Pengalaman 3R Jepang: Jalan Panjang Bagi Kota-kota Indonesia!

Hari sabtu kemarin saya arisan di Komplek Depok, berita sedih saya dapatkan adalah “AKTIFITAS BANK SAMPAH DIBERHENTIKAN“.  Komplek kami kecil, berisi 52 rumah tangga, beberapa bulan ini ibu-ibu giat berperan serta dalam 3R melalui Bank Sampah, bekerjasama dengan sebuah Bank Sampah di Tangerang Selatan.  Ibu-ibu semangat menjalani kegiatan 3R, karena ada buku tabungan.  Pendapatan dari mulai 1.000, 25.000, sampai 90.000 untuk tabungan mereka.  Namun selama menjalani aktifitas bank sampah terjadi kendala yaitu keterlambatan petugas bank sampah mengangkut sampah dari komplek, sehingga sampah menumpuk di rumah dan menjadi sarang tikus.  Semangat 3R yang masih menggebu tidak melunturkan semangat 3R, ide-ide pun keluar.  Sudah kita tetap kumpulkan panggil aja tukang rongsokan! Dijual sama dia? Ah, gak seberapa udah dikasihkan aja! Sekarang saya udah gak ngumpulin lagi, soalnya jadi sarang tikus di rumah.  Udah kita sediakan saja wadah khusus, tapi dimana nampungnya?”

Jepang adalah negara yang benar-benar memperhatikan 3R dalam pengelolaan lingkungannya.  Salah satu kota yang mendapat julukan eco-town adalah Toyama.  Saya hendak menceritakan bagaimana pengelolaan sampah di kota ini.

1) Pemerintah daerah Prefecture Toyama menyebarkan brosur pada penduduk (1) brosur cara memilah sampah.  (2) Brosur jadwal pembuangan sampah.  Tampak pada brosur pertama bagaimana setiap sampah dipilah berdasarkan jenisnya ada sampah kaleng, sampah kertas, sampah plastik, bekas makanan dll.  Pada brosur kedua tertera jadwal pengangkutan sampah tiap jenis.  Misalnya hari rabu untuk sampah daur ulang.

Gambar 1 (Kiri).  Cara memilah sampah di Kota Toyama.  Gambar 2 (kanan).  Jadwal pembuangan sampah sesuai jenisnya.

2) Setiap rumah melakukan pemilahan sampah seperti yang sudah ditentukan oleh pemerintah daerah, di setiap RT disediakan tempat pembuangan sampah sementara.  Masyarakat membuang sampah di tempat pembuangan sampah sementara sesuai jadwal. Bagaimana kalau masyarakat salah dalam memilah? atau sampah yang dibuang tidak sesuai jadwal.  Sampah tersebut akan ditandai, dan dikembalikan pada si-empu-nya.

Gambar 4 (kiri).  Tempat pembuangan sampah sementara (TPS), setiap RT satu TPS diletakkan di tepi jalan raya, agar mudah dijangkau truk pengangkut.  Gambar 5 (Kanan).  Sampah yang tidak sesuai cara pemilahannya atau tidak sesuai dengan jadwal pembuangan akan diberi tanda peringatan dan dikembalikan pada yang membuangnya.

3) Truk-turk sampah akan membawa sampah sesuai jadwal.

Gambar 5.  Truk sampah mengambil sampah di TPS sesuai jadwal pembuangan.  Pada saat pengamatan jadwal sampah yang dibuang adalah sampah daur ulang (kertas).

4) Sampah daur ulang (masih bisa dikomersilkan) oleh truk akan dibawa ke Toyama Ecotown Park.  Toyama Ecotown Park adalah pusat daur ulang sampah kering, disini sampah yang berasal dari plastik, kayu, kertas, di daur ulang kembali menjadi bahan baku yang bisa dipakai untuk beragam kebutuhan.

Gambar 6.  Eco-town Park tempat daur ulang sampah kertas, kayu, plastik

5) Adapun sampah gado-gado yang tidak dapat didaur ulang dibawa oleh truk ke tempat pembakaran sampah.  Tempat pembakaran sampah Toyama menampung sampah dari lima prefektur.  Disini sampah di bakar, abu sampah kemudian dipilah lagi menjadi abu-abu sampah yang mengandung logam dan abu sampah umumnya.  Abu sampah ini dimanfaatkan menjadi batu bata dan bahan bangunan rumah juga aspal jalanan.

Screen Shot 2017-12-10 at 13.46.39

Gambar 7. Truk-truk yang membawa sampah  tidak dapat didaur ulang mengirimkannya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).  Disini sampah dibakar. Energi panas yang dihasilkan dari pembakaran digunakan untuk pemanas air (onsen), abu sisa pembakaran dijadikan bahan bangunan.   

Nah, Tampak sekali pengelolaan sampah di Toyama ini ZERO WASTE bukan?

Di sekolah, anak-anak pun dibiasakan untuk melakukan 3R, jadi ketika mereka membantu orang tuanya di rumah anak-anak ini sudah paham.

DSC_0111

Gambar 8. 3R di sekolah: Bekas susu dilipat, dipisahkan dengan sampah lainnya.  

Dan banyak juga para orang tua (terutama Non Warga Jepang) yang paham cara 3R di dari anak-anak mereka yang bersekolah.  Apa yang diajarkan di sekolah, penerapannya di Masyarakat dan lingkungannya, ini namanya SEMESTAKUNG dalam pendidikan.  Terjadi kesamaan antara kebijakan pemerintah dalam 3R (Regulasi dan penyediaan fasilitas), budaya masyarakat 3R, dan pendidikan 3R di sekolah. = SEMESTA MENDUKUNG!

Indonesia kapan bisa seperti ini? YAp, saatnya kita bekerja bersama. Kita dorong pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan 3R sekaligus fasilitasnya, kita ‘suluh’ masyarakat agar mau melakukan 3R, dan kita didik anak-anak melalui kurikulum 3R di sekolah! Mari ikut berpartisipasi, #Yuk,Kita Buat Indonesia Bagus!

 

#Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus!

banner_blog

Social Empowerment

Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus!

Ini adalah motto kami di IEPF, sebuah NGO yang konsen dengan pendidikan dan pendidikan lingkungan di Indonesia.

Mengapa “Yuk!”? Yuk, berarti mengajak.  Meminta semua orang berpartisipasi dan berperan serta.

Mengapa “Kita”? Kita artinya kamu dan aku, kita berarti bersama-sama, tidak bisa sendirian.  Kita mengandung arti kolaboratif, kooperatif, dan bersifat kolegial atau setara. Kita bermakna ‘gotong royong’

Mengapa Bagus? Apakah Indonesia tidak Bagus hari ini?  Bagus adalah kata sifat merujuk pada benda bukan pada orang.  Kalau merujuk pada orang menggunakan kata “baik”.  Dulu jaman Pak Tino Sidin, kalau kita kirim gambar sama beliau selalu saja gambar apapun diberi saran, namun akhirnya dipuji “Bagus!”  [Ah tua banget ya, zaman Pak Tino Sidin, alm].  Yang dipuji Pak Tino adalah gambar atau barang atau benda.  Indonesia Bagus artinya bagaimana membuat obyek2 yang ada di Indonesia ini tertata baik, rapi, dan enak dipandang mata!

Jadi secara keseluruhan YUK, Kita Buat Indonesia Bagus adalah ajak agar berpartisipasi secara gotong royong menata Indonesia agar enak dipandang mata.  Untuk membuat keadaan ini, beberapa waktu lalu saya memfoto beberapa kondisi di Indonesia dan mengunggahnya di media sosial dengan harapan banyak yang sadar, kemudian melakukan aksi membuat Indonesia lebih baik.

Salah satu bentuk yang kita lakukan untuk kampanye ini adalah memotret fenomena keseharian dan mengajak berpikir. Kampaye dilakukan di media sosial. Contoh kampanye kita seperti foto di bawah ini?

Mungkin karena tampang kampanye di atas terlalu serius jarang yang mau membagikan kiriman ini.  Jika dibuat gaya MEME bagaimana ya reaksi orang-orang? Mau tidak membagikan foto-foto seperti di bawah ini?

Harapannya mengunggah foto-foto seperti ini pertama membuat orang sadar akan ketidaktepatannya memperlakukan lingkungan di sekitarnya. Kedua menggugah orang untuk membagikan foto-foto ini sehingga menjadi viral dan mengubah masyarakat kita dalam memperlakukan lingkungan.  Sayangnya harapan kedua belum membuahkan hasil, rata-rata yang menjadi viral ditonton dan dishare ribuan bahkan jutaan orang bukanlah sesuatu yang bersifat #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus!”

Jadi? Walau sedikit banget yang membagikan kampanye YUK, KITA BUAT INDONESIA BAGUS.  Walau sedikit orang yang tergerak untuk membuat aksi serupa. Tak apa-apa, kampanye akan terus berlanjut, walau tidak membagikan, cukuplah baginya untuk memperlakukan lingkungan sekitar dengan baik sehingga tercipta Indonesia Bagus.

Pilih Refill aja! #myLifeStyle

image

Dalam memilih pulpen saya lebih suka PILOT, kenapa? Bukan karena ini merk legendaris atau karena ini brand Japan.  Namun, alasannya sederhana karena pulpen merk ini isi ulangnya tersedia cukup banyak.  Nah, saat bumi 🌍 kita jenuh dengan sampah, pilihan refill adalah pilihan bijaksana bukan? It my life style it my ecolife.  What’s about you?

#Ecolife >>3R: Memilah sampah!

image

Tahap pertama dari kegiatan 3R adalah memilah sampah.  Cobalah lakukan di rumah anda. Lalu hitung banyak sampah dari organik dan anorganik.  Hasilnya “sampah anorganik dari plastik lebih banyak dari organik”

Jika pak Ridwan Kamil punya kebijakan insentif bagi sayuran yg masuk tanpa “buangan”, maka think again. Sampah organik bisa dijadikan pupuk kompos, contoh di pasar kemang induk Bogor.  Sampah dikelola profesional oleh seorang dosen UIKA untuk menjadi pupuk organik, pasar pun bersihbdari sampah organik. Kerjasama pasar dan pengelola kompos organik ini yg lebih diperlukan. Sehingga sampah organik bernilai tambah.

Nah, konsennya harus lebih pada sampah plastik.  Karena ternyata sampah plastik kemasan dari rumah tangga pun jauh lebih banyak. Apalagi di resto2 yg fast food itu ya?

#EcoLife: Diet Kantong Plastik Yuk!

image

Belanja…belanji…! Mulai membiasakan diri untuk say no to plastic bag.  Agak susah nolak ya? Terutama saat kita minta pake dus saja mulai deh kasir cemberut!

Nah, di kota kami Bogor tahun 2013 dibuka toko glosir “LO**E”  yg saya suka dari toko ini adalah tidak menyediakan kantong plastik.  Waktu awal buka…biasalah ibu2 banyak yg ngomel2. 

Takutkah Lo**e mart jadi bankrut? Tidak krn harga yg kompetitif yg dicari pelanggan.  Kini saya lihat…omelan tidak ada lagi, yg ada adalah terbiasa menggunakan kardus bekas yg tersedia di depan toko atau membawa kantong sendiri. Jadi, pembiasaan ini ternyata lebih efektif jika dipaksakan. 

Kapan mart2 lain ikutan program ‘diet kantong plastik”??? Walau banyak mart yg belum menerapkan diet kantong plastik spt Lo**e mart, yuk kita juga niatkan, azzamkan, dan lakukan…diet kantong plastik!!

EcoLifeStyle: Tahun pelajaran baru, tak harus buku tulis baru, Mom!

 

Setiap tahun anda membeli buku tulis baru untuk anak anda?  Dan awal tahun ajaran baru, selalu dengan buku tulis baru???  Tas baru? Sepatu Baru?

Saya tidak membiasakan itu pada anak2, saya.  Betul saya membeli buku tulis, cukup 1 pak saja, yang bisa dipakai 3 anak loh?  Kok?? Ya, tahun ajaran baru bukan berarti buku tulis baru.  Saya membiasakan anak2 menggunakan buku tulis lama, nah untuk membedakan dengan kelas sebelumnya, saya memberi pembatas berbeda.  Kita tinggal hitung saja, berapa pembatas ada di buku itu.  Kalau ada 6 pembatas berarti itu buku sudah digunakan sejak kelas 1 sampai kelas 6.  Paling sampul coklatnya dan plastiknya yang kami ganti, nah kelihatan baru bukan?  Disini istilah “Judge  book from cover“  berlaku loh.     Hehehehe….

Continue reading