Kyouiku Mama: Prinsip hidup wanita Jepang

—Prof. Dr. Daoed Joesoep—mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Kompas Sabtu, 7 Juli 2007

Peran Ibu
Pada tahun 1996, pendidik Amerika dari Charlottesville Virginia, Tony Dickensheets, berkesempatan beberapa bulan menetap di Jepang. Selama itu, beliau berpindah-pindah tinggal di beberapa keluarga karyawan. Berdasarkan pengamatannya, dia berkesimpulan, unsur kunci dari economic miracle Negri Sakura ini ternyata telah diabaikan atau paling sedikit amat dianggap enteng, yaitu peran kyouiku mama atau education mama.
Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi Jepang yang luar biasa sejak tahun 1960, bukanlah hasil kebijaksanaan pemerintah melalui pekerja yang bersedia bekerja 16 jam per hari. Sementara para suami bekerja, para istri bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Dalam kapasitas sebagai ibu inilah para istri membaktikan hidupnya demi kepastian keturunan mampu memasuki sekolah-sekolah bermutu.
Maka dibalik karyawan Jepang yang beretika kerja terpuji itu ada perempuan umumnya, kyouiku mama atau education mama khususnya. Mereka inilah pilar-pilar kukuh yang menyangga para karyawan itu. Merekalah yang membantu perkembangan ekonomi yang luar biasa dari bangsanya sesudah perang dunia. Kerja dan pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat dalam jalannya pendidikan nasional dan stabilitas sosial, yaitu dua hal yang sangat krusial bagi keberhasilan ekonomi sesuatu bangsa.
Jadi, perempuan Jepang ternyata berperan positif dalam membina dan mempertahankan kekukuhan fondasi pendidikan dan sosial yang begitu vital bagi kinerja kebangkitan ekonomi bangsanya.Ketika saya sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan diundang untuk meninjau berbagai lembaga pendidikan dasar, menengah dan tinggi negeri ini, saya kagum melihat kebersihan ruang laboratorium di sekolah umum dan bengkel praktik di sekolah kejuruan teknik.
Semua murid membuka sepatu sebelum memasuki ruangan dan menggantikannya dengan sandal jepit yang sudah tersedia di rak dekat pintu, jadi lantai tetap bersih bagai kamar tidur. Ketika saya tanyakan kepada guru yang mengajar di situ bagaimana cara mendisiplinkan murid hingga bisa tertib, dia menjawab, “yang mulia, saya hampir tidak berbuat apa-apa dalam hal ini. Ibu-ibu merekalah yang mengajarkan anak-anak untuk berbuat begitu.”
Saya teringat sebuah kebiasaan di rumah tradisional Jepang, alih-alih menyapu debu di lantai, mereka masuk rumah tanpa bersepatu/bersandal agar debu tidak masuk rumah. Bagi mereka, kebersihan adalah suatu kebajikan.
Di toko buku, saya melihat seorang ibu sedang memilih-milih buku untuk anaknya, seorang murid SD. Ketika saya sapa, dia menyadari saya orang asing, dia tegak kaku dengan senyum malu-malu. Ibunya datan dan mendekati dan menekan kepala anaknya agar membungkuk berkali-kali, sebagaimana layaknya orang Jepang memberi hormat, sambil mengucapkan sesuatu yang lalu ditiru oleh anaknya. Setelah mengetahui saya seorang menteri pendidikan dan kebudayaan, entah atas bisikan siapa, banyak anak menghampiri saya, antri, memberi hormat dengan cara nyaris merukuk, meminta saya menandatangani buku yang baru mereka beli.

Perempuan dan Pendidikan
Lebih daripada di negeri-negeri lain, kelihatannya sistem pendidikan dan kebudayaan Jepang mengandalkan sepenuhnya peran perempuan dalam membesarkan anak. Karena itu dipegang teguh kebijaksanaan ryousai kentro (istri yang baik dan ibu yang arif), yang menetapkan posisi perempuan selaku manager urusan rumah tangga dan perawat anak-anak bangsa. Sejak dulu filosofi ini merupakan bagian dari mindset Jepang dan menjadi kunci pendidikan dari generasi ke generasi. Pada paruh ke dua abad 20 peran kerumahtanggaan perempuan Jepang kian dimantapkan selaku kyouiku mama atau education mama. Menurut Tony Dickensheets hal ini merupaka “a purely Japanese phenomenon”.
Yang memantapkan itu adalah para ibu Jepang sendiri. Mereka menilai diri sendiri dan karena itu, dinilai oleh masyarakat berdasarkan keberhasilan anak-anaknya baik sebagai warga, pemimpin, maupun pekerja. Banyak perempuan Jepang menganggap anak sebagai ikigai mereka, rasionale esensial dari hidup mereka. Setelah menempuh sekolah menengah, kebanyakan perempuan Jepang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Jika di Barat ada anggapan perempuan berpendidikan akademis yang melulu tinggal di rumah membesarkan anak sebagai wasting her talent, di Jepang orang percaya, seorang ibu seharusnya berpendidikan baik dan berpengetahuan cukup untuk bisa memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya. Kalaupun ada ibu yang mencari nafkah, biasanya bekerja part time agar bisa berada di rumah saat anak-anaknya pulang sekolah. Tidak hanya untuk memberi makan, tetapi lebih-lebih membantu mereka menyelesaikan PR atau menemani mengikuti pelajaran privat demi menyempurnakan pendidikannya.

Membantu Ekonomi Bangsa
Perempuan Jepang membantu kemajuan ekonomi bangsa dengan dua cara, yaitu melalui proses akademis dan proses sosialisasi. Bagi orang Jepang, aspek sosialisasi pendidikan sama pentingnya dengan aspek akademis, sebab hal itu membiasakan anak-anak menghayati nilai-nilai yang terus membina konformitas sikap dan perilaku yang menjamin stabilitas sosial.
Mengingat kyouiku mama mampu membina kehidupan keluarga yang relatif stabil, sekolah tidak perlu terlalu berkonsentrasi pada masalah pendisiplinan. Lalu, para guru punya ketenangan dan waktu yang cukup untuk membelajarkan pengetahuan, keterampilan, kesahajaan, pengorbanan, kerja sama, tradisi dan lain-lain atribut dari sistem nilai Jepang.
Menurut Tony Dickensheets, sejak dini pelajar Jepang menghabiskan lebih banyak waktu untuk kegiatan sekolah daripada pelajar-pelajar Amerika. Lama rata-rata tahun sekolah anak Jepang adalah 243 hari, sedangkan anak Amerika 178 hari. Selain menambah kira-kira dua bulan dalam setahun untuk sekolah, sebagian besar waktu libur anak-anak Jepang diisi dengan kegiatan bersama teman sekelas dan guru. Bila pekerja/karyawan berdedikasi pada perusahaan, anak-anak berdedikasi pada sekolah. Mengingat tujuan sekolah meliputi persiapan untuk hidup bekerja, anak didik Jepang bisa disebut pekerja/karyawan yang sedang dalam proses training.
Walaupun pemerintah yang menetapkan tujuan sistem pendidikan Jepang, keberhasilannya ditentukan oleh orang-orang yang merasa terpanggil untuk menangani pendidikan. Jika bukan guru, sebagian terbesar dari mereka ini, paling sedikit tingkat pendidikan dasar, adalah perempuan, ibu-ibu Jepang, kyouiku mama. Mereka inilah yang membentuk masa depan Jepang, melalui jasanya dalam pendidikan anaknya,
Maka sungguh menarik saat di tengah gempita perayaan keberhasilan gadis Jepang menjadi Miss Universe 2007 di Meksiko, ada berita ibu-ibu Jepang mencela peristiwa itu sebagai penghargaan terhadap kesekian perempuan belaka, bukan penghormatan terhadap kelembutan dan prestasi keperempuanan Jepang.
Celaan itu pasti merupakan cetusan nurani kyouiku mama. Berita ini bisa dianggap kecil karena segera menghilang. Namun ditengah pekatnya kegelapan, sekecil apapun cahaya nurani tetap bermakna besar.

Chihayafuru – Musubi (ちはやふるー結び) #JFF2018 #Bandung

Pembukaan JAPAN FILM FESTIVAL di Bandung menampilkan Film Chihayafuru, filmnya berkisah tentang Chihaya seorang siswa SMA kelas 3 yg sejak kecil terobsesi bermain Karuta.

Karuta? Diadopsi dari kata Carta atau Card. Ya, film ini mengenalkan budaya Karuta pada kita penontonnya. Saya sendiri baru tahu tentang karuta ini. (Klik Karuta jika ingin tahu ttg karuta ini).

Dalam memelihara budaya, nah Jepang memang jagonya. Dalam permainan karuta para pemain mencocokan antara kartu dg puisi yg dibacakan. Puisi dikumandangkan, kemudian mereka harus memilih kartu yg cocok dg isi puisi itu. Kurang lebih begitu. Indera mendengar dan melihat serta kecepatan pikiran mengolahnya itulah yg diperlihatkan pada permainan ini.

Konon permainan ini sudah ada sejak zaman Heian sekitar 794-1185 (abad ke-8) bayangkan? Tradisi ini sudah sangat tua, dan tetap terpelihara sampai kini, masuk abad 21. Keluarga Jepang biasa memainkannya pada perayaan tahun baru. Kartu puisi penuh huruf kanji, tapi kartu yg dimainkan hurufnya hiragana jadi anak2 kecil pun bisa main. Bayangkan permainan ini sudah 13 abad atau 1.300 tahun? Puisi yg sama? Pantas saja para pemain dalam Chihayafuru berkata “membuat puisi yg bisa bertahan sampai 1.000 tahun”

Filmnya? Jika bicara tentang “alur” atau istilah kita “keramean dari filmnya” …..ini ya film anak2 SMA sebuah klub ekstrakurikuler yg bekerja keras masuk ke kompetensi nasional ditambah lagi ancaman tutupnya klub karena peminatnya makin sedikit. Halangan memenangkan kompetensi nasional muncul juga karena urusan HATI “cemburu” jika melihat alur saja.

Namun film ini sesungguhnya memperkenalkan BUDAYA KARUTA budaya yg usianya sudah 1.000 tahun. Terus terang saya takjub, permainan ini bisa mempertahankan budaya puisi Jepang. Tadi saya agak khawatir ini nyambung gak ya tetiba nonton part-3. Ternyata nyambung juga, karena saya lebih tertarik pada budaya yg ada di dalamnya, dibandingkan alurnya. Saya menganggumi “kok bisa ya kepikiran membuat permainan ini sehingga puisi bisa bertahan lama sampai 1.000 tahunan.

Jadi ingat, sebagai org sunda buhun kita punya banyak pupuh yg syarat dg banyak makna. Dan budaya pupuh ini makin meluntur… salah satu pupuh favorit waktu saya kecil adalah….

Budak leutik bisa ngapung
Babaku ngapungna peuting
Ngalayang kakalayangan
Neangan nu amis-amis
Sarupaning bungbuahan
Naon bae nu kapanggih

Ari beurang ngagarantung
Eunteup dina tangkal kai
Disada kokoreakan
Cing hempek ku hidep pikir
Nu kitu naon ngaranna
Lolong lamun teu kapanggih

Namun sayang pupuh kesayangan ini sekarang bisa dirusak oleh situasi PILPRES! Karena jawaban pupuh itu adalah ………

SEBAGAI CATATAN AKHIR SAYA BENCI HIRUK PIKUK PILPRES SAAT INI, dimana kaum gerakan politik ideologi islam transnasional bersatu dengan gerakan2 NEO NII, mengobrak-abrik hati dan pikiran generasi muda Indonesia sehingga generasi muda terbius dalam gerakkan #gantiPresiden #gantiSistem #antiPancasila yg pada akhirnya destruktif terhadap pembangunan Indonesia. Generasi muda yg terbius aliran ini #gahar dan #emoh terhadap budaya Bangsa sendiri. Maka tepatlah ungkapan dari Chelsa Islan “SAYA BERPESAN PADA GENERASI MUDA UNTUK TETAP MERAWAT BUDAYA INDONESIA DAN MENJAGA DNA INDONESIA YG MENGHARGAI KEBINEKAAN”

Jadi, sederhana Indonesia sudah merdeka, mari berbahagia dg mengisi kemerdekaan dan merawatnya, tunjukkan prestasi. Mari berbahagia dan hidup secara damai di Indonesia tercinta.

Pengenalan Lapangan Persekolah di Jepang #PLP

plpjp

Pada tulisan sebelumnya saya mengulas tentang hasil observasi PLP di Jepang (Klik INI). Tulisan hari ini saya membahas hasil pertanyaan-pertanyaan tentang PLP untuk memperdalam pola PLP di Jepang. Pertanyaan-pertanyaan dijawab oleh Prof. Negishi dari Toyama University.

SKS PLP di Fakultas Human Develeopment (Fakultas Keguruan) di Toyama University berjumlah 4 SKS dan 1 SKS untuk Prior & Subsequent Guidance.

1 SKS Prior & Subsequent Guidence merupakan pembekalan yang diberikan oleh Universitas dan sekolah tempat PLP.  Pembekalan  ini bisa dikatakan sebagai PLP I,  PLP I diberikan sebulan sebelum PLP II (Praktek Mengajar di Sekolah).  Pelatihan terdiri dari:

1. Pembekalan di Universitas oleh para dosen, materinya adalah sebagai berikut:

Waktu (menit) Materi
90 Pembimbingan peserta didik
90 Etika Profesi Guru
90 Praktek mengajar

2.  Pembekalan di Sekolah oleh para guru, materinya adalah sebagai berikut:

Waktu (menit) Materi
90 Praktek mengajar
90 Pembimbingan peserta didik
90 Pendidikan moral

Pendidikan moral di Jepang diberikan selama 1 jam pembelajaran (1 jam pembelajaran di Jepang 50 menit).  Semua guru harus menguasai pendidikan moral, karena tidak ada guru khusus pendidikan moral.  Pendidikan moral harus bisa diajarkan oleh semua guru, termasuk guru Sains, IPS, Olah raga, dll.

Pembekalan dilakukan selama bulan Juli (7 月)Adapun PLP II (Praktik Mengajar di Sekolah) sebanyak 4 SKS, dilakukan dari bulan Agustus sampai bulan Oktober dilakukan di sekolah. Dengan jadwal sebagai berikut:

Bulan Kegiatan
Agustus Observasi mengajar 3 hari.
Agustus Pembimbingan pre dan pos praktik mengajar
29 agustus-19 september Praktik mengajar di kelas secara kolaboratif, satu kelompok terdiri dari 4 orang.
Bulan 10 Bimbingan pasca praktik mengjar

Berdasarkan jadwal tampak bahwa kesempatan para mahasiswa mengajar ini diberikan dalam jumlah yang terbatas, hanya dua minggu.  Sebagian besar lebih banyak para guru melakukan bimbingan baik sebelum maupun sesudah praktik mengajar.  PLP II di Jepang, berorientasi “Bagaimana Guru Senior, memberikan pengalaman mengajar pada para calon guru.”  Hal ini seiring dengan tujuan dari Pendidikan Keguruan di Jepang sendiri yaitu: menghasilkan guru yang terlatih dengan baik dan mengembangkan model pengajaran untuk sekolah publik.  Selama dua bulan di sekolah, walaupun praktik mengajarnya hanya diberikan kesempatan 10 hari saja, namun kehadiran mahasiswa di sekolah tiap hari kerja dari jam 8.00 sampai jam 18.00 sebagaimana jam kerja guru di Jepang.

Hal yang menarik berikutnya adalah jawaban dari pertanyaan kami, “Sebelum melakukan praktik mengajar di sekolah apa saja yang dilakukan mahasiswa kependidikan di Jepang?

Selain sudah menamatkan  serangkaian matakuliah kependidikan seperti di Indonesia umumnya, bagi yang mengikuti praktik mengajar juga diwajibkan sudah mengikuti kegiatan volunteer di sekolah negeri.  Apa itu kegiatan voluenteer? Kegiatan voluenteer adalah kegiatan membantu guru-guru di sekolah (mereka tidak mengajar, tapi jadi semacam shadow teacher atau supporting teacher). Mereka membantu para guru menyiapkan media pembelajaran, membantu para siswa tertentu yang perlu bimbingan khusus, membantu kegiatan saat pembelajaran proyek atau eksperimen atau field trip, dll.

Begitulah PLP di Jepang.

Bagaimana Praktek Pengenalan Lapangan Persekolah di Jepang? #edutraveling

9-17 September 2018 kami melakukan perjalan dalam rangka The Project for Establishing the Subject ‘Environment’ in Junior High Schools and Disseminating Environmental Education yang disponsori oleh JICA pathership dengan IEPF (Indonesian Education Promoting Foundation).  Apa yang saya paparkan di bawah ini adalah side effect dari kunjungan (Kata orang islam mah BERKAH BANGET ini mah).  Pada saat kami kunjungan ke sekolah pembelajaran yang dilakukan bertepatan dengan keberadaan mahasiswa on job training di sekolah tersebut. Berikut hal-hal yang bisa kita ambil, yang sangat bermanfaat bagi perbaikan matakuliah Pengenalan Praktek Lapangan Persekolahan di universitas kita.

Di Jepang, setiap lulusan perguruan tinggi dari jurusan manapun bisa menjadi guru dengan syarat mengikuti program lisensi guru selama satu tahun.  Universitas tertentu juga mempunyai fakultas keguruan yang bertujuan mencetak sarjana pendidikan.  Salah satu universitas tersebut adalah universitas Toyama.  Universitas Toyama mempunyai Fakultas Ilmu Pendidikan tempat mencetak calon guru nama fakultasnya Fakultas Human Development.

Tentang  mata kuliah on job training(Pengenalan Lapangan Persekolahan dalam kurikulum Indonesia) di Jepang:

Menurut penuturan Prof. Negishi Sensei:  Pada semester 5 dan 7 atau tahun ke-3 dan ke-4 mahasiswa melakukan on job training (disingkat OJT) selama 3 minggu dengan 10 kali penampilan di kelas.   Sebelum melakukan on job training mahasiswa mendapatkan pelatihan membuat RPP, cara mengajar, membuat media, dan evaluasi.  Para mahasiswa praktik mengajar di sekolah (OJT) juga mengikuti semua aktifitas yang ada di sekolah misalnya osouji (waktu bersih-bersih sekolah), makan bersama anak-anak, pokoknya kegiatan yang dilaksanakan di sekolah selama tiga minggu waktu OJT diikuti semua oleh mahasiswa keguruan ini.

Observasi OJT di Toyama Chougakko dan Shougakko

Pada tanggal 11-12 September 2018 saya berkesempatan melakukan observasi aktifitas mahasiswa on job trainingdi SD dan SMP Fuzoku sebuah sekolah afiliasi dengan universitas Toyama.  Di sekolah ini ada 70 mahasiswa OJT dari berbagai jurusan seperti PGSD, Sains SMP (Rika), IPS SMP (Sakai), bahasa, musik dan seni, dan lain sebagainya. Kami berkesempatan menyaksikan tampilan dari mahasiswa OTJ bidang studi rika dan sakai di SMP.  Kami menyaksikan tiga pembelajaran terkait sains dan satu pembelajaran terkait IPS.  Di Jepang satu jam pembelajaran berlangsung selama 50 menit.  Pengamatan kali ini juga berlangsung selama 50 menit.

1) Pengamatan pada pembelajaran sains: 

Pembelajaran dilakukan di laboratorium,  Siswa sudah duduk secara berkelompok di meja masing-masing, satu kelompok terdiri dari 4 orang dengan proporsi gender yang seimbang yaitu dua lelaki dan dua perempuan. Ada 9 kelompok siswa SMP di laboratorium (36 orang siswa).  Ada empat orang gakusai daigaku (mahasiswa OJT)), satu orang berperan sebagai guru model dan tiga orang berperan sebagai observer juga membantu secara teknis pada saat pembelajaran.  Guru sains hadir di kelas tersebut melakukan observasi jalannya OJT

Pada sesi ini mahasiswa OJT menjelaskan prosedur yang akan dilakukan di laboratorium, dan membimbing siswa melakukan praktikum.  Praktikum di kelas sains yang kami amati adalah:

  • Kelompok 1 mahasiswa OJT terdiri dari 4 orang: Praktikum memprediksi zat berdasarkan sifatnya. Mahasiswa OJT menyediakan empat bubuk yaitu gula, garam, tepung kentang, dan satu bubuk X [rahasia].  Keempat bubuk tersebut secara acak diberi huruf A, B, C, D.  Peserta didik memprediksi bubuk apa yang ada dalam A, B, C, dan D berdasarkan sifat-sifatnya ketika diberi empat perlakukan yaitu dipanasi, …..,……,…… (pas pengamatan itu kurang terperhatikan perlakuannya apa saja maaf).
  • Kelompok 2 Mahasiswa OJT terdiri dari 4 orang: Praktikum mengamati karakteristik organ manusia. Mahasiswa OJT membawa organ dari babi yang strukturnya mirip manusia.  Dengan cara demonstrasi mahasiswa memperlihatkan organ jantung dan paru-paru yang dipompa sampai mengelembung.  Selanjutnya organ lainnya seperti hati, ginjal, tenggorokan, jantung diberikan kepada setiap kelompok untuk melakukan pengamatan.
  • Kelompok 3 OJT terdiri dari 3 orang: Praktikum mengamati reaksi enzim gelatin pada buah kiwi.Buah kiwi dipisahkan menjadi tiga bagian: pusat, lingkaran tengah, dan lingkaran luar.

Gambar 1.  Pembelajaran sains oleh mahasiswa on job training satu mahasiswa berperan sebagai guru model.  Mahasiswa lainnya membantu teknis ketika pengajaran dilakukan. [Dokumentasi foto dari IEPF2018 Taken by Yanti Herlanti]

2) Pengamatan pembelajaran sakai (IPS):

Kelompok 1 OJT Sakai terdiri dari 4 orang: Topik yang dibahas adalah tentang hukum pidana.  Mahasiswa OJT mengambil topik popular untuk dibahas di kelas yaitu “Pro Kontra Terhadap Hukuman Mati bagi Kasus Terorisme di Jepang”. Kasus ini sedang menjadi pembahasan di Jepang,  sekelompok pelaku terorisme pada 13 tahun lalu, pengadilan memutuskan beberapa waktu lalu hukuman mati bagi para pelaku.  Mahasiswa OJT memberikan potongan berita korannya.  Selanjutnya menampilkan video beberapa narasumber yang pro maupun kontra terhadap hukuman mati.  Peserta didik juga diberikan resume tentang hukuman mati di Jepang oleh mahasiswa OJT.  Peserta didik secara individu selanjutnya diminta untuk menentukan posisi pro atau kontra beserta alasannya.  Alasannya harus didukung dengan sumber-sumber referensi yang ada.  Walhasil para siswa merujuk beberapa referensi selain rujukan para ahli yang tampil di video mereka pun membuka buku enslikopedia IPS yang membahas tentang hukuman mati tersebut.  Sebagai catatan buku enslikopedia ini dimiliki oleh para siswa sebagai buku referensi tambahan selain buku teks, maka saat mereka ada pelajaran IPS, buku enslikopedia ini selalu menemani.  Buku enslikopedia ini diperbaharui setiap lima tahun sekali. Pembelajaran selama 50 menit berakhir dengan menuangkan pendapat tiap individu, menurut pendapat mahasiswa OJT, mereka akan melanjukan dengan diskusi pada pertemuan selanjutnya.

Gambar 2.  Pembelajaran IPS oleh mahasiswa on job training dengan topik isu sosiosaintifik. [Dokumentasi foto dari IEPF2018 Taken by Yanti Herlanti]

 3) REFLEKSI dengan guru pamong

Setelah mahasiswa OJT melaksanakan pengajaran di kelas, guru pamong berdiskusi dengan mereka berempat.  Pada saat itu kami mengikuti sesi refleksi yang berlangsung dari jam 10.51 – 11.31 (kurang lebih 40 menit waktu yang diperlukan untuk refleksi).  Pada refleksi ini guru pamong mengawali dengan menanyakan perasaan guru model dan refleksi kekurangan saat mengajar tadi, selanjutnya menanyakan hal yang sama dari teman-teman yang mengobservasinya.  Guru pamong kemudian memaparkan catatan pengamatannya selama observasi guru model, dan juga menyampaikan tips-tips diantara tips itu adalah “Jangan jadi BAPER pada saat pembelajaran ditonton banyak orang, karena pada kondisi nyata itu akan terjadi setiap saat”  [Maklum para mahasiswa OJT cukup shock ketika mengajar diperhatikan kami, ini suatu yang alamiah tentu saja].

Image

Gambar 3.  Guru Pamong dan Mahasiswa On Job Training sedang melakukan refleksi [Foto IEPF2018 taken by Yanti Herlanti]

Beberapa pertanyaan

Beberapa pertanyaan kami sampaikan, karena hal ini tidak kita lihat saat observasi.  Misalnya bagaimana para mahasiswa OJT ini mempersiapkan lesson plan.  Jawabannya mereka sendiri yang mempersiapkan lesson plan –nya secara kelompok. Mereka berdiskusi dengan tuntutan silabus yang ada bagaimana merepresentasikannya, topik apa yang dipilih, bagaimana mengajarkannya dan lain-lain.  Mahasiswa OJT kemudian mengkonsultasikanlesson plandengan guru pamong.  Guru pamong memberikan masukan-masukan pada lesson planyang dibuat. Katanya satu lesson planbisa didiskusikan 3-5 kali dengan guru pamongnya.  Lalu bagaimana pembagian pengajaran?  Satu kelompok sebanyak empat orang tersebut berbagi peran pada saat pengajaran.  Mereka memilih secara bergiliran siapa yang akan menjadi guru model.  Saya membayangkan jika satu kelompok 10 kali tampil, maka satu orang akan tampil mengajar 2-3 saja.

Berdasarkan wawancara, penjelasan Prof. Negishi, dan observasi pelaksanaan OJT di Toyama Shougakko, maka dapat disimpulkan POLA yang diberlakukan oleh Universitas Toyama dalam matakuliah OJT (Indonesia PLP II) adalah “LESSON STUDY”.

  • PLAN: Sekelompok mahasiswa (4 orang satu kelompok) membuat satu RPP (lesson plan) bersama-sama.
  • DO : Sekelompok mahasiswa memilih satu orang yang akan tampil menjadi di depan kelas.  Sisa mahasiswa lainnya menjadi observer.
  • SEE: Mahasiswa lainnya sebagai observer berbekal lesson plan mengamati aktifitas peserta didik dan juga membantu secara teknis hal-hal yang diperlukan seperti bimbingan kelompok saat praktikum.  Guru pamong pun mengamati pengajaran dan pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa OJT.
  • REFLEKSI: Pada akhir penampilan, guru pamong dan sekelompok mahasiswa OJT melakukan refleksi terhadap kegiatan pengajaran di kelas saat itu.

Inspirasi bagi Indonesia:

Semua Fakultas Pendidikan di Indonesia pada saat ini sedang melakukan reformasi kurikulum terutama pada matakuliah On Job Trainingatau di Indonesia dikenal dengan matakuliah Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). Kementerian Pendidikan Tinggi Indonesia sudah memberikan panduan tentang PLP I dan PLP II bagi strata S1 (level 6). Namun secara teknis bagaimana membedakan dengan On Job Traning yang dilakukan pada Program Sertifikasi Profesi Guru (level 7).   PLP II bagi masiswa S1 (level 6) dibeberapa universitas, termasuk universitas saya masih sama dengan Praktek Mengajar mahasiswa program profesi (level 7) yaitu secara invidual mahasiswa mengajar di kelas sebanyak 10-12 kali pertemuan.  [Bandingkan dengan pengalaman saya di Jepang, setiap individu hanya mengajar 2-3 saja dengan pola lesson study.  Beban mahasiswa S1 Indonesia tentu menjadi lebih berat bukan? Padahal mereka belum masuk pada profesi guru].  Berdasarkan pengalaman ini, teknik PLP II di Indonesia dapat mengadopsi pola lesson studi di Jepang ini.  Namun untuk sampai pada pola di Jepang, kita punya pekerjaan rumah yang penting baik bagi perguruan tinggi maupun bagi dinas pendidikan setempat.

  • Perguruan tinggi harus memetakan guru-guru yang berkualitas dari sisi keterampilan pedagogi, personal, sosial, dan konten. Pemetaan para guru yang punya kemampuan professional dalam membimbing para mahasiswa PLP dengan sepenuh hati.
  • Sekolah dan Dinas Pendidikan Daerah harus mampu mempersiapkan guru-guru super dengan kemampuan mumpuni dalam pedagogi, personal, sosial, dan konten, serta mempunyai integritas tinggi membantu para juniornya melakukan akselerasi kemampuan mengajar.

Bogor, 21 September 2018

Hidup bebas atau hidup teratur?

Saya sangat memegang teguh filosofi hidup dari ushul fiqh, “Setiap perbuatan terikat kepada hukum syara“.   Inilah yang saya ajarkan pada anak-anak saya, bagaimana EGO mereka berkompromi dengan peraturan baik agama, negara, sekolah, etika, dan adat.  Tidak ada istilah dalam keluarga saya “SEMAU GUE” karena keinginan kita dibatasi dengan keinginan orang lain dan hukum. Tidak ada istilah “BREAKING THE LAW” atau aturan dibuat untuk dilanggar, tapi aturan dibuat untuk kemaslahatan bersama.  Tidak bisa keukeuh mengatakan “HARUSNYA ITU BEGINI” yang ada adalah bagaimana “WIN WIN SOLUTION“.  Jangan pernah keinginan dan rasa idealisme kita menabrak aturan-aturan yang ada.

Sebagai pendidik inilah yang bisa kita lakukan, yaitu mengajarkan betapa pentingnya sebuah aturan yang tentu saja harus dibarengi dengan rasa kemanusiaan.  Hidup tidak EGOIS, namun penuh harmoni sehingga mencapai kedamaian.  Berikut ini adalah petikan cerita moral yang biasa diajarkan pada anak-anak di sekolah.   Mari kita simak, dan pikirkan!

KOTA BEBAS I

bebas.png

Di sebuah negeri terdapat kota yang dinamakan Kota Bebas.   Di kota ini tidak ada “aturan”, siapapun dapat berbuat sesukanya. Mendengar hal tersebut, orang-orang dari kota lain berbondong-bondong pindah ke kota tersebut sehingga kota pun menjadi padat. Pada awalnya semua orang merasa senang karena mereka dapat berbuat seenaknya. Tetapi seiring dengan berjalannyawaktu, berbagai masalah pun terjadi.

Pada suatu ketika….

Dua anak laki-laki bertengkar di pinggir kali.   “Hey, itu adalah ikan yang aku pancing, jangan kamu bawa seenakmu,” kata anak lelaki yang satu. “Gak, di kota ini kita bisa lakukan apapun sesuka kita, kita juga bisa mengambil ikan yang dipancing orang lain,” kata yang anak lelaki satunya lagi.

Di terminal bus juga orang-orang banyak yang bertengkar. Ketika bus yang ditunggu datang, mereka berebut naik bus, terjadilah keributan….“Saya yang menunggu duluan, harusnya saya yang duluan naik, ngantri dong!” “Aduh, jangan dorong-dorong dari belakang dong bahaya! kan masuknya hanya bisa satu-satu,” “Minggir-minggir, aku capek habis kerja, aku pengen cepat naik dan duduk,” Di kota ini kan gak ada aturan, siapapun dapat melakukan apapun, jangan protes! saya naik duluan!”

Di depan rumah juga dua orang ibu-ibu bertengkar satu sama lain. “Tunggu, ibu jangan buang sampah basah di depan rumah saya dong! Itu kan mengganggu.” “Lho memang ada aturan gak boleh buang sampah di depan rumah orang? Sampah basah kan bau, aku buang di depan rumah mu aja, dari pada di depan rumah ku?”

Begitulah di kota itu.  Keributan demi keributan sering terjadi di berbagai tempat!

Bagaimana menurut kalian tentang hidup di Kota Bebas yang tidak punya “aturan” Apa yang ada di benak orang-orang yang bertengkar dalam cerita di atas?

KOTA BEBAS II

bebas3.png

Pada awalnya orang-orang yang tinggal di Kota Bebas sangat senang, mereka berpikir dapat berbuat sesuka hati. Namun mereka sadar bahwa banyak masalah yang timbul karena hal itu. Kemudianmereka pun memohon kepada walikota untuk membuat beberapa aturan. Walikota pun dengan penuh semangat membuat peraturan untuk kotanya. Walikota membuat lima peraturan yang harus ditaati oleh warganya.

Peraturan di Kota Bebas

  1. Orang yang mengambil barang orang lain dihukum satu bulan penjara.
  2.  Orang yang menyalip antrian pada saat menunggu bis didenda 100 ribu Yen.
  3. Orang yang membuang sampah sembarangan dihukum satu bulan penjara.
  4. Orang yang berbohong dihukum satu bulan penjara.
  5. Sarapan pagi harus selesai sampai jam 7 pagi. Orang yang tidak mematuhinya dihukum satu bulan penjara.

Selain aturan-aturan tersebut, Walikota juga membuat berbagai aturan lain, lalu menempelkannya di berbagai tempat di kota itu. Dengan aturan-aturan tersebut, orang-orang pun senang hidup tanpa ada pertengkaran.

Akan tetapi masalah lain kini timbul dan orang-orang merasa terganggu…..

Seorang anak menangis di pinggir jalan. Anak ini membeli makanan ringan ketika pulang sekolah. Anak ini bermaksud membuang bungkus makanan tersebut ke dalam tong sampah, namun karena tertiup angin, bungkus itu keluar dari tong sampah. Tidak jauh dari tempat tersebut seorang anak lain melihatnya dan melaporkan kepada orang dewasa. “Anak ini tidak membuang sampah pada tempatnya, oleh karena itu harus dihukum satu bulan penjara.” Anak yang pertama tadi menangis, “Aku buang bungkus tadi ke dalam tong sampah, tapi karena tertiup angin, bungkus tadi keluar, aku bermaksud mengambilnya dan memasukkan lagi ke dalam tong sampah, masa aku harus dipenjara satu bulan?”

Di depan rumah lain, seorang anak perempuan menangis…. “Pagi ini aku bangun. Karena Ibu sakit dan tertidur, aku cepat-cepat masak menyiapkan sarapan pagi, tetapi keluargaku seisi rumah tidak dapat selesai sarapan sampai jam 7. Keluargaku harus dihukum satu bulan penjara,….hiks hiks…”

 

Di sekolah, anak-anak bertengkar…. “Pensil ini tadi terjatuh di lantai, aku hanya kebetulan memungutnya. Aku tidak mencuri dari siapapun,”  “Gak!, kamu harus masuk penjara satu bulan, karena mengambil barang yang kamu gak tahu siapa pemilikinya, itu sama dengan mencuri” “Tunggu! Dalam aturannya gak tertulis seperti itu. Kamu berbohong. Kamu lah yang harus masuk penjara,”

Sudah capek-capek aturan pun dibuat, tetapi orang-orang di kota itu tetap saja menghadapi berbagai masalah, lama-lama kelamaan mereka merasa kesal juga. “Untuk apa sebenarnya aturan dibuat?”

Bagaimana menurut pendapat kalian tentang hidup di kota seperti ini di mana aturannya sangat lengkap dan rinci? Mengapa masalah terjadi padahal ada aturan Apa yang penting agar hidup kita nyaman?

Bagian III: Menjadi orang berkarakter dan berbudaya di Jepang

08_04_18 13.30 Office Lens

Bagian III dari buku ini karya teman saya Murni Ramli ini membahas tentang teknologi, pendidikan, dan karakter moral.  Bahasan disajikan dalam 10 bab mulai bab 7 sampai dengan bab 17.

Tentang teknologi, hal yang menarik dikemukan oleh penulis adalah “Jepang menyiapkan dahulu budaya sebelum membangun infrastruktur dan teknologi. Pada zaman Edo masyarakat Jepang melakukan revolusi mental menciptakan sosok berdisiplin tinggi dalam penggunaan waktu, kerja keras, dengan karakter seperti ini lahirlah teknologi seperti pedang, keramik porselin, boneka robot dan lainnya. Namun teknologi juga mengubah budaya masyarakat Jepang.  Misalnya bagaimana kehadiran shinkansen telah mengubah pola hidup masyarakat menjadi serba cepat, mengakibatkan pola makan juga serba cepat, waktu makan dipercepat menjadi 10-15 menit agar pada siang hari, pada saat jam kerja tidak mengantuk.  Pola hidup serba cepat memerlukan kepraktisan, berdasarkan kebutuhan ini lahir teknologi baru yaitu makanan serba instan.

Bagaimana warga Jepang bisa menjadi warga negara yang tertib? halaman 202 penulis menuliskan “Tahun 1960-an, awalnya penerapan hukum lalu lintas dilakukan dengan kekerasan misalnya dengan menampar atau memukul warga yang melanggar.  Hukuman keras dihilangkan ketika masyarakat Jepang terbiasa mematuhi aturan.  Kepatuhan atas aturan ini juga dicapai karena proses pendidikan moral dan karakter dimasukan ke sekolah.

Bagaimana pendidikan moral dan karakter dibelajarkan di sekolah? Bagaimana semesta mendukung moral dan karakter peserta didik? Penulis memaparkan sebagai berikut:

  1. Tiga dimensi pendidikan di Jepang: tubuh-jiwa-otak.  Ketiga dimensi diberikan, namun tidak rata, diberikan sesuai tingkatannya. Makin tingkat atas porsi makin besar untuk otak, makin tingkat bawah porsi lebih besar untuk tubuh.  Ini sebabnya di tingkat TK anak-anak lebih banyak bermain olah raga dari mulai naik titian, meloncati penghalang, dan gerak fisik lainnya.
  2. Pendidikan prilaku dilakukan dengan pembiasaan, mengucap sambil mengerjakan,  mengapa dilarang-mengapa harus begini, menempel slogan, life skill… (pada halaman 292-293 penulis menyajikan tabel tema2 pada pelajaran life skill untuk SD), budaya membaca (jangan kaget satu bulan buku siswa Jepang membaca lebih dari 16 buku per bulan).  Buku biografi tokoh merupakan buku yang banyak ditulis untuk membangun karakter.
  3. Karakter di mulai dari orang dewasa.  Orang dewasa menjadi contoh bagi anak-anak.  Anak-anak dan orang dewasa mempunyai pemahaman yang sama.  Pemahaman didasarkan pada manfaat yang mereka rasakan yaitu kenyamanan.  Jika anak dan orang dewasa di Jepang ditanya “mengapa harus antri?” jawaban mereka karena kalau tidak antri akan merugikan orang lain dan suasana menjadi kacau.  Mengapa harus bersih? karena bersih membuat mereka tidak cepat sakit dan sakit membuat mereka menderita karena tidak bisa beraktifitas.  Tidak ada jawaban anak dan orang dewasa yang menyebutkan karena alasan agama atau peraturan, semuanya atas kesadaran dan manfaat yang mereka rasakan.
  4. Fasilitas mendukung pembangunan karakter. Tidak ada fasilitas umum yang dicorat-coret oleh warga, karena di setiap fasilitas dipasang CCTV sehingga pelaku dan perusak fasilitas umum akan mudah dibekuk polisi.  Karakter 3R muncul karena setiap tempat umum disediakan tong sampah 4 jenis.
  5. Sistem kemasyarakatan yang berjalan sangat baik.  Supaya masyarakat antri ketika masuk kereta, maka jalur-jalur penanda antrian dibuat dan kereta berhenti tepat di jalur-jalur tersebut tanpa meleset sedikitpun.
  6. Orang sekampung turut bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Ada kegiatan dimana para orang tua membuat komunitas membantu anak-anak agar dapat bersekolah dengan baik.  Misalnya komunitas ini membantu anak yang terlihat kurang sehat di sekolah, ternyata anak tersebut tidak pernah sarapan karena orang tuanya pergi bekerja pagi-pagi sekali.

Halaman 327-347 menceritakan lebih menarik bagaimana studi kasus untuk contoh-contoh pembelajaran karakter ini di sekolah.

Pada persekolahan penulis juga menjelaskan kurikulum di Jepang dan bagaimana rapor di Jepang yang bersifat kualitatif terutama di tingkat dasar, tidak ada nilai-nilai yang berupa angka.  Rasanya membaca sendiri bukunya lebih menarik karena disertai dengan contoh-contoh, sayangnya paparan dari beberapa deskripsi tersaji tersebut akan sulit terbayangkan jika kita sendiri belum pergi ke Jepang dan melihat langsung kehidupan di sana.  SELAMAT MEMBACA DAN MENIKMATINYA!

Serial Kehidupan di Jepang: Bagaimana guru mengajar pendidikan moral?

PIC_0905.jpeg

Dari mana semua sikap dan karakter orang Jepang dibentuk? Salah satunya dari asupan pengetahuan selama di sekolah melalui pembelajaran moral.  Pembelajaran moral diberikan sebanyak satu jam setiap minggu.  Satu jam setara dengan 50 menit.  Bagaimana sekolah mengelola satu jam ini?  Buku moral pegangan peserta didik berupa cerita-cerita moral harian.  Namun bukan sekedar cerita, tetapi cerita yang menimbulkan konflik kognitif.  Guru menyampaikan cerita itu di kelas, bagaimana cara guru menyampaikannya? Inilah pengamatan kami pada pembelajaran moral di SD Afiliansi Toyama University.

Apersepsi: Guru mengingatkan pengalaman pribadi peserta didik.  

Guru :  Pernahkah kalian mengalami berjanji dengan seseorang, dan orang itu melanggarnya? Bagaimana perasaan kita saat itu?

Peserta didik: Sedih, kok bisa gitu!

Guru:  Hari ini kita akan membahas mengenai hal ini.  Silahkan maju ke depan empat orang. Satu orang sebagai narator, satu orang berperan sebagai Kasumi, satu orang berperan sebagai Sakura, dan satu orang berperan sebagai ibu Kasumi.  Guru meminta peserta didik yang telah maju untuk membacakan adegan 1 dari cerita Buku Harian Sakura.  Peserta didik yang lain pun membaca buku masing-masing.

Bagian 1. Buku Harian Sakura

Hari Jumat pulang sekolah janji dengan Kasumi pergi ke festival Yosakoi.

Kasumi : Hari ini kan ada festival.  Temanku ikut menari pada festival Yasokai dari jam enam.  Kita lihat sama-sama Yuk!

Sakura: Ayo…ayo…jam berapa kita ketemu?

Kasumi: Ibuku mungkin harus pergi bekerja, saya akan tanya duli nia, nanti saya telepon ya!

Sakura: Baiklah! saya tunggu telepon ya!

Tiba di rumah pukul 4:30.  Menyelesaikan PR di kamar sampai pukul 5 lebih gak ada telepon dari Kasumi.  Di tanya ke Ibu pun katanya dari tadi telepon tidak berdering. Karena merasa aneh saya telepon ke rumah Kasumi.

Ibu Kasumi: Kasumi sekarang sedang disuruh belanja, seharusnya sudah pulang…

Sakura: Kalau begitu tolong sampaikan bahwa saya menunggu di taman biasa jam 5.30.

Bersiap-siap, kemudian jam 5.30 pergi ke taman, Ksumi tidak datang juga.  Waktu terus berlalu, semakin mendekati jam 6, acara Yosakoi akan dimulai, kalau tidak cepat tidak akan keburu.  

Sakura: Ngapain sih Kasumi, dia sendiri yang ngajak, janji menelepon gak menelepon, datang ke taman juga tidak.

Karena Kasumi tidak datang, akhirnya Sakura memutuskan pergi ke festival sendiri. Di perjalanan ketika melihat para festival, …di sana ada Kasumi.  Kasumi menyapa saya.

Kasumi: Sakura! maaf ya saya ……….!

Sambil pura-pura tidak kenal, saya mengomel dalam hati. 

Sakura: Apaan sih, udah melanggar janji, sekarang mau ngapain lagi. Udah! Saya gak mau ngomong lagi sama Kasumi.

Guru menanyakan kepada peserta didik. “Sakura marah kepada Kasumi, bagaimana menurut anak-anak?”

Peserta didik ada yang menjawab kasihan Sakura,  Kan Kasumi juga punya alasan….

Guru kemudian meminta lagi tiga orang peserta didik untuk maju ke depan.  Tiga orang berperan sebagai narator, Kasumi dan Ibu Kasumi.  Mereka membacakan Buku Harian Kasumi.  

Bagian 2. Buku harian Kasumi.

Hari Jumat pulang sekolah, janji dengan Sakura pergi ke Festival Yasakoi.  Sampai rumah pukul 4.30, pas mau nanya ibu, ibu malah minta tolong saya untuk berbelanja.

Ibu: Kasumi, bisa tidak cepat tolong ibu berbelanja! ibu lagi tanggung, ini tidak bisa ditinggalkan.

Kasumi: Aduh bagaimana ya? Telepon Sakura ah, nanti mungkin agak telat. 

Saya coba telepon Sakura, tapi tidak ada yang mengangkat.  Apa boleh buat saya cepat-cepat pergi berbelanja. Supermarket sangat penuh, ngantri lama di kasir.  Pada saat keluar supermarket, waktu sudah cukup lama berlalu.  Saya cepat-cepat pulang ke rumah.  Sampai rumah ibu bilang….

Ibu:  Wah lama juga ya.  Tadi Sakura telepon, katanya dia menunggu di taman biasa jam 5.30.

Kasumi:  Wah kacau, saya membuat dia menunggu, saya harus cepat-cepat.

Saya lari tergesa-gesa keluar rumah menuju taman, tapi Sakura tidak ada.  

Kasumi: Apa sudah duluan ya? Tetapi kok dia seenaknya menentukan jam ketemuan sendiri secara sepihak.  Saya juga kan udah buru-buru.

Saya menunggu sebentar di Taman, tapi karena waktu parade dimana teman saya ikut menari sudah tiba, saya pergi ke tempat festival.  Di perjalanan bertemu sakura.

Kasumi: Sakura! maaf ya,….saya……!

Saya sudah mencoba untuk minta maaf tapi Sakura malah buang muka. 

Kasumi: Saya juga kan punya alasan datang terlambat. Kan gak ada salahnya dia mendengar alasan saya dulu.  Ya, sudah saya gak mau ngomong lagi sama Sakura.

Guru menanyakan kepada anak-anak, “Bagaimana menurut kalian mengenai tindakan Sakura?”

Peserta didik ada yang menjawab wajar kalau marah, gak betul kalau marah tanpa mendengarkan dulu alasannya.

Guru kemudian menyakan kepada peserta didik, “Bagaimana caranya agar hubungan mereka tidak retak?”

Peserta didik ada yang menjawab menelepon dengan baik, jangan cepat marah dengarkan alasan orang lain.

Guru mengingatkan kembali kehidupan diri sendiri masing-masing, menyadarkan perlunya berdiri di pihak orang lain atau berpikir dari sudut pandang orang lain, dan tenggang rasa.

Guru mennanyakan pada peserta didik, pernah tidak mengalami kejadian serupa? 

Dua orang peserta didik menceritakan pengalaman mereka.

Guru kemudian menanyakan, bagaimana caranya agar tidak terjadi permusuhan seperti cerita Sakura-Kasumi, apa yang sebaiknya dilakukan. Guru meminta peserta didik menuliskan pendapatnya pada buku mereka.  Kemudian mempresentasikan jawaban di depan kelas dan didiskusikan.

Hasil presentasi dan diskusi disimpulkan bagaimana meningkatkan tenggang rasa, jalan cepat marah, berusahan mendengarkan orang lain.

Pembelajaran moral yang disajikan tema: Salah Paham.  

Target: Menumbuhkan prilaku atau hati yang dapat memberikan tenggang rasa, sehingga dapat berpikir atau melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain dengan memikirkan mengapa terjadi kesalahpahaman antara Sakura dan Kasumi.

Keterkaitan dengan kurikulum pembelajaran moral:  Memiliki hati tengang rasa kepada siapapun, berlaku ramah berdiri di pihak orang lain atau memahami sudut pandang orang lain. 

Bagian II: Menjadi orang berkarakter dan berbudaya Jepang

08_04_18 13.30 Office Lens

Ini bagian kedua dari tulisan pertama, bagian kedua akan membahas bab 4-6 pada buku karya Murni Ramli.  Bagian ini akan membahas dari aspek geografi dan sosial masyarakat Jepang.

Kita senantiasa berpikir bahwa penduduk Jepang itu cuma sedikit, padahal penduduk jepang itu 1/2 dari penduduk Indonesia loh, yaitu sekitar 127 juta terbagi menjadi 47 prefecture (Indonesia sekitar 250 juta, terbagi dalam 34 Propinsi), dengan 5 pulau besar (Hokaido, Honshu, Shikoku, Kyushu, dan Ryuku) dengan 35.000 pulau kecil (Indonesia punya 14 pulau besar dengan jumlah pulau kecil 17.503).

Ada tiga suku di Jepang yaitu Yamato (dominan), Ainu, dan Ryukyuan.  Kita dulu mengenal orang Jepang orang kate karena pendek2, Murni Ramli pada bukunya halaman 105 menuliskan pada masa sekarang rerata lelaki jepang umur 30 mempunyai tinggi 171,4 cm sedangkan wanitanya 158 cm (Lebih tinggi dari hasil penelitian tinggi lelaki Indonesia tinggi 162,4 cm dan perempuan 151, 3 cm).

Orang Jepang selain karakter fisik yang hampir sama, juga mempunyai karakter sikap yang sama.  Baik berdasarkan opini kebanyakan orang yang bergaul dengan orang Jepang, maupun pada faktanya beberapa sikapnya adalah: jujur, disiplin, detail dalam berkarya, tidak mau merepotkan orang lain, dan pekerja keras.  Pertanyaan kita kemudian apakah ini sikap atau tingkah laku yang lahir secara genetis? Bukan! Penulis memaparkan pada halaman 111 pada zaman Edo, Taisho, dan Meiji orang Jepang ternyata bukanlah komunitas disiplin dalam bekerja, Misthubishi melaporkan tahun 1898 tingkat absensi diperusahannya 21%.  Menghargai waktu,  pada era sebelum perang Jepang juga sama dengan Indonesia, kereta sering terlambat.   Penulis memaparkan disinyalir kebiasaan ini muncul karena pameran tepat waktu dan efesiensi yang silakukan oleh Toyko Educational Museum.  10 juni 1920 ditetapkan secara nasional waktu dalam sehari.  Ada beberapa sifat lain orang Jepang diantaranya adalah tertutup (uchigawa & sotogawa), senioritas, menjaga perasaan lawan bicara … ada hal yang menarik dari sikap orang jepang yaitu:

Mencintai keharmonisan, kondisi damai, dan tidak suka konflik diistilahkan dengan heiwa. Sikap ini menjadikan orang Jepang tidak suka jika dalam suatu tim ada yang merasa lebih unggul dan dia mau menunjukkan diri unggul dengan menganggap teman lainnya saingan atau berkompetisi.  Orang semacam ini akan membahayakan keharmonisan tim, sehingga harus diketok dalam pepatah jepang ada istilah “deru kui wa utare” [paku yang menonjol harus diketok]. Efek dari ‘heiwa’ ini mereka menjadi orang yang rendah hati dan sederhana. Bukan pemandangan aneh para dosen di Jepang menggunakan sepeda ke Kampus, kecuali dosen yang rumahnya berbeda kota. Menggunakan tas yang sudah ditambal berkali-kali karena robek.  Tidak hanya para dosen, sikap sederhana juga ditunjukkan oleh para anggota dewan di Jepang.  Kursi-kursi yang mereka gunakan melapuk dan menua, warna sandaran dan tempat duduk punsudah memudar. Semua dibiarkan saja dari sejak gedung parlemen berdiri, mungkin ini menjadi bukti bahwa mereka benar2 memperjuangkan rakyat.

Tampaklah bahwa sikap bekerja masyarakat Jepang bukan lahir dari genetik, namun sebuah proses yang panjang membentuk sikap tersebut.  Paling tidak sejak revolusi Industri atau perang dunia mereka menginisiasi sikap bekerja disiplin, menghargai waktu, dan bekerja semangat.

Beberapa sikap lainnya lahir dari agama Budha atau ajaran Kong Hu Chu seperti heiwa, hidup sederhana, dan menjaga perasaan orang lain.  Ada juga sikap yang memang lahir secara naluriah misalnya senioritas dan tertutup.

Namun beberapa sikap orang Jepang pada generasi milenia beberapa mulai memudar, misalnya sifat sederhana dan gambarimasu (kerja keras).  Generasi di Jepang pada zaman milenia penulis membaginya menjadi 8 generasi yaitu posmo, ojoman, arubaito, komunitas terpelajar, diam & cuek, konsumtif, otaku, dan neet & Freeter. Tentang kondisi sosial generasi milenia ini diuraikan panjang lebar pada halaman 171-192.

To be continue ke bagian III tentang Teknologi dan Pendidikan di Jepang.

 

 

 

Bagaimana Jepang menciptakan manusia berkarakter dan berbudaya?

08_04_18 13.30 Office Lens.jpg

Bagian I: Fondasi pembangunan karakter di Jepang.

Saya dapat kiriman buku dari sahabat saya Murni Ramli judul bukunya “Menjadi Orang Berkarakter dan Berbudaya di Jepang”  Buku ini menjawab pertanyaan “Bagaimana Jepang menciptakan manusia berkarakter dan berbudaya?”  Tentu saja dengan perspektif sebagai orang indonesia.  Bukunya mengkaji secara lengkap dari mulai fondasi sampai dengan interior didalamnya.

Dua bab pertama dari buku memaparkan fondasi dari penciptaan karakter manusia jepang.  Fondasi dari pembangunan karakter di Jepang itu apa? Penulis memaparkan bahwa pembangunan karakter di Jepang adalah proses panjang dari mulai era Tokugawa (sekitar abad ke 16 M tepatnya 1603-1867).  Setiap jaman pemerintahan Jepang sangat peduli dengan pendidikan moral. Pendidikan moral merupakan sarana membentuk karakter orang-orang Jepang.  Jika zaman Edo sampai dengan Meiji pendidikan moral masyarakat Jepang dipengaruhi oleh Agama yang berkembang di Jepang yaitu Budha Shinto atau Konfusianisme (Kong hu Chu).  Namun setelah perang dunia kedua, dengan masuknya pengaruh AS, pendidikan moral orang di Jepang pun dipengaruhi oleh teori-teori barat tentang moral seperti Piaget, Kohlberg, … Kini pengaruh teori asia timur dan barat disatukan oleh Pakar Pendidikan Moral, dengan rumusan aspek kesadaran moral meliputi empat hal yaitu (1) Kesadaran pribadi, (2) hubungan dengan orang lain, (3) hubungan dnegan masyarakat/kelompok, (4) hubungan dengan alam/dunia.  Pendidikan moral di Jepang setelah perang dunia kedua mempunyai misi “menumbuhkan individu yang akan menjadi masyarakat dan warga negara demokratis dan damai, dengan menghapuskan unsur-unsur perang dan kepatuhan pada Kaisar”.

Sekilas rumusan aspek moral ini sama dengan rumusan dalam islam tentang tugas pokok manusia yaitu: Hambluminnalloh, Hablumminnannas, dan habluminnaalam.  Namun Jepang tidak memasukkan hubungan dengan tuhan sebagai sebuah landasan pendidikan moral.  Ini semua karena pemerintahan Jepang tidak menetapkan satu agama sebagai keyakinan mayoritas penduduknya, agama adalah keyakinan pribadi tidak harus diurusi pemerintah. Kebijakan ini menyebabkan tidak ada data jumlah penduduk beragama tertentu di Jepang.  Dan tentu saja tidak ada kolom agama dalam setiap form identitas di Jepang.  Kebijakan ini membuat masyarakat Jepang tidak fanatik pada agama tertentu, ketika lahir seorang anak akan diadakan upacara sesuai agama Shinto, ketika meninggal dia akan dikremasi sesuai agama budha, beribadah di rumah altar budha dan shinto ditempatkan berdampingan, dan ketika menikah akan merasa keren (Kakoi) dengan menikah di Gereja.  Maka ketika orang-orang jepang di Tanya apa agama kamu? lihat ini: THAT JAPANNESE MAN YUTA . That’s Jepang! Seketika saya pun teringat, lagu John Lenon “imagine no religion…living life in peace!” Tampaknya John Lennon terinspirasi dari Yoko Ono isterinya yang berasal dari Jepang ketika membuat lirik ini.

To be Continue, bagian selanjutnya akan dijelaskan tentang bagian II: Geografi, Sosial Budaya, dan Teknologi di Jepang.

 

Rapih: one of Japan culutre

Pernah berkunjung ke Jepang? Apa kesan pertama anda terhadap negara ini? Ungkapkan dalam tiga kata: BERSIH, RAPIH, TERATUR! itu yang senantiasa saya dapatkan ketika mengajak peserta ke Jepang pertama kalinya, dan itu pula yang saya rasakan.  Mengapa bisa seperti itu?

Tulisan sebelumnya sudah dibahas mengapa Jepang bisa bersih? Silahkan baca tulisan saya tentang O-sōji: Piket membersihkan sekolah di Jepang #SerialPendidikandanKehidupan diJepang).  Mengapa jepang masyarakat jepang teratur? Silahkan lihat salah satunya dalam tulisan tentang Antri: just one of Japan culture).  Kali ini saya akan tuliskan mengapa kehidupan di Jepang bisa rapi?

Budaya rapi.  Suka lihat film Dora Emon kan? Nobita, Giant, dan Suzuka pegang sapu dan lap menyapu dan mengepel rumah udah biasa bukan? Juga bagaimana mereka membereskan kembali sepatu dan sandalnya.  Di rumah dilakukan, di sekolah pun dibiasakan.  Maka jika lihat di Jepang tak ada sandal atau sepatu yang letaknya berantakan kayak di pelataran mesjid di Indonesia saat sholat jum’at atau jama’ah.  Semuanya akan tertata rapi, kenapa? Melihat yang rapi hati kita damai bukan? Itulah esensinya! KEDAMAIAN HIDUP! KENYAMAAN HIDUP! Bahkan berbagai teknologi yang diciptakan oleh Jepang pun punya filosofi “Bagaimana membuat hidup orang Jepang (manusia) nyaman?” Jalan kaki Bandung-Jakarta membuat gempor bukan, pakai kuda pun kasihan kudanya, lalu ketika eropa menciptakan mobil yang super duper mahal dan ternyata mobil memberikan kenyamaan dalam perjalanan, maka Jepang bertekad memurahkannya agar semua orang bisa nyaman.  Pun “Shinkazen”, kereta peluru ini lahir karena paradigma ‘banyak orang yang memilih naik kereta karena takut ketinggian atau takut naik pesawat, namun naik kereta acapkali memakan waktu lama.  Maka kereta peluru ini bisa memotong waktu sampai empat kali,  menyenangkan hati orang lain atau sesama manusia ….ini prinsip hidup mereka.

Karena dengan rapih, pandangan mata semua orang menjadi nyaman, maka inilah yang ditanamkan di sekolah-sekolah Jepang dengan pembiasaan membereskan sandal-sandal dan ditata rapi.

Anak SD Jinzumidori merapihkan sandal tolitet mereka

Tidak hanya itu, penulis pernah mengunjungi tempat pembakaran sampah bersamaan dengan itu, anak-anak dari sebuah sekolah berkunjung ke tempat yang sama.  Apa yang mereka lakukan terhadap sepatu dan tempat minum mereka? Mereka merapihkan susunan sepatu dan barang bawaan mereka dengan rapi tanpa disuruh gurunya, mereka otomatis melakukannya karena “RAPIH adalah BUDAYA MEREKA. “Wow sugoi desuka?”

IMG_0178

Anak-anak sekolah berkunjung ke Tempat Pembakaran Sampah Propinsi Toyama, sepatu dan termos air yang mereka bawa disusun rapi oleh mereka sendiri.

Bukan hanya itu, MERAPIHKAN KEMBALI apapun punya kita dan bekas kita itu menjadi tanggung jawab kita.  Di Indonesia, kita sering melihat sehabis makan direstoran kita tinggalkan meja dengan berantakan, maka jangan lakukan itu di Jepang, walaupun itu di restoran cepat saji sekalipun. Di banyak restoran di Jepang, kita yang harus membereskan meja kita sendiri. Bahkan disediakan serebet untuk membersihkan meja kita sendiri.  Sampah-sampahnya pun harus kita buang sendiri.

Sehabis makan meja dibereskan, dibuang sampahnya termasuk sisa cairan yang ada.  Semua dirapihkan sendiri. 

Jadi inilah sebab mengapa Jepang rapih? Pembiasaan dilakukan oleh siapapun dimanapun dan dilakukan mulai dari sekecil apapun.  Mau Indonesia lebih baik! Ayo, pikirkan bagaimana membuat orang lain nyaman dan mudah!