インドネシアの 地方の 祭り

私はボゴルに住んでいる。おもしろい町ね!ボゴルに二つ祭りあります。CAP GOMEH (道祭り) と HALERAN文化祭りです。

旧正月に道祭りがあります。午後3時から時午1前まで道祭りをします。CAPGOMEHとき、Suryakencana道 (LawangSaketeng)が賑やかです。LiongBarong踊るがあります。面白い踊るですからいろいろ人が見ます。

町誕生日にHALERAN文化祭りがあります。Haleranは アートパフォーマンスと文化のパレード です。文化のパレードにいろいろ文化があります。Sudirman道からSEMPURフィールドまでいろいろ文化が歩きます。SEMPURフィールドにいろいろアートパフォーマンスがあります。

好きじゃないボゴル祭りがゴミです。ゴミの整理することが悪いです。皆人はゴミを持ち帰りません。ゴミステーシンがありません。

東京の上のパーク 2018年9月16日

日本の祭りにゴミの整理することがいいです。日本の祭りでゴミステーシンがあります。ゴミステーシンで皆人はゴミを捨てます。日本でゴミの整理することを勉強しましょう!

動物になったら

ハチになります。ハチが怖くても、優しいです。ハチがみだしたら,ハチがおこります。怒ることが怖くて痛いです。はちはアレルギー人を刺すと死にます。ハチが怖いね。ハチがみだしなかったら、大丈夫です。ハチが優しいね.

ハチが面白い動物です。はちみつを作り出します。はちみつが甘くて元気です。皆ははちみつが好きです。ハチががんばります14.毎日行って働いてはちみつを作り出します。はち疲れません。

ハチはちさい飛行機です。翼があります。スピードで飛ぶことが12-20 キロメーター. 遠い飛ぶことが32 キロメーターぐらいです。どこへも行きます21.飛行機の切符のを買いません. ハチはスラバヤへ行くことが39時間(7日間)かかります.23.ボゴルから都響まで 5.776キロメーターです24.はちは日本へ行ったら日間かかります。ハチ生の時間は32日間です。だからハチは飛行機を乗ってください。

シカ🦌:奈良とボゴル

奈良パークへ行った時、シカがたくさんいます。奈良のシカを見た時、ボゴルのシカを考える。奈良のシカとボゴルのシカは同じですか? これはシカの写真です。見てください!

(1)きれいな自然にシカがいます。

ボゴルのシカ奈良のシカ

(2)ボゴルのシカににんじんをあげます。奈良のシカにケキをあげます。

(3) 奈良のシカはホーンがいません。ボゴルのシカはホーンがいます。

(4) シカが可愛い動物です。人々はシカがとてもすきです。ボゴルに“Pagar”あります。奈良にPagarありません。

可愛シカでしょう?

私の花見

今年3月29日から4月3日まで私たちは京都へ行った。桜が満開でしょう。楽しかったです。私は花がとても好きです。花を見て、花の写真を取ることが好きです。花がきれいでしょう。

日本で私は桜を見た時、写真を取った。私の携帯にいろいろ桜がたくさんあります。たとえば京都の桜と奈良の桜と富谷図の桜とお大阪の桜です。

桜のインフォを探した。よかった!私の写真に四つ桜があります。

1。ソメイヨシノ「Somei Yoshino, bunga sakura umumnya yang dikenal luas」。色の満開桜がピンクから白いまで。花びらは5つがいます。

2。シダレザクラ「Shidarezakura, bunga sakura menangis」色の花はピンクです。花びらは5つがいます。花が垂れ下がる。

3。ヤエザクラ「yaezakura, sakura berkelopak ganda」色の桜はピンクです。花びらは5の倍数:10、15、20 … 50。

4。山桜「yamazakura, bunga sakura liar]. 色の桜は白いです。花と葉っぱがあります。

楽しかったね!今年桜を見た。

Kyouiku Mama: Prinsip hidup wanita Jepang

—Prof. Dr. Daoed Joesoep—mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Kompas Sabtu, 7 Juli 2007

Peran Ibu
Pada tahun 1996, pendidik Amerika dari Charlottesville Virginia, Tony Dickensheets, berkesempatan beberapa bulan menetap di Jepang. Selama itu, beliau berpindah-pindah tinggal di beberapa keluarga karyawan. Berdasarkan pengamatannya, dia berkesimpulan, unsur kunci dari economic miracle Negri Sakura ini ternyata telah diabaikan atau paling sedikit amat dianggap enteng, yaitu peran kyouiku mama atau education mama.
Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi Jepang yang luar biasa sejak tahun 1960, bukanlah hasil kebijaksanaan pemerintah melalui pekerja yang bersedia bekerja 16 jam per hari. Sementara para suami bekerja, para istri bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Dalam kapasitas sebagai ibu inilah para istri membaktikan hidupnya demi kepastian keturunan mampu memasuki sekolah-sekolah bermutu.
Maka dibalik karyawan Jepang yang beretika kerja terpuji itu ada perempuan umumnya, kyouiku mama atau education mama khususnya. Mereka inilah pilar-pilar kukuh yang menyangga para karyawan itu. Merekalah yang membantu perkembangan ekonomi yang luar biasa dari bangsanya sesudah perang dunia. Kerja dan pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat dalam jalannya pendidikan nasional dan stabilitas sosial, yaitu dua hal yang sangat krusial bagi keberhasilan ekonomi sesuatu bangsa.
Jadi, perempuan Jepang ternyata berperan positif dalam membina dan mempertahankan kekukuhan fondasi pendidikan dan sosial yang begitu vital bagi kinerja kebangkitan ekonomi bangsanya.Ketika saya sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan diundang untuk meninjau berbagai lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi negeri ini, saya kagum melihat kebersihan ruang laboratorium di sekolah umum dan bengkel praktik di sekolah kejuruan teknik.
Semua murid membuka sepatu sebelum memasuki ruangan dan menggantikannya dengan sandal jepit yang sudah tersedia di rak dekat pintu, jadi lantai tetap bersih bagai kamar tidur. Ketika saya tanyakan kepada guru yang mengajar di situ bagaimana cara mendisiplinkan murid hingga bisa tertib, dia menjawab, “yang mulia, saya hampir tidak berbuat apa-apa dalam hal ini. Ibu-ibu merekalah yang mengajarkan anak-anak untuk berbuat begitu.”
Saya teringat sebuah kebiasaan di rumah tradisional Jepang, alih-alih menyapu debu di lantai, mereka masuk rumah tanpa bersepatu/bersandal agar debu tidak masuk rumah. Bagi mereka, kebersihan adalah suatu kebajikan.
Di toko buku, saya melihat seorang ibu sedang memilih-milih buku untuk anaknya, seorang murid SD. Ketika saya sapa, dia menyadari saya orang asing, dia tegak kaku dengan senyum malu-malu. Ibunya datan dan mendekati dan menekan kepala anaknya agar membungkuk berkali-kali, sebagaimana layaknya orang Jepang memberi hormat, sambil mengucapkan sesuatu yang lalu ditiru oleh anaknya. Setelah mengetahui saya seorang menteri pendidikan dan kebudayaan, entah atas bisikan siapa, banyak anak menghampiri saya, antri, memberi hormat dengan cara nyaris merukuk, meminta saya menandatangani buku yang baru mereka beli.

Perempuan dan Pendidikan
Lebih daripada di negeri-negeri lain, kelihatannya sistem pendidikan dan kebudayaan Jepang mengandalkan sepenuhnya peran perempuan dalam membesarkan anak. Karena itu dipegang teguh kebijaksanaan ryousai kentro (istri yang baik dan ibu yang arif), yang menetapkan posisi perempuan selaku manager urusan rumah tangga dan perawat anak-anak bangsa. Sejak dulu filosofi ini merupakan bagian dari mindset Jepang dan menjadi kunci pendidikan dari generasi ke generasi. Pada paruh ke dua abad 20 peran kerumahtanggaan perempuan Jepang kian dimantapkan selaku kyouiku mama atau education mama. Menurut Tony Dickensheets hal ini merupaka “a purely Japanese phenomenon”.
Yang memantapkan itu adalah para ibu Jepang sendiri. Mereka menilai diri sendiri dan karena itu, dinilai oleh masyarakat berdasarkan keberhasilan anak-anaknya baik sebagai warga, pemimpin, maupun pekerja. Banyak perempuan Jepang menganggap anak sebagai ikigai mereka, rasionale esensial dari hidup mereka. Setelah menempuh sekolah menengah, kebanyakan perempuan Jepang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Jika di Barat ada anggapan perempuan berpendidikan akademis yang melulu tinggal di rumah membesarkan anak sebagai wasting her talent, di Jepang orang percaya, seorang ibu seharusnya berpendidikan baik dan berpengetahuan cukup untuk bisa memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya. Kalaupun ada ibu yang mencari nafkah, biasanya bekerja part time agar bisa berada di rumah saat anak-anaknya pulang sekolah. Tidak hanya untuk memberi makan, tetapi lebih-lebih membantu mereka menyelesaikan PR atau menemani mengikuti pelajaran privat demi menyempurnakan pendidikannya.

Membantu Ekonomi Bangsa
Perempuan Jepang membantu kemajuan ekonomi bangsa dengan dua cara, yaitu melalui proses akademis dan proses sosialisasi. Bagi orang Jepang, aspek sosialisasi pendidikan sama pentingnya dengan aspek akademis, sebab hal itu membiasakan anak-anak menghayati nilai-nilai yang terus membina konformitas sikap dan perilaku yang menjamin stabilitas sosial.
Mengingat kyouiku mama mampu membina kehidupan keluarga yang relatif stabil, sekolah tidak perlu terlalu berkonsentrasi pada masalah pendisiplinan. Lalu, para guru punya ketenangan dan waktu yang cukup untuk membelajarkan pengetahuan, keterampilan, kesahajaan, pengorbanan, kerja sama, tradisi dan lain-lain atribut dari sistem nilai Jepang.
Menurut Tony Dickensheets, sejak dini pelajar Jepang menghabiskan lebih banyak waktu untuk kegiatan sekolah daripada pelajar-pelajar Amerika. Lama rata-rata tahun sekolah anak Jepang adalah 243 hari, sedangkan anak Amerika 178 hari. Selain menambah kira-kira dua bulan dalam setahun untuk sekolah, sebagian besar waktu libur anak-anak Jepang diisi dengan kegiatan bersama teman sekelas dan guru. Bila pekerja/karyawan berdedikasi pada perusahaan, anak-anak berdedikasi pada sekolah. Mengingat tujuan sekolah meliputi persiapan untuk hidup bekerja, anak didik Jepang bisa disebut pekerja/karyawan yang sedang dalam proses training.
Walaupun pemerintah yang menetapkan tujuan sistem pendidikan Jepang, keberhasilannya ditentukan oleh orang-orang yang merasa terpanggil untuk menangani pendidikan. Jika bukan guru, sebagian terbesar dari mereka ini, paling sedikit tingkat pendidikan dasar, adalah perempuan, ibu-ibu Jepang, kyouiku mama. Mereka inilah yang membentuk masa depan Jepang, melalui jasanya dalam pendidikan anaknya,
Maka sungguh menarik saat di tengah gempita perayaan keberhasilan gadis Jepang menjadi Miss Universe 2007 di Meksiko, ada berita ibu-ibu Jepang mencela peristiwa itu sebagai penghargaan terhadap kesekian perempuan belaka, bukan penghormatan terhadap kelembutan dan prestasi keperempuanan Jepang.
Celaan itu pasti merupakan cetusan nurani kyouiku mama. Berita ini bisa dianggap kecil karena segera menghilang. Namun ditengah pekatnya kegelapan, sekecil apapun cahaya nurani tetap bermakna besar.

Chihayafuru – Musubi (ちはやふるー結び) #JFF2018 #Bandung

Pembukaan JAPAN FILM FESTIVAL di Bandung menampilkan Film Chihayafuru, filmnya berkisah tentang Chihaya seorang siswa SMA kelas 3 yg sejak kecil terobsesi bermain Karuta.

Karuta? Diadopsi dari kata Carta atau Card. Ya, film ini mengenalkan budaya Karuta pada kita penontonnya. Saya sendiri baru tahu tentang karuta ini. (Klik Karuta jika ingin tahu ttg karuta ini).

Dalam memelihara budaya, nah Jepang memang jagonya. Dalam permainan karuta para pemain mencocokan antara kartu dg puisi yg dibacakan. Puisi dikumandangkan, kemudian mereka harus memilih kartu yg cocok dg isi puisi itu. Kurang lebih begitu. Indera mendengar dan melihat serta kecepatan pikiran mengolahnya itulah yg diperlihatkan pada permainan ini.

Konon permainan ini sudah ada sejak zaman Heian sekitar 794-1185 (abad ke-8) bayangkan? Tradisi ini sudah sangat tua, dan tetap terpelihara sampai kini, masuk abad 21. Keluarga Jepang biasa memainkannya pada perayaan tahun baru. Kartu puisi penuh huruf kanji, tapi kartu yg dimainkan hurufnya hiragana jadi anak2 kecil pun bisa main. Bayangkan permainan ini sudah 13 abad atau 1.300 tahun? Puisi yg sama? Pantas saja para pemain dalam Chihayafuru berkata “membuat puisi yg bisa bertahan sampai 1.000 tahun”

Filmnya? Jika bicara tentang “alur” atau istilah kita “keramean dari filmnya” …..ini ya film anak2 SMA sebuah klub ekstrakurikuler yg bekerja keras masuk ke kompetensi nasional ditambah lagi ancaman tutupnya klub karena peminatnya makin sedikit. Halangan memenangkan kompetensi nasional muncul juga karena urusan HATI “cemburu” jika melihat alur saja.

Namun film ini sesungguhnya memperkenalkan BUDAYA KARUTA budaya yg usianya sudah 1.000 tahun. Terus terang saya takjub, permainan ini bisa mempertahankan budaya puisi Jepang. Tadi saya agak khawatir ini nyambung gak ya tetiba nonton part-3. Ternyata nyambung juga, karena saya lebih tertarik pada budaya yg ada di dalamnya, dibandingkan alurnya. Saya menganggumi “kok bisa ya kepikiran membuat permainan ini sehingga puisi bisa bertahan lama sampai 1.000 tahunan.

Jadi ingat, sebagai org sunda buhun kita punya banyak pupuh yg syarat dg banyak makna. Dan budaya pupuh ini makin meluntur… salah satu pupuh favorit waktu saya kecil adalah….

Budak leutik bisa ngapung
Babaku ngapungna peuting
Ngalayang kakalayangan
Neangan nu amis-amis
Sarupaning bungbuahan
Naon bae nu kapanggih

Ari beurang ngagarantung
Eunteup dina tangkal kai
Disada kokoreakan
Cing hempek ku hidep pikir
Nu kitu naon ngaranna
Lolong lamun teu kapanggih

Namun sayang pupuh kesayangan ini sekarang bisa dirusak oleh situasi PILPRES! Karena jawaban pupuh itu adalah ………

SEBAGAI CATATAN AKHIR SAYA BENCI HIRUK PIKUK PILPRES SAAT INI, dimana kaum gerakan politik ideologi islam transnasional bersatu dengan gerakan2 NEO NII, mengobrak-abrik hati dan pikiran generasi muda Indonesia sehingga generasi muda terbius dalam gerakkan #gantiPresiden #gantiSistem #antiPancasila yg pada akhirnya destruktif terhadap pembangunan Indonesia. Generasi muda yg terbius aliran ini #gahar dan #emoh terhadap budaya Bangsa sendiri. Maka tepatlah ungkapan dari Chelsa Islan “SAYA BERPESAN PADA GENERASI MUDA UNTUK TETAP MERAWAT BUDAYA INDONESIA DAN MENJAGA DNA INDONESIA YG MENGHARGAI KEBINEKAAN”

Jadi, sederhana Indonesia sudah merdeka, mari berbahagia dg mengisi kemerdekaan dan merawatnya, tunjukkan prestasi. Mari berbahagia dan hidup secara damai di Indonesia tercinta.

Pengenalan Lapangan Persekolah di Jepang #PLP

plpjp

Pada tulisan sebelumnya saya mengulas tentang hasil observasi PLP di Jepang (Klik INI). Tulisan hari ini saya membahas hasil pertanyaan-pertanyaan tentang PLP untuk memperdalam pola PLP di Jepang. Pertanyaan-pertanyaan dijawab oleh Prof. Negishi dari Toyama University.

SKS PLP di Fakultas Human Develeopment (Fakultas Keguruan) di Toyama University berjumlah 4 SKS dan 1 SKS untuk Prior & Subsequent Guidance.

1 SKS Prior & Subsequent Guidence merupakan pembekalan yang diberikan oleh Universitas dan sekolah tempat PLP.  Pembekalan  ini bisa dikatakan sebagai PLP I,  PLP I diberikan sebulan sebelum PLP II (Praktek Mengajar di Sekolah).  Pelatihan terdiri dari:

1. Pembekalan di Universitas oleh para dosen, materinya adalah sebagai berikut:

Waktu (menit) Materi
90 Pembimbingan peserta didik
90 Etika Profesi Guru
90 Praktek mengajar

2.  Pembekalan di Sekolah oleh para guru, materinya adalah sebagai berikut:

Waktu (menit) Materi
90 Praktek mengajar
90 Pembimbingan peserta didik
90 Pendidikan moral

Pendidikan moral di Jepang diberikan selama 1 jam pembelajaran (1 jam pembelajaran di Jepang 50 menit).  Semua guru harus menguasai pendidikan moral, karena tidak ada guru khusus pendidikan moral.  Pendidikan moral harus bisa diajarkan oleh semua guru, termasuk guru Sains, IPS, Olah raga, dll.

Pembekalan dilakukan selama bulan Juli (7 月)Adapun PLP II (Praktik Mengajar di Sekolah) sebanyak 4 SKS, dilakukan dari bulan Agustus sampai bulan Oktober dilakukan di sekolah. Dengan jadwal sebagai berikut:

Bulan Kegiatan
Agustus Observasi mengajar 3 hari.
Agustus Pembimbingan pre dan pos praktik mengajar
29 agustus-19 september Praktik mengajar di kelas secara kolaboratif, satu kelompok terdiri dari 4 orang.
Bulan 10 Bimbingan pasca praktik mengjar

Berdasarkan jadwal tampak bahwa kesempatan para mahasiswa mengajar ini diberikan dalam jumlah yang terbatas, hanya dua minggu.  Sebagian besar lebih banyak para guru melakukan bimbingan baik sebelum maupun sesudah praktik mengajar.  PLP II di Jepang, berorientasi “Bagaimana Guru Senior, memberikan pengalaman mengajar pada para calon guru.”  Hal ini seiring dengan tujuan dari Pendidikan Keguruan di Jepang sendiri yaitu: menghasilkan guru yang terlatih dengan baik dan mengembangkan model pengajaran untuk sekolah publik.  Selama dua bulan di sekolah, walaupun praktik mengajarnya hanya diberikan kesempatan 10 hari saja, namun kehadiran mahasiswa di sekolah tiap hari kerja dari jam 8.00 sampai jam 18.00 sebagaimana jam kerja guru di Jepang.

Hal yang menarik berikutnya adalah jawaban dari pertanyaan kami, “Sebelum melakukan praktik mengajar di sekolah apa saja yang dilakukan mahasiswa kependidikan di Jepang?

Selain sudah menamatkan  serangkaian matakuliah kependidikan seperti di Indonesia umumnya, bagi yang mengikuti praktik mengajar juga diwajibkan sudah mengikuti kegiatan volunteer di sekolah negeri.  Apa itu kegiatan voluenteer? Kegiatan voluenteer adalah kegiatan membantu guru-guru di sekolah (mereka tidak mengajar, tapi jadi semacam shadow teacher atau supporting teacher). Mereka membantu para guru menyiapkan media pembelajaran, membantu para siswa tertentu yang perlu bimbingan khusus, membantu kegiatan saat pembelajaran proyek atau eksperimen atau field trip, dll.

Begitulah PLP di Jepang.

Bagaimana Praktek Pengenalan Lapangan Persekolah di Jepang? #edutraveling

9-17 September 2018 kami melakukan perjalan dalam rangka The Project for Establishing the Subject ‘Environment’ in Junior High Schools and Disseminating Environmental Education yang disponsori oleh JICA pathership dengan IEPF (Indonesian Education Promoting Foundation).  Apa yang saya paparkan di bawah ini adalah side effect dari kunjungan (Kata orang islam mah BERKAH BANGET ini mah).  Pada saat kami kunjungan ke sekolah pembelajaran yang dilakukan bertepatan dengan keberadaan mahasiswa on job training di sekolah tersebut. Berikut hal-hal yang bisa kita ambil, yang sangat bermanfaat bagi perbaikan matakuliah Pengenalan Praktek Lapangan Persekolahan di universitas kita.

Di Jepang, setiap lulusan perguruan tinggi dari jurusan manapun bisa menjadi guru dengan syarat mengikuti program lisensi guru selama satu tahun.  Universitas tertentu juga mempunyai fakultas keguruan yang bertujuan mencetak sarjana pendidikan.  Salah satu universitas tersebut adalah universitas Toyama.  Universitas Toyama mempunyai Fakultas Ilmu Pendidikan tempat mencetak calon guru nama fakultasnya Fakultas Human Development.

Tentang  mata kuliah on job training(Pengenalan Lapangan Persekolahan dalam kurikulum Indonesia) di Jepang:

Menurut penuturan Prof. Negishi Sensei:  Pada semester 5 dan 7 atau tahun ke-3 dan ke-4 mahasiswa melakukan on job training (disingkat OJT) selama 3 minggu dengan 10 kali penampilan di kelas.   Sebelum melakukan on job training mahasiswa mendapatkan pelatihan membuat RPP, cara mengajar, membuat media, dan evaluasi.  Para mahasiswa praktik mengajar di sekolah (OJT) juga mengikuti semua aktifitas yang ada di sekolah misalnya osouji (waktu bersih-bersih sekolah), makan bersama anak-anak, pokoknya kegiatan yang dilaksanakan di sekolah selama tiga minggu waktu OJT diikuti semua oleh mahasiswa keguruan ini.

Observasi OJT di Toyama Chougakko dan Shougakko

Pada tanggal 11-12 September 2018 saya berkesempatan melakukan observasi aktifitas mahasiswa on job trainingdi SD dan SMP Fuzoku sebuah sekolah afiliasi dengan universitas Toyama.  Di sekolah ini ada 70 mahasiswa OJT dari berbagai jurusan seperti PGSD, Sains SMP (Rika), IPS SMP (Sakai), bahasa, musik dan seni, dan lain sebagainya. Kami berkesempatan menyaksikan tampilan dari mahasiswa OTJ bidang studi rika dan sakai di SMP.  Kami menyaksikan tiga pembelajaran terkait sains dan satu pembelajaran terkait IPS.  Di Jepang satu jam pembelajaran berlangsung selama 50 menit.  Pengamatan kali ini juga berlangsung selama 50 menit.

1) Pengamatan pada pembelajaran sains: 

Pembelajaran dilakukan di laboratorium,  Siswa sudah duduk secara berkelompok di meja masing-masing, satu kelompok terdiri dari 4 orang dengan proporsi gender yang seimbang yaitu dua lelaki dan dua perempuan. Ada 9 kelompok siswa SMP di laboratorium (36 orang siswa).  Ada empat orang gakusai daigaku (mahasiswa OJT)), satu orang berperan sebagai guru model dan tiga orang berperan sebagai observer juga membantu secara teknis pada saat pembelajaran.  Guru sains hadir di kelas tersebut melakukan observasi jalannya OJT

Pada sesi ini mahasiswa OJT menjelaskan prosedur yang akan dilakukan di laboratorium, dan membimbing siswa melakukan praktikum.  Praktikum di kelas sains yang kami amati adalah:

  • Kelompok 1 mahasiswa OJT terdiri dari 4 orang: Praktikum memprediksi zat berdasarkan sifatnya. Mahasiswa OJT menyediakan empat bubuk yaitu gula, garam, tepung kentang, dan satu bubuk X [rahasia].  Keempat bubuk tersebut secara acak diberi huruf A, B, C, D.  Peserta didik memprediksi bubuk apa yang ada dalam A, B, C, dan D berdasarkan sifat-sifatnya ketika diberi empat perlakukan yaitu dipanasi, …..,……,…… (pas pengamatan itu kurang terperhatikan perlakuannya apa saja maaf).
  • Kelompok 2 Mahasiswa OJT terdiri dari 4 orang: Praktikum mengamati karakteristik organ manusia. Mahasiswa OJT membawa organ dari babi yang strukturnya mirip manusia.  Dengan cara demonstrasi mahasiswa memperlihatkan organ jantung dan paru-paru yang dipompa sampai mengelembung.  Selanjutnya organ lainnya seperti hati, ginjal, tenggorokan, jantung diberikan kepada setiap kelompok untuk melakukan pengamatan.
  • Kelompok 3 OJT terdiri dari 3 orang: Praktikum mengamati reaksi enzim gelatin pada buah kiwi.Buah kiwi dipisahkan menjadi tiga bagian: pusat, lingkaran tengah, dan lingkaran luar.

Gambar 1.  Pembelajaran sains oleh mahasiswa on job training satu mahasiswa berperan sebagai guru model.  Mahasiswa lainnya membantu teknis ketika pengajaran dilakukan. [Dokumentasi foto dari IEPF2018 Taken by Yanti Herlanti]

2) Pengamatan pembelajaran sakai (IPS):

Kelompok 1 OJT Sakai terdiri dari 4 orang: Topik yang dibahas adalah tentang hukum pidana.  Mahasiswa OJT mengambil topik popular untuk dibahas di kelas yaitu “Pro Kontra Terhadap Hukuman Mati bagi Kasus Terorisme di Jepang”. Kasus ini sedang menjadi pembahasan di Jepang,  sekelompok pelaku terorisme pada 13 tahun lalu, pengadilan memutuskan beberapa waktu lalu hukuman mati bagi para pelaku.  Mahasiswa OJT memberikan potongan berita korannya.  Selanjutnya menampilkan video beberapa narasumber yang pro maupun kontra terhadap hukuman mati.  Peserta didik juga diberikan resume tentang hukuman mati di Jepang oleh mahasiswa OJT.  Peserta didik secara individu selanjutnya diminta untuk menentukan posisi pro atau kontra beserta alasannya.  Alasannya harus didukung dengan sumber-sumber referensi yang ada.  Walhasil para siswa merujuk beberapa referensi selain rujukan para ahli yang tampil di video mereka pun membuka buku enslikopedia IPS yang membahas tentang hukuman mati tersebut.  Sebagai catatan buku enslikopedia ini dimiliki oleh para siswa sebagai buku referensi tambahan selain buku teks, maka saat mereka ada pelajaran IPS, buku enslikopedia ini selalu menemani.  Buku enslikopedia ini diperbaharui setiap lima tahun sekali. Pembelajaran selama 50 menit berakhir dengan menuangkan pendapat tiap individu, menurut pendapat mahasiswa OJT, mereka akan melanjukan dengan diskusi pada pertemuan selanjutnya.

Gambar 2.  Pembelajaran IPS oleh mahasiswa on job training dengan topik isu sosiosaintifik. [Dokumentasi foto dari IEPF2018 Taken by Yanti Herlanti]

 3) REFLEKSI dengan guru pamong

Setelah mahasiswa OJT melaksanakan pengajaran di kelas, guru pamong berdiskusi dengan mereka berempat.  Pada saat itu kami mengikuti sesi refleksi yang berlangsung dari jam 10.51 – 11.31 (kurang lebih 40 menit waktu yang diperlukan untuk refleksi).  Pada refleksi ini guru pamong mengawali dengan menanyakan perasaan guru model dan refleksi kekurangan saat mengajar tadi, selanjutnya menanyakan hal yang sama dari teman-teman yang mengobservasinya.  Guru pamong kemudian memaparkan catatan pengamatannya selama observasi guru model, dan juga menyampaikan tips-tips diantara tips itu adalah “Jangan jadi BAPER pada saat pembelajaran ditonton banyak orang, karena pada kondisi nyata itu akan terjadi setiap saat”  [Maklum para mahasiswa OJT cukup shock ketika mengajar diperhatikan kami, ini suatu yang alamiah tentu saja].

Image

Gambar 3.  Guru Pamong dan Mahasiswa On Job Training sedang melakukan refleksi [Foto IEPF2018 taken by Yanti Herlanti]

Beberapa pertanyaan

Beberapa pertanyaan kami sampaikan, karena hal ini tidak kita lihat saat observasi.  Misalnya bagaimana para mahasiswa OJT ini mempersiapkan lesson plan.  Jawabannya mereka sendiri yang mempersiapkan lesson plan –nya secara kelompok. Mereka berdiskusi dengan tuntutan silabus yang ada bagaimana merepresentasikannya, topik apa yang dipilih, bagaimana mengajarkannya dan lain-lain.  Mahasiswa OJT kemudian mengkonsultasikanlesson plandengan guru pamong.  Guru pamong memberikan masukan-masukan pada lesson planyang dibuat. Katanya satu lesson planbisa didiskusikan 3-5 kali dengan guru pamongnya.  Lalu bagaimana pembagian pengajaran?  Satu kelompok sebanyak empat orang tersebut berbagi peran pada saat pengajaran.  Mereka memilih secara bergiliran siapa yang akan menjadi guru model.  Saya membayangkan jika satu kelompok 10 kali tampil, maka satu orang akan tampil mengajar 2-3 saja.

Berdasarkan wawancara, penjelasan Prof. Negishi, dan observasi pelaksanaan OJT di Toyama Shougakko, maka dapat disimpulkan POLA yang diberlakukan oleh Universitas Toyama dalam matakuliah OJT (Indonesia PLP II) adalah “LESSON STUDY”.

  • PLAN: Sekelompok mahasiswa (4 orang satu kelompok) membuat satu RPP (lesson plan) bersama-sama.
  • DO : Sekelompok mahasiswa memilih satu orang yang akan tampil menjadi di depan kelas.  Sisa mahasiswa lainnya menjadi observer.
  • SEE: Mahasiswa lainnya sebagai observer berbekal lesson plan mengamati aktifitas peserta didik dan juga membantu secara teknis hal-hal yang diperlukan seperti bimbingan kelompok saat praktikum.  Guru pamong pun mengamati pengajaran dan pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa OJT.
  • REFLEKSI: Pada akhir penampilan, guru pamong dan sekelompok mahasiswa OJT melakukan refleksi terhadap kegiatan pengajaran di kelas saat itu.

Inspirasi bagi Indonesia:

Semua Fakultas Pendidikan di Indonesia pada saat ini sedang melakukan reformasi kurikulum terutama pada matakuliah On Job Trainingatau di Indonesia dikenal dengan matakuliah Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). Kementerian Pendidikan Tinggi Indonesia sudah memberikan panduan tentang PLP I dan PLP II bagi strata S1 (level 6). Namun secara teknis bagaimana membedakan dengan On Job Traning yang dilakukan pada Program Sertifikasi Profesi Guru (level 7).   PLP II bagi masiswa S1 (level 6) dibeberapa universitas, termasuk universitas saya masih sama dengan Praktek Mengajar mahasiswa program profesi (level 7) yaitu secara invidual mahasiswa mengajar di kelas sebanyak 10-12 kali pertemuan.  [Bandingkan dengan pengalaman saya di Jepang, setiap individu hanya mengajar 2-3 saja dengan pola lesson study.  Beban mahasiswa S1 Indonesia tentu menjadi lebih berat bukan? Padahal mereka belum masuk pada profesi guru].  Berdasarkan pengalaman ini, teknik PLP II di Indonesia dapat mengadopsi pola lesson studi di Jepang ini.  Namun untuk sampai pada pola di Jepang, kita punya pekerjaan rumah yang penting baik bagi perguruan tinggi maupun bagi dinas pendidikan setempat.

  • Perguruan tinggi harus memetakan guru-guru yang berkualitas dari sisi keterampilan pedagogi, personal, sosial, dan konten. Pemetaan para guru yang punya kemampuan professional dalam membimbing para mahasiswa PLP dengan sepenuh hati.
  • Sekolah dan Dinas Pendidikan Daerah harus mampu mempersiapkan guru-guru super dengan kemampuan mumpuni dalam pedagogi, personal, sosial, dan konten, serta mempunyai integritas tinggi membantu para juniornya melakukan akselerasi kemampuan mengajar.

Bogor, 21 September 2018

Hidup bebas atau hidup teratur?

Saya sangat memegang teguh filosofi hidup dari ushul fiqh, “Setiap perbuatan terikat kepada hukum syara“.   Inilah yang saya ajarkan pada anak-anak saya, bagaimana EGO mereka berkompromi dengan peraturan baik agama, negara, sekolah, etika, dan adat.  Tidak ada istilah dalam keluarga saya “SEMAU GUE” karena keinginan kita dibatasi dengan keinginan orang lain dan hukum. Tidak ada istilah “BREAKING THE LAW” atau aturan dibuat untuk dilanggar, tapi aturan dibuat untuk kemaslahatan bersama.  Tidak bisa keukeuh mengatakan “HARUSNYA ITU BEGINI” yang ada adalah bagaimana “WIN WIN SOLUTION“.  Jangan pernah keinginan dan rasa idealisme kita menabrak aturan-aturan yang ada.

Sebagai pendidik inilah yang bisa kita lakukan, yaitu mengajarkan betapa pentingnya sebuah aturan yang tentu saja harus dibarengi dengan rasa kemanusiaan.  Hidup tidak EGOIS, namun penuh harmoni sehingga mencapai kedamaian.  Berikut ini adalah petikan cerita moral yang biasa diajarkan pada anak-anak di sekolah.   Mari kita simak, dan pikirkan!

KOTA BEBAS I

bebas.png

Di sebuah negeri terdapat kota yang dinamakan Kota Bebas.   Di kota ini tidak ada “aturan”, siapapun dapat berbuat sesukanya. Mendengar hal tersebut, orang-orang dari kota lain berbondong-bondong pindah ke kota tersebut sehingga kota pun menjadi padat. Pada awalnya semua orang merasa senang karena mereka dapat berbuat seenaknya. Tetapi seiring dengan berjalannyawaktu, berbagai masalah pun terjadi.

Pada suatu ketika….

Dua anak laki-laki bertengkar di pinggir kali.   “Hey, itu adalah ikan yang aku pancing, jangan kamu bawa seenakmu,” kata anak lelaki yang satu. “Gak, di kota ini kita bisa lakukan apapun sesuka kita, kita juga bisa mengambil ikan yang dipancing orang lain,” kata yang anak lelaki satunya lagi.

Di terminal bus juga orang-orang banyak yang bertengkar. Ketika bus yang ditunggu datang, mereka berebut naik bus, terjadilah keributan….“Saya yang menunggu duluan, harusnya saya yang duluan naik, ngantri dong!” “Aduh, jangan dorong-dorong dari belakang dong bahaya! kan masuknya hanya bisa satu-satu,” “Minggir-minggir, aku capek habis kerja, aku pengen cepat naik dan duduk,” Di kota ini kan gak ada aturan, siapapun dapat melakukan apapun, jangan protes! saya naik duluan!”

Di depan rumah juga dua orang ibu-ibu bertengkar satu sama lain. “Tunggu, ibu jangan buang sampah basah di depan rumah saya dong! Itu kan mengganggu.” “Lho memang ada aturan gak boleh buang sampah di depan rumah orang? Sampah basah kan bau, aku buang di depan rumah mu aja, dari pada di depan rumah ku?”

Begitulah di kota itu.  Keributan demi keributan sering terjadi di berbagai tempat!

Bagaimana menurut kalian tentang hidup di Kota Bebas yang tidak punya “aturan” Apa yang ada di benak orang-orang yang bertengkar dalam cerita di atas?

KOTA BEBAS II

bebas3.png

Pada awalnya orang-orang yang tinggal di Kota Bebas sangat senang, mereka berpikir dapat berbuat sesuka hati. Namun mereka sadar bahwa banyak masalah yang timbul karena hal itu. Kemudianmereka pun memohon kepada walikota untuk membuat beberapa aturan. Walikota pun dengan penuh semangat membuat peraturan untuk kotanya. Walikota membuat lima peraturan yang harus ditaati oleh warganya.

Peraturan di Kota Bebas

  1. Orang yang mengambil barang orang lain dihukum satu bulan penjara.
  2.  Orang yang menyalip antrian pada saat menunggu bis didenda 100 ribu Yen.
  3. Orang yang membuang sampah sembarangan dihukum satu bulan penjara.
  4. Orang yang berbohong dihukum satu bulan penjara.
  5. Sarapan pagi harus selesai sampai jam 7 pagi. Orang yang tidak mematuhinya dihukum satu bulan penjara.

Selain aturan-aturan tersebut, Walikota juga membuat berbagai aturan lain, lalu menempelkannya di berbagai tempat di kota itu. Dengan aturan-aturan tersebut, orang-orang pun senang hidup tanpa ada pertengkaran.

Akan tetapi masalah lain kini timbul dan orang-orang merasa terganggu…..

Seorang anak menangis di pinggir jalan. Anak ini membeli makanan ringan ketika pulang sekolah. Anak ini bermaksud membuang bungkus makanan tersebut ke dalam tong sampah, namun karena tertiup angin, bungkus itu keluar dari tong sampah. Tidak jauh dari tempat tersebut seorang anak lain melihatnya dan melaporkan kepada orang dewasa. “Anak ini tidak membuang sampah pada tempatnya, oleh karena itu harus dihukum satu bulan penjara.” Anak yang pertama tadi menangis, “Aku buang bungkus tadi ke dalam tong sampah, tapi karena tertiup angin, bungkus tadi keluar, aku bermaksud mengambilnya dan memasukkan lagi ke dalam tong sampah, masa aku harus dipenjara satu bulan?”

Di depan rumah lain, seorang anak perempuan menangis…. “Pagi ini aku bangun. Karena Ibu sakit dan tertidur, aku cepat-cepat masak menyiapkan sarapan pagi, tetapi keluargaku seisi rumah tidak dapat selesai sarapan sampai jam 7. Keluargaku harus dihukum satu bulan penjara,….hiks hiks…”

 

Di sekolah, anak-anak bertengkar…. “Pensil ini tadi terjatuh di lantai, aku hanya kebetulan memungutnya. Aku tidak mencuri dari siapapun,”  “Gak!, kamu harus masuk penjara satu bulan, karena mengambil barang yang kamu gak tahu siapa pemilikinya, itu sama dengan mencuri” “Tunggu! Dalam aturannya gak tertulis seperti itu. Kamu berbohong. Kamu lah yang harus masuk penjara,”

Sudah capek-capek aturan pun dibuat, tetapi orang-orang di kota itu tetap saja menghadapi berbagai masalah, lama-lama kelamaan mereka merasa kesal juga. “Untuk apa sebenarnya aturan dibuat?”

Bagaimana menurut pendapat kalian tentang hidup di kota seperti ini di mana aturannya sangat lengkap dan rinci? Mengapa masalah terjadi padahal ada aturan Apa yang penting agar hidup kita nyaman?

Bagian III: Menjadi orang berkarakter dan berbudaya di Jepang

08_04_18 13.30 Office Lens

Bagian III dari buku ini karya teman saya Murni Ramli ini membahas tentang teknologi, pendidikan, dan karakter moral.  Bahasan disajikan dalam 10 bab mulai bab 7 sampai dengan bab 17.

Tentang teknologi, hal yang menarik dikemukan oleh penulis adalah “Jepang menyiapkan dahulu budaya sebelum membangun infrastruktur dan teknologi. Pada zaman Edo masyarakat Jepang melakukan revolusi mental menciptakan sosok berdisiplin tinggi dalam penggunaan waktu, kerja keras, dengan karakter seperti ini lahirlah teknologi seperti pedang, keramik porselin, boneka robot dan lainnya. Namun teknologi juga mengubah budaya masyarakat Jepang.  Misalnya bagaimana kehadiran shinkansen telah mengubah pola hidup masyarakat menjadi serba cepat, mengakibatkan pola makan juga serba cepat, waktu makan dipercepat menjadi 10-15 menit agar pada siang hari, pada saat jam kerja tidak mengantuk.  Pola hidup serba cepat memerlukan kepraktisan, berdasarkan kebutuhan ini lahir teknologi baru yaitu makanan serba instan.

Bagaimana warga Jepang bisa menjadi warga negara yang tertib? halaman 202 penulis menuliskan “Tahun 1960-an, awalnya penerapan hukum lalu lintas dilakukan dengan kekerasan misalnya dengan menampar atau memukul warga yang melanggar.  Hukuman keras dihilangkan ketika masyarakat Jepang terbiasa mematuhi aturan.  Kepatuhan atas aturan ini juga dicapai karena proses pendidikan moral dan karakter dimasukan ke sekolah.

Bagaimana pendidikan moral dan karakter dibelajarkan di sekolah? Bagaimana semesta mendukung moral dan karakter peserta didik? Penulis memaparkan sebagai berikut:

  1. Tiga dimensi pendidikan di Jepang: tubuh-jiwa-otak.  Ketiga dimensi diberikan, namun tidak rata, diberikan sesuai tingkatannya. Makin tingkat atas porsi makin besar untuk otak, makin tingkat bawah porsi lebih besar untuk tubuh.  Ini sebabnya di tingkat TK anak-anak lebih banyak bermain olah raga dari mulai naik titian, meloncati penghalang, dan gerak fisik lainnya.
  2. Pendidikan prilaku dilakukan dengan pembiasaan, mengucap sambil mengerjakan,  mengapa dilarang-mengapa harus begini, menempel slogan, life skill… (pada halaman 292-293 penulis menyajikan tabel tema2 pada pelajaran life skill untuk SD), budaya membaca (jangan kaget satu bulan buku siswa Jepang membaca lebih dari 16 buku per bulan).  Buku biografi tokoh merupakan buku yang banyak ditulis untuk membangun karakter.
  3. Karakter di mulai dari orang dewasa.  Orang dewasa menjadi contoh bagi anak-anak.  Anak-anak dan orang dewasa mempunyai pemahaman yang sama.  Pemahaman didasarkan pada manfaat yang mereka rasakan yaitu kenyamanan.  Jika anak dan orang dewasa di Jepang ditanya “mengapa harus antri?” jawaban mereka karena kalau tidak antri akan merugikan orang lain dan suasana menjadi kacau.  Mengapa harus bersih? karena bersih membuat mereka tidak cepat sakit dan sakit membuat mereka menderita karena tidak bisa beraktifitas.  Tidak ada jawaban anak dan orang dewasa yang menyebutkan karena alasan agama atau peraturan, semuanya atas kesadaran dan manfaat yang mereka rasakan.
  4. Fasilitas mendukung pembangunan karakter. Tidak ada fasilitas umum yang dicorat-coret oleh warga, karena di setiap fasilitas dipasang CCTV sehingga pelaku dan perusak fasilitas umum akan mudah dibekuk polisi.  Karakter 3R muncul karena setiap tempat umum disediakan tong sampah 4 jenis.
  5. Sistem kemasyarakatan yang berjalan sangat baik.  Supaya masyarakat antri ketika masuk kereta, maka jalur-jalur penanda antrian dibuat dan kereta berhenti tepat di jalur-jalur tersebut tanpa meleset sedikitpun.
  6. Orang sekampung turut bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Ada kegiatan dimana para orang tua membuat komunitas membantu anak-anak agar dapat bersekolah dengan baik.  Misalnya komunitas ini membantu anak yang terlihat kurang sehat di sekolah, ternyata anak tersebut tidak pernah sarapan karena orang tuanya pergi bekerja pagi-pagi sekali.

Halaman 327-347 menceritakan lebih menarik bagaimana studi kasus untuk contoh-contoh pembelajaran karakter ini di sekolah.

Pada persekolahan penulis juga menjelaskan kurikulum di Jepang dan bagaimana rapor di Jepang yang bersifat kualitatif terutama di tingkat dasar, tidak ada nilai-nilai yang berupa angka.  Rasanya membaca sendiri bukunya lebih menarik karena disertai dengan contoh-contoh, sayangnya paparan dari beberapa deskripsi tersaji tersebut akan sulit terbayangkan jika kita sendiri belum pergi ke Jepang dan melihat langsung kehidupan di sana.  SELAMAT MEMBACA DAN MENIKMATINYA!