インドネシアの 地方の 祭り

私はボゴルに住んでいる。おもしろい町ね!ボゴルに二つ祭りあります。CAP GOMEH (道祭り) と HALERAN文化祭りです。

旧正月に道祭りがあります。午後3時から時午1前まで道祭りをします。CAPGOMEHとき、Suryakencana道 (LawangSaketeng)が賑やかです。LiongBarong踊るがあります。面白い踊るですからいろいろ人が見ます。

町誕生日にHALERAN文化祭りがあります。Haleranは アートパフォーマンスと文化のパレード です。文化のパレードにいろいろ文化があります。Sudirman道からSEMPURフィールドまでいろいろ文化が歩きます。SEMPURフィールドにいろいろアートパフォーマンスがあります。

好きじゃないボゴル祭りがゴミです。ゴミの整理することが悪いです。皆人はゴミを持ち帰りません。ゴミステーシンがありません。

東京の上のパーク 2018年9月16日

日本の祭りにゴミの整理することがいいです。日本の祭りでゴミステーシンがあります。ゴミステーシンで皆人はゴミを捨てます。日本でゴミの整理することを勉強しましょう!

インドネシアの 公共交通機関

インドネシアにいろいろ公共交通機関あります。公共交通機関は何が好きですか?何が便利ですか?何をよく乗りますか?私はこの電車がとても好きです。のんで?考えてください!この電車の写真を見てください!あなたは何を見ますか?

1。公用車

3.000 – 5.000 ルピア

2。バス

3。電車

4。MRT

3月2019年MRTがあります。

今交響交通機関がいいですね!

シカ🦌:奈良とボゴル

奈良パークへ行った時、シカがたくさんいます。奈良のシカを見た時、ボゴルのシカを考える。奈良のシカとボゴルのシカは同じですか? これはシカの写真です。見てください!

(1)きれいな自然にシカがいます。

ボゴルのシカ奈良のシカ

(2)ボゴルのシカににんじんをあげます。奈良のシカにケキをあげます。

(3) 奈良のシカはホーンがいません。ボゴルのシカはホーンがいます。

(4) シカが可愛い動物です。人々はシカがとてもすきです。ボゴルに“Pagar”あります。奈良にPagarありません。

可愛シカでしょう?

私の花見

今年3月29日から4月3日まで私たちは京都へ行った。桜が満開でしょう。楽しかったです。私は花がとても好きです。花を見て、花の写真を取ることが好きです。花がきれいでしょう。

日本で私は桜を見た時、写真を取った。私の携帯にいろいろ桜がたくさんあります。たとえば京都の桜と奈良の桜と富谷図の桜とお大阪の桜です。

桜のインフォを探した。よかった!私の写真に四つ桜があります。

1。ソメイヨシノ「Somei Yoshino, bunga sakura umumnya yang dikenal luas」。色の満開桜がピンクから白いまで。花びらは5つがいます。

2。シダレザクラ「Shidarezakura, bunga sakura menangis」色の花はピンクです。花びらは5つがいます。花が垂れ下がる。

3。ヤエザクラ「yaezakura, sakura berkelopak ganda」色の桜はピンクです。花びらは5の倍数:10、15、20 … 50。

4。山桜「yamazakura, bunga sakura liar]. 色の桜は白いです。花と葉っぱがあります。

楽しかったね!今年桜を見た。

Rapih: one of Japan culutre

Pernah berkunjung ke Jepang? Apa kesan pertama anda terhadap negara ini? Ungkapkan dalam tiga kata: BERSIH, RAPIH, TERATUR! itu yang senantiasa saya dapatkan ketika mengajak peserta ke Jepang pertama kalinya, dan itu pula yang saya rasakan.  Mengapa bisa seperti itu?

Tulisan sebelumnya sudah dibahas mengapa Jepang bisa bersih? Silahkan baca tulisan saya tentang O-sōji: Piket membersihkan sekolah di Jepang #SerialPendidikandanKehidupan diJepang).  Mengapa jepang masyarakat jepang teratur? Silahkan lihat salah satunya dalam tulisan tentang Antri: just one of Japan culture).  Kali ini saya akan tuliskan mengapa kehidupan di Jepang bisa rapi?

Budaya rapi.  Suka lihat film Dora Emon kan? Nobita, Giant, dan Suzuka pegang sapu dan lap menyapu dan mengepel rumah udah biasa bukan? Juga bagaimana mereka membereskan kembali sepatu dan sandalnya.  Di rumah dilakukan, di sekolah pun dibiasakan.  Maka jika lihat di Jepang tak ada sandal atau sepatu yang letaknya berantakan kayak di pelataran mesjid di Indonesia saat sholat jum’at atau jama’ah.  Semuanya akan tertata rapi, kenapa? Melihat yang rapi hati kita damai bukan? Itulah esensinya! KEDAMAIAN HIDUP! KENYAMAAN HIDUP! Bahkan berbagai teknologi yang diciptakan oleh Jepang pun punya filosofi “Bagaimana membuat hidup orang Jepang (manusia) nyaman?” Jalan kaki Bandung-Jakarta membuat gempor bukan, pakai kuda pun kasihan kudanya, lalu ketika eropa menciptakan mobil yang super duper mahal dan ternyata mobil memberikan kenyamaan dalam perjalanan, maka Jepang bertekad memurahkannya agar semua orang bisa nyaman.  Pun “Shinkazen”, kereta peluru ini lahir karena paradigma ‘banyak orang yang memilih naik kereta karena takut ketinggian atau takut naik pesawat, namun naik kereta acapkali memakan waktu lama.  Maka kereta peluru ini bisa memotong waktu sampai empat kali,  menyenangkan hati orang lain atau sesama manusia ….ini prinsip hidup mereka.

Karena dengan rapih, pandangan mata semua orang menjadi nyaman, maka inilah yang ditanamkan di sekolah-sekolah Jepang dengan pembiasaan membereskan sandal-sandal dan ditata rapi.

Anak SD Jinzumidori merapihkan sandal tolitet mereka

Tidak hanya itu, penulis pernah mengunjungi tempat pembakaran sampah bersamaan dengan itu, anak-anak dari sebuah sekolah berkunjung ke tempat yang sama.  Apa yang mereka lakukan terhadap sepatu dan tempat minum mereka? Mereka merapihkan susunan sepatu dan barang bawaan mereka dengan rapi tanpa disuruh gurunya, mereka otomatis melakukannya karena “RAPIH adalah BUDAYA MEREKA. “Wow sugoi desuka?”

IMG_0178

Anak-anak sekolah berkunjung ke Tempat Pembakaran Sampah Propinsi Toyama, sepatu dan termos air yang mereka bawa disusun rapi oleh mereka sendiri.

Bukan hanya itu, MERAPIHKAN KEMBALI apapun punya kita dan bekas kita itu menjadi tanggung jawab kita.  Di Indonesia, kita sering melihat sehabis makan direstoran kita tinggalkan meja dengan berantakan, maka jangan lakukan itu di Jepang, walaupun itu di restoran cepat saji sekalipun. Di banyak restoran di Jepang, kita yang harus membereskan meja kita sendiri. Bahkan disediakan serebet untuk membersihkan meja kita sendiri.  Sampah-sampahnya pun harus kita buang sendiri.

Sehabis makan meja dibereskan, dibuang sampahnya termasuk sisa cairan yang ada.  Semua dirapihkan sendiri. 

Jadi inilah sebab mengapa Jepang rapih? Pembiasaan dilakukan oleh siapapun dimanapun dan dilakukan mulai dari sekecil apapun.  Mau Indonesia lebih baik! Ayo, pikirkan bagaimana membuat orang lain nyaman dan mudah!

 

Antri: just one of Japan culture

Bagi negara Jepang, antri merupakan bagian dari budaya mereka.  Sejak kapan jepang punya budaya itu? Entahlah yang jelas orang jepang punya prinsip, (1) “kerjakan segala sesuatu dengan cepat, rapih, dan tertib” (2) “Pikirkan perasaan orang lain”  (3) “Setiap aturan dibuat untuk membuat nyaman semua orang, jadi patuhi aturan”.  Aturan yang terus menerus dilakukan menjadi pembiasaan, pembiasaan pada akhirnya menjadi budaya.  Orang yang tidak ikut budaya akan dianggap sebagai orang aneh (Hen).

Apa yang menyebabkan prilaku ini menjadi sebuah budaya? kunci ada pada sinergitas antara rumah, sekolah, dan masyarakat atau istilah singkatnya “semestakung – semesta mendukung”

Budaya antri.  Rasanya sejak dalam kandungan Bayi di Jepang sudang diajak antri sama ibunya.  Tidak keistimewaan ibu hamil harus didahulukan ketika antri di kasir minimarket atau antri masuk kereta atau antri ke toilet.  Semuanya mengantri sesuai urutan kedatangan.  Ketika pertama kali mata Si Bayi itu diajak jalan orang tuanya, dia harus mengantri masuk bus, mengantri makan di restoran, dan mengantri-mengantri Si Jabang bayi yang baru melek itu melihat, itu terus berlanjut sampai ketika mereka tiga tahun ketika diajak orang tuanya jalan-jalan.  ANTRI sudah menjadi pemandangan baginya. Namanya anak umur tiga tahun ya pasti ada saja ingin cepatnya, namun ketika si anak ini memperlihatkan egonya, menerobos antrian, maka orang tua akan memegangnya untuk patuh pada urutan antrian.  Maka ketika mereka masuk TK, mengantri karena pandangan harian di masyarakat, diajarkan dan dicontohkan orang tua, juga dilihat dari lingkungan sekitar.  Tidaklah mengherankan jika kita berkunjung ke TK di sana, anak-anak biasa antri dengan sabar menunggu giliran. Guru pun tak cape dalam mengarahkan mereka untuk sabar mengantri.

 

Anak-anak TK Kamidaki sedang mengantri dengan sabar menunggu giliran bermain. Tanpa perlu ekstra pengawasan dari guru.

Tidak hanya di dalam kelas, ketika kunjungan pun mereka terbiasa antri.  Pembiasaan di masyarakat dan diperkuat melalui pendidikan di sekolah membuat antri menjadi budaya melekat, maka para siswa TK dengan ketika mereka mengunjungi area publik maka dengan otomatis mereka sudah antri. Cukup menunjukkan tangan dua jari, siswa otomatis mengantri berpasangan dengan temannya, tanpa perlu gurunya berteriak-teriak lagi. “Wow, sugoi desuka?”

Anak-anak TK antri memasuki Aquaculture Uozu di Prefecture Toyama Japan

Bagi orang Jepang juga bagi kita sih  “tidak  antri” memiliki kerugian yang banyak, diantaranya: (1) Waktu terbuang banyak.  Misalnya masuk kereta api.  Bayangkan jika tidak ada budaya antri, semua orang berebut masuk duluan.  Akhirnya banyak yang terjepit dipintu, memperhambat orang belakang untuk masuk.  Berapa lama waktu terbuang hanya untuk empet-empetan di pintu masuk kereta.  (2) cape hate (bhs. sunda – bahasa indonesianya lelah hayati).  Misalnya antri di toilet, orang akan ribut mulut merasa duluan gara-gara tak ada line antrian.  Akibatnya ngelus dada, sampai jantungan. (3) tercabut nyawa.  Kok bisa? pernah dengar ada seorang saudagar membagikan zakat, dan masyarakat yang datang berebut tak antri? Akhirnya pencari sedekah harus meregang nyawa karena diinjak-injak oleh pencari sedekah lainnya.  Coba kalau antri?

Antri adalah perbuatan yang membuat semua orang nyaman dan adil, perasaan semua orang pun menjadi senang, inilah sebabnya budaya antri dijunjung di Jepang, karena filosfi mereka adalah “Bagaimana menjadi warga negara jepang sebagai warga negara yang cinta damai”.  Cinta damai hanya akan terwujud jika kita bisa membuat orang lain merasa nyaman dan diperlakukan serta memperlakukan orang dengan adil tanpa melihat dia itu anak, orang tua, dan tanpa memandang ras, suku, dan agama. Budaya antri hanyalah bagian kecil saja dari mewujudkan warga negara Jepang yang cinta damai.

 

Ironis bukan? Padahal AL ISLAM yang berasal dari SALAM bermakna damai. Harusnya “islamlah yang menghadirkan manusia-manusia cinta damai itu.  Namun kita tak mampu mewujudkan esensi apa yang menyebabkan manusia bisa damai? Jepang mengajarkan esensi “Kedamaian adalah manakala kita bisa mencabut ego kita baik ego individu maupun ego kelompok dengan memikirkan perasaan orang lain dan kepekaan sosial yang membuat semua orang merasa nyaman dalam hidup”.

Sikap radikal tanpa toleransi jauh dari kesan damai yang diperlihatkan oleh sebagian muslim pun lahir karena “EGOSENTRIS atau memikirkan diri sendiri atau kelompoknya saja”, sehingga lahirlah sifat kukuh yaitu keharusan dalam segala aspek kehidupan wajib kudu “SEIMAN” kalau gak seiman BOIKOT Jangan dibeli Jangan di tonton dan Jangan-Jangan lainnya.  Hal yang banyak menjangkiti sebagian kaum muslim saat ini “EGO – BAGAIMANA SAYA SENANG, BAGAIMANA KELUARGA SAYA NYAMAN, BAGAIMANA SAYA CEPAT SAMPAI TUJUAN, dan saya saya saya lainnya.  Maka tidaklah mengherankan jika seorang ulama Mesir “M. Abduh” ketika berkunjung ke negara yang mereka sebut kafir, Dia mengatakan “Aku tidak melihat muslim disini, tapi aku melihat islam“.  Namun ketika dia ada di negara islam dia mengatakan, “Aku melihat banyak muslim di sini, tetapi aku tidak melihat islam” 

Jika kita ingin semua orang mengatakan, “Aku melihat banyak muslim di sini, dan aku melihat islam”, maka mulailah dengan menghilangkan EGOSENTRIS, dan mulai memikirkan apakah orang lain akan senang, nyaman, dan rido dengan apa yang kita lakukan…….

3R Kota Tangsel: Jalan panjang menuju Green City

Jika biasanya saya memaparkan hasil jalan-jalan di Toyama Jepang, saat ini saya paparkan hasil jalan-jalan di Kota Tangerang Selatan.Kota Tangerang Selatan ini kota tempat kampus saya berlokasi, walaupun universitas saya bernama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan milik DKI Jakarta.

(1) Pemerintahan Kota Tangerang Selatan punya kebijakan yang kuat menginginkan kotanya sebagai kota 3R. Tentu saja ini point sangat bagus.  Kebijakan ini bisa dilihat dari misi Kota Tangsel, salah satu misinya adalah:

Penanggulangan masalah sampah melalui program yang terpadu secara berjenjang dan terorganisir dan dapat dikaitkan dengan program penghijauan lingkungan.

Nah, setiap pembangunan gedung di Tangsel harus berwawasan lingkungan, yaitu dengan membuat sumur resapan lubang biopori dan harus ada pengelolaan sampah TPST 3R (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Reduce Reuse Recycle. Bila tidak memenuhi persyaratan tersebut maka IMB-nya akan dicabut. (sumber Airin Diany – Walikota Tangsel, 12 Mei 2014).

Keren bukan? Tangsel sudah punya “political will“.

(2) Masyarakat di Tangsel membuang sampah masih dicampur, semua yang namanya sampah dimasukkan dalam satu tong sampah.  Walaupun dibeberapa tempat sudah ada tulisan sampah organik dan non organik namun masyarakatnya masih membuang sampah TANPA MEMILAH. Mengapa masyarakat membuang sampah non organik ke organik? Padahal sudah tertulis jelas itu tong sampah organik, tetapi gelas plastik dan bungkus plastik masih dibuang disana?  #TanyaMasyarakat

(3) Sampah yang dibuang penduduk tanpa pemilahan, akan dibawa oleh petugas kebersihan ke TPS.  TPS di Kota Tangerang Selatan ada dua yaitu TPST3R dan TPS Tradisional.

 

TPST3R (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R) di Kota Tangerang Selatan ada 31 titik, disini sampah dari rumah penduduk yang masih bercampur akan dipilah, menjadi sampah organik, sampah ekonomis, dan sampah tak bernilai.  Di TPS3R sampah organik diolah menjadi pupuk organik, sampah ekonomi seperti botol, kaleng dll di jual kembali ke pengepul, dan sampah tak bernilai dibawa ke TPA. Adanya TPST3R mampu mengurangi 20-30% sampah yang dibuang ke TPA.

TPS Tradisional: Sampah yang diangkut dari masyarakat tanpa dipilah dahulu akan disimpan di TPS (tempat pembuangan sementara).  Biasanya TPS terletak dipinggir jalan agar mudah bagi mobil bak atau truk pengangkut sampah mengangkut sampah.  Truk-truk sampah ini kemudian membawa sampah ke TPA.

(4) TPA Kota Tangerang Selatan punya satu bernama Cipeucang.  Sampah di sini ditumpuk sehingga membentuk gunung-gunung sampah. Masyarakat sekitar Cipeucang paling menderita dengan bau sampah ini, selain juga ketakutan akan terjadinya longsor seperti di Leuwigajah Bandung tempo lalu.

DSC_0079

(5) Bank sampah: adalah gerakan komunitas yang kebanyakan ibu-ibu untuk memilah sampah ekonomis dan non ekonomis.  Gerakan ini masif di Tangerang Selatan Sampai tahun 2017 Tangsel memiliki 208 buah Bank Sampah.  Gerakan ini merupakan gerakan partisipasif dan gotong royong yang perlu terus digiatkan.

 

Jika membandingkan tulisan kemarin tentang 3R di Kota Toyama Jepang, dengan pengelolaan sampah di Tangsel. Ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan penduduk dan pemerintah Tangsel dalam menangani sampah dalam jangka pendek yaitu:

(1) Pengaturan pembuangan sampah oleh rumah tangga di Tangsel.  Minimalnya setiap rumah tangga menyediakan dua tong sampah yaitu organik dan non organik. Pola seperti ini membuat warga berpartisipasi aktif memilah sampah.  Jika sampah tidak dipilah dengan baik, petugas pengangkut sampah dapat memberikan surat teguran untuk memilah sampahnya, sebagai hukumannya petugas tidak akan mengangkut sampah jika rumah tangga tidak memilah sampah dengan BENAR!

(2) TPS tradisional mengangkut sampah di TPST-3R.  Truk-truk TPST-3R yang bertugas mengangkut sampah dari rumah penduduk.   Petugas pengangkut sampah membuat jadwal pengangkutan sampah berdasarkan jenisnya misalnya sampah organik diangkut pada hari selasa  dan sampah non organik diangkut hari kamis.  Sampah-sampah yang telah sampai di TPST3R untuk dipilah antara sampah ekonomis dan non ekonomis.  Sampah non ekonomis dibawa oleh truk sampah TPST-3R ke TPS Tradisional untuk dibuang  ke TPA.  Dengan pola seperti ini maka Pemda Kota Tangsel harus membangun 1 kelurahan 1 TPST-3R, artinya ada minimalnya 54 TPST-3R.

Usulan pertama akan “memberdayakan masyarakat dalam skala rumah tangga untuk peduli sampah, INGAT: sampahmu tanggung jawabmu! Usulan kedua: lebih mempermudah dan mengefektifkan kerja TPST-3R dan akhirnya mengurangi gunungan sampah di TPA.

Memang idealnya TPA dibangun dengan model pembakaran sampah seperti yang diceritakan pada postingan sebelumnya.  Namun, biaya pembuatannya mahal.  Di Toyama saja tempat pembuangan sampah itu bersinergi lima wilayah.  Jika Memang Tangsel berminat membuat Pembakaran sampah Paling tidak bisa menampung dari lima wilayah misalnya Kota Tangsel, Kota Tangerang, Kab. Bogor, Kota Depok, dan Jakarta Selatan.

Ayo, Kita Buat Tangsel Bagus! Tangsel Cerdas Modern dan Religius!

Pengalaman 3R Jepang: Jalan Panjang Bagi Kota-kota Indonesia!

Hari sabtu kemarin saya arisan di Komplek Depok, berita sedih saya dapatkan adalah “AKTIFITAS BANK SAMPAH DIBERHENTIKAN“.  Komplek kami kecil, berisi 52 rumah tangga, beberapa bulan ini ibu-ibu giat berperan serta dalam 3R melalui Bank Sampah, bekerjasama dengan sebuah Bank Sampah di Tangerang Selatan.  Ibu-ibu semangat menjalani kegiatan 3R, karena ada buku tabungan.  Pendapatan dari mulai 1.000, 25.000, sampai 90.000 untuk tabungan mereka.  Namun selama menjalani aktifitas bank sampah terjadi kendala yaitu keterlambatan petugas bank sampah mengangkut sampah dari komplek, sehingga sampah menumpuk di rumah dan menjadi sarang tikus.  Semangat 3R yang masih menggebu tidak melunturkan semangat 3R, ide-ide pun keluar.  Sudah kita tetap kumpulkan panggil aja tukang rongsokan! Dijual sama dia? Ah, gak seberapa udah dikasihkan aja! Sekarang saya udah gak ngumpulin lagi, soalnya jadi sarang tikus di rumah.  Udah kita sediakan saja wadah khusus, tapi dimana nampungnya?”

Jepang adalah negara yang benar-benar memperhatikan 3R dalam pengelolaan lingkungannya.  Salah satu kota yang mendapat julukan eco-town adalah Toyama.  Saya hendak menceritakan bagaimana pengelolaan sampah di kota ini.

1) Pemerintah daerah Prefecture Toyama menyebarkan brosur pada penduduk (1) brosur cara memilah sampah.  (2) Brosur jadwal pembuangan sampah.  Tampak pada brosur pertama bagaimana setiap sampah dipilah berdasarkan jenisnya ada sampah kaleng, sampah kertas, sampah plastik, bekas makanan dll.  Pada brosur kedua tertera jadwal pengangkutan sampah tiap jenis.  Misalnya hari rabu untuk sampah daur ulang.

Gambar 1 (Kiri).  Cara memilah sampah di Kota Toyama.  Gambar 2 (kanan).  Jadwal pembuangan sampah sesuai jenisnya.

2) Setiap rumah melakukan pemilahan sampah seperti yang sudah ditentukan oleh pemerintah daerah, di setiap RT disediakan tempat pembuangan sampah sementara.  Masyarakat membuang sampah di tempat pembuangan sampah sementara sesuai jadwal. Bagaimana kalau masyarakat salah dalam memilah? atau sampah yang dibuang tidak sesuai jadwal.  Sampah tersebut akan ditandai, dan dikembalikan pada si-empu-nya.

Gambar 4 (kiri).  Tempat pembuangan sampah sementara (TPS), setiap RT satu TPS diletakkan di tepi jalan raya, agar mudah dijangkau truk pengangkut.  Gambar 5 (Kanan).  Sampah yang tidak sesuai cara pemilahannya atau tidak sesuai dengan jadwal pembuangan akan diberi tanda peringatan dan dikembalikan pada yang membuangnya.

3) Truk-turk sampah akan membawa sampah sesuai jadwal.

Gambar 5.  Truk sampah mengambil sampah di TPS sesuai jadwal pembuangan.  Pada saat pengamatan jadwal sampah yang dibuang adalah sampah daur ulang (kertas).

4) Sampah daur ulang (masih bisa dikomersilkan) oleh truk akan dibawa ke Toyama Ecotown Park.  Toyama Ecotown Park adalah pusat daur ulang sampah kering, disini sampah yang berasal dari plastik, kayu, kertas, di daur ulang kembali menjadi bahan baku yang bisa dipakai untuk beragam kebutuhan.

Gambar 6.  Eco-town Park tempat daur ulang sampah kertas, kayu, plastik

5) Adapun sampah gado-gado yang tidak dapat didaur ulang dibawa oleh truk ke tempat pembakaran sampah.  Tempat pembakaran sampah Toyama menampung sampah dari lima prefektur.  Disini sampah di bakar, abu sampah kemudian dipilah lagi menjadi abu-abu sampah yang mengandung logam dan abu sampah umumnya.  Abu sampah ini dimanfaatkan menjadi batu bata dan bahan bangunan rumah juga aspal jalanan.

Screen Shot 2017-12-10 at 13.46.39

Gambar 7. Truk-truk yang membawa sampah  tidak dapat didaur ulang mengirimkannya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).  Disini sampah dibakar. Energi panas yang dihasilkan dari pembakaran digunakan untuk pemanas air (onsen), abu sisa pembakaran dijadikan bahan bangunan.   

Nah, Tampak sekali pengelolaan sampah di Toyama ini ZERO WASTE bukan?

Di sekolah, anak-anak pun dibiasakan untuk melakukan 3R, jadi ketika mereka membantu orang tuanya di rumah anak-anak ini sudah paham.

DSC_0111

Gambar 8. 3R di sekolah: Bekas susu dilipat, dipisahkan dengan sampah lainnya.  

Dan banyak juga para orang tua (terutama Non Warga Jepang) yang paham cara 3R di dari anak-anak mereka yang bersekolah.  Apa yang diajarkan di sekolah, penerapannya di Masyarakat dan lingkungannya, ini namanya SEMESTAKUNG dalam pendidikan.  Terjadi kesamaan antara kebijakan pemerintah dalam 3R (Regulasi dan penyediaan fasilitas), budaya masyarakat 3R, dan pendidikan 3R di sekolah. = SEMESTA MENDUKUNG!

Indonesia kapan bisa seperti ini? YAp, saatnya kita bekerja bersama. Kita dorong pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan 3R sekaligus fasilitasnya, kita ‘suluh’ masyarakat agar mau melakukan 3R, dan kita didik anak-anak melalui kurikulum 3R di sekolah! Mari ikut berpartisipasi, #Yuk,Kita Buat Indonesia Bagus!

 

O-sōji: Piket membersihkan sekolah di Jepang #SerialPendidikandanKehidupan diJepang

Selama tiga tahun saya mendapat kesempatan bergabung dalam proyek pengembangan kurikulum pendidikan lingkungan bersama Indonesia Education Promoting Foundation (IEPF) Japan didukung oleh Japan Cooperation International Agency (JICA). Kali ini saya akan menggambarkan bagaimana gelaran piket membersihkan sekolah di Sekolah Dasar Jepang. Semoga bermanfaat bagi bapak dan ibu, terutama di Sekolah Dasar.

Sampah! Jika kita lihat kelas di sekolah-sekolah Indonesia saat ini, maka selama proses belajar dan setelah proses belajar, sampah berserakkan di dalam kelas merupakan fenomena biasa. Tapi tenang saja, segerombolan petugas kebersihan sekolah akan serta merta datang setelah usai sekolah, dia akan membersihkan seluruh sekolah.

Dulu, jaman saya sekolah. Setiap hari ada tugas piket. Kita pergi ke sekolah selain membawa buku juga membawa kemoceng, sapu, taplak meja, pas bunga, dll. Sebelum pembelajaran di mulai anak-anak membersihkan kelas, dan setelah selesai belajar juga membersihkannya kembali. Jika ada anak yang tidak piket, kita catat, lalu lapor pada guru wali kelas, biasanya ini jadi salah satu tugas Ketua Murid (KM). Jumlah anak yang piket dibagi berdasarkan hari belajar setiap minggunya. Tapi itu dulu, ketika saya masih menggunakan kurikulum 1975 duduk di bangku SD dan SMP. Ketika SMA saya mulai masuk kurikulum 1984 seingat saya kegiatan kerja bakti hanya dilakukan sekali saja ketika kelas satu, lepas dari itu tidak pernah lagi piket bersih-bersih, semuanya dilakukan oleh petugas kebersihan sekolah. Sekolah pun mulai menggaji banyak petugas kebersihan.

Lalu apa pengaruhnya penghapusan piket kebersihan di sekolah? Pernah dengan keluhan orang tua pada anaknya seperti ini? “Lah! Apa? Kakak disuruh bersih-bersih sekolah? Itukan tugasnya petugas kebersihan, kakak ke sekolah untuk belajar bukan untuk bersih-bersih! Besok ibu akan protes sama sekolah!” Pada diri sebagian anak-anak sekarang kita lihat, bagaimana dengan seenaknya dia berjalan di lantai yang baru dipel oleh petugas kebersihan, dan sepatunya pun kotor. Ketika berada di tengah masyarakat, dengan seenaknya dia melempar sampah ke luar mobil, dan entengnya berkata “Nanti juga ada petugas yang membersihkannya” Ketiga kota tempat tinggalnya kotor, dia akan serta merta menyalahkan Dinas Kebersihan Kota, tak tergerak hatinya untuk turut membantu meringankan beban dinas kebersihan kota. Nah, berat sekali ternyata dampaknya ya?

Piket Membersihkan Sekolah di Jepang

Siapapun yang pernah ke Jepang, akan terkesan dengan kebersihan kotanya. Darimana budaya ini ditanamankan? Sudah banyak diketahui khalayak dan sering kali menjadi viral di media sosial terkait salah satu budaya sekolah Jepang yaitu membersihkan sekolahnya. Aktifitas ini di Jepang dinamakan o-sōji, dilakukan oleh semua sekolah negeri maupun swasta dari tingkat sekolah dasar sampai menengah atas.

Kegiatan ini dilakukan oleh peserta didik setiap hari setelah istirahat makan siang. Ditandai dengan bel, anak-anak bergegas membersihkan seluruh sekolah sesuai tugasnya masing-masing. Pada awal semester sekolah telah membagi anak-anak dalam kelompok-kelompok kebersihan. Satu kelompok kebersihan terdiri dari anak kelas rendah (I,II,III) sampai tinggi (IV, V, VI). Satu kelompok bertugas membersihan bagian tertentu, hampir setiap sudut sekolah ada anak-anak yang menjadi petugas kebersihan. Lantai aula atau lapangan indoor dibersihkan oleh kelompok anak, kaca kelas, ruang kelas, ruang perpustakaan, koridor, toilet, tangga, dan lainnya kecuali ruang guru dan kepala sekolah, semua sudut sekolah dibersihkan peserta didik.

Setelah selesai membersihkan sekolah, anak-anak kelas VI sebagai supervisor akan menanyakan pada setiap kelompok yang telah selesai membersihkan dengan pertanyaan: “Tadi sudah membersihkan apa saja? Apakah ada kesulitan dalam membersihkannya?”

Setelah selesai kegiatan o-sōji anak-anak membereskan kembali peralatan kebersihan. Termasuk peralatan kebersihan yang mereka bawa. Setiap anak di sekolah Jepang mempunyai lap yang mereka bawa dari rumah.

Kegiatan o-sōji dilakukan oleh anak-anak di seluruh Jepang setiap hari. Kegiatan ini merupakan program di sekolah-sekolah Jepang baik negeri maupun swasta dari mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Pembiasaan inilah yang menjadikan Jepang sebagai negara bersih. Budaya membersihkan sekolah, bukan sekedar menumbuhkan rasa kepemilikan dan cinta terhadap sekolah, tetapi berdampak pada merasakan cape-nya melakukan tugas kebersihan. Akibatnya jika akan mengotori dan buang sampah sembarangan, maka akan pikir panjang. Kegiatan o-siji pun menumbuhkan rasa empati.

Membelajarkan kebersihan

Anak-anak Jepang tidak mengeluh dan senang hati melakukan o-sōji. Selama observasi kegiatan o-sōji di berbagai sekolah dasar di Jepang, baik sekolah di pegunungan seperti Jinzu Midori Propinsi Toyama maupun di sekolah perkotaan seperti Tokyo, tidak ada satu pun anak yang leha-leha tidak mengerjakan tugasnya. Semuanya bekerja membersihkan sekolah sesuai tugas mereka. Hal ini mereka lakukan karena sadar bersih berarti sehat.

Kebersihan pangkal kesehatan. Slogan ini marak ditempel diberbagai sekolah di Indonesia. Pertanyaannya adalah, “Apakah kita dan anak didik mengerti arti dan maknanya? Di Jepang anak-anak diberikan pengertian bahwa kuman dan hewan pembawa penyakit seperti nyamuk, lalat, kecoa, dan tikus sangat suka hidup di tempat yang kotor. Lalat akan hinggap ditempat yang berbau dan busuk. Kuman adalah mikroorganisme kecil akan menempel pada debu-debu. Jika tidak ingin terkena penyakit, maka bersih dari debu, bau, dan kotor. Bersih dari debu dan kotoran, tentu tidak mengundang hewan-hewan pembawa penyakit untuk datang. Jika sakit, maka banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar rumah sakit, dokter, dan obat. Selain itu sakit membuat badan merasa tidak nyaman, tidak semangat beraktifitas, dan tidak produktif. Sakit membuat diri menjadi sedih dan menyusahkan orang lain di rumah. Tidak ada orang bahagia karena sakit. Sakit pun dapat berakibat pada kematian. Pengetahuan inilah yang ditanamkan sehingga peserta didik paham mengapa ada slogan “Kebersihan pangkal kesehatan, kesehatan pangkal kesejahteraan dan kebahagian

Lalu siapa yang bertanggungjawab terhadap kebersihan? Di Jepang punya prinsip siapa yang mengotori dia yang membersihkan, siapa yang menggunakan dia wajib menjaganya, bahkan ada slogan sampahmu tanggung jawabmu. Jadi tugas kebersihan itu jadi tanggung jawab sendiri bukan tanggung jawab petugas kebersihan. Semua anak di sekolah menggunakan fasilitas sekolah, jadi kebersihan sekolah adalah tanggung jawab bersama.

Dari mulai masuk sekolah, mereka telah menjaga kebersihan sekolah. Tidak membiarkan debu mengotori sekolah, caranya anak-anak di sekolah Jepang mempunyai sepatu khusus selama di sekolah. Sepatu ini di simpan di sekolah, dan dipakai selama di kelas. Sepatunya terbuat dari karet, dan semua sepatu anak lelaki dan perempuan sama. Sepatu yang mereka pakai dari rumah, yang telah menginjak jalan berdebu akan di simpan di loker selama belajar di sekolah, mereka menggunakan kembali sepatu tersebut ketika pulang. Begitu pula para guru, mereka menggunakan dua sepatu. Sepatu khusus untuk di kelas yang tak berdebu dan tak dipakai di luar. Mengapa itu dilakukan? Selain menjaga kebersihan sekolah mereka dari debu yang berterbangan, debu yang dibawa dari luar atau jalanan mengandung kuman yang dapat membuat mereka sakit. Melepas sepatu luar dan mengganti dengan sepatu khusus selama di kelas dan sekolah adalah cara menjaga kebersihan dan kesehatan.

Bagaimana dengan sekolah di Indonesia? Apakah sekolah akan bertahan dengan memperbanyak petugas kebersihan yang digaji sekolah? atau memberdayakan kembali peserta didik untuk membersihkan sekolah dan menjaga kebersihannya? Mari kita pikirkan! #Yuk, Kita Buat Indonesia Bagus#