#GoogleScholar, How important is it?

Cita-cita penebar ilmu itu sederhana… mewakafkan pengetahuan bagi umat manusia.  Seperti halnya Imam Maliki yang mewakafkan al muwatho, Imam Syafei yang mewakafkan al um, Imam Al Ghazali, Ibnu Taimiyah, Bukhori Muslim, Ibnu Majah, Syeh Taqiyudin Annabhani dengan rangkaian Nidzamul fii hayati islami, Buya Hamka dengan Tafsir Al Azhar, Pak Quraish Shihab dengan Tafsir Al Mishbah, bahkan sekaliber   Darwin dg on the orgin species yang masih menjadi buku rujukan dalam matakuliah EVOLUSI, Gagne, Piaget, dll.

Ilmuwan zaman dulu mewariskan dalam bentuk buku, sekarang pun sebenarnya sama.  Pikiran dituangkan dalam bentuk tulisan, bedanya jaman sekarang kita dapat mendeteksi seberapa banyak orang merujuk karya kita, seberapa sering karya kita dikutip kembali oleh penulis lain.  Umumnya universitas punya “account institusi” tersambung ke google scholar melalui akun ini kita bisa melihat diinstitusi kita siapa saja yang “Tulisannya Banyak dirujuk dan dikutip”

IPB adalah almamater saya, 9-1-2015 dua nama teratas saya kenal sekali.  Kakak kelas saya  dan satunya dosen pembimbing skripsi saya.

UIN Jakarta tempat saya bekerja menempatkan empat tokoh yang sudah dikenal banyak orang.

UPI tempat saya menyelesaikan S2-S3 menempatkan dosen-dosen muda yang produktif.

Dan Saya??? still try to find my passion of research.  Hehehe…

Profesor #mimpi

Mimpi seorang akademisi dan perekayasa itu adalah menjadi profesor.  Namun, syarat menjadi profesor tentu saja bukan hal mudah.

Membangun riset sebangun….menerbitkannya di jurnal terakreditasi dan jurnal internasional bereputasi.

Payahnya kemampuan tulis bahasa inggris saya masih belepotan, dan ketika minta riview jurnal yang telah diterbitkan tak mudah.  Kadang konselor kita mampu berbahasa inggris yang baik, tapi ketika sampai pada penulisan sering kali give up, tetap saja riviwer jurnal masih nanya dan beberapa kata jadi sukar dipahami mereka.  English rasa Indonesia sering kali menjadi kendala… teman menyarankan untuk pakai profesional saja, bayarannya memang lumayan besar.  Dan saya masih pikir-pikir, walaupun riviewer selalu bilang please feel free to contact me, tetap aja kebingungan …bingung apa yang mau diungkapkan.

Ok, akhirnya saya fokuskan dulu deh untuk menggarap apa yang akan menjadi koord. saya untuk memasuki jenjang profesor saya.  Terus terang selama ini saya terlalu generalis….tak ada proyek yang saya garap linier dan mengerucut pada satu hal yang menjadi konsen saya, semuanya mencabang, ini jadi menyulitkan ketika meminta kekhususan.  Terlalu banyak passion yang digarap, not fokus.  Dan masih bingung apa sebetulnya yang ingin digarap.

Menjadi profesor adalah mimpi, mewujudkan mimpi ini butuh perjuangan yang tidak mudah.

 

 

 

 

Again! Always fun!

Facebook…..! Dibalik berbagai berita negatif pemanfaatannya oleh sebagian orang kurang akal [Selingkuh, penculikan, dll],  facebook menyimpan potensi digunakan oleh guru dan dosen dalam pembelajaran, terutama membahas isu sosiosainstifik.  Ok, banyak media sih bisa digunakan untuk diskusi, dari mulai blog, edmodo, dan lain-lain.  Tapi FACEBOOK tetaplah terbaik, selain familiar di kalangan pelajar dan mahasiswa.  Facebook punya daya muat komentar yang luar biasa tanpa LOW LOADING [Hasil riset disertasi].  Dan bagaimana kesan mahasiswa selama diskusi isu sosiosaintifik melalui facebook, ini dia!

Screen Shot 2015-12-06 at 7.33.02 AM.png

  • Menghargai waktu yang berjalan, buru” dan bikin deg-degan saat waktu mau habis.
  • Sangat berkesan, dan banyak menambah pengetahuan dari forum diskusi ini. Sempat menjalankan perkuliahan online sebelumnya waktu semester 2, tetapi tidak berjalan terstruktur seperti saat ini. Namun masih terkendala dengan koneksinya nih Bu, hehe smile emotikon terima kasih banyak bu Yanti Herlanti Full
  • Feeling saya bu, jadi panik karena signal trouble yang tidak stabil. Seru juga bu, karena ini baru pertama kalinya diskusi dalam online.
  • first moment ! diskusi online on facebook, seru dan berkesan, belajar menghargai waktu dan juga pendapat orng lain
    thank you very much Mrs. Yanti Herlanti Full smile emotikon
  • otak, otot, dan jantung jadi semakin terlatih bu hihi

LENGKAPNYA bisa tenggok disini: DISKUSI ISU SOSIOSAINTIFIK ONLINE 

Argumentasi kuat/lemah atau Provokasi, mari bedakan!

Disertasi saya terkait argumentasi yg mengambil bahasan Toulmin Pattern.  Saya tertarik mengambilnya karena ada seorang ulama menasehati bahwa HUJJAH YG KUAT diperlukan untuk mencerdaskan umat pada islam.

Toulmin memberikan sebuah pola bagaimana suatu hujjah bisa jadi kuat.  Menurut Toulmin pertama bahwa hujjah tersebut didasarkan pada data atau fakta, kedua ditunjang oleh penjamin berupa pendukung2 atau referensi atau hukum2 yg menjamin penarikan dari data ke klaim.  Klaim sendiri adalah opini yg ditebar di tengah umat. 

Opini yg dilandasi oleh data didukung oleh referensi yg valid akan menjadi sebuah argumentasi kuat
Opini yg tidak dilandasi data atau tidak memiliki referensi yg valid akan jatuh pada provokasi.
Opini yg dilandasi data dari tapi dari redferensi yg tdk valid akan menjadi argumen yg lemah.

Lihatlah 9 klaim di bawah, klaim yg banyak terlontar dari opini massa. Mari kita bedakan mana argumen lemah, argumrn kuat serta mana provokasi!

1) Syiah membahayakan Indonesia
2) Asap yg terjadi di Riau tanggung jawab pemerintah pusat.
3) Indonesia siaga bencana
4) Kemampuan high order thinking anak Indonesia mengkhawatirkan
5) sebagian besar Partai di Indonesia berorientasi kekuasaan.
6) partai dakwah ikut terjerat pusaran korupsi.
7) Biaya politik di Indonesia mahal
8) bogor kota sejuta angkot
9) monorel bukanlah solusi mengatasi macet di jakarta

20. Learn Moral from Japanese People

28 Februari – 1 Maret 2015, bagi mahasiswa saya Qumilalila, Alvian, Rista, Latifa, dan Ian merupakan peristiwa yang tak akan terlupakan.   Selasa 3-3-2015 saya sempatkan untuk merefleksi kegiatan yang telah mereka lakukan selama lima hari menemani survei diberbagai wilayah di kecamatan Tangerang Selatan, dari mulai daerah kaya, miskin, Bank Sampah, TPST, TPA, gedung pemerintahan, dan lain-lain.  Pertanyaan saya adalah “Apa yang mereka telah pelajari selama program?”

  • #1: Mereka suka membereskan sendiri, misalnya di Mc Donald.  Mereka membereskan makanan dan sampah2 di meja, tidak mengandalkan OB.
  • #2: Mereka bersih sekali, habis makan selalu sikat gigi.
  • #3: Mereka punya kecepatan dalam inisiatif, ketika saya mengatakan tak mungkin memperoleh sample sebanyak itu pada daerah yang dikunjungi, maka mereka membuat keputusan untuk mencari sample di Mall.
  • #4: Mereka itu gigih, tapi tidak ngotot.  Misalnya ketika membutuhkan data ke Bank Sampah, padahal di list kita tidak ada kunjungan ke Bank Sampah, maka mereka meminta dengan hormat.  Akhirnya, kita mengantar ke sana, ketika sudah sampai di sana, maka dia sangat berterima kasih sekali.
  • #5: Mereka tidak membuang sampah sembarangan, mereka simpan sampah sampah ketemu tempat sampah yang sesuai, dan mereka maunya membuang sampah sesuai yaitu anorganik ke anorganik gak mau sembarangan.
  • #6: Mereka itu senang menyenangkan hati orang lain, ketika kita bilang maaf ya Indonesianya gak bersih.  Mereka malah bilang, di Jepang juga ada kok tempat yang gak bersih.
  • #7: Mereka tepat waktu sekali, ketika itu bangun terlambat 7.30, mereka langsung beres-beres dan mengabaikan sarapan, lebih bersegera kumpul bersama kita.
  • #8: Mereka tidak membuang sedikitpun makanan yang ada.  Sisa makanan yang kita punya aja, bisa mereka makan loh bu! [No Waste]
  • THE LAST “Di program ini saya menemukan banyak orang yang HUMBLE”

Itu sebagian kecil saja moral orang-orang Jepang.

Lalu bagaimana dengan kita? Ini adalah beberapa moral orang Indonesia yang terkadang membuat orang-orang asing “jenggah” dan bertanya-tanya kepada saya “Mengapa orang Indonesianya seperti ini?”

  • #1: Mencela, ini mungkin jagonya kita.  Di twitter, di FB, bahkan di TV ini biasa.  Sampai-sampai ‘presiden – simbol negara – juga kena celaan.  Mencela ras atau suku tertentu.  Mencela orang yang tidak pakai jilbab atau hijab.  Mencela orang pakai janggut dan celana cingkrang.  Mencela…mencela…mencela…
  • #2: Gede banget gharizah baqo-nya sehingga selalu mempertahankan diri, gak mau disalahkan.  Dibandingkan memohon maaf atau menulis permintaan maaf dengan sungguh-sungguh, maka kita lebih untuk mengungkit-ungkit hal-hal yang bisa dijadikan point untuk membela diri.  Atau kalau pun dia mau minta maaf, maka ditunjukkan dulu saya benar kamu salah, tapi saya minta maaf (????).  Pada akhirnya, kita gak pernah belajar dari kesalahan dan merasa tidak mempunyai hati legawa.
  • #3: Tidak tahu berterima kasih. — Barang yang pernah diberikan sebagai hadiah, grant, hibah, dll tapi tidak dijaga dengan baik —
  • #4: Pandai menyalahkan orang lain, tapi tidak pernah merefleksi kesalahan sendiri.
  • #5: Pandai ngeles.  Mencari-cari alasan yang masuk logika, padahal ketahuan bohongnya.
  • #6: Tidak mau mempertimbangkan perasaan orang lain, maunya orang tahu perasaan saya bagaimana [Egois].
  • #7: Ngotot dan maksa.  Kadang tidak mempeduli kesusahan orang untuk memenuhinya, yang penting harapan saya terpenuhi, bahkan pula ngotot terhadap kesalahan.
  • #8: Menuntut hak, tapi leha-leha pada kewajiban.
  • The Last: ternyata “Banyak orang dewasa yang perkembangan EMOSIANAL dan MENTAL nya masih seperti anak-anak

Mengapa ini terjadi??? Karena tidak pernah belajar untuk meningkatkan kecerdasaran moral?? Karena menutup diri untuk belajar dari pengalaman?? Karena pergaulan yang sempit?? Karena sudah merasa pintar?? Karena mereka berhenti belajar??  Atau materi lebih dikejar daripada relasi sosial??

#Mari pikirkan apa penyebabnya!

19. A little note from JICA Field Study

JICA Field Study, rangkaian dari JICA Youth Leadership yang diadakan JICA untuk para pemuda Jepang yang berminat dalam hubungan kerjasama internasional.  Indonesia dijadikan sasaran setelah sebelumnya program yang sama dilakukan di Vietnam.  Saya hanya memfasilitasi program dengan menyediakan lima mahasiswa UIN Jakarta yang terlibat sebagai fasilitator selama program.  Ada 4 kelompok, dan 20 presentator yang mempresentasikan temuannya pada kami.  Ok, ini sekedar catatan ringan dari yang tercecer dan tertinggal, semoga menjadi bahan pembelajaran.

#1.  Saya harus bilang bahwa mereka cukup efektif dalam menggali berbagai data yang diinginkan dalam 3 hari survei  mereka bisa mengumpulkan rata-rata 30 orang, bahkan ada yang mengumpulkan data dari wawancara sampai 70-82 orang.  Efektif bukan?

#2.  Metode yang mereka gunakan dalam survei ini adalah kuantitatif dan kualitatif serta ada yang menggunakan keduanya.  Instrumen yang digunakan adalah wawancara dan observasi.  Apapun metode pengumpulan data saya sangat apresiasi terhadap mahasiswa yang umurnya berkisar 18-23 tahun ini, analisisnya tajam, mereka dapat mengkorelasikan antara satu fakta yang ditemuinya dengan fakta-fakta lainnya, serta tentu saja dengan informasi yang mereka peroleh sebelumnya (Sebelum mereka ke Indonesia, mereka punya waktu 3 hari untuk pembekalan tentang Indonesia, sehingga ketika mereka ke Indonesia mereka sudah punya informasi tentang Indonesia dan tentang tempat serta berbagai hal untuk wilayah yang mereka kunjungi).

#3.  Tentang inkuiri informasi yang mereka lakukan, sangat terlihat dari 3 pertanyaan yang ditanyakan ketika kunjungan mereka ke UIN Jakarta.  Mereka tidak menanyakan hal-hal yang sepele dan hal-hal yang sudah ada di website UIN Jakarta, tetapi mereka menggali lebih lanjut apa yang tidak ada informasinya, tetapi mereka menanyakan “Tuition fee” “subsidi” “perbedaan UIN dibawah MORA dengan MONE”.

#4. Tentang análisis yang tajam:  Observasi dan wawancara mereka dapat menyimpulkan bahwa KESADARAN LINGKUNGAN DI INDONESIA DIPACU OLEH DUA HAL yaitu Pengetahuan dan Uang.  Beberapa masyarakat sadar akan lingkungan karena pengetahuan — maka muncul BANK SAMPAH.  Namun beberapa komponen masyarakat lain kesadaran tersebut justeru terbentuk karena UANG, mereka merasakan benefit ketika menjual botol, plastik, dll ke Bank Sampah dan mereka mendapatkan uang dari situ.

#5. Analisis yang tajam juga ditunjukan oleh peserta dari kelompok Goverment, ketika memaparkan relasi antara pemerintah, perusahaan daur ulang, dan TPA.

#6. Solusi solutif bagi masyarakat bawah untuk perduli pada sampah ditawarkan oleh salah satu mahasiswa yaitu dengan menghubungkan sampah dengan air tanah.  Solusi yang dihasilkan dari analisis bahwa sebagian masyarakat di desa Setu menggunakan air tanah dan mereka pun membuang sampah ditumpuk dilahan kosong, yang tanpa disadari oleh mereka bahwa sampah yang menumpuk itu akan menganggu kondisi air tanah penduduk sekitar.

#7. Solusi solutif juga ditawarkan ketika seorang peserta membahas relasi antara Bank Sampah dan TPS.  TPS adalah pola pengangkutan sampah diberbagai perumahan, yang tentu saja ada kontribusi kebersihannya.  Dengan cerdas mahasiswa ini mengatakan bahwa pola ini tidak menguntungkan bagi masyarakat kelas bawah yang tidak bisa membayar, dan akhirnya membuang sampah sembarangan.  Lalu dia pun memaparkan bahwa Bank Sampah umumnya dikelola oleh mereka yang level ekonomi-nya atas, tapi masyarakat bawah bisa memanfaatkan.  Pola menggabungkan antara Bank Sampah-TPS ini bisa dijadikan solusi.

Yap, 20 hasil análisis, 20 ide kreatif dari mereka, ini sungguh luar biasa.  Dan mereka melakukannya dalam 6 hari saja.  3 hari untuk pendalaman materi yang dilakukan di Jepang, dan 3 hari dilakukan di Indonesia.  –SEMOGA 5 MAHASISWA P. BIO (QUMILALILA, ALVIAN, RISTA, LATIFA, IAN) YANG TERLIBAT DALAM PROGRAM INI BISA BELAJAR BANYAK DARI PROGRAM INI DAN DARI INTERAKSI YANG TERJADI SELAMA PROGRAM!

#Edusains: Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Internet

Pernahkah kita mendengar seorang guru Sekolah Dasar mengatakan “Tugasnya mengumpulkan artikel tentang astoronot di internet. kalian cari aja di google ya!”

Apa? Menyuruh peserta didik tingkat SD terjun ke internet mencari sendiri di google?? Menurut saya itu terlalu gegabah.  Bagaimana kalau para peserta didik ke sasar ke situs-situs yang tidak layak mereka lihat? Lalu bagaimana dengan waktu yang dihabiskan peserta didik? Apakah dia menjadi “anteng” berselancar, hingga akhirnya lupa pada tugas utamanya?

Ya, INTERNET adalah HUTAN BELANTARA.  Seorang guru tidak selayaknya memberikan tugas berbasis internet tanpa panduan apapun.    Ketika sekolah mencanangkan BERBASIS ICT, maka tentu saja harus siap dengan GURU-GURU yang terampil memanfaatkan ICT.  ICT bukan menyerahkan begitu saja pada Mbah Google.  Tetapi laiknya guru harus memberi scaffolding.

Bagaimana caranya? Ok, sedikit promosi saja ya! Alternatif yang bisa dipakai guru adalah BLOGQUEST.  Apa itu BLOGQUEST? Contohnya aja deh silahkan buka: PEMBELAJARAN BLOGQUEST DI HIKARI.  Itu adalah salah satu contohnya.

Dan semua bapak dan ibu guru bisa kok membuatnya. Tidak perlu biaya dalam membuat BLOGQUEST seperti itu yang paling penting adalah kemauan dan keterampilan.

OPEN TRAINING PEMBUATAN BLOGQUEST

Materi:

  1. Mengenal QUEST
  2. Pembuatan QUEST
  3. Pengenalan weblog
  4. Pembuatan BlogQuest+

HUBUNGI +628562191971 untuk konfirmasi.

 

 

 

 

Fotosintesis

Fotosintesis adalah konsep yang abstrak bagi anak SD.  Konsep yang mikroskopis ini menjadi lebih mudah dipahami oleh anak SD ketika menggunakan gambar analogi seperti di bawah ini.   Klorofil dianalogikan sebagai makhluk hijau yang bekerja dan aktif karena menampung sinar matahari, aktif memasak bahan2 makanan yaitu air dan udara untuk dihasilkan gula dan udara.  Yuk tenggok gambarnya yang diambil dari buku Childcraft 2001.

analogi fotosintesis untuk siswa SD

analogi fotosintesis untuk siswa SD

40 Tahun lalu – Japan & Indonesia

Ketika saya berkunjung ke Jepang dan kagum dg pranata fisik yg sederhana namun bersih, selain pranata sosial dan moral, temen Jepang saya bilang “40 tahun yg lalu Jepang juga seperti Indonesia”  perkataan ini tentu saja perkataan semangat bahwa untuk buat Indonesia Bagus itu mungkin saja dilakukan, usaha dari sekarang dan komitmen serta semangat.  Jepang melakukan itu, dan sekarang tinhkat sanitary dan hiegenis orang jepang tinggi.  Konon 40 tahun yang lalu mereka pun jorok spt di Indonesia pada zaman kini.

Nah, anehnya saya malah mikirin Indonesia 40 tahun yg lalu.  Tahun 1970-an, bagaimana rupa kampung saya?
1)  40 tahun yg lalu: alan2 lebar karena orang2 membiarkan halaman tumah mereka tak berpagar, kalau pun di pagar mereka menggunakan tanaman perdu.  Kini: kampung saya termasuk kampung kumuh di kota Bandung.  Jalan sempit, gang hanya 1/2 meter saja, cuma cukup 1 motor. Rumah2 dibangun tinggi sampai batas jalan, bahkan genting2 mereka menutupi gang2 sempit itu, akibatnya kampung saya miskin paparan matahari.  Dan ketika saya pindah ke komplek yg taraf pendidikannya bagus…Patok kuning dipasang developer, selokan adalah milik umum bukan bagian kepunyaan mereka, selokan sebagai bahu jalan tapi apa yg terjadi tetangga2? Mereka bangun pagar sampai selokan, selokan pin ditutup rapat.  Jalan komplek yg sudah ditata rapi dan luas dengan sirkulasi selokan akhirnya menjadi sempit.  Pembersihan selokan yg mendangkal pun sulit dilakukan.  KUDETA MILIK UMUM menjadi sah ketika mereka merasa membeli fasilitas tsb (ck ck ck….).   Jadi, saya kok jadi mikir 40 tahun yg lalu sarana fisik kita sdh rapi dan bagus. 

2) 40 tahun yang lalu: pagi2 bahkan subuh2 ibu2 selalu membersihkan jalan umum, menyapu dari sampah bahkan “nyebor” jika udara panas.  Sehingga jalan umum tsb tetap bersih dan segar.   Kini:  merasa itu milik umum, jarang lagi tampak ibu2 memberaihkan jalanan.  Membiarkan petugas kebersihan membersihkannya. Dulu: Gak ada corat coret di tembok2, milik umum semua bersih dan tertata rapi.  Para pedagang kaki lima pun turut bersih2 di lokasi jualannya.  Kini: vandalisme dan abai terhadap kebersihan kota adalah pemandangan biasa. 
Jadi, 40 tahun yang lalu SETIAP INDIVIDU PUNYA SENSE OF BELONGING TERHADAP MILIK UMUM.

3) kenapa moral generasi sekarang payah? Padahal 40 tahun yg lalu kita punya kesadaran moral yg tinggi sbg warga negara? Dulu:  #kurikulum di Indonesia memuat pelajaran etika dan moral, walau dogma tapi setiap anak indonesia mengetahui mana yg baik, jelek, dan salah.  Kini: #kurikulum indonesia memandang pembelajaran moral cukup diintegrasikan seperlunya saja dan sekemampuan guru, paradignya NILAI UN TINGGI LEBIH UTAMA DARI PADA MORAL (JUJUR DAN RAJIN)”

4) satu lagi mata pelajaran yg dihapuskan dan berimbas pd kufe skill dan kemandirian.  Dulu : ada pelajaran PKK (HOME ECONOMICS) memberi bekal dan pengetahuan agar tdk konsumtif, apa yg bisa dibuat sendiri spt makanan atau pakaian “home made” lbh baik dibuat.  Maka kita lihat makanan jajan waktu itu gak banyak, ibu2 lebih banyak bikin pangganan di rumah.  Anak2 laki2 dan perempuan waktu itu bisa masak, nyetrika, dan jahit…. #kini: mata pelajaran PKK dihapus, anak2 tergantung pada pembantu.  Ngurus diri sendiri aja gak becus, apalagi jaga fasilitas umum.  Mereka gak pernah merasakan keringetan nyapu jalanan, maka seenaknya buat kotor dan buang sampah. 

So, saya harus berkata 40 TAHUN YANG LALU INDONESIA SUDAH SEPERTI JEPANG MASA KINI. NAMUN KINI, INDONESIA SEPERTI JEPANG PADA 40 TAHUN YANG LALU. #miris

Jangan Sekolah! Sekolah Jangan! #rethink

Waktu saya kecil, ayah saya selalu berkata:

1) “Bapak gak bisa mewarisi harta yg banyak, tapi Bapak akan bekerja sekuat tenaga agar kamu bisa sekolah.  Karena dg ilmu kamu bisa mencari uang, kalau uang yg diwarisi maka besok lusa pun akan habis” >>> sebagai bentuk penghargaan pada orang tua saya belajar rajin
2) “Tapi uang Bapak gak banyak (Bapak saya hanya seorang ABRI sampai pensiun pangkatnya hanya PELTU), kamu harus masuk negeri”  >> ini yg mendorong saya belajar tekun agar bisa masuk SMPN SMAN dan PTN.

Semua sekolah saya lalui dg apik dan adalah prestasi dikit2 mah.  Pernah dapat penghargaan peraih NEM tertinggi di SMAN (sekarang namanya UNAS, zaman kita mah gak ada contekan massal, krn NEM hanya 1/5 aja menentukan kelulusan).  Penah masuk finalis LKIP (lomba karya ilmiah produktif) waktu mahasiswa. Untuk skala IPB yg susah banget dapat nilai B apalagi A, maka lulus s1 dgn IPK 3,xx sesuatu banget. 

After lulus kuliah S1 barulah saya mengenal, ternyata banyak buku dan artikel2 yg INGIN MERDEKA DARI SEKOLAH,  Ivan I >> sekolah laksana pabrik, mencetak manusia seragam. Di Indonesia paham ini diadopsi oleh sebuah buku berjudul “Manusia Pembelajar”.   SAYA BINGUNG?? OH TIDAK!!! Malah saya aneh! Sama artikel2 itu.  “Bukankah mereka yg menyerukan Jangan Sekolah, mereka juga produk sekolahan??? Artinya mereka menkritik sistem pendidikan sampai pada kesimpulan “MERDEKA DARI SEKOLAH” didapatkan krn sekolah???”
Jangan dianggap bahwa SEKOLAH itu hanya berkutat di buku dan guru, tapi sekolah punya ekskul dan unit kegiatan mahasiswa, OSIS, HIMA, dan BEM disitulah kita bersosialisasi, berkolaborasi, bertoleransi, berkerjasama, memimpin dan dipimpin, ….tak jarang ikut berpolitik dan berdemo serta kerja sosial. 

Jika ada yg bilang bahwa “org sukses macam Bill Gate Microsoft atau Mark Facebook,  sukses krn DO dari sekolah” Maka perlu digaris bawahi bahwa itu sebagian kecil aja, mereka DO karena passion mereka mengembangkan bisnis.  Tapi dari mana mereka dpt ide2nya?  KETIKA MEREKA SEKOLAH DAN KULIAH kan??
Dan perlu dicatat, sebagian besar orang yg berkontribusi terhadap kemajuan bangsa dan dunia ini, mereka semua produk pendidikan.  Tak akan ada pesawat super canggih dan mobil hemat energi serta hardware sampai 7core bahkan nanti 1000 core tanpa lembaga pendidikan!! Semua temuan terlembagakan dalam journal2 ilmiah yg bermanfaat terus dilakukan anak cucu sehingga ilmu menjadi berkembang….

Jadi yg punya paham MERDEKA DARI SEKOLAH, Pikirkan lagi deh “jangan bawa2 juga virus2 ini bagi anak2 bangsa dan jangan coba2 sama anak2 (anak jadi korban kelinci percobaan)” betul sistem pendidikan di dunia ini tak sempurna, para pembelajarlah yg harus menyempurnakan.

Contoh kampus saya IPB kurang memfasilitasi kajian kitab kuning dan hal2 yg kaitannya dg studi islam, maka cari pesantren dan guru diluar kampus yg bisa melengkapinya.
Atau mungkin sebaliknya, kampus UIN kurang memfasilitasi ilmu teknologi, maka carilah komunitas2 pengembang ilmu dan teknologi di masyarakat. 

So, kita sinergikan antara SEKOLAH/UNIVERSITAS formal dg universitas kehidupan…dari keduanya kita belajar untuk menjadi paripurna.