3R Kota Tangsel: Jalan panjang menuju Green City

Jika biasanya saya memaparkan hasil jalan-jalan di Toyama Jepang, saat ini saya paparkan hasil jalan-jalan di Kota Tangerang Selatan.Kota Tangerang Selatan ini kota tempat kampus saya berlokasi, walaupun universitas saya bernama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan milik DKI Jakarta.

(1) Pemerintahan Kota Tangerang Selatan punya kebijakan yang kuat menginginkan kotanya sebagai kota 3R. Tentu saja ini point sangat bagus.  Kebijakan ini bisa dilihat dari misi Kota Tangsel, salah satu misinya adalah:

Penanggulangan masalah sampah melalui program yang terpadu secara berjenjang dan terorganisir dan dapat dikaitkan dengan program penghijauan lingkungan.

Nah, setiap pembangunan gedung di Tangsel harus berwawasan lingkungan, yaitu dengan membuat sumur resapan lubang biopori dan harus ada pengelolaan sampah TPST 3R (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Reduce Reuse Recycle. Bila tidak memenuhi persyaratan tersebut maka IMB-nya akan dicabut. (sumber Airin Diany – Walikota Tangsel, 12 Mei 2014).

Keren bukan? Tangsel sudah punya “political will“.

(2) Masyarakat di Tangsel membuang sampah masih dicampur, semua yang namanya sampah dimasukkan dalam satu tong sampah.  Walaupun dibeberapa tempat sudah ada tulisan sampah organik dan non organik namun masyarakatnya masih membuang sampah TANPA MEMILAH. Mengapa masyarakat membuang sampah non organik ke organik? Padahal sudah tertulis jelas itu tong sampah organik, tetapi gelas plastik dan bungkus plastik masih dibuang disana?  #TanyaMasyarakat

(3) Sampah yang dibuang penduduk tanpa pemilahan, akan dibawa oleh petugas kebersihan ke TPS.  TPS di Kota Tangerang Selatan ada dua yaitu TPST3R dan TPS Tradisional.

 

TPST3R (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R) di Kota Tangerang Selatan ada 31 titik, disini sampah dari rumah penduduk yang masih bercampur akan dipilah, menjadi sampah organik, sampah ekonomis, dan sampah tak bernilai.  Di TPS3R sampah organik diolah menjadi pupuk organik, sampah ekonomi seperti botol, kaleng dll di jual kembali ke pengepul, dan sampah tak bernilai dibawa ke TPA. Adanya TPST3R mampu mengurangi 20-30% sampah yang dibuang ke TPA.

TPS Tradisional: Sampah yang diangkut dari masyarakat tanpa dipilah dahulu akan disimpan di TPS (tempat pembuangan sementara).  Biasanya TPS terletak dipinggir jalan agar mudah bagi mobil bak atau truk pengangkut sampah mengangkut sampah.  Truk-truk sampah ini kemudian membawa sampah ke TPA.

(4) TPA Kota Tangerang Selatan punya satu bernama Cipeucang.  Sampah di sini ditumpuk sehingga membentuk gunung-gunung sampah. Masyarakat sekitar Cipeucang paling menderita dengan bau sampah ini, selain juga ketakutan akan terjadinya longsor seperti di Leuwigajah Bandung tempo lalu.

DSC_0079

(5) Bank sampah: adalah gerakan komunitas yang kebanyakan ibu-ibu untuk memilah sampah ekonomis dan non ekonomis.  Gerakan ini masif di Tangerang Selatan Sampai tahun 2017 Tangsel memiliki 208 buah Bank Sampah.  Gerakan ini merupakan gerakan partisipasif dan gotong royong yang perlu terus digiatkan.

 

Jika membandingkan tulisan kemarin tentang 3R di Kota Toyama Jepang, dengan pengelolaan sampah di Tangsel. Ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan penduduk dan pemerintah Tangsel dalam menangani sampah dalam jangka pendek yaitu:

(1) Pengaturan pembuangan sampah oleh rumah tangga di Tangsel.  Minimalnya setiap rumah tangga menyediakan dua tong sampah yaitu organik dan non organik. Pola seperti ini membuat warga berpartisipasi aktif memilah sampah.  Jika sampah tidak dipilah dengan baik, petugas pengangkut sampah dapat memberikan surat teguran untuk memilah sampahnya, sebagai hukumannya petugas tidak akan mengangkut sampah jika rumah tangga tidak memilah sampah dengan BENAR!

(2) TPS tradisional mengangkut sampah di TPST-3R.  Truk-truk TPST-3R yang bertugas mengangkut sampah dari rumah penduduk.   Petugas pengangkut sampah membuat jadwal pengangkutan sampah berdasarkan jenisnya misalnya sampah organik diangkut pada hari selasa  dan sampah non organik diangkut hari kamis.  Sampah-sampah yang telah sampai di TPST3R untuk dipilah antara sampah ekonomis dan non ekonomis.  Sampah non ekonomis dibawa oleh truk sampah TPST-3R ke TPS Tradisional untuk dibuang  ke TPA.  Dengan pola seperti ini maka Pemda Kota Tangsel harus membangun 1 kelurahan 1 TPST-3R, artinya ada minimalnya 54 TPST-3R.

Usulan pertama akan “memberdayakan masyarakat dalam skala rumah tangga untuk peduli sampah, INGAT: sampahmu tanggung jawabmu! Usulan kedua: lebih mempermudah dan mengefektifkan kerja TPST-3R dan akhirnya mengurangi gunungan sampah di TPA.

Memang idealnya TPA dibangun dengan model pembakaran sampah seperti yang diceritakan pada postingan sebelumnya.  Namun, biaya pembuatannya mahal.  Di Toyama saja tempat pembuangan sampah itu bersinergi lima wilayah.  Jika Memang Tangsel berminat membuat Pembakaran sampah Paling tidak bisa menampung dari lima wilayah misalnya Kota Tangsel, Kota Tangerang, Kab. Bogor, Kota Depok, dan Jakarta Selatan.

Ayo, Kita Buat Tangsel Bagus! Tangsel Cerdas Modern dan Religius!

Pengalaman 3R Jepang: Jalan Panjang Bagi Kota-kota Indonesia!

Hari sabtu kemarin saya arisan di Komplek Depok, berita sedih saya dapatkan adalah “AKTIFITAS BANK SAMPAH DIBERHENTIKAN“.  Komplek kami kecil, berisi 52 rumah tangga, beberapa bulan ini ibu-ibu giat berperan serta dalam 3R melalui Bank Sampah, bekerjasama dengan sebuah Bank Sampah di Tangerang Selatan.  Ibu-ibu semangat menjalani kegiatan 3R, karena ada buku tabungan.  Pendapatan dari mulai 1.000, 25.000, sampai 90.000 untuk tabungan mereka.  Namun selama menjalani aktifitas bank sampah terjadi kendala yaitu keterlambatan petugas bank sampah mengangkut sampah dari komplek, sehingga sampah menumpuk di rumah dan menjadi sarang tikus.  Semangat 3R yang masih menggebu tidak melunturkan semangat 3R, ide-ide pun keluar.  Sudah kita tetap kumpulkan panggil aja tukang rongsokan! Dijual sama dia? Ah, gak seberapa udah dikasihkan aja! Sekarang saya udah gak ngumpulin lagi, soalnya jadi sarang tikus di rumah.  Udah kita sediakan saja wadah khusus, tapi dimana nampungnya?”

Jepang adalah negara yang benar-benar memperhatikan 3R dalam pengelolaan lingkungannya.  Salah satu kota yang mendapat julukan eco-town adalah Toyama.  Saya hendak menceritakan bagaimana pengelolaan sampah di kota ini.

1) Pemerintah daerah Prefecture Toyama menyebarkan brosur pada penduduk (1) brosur cara memilah sampah.  (2) Brosur jadwal pembuangan sampah.  Tampak pada brosur pertama bagaimana setiap sampah dipilah berdasarkan jenisnya ada sampah kaleng, sampah kertas, sampah plastik, bekas makanan dll.  Pada brosur kedua tertera jadwal pengangkutan sampah tiap jenis.  Misalnya hari rabu untuk sampah daur ulang.

Gambar 1 (Kiri).  Cara memilah sampah di Kota Toyama.  Gambar 2 (kanan).  Jadwal pembuangan sampah sesuai jenisnya.

2) Setiap rumah melakukan pemilahan sampah seperti yang sudah ditentukan oleh pemerintah daerah, di setiap RT disediakan tempat pembuangan sampah sementara.  Masyarakat membuang sampah di tempat pembuangan sampah sementara sesuai jadwal. Bagaimana kalau masyarakat salah dalam memilah? atau sampah yang dibuang tidak sesuai jadwal.  Sampah tersebut akan ditandai, dan dikembalikan pada si-empu-nya.

Gambar 4 (kiri).  Tempat pembuangan sampah sementara (TPS), setiap RT satu TPS diletakkan di tepi jalan raya, agar mudah dijangkau truk pengangkut.  Gambar 5 (Kanan).  Sampah yang tidak sesuai cara pemilahannya atau tidak sesuai dengan jadwal pembuangan akan diberi tanda peringatan dan dikembalikan pada yang membuangnya.

3) Truk-turk sampah akan membawa sampah sesuai jadwal.

Gambar 5.  Truk sampah mengambil sampah di TPS sesuai jadwal pembuangan.  Pada saat pengamatan jadwal sampah yang dibuang adalah sampah daur ulang (kertas).

4) Sampah daur ulang (masih bisa dikomersilkan) oleh truk akan dibawa ke Toyama Ecotown Park.  Toyama Ecotown Park adalah pusat daur ulang sampah kering, disini sampah yang berasal dari plastik, kayu, kertas, di daur ulang kembali menjadi bahan baku yang bisa dipakai untuk beragam kebutuhan.

Gambar 6.  Eco-town Park tempat daur ulang sampah kertas, kayu, plastik

5) Adapun sampah gado-gado yang tidak dapat didaur ulang dibawa oleh truk ke tempat pembakaran sampah.  Tempat pembakaran sampah Toyama menampung sampah dari lima prefektur.  Disini sampah di bakar, abu sampah kemudian dipilah lagi menjadi abu-abu sampah yang mengandung logam dan abu sampah umumnya.  Abu sampah ini dimanfaatkan menjadi batu bata dan bahan bangunan rumah juga aspal jalanan.

Screen Shot 2017-12-10 at 13.46.39

Gambar 7. Truk-truk yang membawa sampah  tidak dapat didaur ulang mengirimkannya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).  Disini sampah dibakar. Energi panas yang dihasilkan dari pembakaran digunakan untuk pemanas air (onsen), abu sisa pembakaran dijadikan bahan bangunan.   

Nah, Tampak sekali pengelolaan sampah di Toyama ini ZERO WASTE bukan?

Di sekolah, anak-anak pun dibiasakan untuk melakukan 3R, jadi ketika mereka membantu orang tuanya di rumah anak-anak ini sudah paham.

DSC_0111

Gambar 8. 3R di sekolah: Bekas susu dilipat, dipisahkan dengan sampah lainnya.  

Dan banyak juga para orang tua (terutama Non Warga Jepang) yang paham cara 3R di dari anak-anak mereka yang bersekolah.  Apa yang diajarkan di sekolah, penerapannya di Masyarakat dan lingkungannya, ini namanya SEMESTAKUNG dalam pendidikan.  Terjadi kesamaan antara kebijakan pemerintah dalam 3R (Regulasi dan penyediaan fasilitas), budaya masyarakat 3R, dan pendidikan 3R di sekolah. = SEMESTA MENDUKUNG!

Indonesia kapan bisa seperti ini? YAp, saatnya kita bekerja bersama. Kita dorong pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan 3R sekaligus fasilitasnya, kita ‘suluh’ masyarakat agar mau melakukan 3R, dan kita didik anak-anak melalui kurikulum 3R di sekolah! Mari ikut berpartisipasi, #Yuk,Kita Buat Indonesia Bagus!

 

#Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus!

banner_blog

Social Empowerment

Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus!

Ini adalah motto kami di IEPF, sebuah NGO yang konsen dengan pendidikan dan pendidikan lingkungan di Indonesia.

Mengapa “Yuk!”? Yuk, berarti mengajak.  Meminta semua orang berpartisipasi dan berperan serta.

Mengapa “Kita”? Kita artinya kamu dan aku, kita berarti bersama-sama, tidak bisa sendirian.  Kita mengandung arti kolaboratif, kooperatif, dan bersifat kolegial atau setara. Kita bermakna ‘gotong royong’

Mengapa Bagus? Apakah Indonesia tidak Bagus hari ini?  Bagus adalah kata sifat merujuk pada benda bukan pada orang.  Kalau merujuk pada orang menggunakan kata “baik”.  Dulu jaman Pak Tino Sidin, kalau kita kirim gambar sama beliau selalu saja gambar apapun diberi saran, namun akhirnya dipuji “Bagus!”  [Ah tua banget ya, zaman Pak Tino Sidin, alm].  Yang dipuji Pak Tino adalah gambar atau barang atau benda.  Indonesia Bagus artinya bagaimana membuat obyek2 yang ada di Indonesia ini tertata baik, rapi, dan enak dipandang mata!

Jadi secara keseluruhan YUK, Kita Buat Indonesia Bagus adalah ajak agar berpartisipasi secara gotong royong menata Indonesia agar enak dipandang mata.  Untuk membuat keadaan ini, beberapa waktu lalu saya memfoto beberapa kondisi di Indonesia dan mengunggahnya di media sosial dengan harapan banyak yang sadar, kemudian melakukan aksi membuat Indonesia lebih baik.

Salah satu bentuk yang kita lakukan untuk kampanye ini adalah memotret fenomena keseharian dan mengajak berpikir. Kampaye dilakukan di media sosial. Contoh kampanye kita seperti foto di bawah ini?

Mungkin karena tampang kampanye di atas terlalu serius jarang yang mau membagikan kiriman ini.  Jika dibuat gaya MEME bagaimana ya reaksi orang-orang? Mau tidak membagikan foto-foto seperti di bawah ini?

Harapannya mengunggah foto-foto seperti ini pertama membuat orang sadar akan ketidaktepatannya memperlakukan lingkungan di sekitarnya. Kedua menggugah orang untuk membagikan foto-foto ini sehingga menjadi viral dan mengubah masyarakat kita dalam memperlakukan lingkungan.  Sayangnya harapan kedua belum membuahkan hasil, rata-rata yang menjadi viral ditonton dan dishare ribuan bahkan jutaan orang bukanlah sesuatu yang bersifat #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus!”

Jadi? Walau sedikit banget yang membagikan kampanye YUK, KITA BUAT INDONESIA BAGUS.  Walau sedikit orang yang tergerak untuk membuat aksi serupa. Tak apa-apa, kampanye akan terus berlanjut, walau tidak membagikan, cukuplah baginya untuk memperlakukan lingkungan sekitar dengan baik sehingga tercipta Indonesia Bagus.

Pilih Refill aja! #myLifeStyle

image

Dalam memilih pulpen saya lebih suka PILOT, kenapa? Bukan karena ini merk legendaris atau karena ini brand Japan.  Namun, alasannya sederhana karena pulpen merk ini isi ulangnya tersedia cukup banyak.  Nah, saat bumi 🌍 kita jenuh dengan sampah, pilihan refill adalah pilihan bijaksana bukan? It my life style it my ecolife.  What’s about you?

#Ecolife >>3R: Memilah sampah!

image

Tahap pertama dari kegiatan 3R adalah memilah sampah.  Cobalah lakukan di rumah anda. Lalu hitung banyak sampah dari organik dan anorganik.  Hasilnya “sampah anorganik dari plastik lebih banyak dari organik”

Jika pak Ridwan Kamil punya kebijakan insentif bagi sayuran yg masuk tanpa “buangan”, maka think again. Sampah organik bisa dijadikan pupuk kompos, contoh di pasar kemang induk Bogor.  Sampah dikelola profesional oleh seorang dosen UIKA untuk menjadi pupuk organik, pasar pun bersihbdari sampah organik. Kerjasama pasar dan pengelola kompos organik ini yg lebih diperlukan. Sehingga sampah organik bernilai tambah.

Nah, konsennya harus lebih pada sampah plastik.  Karena ternyata sampah plastik kemasan dari rumah tangga pun jauh lebih banyak. Apalagi di resto2 yg fast food itu ya?

#EcoLife: Diet Kantong Plastik Yuk!

image

Belanja…belanji…! Mulai membiasakan diri untuk say no to plastic bag.  Agak susah nolak ya? Terutama saat kita minta pake dus saja mulai deh kasir cemberut!

Nah, di kota kami Bogor tahun 2013 dibuka toko glosir “LO**E”  yg saya suka dari toko ini adalah tidak menyediakan kantong plastik.  Waktu awal buka…biasalah ibu2 banyak yg ngomel2. 

Takutkah Lo**e mart jadi bankrut? Tidak krn harga yg kompetitif yg dicari pelanggan.  Kini saya lihat…omelan tidak ada lagi, yg ada adalah terbiasa menggunakan kardus bekas yg tersedia di depan toko atau membawa kantong sendiri. Jadi, pembiasaan ini ternyata lebih efektif jika dipaksakan. 

Kapan mart2 lain ikutan program ‘diet kantong plastik”??? Walau banyak mart yg belum menerapkan diet kantong plastik spt Lo**e mart, yuk kita juga niatkan, azzamkan, dan lakukan…diet kantong plastik!!

EcoLifeStyle: Tahun pelajaran baru, tak harus buku tulis baru, Mom!

 

Setiap tahun anda membeli buku tulis baru untuk anak anda?  Dan awal tahun ajaran baru, selalu dengan buku tulis baru???  Tas baru? Sepatu Baru?

Saya tidak membiasakan itu pada anak2, saya.  Betul saya membeli buku tulis, cukup 1 pak saja, yang bisa dipakai 3 anak loh?  Kok?? Ya, tahun ajaran baru bukan berarti buku tulis baru.  Saya membiasakan anak2 menggunakan buku tulis lama, nah untuk membedakan dengan kelas sebelumnya, saya memberi pembatas berbeda.  Kita tinggal hitung saja, berapa pembatas ada di buku itu.  Kalau ada 6 pembatas berarti itu buku sudah digunakan sejak kelas 1 sampai kelas 6.  Paling sampul coklatnya dan plastiknya yang kami ganti, nah kelihatan baru bukan?  Disini istilah “Judge  book from cover“  berlaku loh.     Hehehehe….

Continue reading