#わかりました:Mengapa bisa militan?

Saya pikir setelah 10 Agustus tagar akan berganti ternyata tagar tersebut tidak berganti juga jadi #2019PrabowoPresiden untuk melawan #2019Jokowi2Periode atau #2019JokowiTetapPresiden.  Deklarasi atas tagar ganti presiden tanpa menyebutkan siapa penggantinya terus dikumandangkan,  pertanyaannya “Mengapa gak mau ganti tagar? Mengapa sebagian masyarakat mendukung tagar tersebut?

Sebelum membahas dua pertanyaan ini.  Mari kita bahas siapa deklarator dari hastag ini?  Tentu kita sudah tahu hastag ini dipopulerkan oleh Kader PKS tercatat sebagai ketua dan si ibu mantan artis 80-an juga relawan pemenangan PILKADA DKI Jakarta yang penuh ancaman dari mulai ancaman “Haram Pilih Pimpinan Kafir [padahal sistem Indonesia bukan berdasarkan syariat Islam bahkan mereka menyebutnya sebagai sistem kafir atau thougut, tapi kok pemimpinnya dilarang orang kafir??]” – INI PERANG AYAT, ketika ancaman ini tidak mempan dilakukan ancama berikutnya “LARANGAN MENYOLATKAN JENAZAH PEMILIH AHOK” — ini Perang Mayat.   Untuk memastikan bahwa masyarakat takut dengan ancaman “Ayat dan Mayat” mereka melakukan “Tamasya Al Maidah”, dalam Tamasya ini  mereka ibarat para pembusur yang siap memuntahkan anak panah kepada siapa saja yang membandel.  Seperti halnya PILKADA DKI dengan gerakan 212, gerakan hastag ini pun didukung oleh HTI dengan tambahan tidak hanya presiden yang ganti tapi juga sistem [klik di sini!] “Ganti Rezim Ganti Sistem. Ibarat lalu lintas, diperlukan sopir yg baik dan aturan lalu lintas yg baik untuk terwujudnya kondisi lalu lintas yg baik, lancar, aman dan menentramkan – Jubir HTI.  

Mengapa HTI ikut mendukung gerakan ini? Bukankah bagi anggota HTI “Haram Memilih Pemimpin dalam Sistem Kafir, sehingga anggota HTI diwajibkan GOLPUT.” Pertanyaan ini bisa dijawab dari tontonan video ini [–> KLIK DI DISINI BENARKAH HTI MENUGANGGI?].  Lihat pada detik 7.45 -8.08   “Saya kira kita harus memiliki pemimpin yang dia melindungi masyarakat, melindungi umat, bisa menopang atau bisa mendukung dakwah, memperlancar dakwah, bukan justeru sebaliknya menghambat dakwah bahkan sampai membubarkan kelompok dakwah begitu.  Nah, Penguasa yang menghambat dakwah bahkan membubarkan kelompok dakwah ini saya kira penguasa yang tidak selayaknya terus kita dukung.”

Bukti digital baru menuju pada PKS sebagai inisiator gerakan hastag dan HTI yang bersatu ikut memperjuangkan.  Saya coba mencari bukti digital untuk komponen lainnya seperti FUI/FPI tampaknya belum secara jelas ada mendukung hastag ini, karena kubu FUI/FPI atau PA212 cukup konsisten merekomendasikan #PrabowoPresiden.   Dengan melihat siapa pemain hastag ganti presiden, maka kita bisa menjawab pertanyaan “Mengapa sebagian masyakat mendukung gerakkan tagar ini?”  Jawabannya adalah (1) Keinginan berkuasa atau memegang posisi penting pada pemerintahan Indonesia, posisi strategis sebagai Presiden.  Mereka berkaca dari TURKI, Erdogan ketika menjadi Perdana Mentri kekuasaannya ternyata tidak absolute, namun ketika jadi Presiden dia bisa membubarkan sistem parlementer, ini karena rakyat lebih mendukung posisi Presiden dibandingkan ketua parlementer seperti MPR atau DPR.  Kekuasaan absolute yang bisa mengatur rakyat dengan kekuatan ABRI ini tentu menjadi incaran PKS. Alasan selanjutnya (2) Balas dendam karena pemerintah telah membubarkan status ORMAS mereka.

Lalu mengapa mereka tak mau ganti tagar menjadi #2019PrabowoPresiden? PKS adalah partai politik transnasional mempunyai garis komando dengan Ikhwanul Muslimin (IM) yg dikomandoi Yusuf Qadrawi, tujuan dari partai ini adalah membentuk Jamiatul Muslim, ini mirip sistem khilafah ala hizbut tahrir yaitu penyatuan negeri-negeri muslim dalam satu komando internasional.  Perjuangan PKS atau IM dilakukan dengan mulai mengambil alih jabatan-jabatan strategis di negara-negara muslim dari mulai walikota/bupati, gubernur, sampai presiden.  Jika negeri Muslim seperti Malaysia, Indonesia, Turki juga negara-negara lainnya dikuasai oleh kader-kader IM maka aliansi Jamiatul Muslimin akan mudah terbentuk.  Jamiatul Muslim ini akan melawan haegomoni USA yang mengusung Kapitalis Liberalis Demokrasi.  Tampaknya PKS melihat Pak Prabowo pada saat ini, setelah tidak memilih capres rekomendasi Ijmak Ustadz, tidak mampu mereka kendalikan.  Bahkan sebaliknya, Pak Prabowo yang nasionalis dan cinta NKRI ini malah membalikkan posisi memanfaatkan mereka.  Inilah sebabnya tagar tersebut bertahan.  Bagi HTI sendiri tidak terlalu penting siapa presidennya, yang paling penting Presiden itu memberikan kebebasan untuk mendakwahkan KHILAFAH dan #GANTISISTEM diberikan ijin #DEMO dan menggelar acara-acara seminar dan konferensi #KHILAFAH.  Pemerintahan Pak Jokowi dianggap mematikan dakwah khilafah mereka, mereka pun tidak yakin Pak Prabowo akan mendukung ide khilafah.  Inilah sebabnya mereka mendukung hastag ganti presiden bukan #2019PrabowoPresiden atau #2019TetapJokowi.  Gerakan ini sebenarnya bisa mengancam tidak hanya pada Jokowi tapi juga pada Prabowo kalau terpilih.  Berikut bukti digital ancamannya.

Screen Shot 2018-09-01 at 03.29.12

Kenapa gerakkan ini kok kader-kadernya militan ya? Pertanyaan itu sering dilontarkan pada saya.  Sebagai “pakar mantan” saya cuma bisa jawab, (1) karena DORONGAN IDEOLOGI.  (2) karena cuci otak dalam liqo/halaqoh tiap minggu. (3) karena penutupan keterbukaan berpikir.   Yuk, kita bahas satu-satu!

  1. Dorongan ideologi.  Mereka diyakinkan bahwa sistem yang dianut Indonesia dengan Pancasila dan Demokrasi adalah sistem bathil, sistem kufur, sistem thogut.  Sistem yang tidak sesuai dengan teks al qur’an, hadits, dan ijmak shahabat.  Mereka diyakinkan bahwa sistem yang dianut Indonesia saat ini tidak sesuai dengan contoh Rasulullah saw dan para Shahabat, oleh sebab itu perlu dibubarkan dan diganti dengan sistem islam.  Para pejuang sistem ini dijamin surga, dikatagorikan sebagai mujahid, dan orang-orang Idealis . Adapun para pejuang Pancasila dan Demokrasi dianggap mereka sebagai orang-orang Pragmatis atau Liberal bahkan tidak jarang mereka melontarkan perkataan “munafik” dan “komprador” pada umat islam yang memperjuangkan Pancasila dan Demokrasi. Hal yang mereka lupakan, “NKRI dan Pancasila lahir dari Ijmak Ulama 1945, ada ulama dari Masyumi, NU, Muhammadiyah, dan lainnya.  Semua ulama dengan komponen bangsa lain bersepakat menerapkan ideologi Pancasila dan NKRI.  Ulama saat itu menyepakati ideologi negara Indonesia dengan dasar kepentingan umat islam. Selayaknya kita sebagai umat mempercayai keputusan ulama, karena Ulama adalah pewaris para Nabi SAW”.   Dorongan ideologi yang membabi buta, melupakan konteks dimana mereka tinggal.  Bahkan mereka lebih percaya pada ulama-ulama yang tinggal di Timur Tengah untuk mengatur gerak dakwah di Indonesia, ketimbang petuah para ulama Indonesia.  Ulama timur tengah pemimpin IM dan HT mengatur gerak dakwah di Indonesia, menyamakan Indonesia dengan kondisi masyarakat timur tengah menciptakan gejolak.  Sementara para ulama Indonesia yang tidak sesuai kemauan mereka, mereka sebut sebagai ULAMA SU [ 1, 2, 3, 4, Astagfirullah….keji bukan?].
  2. Liqo/halaqoh adalah kegiatan rutin 2 jam dalam satu minggu.  Pada kegiatan ini para kader atau anggota PKS/HTI diberi asupan pemikiran.  Tujuannya menjaga agar kader tidak terpengaruh pemikiran dari luar gerakkan dakwah mereka.  Bisa dikatakan kegiatan ini merupakan kegiatan cuci otak agar pemikiran dan langkah mereka sama.  Opini yang dikeluarkan setiap anggota sama.  Apa yang harus dilakukan di masyarakat maya dan real sama.  Anggota yang jarang liqo/halaqoh pemikiran dan langkahnya boleh jadi menyeleweng dari khittah (garis komando) mereka.  Oleh karena itu peraturan liqo/halaqoh ini sangat ketat.  Liqo/halaqoh ini wajib dihadiri, dan diberi sanksi jika tidak hadir tanpa uzur syari’. Sanksi terberat adalah dikeluarkan.
  3. Menutup keterbukaan berpikir.  Selain liqo/halaqoh juga ada mutaba’ah.  Kegiatan ini diisi dengan (1) mengecek  EFEKTIFITAS OPINI MINGGUAN YANG DISEBARKAN PADA MASYARAKAT dengan pertanyaan “sudah sebar opini dimana saja? sasarannya siapa, lembaga mana? efektif atau tidak penyebaran opini tersebut? siapa yang berhasil direkrut atau menyetujui opini ini?  (2) menegur, para anggota yang dianggap beropini atau bertindak tidak sesuai dengan yang digariskan partai (gerakan islam ini) akan ditegur bahkan disalahkan.  Tidak ada kebebasan berpikir dan berpendapat.  Pikiran dan pendapat anggota/kader harus sama dengan pikiran/pendapat partai.  Jika membandel, maka diberi sanksi….sanksi terberat yaitu dikeluarkan.

Jadi, sebagai warga masyarakat yang masih cinta hidup di Indonesia.  Hidup damai dengan Pancasila warisan para Ulama45.  Maka sebaiknya berhati-hati dengan gerakan-gerakan ini.  Semoga #わかりました。

 

Let’s stop the radicalism!

Ketika BNPT merilis PTN terpapar radikalisme.  Rilis ini tidak diterima begitu saja oleh beberapa kampus termasuk forum rektor, juga oleh kampus seperti IPBITS, dan UNAIR.    Namun ada pula universitas yang langsung responsif diantaranya UI, UGM, UNS, UB, dan UNDIP,   ada yang bagus yaitu mengakui secara sportif bahwa memang kampusnya terpapar radikalisme diantaranya ITBWalaupun rektor menampakkan tiga sikap yang berbeda yaitu #denial, #responsif, #nrimo, harus diyakinkan bahwa setiap rektor tidak akan tinggal diam untuk terus membersihkan radikalisme di kampus-kampus PLAT MERAH ini. Kampus-kampus ini tetap jadi kampus terbaik untuk mencetak intlektual-intelektual yang berbakti pada nusa, bangsa, dan agama.

Sebagian lini masa meminta kejelasan definisi dari radikalisme itu apa? Untuk yang meminta definisi kamus oxford mendefinisikan radikalisme sebagai:

The beliefs or actions of people who advocate thorough or complete political or social reform. ‘his natural rebelliousness found an outlet in political radicalism’

artinya kurang lebih keyakinan atau tindakan seseorang yang memprovokasi perubahan sosial politik secara kaffah atau menyeluruh.  Keyakinan atau tindakan ini akan mengarah pada sebuah pemberontakan.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia radikalisme didefinisikan sebagai berikut:

Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Dari dua definisikan tersebut diambil kesimpulan bahwa radikalisme itu mengacu pada “PEMIKIRAN”. Bukan sembarang pemikiran, tapi PEMIKIRAN INGIN MENGUBAH TATANAN SOSIAL POLITIK SECARA KAFFAH.  Dengan definisi bahwa radikalisme adalah keinginan mengubah tatanan politik secara kaffah maka mudah kita menentukan siapa saja dan gerakan apa saja yang selama ini menginginkan tumbangnya NKRI PANCASILA.

Sebetulnya sangat mudah mengidentifikasi pemikiran radikal itu apa cirinya: (1) Mereka yang selalu mencela pemerintahan sekarang dengan pemerintahan Thougut atau pemerintahan kufur. (2) Mereka yang menginginkan berdirinya negara islam Indonesia baik dalam bentuk jamiiah islam, immamah, khilafah, atau sultoniyah. (3) Mereka yang mencela orang-orang yang bukan golongan mereka sebagai orang kafir, munafik, atau komprador.

Apakah kampus terpapar pemikiran seperti ini? Ini adalah sedikit kisah di IPB dengan gerakkan islam transnasionalnya pada tahun 1990-an.

HTI di IPB

HT sejak datang ke Indonesia pertama kali diemban oleh mahasiswa IPB masuk secara formal melalui Badan Kerohanian Islam (BKI) dan Responsi Agama Islam pada tahun 1990 sudah menggunakan acuan Nidzamul Islam karya Syekh Taqiyuddin Annabhani (pendiri HT di Yerusalem). Dari cerita selama di BKI saya tahu bahwa pada zaman ketua BKI IPB dipegang oleh Muhammad Al Khoththoth 1985-1986,   jaringan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS LDK) dimanfaatkan untuk menebarkan pemikiran HT ke seluruh Indonesia.  IPB tidak bisa #denial atau #malu mengakui bahwa HIZBUT TAHRIR di Indonesia memang lahir, tumbuh, dan membesar karena memanfaatkan jaringan formal dan informal yang ada di IPB. Sumpah penegakkan khilafah islamiyah oleh peserta FS LDK se-Indonesia 2016 membuktikan bagaimana sebagian mahasiswa IPB menjadi ‘leader’ penegakkan khilafah islamiyah di Indonesia.  Mengakui bahwa IPB telah menjadi “kawah candridimuka” bagai pengkaderan, pertumbuhan, dan perkembangan Hizb Tahrir di Indonesia bukanlah sebuah aib.  Selanjutnya IPB bergerak, membersihkan HTI di kampus, bekerjasama dengan kepolisian dan BNPT.  Sangat disadari selama 30 tahun lebih IPB membudidayakan Hizb Tahrir di Indonesia, tentulah tidak mudah membersihkannya. Tidak mudah membersihkan debu yang sudah menebal selama hampir 30 tahun.  Perlu dukungan dan bantuan semua pihak.  Saya selalu yakin jajaran IPB akan selalu terus menerus berupaya membersihkan radikalisme yang berasal dari HTI di kampus tercinta.  Siapapun yang terpapar HTI di kampus, harus kita anggap sebagai KORBAN yang patut diselamatkan untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Ikhwanul Muslimin di IPB

Gelombang akhwat berkerudung panjang dan akhi berjengot yang suka menundukkan pandangan, mulai marak pada angkatan pada angkatan saya 1990 dan sesudahnya.  Zaman saya mereka kita sebut POKJA (Kelompok Jakarta) atau tarbiyah, karena rata-rata mereka berasal dari SMA di Jakarta atau Depok. Masuk IPB mereka sudah punya style seperti itu, sepertinya mereka sudah terkaderisasi sejak SMA.  Masuk ke IPB dengan gelombang yang cukup besar untuk mewarnai IPB.  Belakang teman-teman yang aktif di POKJA/Tarbiyah selama mahasiwa menjadi anggota dewan dari PKS.  Walau acapkali menolak dihubungkan dengan Ikhwanul Muslimin, namun dari tokoh panutan dan imam besar tak dapat di pungkiri Tarbiyah, PKS, KAMMI, dan Ikhwanul Muslimin merupakan satu bangunan (baca riset mahasiswa UIN Makasar).  Gerakan tarbiyah menjadi mendominasi di IPB setelah berhasil mengambil alih DKM Al Ghifari dengan responsi agamanya dari dominasi HTI (sekitar tahun 1993/1994).  Jika BKIM punya jaringan FS LDK yang terbentuk sejak 1985/1986.  Maka DKM Al Ghifari IPB mengutus Edi Chandra dalam inisiasi pendirian KAMMI 1998.   Ikhwanul Muslimin belum dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia, namun dibeberapa negara seperti Bahrain, Mesir, Rusia, Arab Saudi, Suriah dan Uni Emirat Arab, partai ini dianggap sebagai kelompok teroris yang dilarang.

Jika radikalisme mengacu pada kelompok dakwah yang berasal dari Gerakan Transnasional model HTI atau IM, maka berapa tingkat paparannya dikalangan mahasiswa? Berdasarkan studi kasus di kelas angkatan saya yang terdiri dari 59 orang, maka yang terpapar radikalisme sebesar 44%.  Jurusan saya ini memang jurusan yang paparannya berat, pada jurusan lain jumlahnya sebetulnya lebih sedikit dari jumlah tersebut. Mengacu pada hal ini jumlah yang terpapar sebetulnya bukanlah jumlah dominan.

Walaupun jumlah tidak dominan tetap saja setiap kampus pada saat ini saya yakin sedang bekerja dalam membersihkan semua aktifitas terkait gerakan islam transnasional ini? Mengapa pembersihan giat dilakukan? Ini karena mereka yang terpapar radikalisme baik dari HTI maupun IM umumnya selalu kontraproduktif terhadap kebijakan pemerintah, siapapun pemerintahannya bukan hanya Jokowi, termasuk kepada SBY dulu,  Kita masih ingat betapa bapak SBY dibuat pusing oleh koalisi PKS yang selalu menentang kebijakkan SBY, partai tergabung pemerintah rasa oposisi. Apalagi sekarang oposisi terhadap pemerintah, makin menjadi-jadi.  Jika kita masuk pada gerakan transnasional seperti ini, selain memperkuat ibadah mahdoh, otak kita dicuci untuk melakukan “tebar opini” mengkondisikan Indonesia dalam perang pemikiran.  Lisan dan tulisan dianggap sebagai jihad yang lebih tajam daripada pedang. Jihad pemikiran untuk memutuskan kepercayaan umat kepada pemerintahan saat ini, untuk kemudian umat menyerahkan kepercayaan kepada gerakan transnasional ini, pada saat itulah mereka akan mengubah ideologi NKRI Pancasila.  Tahap Tafa’ul atau tahap Gozwul Fikr/ideologi ini mengakibatkan polemik dan keresahan secara ideologi di masyarakat.  Pemerintah akan disibukkan dengan agenda mengatasi perang pemikiran ini.  Akibatnya Indonesia tidak bisa #moveON bergerak menjadi negara maju.  Kita banyak disibukkan untuk mengcounter dan menyelesaikan permasalahan akibat perang ideologi.  Padahal permasalahan ideologi itu sudah selesai! SUDAH SELESAI PADA SAAT PARA ULAMA INDONESIA DAN KOMPONEN BANGSA LAINNYA MEN-SAH-KAN PANCASILA DAN UUD 1945 SEBAGAI DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA.  Seharusnya kita bergerak maju, membangun bangsa, mengejar ketertinggalan dari bangsa lain, sehingga bisa memposisikan diri sejajar sebagai bangsa besar di dunia. Bukan kembali lagi ke-era sebelum 1945.

Bayangkan energi yang besar dari lulusan PTN hebat itu jika menjadi duta bangsa, pengembang iptek, penjaga moral bangsa….potensinya begitu besar! Sayang potensi besar dari lulusan terbaik PTN di negeri ini, jika terperosok pada aliran #gantiIdeologi akan menjadi penantang paling lantang terhadap segala kebijakan pemerintahan, tidak pandang bulu…jika kebijakkan itu sebuah kebaikan, maka akan senantiasa dicari sela-sela keburukannya, agar punya amunisi untuk memutuskan kepercayaan umat terhadap pemerintah yang berkuasa.  Apakah “memutuskan kepercayaan umat terhadap pemerintahan yang berkuasa di Indonesia” menjadi sasaran dari PTN di Indonesia?  Tentu saja bukan.  PTN punya VISI mulia untuk turun menjaga NKRI dan Keberlanjutan Pembangunan di NKRI, maka penting untuk selalu melakukan upaya-upaya untuk membersihkan, mencegah, dan menangkalnya.  Bagaimana cara kita turut membantu menghentikan radikalisme?

  1. Stop jadi “vocal minority”  yang selalu membela eksistensi #radikalismeKampus, hanya  karena isu ini menguntungkan secara politik.
  2. Komponen alumni  PTN dan masyarakat sebagai “sillent majority” harus kencang dalam bersuara Religius Yes! NKRI Pancasila Yes! Radikal No!
  3. Diskusi keluarga harus terus dihidupkan, berdasarkan pengalaman saya selama tahun 1991-1995, teman-teman sekelas  yang tidak kos atau bermukim bersama orang tuanya, tidak ada yang terpapar radikalisme (tingkat paparan 0%).
  4. Mahasiswa yang kos dengan pengetahuan agama minim, yang jauh dari orang tua yang terkena paparan radikalisme. Mahasiswa kos namun yang berlatar belakang santri NU, atau orang tuanya berlatar belakang NU atau Muhammadiyah, mereka pun tidak ada yang terpapar radikalisme.  Hal ini karena mereka memiliki dasar keagamaan yang kuat. Orang tua yang memiliki anak kos, harus sering melakukan pengecekan dan nasehat atau peringatan “Awas, jangan sampai terbawa-bawa aliran-aliran radikal, jauhi pengajian-pengajian politik yang menjelek-jelekkan pemerintahan dan pancasila. Ingat NKRI dan pancasila ini juga perjuangan para Ulama yang lebih tahu agama ketimbang kita!” Peringatan seperti ini terus menerus diulang-ulang setiap orang tua menengok dan menelepon, umumnya peringatan seperti ini ampuh pada anak-anak kita yang mahasiswa.
  5. Bagaimana dengan mahasiswa yang sudah terlanjur terpapar radikalisme? Perlu dilakukan ‘CAMP’ untuk mencuci kembali otak mereka.  Dan membuat perjanjian untuk tidak terlibat dan memutuskan hubungan dengan jaringan gerakkan radikalisme.  Jika masih bersikukuh terlibat dalam jaringan radikalisme, tindakan tegas bisa saja diterapkan para rektor. Ini semua tentu untuk menyelamatkan masa depan para mahasiswa tersebut. Pun jika dia anak kita, maka mengobrol mendalam dengan si anak, jika kita kurang pengetahuan tentang hal ini bisa dibawa ke beberapa ulama atau memasukkan mereka ke ‘pesantren NU’.

Para rektor di PTN, saat ini terus melakukan pembersihan ‘radikalisme di lingkungan kampus’.  Dosen ASD/PNS merupakan komponen yg perlu juga dibersihkan.  Beberapa dosen plat merah terpapar radikalisme sejak mahasiswa, mereka adalah kader potensial bagi gerakkan dakwah transnasional, bahkan diantara mereka masuk dalam jajaran pengurus gerakkan dakwah tersebut.  Apa yg mereka lakukan sebetulnya sudah melanggar SUMPAH PNS pada saat awal mereka ttd ketika lolos dari CPNS menjadi PNS. Tidak hanya rektor yg ditekan tapi kemenristek dan kemenag serta BKN dapat memanggil dosen2 tsb minta mereka komitmen “keluar dari PNS karena tetap menjadi simpatisan bahkan partisan gerakkan dakwah transnasional, atau tetap dari PNS stop jadi simpatisan dan partisipan gerakkan dakwah transnasional” tindakkan tegas ini perlu dilakukan pemerintah karena gerakkan dakwah transnasional ini ibarat kanker dalam NKRI.  Apalagi posisi sebagai dosen yg punya akses besar dalam rekuitmen kader dan simpatisan di kalangan mahasiswa.  TEGAS ITU HARUS!

Orang tua juga memperkuat deradikalisme di rumah.  Deradikalisme ini bukan hanya tugas rektor, polisi, dan BNPT tetapi juga tugas kita selaku orang tua anak-anak kita.  RELIGIUS YES! NKRI PANCASILA YES! RADIKAL NO!

Me and Radicalisme #Part02

Ok, pada tulisan ini saya bahas bagaimana perkenalan saya dengan paham radikalisme di IPB.  Sebelumnya sudah saya ceritakan bahwa pintu masuk pertama radikalisme di IPB pada tahun 90-an adalah responsi agama yang diasuh oleh para assisten agama.  Bagi beberapa orang responsi agama ini sukses menghantarkan mereka pada pengajian lebih khusus, bagi saya yang tidak mudah menerima sebuah paham karena sudah punya paham sebelumnya tentu tidak mudah.

my stories

Namun, jangan anggap jalur formal itu satu-satunya cara.  Ada jalur informal lainnya, yaitu melalui DAURAH dan SANLAT secara informal.  Saya berkenalan dan berliqo dengan gerakkan cabang Ikhwanul Muslimin atau Tarbiyah di IPB melalui daurah yang saya ikuti.  Lalu berkenalan dengan hizbut tahrir pun melalui sanlat yang diadakan.

Perkenalan dengan tarbiyah. Adalah teman saya satu kelompok.  Selepas pembagian transkip tingkat I, dia mengajak saya untuk ikut daurah.  Dia memang lebih dulu kenal dengan kakak kelas, tempat kost-annya memang multi angkatan dan rerata kakak kelas itu berkerudung panjang.  Daurah atau dikenal dengan Mabit itu dilaksanakan di sebuah lembaga pendididkan di Pasir Kuda Ciomas.  Kita ditempatkan disalah satu bangunan.  Selama tiga hari kita dibina oleh mbak-mbak dari UNJ, sepertinya tahun 90 itu belum ada kader akhwat mumpuni dari IPB, sehingga mbak-mbak UNJ yang isi.  Mbak-mbak dari IPB hanya fasilitator saja.  Lepas dari dauroh itu, dibentuk kelompok-kelompok pengajian kecil yang disebut liqo. Liqo dibimbing Murobi (Mentor) kakak kelas angkatan 26 yang juga orang Bandung.  Kegiatan ngajinya seminggu sekali, yang diberikan adalah ma’rifatullah, ma’rifatul rasul, ma’rifatunabi….  mengajinya kalau menurut saya mah membosankan.  Mengapa? Murobi memperkenalkan sedikit materi lalu meminta kita membaca ayat-ayat yang relevan dengan topik tersebut.  Acapkali ayat yang dirujuk maknanya gak nyambung.   [Oh ya, walaupun saya masuk di sini, tapi saya tetap ngaji tafsir Jalalain ba’da subuh di Bapak, karena bahasa arab saya belepotan saya cuma dengerin aja kajiannya, gak berani ikut-ikutan baca hehehe.  Tapi paling tidak karena ngaji sedikit tafsirnya, penjelasan Murobi yang kurang masuk akal jadi tak mudah saya terima].  Murobinya bermuka masam, kalau kita banyak bertanya.  Pada waktu itu, saya berpikir di ‘liqo‘ ini dilarang jadi orang kritis.  Dengan pola pengajian seperti membuat saya ‘bete’ sekaligus khawatir, saya punya prinsip kalau menukil ayat gak boleh sembarangan harus tahu tafsirnya. Kalau sembarangan nanti bisa jatuh sama ta’wil.

Perkenalan dengan Hizbut Tahrir.  Pada saat yang sama setelah saya ikut Daurah, teman saya itu pun ngajak juga saya ikut SANLAT yang diadakan oleh mbak-mbak yang kebanyakan assisten PAI.  Waktu itu dalam hati saya, yeahhh kena lagi nih.  Selepas dari SANLAT itu pun lanjutannya adalah pembentukan kelompok kecil yang mereka sebut halqoh. Halqohdibimbing Musyrifah (Mentor).  Halqoh seminggu sekali, untuk tahap perkenalan ini kami diminta melalukan kupasan isu-isu aktual dengan merujuk pada berbagai sumber bacaan.  Pengemasan halqoh oleh Musyrifah sangat kreatif, melatih daya analisis.  Tak jarang pertanyaan-pertanyaan nyeleneh saya pun ditanggapi dengan serius dan rujukan yang baik.  Pertanyaam tentang banyaknya golongan-golongan yang menyeru pada islam ditanggapi dengan mengupas ‘makna bahasa dari QS Ali Imron 104’.  Cara menukil al quran mirip Kyai yang biasa ngisi kajian tafsir jalalain.  Keterbukaan dan Musyrifah yang tidak alergi dengan pertanyaan2 saya membuat saya lebih tertarik ikut kajian dalam Halqoh daripada Liqo.

Pelan-pelan saya menjauhkan diri dari Liqo dengan jarangnya ikut kajiannya.  Teman se-liqo saya yang tahu gelagat saya. Mulai mengingatkan, “Yan, kamu jangan terlalu banyak ikut pengajian. Nanti kamu pusing!”  Saya hanya tersenyum, dalam hati saya, saya cuma ikut 3 kajian saja liqo yang membuat bete, halqoh yang menantang daya kritis, dan ngaji sama Kyai seperti biasanya kebiasaan di kampung saya dulu juga begitu, yang dikaji juga sama Jalalain.

Masuk semester 4, ketika saya harus pindah kampus dari Baranangsiang ke Dramaga.  Saya pamit sama teman saya [Bukan sama Murobi hehehe], saya keluar dari Liqo.  Namun saya tetap melanjutkan Halqoh.  Pada Halqoh inilah kemudian saya mengkaji aneka kitab gundul keluaran Hizb Tahrir, kitab yang dikaji adalah Nidzomul Islam, Ma’rifatul Hizbut Tahrir, Takatul Hizbi, Nidzomul Ijtimai (Sistem Pergaulan), Nidzomul Ihtisody (Sistem ekonomi), Nidzmul Hukmi (Sistem Pemerintahan), dan Syakhsiyah Islamiyah (Kepribadian Islam).  Untuk sekaliber orang Indonesia yang bahasa arabnya belepotan satu kitab tipis dikaji 1 tahun, maka 1 kitab tebal bisa 2-3 tahunan.  Mungkin bagi orang pesantrenan yang baca kitab dan paham bacaannya lebih baik, bisa lebih cepat.  Apakah isi kitab itu menyimpang dari Islam? Tidak semua kitab itu dirujuk dari sumber-sumber shahih dan bisa dikatakan sebagai sebuah kekayaan pengetahuan islam.

my opinion

Dimana sisi radikal dari kedua gerakkan ini?

  1. Tarbiyah, sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin yang ingin mendirikan Jamiah Islamiyah (mirip Khilafah Islamiyah yaitu Negara Islam Internasional yang satu) dengan terlebih dahulu mendirikan negara Islam termasuk di Indonesia.  Dakwah dimulai dengan keluarga (untuk membentuk keluarga, secepatnya para anggota pengajian dijodohkan dengan anggota pengajian lainnya), lalu bi’ah [lingkungan masyarakat yang islami di suatu perumahan mereka akan melakukan dominasi], dan terus ke negara-negara melalui partisipasi politik sebagai partai, kalau presiden sudah dari golongan mereka begitupula negara lainnya maka akan disatukan menjadi jamiah islamiah.  Disinilah letak bahaya ideologinya.  Selain itu sikap #NO-Cooperative dengan yang tidak sekelompok menjadi bahaya tersendiri terhadap multikulturisme.  Kebencian mereka terhadap kaum Nasrani dan Yahudi menurut saya sudah keterlaluan.  Ayat yang dijadikan rujukan adalah QS Al Baqoroh “Wa lan tardo anka Yahudi wa Nasrani hatta tatabia milatahum” “walladzinaa kafaruu aliyauhum thoguutu. Lalu semua produk dari mulai KFC, A&W, McDonald ….pokoknya yang dianggap produk Nasrani atau Yahudi sepertinya dianggap nazis yang tidak boleh disetuh.  Disentuh aja gak boleh apalagi diajak kerjasama.  Muslim yang kerjasama dengan Non muslim mereka sebut Thogut. Dulu teman saya sepengajian liqo, dengan seenaknya mengejek teman Nasrani dan sekelompok teman muslim bersamanya dengan sebutan ‘tauge’.   Terus terang, ketika saya mendengar ungkapan ‘tauge’ saya langsung risih.  Sebagai anak yang besar dari keluarga nasionalis, yang dari kecil diajarkan untuk menghargai perbedaan suku dan agama demi persatuan Indonesia.  Ini menggelitik kalbu saya.  Panggilan “Ukhti wa Akhi” hanya disematkan pada golongan pengajian mereka.  Ketika kita di luar atau sudah keluar dari pengajian itu, panggilan itu tidak berlaku lagi.  Pemerintahan yang berkuasa jika pemimpinnya bukan dari kalangan mereka, akan disematkan sebagai pemerintahan Thogut.  TERTUTUP TIDAK MAU MENERIMA PENDAPAT ULAMA LAIN, BAHKAN mereka alergi pada ULAMA NU.  “Semua salah kecuali kelompok saya [paham ini bisa dibaca dari buku Menuju Jamiah Islamiyah]”  Maka saya tidak heran kalau diantara teman saya ini menyebutkan Golkar, PDIP, atau partai nasionalis lainnya dengan sebutan partai tauge.  Lalu menyebut NU sebagai ahlul bid’ah, Hizbut Tahrir sebagai gerakan sesat, ….. “Semua salah, kelompok saya yang benar…. kalau ada hadits Umat Islam terbagi menjadi 73 golongan dan yang benar adalah 1 saja, maka kelompok inilah yang ngaku 1 itu”   –   Kelompok yang tidak memahami esensi dari Ali Imron: 104, dalam ayat ini siapa saja yang menyeru pada al khoir, u’laikahumul (mereka-mereka semua itu, jama’) adalah beruntung.
  2. Hizbut tahrir. HT itu gerakan politik yang bertujuan mendirikan khilafah islamiyah, deklarasi 2012 sangat nyata Ustadz Labib Rahmat sebagai pimpinan HTI menyatakan Indonesia bisa dijadikan  titik tolak berdirinya Khilafah Islamiyah, potensinya ada 73% masayarakt berdasarkan hasil survei PPIM UIN Jakarta ingin syariat islam diterapkan.  Kitab-kitab HTI itu bagus-bagus isinya, namun jika menginginkan pengajian untuk menguasai kitab-kitab itu, HTI hanya membuka kajian untuk mereka yang mau berjuang mendirikan khilafah.  HT bukan lembaga ta’lim tapi gerakkan politik untuk memperbaharui sistem kafir [sebutan buat sistem bukan islam].  Melayani mereka yang hanya ingin mengkaji kitabnya saja, hanya ingin ta’lim saja, hanya buang-buang waktu.  Yang lebih diinginkan adalah orang-orang yang mau bersama-sama memperjuangkan khilafah islamiyah baik sebagai anggota (syabab) atau penolong dakwah mereka.  Memperjuangkan khilafah islamiyah inilah yang disebut dakwah.  Dan salah satu sifat yang ditekan dalam gerak hizbut tahrir adalah #NOCOMPROMAISE, tidak ada kompromi dan tidak berkompromi.  Mereka mengatakan orang-orang muslim yang mau berkompromi sebagai munafik atau komprador.

Ada jutaan kebaikan ketika kita mengaji di Tarbiyah dan HTI, kita termotivasi beribadah secara rajin, berakhlaktul karimah, dan berpegang teguh pada syariat islam. Namun keduanya adalah gerakan politik dan ideologi. Gerakan yg punya tujuan menggantikan pancasila dan NKRI sebagai dasar dan bentuk negara. Sifat sebagai gerakan politik ideologi inilah yg berbahaya. Jamiah islam atau khilafah islamiyah bagi mereka bukan sekedar knowledge namun cita-cita perjuangan.

Refleksi

Untuk kasus IPB secara formal gerakkan radikalisme ini masuk secara formal melalui Responsi Agama Islam oleh DKM Al Huriyah/Al Ghifari  dan Unit Kegiatan Mahasiswa Badan Kerohanian Islam.  Bahkan dari IPB pulalah Hizb Tahrir tersebar ke semua Lembaga Dakwah Kampus di Indonesia melalui Forum Silaturahmi LDK.

Secara tidak formal melalui interaksi aktivis Hizb Tahrir atau ikhwanul muslimin di rumah kos dengan anggota kos terutama adik kelas.  Ada diantara rumah kos dijadikan sebagai rumah binaan.   Jika seseorang  masuk ke rumah kos seperti ini maka 90% akan menjadi kader masa depan aktivis gerakkan ini.  Selain itu kegiatan daurah atau sanlat (pesantren kilat) pada saat liburan atau bulan ramadhan menjadi pintu masuk pengkaderan.

Berdasarkan hal ini, maka IPB memang dapat melakukan restrukturisasi Pendidikan Agama Islam, DKM Al Huriyah/Al Ghifari, dan BKIM IPB untuk mengurangi tumbuhnya paham radikalisme di kampus.  Namun tampaknya jalur non formal yaitu aktifitas di rumah kos dan kegiatan daurah – sanlat yang diselenggarakan pada saat liburan atau ramadhan di luar wewenang IPB.

IPB perlu memberikan penguatan wawasan Pancasila dan NKRI pada para mahasiswa.  Pemberian wawsan kebangsaan haruslah dikaitkan dg esensi syariah islam dengan mengundangan ulama-ulama NU. Misalnya perlu penekanan bahwa sumber syariat islam ada empat 1) al qur’an 2) as sunah 3) qiyas 4) Ijma para ulama.  Mengingkari ijma ulama akan membawa kebahayaan bagi bangsa Indonesia.  Ulama dari NU, Muhammadiyah, SI, Al Arsyad… adalah para wakil umat islam pada BPUPKI dan PPKI, ulama berijma pada 1945 untuk menerima pancasila dan NKRI sebagai dasar dan bentuk negara Indonesia.  Menghianati pancasila dan NKRI merupakan bentuk ketidakpercayaan kita terhadap para Ulama.  Padahal #BelaUlama pernah dilakukan berjilid-jilid oleh sebagian umat muslim.  Tentu #belaUlama haruslah konsisten dilakukan, bukan hanya membela satu pernyataan yg menguntung gerakan politik islam radikal saja tapi juga bela pancasila dan NKRI buah perjuangan para ulama indonesia. Halaqoh kebangsaan di IPB perlu dihidupkan untuk meminimalisir radikalisme.

Sebagai anak yg lahir dari keluarga nasionalis terbisa dg hidup multiethis dan keluarga yg kuat dalam memegang teguh toleransi. Berada di IPB memang tak nyaman, pada awal perkuliahan tempat duduk lelaki dan perempuan wajib terpisah kiri dan kanan. Muslim berkumpul dg muslim pun begitu non muslim, keduanya saling mencurigai. Mahasiswa muslim yg berkawan baik dg non muslim akan dipandang dg pandangan hina. Pelajaran PAI makin menguatkan eksklusifisme antara muslim vs non muslim. UKM yg menampung multietnis seperti UKM SENI DAN OLAH RAGA sangat minim. Maka wajar jika pada jaman saya halqoh dan liqo lah yg marak dijalani mahasiswa IPB. IPB pada era 90-an menjadi lingkungan yg tidak sehat bagi tumbuhnya multikulturisme dan toleransi, semoga pada saat ini berubah menjadi lebih baik.

Kajian DKM Al Huriyah perlu diubah, melibatkan para Kyai NU yang banyak di sekitar kampus IPB untuk mengisi kajian Tafsir Jalalain atau Ibnu Katsir tiap subuh.  Kajian ihya ulumuddin ba’da magrib juga akan sangat bagus untuk mengimbangi pikiran radikalisme yang marak di kampus.  Sebagai catatan pada tahun 90-an, para mahasiswa/i yang rajin ngalong bersama para Kyai di pesantren sekitar kampus mempunyai daya retensi yang tinggi terhadap radikalisme di kampus.

Wallohualam bi sawab.

Me and Radicalism #Part01

Jika radikalisme didefinisikan dengan….”In political science, the term radicalism is the belief that society needs to be changed, and that these changes are only possible through revolutionary means” maka definisi ini tentu saja cocok disematkan pada gerakan-gerakan islam ideologi.

Mystory I:

Sewaktu SMA saya termasuk peserta di Rohis sekolah walau tak bisa disebut sebagai aktifis, karena sampai akhir SMA saya tak pernah terlibat dalam kepengurusan Rohis.  Disinilah saya kenal istilah pemerintahan THOGUT yang disematkan pada pancasila.  Disini juga ghirah kami terbakar dengan cerita-cerita heroik dari Hasan Al Bana, Zainab Al Ghazali, dan Sayid Qutb.  Tak jarang teman ikhwan kami bersitegang dengan guru PMP saat itu.  Mentor yang datang ke sekolah saat itu sebagian besarnya kakak-kakak yang kuliah di UNPAD, hanya satu saja yang bukan UNPAD yaitu Aa Gym waktu itu masih berstatus mahasiswa tingkat akhir UNJANI. Kang Agym lebih banyak melakukan netralisir terhadap ide Kakak2 UNPAD.  Suatu kali selepas Kang Irfan memberikan materi tentang daulah-daulah, Kang Agym sudah hadir di mesjid sekolah, dan ketika beliau memberikan materi Beliau berkata, “Aduh berat amat materinya ya! Nah, Aa mah giliran yang ringan-ringan sajalah”.  Aa Gym lebih banyak membahas tentang Akhlak.  Kakak2 UNPAD itu juga aktifis remaja mesjid di Mesjid Agung, akhwatnya berpakaian jubah panjang dan kerudung panjang.  Saya pernah sekali ikut mabit di Mesjid Agung, dan pernah pula ikut kajian singkat pengkaderan mereka.  Saat itu kami dibawa ke sebuah rumah, entah dimana letakknya.  Selama tiga hari kami dijejali materi…. diantara materi itu adalah “Potensi Indonesia sebagai wilayah tempat bangkitnya Islam kembali.  Sang Mentor mengisahkan posisi Indonesia yang berada diantara AS dan Unisoviet [Saat itu tahun 1987, tentu saja Uni Soviet masih eksis, Uni Soviet runtuh tahun 1991] sangat persis sama dengan posisi arab saudi diantara Persia dan Romawi. Melalui pemetaan itu, kami diyakinkan bahwa Indoensia adalah lokasi tempat berdirinya daulah islamiyah sebuah negara baru yang berasaskan syariat islam, negara ini akan menggantikan negara Indonesia yang berasaskan pancasila”

Walau sudah melalui mabit dan pengkaderan, saya tidak tertarik ketika diajak untuk bergabung lebih intensif oleh teman-teman SMA saya yang lebih dahulu bergabung di dalamnya (Dari peserta ROHIS ada sekitar 4 orang angkatan saya yang tergabung dalam kajian intesif bersama kakak mahasiswa UNPAD).  Mereka memang mengajak saya, untuk ikut kajian lebih intensif.  Namun, saya menolaknya. Alasannya….

Selain ikut rohis di SMA, saya pun mengikuti kegiatan mentoring di SALMAN ITB.  Mentor-mentor ITB ini lebih memacu saya untuk menjadi ilmuwan muslim.  Mereka menggambarkan bagaimana perkembangan teknologi dan minimnya partisipasi muslim di dalamnya.  Sebagai anak yang punya ketertariakan terhadap sains dan teknologi, saya tentu lebih tertarik fokus tembus UMPTN agar bisa menjadi ilmuwan muslim.  Lagu BIMBO berjudul “Aisyah adinda kita……” menjadi inspirasi saya saat itu.

Saat itu teman saya yang sudah terkader lebih dulu, mengajak saya ngobrol berdua dengannya di ruang rohis.  Dia cerita banyak hal.  Namun, saya katakan pada teman saya, “Saya mau jadi ilmuwan muslimah, saya menolaknya untuk memperdalam kajian islam bersamanya!”

Alasan lainnya, sebetulnya ada.  Namun tidak saya kemukakan ke teman saya itu, takut dia tersinggung.  Alasan lainnya adalah pengajian yang diberikan Kakak2 UNPAD itu aneh.  Mereka bilang kita belum dapat predikat ISLAM, karena kita belum bersyahadat.  Rukun islam pertama itu Syahadat, karena islam keturuan kita tak pernah disyahadatkan.  Islam kita dianggap tidak syah dan harus syahadat ulang.  Bahkan dengan eksreem kakak Mentor mengatakan “Abu Lahab dan Abu Jahal itu mu’min tapi bukan muslim” (seumur SD-SMP dan ngaji di Madrasah juga denger ceramah kyai kampung dan para Kyai yang suka ceramah di radio, bahkan HAMKA yang tiap jumat di TV, baru kali itu saya denger kalau Abu Lahab dan Abu Jahal Mu’min).   Ketika ditanya, “Pada siapa kita harus bersyahadat?” Mereka bilang, kita harus bersyahadat pada orang yang pernah bersyahadat langsung pada Rasulullah saw. Ketika kita tanya, apa memang masih ada orang seperti itu? Siapa orangnya?  Mereka hanya menjawab, ada…dari kalangan kita nanti akan diberitahukan.  Tapi nanti….   Menurut saya ini agak aneh alirannya, gak seperti umumnya islam, yang paling penting dalam logika anak SMA saat itu, saya pikir aliran ini membuat hidup jadi ribet.  Belakangan ketika kuliah salah seorang teman saya yang juga pernah mengalami hal yang sama mengatakan bahwa aliran yang meminta syahadat ulang itu dinamakan JK (Jamaah Kerosulan).

Ketidakmauan saya mengikuti pengkaderan oleh JK, menyebabkan saya tidak pernah terlibat dalam kepengurusan ROHIS SMA.  Jadi jika dikatakan sebagai aktifis Rohis, mungkin saya tidak terkatagori ini, saya hanya pernah menjadi FOLLOWER ROHIS SMA.

Refleksi

Apakah ROHIS SMA menjadi sasaran empuk masuknya radikalisme yang akan menggoncang ideologi pancasila? Pengalaman saya mengatakan IYA! Alumni yang mendapatkan gerakan islam ideologi selama di kampus, melakukan pengkaderan pada adik-adik kelas di SMA.  Karena Alumni, mudahlah bagi mereka masuk ke sekolah menggarap ROHIS.  Banyak SMA terutama negeri (SMAN) menjadi sasaran karena lemahnya pengawasan para guru dalam kegiatan ekstrakurikuler.  Banyak ekstrakurikuler dibina oleh para alumni pun termasuk Rohis.  Tidak seperti ekskul lain yang alumninya mengajak adik-adik SMA-nya untuk mendapatkan tropi kejuaraan, alumni di ekskul ROHIS mengajak adik-adik kelasnya masuk aliran-aliran islam ideologi.      ROHIS SMAN dijadikan kawah candradimuka, pengkaderan awal oleh gerakan islam ideologi.  Kemendikbud, Kemenag, dan para kepala sekolah/madrasah tentu saja harus mewaspadai hal ini.  ROHIS di SMAN harus direformasi dan difokuskan pada pencapaian prestasi dari sisi keagamaan, bagaimana dari ekstrakurikuler ini lahir qiroaah dan hafizul qur’an (kalau untuk jadi Mubaligoh tidak mungkin perlu ilmu alat yang mumpuni yang hanya bisa dilakukan di pesantren), SMAN harus menyediakan guru atau pelatih profesional yang bisa membimbing peserta dalam latihan qiroah dan hafizul qur’an bukan dilepas begitu saja sehingga dimanfaatkan oleh para alumni melakukan mentoring keagamaan memasukkan ideologi-ideologi radikal.  Bukankah kedudukan ekstrakulikuler itu untuk meningkatkan raihan prestasi non akademik dari peserta didik? Berapa banyak qoriah dan hafizul qur’an yang sudah dihasilkan oleh ROHIS SMA? Berapa banyak alumni ROHIS SMAN yang berhasil masuk ke Musabaqoh Qur’an tingkat daerah dan nasional? Jika ekskul pencinta alam di SMA memiliki prestasi dalam menaklukkan gunung-gunung dasar, maka apa prestasi ROHIS? Jika indeks keberhasilan ekskul pramuka pada berapa banyak peserta lolos Jambore tingkat nasional dan internasional, apa indikator untuk ROHIS? Pun jika indeks keberhasilan ekskul paskribaka adalah berapa peserta lolos jadi pengibar bendera di tingkat daerah dan nasional yang menjadi kebanggan sekolah setiap tanggal 17 Agustus, maka apa indeks keberhasilan ROHIS?  Jangan sampai indeks keberhasilan ROHIS SMA “Berapa banyak peserta didik yang berhasil menjadi kader gerakan-gerakan islam ideologi?”  Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya ROHIS SMAN telah dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan islam ideologi.  Alih-alih memperkuat karakter kebangsaan dengan 18 karakter yang telah dicanangkan kemendikbud, segelintir peserta didik yang aktif di ROHIS ini akan menjadi penantang nyata untuk NKRI. Inilah yang menyebabkan Kemendikbud, Kemenag, dan para kepala sekolah-sekolah negeri perlu melakukan reformasi terhadap ROHIS di sekolah.

MySTORY II:

1990, saya lolos UMPTN walaupun bukan pilihan pertama, saya masuk IPB.  Di kampus ini saya tidak tertarik aktif di kerohisan.  Namun, pada saat saya TPB (tingkat I) ospek-ospek yang diadakan kampus tidak memperkenalkan kami pada UKM.  UKM yang saya kenal di IPB saat itu hanya lawalata, MENWA, BKI (Kerohanian Islam), dan Paduan Suara.  Lebih miskin daripada kegiatan ekskul waktu saya di SMA yang beragam jenisnya mulai dari Tari, Basket, Volley, Silat, KIR, Paduan Suara, PKS (Polisi Keamaan Sekolah), PMR, Pramuka, Paskibra, Pencinta Alam, …. dan lainnya.  Masa TPB ada pelajaran agama islam.  Sistem di IPB, setiap pelajaran ada responsi yang dipegang assisten.  Dosen mengajar 100 menit di kelas, dan 100 menit lagi diajar assisten dengan waktu yang disepakati.  Begitu pula dengan PAI, kami mendapatkan assisten seorang ikhwan dan akhwat.  Kuliah agama tak ada masalah, mungkin karena saya lebih banyak bolos atau tidur saat kuliah, jadi saya tak pernah terlalu menyimak apa isi kuliah, kuliah pun diberikan oleh 1 orang dosen dengan 120 mahasiswa dalam kelas, jadi kebayangkan? mau tidur pun gak ketahuan, dan saya memang tukang tidur di kelas, apalagi posisi barisan tengah dekat jendela dengan angin semilir bertiup hehehe. Namun responsi agama itu menyusahkan, acapkali saya tak paham apa yang sedang dijelaskan para asissten itu.  Mungkin mereka kelewat pintar, sehingga saya tak bisa menangkap.  Ketika mereka meminta membuatkan rangkuman tentang materi yang telah diberikan sang assisten, saya membuat rangkuman dengan judul sama namun materi yang saya rangkumkan dari buku mentoring di SALMAN ITB yang saya kaji selama SMA. Sampai-sampai assiten mengomentari hasil rangkuman saya, darimana ini dapatnya?  Namun dari dulu sampai kini, saya punya prinsip.  Saya tidak akan menyajikan sesuatu pada orang lain, sesuatu yang tidak saya pahami.  Penjelasan assisten agama itu tidak saya pahami, sehingga saya tak memberikan rangkuman sesuai materi yang mereka telah terangkan.

Belakangan hari saya baru paham, bahwa buku yang dijadikan rujukan oleh para assisten agama islam di IPB adalah “Nizhamul Islam karya Syekh Taqiyuddin Annabhani”  Buku yang sulit dipahami karena secara mendasar meredefinisi kembali aqidah islam kita.

Bersambung ke #Part02 “Bagaimana saya berkenalan dengan aliran-aliran radikal di IPB?

 

Let’s Think! Part II

Tulisan ini adalah lanjutan tulisan sebelumnya, cuma ingin mengajak berfikir menggunakan nalar, jangan menggunakan rasa.  Karena acapkali RASA tidak sesuai FAKTA.  Semoga saja bermanfaat bagi yang mau tercerahkan….

Selamat membaca, mohon maaf bacaannya memang berat!

Lanjutan tahap Tafa’ul

Gozwul fikri adalah kata sakti yang dihembuskan untuk mempersiapkan masyarakat masuk ke tahap tafa’ul (berinteraksi dengan umat).  Senjata yang dihembuskan dalam medan perang pemikiran ini adalah “pemerintah anti islam” “pemerintah anti dakwah islam” “pemerintah dzalim” “pemerintah thogut” “pemerintah kufur“.  Pada tahap ini selain interaksi dengan masyarakat melalui penyebaran jargon-jargon yang membuat masyarakat tidak percaya pada pemerintah yang berkuasa, juga dilakukan interaksi dengan pemimpin di pemerintahan dan ABRI serta public figure atau tokoh masyarakat.  Tujuan interaksi dengan pemuka di pemerintahan, ABRI, dan masyarakat adalah untuk mencari bantuan dan mempercepat proses pengambilalihan kekuasaan.  Maka pada tahap ini, jika inflitrasi ini berhasil kita akan melihat pemuka dan tokoh di pemerintahan, ABRI, dan masyarakat mereka melakukan konter dan konfrontasi dengan pemerintahan sah.   Presiden v.s Panglima ABRi v.s Kapolri v.s Ketua DPR v.s ….dst.  Nah, pada tahap ini gerakan revolusioner ini juga  melakukan playing victim, contohnya mereka menyebutkan PEMERINTAH MELAKUKAN ADU DOMBA TERHADAP RAKYAT, manakala pemerintah sah melakukan pembersihan terhadap gerakan revolusioner ini.  Padahal sebuah pemerintahan sah akan tetap berdiri dan membangun rakyat serta melaksanakan programnya untuk kesejahteraan rakyat. Dan tugas pemerintah memberantas ancaman terhadap ideologi negara.

Tahap II.  Tatbiq

Tatbiq adalah berdirinya sistem islam atau terambilnya kursi presiden ke tangan golongan mereka.  Apa yang dilakukan ketika keberhasilan ini terjadi? Contoh kasus adalah Mesir saat keberhasilan IM memimpin dan Turki dengan keberhasilan PAS-nya sekarang.  Apa yang mereka lakukan adalah memecat para pejabat bahkan kelompok dakwah lain yang tidak seide, memenjarakannya, dan memberikan label TERORIS hanya karena mereka-mereka yang tidak se-ide.

Apakah kelompok ini berbahaya?

Bahaya atau tidak bukan itu pokoknya, namun bayangan saya, “Jika kelompok transnasional berkuasa di Indonesia, saya membayangkan yang akan mereka lumatkan adalah NU, Muhammadiyah, PDIP, NASDEM,….  Lalu budaya? Mungkin berbagai gelaran tari tradisional, juga festival jazz, rock, … akan hilang musnah diganti dengan gelaran nasyid dan kesenian arab lainnya.  Kita tidak akan mendapati para wanita yang bebas berekspresi, para wanita akan dikurung di rumah-rumah dan wilayah harom.  Bahkan boleh jadi para wanita yang sekarang bekerja di berbagai instansi akan dipensiunkan dini. Gerakkan islam yg beredar di Indonesia dibawa dari Mesir, Arab, Yordan….umumnya punya kesamaan yaitu membatasi ruang gerak wanita di sektor publik dan tidak menerima PERBEDAAN. Sekarang tinggal kita pikirakan, apakah kita setuju dg “ARABISASI? Menciptakan kultur seperti di timur tengah? Baju tak lagi boleh bercorak batik, harus berwarna kelam….budaya jaipong, ketuk tilu, suling, gamelan, angklung….mungkin akan dilarang. Dan blog, facebook, twitter, serta media sosial atau media kontra dg khilafah yg telah berdiri akan diberangus sampai ke akar2nya. Siapa saja yg menentang khilafah berdiri dikatagorikan budghot dan siapkan saja untuk dipancung. Biasanya org membayangkan yg enak2 ketika hidup dalam kekhilafahan islam, membayangkan gampangnya saja, tidak pernah membayang konsekuensi dari wahabisme ini apa? Apakah mereka yg sudah bergabung ke ISIS memperoleh “gemah ripah roh jinawi”?? So, let’s think it! Bayangkan sekarang aja tingkah para pejuangan gerakkan wahabisme melakukan persekusi hebat pada mereka yang tidak seide. Padahal mereka masih berada di negara pancasila. Bayangkan kalau daulah khilafah itu berdiri, hal yang lebih sadis bisa dilakukan bagi mereka yg tidak seide. Mau dibangun negara yg seperti itu? Negara penuh ancaman yg menakutkan jiwa?

Kurang apa Indonesia sekarang? Kita diberi kebebasan menjalankan ibadah dan syariat islam bahkan difasilitasi. Jika pun ideologi yg dipilih adalah pancasila bukan syariat islam, ini karena kesepakatan bersama termasuk para ulama yang mewakili umat islam saat itu. Jika kita berteriak-teriak #belaUlama tentulah kita pun harus membela perjuangan yg telah dilakukan para ulama pada tahun 1945. Yg perlu kita lakukan saat ini adalah menikmati kemerdekaan dan mengisinya dengan kerja dan prestasi, tidak perlu lagi membuat gerakan-gerakan revolusi apalagi mengatasnamakan islam. So, let’s think and keep the right side!

Let’s think! Keep the right side!

Pemerintah dzalim, pemerintah pemecah belah umat, .pemerintah mengadudomba umat islam….ungkapan itu sering kita dengar bukan?

Saya mah orangnya gitu, selalu mencari dibalik segala sesuatu itu apa makna tersembunyinya. Gak gampang nelen bulat-bulat segala yang berkecamuk di alam maya. Ya, semoga bermanfaat saja tulisan yang agak berat ini. Sorry-sorry bagi yg tak sependapat, tapi thank you kalau baca sampai selesai.

Bagi yg malang melintang dalam gerakan menjatuhkan pemerintah sah baik gerakan islam maupun gerakan berpaham lainnya, tentu sangat paham apa maksud dan makna tersebut. Dalam dakwah gerakan tahapan gerakkan menggulingkan pemerintah sah melalui jalan umat mengharuskan mereka untuk berperang pemikiran dg umat. Gozwul fiqri dalam pengajian merupakan topik bahasan yg utama dibahas dalam rangka mempersiapkan umat ketika tahap ini digulirkan. Tahap dakwah gerakan islam mengenal tiga tahapan yaitu tasqif, tafaul, tathbiq atau pembinaan, berinteraksi dengan umat, penerapan hukum islam… ada juga yg tahapannya individu (idza bi nafsi), keluarga, masyarakat, negara.

Tahap tasqif atau individu/keluarga merupakan tahap pembinaan, tahap ini dinamakan tahap silent and secretly – tersembunyi dan rahasia tujuannya memperbanyak anggota dan sel-sel baru, umumnya dilakukan dalam bentuk diskusi berupa kelompok kecil yang dilakukan seminggu sekali atau disebut dengan halaqoh/liqo. Pada tahap ini belum terlihat pergolakan ditengah-tengah masyarakat, ide-ide hanya masif dalam kelompok mereka. Banyak gerakan politik islam melakukan tahap ini pada tahun 80-90 an. Mereka yang lahir pada tahun 60-an dan 70-an adalah org2 yang terimbas politik islam ini. Pada tahapan ini dilakukan brainstroming, menggantikan pemikiran yg sebelumnya tertananam, mereka muncul dengan sosok-sosok baru yg militan terhadap ide yg mereka peroleh. Bahkan extrim berprinsip “IDE DILUAR YANG MEREKA KAJI ADALAH KUFUR, PRAKTEK DILUAR YANG MEREKA KAJI ADALAH BID’AH, PEMERINTAH YANG MENAUNGI ADALAH THOGUT DAN KUFUR”. Sosok-sosok ini biasanya mudah dikenali ditengah masyarakat karena menggunakan simbolisme khas dalam berpakaian dan berdandan. Pada tahap ini dimunculkan pribadi-pribadi petarung BERMENTAL BAJA yg siap menjadi martir untuk memulai perang yang mereka sebut sebagai perang pemikiran.

Tahap tafa’ul atau masyarakat menuju negara merupakan tahap memperkenalkan ide masif penerapan islam ketengah-tengah umat. Bila jalur politik yg diambil mereka akan mendaftar sebagai partai politik peserta pemilu atau bisa juga tidak namun benturan ide akan terasa di masyarakat. Untuk menarik simpati umat pencitraan bersih, jujur, profesional terus dibungkus agar umat simpati, jargon-jargon terus dikumandangkan untuk menarik simpati umat dan jargon-jargon, “Khilafah, Kaffah, Syari’, Addien, .… sejalan dengan jargon islami muncul juga jargon cacian seperti pemerintah thogut, Demokrasi Kufur, … tahap ini merupakan kancah perang yg sengaja diciptakan sengaja di-skenario-kan, memang sengaja mereka membuat gejolak ditengah masyarakat dengan cara mengugat pemerintah sah. “APAPUN YG DILAKUKAN PEMERINTAH HARUS TERUS DICARI PELUANG SALAHNYA, contohnya perkara Freeport…. pada pemerintahan sebelumnya mereka berkoar-koar penguasaan asing atas freeport adalah salah, harusnya dimiliki umat. Sekarang ketika pemerintah Jokowi berusaha meraih 51% saham dan mereformulasi kontrak karya, merekapun berteriak penuh prasangka lepas dari asing diberikan pada aseng. Mereka sangat menyadari bahwa tahap tafa’ul tidak akan berhasil jika masyarakat tidak bergejolak, jika masyarakat rukun dan adem, jika masyarakat merasa puas dengan kinerja pemerintahan yg ada, oleh sebab itu mereka ditugaskan menyebarkan opini ditengah masyarakat agar masyarat bergejolak, masyarakat TIDAK PERCAYA PADA PEMERINTAH. Pada tahap yg mereka sebut sebagai gozwul fikri mereka bertugas Memutuskan kepercayaan umat pada pemerintahan sah.

 

nah, sampai disini dulu terjawab sudah mengapa ada ungkapan pemerintah dzalim, tukang adu domba, pemerintah kufur….pemerintah pendukung LGBT (pahadal uu mana yg bolehkan LGBT di Indonesia?), lalu apa tujuan isue itu dilemparkan dan ditujukan pada pemerintah sah?

To be continue

Denpasar, 26 Des 2017

Cukup Tahu! Be carefull!

Fenomena yang terjadi di indonesia saat ini sebetulnya bukan fenomena baru. Pada tahun 1950-1970 an kakek nenek kita pernah merasakan hal yang sama. Di wilayah tertentu seperti Garut misalnya pertarungan antara DII/TII dan pemerintah sah mengorbankan rakyat saat itu. Kalau tidak ada NAHDATUL ULAMA saat itu, saya tak yakin NKRI masih berdiri sampai saat ini. Fenomena terulang kembali saat ini, beberapa komponen partai, ormas, dan komunitas rindu penegakan syariah islam kembali menampakan diri ke permukaan. Sejak tahun 1970-an sampai 1998 mereka dorman, keran reformasi memberi celah untuk angun bahkan membesar, puncak kebangkitan itu adalah 212. Persatuan sebagian umat islam ini telah berhasil meluluh lantakan seorang Ahok, menyeretnya dalam penjara, dan membungkam kemenagannya. Keberhasilan ini tentu membawa angin segar untuk mengoalkan agenda-agenda lain atas nama umat islam di masa depan. Tulisan ini hanyalah sebuah opini saja. Terima kasih sudah sudi membacanya, walau kepanjangan bacaannya.

Efek dari 212 adalah lahirnya PERPU yang kemudian menjadi UU, selain penangkapan inovator 411 dan 212. UU ORMAS ini menjadi tongkat pemukul bagi HTI. Peran opini HTI dalam pilkada Jakarta memang nyata, dimulai dari demo 49 tolak pemimpin kafir di patung kuda (see arsip: https://m.youtube.com/watch?v=O5RC6TDfBCQ Hastag “Tolak pemimpin kafir'” menjadi opini andalan saat itu. Opini #TOLAKPEMIMPINKAFIR telah membuat Ahok pada 279 di kepulauan seribu berpidato “Bapak ibu tak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin jadi kalau saya tidak terpilih pun..ini bapak ibu tak usah khawatir  nanti programnya bubar, tidak saya  berhentinya sampai oktober 2017, jadi kalau program ini dijalankan pun bapak ibu masih sempat panen sama saya.  Jadi saya ingin bapak ibu semangat, jangan nanti ganti gubernur programnya bubar. Enggak saya sampai Oktober 2017.  Jadi jangan percaya sama orang, bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya.  Iyakan dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam-macam itu.  Itu hak Bapak Ibu, jadi kalau bapak ibu perasaan gak bisa pilih saya takut masuk neraka dibodohin gitu gak apa-apa tergantung pribadi bapak ibu, program ini jalan saja.  Jadi bapak ibu gak usah merasa gak enak dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok, gak suka sama Ahok, programnya udah terima gak enak dong gue punya hutang budi, jangan nanti gak enak mati pelan-pelan kena stroke…..”. Pidato Ahok ini menjadi landasan opini berikutnya yaitu #TolakPenistaAgama, Aksi berjilid-jilid pun muncul 411 lalu 212 dg #Tolakpemimpinkafir #tolakPenistaAgama akibat dari masifnya opini umum di mayarakat tidak hanya perang ayat tetapi juga perang mayat serta persekusi. Perang pemikiran berwujud pada aksi dan hukum rimba di masyarakat, opini masyarakat pun terbelah, yang tidak setuju terancam di-bully lewat komentar medsos atau viral medsos atau di-persekusi. HTI sendiri sebetulnya tidak punya kepentingan pada pilkada DKI, karena HTI menolak sistem demokrasi. Sistem demokrasi yg diterapkan termasuk di Indonesia dikatagorikan HTI sebagai sistem kufur. Jika HTI menganggap sistem indonesia kufur, harusnya tak hirau jika pemimpinnya pun kafir, masa muslim mau pimpin sistem kufur? Tapi mengapa HTI di DKI mengambil peran dalam #tolakPemimpinKafir dan para anggota HTI pun GOLPUT dalam pilkada DKI? Memanfaatkan “syuur umat” menguatkan citra hizb. Walaupun aksi 411 dan 212 digerakkan oleh GNFMUI dan FUI, namun peran HTI all out, kadernya dikerahkan sehingga tampak bendera ar rayyah khas HTI mendominasi. Syuur umat islam yg bersatu menjadi target dalam aksi ini. After aksi kajian subuh dan tawaran halaqoh bagi peserta aksi 212 dilakukan untuk menjaga spirit perjuangan islam, after aksi 212 agenda selanjunya adalah “mengelola gerakan syuur menjadi gerakkan pemikiran”. Sangat disadari oleh para TIM THANK GERAKAN ISLAM bahwa 212 adalah gerakan perasaan/syuur semata, org berkumpul karena perasaan yang sama yaitu “tidak setuju terhadap AHOK”. Namun latar belakang org datang pun berbeda-beda yaitu ada yg murni menolak penistaan alquran, ada yg datang krn gubernur pilihannya yang kebetulan muslim ingin menang, dan ada juga agenda DKI BERSYARIAH titik tolak bagi NKRI BERSYARIAH termasuk khilafah. Walaupun umat islam bersatu, namun Ketidaksamaan pemikiran ini akan menjadi batu sandungan bagi agenda jangka panjang yaitu #PILKADA-PILPRES #NKRIBERSYARIAH dan #khilafah. Subuh berjamaah dan halaqoh atau liqo mingguan digunakan sebagai sarana untuk menyatukan pemikiran, selanjutnya reuni dan kumpul2 tetap dijaga untuk menjaga syuur umat, syuur persatuan. Apa yg diharapkan? Terbentuk opini umum. Opini umum apa yang ingin dimajukan 1) pemerintah sekarang adalah pemerintah dzalim atau kufur 2) perlu ganti sistem pemerintahan yg ada bisa diawali dengan mengganti pemimpin pemerintahan yg pro pada agenda mereka. 3) opini 1 dan 2 terus digoreng melalui halaqoh/liqo, opini media, dan opini saat kumpul2 reuni tujuannya untuk menggerakkan massa menuntut revolusi yaitu mengganti sistem pemerintahan, bisa jadi dg terlebih dulu mengganti presiden.

Tim thank 212 kader-kader komunitas, ormas, dan partai yg punya cita-cita menegakan syariah islam di indonesia. Penegakkan syariah islam melalui jalur kekuasaan, direbut melalui jalan umat. Dari bendera yg dibawa tampak bahwa barisan 212 adalah 1) PKS yg punya misi menegakkan syariat islam melalui jalur parlemen dan pilkada, menggunakan isu SARA untuk memenangkan setiap pilkada. Reuni 212 sangat bermanfaat untuk mendukung kemenangan calon yg diusungnya dalam pilkada bahkan mungkin pilpres. 2) FUI FPI punya misi menegakkan NKRI BERSYARIAH, rangkaian demo 411 212 berhasil melambungkan ketokohan HRS, rencana ini sebenarnya sudah lama digagas, sejak 2013 HRS telah dinobatkan sebagai presiden NKRI bersyariah. Flyer dan undangan demo juga reuni demo pada bagian bawah santiasa ada logo #NKRIBERSYARIAH. 3) HTI sebetulnya punya tujuan dan metode yg beda dengan PKS dan FUI dalam mewujudkan khilafah islamiyah, namun ada ‘moment bersatunya umat’ karena distimulus perasaan yang sama yaitu benci Ahok, baik benci karena mau jadi gubenur maupun benci karena menukil al maidah serta benci kafir. Moment ini tak dibiarkan berlalu namum dimanfaatkan untuk turut meraih simpati umat dan meneguhkan ketokohan HTI dikalangan umat.

Semua itu agenda politik berbalut agama? Ya! Jelas ada agenda meraih kekuasaan dalam agenda-agenda yg digulirkan, bukan sekedar agenda ibadah mahdoh. Agenda 212 dan reuni mengandung agenda politik kekuasaan dan ideologi dapat dibaca dari halaman ini: Al Kaffah, khotimah dari bulletin tersebut adalah

Alhasil, sudah seharusnya umat Islam, termasuk para “Alumni 212”, memiliki visi dan misi politik Islam yang jelas dan tegas. Dengan begitu mereka bukan sekadar rajin melakukan aksi “kerumunan massa”. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana mereka terus melakukan gerakan politik Islam. Targetnya tentu bukan sekadar agar kaum Muslim bisa meraih kekuasaan. Yang lebih penting adalah agar Islam benar-benar berkuasa hingga negeri ini sungguh-sungguh bisa diatur dengan syariah Islam secara kâffah dalam institusi Khilafah ‘alâ minhâj an-nubuwwah. Tentu tak ada artinya kaum Muslim berhasil duduk di tampuk kekuasaan, sementara syariah Islam tetap dicampakkan, dan yang diterapkan serta tetap berkuasa adalah sistem sekular seperti sekarang ini. (SUMBER BULLETIN DAKWAH KAFFAH 018: umat, persatuan, dan politik, 8 Desember 2017

Lalu bagaimana posisi kita?

Jika pakai analogi, maka tim thank 212 beserta kader2 dan simpatisan yg sudah di liqo atau halaqoh mingguan atau dibina lewat sekolah/madrasah/pesantren mereka adalah para penikmat kue. Umat islam dan warga indonesia yg dibina dg kurikulum nasionalis atau pengajian salawatan adalah KUE SEDAP. Pemerintahan RI adalah pembuat kue sedap sekaligus penikmat kue. Maka saat ini posisi kita yg tidak tergabung dlm halaqoh atau liqo atau komunitas pengajian yg mendukung agenda 212 laksana kue yg sedang diperebutkan.

Apa yg akan terjadi masa depan?

Diantara para penikmat kue siapa yg akan dapat bagian lebih besar? Kue sedap yg akan disantap ternyata bukan benda tapi kue hidup yg punya rasa dan pikiran, kue-kue itu tidak bisa disantap para penikmat begitu saja, kue2 itu justeru yg akan memilih siapa penyantapnya. Masa depan sangat tergantung pada kue sedap, akan pilih siapa? Namun tim thank212 dg basis liqo/halaqoh dan pembinaan melalui sekolah/madrasah/pesantren boleh jadi meningkat tidak sekedar penikmat namun jadi pembuat kue juga. Jika ini terjadi akan ada dua pembuat kue yang bertarung masing2 pembuat akan menikmati kue masing-masing, perang tidak lagi pake ayat atau mayat tetapi perang memperebutkan lahan baik lahan produksi maupun lahan untuk pemasaran. Jika tim thank 212 sudah mampu menjadi pembuat kue, tentu butuh rumah produksi dan toko untuk memasarkan bukan? Jadi perlu lahan. Sementara selama ini semua lahan milik pemerintah, maka pilihannya membeli, bagaimana jika pemerintah tak jual lahan? Akankah Merebut andai pemerintah tak sediakan lahanya?

#refleksi bagi kita

Selayaknya kita berkaca pada Suriah, Dasmaskus kota peradaban yang indah luluh lantak karena perang antara muslim dengan muslim memperebutkan LAHAN DAN KEKUASAAN. Indonesia akan seperti itu jika berdiam diri terhadap syahwat kekuasaan. Betul, mereka dasarnya memperjuangkan islam bahkan syariat islam, namun apakah Nabi Muhammad saw mengajarkan pada kita KHIANAT TERHADAP JANJI? Pada tahun 1945 perwakilan umat islam yang diwakili oleh Ulama dari NU, MUHAMMADIYAH, dan MASYUMI mencapai kesepakatan bersama menata negeri ini dengan PANCASILA dan UUD45. Jika masih percaya pada para ulama dan menghargai mereka, selayaknya kita menghormati hasil musyawarah 1945, jika kita berteriak-teriak bela ulama, maka seyogyanya kita sadari tahun 1945 para ulama indonesia berjuang dan berdebat sengit sampai memperoleh mufakat tidak pakai Piagam Jakarta sebagai dasar negara dan UUD45 pun melepaskan beberapa kata islam. Ulama saat itu lebih menutamakan “persatuan indonesia daripada ambisi politik islam”. Apakah kita rela menghianati perjuangan mereka para ulama terdahulu? Ingat KOMITMEN TERHADAP JANJI ADALAH AKHLAK SEORANG MUSLIM.

Wallohualambisawab

Menggoyang rakyat, lalu menggoyang TNI

Saya warga negara bisa,

Tapi saya punya pengalaman hidup yang lumayan kompleks.  Ayah saya sebagai TNI yang ditugaskan menjalankan fungsi dwi fungsi ABRI dalam level tatanan pemerintahan terendah di Masyarakat.  Sejak kecil saya terbiasa melihat ayah saya meng”handle” para begundal dan preman, pun termasuk kerjasama dengan beberapa ulama NU dan PERSIS di wilayah untuk membina masyarakat di daerahnya.  Maka jangan heran jika, kriminalisasi yang asalnya sangat parah kemudian bisa berkurang, pun pengajian-pengajian menjadi subur dan tambah subur ketika seorang Kyai NU terkenal datang ke kampung.

Lalu saya masuk ke IPB berkenalan dg berbagai gerakan transnasional dari mulai ingin mendirikan kampung islam, negara islam di Indonesia sampai mendirikan khilafah.  Siapapun anak IPB langsung atau tak langsung pernah berhubungan dg gerakan transnasional.  Pada saat di gerakan ini kemudian saya mengenal “Talbun Nasroh” meminta pertolongan, salah satunya minta pertolongan pada ABRI.  Saya pernah duskusi dg alm. Bpk terkait hal ini, lalu bapak bilang, “awas bahaya, ngaji politik! ABRI punya mekanisme, tergantung pimpinan, tapi ABRI pernah punya riwayat kelam, ketika jaman PKI, TNI AU dianggap mem-back up PKI, TNI AD vs TNI AU diadu domba”

Gerakan transnasional ada dua jenis, jenis pertama justeru menjauhi ABRI.  Loe anak ABRI, loe gak akan punya tempat di pengajian ini, tujuan mereka adalah mendirikan NII, dengan cara apapun dengan masuk menjadi partai resmi atau lewat jalur tarbiyah, tapi mereka tetap satu dalam hal “anti ABRI dan POLRI”.   Jenis kedua, justeru memanfaatkan anak dan keluarga ABRI/POLRI untuk melindungi gerakan mereka.

Bagaimana cara mendekati ABRI/polri? Jika kontak secara langsung, yaitu gerakkan ini membuka dialog pada ABRI aktif, menyentuh perasaan kemuslimannya, selanjutnya mereka memasukkan isme2 gerakkan, sampai akhirnya anggota ABRI terutama para perwiranya menyetujui gerakkan mereka, dan berada dipihak mereka.  Ketika gesekkan antara gerakkan tersebut dengan pemerintah sah, maka mereka bisa berlindung pada para perwira ABRI/POLRI yg berada pada pihak mereka.

Namun, mendekati ABRI/POLRI tentu tak mudah.  Mengapa? ABRI/POLRI mempunyai tujuan yg jelas, mempertahankan NKRI, dan aktifitas gerakkan transnasional yg akan menyusup pada mereka, saya pikir dengan sejarah ABRI yang panjang mereka cukup waspada.  Sehingga mendekati dan menyusup serta minta tolong pada ABRI, bukan hal mudah.  Betul, gerakkan transnasional berhasil mendekati pensiunan ABRI/POLRI, namun para pensiunan ABRI/POLRI bila sudah tidak aktif, senjata dilucuti dan jaringan komunikasi dengan yg masih aktif pun terputus.  Jaringan komunikasi hanya terjadi dikalangan pensiunan saja.  Jadi, tidak banyak bantuan bisa diberikan pada gerakan transnasional ini.

Apakah gerakkan transnasional akan berhenti berusaha untuk melakukan tholabun nusroh? Jika pertolongan ini tidak bisa diraih, maka upaya berikutnya adalah melemahkan ABRI dan POLRI.  Lihatlah Panglima ABRI dan Kapolri dijadikan sasaran.  Pak Gatot Nurmantyo vs Jokowi, pada saat 212 muncul simpati luar biasa dari beberapa kalangan gerakkan pada Panglima ABRI, sampai kopiah putihnya dielu-elukan.  Harapannya apa? Panglima menjadi simpati dengan perjuangan mereka, siap menjadi pembela mereka melawan POLRI dan Presiden jika diperlukan. Lihatlah berbagai posting dilakukan untuk mencitrakan Panglima ABRI pada satu sisi tapi membunuh karakter Kapolri dan Presiden pada sisi lain.  Tujuannya? Sudah jelas agar mereka mendapatkan simpati dari ABRI,  ketika Kapolri dan Presiden memberangus mereka, mereka bisa pada ABRI, karena selama ini mereka baik pada ABRI.

Menggoyang ABRI adalah targetan selanjutnya setelah berhasil mengoyang rakyat.  Rakyat pro pada demo2 yg mereka inisiasi, nurut pada seruan untuk boikot produk atau boikot ikut dalam kegiatan keagamaan di istiqlal atau boikot nonton salah satu stasiun teve.  Kita sebagai rakyat biasa, yg bisa membaca fenomena yg terjadi, harapan saya cuma satu ABRI-POLRI-jajaran Kepresidenan tetap kompak dalam menata NKRI.  Revolusi hijau ataupun hitam dengan jalan kudeta, tentu menjadi agenda dari gerakkan transnasional.  Kami rakyatlah yang akan menjadi korban dari revolusi tersebut.  ABRI-POLRI-Presiden yg punya kebijakkan untuk meminimalisir efek dari revolusi atau bahkan menekan laju revolusi hitam.

Kita sebagai rakyat biasa dan wanita patut diingat, bila revolusi hijau atau hitam diberi ruang di indonesia, kemudian gerakkan tradnsnasional itu berhasil menduduki kekuasaan di Indonesia.  Hal paling buruk bisa terjafi pada para wanita adalah, “Siapkah kita, sebagai wanita dikurung di rumah? Tidak berhak keluar rumah kecuali dikawal mahrom? Bayangkan tak ada lagi wanita dengan bebas dan aman berjalan mengendarai motor ke kampus, ke pasar dan ke tempat kerja? Lalu memesan taksi online atau taksi jalanan untuk pergi ke mall sendirian?  Lelaki! Ya, lelaki dipandang sebagai srigala yang punya potensi memerkosa dan melecehkan para wanita, dan wanita adalah domba yang siap dterkam para srigala, sehingga domba harus selalu dikawal pengembala agar aman.  Begitulah pandangan terhadap wanita dan lelaki oleh gerakkan ini, lelaki dianggap srigala dan wanita adalah sekumpulan domba.  Siapkah kita para wanita? Mana yg lebih disukai? Kehidupan muslim dan muslimah Nusantara saat ini? Atau kehidupan muslim dan muslimah seperti pandangan gerakkan transnasional yg ingin membudaykan hubungan SRIGALA-Domba?” So, let’s think it!

Membidik Indonesia

“Mencari titik lemah dari pemerintahan sah.  Menjadikan titik lemah sebagai isue yg digoreng. Menyajikan hasil gorengan tersebut pada masyarakat.  Tujuannya agar masyarakat tidak percaya lagi pada pemerintah yg sah”

Seperti itulah gerakan politik yg berusaha mengganti presiden dan sistem suatu negara.  Jadi, kita tak perlu heran bila kebijakan pemerintah terus dibombardir isu.  Yg perlu kita lakukan adalah move on dg pembangunan.   Kita punya pengalaman buruk pada pemerintahan lalu, banyakannya kritikan membuat pemerintahan lalu menjadi stagnan.  Pemerintahan saat itu kayak salah langkah, mundur kena mau kena, akhirnya hanya sedikit melangkah dengan hati-hati sekali.  Tentu kita semua ingin maju, ingin #moveON dari kondisi stagnan tersebut.  Maka saya pada pemerintahan Jokowi, kita gak boleh seperti itu lagi, kalau kita punya cita2 INDONESIA MAJU, INDONESIA BAGUS, INDONESIA HEBAT! Jadi, yuk kita buat Indonesia Bagus, Maju, dan Hebat!

Upaya memutuskan “kepercayaan umat terhadap pemerintah yang sah” dilakukan dengan berbagai dalih yang islami, misalnya JIHAD SYIASI atau MUHASABAH BIL HUKAM.   Bahkan hadits yg mengatakan, “Muslim yg paling baik adalah yg bermuhasabah pada pemimpin, kemudian pemimpin itu memenggal lehernya”. Begitulah berbagai dalil terkait pentingnya menentang pemimpin sah yang disebut mereka sebagai “thogut atau kafir atau komprador” terus dikumandangkan sebagai legitimasi atas tindakan  mereka.  Di sisi lain, ayat2 terkait bughot (menghianati negara) dan hukuman bagi org yg melakukan bughot mereka tutupi.

Indonesia dibidik oleh gerakan transnasional untuk dijadikan targetan sebagai NEGARA ISLAM INDONESIA ataupun khilafah islamiyah, benarkah? Indonesia dengan potensi muslim terbesar hampir 200 juta dan kekayaan SDA yg memang merupakan wilayah yg empuk.  Semua gerakan sudah dimulai sejak tahun 1980-an.

Lalu darimana harus mulai? Mengambil pola keberhasilan kaum muda dalam kebangkitan Indonesia oleh mahasiswa STOVIA 1908, revolusi 1945 yg diperjuangkan salah satunya mahasiswa ITB yaitu SOEKARNO, dan gerakan 1966 sudah jelas digerakkan para aktifis kampus.  Berdasarkan pengalaman itu,  gerakan transnasional menjadikan kampus sebagai titik tumbuh paham-paham transnasional. Kampus berplat merah menjadi  kawah candradimuka tempat cuci otak  dan kaderisasi gerakan transnasional.  Kini kita saksikan tak ada satu pun kampus plat merah steril dari gerakan transnasional.  Di kampus-kampus plat merah inilah pengkaderan dilakukan…selama kurang lebih 30 tahunan.  Dan tidak hanya menyasar pada kampus plat merah, tapi juga mahasiswa indonesia di luar negeri.

Gerakan transnasional bekerja di kampus plat merah melalui unit kegiatan mahasiswa resmi dan responsi keagamaan, juga secara tidak resmi dengan membentuk pemgajian terbatas dengan nama liqo atau halaqoh di rumah kos, begitu pula mahasiswa indonesia di luar negeri, dikumpulkan dalam liqo/halaqoh yg terdiri dari 1-4 org dalam kelompok. Begitulah pola-pola gerakan transnasional sejak 30 tahun lamanya mahasiswa Indonesia di perguruan tinggi plat merah dan mahasiswa indonesia di luar negeri menjadi sasaran.

Bgmn hasilnya? Reformasi adalah salah satunya, ini titik mula memberikan kesempatan pada gerakkan ini untuk menjadi partai dan ormas dengan segala kebebasan  berhimpun dan berkumpul untuk mengeluarkan pendapatan.  Tanpa peduli bahwa pendapat tersebut bertentangan dg ideologi yang dianut bangsa. Semuanya akan berdalih, it’s just opinion.  Pemerintah tidak boleh memenjarakan orang yang hanya beropini.  Perangkat hukum didesain untuk sulit memenjarakan “gerakkan pemikiran”,  memenjarakan gerakan pemikiran berarti REZIM ORBA.  Kini ada sekitaran 8 jutaan org yg cukup loyal dg ide dan gerakan transnasional, bisa dilihat dari partai yg mereka pilih saat pilkada 2014. Itu blm semua, karena ada gerakan transnasional yg “golput”.  Ada 57 juta golputers pada pemilu 2014, anggap 10% dari golputers penyebabnya ideologi, jadi total selama 30 tahun  pengkaderan gerakan transnasional telah menghimpun sekitar 15 juta orang. Bayangkan 15 juta orang, tentu sudah bisa membuat sebuah kota bukan? Jumlah ini akan terus bertambah setiap tahunnya, seiring lembaga pendidikan dan pesantren yang mereka kelola, ditambah tak berbendungnya gerakan masif penyebaran ide2ini terutama di kampus plat merah, yg disokong oleh dosen-dosen yang juga bagian dari gerakan transnasional ini.

So, can you imagine this “ONCE UPON TIME,  INDONESIA WILL BE A STORY,  just a history, like Majapahit with nusantara……..? And Jokowi dengan pembangunannya akan jadi sejarah seperti Sejarah Syailendra dengan Borobudurnya,  Soekarno-Hatta dengan proklamasinya akan jadi sejarah terlupakan sebagaimana Gajah Mada dengan SUMPAH PALAPAnya.  INDONESIA DOES NOT EXIST! Apakah ini yang kita inginkan? So, let’s think about it!

NKRI Bersyariah = NII Reborn [?]

Zaman keterbukaan seperti sekarang ini kita jadi lebih mudah mengakses apapun, termasuk dengan pergerakan-pergerakan yang biasanya di bawah tanah, salah satunya NKRI bersyariah yang dideklarasikan 1 September 2012 pada ulang tahun FPI (baca di sini untuk jejak: NKRI BERSYARIAH.  Pasca deklarasi masif ide ini digulirkan seperti pada Khutbah Iedul Fitri dan melalui peluncuran buku (2013), juga terkait ide CAPRES NKRI BERSYARIAH).  Tampaknya gerakan-gerakan menggulirkan ide NKRI bersyariah sangat terencana, berikut ini beberapa berita terkait, dengan NKRI bersyariah (ini murni hasil googling berita):

1.Deklarasi NKRI Bersyariah, 1 September 2012.

1) Bertekad dan berjuang dengan mengorbankan harta dan nyawa untuk menghabisi seluruh kemaksiatan, korupsi, aliran sesat dan kezaliman dari bumi Indonesia. 2) Bertekad dan berjuang dengan mengorbankan harta dan nyawa untuk terwujudnya NKRI bersyariah, guna menggantikan NKRI bermaksiat. 3) Bertekad dan berjuang dengan mengorbankan harta dan nyawa untuk mengangkat Al Habib Muhammad Rizieq Syihab dan para pejuang Islam lainnya untuk menjadi presiden dan pejabat dalam kabinet NKRI Bersyariah.

2. Peluncuran dan bedah buku “Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah” Karya Habib Rizieq Syihab pada 10 Febuari 2013 KLIK DI SINI. Pernyataannya adalah sebagai berikut:

NKRI bersyariah harus direbut dengan jalan revolusi” Revolusi damai dengan jalan dakwah, akan tetapi bila ternyata usaha itu dihadapi dengan kekuatan fisik, terpaksa dilakukan dengan perlawanan.  Negara yang ada saat ini tidak perlu dihancurkan. Cukup penguasa yang tidak pro syariat Islam saja yang disingkirkan dan diganti dengan penguasa Islam.

3.  September 2013, terjadi penjaringan calon presiden NKRI bersyariah.  Jubir HTI menolak ketika dicalonkan (BACA DI SINI).  Ustdz Arifin Islam menawarkan Habib Rizieq sebagai Kandidat Presiden NKRI bersyariah (BACA DI SINI).

4. Pada tahun 2014, mulai memasuki jalur PILEG untuk menuju NKRI BERSYARIAH. Forum Caleg Syariah pun dideklarasikan (BACA DI SINI).

5. Pada tahun 2015, setelah sebagian besar Caleg Syariah gagal melenggang ke senayan, bukan berarti perjuangan berhenti.  Perang ide terus digulirkan dengan pemerintah yang sudah dipilih rakyat, salah satunya adalah membenturkan ISLAM NUSANTRA dengan NKRI Bersyariah (BACA DI SINI).

Umat Islam tinggal memilih : Ikut Habib Rizieq yang mengusung NKRI BERSYARIAH atau ikut Presiden Jokowi yang mengusung ISLAM NUSANTARA … ?

Pada 19 November tahun 2015, perjuangan dilajutkan dengan Muzakarah Alim Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim  telah berhasil membentuk Majelis Tinggi DKI Jakarta Bersyariah (BACA DI SINI).  PILGUB JAKARTA dianggap sebagai ENTRI POINT MENUJU NKRI BERSYARIAH.

6. Pada 17 Agustus 2016 dalam milad FPI ke-18, kembali menegaskan perjuangan NKRI BERSYARIAH (BACA DI SINI). Dan pada tahun 2016 juga ada dua aksi 411 dan 212 yang berhasil menarik simpati jutaan muslim di Indonesia, menjadikan Habib Rizieq sebagai MAN OF THE YEAR versi MUSTI (Muslim Tionghoa) pimpinan Jusuf HAMKA (Baca di sini).

7. Kriminalisasi terus mendera Habieb Rizieq dengan kasus-kasusnya lawasnya.  Sekjen FUI pun bereaksi dengan kasus yang menimpa MAN OF THE YEAR 2016.  Pada hari selasa 10 bulan 1 tahun 2017 Habib Rizieq Shihab dibaiat sebagai Imam Umat Islam (BACA DI SINI).

Kita tidak tahu ke depan mau jadi seperti apa. Itulah sebabnya kita baiat Habib Rizieq sebagaai imam umat Islam karena Habib Rizieq tidak tunduk dengan RRC dan Amerika. Kalau Habib Rizieq ditangkap, maka umat Islam siap untuk ditangkap. Kalau Habib Rizieq ditembak, kami siap ditembak, menyongsong kematian. Ingatlah tipu daya orang-orang kafir itu seperti sarang laba-laba. “Sesungguhnya rumah atau sarang paling lemah adalah sarang laba-laba.”

KH. Muhammad Al Khaththath

Apakah NKRI Bersyariah sebagai NEW NII atau NII Reborn? Patut diketahui bahwa Islam sebagai ideologi memerlukan tempat untuk tumbuh dan berkembang menegakkan hukum-hukum publik, sehingga adalah sebuah hal yang wajar jika ide-ide NII pun muncul kembali pada masa kini dan masa yang akan datang.  Namanya ‘ideologi’ akan tetap tumbuh dan berkembang serta diwariskan dari generasi ke generasi. Gerakan dan nama gerakan bahkan pola gerakan akan terus dimofikasi dan dimetamorfosis menyesuaikan kondisi kontekstual.  Ini adalah hal wajar bagi semua ideologi.

Berkaca pada sejarah…..

NII (Negara Islam Indonesia) tak perlu diceritakan kembali bagaimana diperjuangkan oleh Bapak Kartosuwiryo dan bagaimana penderitaan rakyat sipil atas peristiwa ini (SILAHKAN BACA DI SINI).

#REFLEKSI

Pertanyaan pada kita bersama, “Apakah kita pada saat ini merasa sudah FINISH berada dalam NKRI Pancasila dan UUD 45? atau kita merasa memang harus memperjuangkan NII REBORN?

Tak perlu cerita panjang lebar, yang jelas ketika Jepang membentuk BPUPKI (Dokuritsu Junbi Cosakai) yang kemudian diganti nama setelah merdeka menjadi PPKI pada barisan itu ada para tokoh islam atau para Kyai.  Seperti dari Masyumi (Kiai Haji Mas Mansoer), NU (Kiai Haji Masjkur, Haji Abdul Wahid Hasyim), dan Muhammadiyah (Ki Bagus Hadikusumo).  Tentu saja selain itu ada dari tokoh kedaerahan, china, dan nasional (silahkan LIHAT DI SINI!).  Berdasarkan rembug bersama para FOUNDING FATHER, maka NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dianggap sebagai dasar yang ideal bagi tumbuh kembangnya keragaman di Indonesia.  Jika membaca sejarah, bagaimana para tokoh islam mengesampingkan ego dan idealisme mereka dalam menegakkan syariat islam, demi kesatuan bangsa indonesia dari Sabang sampai Meurauke. “KEPENTINGAN BANGSA DAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA mereka letakkan di atas kepentingan dan ego kelompok”

Jika sebagaian pemikir menganggap apa yang dilakukan para FOUNDING FATHER sebagai jalan tengah, tidak pro islam, dan kekalahan muslim.  Maka kita bisa menengok sejarah beberapa upaya penegakkan NII telah gagal, alih-alih membuat rakyat KAGUM, sebaliknya malah membuat rakyat menjadi TAKUT.  Para pejuang NII yaitu DII/TII disebut oleh masyarakat di Jawa Barat sebagai Gerombolan, karena mereka suka bergerombol ketika merampok pangan yang ditanam  rakyat sipil.  Pun begitu dalam NKRI Bersyariah,  entry point pada PILGUB DKI menjadi ajang SARA, perang ayat bahkan sampai pada perang mayat. Akibatnya umat kehilangan sosok Islam yang RAHMATAN LIL ALAMIN.

#Note:

Islam adalah agama mulia, memperjuangkannya memerlukan kesabaran bukan PEMAKSAAN KEHENDAK.  Jika para pejuang islam tidak sabaran, maka kalian kalah sama orang-orang Yahudi.  Para Yahudi itu luar biasa sabar perjuangannya, sejak awal Islam berdiri di Madinah (Abad ke-7 M) tidak pernah lelah berjuang untuk menghancurkannya, sampai akhirnya hancur pada Abad 20, artinya perjuangan mereka lakukan selama 13 Abad tanpa henti terus mengeluarkan pemikiran-pemikiran dibalut dengan akademisi dan ekonomi ribawi yang kuat, sejengkal demi sejengkal PEMIKIRAN UMAT ISLAM dikuasi, sehingga ketika SULTANIYAH atau Khilafah  dihancurkan 1924 secara akademik dan ekonomi tiada satupun kerajaan atau negera bagian khilafah islamiyah merasa kehilangan.  Kecuali sebagian para ulama yang menangis karena mereka memahami bahwa tiada akan tegak islam tanpa khilafah/sultaniyah.

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, bagaimana aktifitas muslim dengan penerapan syariat islamnya baik oleh individu maupun komunitas seharusnya dapat memberikan TAULADAN, SOLUSI, dan KETENTRAMAN serta UKUWAH, bukan cari-cari masalah menggunakan ayat2 Alloh swt lantas meng-kafir-kan atau me-munafik-an orang yang tidak sependapat dari sisi pengambilan ayat2 tersebut, alih-alih berkontribusi positif pada tatanan masyarakat, malahan membuat masyarakat menjadi galau dan TERBELAH.

Wallohualam bi sawab.  Semoga bisa memberikan wawasan bagi yang masih “awam” dengan situasi dan kondisi yang terjadi, yg terkadang bingung harus berposisi dimana dan seperti apa?  SEMOGA BERMANFAAT.