuk rumah. Bagi mereka, kebersihan adalah suatu kebajikan.
Di toko buku, saya melihat seorang ibu sedang memilih-milih buku untuk anaknya, seorang murid SD. Ketika saya sapa, dia menyadari saya orang asing, dia tegak kaku dengan senyum malu-malu. Ibunya datan dan mendekati dan menekan kepala anaknya agar membungkuk berkali-kali, sebagaimana layaknya orang Jepang memberi hormat, sambil mengucapkan sesuatu yang lalu ditiru oleh anaknya. Setelah mengetahui saya seorang menteri pendidikan dan kebudayaan, entah atas bisikan siapa, banyak anak menghampiri saya, antri, memberi hormat dengan cara nyaris merukuk, meminta saya menandatangani buku yang baru mereka beli.

Perempuan dan Pendidikan
Lebih daripada di negeri-negeri lain, kelihatannya sistem pendidikan dan kebudayaan Jepang mengandalkan sepenuhnya peran perempuan dalam membesarkan anak. Karena itu dipegang teguh kebijaksanaan ryousai kentro (istri yang baik dan ibu yang arif), yang menetapkan posisi perempuan selaku manager urusan rumah tangga dan perawat anak-anak bangsa. Sejak dulu filosofi ini merupakan bagian dari mindset Jepang dan menjadi kunci pendidikan dari generasi ke generasi. Pada paruh ke dua abad 20 peran kerumahtanggaan perempuan Jepang kian dimantapkan selaku kyouiku mama atau education mama. Menurut Tony Dickensheets hal ini merupaka “a purely Japanese phenomenon”.
Yang memantapkan itu adalah para ibu Jepang sendiri. Mereka menilai diri sendiri dan karena itu, dinilai oleh masyarakat berdasarkan keberhasilan anak-anaknya baik sebagai warga, pemimpin, maupun pekerja. Banyak perempuan Jepang menganggap anak sebagai ikigai mereka, rasionale esensial dari hidup mereka. Setelah menempuh sekolah menengah, kebanyakan perempuan Jepang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Jika di Barat ada anggapan perempuan berpendidikan akademis yang melulu tinggal di rumah membesarkan anak sebagai wasting her talent, di Jepang orang percaya, seorang ibu seharusnya berpendidikan baik dan berpengetahuan cukup untuk bisa memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya. Kalaupun ada ibu yang mencari nafkah, biasanya bekerja part time agar bisa berada di rumah saat anak-anaknya pulang sekolah. Tidak hanya untuk memberi makan, tetapi lebih-lebih membantu mereka menyelesaikan PR atau menemani mengikuti pelajaran privat demi menyempurnakan pendidikannya.

Membantu Ekonomi Bangsa
Perempuan Jepang membantu kemajuan ekonomi bangsa dengan dua cara, yaitu melalui proses akademis dan proses sosialisasi. Bagi orang Jepang, aspek sosialisasi pendidikan sama pentingnya dengan aspek akademis, sebab hal itu membiasakan anak-anak menghayati nilai-nilai yang terus membina konformitas sikap dan perilaku yang menjamin stabilitas sosial.
Mengingat kyouiku mama mampu membina kehidupan keluarga yang relatif stabil, sekolah tidak perlu terlalu berkonsentrasi pada masalah pendisiplinan. Lalu, para guru punya ketenangan dan waktu yang cukup untuk membelajarkan pengetahuan, keterampilan, kesahajaan, pengorbanan, kerja sama, tradisi dan lain-lain atribut dari sistem nilai Jepang.
Menurut Tony Dickensheets, sejak dini pelajar Jepang menghabiskan lebih banyak waktu untuk kegiatan sekolah daripada pelajar-pelajar Amerika. Lama rata-rata tahun sekolah anak Jepang adalah 243 hari, sedangkan anak Amerika 178 hari. Selain menambah kira-kira dua bulan dalam setahun untuk sekolah, sebagian besar waktu libur anak-anak Jepang diisi dengan kegiatan bersama teman sekelas dan guru. Bila pekerja/karyawan berdedikasi pada perusahaan, anak-anak berdedikasi pada sekolah. Mengingat tujuan sekolah meliputi persiapan untuk hidup bekerja, anak didik Jepang bisa disebut pekerja/karyawan yang sedang dalam proses training.
Walaupun pemerintah yang menetapkan tujuan sistem pendidikan Jepang, keberhasilannya ditentukan oleh orang-orang yang merasa terpanggil untuk menangani pendidikan. Jika bukan guru, sebagian terbesar dari mereka ini, paling sedikit tingkat pendidikan dasar, adalah perempuan, ibu-ibu Jepang, kyouiku mama. Mereka inilah yang membentuk masa depan Jepang, melalui jasanya dalam pendidikan anaknya,
Maka sungguh menarik saat di tengah gempita perayaan keberhasilan gadis Jepang menjadi Miss Universe 2007 di Meksiko, ada berita ibu-ibu Jepang mencela peristiwa itu sebagai penghargaan terhadap kesekian perempuan belaka, bukan penghormatan terhadap kelembutan dan prestasi keperempuanan Jepang.
Celaan itu pasti merupakan cetusan nurani kyouiku mama. Berita ini bisa dianggap kecil karena segera menghilang. Namun ditengah pekatnya kegelapan, sekecil apapun cahaya nurani tetap bermakna besar.

Logical Fallacy #Obrolanpagi1

Topik obrolan pagi ini dengan suami saya adalah Logical fallacy.  Obrolan berawal dari ‘curhat’ yang dicurhatin antara kita biasalah seputar kerjaan kantor dan tumbuh kembang anak-anak. Mostly sih suami curhat kerjaan kantor.

“Ini saya nugasin seseorang untuk mendaftar menjadi peserta lomba olimpiade guru, lalu dia berkata “Kenapa saya Pak? Kenapa tidak guru kelas 12 saja?” Saya katakan pada ibu tersebut, “Ini karena ibu merupakan guru terbaik yang kami pilih!”. Guru yang ditugaskan menjawab, “Berarti guru kelas 12 itu Jelek dong!

ちょうと。。。seketika pikiran saya mengaitkan dengan fenomena MEDIA SOSIAL terutama GROUP IKATAN ALUMNI yang isinya semua lulusan THE TOP 5 UNIVERSITY IN INDONESIA. Logika seperti itu sering diungkapkan mereka ketika diskusi apapun termasuk masalah politik.

Nah, menarik nih untuk menggali ‘behind the main‘. Kita diskusi dari kasus ini. Tentu saja sisi yang kita ambil adalah sisi logika matematika. Mari kita lihat logika berpikir guru tersebut:

  • Premis 1: Guru yang diutus menjadi peserta olimpiade adalah guru terbaik.
  • Premis 2: Guru kelas XI diutus menjadi peserta olimpiade.
  • Kesimpulan: Guru kelas XII adalah guru yang tidak baik.

Apakah logika guru ini dalam mengambil KESIMPULAN sudah tepat?

Seketika saya teringat logika itu mirip dengan fenomena masyarakat jelang pilpres ini, logika yang dibangunpun sama.

  • Premis 1: Pemimpin Indonesia haruslah orang yang mampu bekerja keras membangun Indonesia menjadi negara yang mandiri dan berdaulat.
  • Premis 2: Presiden Jokowi saat ini terbukti mampu bekerja keras menata Indonesia menjadi lebih baik.
  • Kesimpulan: Capres Prabowo tidak mampu bekerja keras membangun Indonesia.

Logika ini persis sama bukan?

Ini adalah sebuah LOGICAL FALLACY karena seseorang melihat dunia ini sekedar HITAM – PUTIH, dia tidak melihat bahwa diantaranya ada warna MEJIKUHIBUNIU atau warna pelangi. Logika rasional orang-orang ini terbelenggu pada ‘Right or Wrong’. Baginya hanya ada dua hal saja YES or Not. Dalam rasio berpikirnya tidak sampai bahwa fenomena jagat raya ini bisa dibuat ‘skala rating’ dari mulai tidak, kurang, sedang, baik, terbaik….dst. Bahkan dia tidak mampu melihat randomisasi sebuah fenomena. Rasionalisasi holistik berpikir orang seperti ini menjadi sangat lemah sekali.

LOGICAL FALLACY ini pun terjadi karena dia bersikap ‘BLAMING IDEALISM‘ bukan ‘REFLEKTIF FAKTUAL’, ketika mencermati fenomena dia cenderung melihatnya sebagai sesuatu yang idealis kemudian mencari apa atau siapa yang tertuduh, dia bukan orang yang mencermati fakta dan mengambil kesimpulan dari fakta tersebut. Maka jadilah kesimpulan-kesimpulan yang dia hasilkan berupa negasi-negasi seperti contoh di atas.

Bagaimana Kesimpulan jika seseorang melihatnya sebagai seorang yang Reflektif Faktual dan berpikir rasional holistik? Untuk kasus 1:

  • Premis 1: Guru yang diutus menjadi peserta olimpiade adalah guru terbaik.
  • Premis 2: Guru kelas XI diutus menjadi peserta olimpiade.
  • Kesimpulan: Guru kelas XI termasuk salah satu guru terbaik.[Kesimpulan yang dihasilkan bukan negasi dari kesimpulan ini. Bukan guru kelas lain tidak baik, guru kelas lain pun terbaik juga, guru kelas XI salah satunya].

Kesimpulan yang tepat akan melahirkan tindakan tertentu, maka tindakan guru yang logikanya Ok sebagai salah satu guru terbaik di sekolah ini saya berpartisipasi dalam Ikut Olimpiade Guru.  Dia akan ikhlas menjalankannya karena dia berpikir rasionalis holistis tanpa blaming idealis tapi reflektif faktual “oh iya memang saya layak dipilih untuk berpartisipasi dalam lomba”

Untuk kasus 2:

  • Premis 1: Pemimpin Indonesia haruslah orang yang mampu bekerja keras membangun Indonesia menjadi negara yang mandiri dan berdaulat.
  • Premis 2: Presiden Jokowi saat ini terbukti mampu bekerja keras menata Indonesia menjadi lebih baik.
  • Kesimpulan: Presiden Jokowi layak dipilih kembali menjadi pemimpin Indonesia. [kesimpulan yang dihasilkan bukanlah negasi dari kesimpulan ini. Bukan Prabowo tidak bisa bekerja keras, Prabowo pun layak dipilih dengan pertimbangan kerja keras yang sudah dilakukannya untuk Indonesia.]  

Kesimpulan yang tepat akan menghasilkan tindakan tertentu. Berdasarkan kasus 2 maka tindakan yang mungkin dilakukan seseorang adalah “Memilih kembali Pak Jokowi sebagai presiden berikutnya“. Dengan pemikiran yang rasionalis holistik bukan blaming idealis, keputusan ini akan diambil tanpa melakukan HATE SPEECH.

朝話すことが面白いです、でもふくざつなトピクですね。

Mengapa membenci pemerintahan Jokowi?

Kita tentu sering terheran-heran mengapa sebagian dari orang Indonesia sangat membenci pemerintahan Jokowi. Namun, keheranan ini sebenarnya gampang dijawab, penyebabnya adalah:

  1. Alasan politik: keinginan untuk berkuasa pada periode selanjutnya, yaitu #gantipresiden
  2. Alasan ideologi: keinginan untuk mengganti sistem pancasila dengan sistem lainnya seperti NKRI BERSYARIAH yang diperjuangkan FUI & FPI, Khilafah yang diperjuangkan HTI, dan Jamiatul Muslimin yang diperjuangkan PKS; atau #gantisistem.

Dan hal yang unik terjadi selama 2014 sampai kini (Januari 2019) adalah alasan politik ideologi ini bersatu dan berpadu dengan agenda yang sama #gantipresiden. Walaupun Pak Prabowo jelas-jelas menolak untuk melakukan #gantisistem, namun bagaimanapun para pejuang #gantisistem adalah garda terdepan yang mengeluarkan IJMAKUSTADs I&II, garda utama dalam memobilisasi masa 212 REUNION yang menghadirkan Capres02 pada podium, dan pasukan siber yang paling gigih menyebar berita yang mendeskriditkan pemerintahan Jokowi di media sosial.

Jika hanya sekedar alasan politik, seharusnya partai politik bisa menempatkan diri menjadi oposisi yang baik. Kritis terhadap pemerintah, Tak perlu sebar HOAX dan berbicara tanpa data. Bicara dengan data dan fakta, kritis habis kebijakan pemerintah tidak apa2. Itu yang dilakukan dengan cerdas oleh Gerindra dan PDIP tahun 2009-2014, sehingga kedua partai ini bisa memenangkan hati rakyat dengan terpilih sebagai partai pemenang pemilu bagi PDIP, dan Gerindra perolehan suaranya naik secara signifikan.

Bagi kelompok-kelompok #antiIdeologiPancasila mendukung gerakan #gantipresiden adalah pilihan tepat mereka, karena mereka merasa organisasi mereka dihancurkan oleh pemerintahan Jokowi dengan terbitnya PERPU yang kemudian menjadi UU ORMAS. Rasa dendam dan terancam atau SURVIVAL OF THE FITNESS atau GARIZAH BAQO adalah landasan mereka mendukung gerakan ini dan membenci pemerintahan Jokowi. Kelompok ini memainkan isu-isu diantaranya:

  1. PEMERINTAHAN JOKOWI MELAKUKAN KRIMINALISASI ULAMA Faktanya: ulama mana yang ditangkapin atau dijeblosin ke penjara oleh Pemerintah Jokowi? TAK ADA. Yang ada adalah HRS yang lari dari proses hukum, tidak siap menghadapi proses hukum. Adakah ustadz atau aktifis HTI yang dijebloskan ke penjara? Di negara Turki banyak aktifis Hizbut Tahrir yang dipenjarakan loh? Tapi tidak oleh Pemerintahan Jokowi. Apakah fakta ini mau diingkari?).
  2. Jokowi berutang banyak untuk pembangunan. Jokowi berutang untuk pembangunan infrastruktur yang dinikmati rakyat. Dengan pembangunan ini distribusi barang dan jasa lebih lancar, waktu tidak banyak terbuang, … Jokowi berutang tapi untuk rakyat bukan untuk memperkaya dirinya sendiri. Salahnya dimana?
  3. Jokowi bekerjasama dengan China dan dekat dengan China. Investro terbesar di Indonesia adalah Singapore, Jepang, Korea Selatan, dan China. Pemerintahan Jokowi dekat dengan semua negara investor itu wajar, karena kita membutuhkan mereka untuk menggerakan roda ekonomi. Tak mungkin kita mengajak China berperang, bisa mati kutu kita. Dekat dengan China adalah wajar, karena China sekarang menjadi negara besar salah satu pemegang haegomoni ekonomi dunia.

Jadi jelaslah bahwa isu-isu yang disebarkan oleh kelompok kebelet #gantiideologi yang diamini oleh kelompok #gantipresiden hanyalah upaya untuk mendeskriditkan pemerintaha saja tanpa landasan logika rasional, mereka hanya menggunakan alasan emosional dan naluri mempertahankan diri.

Jadi alasan sesungguhnya, “Mengapa mereka membenci pemerintahan Jokowi” adalah ini semua karena mereka merasa marah pada diri mereka sendiri, marah kenapa pemerintahan Jokowi bisa didukung rakyat banyak, sementara mereka pendukungnya hanya 7-13 juta saja. Maka opini-opini kebencian pada pemerintah Jokowi pun disebarkan tujuan agar “Perasaan rakyat ikut menderita seperti yang mereka rasakan saat ini”

Jadi sungguh rugi, kita termakan oleh keinginan emosional mereka, lalu kita menjadi sosok-sosok yang lebih suka mencaci dan merasa menderita, dibandingkan jadi sosok yang bergembira menikmati pembangunan. Cuma mau pesan aja, “JANGAN LUPA BAHAGIA!”

Man Call Dad or Ahok?

Setelah sekian lama baru sekarang bisa tulis resensinya. Tembus lebih dari satu juta penonton, jumlah ini mengungguli 212 power of love yg hanya ditonton sekitar 360 ribuan penonton. Antusias penonton menyaksikan film ini cukup tinggi tak lepas dari judul film menyematkan kata AHOK.

Setelah menyaksikan film ini, tampaknya judul yg cocok bagi filmnya adalah A MAN CALL DAD! Mengapa?

1) Daniel Manata tampaknya harus banyak belajar akting lagi. Baik Body language maupun instonasi tak mampu menghadirkan sosok Ahok masuk dalam jiwa kita. Beda dengan akting Chew Kin Wah sebagai Kim Nam (Ayah masa tua Ahok) yg mampu memvisualisasikan dg baik sosok ayah. Hasilnya akting Danial kebanting habis sama Chew Kin Wah. Saat Kim Nam meninggal, tontonan pun menjadi sangat hambar. Pemilihan Daniel memerankan Ahok sangat berani karena Daniel tak pernah beradu akting sebelumnya. Mungkin jika Morgan Oey yg memerankannya akan lain ceritanya.

2) Akting Kim Nam muda oleh Denny Sumargo cukup bagus jika, pada eposide ini sangat menonjol perannya dibandingkan peran Ahok sendiri.

3) Alur cerita sendiri memang lebih banyak cerita, hampir 70% saya kira kalau dianalisis wacana berisi sosok ayah yg memberi inspirasi baik quote maupun tindakan pada anak2nya.

Jadi? Karena ini based on true story, kita jadi tahu bagaimana sosok pemimpin yg peduli rakyat itu bisa lahir. Ternyata sumber kekuatan dari sosok pemimpin peduli rakyat lahir karena niat hatinya INGIN MEMBANTU ORANG LEBIH BANYAK. Jika dia hanya seorg kaya dia hanya bisa bantu beberapa org saja, tapi jika dia menjadi seorang pemimpin dia bisa bantu lebih orang banyak dengan kebijakkannya yang pro rakyat.

Jadi? Jadi ya kita pilih pemimpin yg memang niatnya tulus mau bantu rakyat, bukan sekedar menjadikan rakyat sebagai ajang pencitraan.