O-sōji: Piket membersihkan sekolah di Jepang #SerialPendidikandanKehidupan diJepang

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan bagaimana gelaran piket membersihkan sekolah di Sekolah Dasar Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Sampah! Jika kita lihat kelas di sekolah-sekolah Indonesia saat ini, maka selama proses belajar dan setelah proses belajar, sampah berserakkan di dalam kelas merupakan fenomena biasa. Tapi tenang saja, segerombolan petugas kebersihan sekolah akan serta merta datang setelah usai sekolah, dia akan membersihkan seluruh sekolah.

Dulu, jaman saya sekolah. Setiap hari ada tugas piket. Kita pergi ke sekolah selain membawa buku juga membawa kemoceng, sapu, taplak meja, pas bunga, dll. Sebelum pembelajaran di mulai anak-anak membersihkan kelas, dan setelah selesai belajar juga membersihkannya kembali. Jika ada anak yang tidak piket, kita catat, lalu lapor pada guru wali kelas, biasanya ini jadi salah satu tugas Ketua Murid (KM). Jumlah anak yang piket dibagi berdasarkan hari belajar setiap minggunya. Tapi itu dulu, ketika saya masih menggunakan kurikulum 1975 duduk di bangku SD dan SMP. Ketika SMA saya mulai masuk kurikulum 1984 seingat saya kegiatan kerja bakti hanya dilakukan sekali saja ketika kelas satu, lepas dari itu tidak pernah lagi piket bersih-bersih, semuanya dilakukan oleh petugas kebersihan sekolah. Sekolah pun mulai menggaji banyak petugas kebersihan.

Lalu apa pengaruhnya penghapusan piket kebersihan di sekolah? Pernah dengan keluhan orang tua pada anaknya seperti ini? “Lah! Apa? Kakak disuruh bersih-bersih sekolah? Itukan tugasnya petugas kebersihan, kakak ke sekolah untuk belajar bukan untuk bersih-bersih! Besok ibu akan protes sama sekolah!” Pada diri sebagian anak-anak sekarang kita lihat, bagaimana dengan seenaknya dia berjalan di lantai yang baru dipel oleh petugas kebersihan, dan sepatunya pun kotor. Ketika berada di tengah masyarakat, dengan seenaknya dia melempar sampah ke luar mobil, dan entengnya berkata “Nanti juga ada petugas yang membersihkannya” Ketiga kota tempat tinggalnya kotor, dia akan serta merta menyalahkan Dinas Kebersihan Kota, tak tergerak hatinya untuk turut membantu meringankan beban dinas kebersihan kota. Nah, berat sekali ternyata dampaknya ya?

Piket Membersihkan Sekolah di Jepang

Siapapun yang pernah ke Jepang, akan terkesan dengan kebersihan kotanya. Darimana budaya ini ditanamankan? Sudah banyak diketahui khalayak dan sering kali menjadi viral di media sosial terkait salah satu budaya sekolah Jepang yaitu membersihkan sekolahnya. Aktifitas ini di Jepang dinamakan o-sōji, dilakukan oleh semua sekolah negeri maupun swasta dari tingkat sekolah dasar sampai menengah atas.

Kegiatan ini dilakukan oleh peserta didik setiap hari setelah istirahat makan siang. Ditandai dengan bel, anak-anak bergegas membersihkan seluruh sekolah sesuai tugasnya masing-masing. Pada awal semester sekolah telah membagi anak-anak dalam kelompok-kelompok kebersihan. Satu kelompok kebersihan terdiri dari anak kelas rendah (I,II,III) sampai tinggi (IV, V, VI). Satu kelompok bertugas membersihan bagian tertentu, hampir setiap sudut sekolah ada anak-anak yang menjadi petugas kebersihan. Lantai aula atau lapangan indoor dibersihkan oleh kelompok anak, kaca kelas, ruang kelas, ruang perpustakaan, koridor, toilet, tangga, dan lainnya kecuali ruang guru dan kepala sekolah, semua sudut sekolah dibersihkan peserta didik.

Setelah selesai membersihkan sekolah, anak-anak kelas VI sebagai supervisor akan menanyakan pada setiap kelompok yang telah selesai membersihkan dengan pertanyaan: “Tadi sudah membersihkan apa saja? Apakah ada kesulitan dalam membersihkannya?”

Setelah selesai kegiatan o-sōji anak-anak membereskan kembali peralatan kebersihan. Termasuk peralatan kebersihan yang mereka bawa. Setiap anak di sekolah Jepang mempunyai lap yang mereka bawa dari rumah.

Kegiatan o-sōji dilakukan oleh anak-anak di seluruh Jepang setiap hari. Kegiatan ini merupakan program di sekolah-sekolah Jepang baik negeri maupun swasta dari mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Pembiasaan inilah yang menjadikan Jepang sebagai negara bersih. Budaya membersihkan sekolah, bukan sekedar menumbuhkan rasa kepemilikan dan cinta terhadap sekolah, tetapi berdampak pada merasakan cape-nya melakukan tugas kebersihan. Akibatnya jika akan mengotori dan buang sampah sembarangan, maka akan pikir panjang. Kegiatan o-siji pun menumbuhkan rasa empati.

Membelajarkan kebersihan

Anak-anak Jepang tidak mengeluh dan senang hati melakukan o-sōji. Selama observasi kegiatan o-sōji di berbagai sekolah dasar di Jepang, baik sekolah di pegunungan seperti Jinzu Midori Propinsi Toyama maupun di sekolah perkotaan seperti Tokyo, tidak ada satu pun anak yang leha-leha tidak mengerjakan tugasnya. Semuanya bekerja membersihkan sekolah sesuai tugas mereka. Hal ini mereka lakukan karena sadar bersih berarti sehat.

Kebersihan pangkal kesehatan. Slogan ini marak ditempel diberbagai sekolah di Indonesia. Pertanyaannya adalah, “Apakah kita dan anak didik mengerti arti dan maknanya? Di Jepang anak-anak diberikan pengertian bahwa kuman dan hewan pembawa penyakit seperti nyamuk, lalat, kecoa, dan tikus sangat suka hidup di tempat yang kotor. Lalat akan hinggap ditempat yang berbau dan busuk. Kuman adalah mikroorganisme kecil akan menempel pada debu-debu. Jika tidak ingin terkena penyakit, maka bersih dari debu, bau, dan kotor. Bersih dari debu dan kotoran, tentu tidak mengundang hewan-hewan pembawa penyakit untuk datang. Jika sakit, maka banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar rumah sakit, dokter, dan obat. Selain itu sakit membuat badan merasa tidak nyaman, tidak semangat beraktifitas, dan tidak produktif. Sakit membuat diri menjadi sedih dan menyusahkan orang lain di rumah. Tidak ada orang bahagia karena sakit. Sakit pun dapat berakibat pada kematian. Pengetahuan inilah yang ditanamkan sehingga peserta didik paham mengapa ada slogan “Kebersihan pangkal kesehatan, kesehatan pangkal kesejahteraan dan kebahagian

Lalu siapa yang bertanggungjawab terhadap kebersihan? Di Jepang punya prinsip siapa yang mengotori dia yang membersihkan, siapa yang menggunakan dia wajib menjaganya, bahkan ada slogan sampahmu tanggung jawabmu. Jadi tugas kebersihan itu jadi tanggung jawab sendiri bukan tanggung jawab petugas kebersihan. Semua anak di sekolah menggunakan fasilitas sekolah, jadi kebersihan sekolah adalah tanggung jawab bersama.

Dari mulai masuk sekolah, mereka telah menjaga kebersihan sekolah. Tidak membiarkan debu mengotori sekolah, caranya anak-anak di sekolah Jepang mempunyai sepatu khusus selama di sekolah. Sepatu ini di simpan di sekolah, dan dipakai selama di kelas. Sepatunya terbuat dari karet, dan semua sepatu anak lelaki dan perempuan sama. Sepatu yang mereka pakai dari rumah, yang telah menginjak jalan berdebu akan di simpan di loker selama belajar di sekolah, mereka menggunakan kembali sepatu tersebut ketika pulang. Begitu pula para guru, mereka menggunakan dua sepatu. Sepatu khusus untuk di kelas yang tak berdebu dan tak dipakai di luar. Mengapa itu dilakukan? Selain menjaga kebersihan sekolah mereka dari debu yang berterbangan, debu yang dibawa dari luar atau jalanan mengandung kuman yang dapat membuat mereka sakit. Melepas sepatu luar dan mengganti dengan sepatu khusus selama di kelas dan sekolah adalah cara menjaga kebersihan dan kesehatan.

Bagaimana dengan sekolah di Indonesia? Apakah sekolah akan bertahan dengan memperbanyak petugas kebersihan yang digaji sekolah? atau memberdayakan kembali peserta didik untuk membersihkan sekolah dan menjaga kebersihannya? Mari kita pikirkan! #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus#

 

Advertisements

Hari olah raga di Sekolah Dasar Jepang #Serial Pendidikan&KehidupandiJepang

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan bagaimana gelaran hari olah raga(Sport Day) di Sekolah Dasar Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Standar sarana dan prasarana sekolah dasar di Jepang baik sekolah negeri maupun swasta sama semua. Setiap sekolah harus mempunyai lapangan olah raga outdoor yang cukup luas untuk bermain sepak bola dengan pinggirannya untuk lari. Dengan ukuran lapangan outdoor seperti itu maka selain bermain sepak bola dan lari, juga bisa digunakan untuk permainan base ball. Sekolah juga harus melengkapi dengan lapangan indoor dimana di ruang ini anak bisa bermain bulu tangkis untuk dua lapangan dan bola basket dan senam, ruang indoor ini sekaligus bisa difungsikan untuk hall konser kesenian. Selain itu setiap sekolah harus juga melengkapi dengan kolam renang.

 

Setiap tahun, semua sekolah di Jepang merayakan hari olah raga (Sport Day). Dengan fasilitas seperti di atas, kompetensi olah raga apa yang di selenggarakan di sekolah? Tentunya kita semua membayangkan bahwa pada hari olah raga setiap sekolah akan menyelenggarakan kompetensi bola basket, renang, futsal, base ball, dan olah raga keren lainnya bukan? Bayangan kita mungkin sama yaitu sekolah Jepang akan menyelenggarkan olah raga semodel O2SN (Olimpiade Olah raga Sains Nasional) yang biasa dilakukan di tingkat kecamatan.

Kami mengamati Hari Olah Raga yang diselenggarakan oleh Toyama University Affliated School (Sekolah Laboratorium Universitas Toyama) dan gelaran olah raga model seperti ini berlaku umum di sekolah Jepang lainnya.

Hari olah raga di sekolah, mirip acara kenaikan kelas. Para orang tua di undang untuk menyaksikan acara. Seperti sedang piknik, mereka menggelar tikar dengan tertib di pinggir lapangan yang telah disediakan sekolah. Setiap penonton dibagikan jadwal acara sport day. Upacara pembukaan digelar resmi, pemimpin upacara adalah kepala sekolah. peserta dan petugas upacara berbaris rapi. Tidak ada ‘event organizer khusus’ yang mengelola acara ini, semua komponen sekolah yang terlibat yaitu para guru dan siswa. Guru mengatur loba dan siswa sebagai pembawa acara secara bergantian. Kurang lebih 5 menit upacara di buka, bendera diserahkan petugas upacara pada pemimpin upacara. Pemimpin upacara (kepala sekolah) mengingatkan pada para siswa bahwa mereka telah berlatih keras, dan berhati-hati saat bertanding, agar tidak celaka, dan diakhiri dengan sumpah jujur sebelum kompetisi dimulai.

Inilah hebatnya. Jangan bayangkan olah raga yang digelar adalah olah raga basket, volley, anggar, senam, base ball, renang, atau futsal…walau sarana dan prasarana memadai. Tapi kompetisi yang digelar adalah olah raga jamaah atau olah raga rakyat.

Semua siswa satu sekolah dibagi ke dalam empat tim yaitu tim biru, putih, merah, dan kuning. Satu tim terdiri dari kelas 1-6. Salah seorang anak kelas enam ditunjuk sebagai pemimpin yang memegang bendera tim dan menyemangati teman-temannya yang bertandaing dalam setiap rangkaian olah raga. Olah raga yang dilombakan adalah: lari estafet 60 m untuk kelas 1-2, 80 m untuk kelas 3-4, dan lari 100 m untuk kelas 5-6, serta permainan tradisional dan modifikasi untuk kelas 1-4. Misalnya kelas 1-2 bermain memasukkan bola ke keranjang, lomba ketangkasan tradisonal, dan karena shinkazen saat itu baru melewati kota Toyama maka ada permainan kereta shinkazen menggunakan papan beroda. [Jadwal acara lihat gambar].

Sport day di Jepang. Satu tim terdiri dari kelas 1-6. Jenis lomba dibagi menjadi jenis lomba untuk kelas 1-2, 3-4, 5, dan 6. Skor dihitung sebagai kemenangan tim bukan kemenangan perorangan atau kelompok. Olahraga yang disajikan adalah olah raga umum tidak membutuhkan skill dan bakat khusus, sehingga tidak ada anak yang menjadi penonton, semuanya bermain, karena olah raga yang digelar bisa dimainkan oleh semua orang. Semua anak bisa mengikutinya dengan riang gembira. Hal yang dipentingkan dari gelar hari olah raga ini adalah semua anak bermain, semua anak bahagia, dan semua anak bisa merasakan kemenangan. Orang tua bangga pada anaknya masing, bahagia melihat anaknya bisa bersemangat bertanding untuk timnya. Rasa KOOPERATIF DAN KOLABORATIF atau istilah Indonesia GOTONG ROYONG DAN KEBERSAMAAN itulah yang dipupuk dalam hari olah raga di Jepang bukan kompetisi individualis. Hebat bukan gelaran olah raga yang digelar negara maju, justeru sangat merakyat, yang dipentingkan adalah gerak fisik agar sehat, kompak, kebersamaan, yang tua (kelas 5-6) menyemangati dan membimbing yang muda kelas 1-4, semua berperan aktif mengikuti lomba tidak ada yang jadi penonton. Selain kebersamaan, gotong royong, ada juga kepemimpinan, kemadirian, dan kompetisi. Hari olah raga dijadikan wadah membangun karakter bangsa Jepang di masa akan datang.

Berbeda sekali dengan kompetisi O2SN di Indonesia bukan? Atau dengan PORSENI (pekan olah raga dan seni) yang biasa digelar sekolah di tingkat SMP/SMA pasca Ujian Akhir Sekolah? Kedua gelaran olah raga di sekolah Indonesia lebih memupuk pada kompetisi individual, hanya orang yang punya skill dan bakat yang bisa mengikutinya, sementara anak lainnya menjadi penonton pasif. Mungkin sebaiknya kita mulai memikirkan ulang (re-thinking) bagaimana semangat GOTONG ROYONG DAN KEBERSAMAAN yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia ditumbuhkembangkan kembali, dan hal itu bisa dilakukan lewat kegiatan PORSENI sekolah. Menjadikan ajang PORSENI sebagai wadah membangun karakter GOTONG ROYONG, KEBERSAMAAN, dan KEPEMIMPINAN. Bukankah Indonesia kayak dengan permainan dan olah raga tradional yang bersifat gotong royong? Dan pastinya modifikasi permainan tradisional ini dapat dimainkan oleh semua anak. Mengapa itu tidak kita mulai memikirkan membangun karakter anak Indonesia masa depan? Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus![YH]

This slideshow requires JavaScript.

Sport Day bukan gelar olah raga penuh keterampilan bersifat kompetisi individual tetapi menggelar olah raga dalam permainan kebersamaan dan menyenangkan, semua anak bisa melakukannya semua anak berpeluang menjadi juara

Negeri Kuali Asia #EduTravelling

um2

Sebenarnya kunjungan ke Malaysia kali ini untuk menghadiri International Conference, bukan untuk bahas sociocultural. Namun sisi sosiocultural Malaysia ternyata asyik juga ditelaah.

Negeri kuali Asia pantas disematkan pada malaysia.  Negara ini punya tiga ras yang saling bahu membahu membangun Malaysia yaitu China, India, dan Melayu.

Kalau kita jalan-jalan di Kualalumpur, kita akan mendengar sebagian cakap bahasa China, bahasa India, bahasa Melayu, dan bahasa Inggris.  Dan… jangan heran kalau Orang India gak bisa bahasa Melayu atau Inggris, dia hanya bisa bahasa India pun begitu dengan orang China.   (Gue bayangin kalau kejadian itu terjadi di Indonesia, orang China tidak bisa bahasa Indonesia, pastilah udah dituduh imigran gelap).

Nah, masuk ke hotel. Ups, hotel2 penuh! Rombongan China membooking kamar-kamar hotel, mereka adalah wisatawan dari China.  Sebenarnya rombongan wisatawan dari China bukan sekali itu saja saya lihat, di Jepang pun mereka banyak sekali.  Sekali memberangkatkan ada 20 orang untuk satu kloter, dan bisa ada 5-10 kloter loh berpapasan dengan kita. (Sekali lagi gue bayangin kalau kejadian ini terjadi di Indonesia, maka mereka akan disangka imigran gelap, punya tujuan tinggal di Indonesia. Ups padahal mereka sumber devisa kita ya?)

Begitu “terbukanya dada dan tangan” orang2 Malaysia terhadap China dan India membuat saya kagum.  Kalau YOU pergi ke universitas negeri di Indonesia, coba You hitunglah, berapa ras China yang mengisi jajaran akademik di universitas negeri? Ada 5% itu udah luar biasa, umumnya hanya 1-2 orang saja kan?  Tapi kalau you tenggok malaysia, maka jajaran akademik di universitas negeri maka You akan kaget, China-India memenuhi jajaran akademik universitas2…negeri.  Dan kita mungkin bisa saja berdalih, “Aih, itukan karena ranah akademik yang lebih open, kalau politik, mungkin tidak”.  Nah, silahkan you buka jajaran JAMAAH MENTERI MALAYSIA: KLIK DISINI  you akan lihat 17% anggota jamaah berethis China, dan nama mereka tidak mengalami naturalisasi, sehingga you akan lihat nama2 China macam ONG KA CHUAN, LOW SENG KUAN, SIEW KEONG, LIOW TIONG LAI ,  atau nama India macam S. SUBRAMANIAM.  

Siapa yang menyangkal “keberislaman budaya Malaysia?” Tapi keberislaman mereka ternyata mampu menghargai perbedaan lintas budaya dan mampu berbesar hati menerima kesamaam hak dan kewajiban sebagai WN.

Ok, back to Indonesia.  Akhir-akhir ini sebagian agama dan ras tertentu merasa lebih berhak atas Negara Kesatuan Republik Indonesia, atas Wilayah yang mereka tempati, sehingga mereka menutup peluang bagi beda agama dan ras lain untuk maju menjadi pemimpin daerah atau negera.  Aneka dalil dikeluarkan untuk menyatakan HARAM.  Ya, semua dalil itu memang bersumber pada kitab suci.  Kebenaran dalil dari Al Qur’an adalah benar adanya, sebagai muslim tak boleh membantahnya.  Namun, pertanyaannya, “Apakah konteks penerapan dalil tersebut cocok untuk Indonesia?” Indonesia adalah negara yang mendasarkan dirinya pada Demokrasi Pancasila (atau istilah beberapa kelompok mendasarkan pada SISTEM KUFUR bukan SISTEM ISLAM).  Lalu pertanyaannya, “Apakah pemimpin SISTEM KUFUR pun harus MUSLIM JUGA?”

Disinilah “nalar” kita berperan.  Islam adalah agama agung, namun sebagian orang memanfaatkan islam demi kepentingan politiknya.  Agama dijual demi mendulang suara.  Ketika prestasi lawan tak bisa ditandingi, maka MEMBAWA AGAMA dan ETHIS/RAS menjadi adalah jalan pintas yang digunakan mereka. Mereka melakukannya bukan semata-mata murni karena agama, tapi karena MENTAL MANUSIA KAPITALISME MATERIALISME DAN GILA KEKUASAAN.

Bukan hanya di Indonesia, di USA pun sama kok! Masih ingat kampanye agama/ras pada Obama? Yap, tuduhannya adalah “Obama Muslim, Obama AfroAmerican, gak layak jadi pemimpin USA yang mayoritas kristen dan orang kulit putih/CaucasianAmerica”.   Ok, mirip kan? Mirip sama Lu pada yang mengatakan “Ahok kristen, Ahok ChinaIndonesia” gak layak jadi pemimpin Jakarta yang mayoritas Islam dan MelayuIndonesia

#sekian saja! Let’s Think, daripada Nothing#

Serial Pendidikan dan Kehidupan di Jepang: Cara Guru Jepang Mengoptimalkan Papan Tulis dalam Proses Argumentasi di Kelas

Oleh Yanti Herlanti

Tulisan ini telah dimuat di Tabloid Aksara No 109 September 2016

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan pemanfaatan papan tulis oleh guru di Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Media pembelajaran apa yang paling banyak digunakan oleh guru SD di kelas? Papan tulis! Ya, papan tulis merupakan media pembelajaran utama di kelas.

Papan tulis merupakan salah satu penemuan revolusioner dalam dunia. Dahulu papan tulis digunakan para pelajar Babilionia dan Sumeria kuno serta juga ditemukan di India berbentuk batu sabak. Abad ke-18 di Eropa batu sabak digantikan dengan papan, karena lebih murah dari kertas dan tinta. Walaupun terjadi perdebatan siapa yang punya ide papan tulis pertama, namun diketahui tahun 1801 James Pillans seorang kepala sekolah dan guru geografi dari Old High School in Edinburgh, Scotland pertama kali menggunakan papan tulis besar yang digantungkan di dinding yang kemudian secara massif pada tahun 1960-an digunakan sebagai standar yang harus ada di setiap kelas.

Bagaimana sebagaian besar guru di Indonesia memanfaatkan papan tulis?

Ada beberapa tindakan guru dalam memanfaatkan diantaranya adalah:

Tipe pertama, Guru menuliskan hari dan tanggal lalu menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis. Selanjutnya guru memanfaatkan media presentasi seperti LCD proyektor atau mengintruksikan siswa membuka buku/LKS dan sama-sama membaca dan mengerjakan LKS. Papan tulis pun bersih tak terlihat tulisan apapun.

Tipe kedua, Guru menuliskan atau meminta siswa menuliskan setiap kata dari materi dari buku atau ringkasan materi ataupun contoh soal yang sudah dibuat guru di papan tulis. Peserta didik diminta menulis kembali seperti yang tertera di papan tulis di buku tulis masing-masing. Setelah papan tulis penuh, guru menjelaskan maksud dari yang ditulis, kemudian setelah selesai menjelaskan dan tak ada pertanyaan, tulisan dihapus untuk diganti tulisan lanjutan. Seterusnya seperti itu. Walhasil papan tulis pun penuh dengan tulisan.

Tipe ketiga, Guru menuliskan tujuan pembelajaran di papan tulis. Lalu menjelaskan materi melalui berbagai media, dan setiap point penting dari penjelasannya dituliskan dipapan tulis. Walhasil kita akan melihat resume pada papan tulis berupa point-point penting pembelajaran hari itu.

Seperti halnya di Indonesia, pakar pendidikan di Jepang pun menyadari peran vital dari papan tulis. Lalu bagaimana guru di Jepang memanfaatkan papan tulis?

Di Jepang satu jam pelajaran setara 50 menit. Setiap guru mata pelajaran akan menyampaikan materi di kelas selama 50 menit yang meliputi pembukaan sampai penutupan. Apa saja yang disampaikan oleh guru selama 50 menit tersebut dapat dilihat di papan tulis. Papan tulis dimanfaatkan secara optimal sebagai media pembelajaran. Gambar 1 memperlihatkan sekitar pukul 13.50 guru menempelkan selembar kertas berisi sebuah pertanyaan di papan tulis. “Ada peristiwa apa di Hokaido setiap hari selasa ke-4 pada bulan oktober?” Beberapa siswa menjawab dan guru menuliskan jawaban siswa menggunakan kapur tulis. Selama kurang lebih lima menit, siswa diminta menebak jawaban pertanyaan tersebut.

Gambar 1.

Gambar 1. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan pertanyaan di papan tulis dan menuliskan jawaban dari siswanya [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].

Gambar 2 memperlihatkan guru menggunakan kapur berwarna putih untuk menuliskan jawaban siswa. Penggunaan warna kapur merah digunakan untuk menandai kata-kata kunci yang mengarah pada jawaban. Guru menandai dengan kapur merah bahwa jawaban yang benar terkait dengan “rusa” dan “makan”. Anak menebak bahwa “Selasa ke-4 bulan Oktober sebagai hari dimana masyarakat Hokaido dilarang makan rusa!” namun jawabanya salah ternyata sebaliknya yaitu “Hari bebas makan daging rusa sepuasnya. Guru pun menuliskan dengan menggunakan kapur warna kuning sebagai jawaban yang tepat. Lalu guru menempelkan selembar kertas lagi bergambar kesukaan anak-anak terhadap daging rusa. Guru menggambarkan dari muka tersenyum sampai cemberut untuk meunjukkan kesukaan sampai ketidaksukaan terhadap daging rusa.

 

gambar 2

Gambar 2. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan jawaban para siswa, kapur berwarna digunakan untuk menandai kata-kata kunci yang mengarah pada jawaban dan jawaban terhadap jawaban [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].  

            Gambar 3 menunjukkan guru menuliskan alasan peserta didik mengapa tidak suka dan suka terhadap daging rusa. Alasan bermacam-macam misalnya tak tega karena lucu, nanti rusanya habis, dan lainnya. Lalu guru membawa daging rusa yang dibelinya di Hokaido. Peserta didik diminta mencobanya, parameter kesukaan pun ditempelkan kembali untuk menjaring perubahan kesukaan setelah peserta didik mencicipi daging rusa. Tampak di papan tulis terjadi perubahan, peserta didik yang sangat menyukai daging rusa bertambah dari 7 menjadi 21.

 

gambar 3

Gambar 3. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan jumlah siswa yang menyukai sampai yang tidak menyukai daging rusa dan menuliskan alasan peserta didik mengapa menyukai dan tidak menyukai [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University].

 

Gambar 4 memperlihatkan guru menggali mengapa ada perubahan persepsi? Siswa mengemukakan alasannya, dan guru menuliskan alasan di papan tulis. Alasan peserta didik yang berubah dari tidak suka menjadi suka karena ternyata setelah dicicipi daging rusanya enak. Ada juga yang bertahan tidak menyukainya karena alasan rusa bisa habis padahal harusnya dilindungi. Lalu guru menempelkan grafik yang dibuat sendiri dari kertas karton. Grafik kerusakan lahan pertanian di Hokaido dari tahun ke tahun.

gambar 4

Gambar 4. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menuliskan alasan perubahan pendapat siswa dan menempelkan grafik kerusakan lahan pertanian di Hokaido [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Gambar 5 menunjukkan guru menempelkan satu grafik lagi yaitu pertumbuhan rusa di Hokaido dari tahun ke tahun. Siswa memikirkan hubungan antara grafik kerusakan lahan pertanian dari tahun ke tahun dan pertumbuhan rusa pada tahun yang sama di Hokaido. Dari dua grafik ini guru meminta para siswa memikirkan alasan mengapa Hokaido masyarakat beramai-ramai memakan daging rusa tiap selasa keempat bulan Oktober.

gambar 5

Gambar 5. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan grafik kedua yaitu pertumbuhan rusa di Hokaido [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Gambar 6 menunjukkan kegiatan inti berlangsung selama 40 menit. Kita bisa melihat rangkaian kegiatan selama 40 menit di papan tulis dari kanan ke kiri. Apa yang dibelajarkan guru dan bagaimana proses argumentasi yang terjadi di kelas terlihat di papan tulis.

gambar 6

Gambar 6. Guru Hasimoto dari Toyama University Affiliated Elementary School menempelkan kesimpulan dan pada pukul 14.30 kegiatan inti pembelajaran berakhir. Seluruh pembelajaran yang dilakukan terlihat di papan tulis [Foto Dokumen Prof. Negishi Toyama University]

 

Tidak hanya Guru Hasimoto, hampir semua guru di Toyama Jepang mempunyai pola yang sama. Sebuah topik pembelajaran yang diberikan guru selama satu jam pelajaran di kelas dapat dilihat pada papan tulis. Gambar 6 memperlihatkan selembar pertanyaan yang diberika guru dan proses argumentasi yang terjadi selama pembelajaran di kelas. Warna kuning yang ditempelkan adalah nama peserta didik yang memberikan pendapat. Garis panah menunjukkan kaitan antara pendapat siswa yang satu dengan yang lain.

diskus

Gambar 7. Papan Tulis di sebuah kelas SD Jinzu Midori Jepang memuat apa yang telah dibelajaran selama satu jam pembelajaran [Foto Dokumen Penulis].

Guru Jepang telah memanfaatkan papan tulis sebagai media pembelajaran secara optimal. Selepas pembelajaran papan tulis dapat dipotret, dijadikan sebagai bahan refleksi. Bagaimana Guru Indonesia? Mari kita mulai mengoptimalkan papan tulis sebagai media pembelajaran di kelas! #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus! [YH].

SERIAL PENDIDIKAN DAN KEHIDUPANDI JEPANG: Cara SD di Jepang melatih berargumentasi sejak dini

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Berikut ini tulisan perdana pengalaman saya yang mungkin bermanfaat bagi para guru terutama level sekolah dasar.

Bagaimana sekolah dasar di Jepang melatih berargumentasi?

Di sebuah kelas…

Guru   : “Siapa yang mau berpendapat? Apa yang menyebabkan banjir di Jakarta?”

Murid : Serentak para peserta didik mengacungkan tangannya.

Guru   : “Baiklah, coba Ani!”

Ani      :   “Itu bu, banjir itu karena kita buang sampah ke sungai!”

Guru   : Salah satunya itu, ada yang lain?

Murid : (Serempak) Saya bu saya bu….

Guru   : “Ya, coba Budi!”

Budi    : “Anu banyak sampah di Sungai!”

Guru   : “Ya, sama ya? Karena sampah!” Yang lainnya?”

Murid : mengacungkan tangannya

Guru   : Ya, coba Nisa!

Nisa     : “Karena orang-orang buang sampah ke Sungai!”

Pernahkan anda sebagai guru mengalami hal seperti itu? Pendapat Peserta didik yang kita tunjuk untuk menjawab tidak berbeda dengan pendapat peserta didik sebelumya? Lalu siapa penyebab gagal paham ini? Peserta didik atau gurunya? Sebagai guru mungkin kita tak perlu kesal dengan jawaban peserta didik, tapi kita harus memikirkan bagaimana caranya agar tanya jawab yang dilakukan guru dan peserta didik lebih hidup?

Jawaban beragam yang diberikan peserta didik untuk sebuah pertanyaan yang sifatnya ekploratif seperti di atas menunjukkan kekayaan imajinasi dan kreatifitas. Peserta didik menjawab dengan jawaban berbeda sesuai pengalaman dan sudut pandangnya, itulah sebetulnya yang diharapkan dari sebuah pertanyaan eksploratif. Namun, ada kalanya peserta didik gagal menjawab sesuai yang diharapkan, bukan semata peserta didik, tapi mungkin saja karena kekurangan kita sebagai pengajar dalam mengelola kelas.

Para pakar pendidikan di Jepang pun merasakan hal yang sama. Anak-anak Jepang sulit mengemukakan argumen, kalau mengemukakan maka antar peserta jawaban sama. Berdasarkan pemikiran ini maka para pakar pendidikan menciptakan aturan menjawab pertanyaan guru di kelas. Gambar 1 di bawah ini memperlihatkan aturan tunjukkan tangan dalam menjawab pertanyaan guru di kelas.

Peraturan seperti ini ditempelkan di depan kelas di atas papan tulis (lihat Gambar 2), sehingga para siswa bisa melihat dan menggunakannya pada saat pembelajaran berlangsung bersama guru (lihat Gambar 3) dan pada saat diskusi kelompok antar peserta didik (lihat Gambar 4). Lalu apa keuntungan dari aturan penunjukkan tangan ini?

  • Bagi peserta didik akan banyak berpikir terlebih dahulu sebelum berpendapat. Peserta didik lebih memperhatikan pendapat sebelumnya, dan tidak buru-buru berpendapat. Ini mengasah rasa empati dan peduli serta menghargai pendapat orang lain, dan mengeliminasi rasa egois atau ingin tampil lebih hebat dari temannya.
  • Bagi guru aturan ini mempermudah mengorganisasikan pendapat peserta didik, apalagi jika setiap sari dari pendapat peserta didik dituliskan di papan tulis. Guru dapat memilih pendapat mana dulu yang relevan, ketika melihat ada peserta didik yang akan menambahkan pendapat sebelumnya, maka tentu akan prioritas untuk menunjuknya terlebih dahulu, begitu pula ketika ada peserta didik yang menyanggah pendapat sebelumnya tentu akan lebih utama dipersilahkan terlebih dahulu dibandingkan dengan yang mengemukakan pendapat baru.
  • Bagi lingkungan belajar, aturan ini menciptakan lingkungan belajar membangun pengetahuan secara konduksif, efektif, efesien, adil dan tertib. Konduksif, ketika guru telah menunjuk seseorang untuk berpendapat, maka setiap peserta didik akan mendengarkan dahulu pendapat teman lainnya, kemudian berfikir, baru kemudian menentukan posisinya mau menambahkan pendapat, setuju saja, membantah, atau memberikan pendapat baru. Efektif, setiap peserta didik secara tertib bergiliran berpendapat ketika guru berpendapat, dan pendapat yang dilontarkan peserta didik sifatnya memperkaya pendapat sebelumnya sehingga terjadi konstruksi pengetahuan bersama. Efesien, pendapat yang sifat mengulang-ulang walau dengan redaksi yang berbeda dapat dihindari dengan aturan penunjukkan tangan seperti ini. Adil, semua peserta didik diberikan kesempatan untuk memberikan pendapat. Tertib, tidak perlu berteriak-teriak di kelas, tetapi isyarat tangan mereka telah cukup memperlihatkan kualitas pendapat yang akan dilontarkan, guru pun secara bergiliran dapat memilih kualitas pendapat yang ingin dibangun dalam pembelajaran di kelas.

Pentingnya Argumentasi Sejak Dini

Toulmin memaparkan argumentasi adalah proses menyampaikan klaim (pernyataan) yang didasarkan pada data atau fakta, disertai dengan penjamin yang memperkuat klaim yang disampaikan disertai dukungan terhadap penjamin. Keseluruhan proses yang meliputi klaim, data, penjamin, dan dukungan dinamakan dengan argumen.

Argumen berbeda dengan asumsi. Asumsi adalah perkiraan yang bisa jadi didasarkan pada data/fakta atau bisa juga tidak. Argumen juga berbeda dengan provokasi, provokasi terkadang menggunakan fakta/data palsu dengan maksud menghasud. Membiasakan berargumen sejak dini (bukan berasumsi atau melakukan provokasi) akan membiasakan peserta didik mencari data/fakta sebelum menyatakan suatu klaim bukan sekedar asal pendapat. Ketika peserta didik menginginkan klaim yang kuat yang dapat diterima oleh semua orang, maka dia akan mencari penjamin dan pendukungnya, sehingga argumennya diyakini oleh orang banyak dan mempengaruhi kepercayaan orang lain.

Pada era pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, arus argumen terutama di media online dan sosial sangat deras. Membedakan mana argumen atau asumsi atau provokasi sangat penting. Demikian juga membiasakan berargumen secara benar membuat peserta didik senantiasa memiliki kejujuran dalam berpendapat, obyektif, dan melatih berpikir kritis dalam memanfaatkan penjamin dan pendukung terhadap pernyataannya, serta membiasakan berpikiran terbuka mau mendengarkan dan menghargai argumen orang lain.Dengan berbagai nilai positif dari melatih berargumentasi di kelas, mengapa tidak kita coba di kelas? Tentu saja berargumen akan lebih tertib dan terarah dengan menggunakan aturan tunjuk tangan seperti di sekolah Jepang. [YH].

This slideshow requires JavaScript.

Tulisan ini dimuat di Tabloid Aksara Edisi Febuari 2016

Again! Always fun!

Facebook…..! Dibalik berbagai berita negatif pemanfaatannya oleh sebagian orang kurang akal [Selingkuh, penculikan, dll],  facebook menyimpan potensi digunakan oleh guru dan dosen dalam pembelajaran, terutama membahas isu sosiosainstifik.  Ok, banyak media sih bisa digunakan untuk diskusi, dari mulai blog, edmodo, dan lain-lain.  Tapi FACEBOOK tetaplah terbaik, selain familiar di kalangan pelajar dan mahasiswa.  Facebook punya daya muat komentar yang luar biasa tanpa LOW LOADING [Hasil riset disertasi].  Dan bagaimana kesan mahasiswa selama diskusi isu sosiosaintifik melalui facebook, ini dia!

Screen Shot 2015-12-06 at 7.33.02 AM.png

  • Menghargai waktu yang berjalan, buru” dan bikin deg-degan saat waktu mau habis.
  • Sangat berkesan, dan banyak menambah pengetahuan dari forum diskusi ini. Sempat menjalankan perkuliahan online sebelumnya waktu semester 2, tetapi tidak berjalan terstruktur seperti saat ini. Namun masih terkendala dengan koneksinya nih Bu, hehe smile emotikon terima kasih banyak bu Yanti Herlanti Full
  • Feeling saya bu, jadi panik karena signal trouble yang tidak stabil. Seru juga bu, karena ini baru pertama kalinya diskusi dalam online.
  • first moment ! diskusi online on facebook, seru dan berkesan, belajar menghargai waktu dan juga pendapat orng lain
    thank you very much Mrs. Yanti Herlanti Full smile emotikon
  • otak, otot, dan jantung jadi semakin terlatih bu hihi

LENGKAPNYA bisa tenggok disini: DISKUSI ISU SOSIOSAINTIFIK ONLINE 

23. We need it!

image

Djogjakarta, 28 april 2015
Saya kebagian ambil data di smp perak, sebuah smp dengan akreditasi C.  Kru Dinas Pendidikan mengantar saya, berhenti persis di depan warung. Beliau mengajak saya masuk warung tsb, naik tangga, sambil berkata “Maaf, ini sekolah tempatnya kayak gini memang”

Letak sekolahnya di atas warung.  Menginjakkan kaki, terlihat beberapa guru sedang membersihkan kelas.  Penasaran, maka saya telusuri setiap sudut sekolah.  Beberapa siswa sdg berkumpul, saya tanya kelas berapa? Mereka menjawab 3. Lalu saya tanyakan kemana kelas 1 dan 2 dg santai mereka menjawab “libur dalam waktu yg tidak terbatas”

Jawaban itu membuat saya bertanya, “Berapa jumlah murid di sini?”  Ternyata berturut2 dari kelas 7,8,9 adalah 5, 12, 22.

Semua keheranan saya ternyata terjawab saat wawancara mendalam dengan kepala sekolah.  Dan presepsi negatif saya tentang sekolah ini pun berbalik menjadi positif. SEKOLAH SEPERTI INI MEMANG HARUS ADA BAGI MEREKA.

Sekolah ini, menampung anak2 yg telah di DO dari berbagai sekolah krn kenakalannya atau karena prestasinya yg mandeg.  Bisa dilihat piramida berdasarkan jumlah siswa, makin tinggi kelas makin banyak siswa.  Namun, mengapa anak2 itu melakukan hal ini? Ternyata sebagian besar mereka berasal dari keluarga broken home.  Ulah mereka sebetulnya bentuk protes sosial.

Sederhana saja misi sekolah ini yaitu “mencapai WAJAR 9 TAHUN melalui pendidikan formal”

Apapun perbuatan destruktif yg telah para siswa ini lakukan, mereka tetap mempunyai hak bersekolah.  

Saya cukup salut dg bakti ibu bapak guru di sekolah ini, walau para murid dengan semena2 meliburkan diri namun mereka tetap datang kesekolah, tetap mengunjungi rumah anak2 tsb, tetap menggalakkan program pembinaan pada siswanya. Mengarahkan mereka untuk tetap melanjutkan wajar 12 tahun. Bagi mereka “tidak semua anak bisa berprestasi, tapi semua anak bisa menjadi baik” 

—– KOMITMEN DAN LOYALITAS PROFESI benar2 diuji manakala seorang guru bertugas di sekolah seperti itu, mau lari? Atau terus mengabdi karena mereka pun generasi negeri——

Selamat hari pendidikan nasional!!

Edutraveling Japan Sesion II

4-15 Oktober 2014, saya kembali berkesempatan mengunjungi kota Toyama dan Tokyo untuk keperluan pembuatan buku pendidikan lingkungan.  Pada kesempatan itu saya mengabadi beberapa hal yang unik dan khas di Jepang, Konon katanya “GAMBAR BANYAK BICARA daripada KATA” jadi silahkan menikmati hasil jepretan yang terarsipkan dalam instagram YANTI HERLANTI.  Melalui koleksi jepretan ini kita bisa melihat bagaimana manajemen kota di Tokyo/Toyama, hal yang sama dan beda antara Indonesia dan Jepang. SEMOGA BERMANFAAT.

Medan with love! #Edutravelling

Sebutkan kota dimana toleransi terlihat indah?  Saya pernah traveling ke Aceh, Kupang, Ambon, Denpasar, Padang, Banjar, Pontianak, dan kota-kota besar di Pulau Jawa.  Dan akhirnya saya menjatuhkan pilihannya pada Medan!

Di Medan Geraja berdampingan dengan mesjid,  area kampus kristen terbesar bersama-sama berada di lingkungan muslim.  Masyarakat dalam satu kampung bahkan dalam satu instansi bisa beragam agamanya.   Dan kita tidak pernah dengar konflik-konflik antar agama, seperti kita dengar bahkan alami di Poso atau Ambon. Semoga selamanya.

Dan usut punya usut, toleransi seperti ini telah berlangsung lama.  Ada dua tokoh ternama di Medan yang tempat tinggalnya dijadikan sebagai heritage of Medan.  Kedua tokoh itu adalah Chong A Fie dan Sultan Makmun Al Rasyid.

Chong A Fie adalah saudagar atau tepatnya konglomerat pada awal abad 19 (1860-1921).  Mempunyai 7 perkebunan di Sumatera Utara, Bank Deli, beberapa perusahaan penting saat itu.  Kekayaan tidak habis, walaupun beliau melakukan aktifitas CSR dengan mendirikan rumah sakit, walaupun beragama chong wu chu, namun beliau mendirikan mesjid dan gereja bagi penduduk sekitar.  Chong A Fie mempunyai relasi yang baik dengan Belanda, juga dengan Sultan Makmud Al Rasyid di Istana Maimun.   Keakraban dengan sultan ditunjukkan dengan kebiasaannya menyajikan bubur sebagai tajil berbuka di Mesjid Raya.  Sampai sekarang tradisi menyediakan bubur bagi orang berbuka setiap hari selama bulan Ramadhan masih dilakukan oleh keturunan Chong A. Fie.  Toleransi seperti ini yang patut dilestaraikan.

Bagaimana rumah seorang konglomerat zaman itu? Dengan membayar 35.000 berikut seorang guide, kita bisa menikmati rumah Chong A. Fie yang bergaya China Melayu, berbagai peralatan yang beliau gunakan masih tersimpan rapi.  Rumah dua tingkat dari kayu, begitu kokoh berdiri.  Mempunyai tiga ruang tamu, yaitu ruang tamu khusus untuk menerima Sultan, menerima Belanda, dan menerima tamu umum.  Ruang-ruang kamar yang besar sebesar rumah tipe 54, juga ballroom tempat dansa.  Dan jangan terkejut ya? Chong A. Fie membangun konglomerasinya mulai usia 20 tahun.

Sultan Makmun Al Rasyid dengan istana Maimun-nya termasuk yang bisa kita kunjungi.  Konon istana ini merupakan istana yang tersisa, karena Sultan Makmun bersedia kerjasama dengan Belanda.  Sementara istana lainnya hancur, karena menolak kerjasama dengan Belanda.  Jika kita amati pakaian dan beberapa tradisi di sekitar kesultanan ini, nampak bahwa kesultanan ini tidak bisa dipisahkan dari kekhilafahan utsmaniyah di Turki.  Boleh jadi, istana dan sultan adalah wakil khilafah islamiyah di tanah Deli.

Istana maimun, dibandingkan istana di Pulau Jawa, bangunannya lebih sederhana.  Walaupun seperti umumnya istana, halamannya luas dengan aneka taman dan pemandian.

Lengkapnya tentang istana ini bisa dibaca dibeberapa artikel seperti: http://indonesiaexplorer.net/istana-maimun.html 

Ulasan tentang Tjong A Fie ternyata pernah ada di Kabar Indonesia: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=26&dn=20081215143652